Popular posts

nsikome On 04 Juli 2011

Sudah hari Senin lagi, dan episode baru terbit kembali. Ceritanya makin seru, dan makin heboh...Banyak yg ngirim e-mail, mencoba untuk minta bocoran akhirannya, tapi maaf ya guys, bukannya pelit, tapi orang sabar panjang umurrr..hehe..jadi, silahkan nunggu tiap episodenya di blog aja ya???...
Akhirnya, selamat membaca saja, dan enjoy!!..(NS)


THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 6


Kepalaku terasa sakit sekali, ku rasa ada yang menepuk-nepuk pipiku. Perlahan ku buka mataku yang masih terasa berat.

“ Aning, bangun...... “ tapi itu suara Papaku !! bagaimana mungkin dia bisa berada di tempat ini ? kupaksakan untuk membuka mataku. Di sekeliling terlihat wajah Arya, Mamaku dan rekan-rekan Papa yang lain tengah menatapku khawatir.

“ Pa, bagaimana Papa bisa sampai ke sini ? “ tanyaku dengan suara lemah

“ Sampai ke mana, Ning ? kita ada di lokasi penggalian sekarang . “ om Erold yang menjawab pertanyaanku, matanya menatap heran, dan sekilas ada sinar kecurigaan dalam sorot matanya.

Ku edarkan pandanganku ke sekeliling, ternyata aku berada di tempat perkemahan kami. “ Apa yang terjadi denganku ? “

“ Sepertinya kamu pingsan karena terkena ‘Altitude sick’*. Arya yang menemukan kamu terkapar di dekat jalan setapak yang menuju ke arah hutan “ ujar Papa menjelaskan.

Ingatanku mulai pulih perlahan-lahan. Ku raba kepalaku, ada benjolan di sana, aku lalu bangkit tanpa memperdulikan rasa sakit di sekujur badanku, dan memalingkan kepalaku untuk melihat pantat celanaku. Kotor sekali.

Kali ini aku yakin bahwa aku sama sekali tak bermimpi. Annamaya, Intipalla, kota yang hilang, bau asap yang memabukkan itu, semuanya ada dan nyata. Bukan hanya mimpi semata.

“ Pa, saya boleh bicara sendiri dengan Papa ? “ pintaku tanpa memperdulikan pandangan heran semua yang berada di sekeliling kami.

“ Tentu saja boleh, Ning. Ada apa sih ? kayaknya penting sekali. “ Papa tersenyum melihat keseriusanku. Ku tarik tangan Papa, dan membawanya masuk ke jalan setapak. Setelah yakin tak ada yang bisa mendengar kami, ku ceritakan pada Papa tentang semua yang ku alami.

“ Pa, kota yang hilang itu tak hanya cerita semata, dia benar-benar ada. Saya sudah menemukannya. “

“ Aning....Aning...kamu ini lucu sekali. Mimpimu itu bagus, deh ! “ canda Papa sambil tertawa kecil.

“ Aku tahu ini kedengarannya agak gila, tapi kota itu benar-benar ada, Pa ! “ tuturku pelan. Aku lalu bercerita padanya tentang Annamaya, Intipalla, dan juga bau asap yang membuatku pingsan. Papa mendengarkan semua ceritaku dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya. Dalam hati aku benar-benar dongkol dan merasa di anggap seperti orang bingung.

“ Nanti kalau kita sudah balik ke Jakarta, kamu harus ngecek ke rumah sakit, ya Ning ?!! “

“ Kalau Papa tak percaya, tanya sama Arya sana, dia bersama-sama dengan aku di kampung itu, Pa ? “ pintaku memohon.

“ Arya sendiri baru bangun Aning, kelelahan setelah berjalan naik gunung kemarin seharian, tuh dia lagi makan snack, “ tunjuk Papa, benar juga, Arya sedang makan snack disamping Mama. Tak ada tanda-tanda diwajahnya, bahwa dia baru saja melihat sesuatu yang sangat luar biasa, seperti emas dalam jumlah banyak.

“ Arya, bilang dong sama Papa, kita tadi ketemu sama Intipalla dan Annamaya, kan ?! “ aku berusaha untuk meyakinkan Papa, tapi anehnya, adikku hanya menatapku heran, lalu katanya,

“ Inti apa, kak ? apa sih yang Kak Aning bicarakan ? “

“ Intipalla...calon Sapa Inca dari Kota yang Hilang, trus...Annamaya...gadis cantik berkulit coklat yang kamu suka, kamu ingat kan, Ya ? “ desakku, berharap Arya akan ingat. Tapi adikku itu hanya menggelengkan kepalanya.

“ Aduh.... siapa sih orang-orang yang Kak Aning sebut itu ? Arya jadi capek deh... “ dia kemudian berlalu, meninggalkan aku yang langsung jadi sebal setengah mati padanya.

Sungguh, kali ini aku tak mengerti apa yang terjadi pada Arya. Mengapa dia tak ingat apa-apa ? mengapa hanya aku yang mengingat dengan jelas apa yang terjadi sebelumnya ? ataukah memang aku hanya bermimpi ?. Semuanya terasa begitu nyata, bahkan bagaimana aku bisa menjelaskan benjolan akibat pacul di kepalaku, atau kotoran di celanaku ?.

Kulirik jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 menit. Jam bangun pagi yang aneh. Selelah apapun, keluarga kami tak pernah bangun diatas jam 10 pagi.

“ Ma, Aning kan tak kelihatan dari pagi, kok nggak dicari, sih ? “ tanyaku, mencari penjelasan pada Mama. Rasanya tak masuk akal, semua orang tidak melihat adanya kejanggalan disini.

“ Aning, kita semua kelelahan, tak ada orang yang bangun dibawah jam 10 pagi, makanya, begitu melihat kamu dan Arya nggak ada, Mama pikir, kamu pasti sudah bangun duluan, dan berkeliling dengan kamera digital kamu, seperti biasanya, “ Mama terlihat mulai kesal, mungkin karena aku masih terus bertanya. Tapi aku tetap tak merasa puas.

“ Tuh kan, kata Papa, Arya tidur. Kok Arya yang menemukan aku, sih ? “ tak sesuai dengan logika semua ini.

“ Tadinya Arya juga tak ada, katanya sih dia pergi jalan-jalan sebentar, tapi kemudian dia balik ke tenda, dan tidur lagi, sebelum akhirnya dia menemukan kamu pingsan, udah ah pertanyaannya ! “ Mama menyudahi sesi tanya jawabku dengan langsung berdiri, dan pergi ke tempat penggalian, menyusul Papa. Aku makin tambah bingung dengan penjelasan Mama yang untukku sangat kurang jelas itu.

Papa mengusap rambutku sambil terus senyum dan berbalik menuju ke arah lokasi penggalian.

Meninggalkan aku yang terpaku dengan sejuta tanda tanya bermain dibenakku. Aku yakin sekali, kalau itu bukan mimpi.

“ Kenapa cemberut, Ning ?! “ Om Hans muncul dari belakang tenda. Dia membawa sesuatu yang kelihatannya seperti pot tanaman atau sejenisnya. Aku hanya menggeleng tanpa mengucapkan apa-apa. Om Hans lalu meneruskan tugasnya, membawa pot berat itu ke tenda stock, tanpa memperdulikan aku, dan itu lebih baik karena sekarang aku tak ingin bicara dengan siapapun juga !.

Setelah agak pulih, aku lalu memutuskan untuk pergi lagi ke tepi jurang, tempat dimana berada jalan untuk masuk ke kampung Annamaya & Intipalla itu. Tanpa memberitahukan pada siapapun, aku langsung berangkat. Mungkin aku bisa membawa bantuan bagi Annamaya, hingga teman baruku itu tak akan dikorbankan sebagai syarat melengkapi ritual peneguhan pemimpin baru mereka.

Tanpa banyak kesulitan yang berarti aku sampai ke tepi jurang itu. Aku yakin bahwa aku tak pernah bermimpi, kalau tidak, bagaimana aku bisa tahu jalan untuk menuju ke situ ? dan juga pohon besar itu ?

Namun, saat aku melongok ke bawah, batu tempat kami berdiri kemarin sudah tak ada lagi, juga pintu yang ku lihat terbuat dari batu, ternyata adalah tanah yang berumput. Papa benar, aku hanya bermimpi, tapi itu benar-benar mimpi yang sangat aneh. Terasa begitu nyata, dan aku sendiri tak bisa menjelaskan benjolan di kepalaku, dan juga tanah yang ada di pantat celanaku. Benar-benar membingungkan. Tiba-tiba bulu kudukku mulai berdiri, cepat-cepat aku mulai berjalan kembali ke tempat penggalian.

Langkah kakiku sudah mendekati jalan setapak menuju perkemahan kami, tiba-tiba aku mendengar suara-suara orang yang menuju padaku, dan sepertinya berasal dari arah perkemahan. Entah didorong oleh apa, aku langsung melompat ke balik semak-semak yang berada di bawah sebuah pohon besar, dan bersembunyi disana, menunggu suara-suara itu mendekat. Pandangan mataku cukup jelas untuk melihat kearah jalan setapak, tetapi mereka yang datang dari arah perkemahan itu akan susah untuk melihatku, karena terhalang oleh sinar matahari sore yang menyilaukan mata.

Ketika akhirnya suara-suara itu berwujud, ternyata om Erold dengan grupnya, aku baru saja mau keluar dari balik semak-semak, ketika terdengar suara mereka yang menyebut-nyebut namaku, membuatku urung keluar.

“ Dave, kamu berhasil mengikuti Aning ? “ tanya om Erold pada temannya, seorang bule berbadan kekar dan berambut merah.

“ Tentu saja, tapi aku heran, anak itu hanya berdiri di tepi jurang sambil melongok-longok kedalam jurang tersebut. Kelihatannya jadi mirip-mirip orang mau bunuh diri ! “ ucapan bule bernama Dave itu diikuti derai tawa teman-teman mereka yang lain, termasuk om Erold. Seseorang yang aku tak tahu siapa namanya menyambung ucapan si Dave itu,

“ Mungkin anak itu sudah mulai gila terkena Sick Alttitude, barangkali ?! “

Kurangajar ! aku jadi sebal sama mereka, masak aku dibilang sudah gila ? lagipula apa alasan si Dave untuk membuntuti aku ? tanyaku dalam hati.

Aku tersentak, ingatanku kembali berputar kembali pada saat aku tersadar dari pingsanku, Om Erold menatapku dengan pandangan penuh kecurigaan. Mungkinkah mereka curiga bahwa aku benar-benar pergi kesuatu tempat yang mereka cari selama ini ?

Tetapi kemudian aku tertawa dalam hati, karena aku kan hanya bermimpi, dan sudah kubuktikan bahwa itu memang hanyalah sebuah mimpi. Aku sudah kembali ke tepi jurang itu, dan tidak ada apa-apa disana, bahkan pohon yang akarnya mereka gunakan sebagai kunci untuk masuk kedalam lorong menuju kampung Inca itu juga tak ada bekasnya. Dalam hati aku memuji imajinasiku sendiri, sebab benar-benar itu terasa nyata.

Kulihat rombongan om Erold terus berjalan, dengan si bule Dave sebagai penujuk jalannya. Aku jadi penasaran, diam-diam ku buntuti mereka perlahan. Aku sudah tahu mereka akan kemana, tapi aku mau tahu apa yang akan mereka lakukan sesampainya disana.

Perjalanan sedikit terhambat, karena si Dave rupanya kurang begitu hapal dengan jalan menuju tepi jurang, karena beberapa kali dia berhenti untuk mengingat-ingat jalan mana yang harus diambil, jika mereka tiba di beberapa persimpangan jalan-jalan setapak. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, mereka tiba di tepi jurang itu. Aku segera mengambil posisi tepat dibelakang mereka, bersembunyi di semak-semak belukar untuk mengamati semua yang akan terjadi.

Sedetik kemudian, aku baru menyadari, bahwa pohon yang tadinya saat aku kembali tidak ada, kini sudah berdiri tegak ditempatnya semula. Rupanya, si bule berambut merah itu juga menyadari akan hal itu.

“ Wah, bukannya pohon ini tadi tak ada disini ? “ dia mengungkapkan keheranannya

“ Apa maksudmu, Dave ? “ om Erold tak mengerti perkataan Dave

“ Tadi, ketika aku membuntuti anaknya si Donald, ketika dia berdiri ditepi jurang ini persis dimana pohon itu berada, aku tak melihat sebatang pohonpun bertumbuh disini, apalagi sebesar ini. “

“ Jadi, maksudmu, pohon sebesar ini hanya tumbuh dalam waktu semalam-dua malam, begitu ? kamu ini ada-ada saja.... “

“ Tapi.... “ si bule tak melanjutkan kata-katanya, mungkin karena yang dikatakan oleh Om Erold ada benarnya, lagipula, siapa yang akan percaya dengan sebuah pohon sebesar badan gajah bisa tumbuh hanya dalam waktu semalam ?

Aku jadi panik, ternyata itu bukan mimpi. Apa yang aku alami adalah sebuah kenyataan. Intipalla, Annamaya, mereka berdua nyata.

Apa yang mereka lakukan pada Arya, hingga dia tak bisa mengingat apapun tentang Kota yang Hilang, yang telah kami temukan itu ? juga tentang Intipalla, Annamaya, Piramida emas, dan semuanya ? dan mengapa hanya aku yang bisa mengingat dengan jelas?.

Tetapi yang paling membuatku ketakutan adalah, bagaimana kalau Om Erold yang bertampang rakus itu menemukan lorong masuk ke kampung Inca yang sudah berabad-abad ini tak bisa ditemukan orang ? semua rumah yang atapnya terbuat dari lempengan emas murni, dan berbagai perlengkapan dari emas yang sudah pasti mampu membangkitkan ketamakan manusia, apalagi manusia-manusia seperti Om Erold dan gerombolannya itu.

Belum lagi jika mereka menemukan kuil utama, dan gunung emasnya suku Inca itu. Aku juga tak habis mengerti, mengapa tadi ketika aku kembali untuk melihat lorong masuk itu, pohon yang kini berdiri tegak itu tidak ada, juga batu tempat Annamaya meloncat juga tak ada.

“ Dibawah sini ada lempengan batu !! “ salah satu dari mereka kudengar berteriak.

Aku tak tahu itu siapa, sebab mereka semua membelakangiku. Kulihat laki-laki yang merupakan penunjuk jalan dari kota Lima mulai mengikat dirinya dengan seutas tali. Sesaat kemudian, om Erold dan kawan-kawannya mulai menurunkan si penunjuk jalan berbadan pendek dan gempal itu perlahan-lahan, membuatku semakin panik. Tanpa berpikir panjang aku segera keluar dari persembunyianku.

“ Oh....Om Erold, lagi ngapain disini ? “ tanyaku, berpura-pura tak tahu dengan kegiatan mereka.

“ Aning....kamu sendiri ngapain kesini ? “ dia balas bertanya dengan pandangan menyelidik padaku. Secepat kilat kuputar otakku untuk mencari alasan agar mereka menjauh dari situ.

“ Aku tadi dari sini, jalan-jalan sambil melihat-lihat hutan. Ini juga aku baru dari arah selatan. “

“ Oh ya, untuk apa si penunjuk jalan itu diturunkan pakai tali kebawah ? “ sambungku cepat. Sejenak kulihat laki-laki itu gelagapan, tapi dia lalu menjawabku cepat,

“ Kami sedang mengeksplorasi tempat-tempat yang diperkirakan merupakan sebuah situs purbakala, Ning. “ Pintar juga dia menjawab.

“ Oo...kalau begitu, aku bilang sama Papa, ya ? biar kita sama-sama menggali disini, tapi kasihan pohon itu nanti ditebang, itu kan jenis Arbortus Meranguis yang sangat langka, aku sendiri tadi tak sengaja menemukannya, dan aku mengamatinya. Ternyata itu memang pohon langka itu. Mungkin aku akan mengambil foto pohon ini, lalu menunjukkan pada guruku di Indonesia sepulang nanti, soalnya kita baru saja mempelajari jenis-jenis pohon langka seperti ini ! “ tukasku panjang lebar, sambil harap-harap cemas, semoga saja mereka percaya dengan apa yang aku katakan, sebab tentang pohon itu, aku sendiri hanya mengarang-ngarang namanya.

Kulihat Om Erold menatap si Dave dengan penuh tanda tanya. Tapi kemudian dia berbalik kearahku,

“ Tak usah bilang sama Papa mu, Ning, nanti Om jadi malu, kalau ternyata disini nggak ada apa-apa, dan memang rupanya memang tak ada apa-apa, “ dia menunjuk kearah si penunjuk jalan yang rupanya sudah diangkat naik, yang menggelengkan kepalanya pada om Erold.

“ Kita balik, Rold ? “ si bule bertanya pada om Erold, yang langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan.

“ Bagaimana denganmu, Ning ? “ tanya om Erold lagi dengan pandangan menyelidik. Kuputuskan untuk mengacaukan pikiran mereka.

“ Aku masih mau disini, untuk melihat-lihat keadaan sekitar sini, “ tukasku.

“ Ya sudah, kalau begitu Om pergi dulu, ya ? “ aku menganggukkan kepalaku.

Mereka lalu pergi kearah jalan menuju perkemahan, tapi aku bukannya bodoh, aku tahu pasti salah satu dari mereka akan disuruh oleh Om Erold untuk mengikuti aku. Makanya aku sengaja berlama-lama ditepi jurang.

Sebenarnya aku cemas, seseorang dari kampung Intipalla dan Annamaya bisa saja keluar lewat jalan rahasia itu, atau bahkan mereka berdua yang keluar. Yang aku cemaskan adalah, bagaimana jika suruhan Om Erold yang membuntutiku, melihat mereka ?

Aku lalu mengeluarkan kamera digital yang hampir tak pernah absen kubawa, sekalian dengan baterai cadangannya, dan mulai memotret pohon itu. Kubuat sedemikian rupa, hingga kelihatan bahwa aku memang tengah mengamati pohon itu, dan memang yang kulakukan adalah ‘hanya ‘ mengamati pohon itu.

Satu jam sudah berlalu ketika akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dari situ, dan berkeliling ketempat yang lain. Hutan Peru sangat khas, hampir seperti di Indonesia, tetapi tentu saja memiliki perbedaan flora dan fauna yang berhabitat didalamnya.

Dalam hati aku merasa cemas, saat memikirkan tentang Annamaya dan Intipalla, atau orang-orang dari kampung mereka yang bisa saja hendak kembali melewati pintu rahasia itu, dan masih ada anak buah Om Erold yang berdiri disana.

Aku tahu, siapapun yang ditugaskan oleh Om Erold untuk mengikuti aku, pasti masih berada disekelilingku. Aku memutuskan untuk segera kembali ke perkemahan, agar dia membuntuti aku, dan saat siapapun dia yang keluar lewat jalan rahasia itu hendak kembali, tak ada satupun orang Om Erold yang berada disana.

“ Aning !! darimana saja kamu ? kamu itu bikin Mama cemas, tau !! “ tanpa bertanya panjang lebar, Mama langsung menjewer kupingku. Aku menjerit kesakitan,

“ Aww...udahan jewernya, Ma..Aning cuma berjalan-jalan dekat sini, “ begitu tangan Mama terlepas dari telinga, aku segera menjauh, karena saat Mama sedang marah, itu adalah hal yang paling bijksana untuk dilakukan. Mama kelihatan cemas, aku jadi merasa bersalah.

“ Kamu tadi kan pingsan, kok sudah jalan-jalan lagi ? bagaimana kalau kamu jatuh ke jurang, dan tidak ada yang melihatmu ? “ nada suara Mama meninggi lagi, cepat-cepat kutenangkan dia, sebelum penyakit darah tingginya kumat, dan aku diomeli sepanjang sisa perjalanan liburan ini,

“ Aning sudah merasa sangat sehat, kok, Ma. Sumpah. Aning janji, nggak akan jalan-jalan tanpa bilang sama Mama lagi, swear “ ujarku sambil mengangkat jari tengah dan telunjukku.

Aku menatap Om Erold, kelihatannya dia tidak memberitahu mereka kalau tadi mereka sempat bertemu denganku. Dasar kriminal ! aku jadi tambah sebal padanya.

Satu hal yang harus aku pikirkan lagi, adalah bagaimana caranya agar aku bisa bertemu lagi denga kedua teman baruku itu, dan memperingatkan mereka akan bahaya yang bisa saja mengancam perkampungan mereka itu.

Dua hari kemudian, suasana nampak normal-normal saja. Arya seperti tak pernah tahu akan keberadaan Intipalla dan Annamaya, sedangkan aktivitas penggalian berjalan seperti biasanya. Mama belum mengijinkan aku untuk berjalan jauh-jauh dari perkemahan, dan aku sendiri tak ingin membuatnya ketakutan. Tetapi aku tetap mengawasi Om Erold dan gerombolannya. Kelihatannya, mereka seperti sudah melupakan kejadian beberapa hari yang lalu, sampai saat tengah bersiap untuk tidur, Arya bertanya padaku,

“ Kak, Kota yang Hilang itu apa, sih ? “ aku terlonjak, Arya sudah ingat dengan semuanya.

“ Kamu ingat lagi, ya ? “ tanyaku antusias, tapi semangat yang menggebu-gebu itu langsung surut melihat dia menggelengkan kepalanya.

“ Ingat apa ? Kak Aning ini kelebihan imajinasi, deh. Tadi aku sempat mendengar perkataan Om Erold sama salah seorang temannya, bahwa kemungkinan besar, Kota yang Hilang itu akan mereka temukan tak lama lagi, sebab, salah seorang dari mereka pernah melihat ada seseorang berpakaian aneh, yang muncul begitu saja ditepi jurang, lalu menghilang entah kemana, “ jelas adikku panjang lebar. Rupanya dia masih belum ingat juga. Tapi apa yang dia katakan itu membuat kepanikanku naik menjadi 7 level.

“ Apa lagi yang kamu dengar ? “ tanyaku menyelidik. Aku harus mencari tahu semua informasi tentang apa yang mereka ketahui tentang Kota yang Hilang itu.

“ Katanya juga, besok mereka akan mengadakan penyelidikan lebih teliti lagi disekitar jurang itu, tapi aku tak tahu tepatnya dimana.“

Arya bisa saja tak ingat, tapi aku tahu benar tempatnya. Masalahnya adalah, bagaimana caraku untuk bisa memperingatkan Intipalla dan Annamaya ? Tiba-tiba saja sebuah ide cemerlang muncul di otakku. Aku benar-benar jenius, pujiku pada diri sendiri.

“ Mungkin Papa benar, Kak Aning mulai gila kena Sick Altittude, sering senyum sendiri, “ tukas adikku, yang langsung mengkerut karena kuku panjangku sudah tertanam dilengan tangannya.

“ Ampun kak Aning....!! “

Aku menunggu Mama masuk ketenda untuk tidur siang, kuambil ransel yang berisi segala perlengkapan yang biasa kubawa, lalu mulai mengendap-endap menuju kejalan setapak. Orang-orang sedang sibuk ditempat penggalian, jadi tak ada yang bisa melihatku pergi.

Secepat yang aku bisa, aku kembali ke tepi jurang itu. Pohon besar itu ada disana, aku gembira sekali, tetapi sekaligus merasa ketakutan. Setelah menguatkan hatiku dan berusaha untuk konsentrasi pada lempengan batu dibawah tanpa memperdulikan jurang dibawah itu, segera aku meloncat atasnya.

Kepanikan langsung melanda, akar pohon itu ada terlalu banyak, dan hampir semua serupa, aku tak tahu mana yang dulu ditarik oleh Intipalla untuk membuka pintu masuk itu. Mungkin lebih baik kutarik-tarik saja satu persatu, batinku. Sampai pegal tanganku menarik satu persatu akar yang sangat banyak jumlahnya itu, tak ada satupun yang berhasil membuka pintu masuk itu. Kepanikan bercampur rasa putus asa mulai melanda diriku. Takut karena bagaimana jika orang yang keluar dari lorong itu kembali dan mendapati aku tengah berkutat dengan akar-akar pohon itu ?. Dan saat aku hampir memutuskan untuk menyerah, tiba-tiba saja salah satu akar yang kutarik terjulur mengikuti arah tarikan tanganku, dan bunyi bergemuruh yang sudah tak asing lagi ditelingaku terdengar.

Dinding berumput tebal dihadapanku membuka kearah dalam, dan tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung masuk kedalam dan menutup pintu itu lagi dengan menarik tuas disamping kiri pintu. Untung saja aku sempat memperhatikan saat Intipalla membuka pintu itu terakhir kali, ketika aku dan Arya diselundupkan keluar.

Setelah memastikan pintu itu tertutup rapat, aku langsung melangkah dengan berbekal senter yang memang sengaja kubawa. Aku masih belum tahu bagaimana cara Intipalla menyalakan obor-obor emas itu. Makanya tadi sebelum kemari, kuputuskan untuk membawa senter.

Setelah berjalan beberapa menit, aku sampai diujung lorong emas itu. Tanpa membuang banyak waktu, aku langsung membuka pintu dan berlari kebawah kaki bukit, menuju Kota yang Hilang.

Keadaan yang tadinya adem ayem, langsung menjadi riuh rendah saat orang-orang melihatku. Banyak yang menunjuk-nunjuk kearahku, dan mereka kelihatannya kurang senang dengan kehadiranku.

Sebelum aku menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba saja aku sudah diringkus oleh pengawal-pengawal yang kukenali dari pakaiannya adalah pengawal istana, karena mereka berpakaian seperti ketiga pengawal yang hampir saja menangkap aku dan Arya.

“ AKU DATANG LAGI UNTUK MEMPERINGATKAN KALIAN AKAN BAHAYA BESARRR !!.... “ teriakku kalap dalam bahasa Spanyol.

Kurang ajar benar pengawal-pengawal ini. Bukannya menyambut aku yang berniat baik, malah aku diperlakukan seperti penjahat.

Setelah diseret sepanjang jalan dan masuk kedalam kuil yang merupakan jalan masuk kedalam Piramida emas, kami sampai di ruangan tahta, tempat kediaman kedua orangtua Intipalla. Hatiku langsung bergejolak girang. Ada Intipalla disana, sedang duduk dikursi yang lebih kecil dari kursi tahta disamping ayahnya. Entah mengapa, aku tahu, aku aman kalau ada dia.

“ Apa kamu datang untuk mengorbankan dirimu, Aning ? “ suara Sapa Inca bergetar, dia marah melihat kehadiranku.

Kutatap Intipalla, tapi pemuda itu memalingkan wajahnya, dan menatap kearah lain. Hatiku sakit seketika. Seperti ada ribuan jarum kecil yang menusuk-nusuk disana, dan kerongkonganku seperti dijejali biji kedondong. Tapi kemudian aku teringat akan maksud kunjunganku. Setelah menunduk hormat pada Sapa Inca dan Ratu, aku lalu mulai bicara.

“ Maafkan saya, kembali memasuki Kota anda tanpa ijin, tapi saya terpaksa berbuat hal ini demi keselamatan Kota ini.. “ ujarku membuka penjelasanku. Kulihat kening Sapa Inca berkerut dan saling bertaut satu dengan yang lainnya.

“ Apa maksudmu ? “ tanya laki-laki yang wajahnya penuh wibawa itu. Baru kuperhatikan sekarang, dia berbicara sesempurna orang Spanyol asli.

“ Saat aku masih berada di perkemahan kami, tanpa sengaja adikku mendengar ada seseorang yang bernama Erold, bicara tentang Kota yang Hilang. Mereka rupanya sudah menemukan petunjuk ke kota ini, dan karena itulah aku datang untuk memperingatkan kalian. Orang itu sangat rakus dan tamak. Dengan semua emas yang kalian miliki, aku takut mereka akan berbuat apa saja agar bisa memilikinya.... “ sambil menunduk, kujelaskan semua yang kutahu. Aku sendiri masih belum mengerti akan kenekatanku ini. Bagi orang yang hendak dikorbankan pada upacara peneguhan Sapa Inca, sebenarnya aku terlalu bodoh untuk kembali lagi ketempat ini.

Setelah mengakhiri penjelasanku, ruangan tahta itu mulai riuh rendah. Beberapa petinggi istana yang juga turut berada disana mulai saling berbisik sambil menunjuk-nunjuk kearahku. Kutatap Intipalla, dan kembali aku harus kecewa, karena cowok itu hanya menatap terus kearah lain. Dia kelihatannya tak ingin melihat atau bertemu denganku lagi.

“ Bagaimana kami bisa mempercayai kamu ? kamu sudah satu kali memperdayai kami !! “ kali ini Ibu Intipalla yang buka suara. Baru saja aku hendak membuka mulut untuk menjawab, Sapa Inca mengangkat tangannya. Seketika ruangan menjadi sunyi senyap.

“ Karena kelancanganmu memasuki Kota kami tanpa ijin, maka kuputuskan untuk menawanmu sementara petugas-petugas kami mencari tahu kebenaran ceritamu itu ! “ selesai berbicara, Sapa Inca lalu bangkit dan turun dari tahtanya, diikuti oleh sang Ratu.

Sedangkan aku langsung ditahan oleh 2 orang pengawal. Aku tak lagi berontak seperti dulu, sebab itu hanya akan sia-sia. Aku sudah memikirkan resikonya akan seperti ini sebelum masuk kembali ke Kota yang Hilang.

“ Inti, maafkan aku...tapi aku takut kalian akan kenapa-kenapa jika mereka benar-benar menemukan jalan masuk ke Kota kalian ini... “ ujarku memelas.

Aku takut dia akan membenciku. Padahal, terakhir kali dia melukai dirinya sendiri hanya untuk mengeluarkanku dari sini, dan sekarang aku dengan bodohnya kembali lagi kesini. Intipalla berhenti sejenak, kulihat dia hanya menatapku sekilas, lalu melangkah keluar, mengikuti langkah ayah dan ibunya. Airmataku langsung menetes, tapi kali ini tanpa bunyi isakan. Aku hanya menangis dalam diam.

Kedua pengawal itu lalu membawaku ke sebauh tempat yang sebelumnya tak pernah kulihat di salah satu bagian dalam Piramida. Mungkin tempat itu adalah penjara bagi mereka. Mulanya aku berpikir tentang sebuah terali besi, tapi mereka malah memasukkan aku kedalam sebuah kamar yang indah. Dengan semua perabotan emas yang menjadi ciri khas mereka. Kemudian setelah mengunciku, kedua pengawal itu terdengar bergegas pergi.

Aku benar-benar menumpahkan segenap kesedihanku sepeninggal kedua pengawal itu. Rasa sesal perlahan merayapi hatiku. Entah apa yang merasuki pikiranku, yang membuatku menjadi super idiot seperti ini. Hanya orang idiot yang kembali kesebuah tempat dimana orang-orang disitu sebelumnya malah berniat untuk mengorbankan dirinya dalam sebuah perayaan sadistik.

Wajah orangtuaku dan juga adikku Arya mulai menari-nari dibenakku, dan kini hampir bisa dipastikan aku tak akan pernah bertemu dengan mereka lagi sepanjang sisa umurku. Itupun kalau umurku akan bertahan lama, sebab bagaimana jika mereka pada akhirnya memutuskan untuk mengorbankan aku pada perayaan peneguhan Sapa Inca yang baru ?

Airmataku kini seperti tanggul bendungan yang jebol, tak henti-hentinya mengucurkan air. Aku makin sedih saat mengingat raut wajah Intipalla tadi, yang sepertinya tak mengenalku. Atau dia tak ingin bertemu denganku lagi ? tapi bagaimana dengan sikap sayangnya saat pertama kali aku berkunjung ke tempat ini ? seribu pertanyaan memenuhi benakku. Bukannya pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, tapi malah membuatku makin bercucuran airmata, seperti tong air yang bocor. Benar-benar menyebalkan !

Aku makin membenamkan diriku dalam lautan penyesalan yang tak ada habis-habisnya, saat suara gemerincing kunci dipintu kamar terdengar. Seketika harapan muncul dalam hatiku, bahwa bisa saja itu adalah Intipalla yang datang untuk mengeluarkan aku dari tempat ini. Refleks aku langsung berdiri dan menuju kearah pintu kamar. Ternyata itu bukan Intipalla, tapi seorang pelayan istana yang membawakan aku sebaki penuh makanan, yang kelihatannya sangat enak. Sayang sekali, perutku tak lapar, ditambah dengan jenis-jenis serangga menjijikkan seperti kecoak sering menjadi menu mereka, aku jadi enggan. Kugelengkan kepalaku, tapi pelayan itu malah berucap,

“ Makan... “ dia bisa bicara dalam bahasa Indonesia.

“ Kamu bisa bicara memakai bahasaku ? “ tanyaku antusias. Senang sekali mendengar ada orang lain yang bisa berbicara dengan bahasa Indonesia ditempat yang ribuan mil jauhnya dari negaraku itu.

“ Intipalla.... “ dia menggeleng. Seketika aku mengerti, pemuda itu yang mengajarkan pada sang pelayan kata itu.

Aku memang sempat memberinya kursus kilat Bahasa Indonesia, dan mengajarinya kata-kata yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Rupanya Intipalla yang menyuruhnya mengantarkan makanan itu padaku. Tapi mengapa dia tak mau menemui aku, dan mengapa aku tak melihat Annamaya sejak kedatanganku yang menghebohkan tadi ?

Bunyi ceklikan pintu yang dikunci dari luar menyadarkan aku, pelayan tadi sudah pergi tanpa mengucapkan apa-apa padaku. Baki makanan yang tadi dipegangnya kini tergeletak di atas meja konsol dekat tempat tidur. Sama sekali tak timbul seleraku sedikitpun dengan makanan itu. Bagaimana bisa makan dalam keadaan tertawan, tanpa tahu apa aku akan pernah bertemu dangan orangtuaku lagi, atau tidak, ditambah dengan tata boga suku Inca yang jelas-jelas bukan seleraku ?

Suasana kembali hening. Untuk yang pertama kalinya, aku benar-benar merasa tak berdaya. Kuhempaskan diriku ke atas tempat tidur empuk yang sangat indah itu. Kelelahan yang tadinya tak kurasa kini mulai merayapi sekujur tubuhku. Aku mulai mengantuk. Baru saja, alam sadarku akan berganti ke alam tidur, terdengar lagi bunyi gemerincing kunci-kunci di depan pintu kamar tahananku.

Mungkin pelayan yang tadi, untuk melihat apa aku sudah menghabiskan makananku atau belum, pikirku. Jika itu benar, maka dia harus bersiap-siap untuk kecewa, karena makananku tak kusentuh sama sekali. Kalau saja pelayan itu mengerti bahasa Inggris, atau bahasa Spanyol, aku akan bilang padanya, bahwa makanan yang dia bawa itu boleh dia makan sendiri ! ujarku dalam hati, marah.

“ Jadi ini yang bernama Aning ?! “ sebuah suara berat yang tak kukenal terdengar, berbicara dalam bahasa Spanyol.

Refleks kuangkat tubuhku dari atas kasur empuk itu. Di pintu berdiri seorang pemuda yang lain, berwajah agak mirip-mirip dengan Intipalla, tapi jika Intipalla berwajah ramah, maka yang satu ini wajahnya meskipun tampan, tapi terlihat bengis dan kejam. Seperti orang yang tak pernah mengenal rasa bahagia disepanjang hidupnya.

“ Namamu Aning, kan ? Apa kamu tuli atau kamu tak bisa bicara ? Tak mungkin ! Sebab dari yang kudengar, kamu yang datang untuk bilang pada Ayahku ada orang yang berniat jahat pada suku kami, iya kan ? “ nada suaranya mencemooh dan mendesak.

Seketika aku sadar, ini pasti adik lain Ibu-nya Intipalla, yang kata Annamaya mereka kejam dan sangat iri pada calon Sapa Inca itu.

“ Ya, namaku Aning. Kamu sendiri siapa ? “ meskipun aku sudah tahu, tapi aku pura-pura bertanya juga, kutahu dia akan tersinggung, karena dia anak Raja dan ada orang yang menanyakan identitasnya. Aku benar, karena kemudian dia menatapku dengan pandangan dingin dan angkuh yang sangat kubenci, lalu menjawab,

“ Aku Rapalla, anak Sapa Inca dari istri yang pertama ! “ tiba-tiba saja aku jadi benci pada pemuda itu. Sikapnya yang pongah dan sombong itu sama sekali tak aku suka.

Annamaya memang tak berlebihan saat mengatakan padaku bahwa Rapalla dan Ibunya itu jahat. Aku sudah bertemu dengan Ibunya, dan aku langsung tak menyukai dia, dan sekarang anaknya datang mengunjungi aku, dan aku juga langsung membencinya.

“ Sebenarnya apa mau kamu ? Pasti kamu datang kesini untuk mengincar emas-emas kami, iya kan ? “ tuduh Rapalla, membuatku langsung naik darah.

“ Kamu tuh ya, sombong banget ! kamu pikir aku mengincar emas milik kalian ? aku datang untuk memperingatkan kalian akan datangnya bahaya !! “ teriakku marah. Dia hanya tersenyum sinis, dan membalikkan badannya setelah sebelumnya menukas pedas,

“ Kamu bisa bilang apa yang kamu mau, tapi asal kau tahu, kami tak akan membiarkan tikus-tikus pengerat seperti kalian hidup. Bila Intipalla terlalu lemah untuk membunuhmu, aku yang akan melakukannya, ingatlah itu !! “ Dia lalu melangkah pergi, meninggalkan pengawal yang bersama dengannya untuk mengunci kembali pintu kamarku.

Aku terhenyak ditempat tidur sepeninggal Rapalla. Pemuda itu memang sangat sombong, dan aku tak menyukainya. Tapi bagaimana jika dia melaksanakan ancamannya itu ? aku tiba-tiba jadi cemas. Apalagi setelah mengingat tatapan dingin Intipalla padaku di ruang tahta saat aku datang kembali untuk mengingatkan mereka tentang kemungkinan penyusupan oleh Om Erold dan kelompoknya ke Kota yang Hilang.

Aku takut, Intipalla benar-benar marah padaku, dan akan membiarkan saudara tirinya berbuat jahat padaku. Meskipun aku bersahabat dengan Intipalla dan Annamaya, semua itu tak menghapus ketakutanku, apalagi mereka masih primitif dan membunuh orang bukanlah hal yang besar dan dilarang, apalagi dengan peraturan yang melarang orang asing untuk masuk ke Kota yang Hilang itu.

Lagi-lagi, airmata merebak di kedua bola mataku. Kalau aku tahu akan jadi seperti ini pada akhirnya, aku tak seharusnya kembali lagi kesini untuk memperingatkan mereka. Persetan dengan Om Erold dan kelompoknya, biar saja mereka menemukan lorong rahasia itu. Seharusnya aku sedang hidup aman bersama dengan keluargaku dan menjalani hidup yang normal-normal saja. Aku benar-benar meneyesal.

Kembali suara derit pintu yang dibuka terdengar. Siapa lagi kali ini yang datang untuk mengancamku ? tanyaku dalam hati.

“ Kamu baik-baik saja, Ning ? “ itu suara lembut Intipalla. Aku hampir tak percaya dengan pendengaranku.

“ Akhirnya kamu datang juga, Inti... “ aku langsung menghambur kedalam pelukannya, dan airmataku kembali tumpah tak tertahankan.

“ Kupikir kamu marah padaku, kulihat kamu hanya menatap aku dan tak mengucapkan apa-apa di ruang tahta, aku sedih sekali... “ isakku. Intipalla membelai rambutku lembut. Aku langsung merasa aman dan nyaman.

“ Bukannya Inti marah padamu, tapi peraturan kami memang melarang seseorang bicara didalam ruang tahta, kecuali sang Ratu, bila tak diminta atau diijinkan oleh Sapa Inca... “ ternyata Annamaya juga ikut.

Aku langsung melepaskan diri dari pelukan Intipalla dan memeluk Annamaya erat-erat. Gadis itu balas memelukku.

“ Aku senang sekali bisa melihatmu lagi, Aning... “ bisik Annamaya. Aku tak mampu untuk berkata-kata, hanya menganggukkan kepalaku kuat-kuat.

“ Tadi, Rapalla datang kesini, ya ? “ tanya Annamaya begitu aku melepaskan diri dari pelukanku. Aku hanya mengangguk.

“ Apa yang dia katakan padamu bajingan itu ? “ Intipalla menatapku, aku lalu menceritakan semua yang Rapalla katakan padaku tadi. S

eketika itu juga Intipalla menjadi berang, saat mendengar bahwa Rapalla mengancam akan membunuhku. Dia mengatakan bahwa Rapalla akan di beri pelajaran sekarang juga.

“ Inti...jangan marah...nanti keadaan akan lebih buruk, dan Sapa Inca bisa-bisa murka. Nanti dikiranya aku yang mengadu domba kedua anaknya. Lagipula....aku tak takut lagi, kamu dan Annamaya sudah datang menjengukku, dan itu bagiku sudah cukup, “ ujarku menenangkan pemuda itu.

Tampaknya usahaku berhasil, karena Intipalla tak lagi bersikeras untuk pergi menghajar adik lain Ibunya itu.

Kami bertiga lalu bercakap-cakap, Annamaya bertanya tentang kabar adikku Arya. Kutanyakan tentang keadaan Arya yang tak bisa mengingat apa-apa tentang Kota yang Hilang. Kata Intipalla, kadang itu terjadi apa bila orang menghirup terlalu banyak asap daun bius, dan rupanya itu yang terjadi pada Arya.

“ Jadi dia tak bisa mengingatku ? “ tanya Annamaya, dia kelihatan sedih. Aku mengangguk mengiyakan.

“ Nanti juga dia akan ingat tentang semua lagi, kok. Kamu nggak usah khawatir, Anna.. “ hibur Intipalla.

“ Berapa lama Arya bisa mengingat lagi semua kejadian dengan jelas, Inti ? “ Aku benar-benar terkesan dengan pengetahuan mereka.

Tanpa menggunakan obat bius kimia, mereka bisa membius orang dengan sempurna, yang bahkan menghilangkan ingatan orang itu untuk beberapa waktu. Kupikir, mereka melakukan itu untuk membingungkan orang, agar tak menemukan jalan masuk ke lembah rahasia itu. Seperti yang mereka lakukan padaku dan Arya.

“ Aku tak bisa mengatakan pastinya, karena tergantung pada daya tahan tubuh setiap orang. Bila dia kuat, maka dia bisa kembali mengingat segalanya setelah 4 hari atau 1 minggu, tapi ada juga yang setelah 2 bulan baru bisa mengingat kembali hal-hal yang terjadi. Biasanya mereka hanya bisa mengingat hal-hal yang mereka lakukan 10 atau 11 jam terakhir sebelumnya. “ Intipalla menjelaskan.

Aku jadi mengerti sekarang. Karena itulah,hal yang terakhir diingat Arya adalah ketika dia pergi tidur pada malam itu di dalam tenda kami berdua.

“ Lalu bagaimana dengan aku ? apakah Sapa Inca akan menahanku disini terus ? “ tanyaku bimbang pada kedua sahabatku itu.

Sapa Inca sekarang telah memerintahkan para pengawal-pengawal kami yang terlatih untuk pergi menyelidiki tentang kebenaran ceritamu itu, dan bila mereka menemukan bahwa ucapanmu itu benar adanya, Sapa Inca akan melepaskanmu... “ ucapan Annamaya benar-benar membuatku senang bukan kepalang.

“ Benarkah ? “ aku menatap Intipalla, ingin memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh Annamaya itu memang benar adanya. Pemuda itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Hari sudah mulai menjelang senja ketika Annamaya dan Intipalla berpamitan pergi. Kata Annamaya, dia harus pulang untuk membantu Ibunya dirumah. Meskipun dia keluarga bangsawan, tapi dalam adat istiadat suku mereka, anak perempuan tetaplah harus belajar tentang pekerjaan wanita di suku mereka. Ibu Annamaya adalah saudara perempuan Sapa Inca.

Sedangkan Intipalla, dia diharuskan hadir dalam setiap acara makan malam, lengkap bersama Ibunya dan juga Sapa Inca. Jadi, dia harus pergi mempersiapkan dirinya sebelum makan malam. Tapi Intipalla maupun Annamaya berjanji, bahwa mereka akan kembali lagi mengunjungi aku seusai makan malam nanti. Tinggallah aku sendiri yang cemas, karena aku tahu, begitu malam tiba, Mama dan Papa pasti akan kebingungan mencariku. Mudah-mudahan saja Sapa Inca akan segera membebaskan aku dari sini, dan mengijinkan aku pulang ke perkemahan, harapku.

Tanpa kusadari, akhirnya aku tertidur dengan perut yang keroncongan. Tadinya aku mau makan, tapi ketika aku teringat akan perkedel ulat bulu, tiba-tiba saja selera makanku langsung lenyap entah kemana. Sebagai gantinya, aku hanya memakan buah-buahan yang disediakan oleh pelayan tadi. Memang sih, tak mampu untuk mengusir rasa laparku, tapi cukup untuk mengganjal perutku, meskipun aku masih merasa lapar.

Panas matahari yang masuk dari jendela membangunkan aku. Rupanya hari sudah pagi. Entah tadi malam Annamaya dan Intipalla datang atau tidak, aku tak tahu. Tidurku benar-benar nyenyak, mungkin karena kelelahan berlari di sepanjang bukit kemarin, saat aku masuk kembali ke Kota yang Hilang untuk bertemu dengan Sapa Inca, juga Intipalla ? Sebenarnya siap yang paling ingin kutemui, Sapa Inca ataukah Intipalla ? Tak urung pertanyaan itu mengusik benakku.

Terdengar bunyi pintu dibuka, ternyata salah seorang pelayan yang membawakan aku makanan dan segelas susu. Dalam hati aku bertanya, jenis bintang apa yang mereka perah susunya. Aku takut untuk membayangkan, karena bila mengingat jenis-jenis makanan mereka, selalu hal-hal yang buruk dan menjijikkan muncul di otakku.

“ Makanlah Aning, aku tahu kamu lapar sekali, dan susu itu, kami perah dari sapi, kujamin ! “ Intipalla muncul dari balik pintu. Ternyata dia bersama pelayan itu. Aku tersenyum mendengar ucapannya. Dia tahu apa yang kupikirkan. Itu tak lagi mengejutkan aku, tapi tetap saja menjadi surprise bagiku setiap kali dia melakukannya.

“ Mana Annamaya ? “ tanyaku sambil tersenyum, tak mampu untuk menyembunyikan kegembiraanku akan kehadirannya.

“ Sebentar lagi dia pasti datang kesini, katanya dia harus mengerjakan sesuatu sesuatu di Acclahuasi, “ jawab Intipalla.

“ Itu daging sapi, yang kami masak dalam mentega, dan juga kentang bakar, dan nasi, seperti yang biasa kalian makan, “ jelasnya lagi sambil menunjuk nampan makanan. Aku jadi malu, dia tahu dengan semua yang kupikirkan tentang makanan-makanan mereka.

“ Maafkan aku, Inti...bukan maksudku untuk....tapi...kau tahu..kami tak biasa... “ aku jadi terbata-bata, dan tak mampu mengucapkan kalimatku dengan sempurna. Aku malu sekali. Intipalla tertawa terbahak-bahak melihatku jadi seperti orang bodoh.

“ Sudahlah...aku mengerti, kalian kan beda dengan suku kami, jadi kami tak akan menyalahkan kalian hanya karena kalian tak menyukai perkedel ulat bulu kami yang terkenal kelezatannya itu... “ dia masih tertawa, yang pada akhirnya membuatku ikut tertawa juga.

“ Oh ya, aku datang untuk mengabarkan sesuatu padamu, seusai makan pagi, ada pelayan yang akan membawakan bajumu, karena kamu harus bersiap-siap untuk menghadap Sapa Inca di ruang tahta. Dia ingin bertemu denganmu ! “ lanjutnya lagi, mengejutkan aku.

“ Kenapa Sapa Inca ingin bertemu denganku, Inti ? “ tanyaku cemas, sepotong kentang bakar urung kusuapkan kedalam mulutku. Bahkan, rasa lapar yang begitu menderaku sejak tadi malam entah mengapa tiba-tiba hilang begitu saja. Intipalla tersenyum melihat sikap cemasku. Kupikir, dia tersenyum hanya untuk menenangkan aku.

“ Mungkin Sapa Inca akan membebaskan kamu hari ini, Ning. “ Jawabannya membuat aku kaget sekaligus gembira bukan kepalang.

“ Benar, Inti ?!... “ seruku senang.

“ Tapi...bagaimana kamu tahu tentang hal itu ? apa Sapa Inca yang memberitahukan tentang rencananya itu padamu ? “ tak urung jawaban Intipalla itu membuatku penasaran. Herannya, dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, yang membuat semangatku hilang lagi.

“ Kalau begitu, bagaimana kamu yakin kalau aku akan bebas hari ini ? “ tanyaku, tak seantusias tadi.

“ Kamu jangan cemberut seperti itu, dong, aku tahu karena aku mengenal Ayahku. Hari ini dia kelihatan senang, dan kalau dia seperti itu, artinya itu adalah pertanda yang sangat baik... “ sebuah penjelasan yang bagiku sangat tidak meyakinkan.

Bagaimana kalau Sapa Inca gembira hanya karena salah satu dari istri-istrinya yang membuat dia senang ? Tapi aku tak mau bertanya lagi pada Intipalla.

“ Kenapa berhenti makan, Ning ? “ ternyata dia memperhatikan perubahan sikapku.

“ Ah...tidak kenapa-kenapa, kok. “ jawabku pendek, lalu memutuskan untuk menghabiskan sarapan pagiku. Aku harus memulihkan tenagaku, karena bila mereka akan terus menahanku disini, maka aku harus mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini. Itu artinya, aku harus memiliki energi yang cukup agar bisa berpikir jernih.

Intipalla hanya memandangiku, entah apa yang sedang pemuda itu pikirkan. Tapi yang pasti, aku senang dia ada disini untuk menemani aku. Sebelum aku selesai dengan sarapan pagiku, salah satu pelayan perempuan datang ke kamar. Dia membawa sebuah nampan emas yang diatasnya terlipat rapi baju khas bangsa Inca.

Setelah piring-piring sarapan pagiku kosong semua, aku segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badanku, sedangkan Intipalla pergi untuk menungguku diluar kamar, meninggalkan aku hanya berdua dengan si pelayan perempuan itu.

Sama seperti dengan kamar-kamar mandi yang berada di tempat lain yang pernah kulihat sepanjang kunjunganku disini, kamar mandi yang berada dalam kamar tahananku ini juga sangat besar, dengan bak mandi yang terbuat dari emas, berisi air dengan taburan bunga-bunga yang berbau harum.

Aku tak punya waktu untuk menikmati kemewahan itu, maka secepat yang aku bisa, segera kubersihkan tubuhku, lalu mengambil kain yang tersampir di samping bak mandi, dan melilitkannya ke tubuhku.

Si pelayan yang tengah menungguku langsung beraksi begitu aku keluar dari dalam kamar mandi.

Kubiarkan dia melakukan tugasnya. Pertama-tama, dengan bahasa isyarat dia menyuruhku untuk memakai baju terusan berwarna putih bersih diatas baju dalamku, sepanjang lutut. Kemudian, dengan cekatan dia melilitkan kain panjang berwarna putih gading mengkilat ke tubuhku, lalu membuat simpul-simpul rumit, setelah itu dia mengikatkan sebuah ikat pinggang selebar telapak tanganku, yang berwarna coklat tua, dengan gesper berbentuk mawar emas di bagian depannya. Sentuhan terakhir yang dia berikan pada baju anehku itu adalah 2 bros mawar emas, yang dia jepitkan di masing-masing sisi dada kiri dan kananku.

Setelah itu, dia menyuruhku untuk berputar, dan perempuan itu lalu mengoceh dengan bahasa Inca yang tak kupahami.

Berikutnya, dia mengambil sebuah kotak, yang kelihatannya seperti sebuah kotak perhiasan, lalu mulai mencari-cari sesuatu didalamnya. Ternyata perempuan itu mengambil sebuah anting-anting emas panjang, dengan bulatan berbentuk matahari seperti jam yang kulihat pada kunjungan pertamaku disini dengan Arya. Setelah memakaikan anting-anting itu padaku, dia lalu menggelung rambut panjangku keatas, seperti tatanan rambut wanita-wanita Yunani jaman dulu, dan menaruh jepitan rambut model ranting daun di bagian depan rambutku, yang telah diolesi dengan minyak berbau harum.

Aku sendiri cukup terkejut dengan perubahan yanga terjadi pada diriku setelah didandani seperti ini. Kelihatannya aku seperti akan membawakan sebuah peran dalam salah satu pentas teaterikal. Tak sadar aku terkekeh geli melihat penampilanku, tapi kalau dipikir-pikir, aku cantik juga dengan gaya berpakaian seperti ini.

Setelah merasa cukup dengan penampilanku, pelayan itu memberi isyarat bahwa dia akan keluar. Intipalla kemudian masuk kedalam kamar, dan kelihatan benar dia sangat terkejut melihat penampilanku itu.

“ Kamu sangat cantik, Aning... “ ucapnya tulus. Aku jadi malu dengan kata-katanya.

“ Kamu jangan bercanda, dong... “ sanggahku, kedua pipiku terasa panas.

“ Aku tak bercanda, Aning, kamu memang sangat cantik, dan aku tak pernah melihat seorangpun perempuan dalam suku kami yang terlihat cantik sekali seperti kamu saat memakai pakaian tradisional kami itu, “ matanya tak henti-hentinya memandangiku, membuatku merasa jengah.

“ Kita akan pergi sekarang, Inti ? “ tanyaku, tetapi sebenarnya aku mencoba untuk mengalihkan percakapan yang membuat pipiku serasa terbakar. Intipalla menganggukkan kepalanya mengiyakan. Dia lalu menggamit tanganku, dan menarikku keluar dari kamar tahanan yang mewah itu.

Sebelumnya kupikir, kalau kami hanya berdua saja, tetapi begitu keluar dari rumah tahanan, nampak lengkap sepasukan bersenjata, para pengawal kerajaan yang tengah menunggu aku dan Intipalla di halaman rumah.

“ Untuk apa mereka disini, Inti ? “ aku heran melihat ada banyak pengawal yang berjaga diluar.

“ Untuk menjaga agar kamu tidak melarikan diri seperti yang pernah terjadi sebelumnya, “ jawab Intipalla, sambil melempar senyum manisnya padaku.

Aku hanya tersenyum miris, kelihatannya kok, aku seperti seorang tahanan teroris, yang harus dijaga dengan ketat.

Perjalanan menuju kedalam Piramida cukup menghebohkan. Para penduduk suku Inca banyak yang keluar dari rumah mereka hanya untuk melihatku. Rupanya cerita tentang aku yang nekat balik lagi kedalam Kota yang Hilang sudah tersebar keseluruh penjuru kota. Karena, sepertinya, kali ini ada terlalu banyak orang yang terkumpul di tepi jalan, disepanjang jalan protokol menuju ke Kuil, yang membuatku ingat saat kami disuruh oleh Pak Kepala Sekolah untuk berdiri di tepi jalan saat seorang Presiden yang aku lupa dari negara mana datang berkunjung ke Indonesia.

Beberapa dari penduduk itu ada yang berteriak-teriak sambil menunjuk kearahku. Aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan, tapi dari raut wajahnya, aku tahu kalau dia itu marah padaku. Perjalanan menuju Piramida rasanya lama dan sangat panjang, aku ingin cepat-cepat berlalu dari tempat itu. Akhirnya, dengan pengawalan ketat, aku sampai di dalam Piramida. Setelah melalui beberapa protokol basa-basi yang tak aku mengerti, seorang pengawal kerajaan yang memakai baju berbeda dari semua pengawal yang lain ( kupikir, dia itu pasti adalah komandan dari semua pengawal-pengawal yang banyak itu ), bicara padaku. Dia bisa bahasa Spanyol juga.

“ Anda dipersilahkan untuk masuk... “ tunjuk sang pengawal kearah pintu tahta.

Aku yang sudah pernah masuk kesitu sebelumnya, kali ini entah mengapa tiba-tiba saja aku merasa sangat gugup bukan kepalang. Perasaan nyaman yang kurasa saat bersama dengan Raja dan Ratu saat bertemu mereka sebelumnya menguap entah kemana. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.


{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Makin bikin penasaran!!!!!tapi mana postingan episode 7-nya Kak????udah hari Selasa niiihhh

    BalasHapus
  2. To Citra : sabar dong..tuh kan udah ada Citra..^_^

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers