Popular posts

nsikome On 29 Juni 2011

Hallo semua....sudah hari kamis..wekksss!!!...sorry ya..kali ini telat lagi posting episode baru The Lost City..Maklum, lagi sibuk ngurusin bisnis, hehe

Bagi yg bela-belain nunggu, sampe kirim e-mail protes segala (hehe) selamat menikmati aja ya, semoga kamu makin suka. Trus jangan lupa saran dan kritiknya, kirim ke nsikome@live.com.... aku pasti balas (biar agak lamaan dikit..)

THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 5

“ Kalau mereka lagi berada diruang keluarga, kalian bisa masuk begitu saja, tetapi setelah sampai dihadapan Raja atau Ratu, harus membungkuk seperti ini, “ Annamaya berhenti, lalu memperagakan gaya membungkuk seperti orang Jepang. Lalu gadis itu melanjutkan les tata krama kilatnya,

“ Tetapi, kalau mereka berdua lagi berada diruang tahta bersama dengan pembesar-pembesar suku kami yang lainnya, itu artinya kalian harus masuk dulu keruang pakaian, untuk mengganti pakaian kalian dengan pakaian adat bangsa kami. “ Aku mengangguk-angguk mengerti. Segera kujelaskan pada Arya, semua yang telah diterangkan oleh Annamaya tadi. Saking gugupnya, lebih dari 3 kali aku mengulang-ulang pada adikku itu, agar dia tidak berbuat salah, dan mencelakakan kami berdua.

“ Kak Aning, biarpun aku otak keledai seperti katamu, tapi kalau cuma penjelasan-penjelasan semacam itu, cukup sekali saja, aku sudah mengerti, kok, “ Arya menatapku dengan pandangan sebal.

Suasana semakin terasa mencekam bagiku, saat kami sudah mulai memasuki pintu berat yang terbuat dari emas itu. Aku jadi takut sekali. Intipalla rupanya tahu akan hal itu, karena tiba-tiba saja, dia sudah berada disampingku, dan meremas tanganku lembut.

“ Kamu nggak usah takut, orangtuaku bukan kanibal, kok, “ candanya, mungkin berusaha untuk menghilangkan rasa gugupku. Aku hanya tersenyum padanya, tanpa mampu untuk bersuara apa-apa. Tapi, jujur setelah ucapannya itu, aku jadi sedikit agak tenang. Aku heran melihat Arya, sekaligus merasa iri padanya, dia kelihatan tak takut dan begitu tenang.

Adikku itu adalah tipe orang yang seperti tak memiliki masalah apa-apa dalam hidupnya. Dia kelihatan cool sekali. Atau saking bego-nya, dia tak sadar kalau kami akan bertemu dengan orang yang sangat penting ?

“ Ya, kamu kelihatannya tenang banget, nggak gugup mau ketemu Raja dan Ratu ya ? “ bisikku pelan, dia hanya menggelengkan kepalanya, sambil menjawab dengan gayanya yang khas, cuek bebek.

“ Tidak, aku baru akan merasa gugup, kalau aku mau ketemuan sama Paris Hilton, gilaa...dia itu cakep banget, Kak, sudah pasti aku akan merasa sangat gugup ! “ WAH !

Melihat Intipalla, pengawal-pengawal yang berjaga dipintu itu mengijinkan kami masuk, setelah dia membungkuk dalam pada Intipalla. Lagi-lagi, kami disuguhi pemandangan spektakuler. Isi piramida sisi yang satu ini jauh lebih menarik bila dibandingkan dengan yang lainnya. Memang semuanya menarik, bagaimana mungkin sebuah tempat yang memiliki begitu banyak emas murni sebagai dekorasinya dibilang tidak menarik ?

Tetapi ruangan dalam piramida tempat orangtua Intipalla tinggal ini, jauh lebih menarik. Begitu kami masuk, disisi kiri dan kanan lorong besar dan tinggi, seperti katedral-katedral di Eropa sana, berjejer patung-patung emas berukuran besar, yang berlainan modelnya.

“ Patung-patung ini adalah patung dewa-dewi penjaga bangsa kami, “ lagi-lagi Intipalla menjawab pertanyaan yang belum juga keluar dari mulutku.

“ Wuih...gede banget patungnya, pasti mahal kalau dijual, ya ?! “ decak Arya terkagum-kagum. Dia memang tak pernah mengerti nilai historis dari sebuah benda. Bagaimana anak itu bisa mengerti ? nilai sejarah disetiap raportnya saja tak pernah menyentuh angka enam, selalu dibawah angka itu. Hanya sedikit sekali yang dia tahu tentang sejarah dunia.

Dulu, dalam suatu percakapan, aku pernah bilang padanya, bahwa Pablo Picasso itu sangat hebat. Dia malah bertanya padaku, memangnya Pablo Picasso itu sudah berapa kali juara Grand Prix, dan hebat mana Pablo Picasso sama Valentino Rossi ? ampun !

Pernah juga, kejadian disekolah Arya. Waktu ulangan, ada pertanyaan tentang siapa dan apa yang dilakukan oleh Jenghis Khan, sehingga dia menjadi sangat terkenal dimata dunia. Mama sama Papa sampai dipanggil oleh kepala sekolah.

Bagaimana tidak, adikku itu menjawab dalam kertas ulangannya : “ Jenghis Khan adalah seorang aktor Bollywood yang sangat terkenal. Pernah masuk dalam nominasi Oscar, dan sudah memiliki film yang sangat banyak sekali di India. Karena itu, Jenghis Khan sangat terkenal sampai keseluruh pelosok-pelosok negeri didunia. “ Sekali lagi bisa kuulangi, Arya memang adalah produk kesalahan genetik dari Papa dan mama.

Guru mata pelajaran mengira bahwa adikku itu hanya bermain-main, dan memutuskan untuk melaporkannya pada kepala sekolah, yang lalu mengirimkan surat panggilan untuk memanggil Papa dan Mama agar menghadap ke sekolah Arya. Kedua orangtua kami itu malunya bukan kepalang. Katanya, Arya sudah merusak reputasi keluarga kami, yang dikenal sebagai keluarga jenius dimata umum. Tapi saat ditanyai, Arya malah marah-marah sama kepala sekolahnya, katanya ;

“ Bapak tahu apa tentang dunia perfilman ? kalau bapak tidak percaya sama saya, saya bisa menjelaskan apa-apa saja film yang dibintangi oleh Jenghis Khan ! “

Belum pernah kulihat Papa dan Mama berantem sampai sambil teriak-teriak, biasanya cuma Mama yang punya hobi marah-marah, dan Papa diam, menjadi pendengar yang setia.

Saat pulang kerumah, mereka berdua saling teriak, menuduh masing-masing membawa gen ‘idiot’ yang diturunkan pada Arya. Sedangkan adikku itu, dia terlihat sangat santai, seperti tak peduli dengan apa yang terjadi.

Satu-satunya hal yang membuat Arya agak terlihat otaknya itu bisa dipakai, dia itu jago ngomong Inggris. Bagaimana nggak bisa ? sepanjang malam dia selalu menghabiskan waktunya dengan chatting dengan semua gadis-gadis dari berbagai penjuru dunia, hingga suatu hari dia bahkan liburan ke Inggris, ikut dengan Papa yang kala itu mengikuti konferensi Arkeologi disana, hanya untuk bertemu dengan seorang gadis Inggris bernama Rebecca.

“ Kalian tak perlu mengganti pakaian, kata pengawal kami, kedua orangtuaku sedang beristirahat diruang keluarga, jadi kita bisa segera masuk.” Intipalla berbalik kearah kami, setelah berbicara dengan salah seorang pengawalnya, mengagetkan aku dari acara melamunku.

Ada satu hal yang menarik perhatianku.

Saat kami melintasi sebuah sudut, didinding ada sebuah jam dinding besar. Modelnya seperti matahari, dan memiliki angka serta nomor seperti jam kebanyakan yang bisa kita lihat pada jaman sekarang. Dan setelah kuperhatikan baik-baik, itu memang adalah sebuah jam. Yang membuatku terkejut adalah, jam itu sudah menunjukkan pukul 13 lewat 35 menit. Artinya aku dan adikku sudah 9 jam lebih tidak berada di perkemahan. Pasti mereka semua kuatir dan sedang mencari aku dan Arya.

“ Ya, Papa sama Mama pasti sedang kebingungan mencari kita berdua, kita sudah sejak subuh tadi tidak berada di perkemahan, “ ujarku agak sedikit resah pada adikku.

Saat mendengar ucapanku, Arya yang biasanya sangat cool itu juga menjadi bingung, bisa kulihat dari raut wajahnya. Dia hanya menganggukkan kepalanya padaku tanpa mengatakan apa-apa.

Intipalla lalu masuk lebih dulu, sambil menutup pintu dibelakangnya. Setelah mendengar gumaman dalam bahasa Inca dibalik pintu, terdengar derit pintu dibuka kembali, dan pemuda itu keluar sambil mempersilahkan kami masuk.

Akhirnya tiba juga kami dipintu ruang masuk keluarga, setidaknya itulah yang diungkapkan oleh Annamaya padaku lewat anggukan kepalanya. Aku menunggu apa yang hendak dilakukan oleh kedua teman baru kami itu.

Kubiarkan Annamaya melangkah didepan aku dan Arya, karena rasa gugup yang diikuti oleh tangan dan kaki yang berkeringat dingin mulai menyerangku lagi. Kedua orangtua Intipalla tengah duduk berselonjor masing-masing diatas kursi panjang berukir, dengan bantal-bantak empuk berwarna merah marun, dengan sulaman-sulaman emas bermotif bunga-bunga dan bintang-bintang kecil diatasnya. Aku dan Arya mengikuti langkah Annamaya, yang maju kemudian berhenti sekitar 5 meter dihadapan kedua orang itu. Gadis itu lalu membungkukkan badannya hormat, diikuti oleh aku dan adikku.
“ Silahkan kalian mengambil tempat duduk masing-masing, “ suara berwibawa milik ayah Intipalla terdengar, memakai bahasa Spanyol. Tapi tidak menakutkan, seperti yang kusangka sebelumnya. Suara orangtua itu berwibawa, tetapi terdengar menyenangkan, dan itu membuat rasa gugupku berkurang sedikit. Aku lalu membungkuk dan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Spanyol. Annamaya lalu menuntun aku dan Arya menuju kursi-kursi bertangan dengan ukiran seperti ekor burung merak dibagian sandarannya.
“ Bagaimana menurut kalian tentang perkampungan kami, Aning ? itu namamu kan ? “ suara lembut milik ibu Intipalla menyapaku. Bahasa Spanyol yang dia ucapkan terdengar sangat sempurna. Dia tahu namaku, mungkin anaknya sudah memberitahukan mereka. Tapi aku tak akan terkejut bila tanpa diberitahu oleh Intipalla dia sudah tahu namaku, mengingat kemampuan mereka untuk membaca pikiran orang lain.

“ Sangat bagus...luar biasa, Ratu.. “ jawabku hormat, tanpa memandang matanya. Aku takut, jujur saja.

“ Kamu tak perlu takut, Nak. Kami tak akan menyakitimu, kami hanya ingin tahu tentang kalian, karena kami tak pernah melihat secara langsung orang-orang seperti kalian ditempat kami ini, “ tambah laki-laki setengah baya itu.

“ Kami hanya mendengar tentang orang-orang dari ras kalian dari petugas-petugas lapangan, “ lanjutnya lagi.

“ Mereka yang ditugaskan untuk turun ke kota setiap 6 bulan, “ bisik Annamaya menerangkan. Aku mengangguk-angguk mengerti.

“ Kalian bangsa Asia, ya ? “ suara ibu Intipalla terdengar ingin tahu. Aku senang, suasana didalam ruangan mulai terasa lebih rileks dan lebih hangat. Mereka rupanya sudah tahu bahwa adikku tak bisa berbahasa Spanyol, karena selain hanya menatapnya, mereka tak pernah mengajukan pertanyaan pada Arya.

“ Iya, tepatnya di Asia bagian tenggara, “ terangku. Kedua orangtua itu mengangguk-angguk.

“ Apa itu dari negara kalian ? “ tunjuk ibu Intipalla dileherku. Dia tertarik dengan syal bermotif batik yang aku kenakan. Aku lalu mengangguk mengiyakan.

“ Kain ini namanya batik, salah satu ciri khas Indonesia, negara kami, “ aku lalu membuka syal yang terlilit dileherku, dan memperlihatkannya agar lebih jelas pada wanita itu.

Ibu Intipalla adalah seorang wanita yang sangat cantik. Dia memiliki kulit yang tidak terlalu coklat seperti Intipalla, yang sudah pasti mengambil warna kulit dari ayahnya. Warna kulitnya agak terang, dan kelihatan sangat halus.

Baju yang dia kenakan sangat berbau ‘kerajaan’. Dari semua wanita yang kulihat dan berpapasan dikampung mereka ini, tak ada satupun yang berpakaian seperti ibu Intipalla ini. Dia memakai kain bermotif abstrak, kelihatannya seperti kain yang tidak terlalu berat, dengan sulaman emas bermotif burung-burung dan bunga-bunga. Bajunya itu dilapis dengan sebuah jubah, yang kelihatan sangat berat dan menurutku pasti akan sangat tak nyaman jika dipakai oleh orang yang tidak biasa mengenakannya.

Jubah itu sangat lebar, perkiraanku, mereka pasti memakai kain lebih dari 10 meter untuk membuatnya. Di bagian leher hingga pinggiran depan tempat kancing, berderetan permata-permata dengan berbagai warna, yang masing-masing bervariasi besarnya. Ada yang sebesar biji durian, ada juga yang hanya sebesar kacang hijau. Jumlahnya mungkin ada ribuan, karena jubah itu panjang, yang dijahit berhimpitan selebar kira-kira setengah jengkal lebarnya. Sedangkan di permukaan jubah itu sendiri, pada bagian depannya ada sulaman benang emas bermotif matahari yang disebelah kanan, dan bulan sabit disebelah kiri, keduanya berdiameter kira-kira 50 cm, yang masing-masing dilingkari oleh batu-batu berlian sebesar biji langsat dibagian dalamnya, dan permata berwarna-warni dengan berbagai ukuran di bagian luar.

Llautu dikepalanya dihiasi oleh sebuah mahkota bersusun 3, dengan batu-batu permata yang berwarna-warni. Ada warna hijau, mungkin itu batu jamrud, ada juga batu hitam mengkilat, terlihat seperti ada genangan air didalamnya, aku tahu itu safir. Ada juga berlian dan batu-batu berwarna merah muda yang tak pernah kulihat sebelumnya. Sedangkan bagian paling puncak mahkota itu, ada sebuah batu berwarna merah delima sebesar buah salak, tetapi berbentuk pipih. Pasti sangat berat dikepalanya, pikirku.

Ibu Intipalla kelihatannya sangat suka dengan syal batikku itu. Kuputuskan untuk memberanikan diri, memberikan syalku itu.

“ Ratu, jika anda suka dengan syal itu, saya mau kok memberikannya pada anda, “ ucapku sopan, berusaha agar tak terdengar meremehkan. Sedetik kemudian senyum lebar muncul dari bibirnya, dia kelihatan senang.

“ Benar kamu mau memberikannya untuk saya ? “ tanya wanita itu kegirangan.

Raut wajahnya mengingatkanku pada seorang anak kecil yang mendapatkan sekantung permen coklat. Aku lalu menganggukkan kepala. Tanpa canggung, dia langsung melilitkan syal itu dilehernya, seperti aku sebelumnya. Lalu wanita cantik itu berbicara dalam bahasa Inca, yang membuat Annamaya cekikikan pelan. Kulemparkan pandangan tanda tanya pada gadis itu, dia berbisik pelan ditelingaku,

“ Dia sangat senang kamu memberikan barang itu padanya, “ Annamaya menjelaskan. Aku jadi ikut senang, padahal tadi aku takut dianggap tidak sopan memberikan barang yang sudah bekas dipakai pada seorang Ratu.

Selanjutnya, sang Raja mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan biasa, tentang orangtua kami, sambil sesekali ditimpali oleh suara istrinya. Kujawab semua yang mereka tanyakan tentang semua itu. Mereka sangat ramah dan baik sekali padaku dan Arya. Tadinya aku membayangkan sosok Raja dan Ratu yang angker, tapi kenyataannya sungguh berbeda dari yang aku bayangkan. Sambil bercakap-cakap denganku, para pelayan kerajaan diperintahkan untuk membawakan aku camilan. Mulanya aku agak khawatir kalau-kalau aku harus memakan sesuatu seperti kecoak atau cacing, tapi mereka hanya memberikan kami berbagai jenis buah-buahan, yang setengahnya tak pernah kulihat atau kucicipi di Indonesia, atau negara lain.

Percakapan kami dengan kedua orangtua Inripalla itu mungkin akan berjalan panjang, jika saja tidak diinterupsi oleh seorang pengawal yang kata Annamaya disuruh para tetua untuk menyampaikan pesan pada Raja, tapi gadis itu tidak menjelaskan secara terperinci pesan itu tepatnya seperti apa. Setelah meminta maaf karena harus meninggalkan kami, Ibu dan Ayah Intipalla langsung menuju ke ruang tahta.

“ Bagaimana pendapatmu tentang kedua orangtuaku, Aning ? “ tanya Intipalla pendek.

“ Mereka sangat ramah, aku senang bertemu dengan mereka, “ jawabku jujur. Tapi masih ada yang mengganjal dalam hatiku, aku lalu mengungkapkannya pada pemuda itu,

“ Inti, mana ibu-ibu kamu yang lain ? apa mereka bertempat tinggal disini juga ? “ sejenak dia kelihatan ragu, tapi Intipalla menjawab juga pertanyaanku,

“ Mereka tinggal di Acllahuasi, “ suara Intipalla terdengar seperti tak ingin membicarakan istri-istri ayahnya yang lain. Aku jadi ingin tahu mengapa, tapi aku takut untuk menanyakannya pada Intipalla, maka aku diam saja, sambil menunggu kesempatan untuk bertanya pada Annamaya tentang sikap dingin Intipalla itu.

“ Kita jalan-jalan lagi, yuk ! “ ajaka Intipalla, kali ini suaranya sudah terdengar riang. Mengikuti langkahnya, kami lalu keluar dari ruangan keluarga itu. Kali ini Intipalla dan Annamaya membawa kami keluar dari gunung emas itu, dengan melewati pintu tembus ke altar di kuil pertama.

Cuaca diluar kuil terasa sangat sejuk dan menyenangkan, setelah beberapa jam lebih kami terkurung dalam gunung. Bukannya didalam situ tidak menyenangkan, tetapi kembali menghirup udara bebas juga sangat diperlukan, apalagi bagiku yang menyukai alam bebas, dan sangat tertekan jika harus terkurung dalam sebuah ruangan, sebesar apapun ruangan itu.

“ Inti, bisakah kau menunjukkan padaku, dimana Acllahuasi itu ? “ sambil menghindari tatapan Intipalla, aku bertanya. Entah mengapa, aku merasa, pemuda itu sering mencuri-curi pandang padaku.

“ Boleh, tapi Annamaya yang akan menemani kalian, ya ? “ kata Intipalla, seperti tak bersemangat. Aku jadi ingin tahu mengapa. Setelah mengitari sebuah lembah kecil, kami sampai di kaki sebuah bukit kecil. Diatas bukit itu nampak sebuah bangunan megah, yang terkesan sangat feminin, dengan ukiran-ukiran bunga mawar pada pilar-pilar penopang yang berukuran besar. Itu pasti Acllahuasi, tebakku dalam hati.

Intipalla berhenti, lalu berkata pendek,

“ Aku hanya mengantar kalian sampai disini, “ Pemuda itu lalu duduk bersandar pada batang pohon pinus.

“ Baiklan, aku yang akan mengantar Aning keatas. “ tutur Annamaya, lalu berbalik padaku,

“ Aning, tolong bilang pada Arya, dia harus menunggu disini, sebab kita akan pergi ketempat dimana hanya boleh dikunjungi oleh perempuan dan Raja, “ lanjut gadis itu. Aku langsung mengatakan pada adikku semua yang dikatakan oleh Annamaya. Arya kelihatan menyesal harus berpisah dengan gadis itu.

Aku dan Annamaya lalu berjalan menaiki bukit kecil itu, melewati tangga berpegangan emas, dan berhiaskan bunga-bunga beraneka warna pada setiap samping kiri dan kanan disetiap pijakannya.

“ Anna, tadi aku perhatikan, Intipalla sepertinya tak suka saat aku mengatakan ingin berkunjung ke Acllahuasi, kenapa ya ? “ tanyaku sambil berpegangan pada pegangan tangga yang berukir lilitan seekor ular emas.

“ Dia memiliki sedikit masalah dengan istri tertua ayahnya, ibu tiri Intipalla, “ jawab Annamaya.

“ Kalau aku boleh tahu, masalah apa yang membuatnya tidak menyukai ibu tirinya, Anna ? “

“ Kamu kan tahu, Ratu kami adalah istri ke-3 Raja, tapi karena dia yang pertama kali melahirkan seorang anak, dan anak laki-laki juga, maka dia berhak untuk menyandang predikat Ratu, yang juga artinya dialah yang berhak tinggal dengan Sapa Inca di Istana. Kata ibuku, istri Raja yang pertama rupanya merasa tidak senang, dan memusuhi Intipalla dengan ibunya, bahkan ada gosip yang beredar, dia pernah mencoba untuk meracuni Intipalla saat dia masih kecil. “ Tutur Annamaya panjang lebar, membuatku terkejut bukan kepalang.

“ Lalu apa kata Raja tentang semua itu ? “ kasihan sekali Intipalla, memiliki ibu tiri yang sangat kejam seperti itu.

“ Raja tak pernah tahu tentang cerita itu, lagipula, itu hanya gosip, yang tak bisa dibuktikan kebenarannya. Tapi Ibu Intipalla mengambil langkah-langkah pengamanan yang sangat ketat untuk menjaga Intipalla sejak kecil. Semua pengawal yang ditugaskan untuk menjaga anaknya di kediaman Intipalla dipilihnya sendiri, dan hanya orang-orang yang bisa dia percayai yang berjaga disitu, “ tangan Annamaya terulur memetik sekuntum bunga berwarna ungu violet, lalu disematkannya bunga itu ditelinganya.

“ Apa istri pertama itu punya anak, Anna ? “ gadis itu mengangguk mengiyakan,

“ Dia memiliki dua orang anak, yang pertama laki-laki, hanya beda setahun dengan Intipalla. Sedangkan yang kedua perempuan, sekarang baru berusia 4 tahun, “

“ Sayang sekali, anaknya yang laki-laki itu berkelakuan seperti ibunya, pernah satu kali, dia bertengkar dengan Intipalla, sampai-sampai bahu kanan Intipalla robek kena sabetan pisaunya. Katanya pada Inti, dia tidak berhak untuk menjadi Sapa Inca, sebab ibunya-lah yang Ratu, bukan Ibu Intipalla.. “ lanjut gadis itu menerangkan.

Aku jadi makin tertarik dengan cerita Annamaya. Sayang sekali, kami sudah sampai di depan pelataran Acllahuasi.

“ Ayo masuk, aku akan memperkenalkan kamu pada Ibu ke-5, dia baik sekali, dia itu juga adalah adik kandung Ibu Intipalla, “ ajak Annamaya sambil meraih tanganku.

Acllahuasi itu sangat besar, meskipun Piramida didalam gunung itu jauh lebih besar. Masih terdapat begitu banyak aksen emas disana-sini, tetapi sentuhan kefemininan sangat jelas terasa. Pelataran Acllahuasi dihiasi dengan banyak bunga-bunga beraneka warna, yang teratur rapi, baik yang ditanam dalam tanah, ataupun yang berada dalam pot-pot indah berukir yang sudah pasti terbuat dari emas.

Disebelah kanan depan bangunan itu, ada sebuah kolam berukuran tidak terlalu besar, yang rupanya adalah sebuah kolam ikan berhiaskan patung seorang wanita berpakaian khas Inca, yang tengah memegang sebuah jambangan emas ditangannya. Jambangan itu mengalirkan air membentuk air terjun mini, sekilas mirip-mirip dengan yang bisa dilihat depan mall-mall besar di Jakarta, bedanya yang satu ini terbuat seluruhnya dari emas murni.

Disisi kiri depan Acllahuasi juga ada sebuah kolam ikan, tetapi patung yang berada ditengahnya adalah patung berbentuk seorang wanita yang setengah telanjang, diukirkan patung itu tangah menyusui seorang bayi dipayudara kanannya, sedangkan payudara sebelah kiri mengalirkan air yang meluncur jatuh kedalam kolam. Aku terkesan dengan patung yang satu itu, sebab wajah wanita itu ternyata adalah replika dari Ibu Intipalla, sang Ratu.

Teras yang sangat besar dan penuh dengan kursi-kursi emas berukir merupakan tampilan depan bangunan itu. Disisi masing-masing undakan-undakan tangga ada pengawal-pengawal yang berjaga. Semuanya berdiri tegak dalam posisi tegap dan diam tak bergerak, layaknya seorang militer terlatih. Mereka mengingatkan aku pada polisi-polisi Inggris berbaju merah dengan topi tinggi yang berjaga di depan istana Buckingham.

Annamaya naik keteras itu diikuti aku yang berjalan tepat dibelakangnya. Para pengawal itu mengangguk hormat pada Annamaya kemudian padaku. Aku sendiri agak gugup, karena akan bertemu dengan istri-istri Sapa Inca yang lainnya. Kami lalu menuju keruangan utama ( itu kata Annamaya ), tempat dimana mereka harus berkumpul pada jam-jam seperti ini, untuk menanti Sapa Inca yang akan datang dalam beberapa saat lagi.

Annamaya menjelaskan padaku, bahwa setiap hari, pada jam-jam sesudah istirahat siang, Sapa Inca biasanya datang ke Acllahuasi untuk bercengkrama dengan istri-istrinya yang lain, dan juga memilih istri yang akan menginap dengannya di piramida selama 1 malam. Aku jadi terkekeh geli tanpa sadar.

Aku merasa agak aneh dengan kehidupan poligami Sapa Inca yang unik itu.

“ Nanti mereka akan bertanya padamu, jawab saja bila kamu tahu apa jawabannya, kalau tidak, kamu jawab saja tidak, “ ajar Annamaya saat kami mulai memasuki pintu besar berukir kelopak mawar emas disetiap daun pintunya.

“ Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan mereka, kalau aku tak mengerti nanti apa yang mereka tanyakan, Anna ? “ meskipun ada Annamaya, kupikir tak mungkin gadis itu harus menerjemahkan satu persatu ke-7 ucapan istri-istri Sapa Inca itu.

“ Jangan khawatir, Aning, mereka semua bisa berbicara dalam bahasa Spanyol, “ terang Annamaya menjawab kekhawatiranku.

Saat kami masuk, ruangan itu terang benderang dan berbau harum. Nampak tirai-tirai transparan berwarna-warni tergantung disana-sini, mengingatkan aku pada dekorasi negeri 1001 malam dalam dongeng Alladin dan lampu ajaib.

Saat aku dan Annamaya memasuki ruangan, suara riuh rendah yang sesekali dibarengi dengan cekikikan halus terhenti seketika. Semua yang ada disitu langsung menatapku penuh tanda tanya.

Sejenak ada keheningan, sebelum Annamaya berkata-kata dalam bahasa mereka. Mungkin gadis itu mengucapkan salam, karena setelah itu semua orang yang berada disitu menjawab serempak dengan ucapan yang sama.

“ Ibu-Ibuku yang terkasih, perkenalkan, ini Aning, sahabat kita dari negeri yang jauh... “ Annamaya memperkenalkan aku, memakai bahasa Spanyol. Kulihat mereka menatapku dengan berbagai macam cara pandang.

Ada yang menatapku dengan pandangan curiga, ada juga yang tersenyum padaku. Disudut ruangan, dekat sebuah kandil emas, ada seorang wanita berwajah sangat familiar denganku, tersenyum hangat dan melambaikan tangannya padaku.

“ Yang disudut itu adalah istri ke-5 Raja, “ tunjuk Annamaya sambil berbisik. Pantasan aku merasa wajahnya tak asing, dia adalah adik dari Ibunya Intipalla seperti yang telah diberitahukan oleh Annamaya sebelumnya padaku. Wajah mereka berdua memang mirip.

“ Negerimu namanya apa ? “ terdengar sebuah suara dingin bertanya padaku, rupanya salah satu istri Sapa Inca. Seorang wanita cantik, tapi kelihatan angkuh. Dia duduk ditengah-tengah wanita-wanita itu, dan tengah dipijat oleh salah satu pelayannya. Aku lalu menatapnya dan berusaha menampilkan senyumku yang paling ramah.

“ Negeriku namanya Indonesia, berada di Asia Tenggara, “ aku mengangguk hormat kearah wanita itu. Dia hanya menatapku sinis.

“ Dimana negara itu, Aning ? “ kali ini datang dari salah satu istri Sapa Inca yang berwajah bulat oval, yang sekilas agak-agak mirip dengan penyanyi senior Emilia Contessa, tapi sedikit lebih kurus dan berkulit coklat.

“ Kalau kalian tahu Filipina, Malaysia, Kamboja, Thailand dan Brunei Darussalam, negeriku bertetangga dengan negeri-negeri itu, “ aku berusaha menjelaskan. Rupanya sia-sia, sebab tak ada satupun dari mereka yang tahu salah satu dari negara-negara yang kusebutkan itu.

Berikutnya mereka semua membombardir aku dengan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan. Tentang bagaimana budaya kami, apa yang dimakan oleh orang Indonesia, apa warna kulit kami semua sama seperti aku, dan berbagai macam pertanyaan yang sering membuat aku tak dapat menahan tawaku. Seperti saat mereka bertanya, bagaimana cara kami menghasilkan anak-anak. Aku hanya tertawa dan menjawab tak tahu.

Kecuali wanita yang menatapku dengan pandangan sinis itu, istri-istri Sapa Inca yang lain sangat ramah padaku. Mereka terkagum-kagum saat aku mengatakan bahwa negaraku memiliki laut yang besar dengan pantai-pantai yang sangat bagus.

Mungkin karena mereka terkurung dalam lembah rahasia Kota yang Hilang ini yang kebetulan berada di pegunungan yang tinggi, mereka tak pernah melihat laut itu apa. Kata ibu-ibu itu, mereka hanya mendengar cerita tentang laut itu pada orang-orang yang setiap 6 bulan turun kekota. Para Agen Spesial, kunamakan mereka seperti itu.

Percakapan kami terputus, karena salah satu pelayan datang dan mengatakan bahwa para istri harus bersiap-siap, karena sebentar lagi Sapa Inca akan datang. Annamaya menjelaskan padaku, bahwa sebaiknya kami berdua segera turun dari Acllahuasi, sebab bila Sapa Inca datang berkunjung, yang boleh berada didalam kompleks Acllahuasi adalah para istri Sapa Inca, serta pelayan dan penjaga. Tidak boleh ada orang lain selain mereka-mereka itu.

Setelah berpamitan (mereka merasa heran saat aku datang untuk bersalaman, ada yang mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi, ada yang tertawa cekikikan), aku dan Annamaya langsung turun dari Acllahuasi lewat tangga yang tadi kami lalui.

“ Bagaimana kunjungan kalian ke Acllahuasi tadi ? “ Intipalla bertanya acuh tak acuh. Mungkin sekedar basa-basi terhadapku, karena kedengarannya seperti dia sama sekali tak peduli dengan apa yang kami lakukan disana.

“ Kami tidak terlalu banyak melihat-lihat, karena ayahmu sudah mau berkunjung, “ Annamaya akhirnya yang angkat bicara, menjawab pertanyaan Intipalla yang terdengar tak bersemangat itu.

Aku sendiri sangat mengerti mengapa Intipalla bersikap seperti itu. Percobaan pembunuhan yang ditujukan kepadanya oleh ibu tiri yang cemburu, dan sekarang aku berkunjung ke kediaman ibu-ibu tirinya, jelas itu tidak terlalu disambut antusias oleh Intipalla.

Well, sekarang kita akan kemana lagi ? “ Arya terlihat begitu bersemangat. Adikku itu kelihatan sangat senang, mungkin karena Annamaya sudah kembali bersamaku.

“ Sekarang kita akan pergi ke rumahku, “ tukas Annamaya.

“ Tapi, mungkin kami harus pulang dulu ke perkemahan, sebab sejak subuh tadi aku dan Arya pergi dari sana tanpa meninggalkan pesan apa-apa, “ ungkapku jujur.

“ Aku takut, kedua orangtua kami akan cemas dan mulai mencari-cari, jadi sebelum keadaan menjadi lebih buruk, mungkin sebaiknya aku dan Arya pulang dulu, dan kita bertemu lagi besok. “

Aku tahu benar bagaimana tabiat Mama. Dia itu orangnya sangat panikan. Sebelum dia membawa setengah batalyon polisi dan tentara naik keatas gunung untuk mencari aku dan Arya, lebih baik kami kembali dulu ke Base Camp. Annamaya dan Intipalla hanya bertukar pandang tanpa bicara apa-apa.

“ Bagaimana menurut kalian berdua ? “ tanyaku,

“ Kita bertemu dimana besok, kalau begitu ? “ Annamaya menatap adikku. Jelas sekali dia seperti tak ingin berpisah dengan si kecoak kecil itu.

“ Aku dan Arya akan menunggu kalian ditepi jurang, tempat lorong masuk ke kampung kalian, kupikir itu ide yang bagus, “ usulku

“ Tapi bagaimana jika ada orang yang mengikuti kalian ? “ Intipalla bertanya cemas, aku mengerti dengan sikapnya itu. Siapa yang tidak cemas, bila kampung yang disangka oleh peradaban luas telah lenyap selama berabad-abad terancam akan diketahui tentang keberadaannya ? Sudah pasti akan memancing rasa ingin tahu banyak orang, apalagi dengan sebegitu banyaknya emas yang mereka miliki.

“ Aku janji, Inti, Aku dan Arya akan berhati-hati, agar tidak memancing kecurigaan orang-orang di perkemahan, termasuk kedua orangtua kami, sebelum kami datang ketempat itu, “ ujarku menenangkan pemuda tampan itu.

Intipalla kelihatan seperti sedang berpikir, kedua alisnya yang tebal dan bagus itu bersatu ditengah. Sejenak kemudian, dia mengangguk dan berucap pendek,

“ Baiklah, aku percaya pada kalian berdua. “

“ Kami berdua akan mengantar kalian sampai diatas, kemudian kalian kembali berdua saja sampai keperkemahan kalian, ya ? “ Annamaya menatapku, meminta persetujuan. Aku lalu mengangguk tanpa menjawab apa-apa.

Kemudian ku lihat Annamaya mengucapkan sesuatu pada Intipalla, yang kali ini aku tak mengerti sedikitpun yang mereka ucapkan.

“ Apa itu bahasa Inca, Inti ? “ aku bertanya lagi, Annamaya dan Intipalla menganggukkan kepala mereka barengan.

“ Apa sih artinya ? “

“ Ehmm….Annamaya bertanya kalau aku tak harus membantu ayahku sore ini. “ jawab Intipalla, kelihatannya ragu-ragu.

Kami berempat lalu mulai berjalan menaiki bukit menuju lorong panjang yang menghubungkan kampung mereka dengan dunia luar. Lumayan juga tanjakan bukit itu, aku mulai ngos-ngosan, tapi kulihat Arya santai saja, dan astaga ! Dia dan Annamaya sekarang sedang berjalan bergandengan tangan, dasar Playboy cap Kucing. Tapi bagaimana mereka bisa berkomunikasi, ya ? tanyaku dalam hati.

“ Kata orang, bahasa cinta itu universal, tak perlu diartikan dengan kalimat-kalimat, Ning..” Intipalla mengejutkan aku, dia tahu pikiranku. Memang aku tak se-surpris yang pertama, tapi tetap saja itu membuatku jadi malu.

Kami sudah hampir sampai dipuncak bukit, ketika tiba-tiba saja tiga orang berbadan tegap, yang kelihatannya seperti pengawal Raja muncul secara mendadak, entah darimana asalnya. Mereka mendekati Intipalla, dan setelah membungkuk hormat pada pemuda itu, salah seorang dari mereka berbicara pada Intipalla dengan bahasa mereka.

Intipalla menjauh dari rombongan kami, dan mulai berbicara serius dengan orang itu. Kelihatannya mereka seperti sedang membicarakan suatu masalah yang sangat penting. Setelah berbicara beberapa saat, Intipalla kembali pada kami.

“ Aning, maafkan aku, mereka adalah pengawal-pengawal istana yang datang untuk menahan kamu dan adikmu atas perinta Sapa Inca. Ayahku tidak mau melepaskan kalian berdua, karena katanya kalian sudah tahu terlalu banyak tentang kota kami ini, dan takut kalian akan memberitahukan dunia luar tentang keberadaan kami, “ dia menunduk, sepertinya tak sanggup untuk menatap mataku.

Ya Tuhan ! tadinya semua begitu sempurna. Mengapa jadi seperti ini ?

“ Inti, aku tak bisa tinggal disini selamanya...Bagaimana dengan kedua orangtua kami ? mereka pasti akan bersedih bila kami hilang begitu saja tanpa jejak ! Aku kan sudah berjanji padamu, dan sekarang aku akan bersumpah bahwa aku dan adikku tak akan pernah memberitahukan pada siapapun tentang kota kalian.. “ Aku tak sanggup lagi mengendalikan diriku, dan sekarang aku sudah mulai menangis dihadapan mereka bertiga. Arya yang memang tak mengerti dengan perbincangan kami bingung melihat aku menangis.

“ Kak...kenapa Kakak menangis ? “ Arya memelukku.

“ Mereka tak memperbolehkan kita pulang ke perkemahan, aku tak tahu apa yang akan mereka lakukan pada kita, tapi katanya kita tak boleh keluar lagi dari tempat ini karena kita sudah tahu terlalu banyak tentang kota mereka...Huuu... “ hilang sudah rasa malu ku, sekarang aku sudah mulai terisak-isak dengan suara agak nyaring.

Arya tiba-tiba berdiri, dan tanpa kusangka dia berbalik pada Intipalla. Sedetik kemudian, BUK ! adikku meninju wajah pemuda itu.

“ KALIAN JAHAT !!..KUPIKIR KALIAN ADALAH TEMAN KAMI !! “ seru Arya. Tentu saja Annamaya dan Intipalla hanya memandangiku bingung, karena tak mengerti apa yang dikatakan oleh adikku itu, setidaknya, mereka tahu Arya marah.

“ Aku dan Intipalla minta maaf pada kalian berdua, tapi perintah itu datangnya dari Sapa Inca.. “ Annamaya memohon padaku. Gadis itu bahkan memelukku dan mulai menangis. Aku tak sanggup berkata-kata lagi, hanya terus dan terus menangis.

“ Bagaimana menurutmu, Inti ? Kasihan Aning dan Arya... “ Annamaya menatap sepupunya yang diam bagai batu karang.

Sedangkan aku, kantong airmataku seperti bocor, tak henti-hentinya mencucurkan air. Aku memang takut, bercampur sedih. Bagaimana bila aku tak bisa lagi bertemu dengan Mama dan Papa ?

Disampingku Arya mulai meronta-ronta, mencoba untuk melepaskan dirinya dari pegangan dua orang pengawal kerajaan berbadan kekar itu. Tentu saja, perjuangan adikku itu hanyalah sia-sia, sebab pengawal-pengawal kerajaan hanya terlihat santai, meskipun Arya sudah meronta-ronta dengan segenap kekuatannya.

“ Inti.....kumohon berpikirlah.... “ suara Annamaya memelas memohon. Rupanya pengawal-pengawal itu sama sekali tak mengerti bahasa Spanyol, sebab mereka hanya menatap kedua anggota keluarga bangsawan itu dengan pandangan bingung.

“ Aku tak tahu lagi apa yang harus kita lakukan, Anna...Aku sama bingungnya denganmu, “ keluh Intipalla. Kami semua hanya saling berpandangan dalam diam, hanya suara Arya yang meronta-ronta terdengar.

Tiba-tiba, Intipalla mencabut sebilah parang pendek yang terselip dipinggang salah seorang pengawal yang berdiri disampingnya. Aku jadi panik bukan kepalang sebab bila Intipalla akan berkelahi melawan para pengawal berbadan besar kayak pegulat Sumo itu, dia bisa dipastikan akan kalah telak.

Tapi yang terjadi jauh melebihi dugaan kami semua. Intipalla bukannya menyerang para pengawal yang menawan aku dan Arya, dia malah menempelkan parang itu dilehernya, dan berbicara dalam bahasa Inca kepada ketiga pengawal itu. Aku tak mengerti apa yang dia katakan, tetapi itu pastilah suatu hal yang mengerikan, sebab kulihat wajah Annamaya yang berubah menjadi pucat pasi seperti selembar kertas putih.

“ Apa yang akan kau lakukan, Inti ?!!.... “ seruku panik, dan tanpa memperdulikan genggaman kuat sang pengawal di lenganku, aku meronta melepaskan diri, meskipun sia-sia.

“ Ku katakan pada mereka, bahwa aku akan bunuh diri, jika mereka tidak melepaskan kalian pergi, dan mereka akan menerima kemarahan dari Sapa Inca karena calon penerusnya mati !! “ jawab pemuda itu. Aku jadi terharu, dia melakukannya untuk aku dan adikku.

“ Inti...kumohon jangan kau lakukan itu !! “ seruku.

Ku lihat kesungguhan dikedua mata pemuda itu, dan seketika aku sadar, bahwa dia memang serius dengan ucapannya tadi.

Kedua pengawal istana maju satu langkah, dan Intipalla berteriak lagi dengan bahasa Inca kepada kedua pengawal itu, dan seketika aku merasa ngeri, karena ada darah yang mulai meleleh di leher Intipalla, pisau itu mulai menggores lehernya.

“ Inti....biarlah mereka membawaku, tapi jangan berbuat hal bodoh seperti itu, kumohon... “ pintaku berbaur dengan isak tangis. Sementara Annamaya tangisnya makin menjadi-jadi.

“ TIDAK !!..AKU LEBIH BAIK MATI DARIPADA MELIHAT KAU DAN ARYA DIBUNUH !!.. “ teriak Intipalla nekat.

Ketiga pengawal itu mulai ragu-ragu. Mereka kelihatan cemas dan bingung, dan aku sendiri mengerti dengan posisi mereka itu. Disatu pihak mereka harus melaksanakan perintah Sapa Inca, tapi dilain pihak, mereka takut Intipalla akan benar-benar melaksanakan ancamannya.

Intipalla masih berteriak-teriak pada ketiga pengawal itu dengan bahasa mereka, dan kulihat pengawal yang tengah memegang adikku melepaskan pegangannya.

Salah satu dari mereka lalu berbicara pada Intipalla, dan setelah menunduk hormat pada pemuda itu, ketiganya langsung berbalik menuruni bukit, kembali ke istana.

Seketika itu juga, aku tak dapat lagi menahan emosi dan rasa takutku. Aku lalu menghambur kedalam pelukan Intipalla sambil menangis.

“ Kamu jahat sekali, Inti...kamu hampir membuatku mati ketakutan... “ isakku dalam pelukannya, tapi entah mengapa hatiku terasa lega. Kutatap pemuda itu menelusuri wajahnya, dan berpindah ke lehernya yang tergores. Intipalla tak berkata apa-apa, dia hanya memelukku erat-erat, seakan tak ingin melepaskan aku pergi.

“ Maafkan aku ya, Ning...sudah membuat kalian susah.. “ ujarnya lirih. Aku menggeleng kuat-kuat.

“ Kamu tidak bersalah, Inti.” Dia hanya menatapku lalu tersenyum.

“ Hoi...!! sudah dulu acara mesra-mesra ala filem India-nya, ya...sekarang kita harus keluar secepat mungkin dari sini ! “ Arya menarikku dari pelukan Intipalla. Sedetik aku ingin protes, tapi kusadari bahwa kata-kata adikku itu memang benar adanya.

“ Inti, Anna...Mungkin sebaiknya aku dan Arya keluar dari Kota ini secepat mungkin, sebelum ketiga pengawal itu melaporkan kejadian tadi pada Sapa Inca, lalu mengirimkan lebih banyak pasukan lagi untuk mengejar kami berdua... “ jelasku panjang lebar.

Annamaya hanya menganggukkan kepalanya, kelihatannya gadis itu masih shock dengan adegan berdarahnya Intipalla tadi. Dia masih tak bersuara sejak kepergian pengawal-pengawal itu.

“ Ayo !! “ Intipalla menarik tanganku, dan kami berempat lalu berlari, melanjutkan perjalanan kami kembali ke lorong itu.

Setelah berlari kira-kira selama 15 menit, sampai juga akhirnya kami di depan pintu masuk lorong yang terlihat seperti sebuah lempengan batu besar yang normal. Intipalla lalu menarik sesuatu dari balik rerumputan didekat situ. Bunyi bergemuruh mengawali proses terbukanya pintu batu itu. Sedetik kemudian, batu itu bergeser kesamping, dan menampakkan sebuah lobang. Tanpa menunggu lebih lama, Intipalla masuk lalu diikuti oleh kami bertiga. Setelah menyalakan obor-obor dan menutup kembali lempengan batu itu, kami bergegas menuyusuri lorong panjang itu.

Kali ini aku tak lagi memperhatikan ukiran-ukiran emas di sepanjang lorong itu, yang ada dalam pikiranku adalah aku hanya sangat ingin keluar dari situ, dan bertemu dengan Mama dan Papa. Aku takut para pengawal-pengawal tadi kembali dan menangkap kami.

Setelah berlari beberapa saat dalam lorong, kami tiba juga diujung lorong yang satunya. Setelah pintu dibuka oleh Intipalla, kami berempat naik dan mulai memanjati akar-akar pohon yang sekarang baru kuperhatikan, kalau ternyata akar-akar itu merupakan tempat pijakan untuk naik ketas, ke tepi jurang dekat pohon.

“ Aning, kalian berdua harus pergi, dan aku serta Annamaya harus kembali lagi ke kampung kami, “ Intipalla menatapku sedih. Aku juga tak kalah sedihnya, sampai-sampai airmataku mulai menitik jatuh.

Pemuda itu menarikku kedalam pelukannya, dan aku tiba-tiba merasa seperti aku tak akan pernah lagi melihatnya, ada rasa kehilangan yang sukar untuk dijelaskan.

Kulihat Annamaya dan Arya juga saling berpelukan, dan mengucapkan selamat tinggal tanpa kata-kata.

Sebelum kusadari, tiba-tiba, ada bau asap yang tajam merasuk hidungku. Kepalaku mulai merasa pening, dan pandangan mataku menjadi kabur. Aku terjatuh, tapi masih kurasakan tangan Intipalla yang kokoh menopangku.

“ Aning.......maafkan aku “ ku dengar sayup-sayup suara Intipalla memanggil namaku. Samar-samar ku lihat Annamaya sedang memegang sehelai daun yang terbakar, sambil menutup hidungnya dengan tangan yang satunya, dan Arya yang terkulai lemas ditanah. Aku ingin membuka lebih besar mataku yang terasa berat, tapi aku tak mampu. (BERSAMBUNG)


Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers