Popular posts

nsikome On 11 Juli 2011

This is Tuesday....one day late, sorry guys..but I'm little bit in a crowded time..makanya telat posting mulu...tapi gak apa-apa ya? yg penting ceritanya di posting juga kan?. Buat yg udah protes lagi, jangan kebanyakan protes, nanti gimana kalo aku-nya ngambek dan gak posting lagi? hehehehe...ya udah...selamat menikmati aja ya!!



THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 7

Kukuatkan hatiku, dan aku lalu melangkah menuju pintu yang tertutup. Begitu aku sampai didepannya, pintu itu langsung terbuka perlahan, dan tampak diujung sana, Raja dan Ratu yang sedang duduk di singgasana emas mereka, dan disekeliling mereka berdua, ada banyak tetua-tetua dan pembesar kerajaan yang jumlahnya kira-kira bisa mencapai seratusan.

Perlahan namun pasti aku melangkah menuju ke arah singgasana, dan nampak olehku, Intipalla sudah ada disana, tengah duduk disamping kiri Ayahnya, disebuah kursi besar dengan ukiran seekor ular yang melilit dibagian atas sandaran hingga keempat kaki kursi itu. Sangat indah.

Aku lalu menghormat, seperti yang sudah kulakukan sebelumnya, dan setelah itu diam, menunggu Sapa Inca berbicara.

“ Selamat pagi, Aning... “ Sapa Inca mengucapkan salam, aku lalu membalas dengan menganggukkan kepalaku dengan sopan padanya, tanpa berkata apa-apa.

“ Setelah petugas-petugas kami menyelidiki tentang yang kau katakan, kami memutuskan untuk membebaskanmu, sebab kau mengatakan kebenaran. Karena itu juga, kami mau menganugerahimu dengan hadiah sebagai tanda terima kasih kami, “ Sapa Inca bertepuk tangan dua kali keras-keras, dan dari pintu di bawah Singgasana sebelah kiri, dua orang pengawal datang menggotong sebuah peti emas terbuka, yang berisi berbagai macam perhiasan dan peralatan yang terbuat dari emas dan permata.

Aku jadi kaget bukan kepalang, lalu rasa senang mulai merayapi hatiku, juga serakah, melihat banyaknya hadiah yang mereka akan berikan padaku. Aku sampai tak mampu untuk berkata apa-apa.

Dalam benakku, aku mulai membayangkan jika aku pulang nanti ke perkemahan, dengan membawa sepeti penuh harta yang harganya tak ternilai, dan mereka bertanya padaku darimana aku menemukannya.... Sampai disitu, semua jadi tak indah lagi. Sudah pasti aku akan sibuk untuk mengarang cerita, agar mereka terutama Om Erold yang berwajah tamak seperti Paman Gober itu tak curiga dan kemudian mulai mencari-cari lebih teliti lagi.

“ Aning, kenapa kamu hanya diam saja ? apa hadiah dari kami ini masih kurang ? “ suara Ibu Intipalla mengagetkan aku dari lamunanku.

“ Oh... maafkan saya Yang Mulia, tidak....semua ini malah sangat berlebihan untuk saya... “ jawabku cepat-cepat, takut dia akan tersinggung.

“ Lalu kenapa kamu kelihatan tidak senang ? “ Ratu menatapku. Aku jadi salah tingkah.

“ Bukannya saya tidak mau menerima pemberian dari Yang Mulia, tapi semua itu terlalu banyak dan besar, saya takut, saat saya kembali ke perkemahan nanti, semua orang akan bertanya-tanya dari mana saya mendapatkan semua itu, terutama orang-orang serakah dalam rombongan arkeolog Ayahku, lalu mulai menyelidiki dengan teliti tentang keberadaan kalian semua, tentang keberadaan Kota yang Hilang yang selama ini tengah mereka cari-cari ! “ kujelaskan panjang lebar semuanya.

Biar saja orang bilang aku bodoh dan idiot, menolak harta tak bernilai yang mereka berikan padaku, daripada keberadaan mereka dan Kota yang Hilang bisa diketahui oleh orang-orang seperti Om Erold dan kelompoknya. Hanya memikirkan akibatnya saja, aku jadi bergidik ngeri.

“ Sungguh hatimu sangat mulia, Aning. Kami tak akan memaksamu untuk menerima hadiah dari kami ini, kalau ada yang ingin kau ambil, kamu bebas untuk mengambilnya. Sekarang, terserah bagimu, kalau kau masih ingin tinggal disini, atau sudah mau kembali pada Ayah dan ibumu, kamu tinggal bilang pada Intipalla, dia yang akan mengurus semuanya, “ Sapa Inca mengakhiri kata-katanya sambil bertepuk tangan dua kali lagi, dan pengawal yang menbawa peti harta itu masuk kembali lewat pintu yang sama. Sapa Inca lalu berdiri dan menggamit tangan istrinya, lalu berjalan turun singgasana, diikuti oleh 4 orang dayang-dayang yang mengangkat bagian belakang jubah berat sang Ratu. Setelah mereka berdua keluar dari pintu tempat aku masuk, para tetua mengikuti pemimpin mereka. Meninggalkan aku, dan Intipalla.

“ Bagaimana ? kamu tak menyangka, kan ? “ Intipalla menggodaku dengan gaya khasnya.

“ Sungguh, Inti...kalau aku punya penyakit jantung, aku sudah mati sejak tadi. Kupikir aku akan di hukum, tapi malah diberikan sepeti harta yang tak bernilai, untuk suatu kejutan, itu memang benar-benar adalah sebuah kejutan ! “ ujarku mengakui.

“ Mana Annamaya ? “ sedari aku tiba lagi di Kota yang Hilang, aku memang tak sekalipun bertemu dengan gadis cantik bermata gelap itu.

“ Oh... aku tadi bertemu dengannya, dia mengatakan padaku, bahwa seusai pertemuanmu dengan Ayahku, kita harus pergi kerumahnya, “ aku belum pernah tahu, rumah Annamaya dimana. Dengan antusias kusambut undangan dari gadis itu.

“ Kita kesana sekarang, yuk ! Aku merasa tak nyaman berlama-lama ditempat ini, angker !! “ ajakku buru-buru. Memang, aku bukanlah seorang penakut hantu atau sejenisnya, tapi ruangan tahta yang besar ini, setelah kosong kelihatan angker sekali. Bulu kudukku jadi merinding.

Intipalla menuntunku keluar dari ruangan tahta itu. Sepanjang perjalanan keluar dari Piramida hingga Kuil, dia hanya diam membisu. Aku jadi heran dengan sikapnya. Biasanya dia banyak bicara, dan selalu bertanya tentang hal-hal di negaraku yang tidak dia ketahui.

“ Inti, kulihat kamu tak banyak bicara, ada apa ? “ tanyaku hati-hati. Aku tak pernah bisa menebak isi hati pemuda itu. Kadang dia kelihatan lembut, tapi dilain waktu kelihatan keras seperti batu.

“ Maafkan aku, Ning, bukan maksudku mengacuhkanmu, tapi aku sedang punya masalah pribadi, yang membuatku resah belakangan ini, “ Intipalla menjawab. Oh...jadi itu sebabnya dia kelihatan begitu pendiam.

“ Kalau aku boleh tahu, apa masalah yang membuatmu jadi bingung seperti ini ? “ tanyaku menyelidik. Entah mengapa, aku jadi ingin tahu tentang segala hal yang berhubungan dengan Intipalla. Sejak aku kembali dari Kota yang Hilang, aku terus menerus memikirkan dia.

Segala hal yang aku lakukan seringkali aku asosiasikan dengan pemuda itu. Saat aku diperkemahan dan sedang makan, aku bertanya-tanya, apa dia suka makanan seperti yang aku makan atau tidak ? atau ketika aku sedang tidur sendirian, aku suka melamun tentang dia, tentang apa yang akan dia katakan tentang Indonesia, jika suatu hari kelak dia berkunjung ke negaraku itu ? Pokoknya semua hal sepertinya berhubungan dengan Intipalla, ketika aku di perkemahan, meskipun kadang aku tak yakin, kalau sebenarnya Intipalla itu ada atau memang hanya dalam mimpiku, sebelum aku yakin tentang keberadaan Kota yang Hilang.

“ Aku...ah...sudahlah ! itu masalahku, Ning. Aku tak mau membebanimu... “ Intipalla kelihatannya enggan untuk menceritakannya padaku, entah mengapa.

“ Tapi aku peduli.... “ Ups ! aku kelepasan bicara. Aku malu sekali, cara bicaraku seperti seorang gadis yang sedang bicara pada pacarnya, dan kalau ada Arya, aku pasti sudah disebutnya keganjenan. Kulihat Intipalla juga agak kaget, tapi dia kemudian tersenyum, dan mengacak poniku.

“ Aning....aku tahu..tapi semua ini agak sedikit rumit. Sebenarnya, aku dan Annamaya_ “ ucapan Intipalla terpotong oleh suara yang juga sudah kukenal, Annamaya.

“ Sudah berapa lama kalian berdiri di depan rumahku seperti patung di Acclahuasi ?! “ seru gadis itu sambil tersenyum, dia melambai padaku dan Intipalla.

“ Oh ! Ternyata kita sudah sampai.. “ Intipalla terlihat sedikit kecewa.

“ Ayo masuk, kamu akan kuperkenalkan dengan Ibuku, Aning ! “ Annamaya menyongsong kami di halaman rumahnya. Rumah Annamaya sendiri sangat besar, dan kelihatan berbeda dengan rumah-rumah disitu. Sangat besar dan mewah. Mungkin karena Ibunya masih Kakak-Adik dengan Sapa Inca, jadi Annamaya adalah keluarga bangsawan juga. Aku sempat bertanya, mengapa Annamaya dan Ibunya tidak tinggal didalam Acclahuasi seperti para perempuan bangsawan umumnya disitu.

Sebenarnya, kata Intipalla, rumah itu masih berada didalam wilayah Acclahuasi, karena Ibu Annamaya yang sangat keras kepala memaksa untuk tidak tinggal berkumpul dengan perempuan-perempuan lainnya, dan ingin membangun rumah untuknya sendiri dan anak-anak perempuannya sedekat mungkin dengan perkampungan yang padat penduduknya, maka jadilah, rumah mereka didirikan dibatas Acclahuasi dan perkampungan rakyat jelata.

“ Bagaimana menurutmu ? “ tanya Annamaya, aku jadi bingung dan tak mengerti dengan ucapannya.

“ Bagaimana apanya, Anna ? “ balasku bertanya, bingung.

“ Rumahku, apa pendapatmu ? “ Oh... jadi itu....kupikir apa.

“ Wah...rumahmu ini, kalau dibandingkan dengan rumahku, seperti langit dan bumi, deh ! jauh..... “ jawabku sambil menunjuk keatas, membuat kedua sahabat baruku itu tertawa. Memang sih, bila dibandingkan dengan rumahku, itu bagai gubuk dan istana. Teras rumah Annamaya saja, sudah sebesar rumah tambah pekarangan kami, bagaimana dengan ruangan-ruangan lainnya ? belum lagi ditambah dengan semua emas-emas yang mereka jadikan aksesoris dan dekorasi dirumah itu.

“ Maya !! kenapa temanmu itu tak kau ajak masuk kedalam rumah ? “ terdengar suara seorang perempuan.

Aku belum melihat wajahnya, tapi dari suaranya, entah mengapa aku langsung sangat menyukainya. Saat kupalingkan wajahku, tampak berdiri ditangga, seorang wanita berwajah halus dan sangat jelas mirip dengan Ayah Intipalla. Bisa kubilang, perempuan itu adalah versi femininnya Sapa Inca.

“ Oh iya...maafkan aku, ayo naik ! “ Annamaya menarik tanganku sambil berlari naik tangga, membuatku mau tak mau harus mengikutinya berlari-lari kecil.

“ Aning, kenalkan, ini Ibuku... “ karena sudah kupelajari saat berkunjung ke Acclahuasi, bahwa tak ada gunanya bersalaman tangan, maka aku segera membungkuk hormat padanya, seperti yang kulakukan pada Sapa Inca dan Ratu.

“ Ahh...tak usah kamu bersikap seperti itu, aku bukan Sapa Inca, ayo masuk... “ dia menggamit pundakku, lalu menuntunku masuk kedalam rumahnya. Sikapnya itu sangat membuatku terkejut, sangat berbeda dengan perempuan-perempuan bangsawan yang aku lihat di Acclahuasi. Bagaimana mengatakannya ? Ibu Annamaya orangnya cool.

Di Acclahuasi, perempuan-perempuan bangsawan yang kulihat disana sangat halus gerak-gerik mereka, dan juga terlihat sangat anggun. Aku jadi terheran-heran melihat perempuan bangsawan yang lain dari pada semuanya ini.

Ruang tamu Annamaya membuatku terkejut. Tak ada hiasan emas sedikitpun disana, yang ada hanyalah kursi-kursi yang terbuat dari kayu, yang entah mengapa kelihatannya seperti datang dari dunia luar, begitu juga dengan gorden-gorden dan lemari-lemari serta meja-meja konsol. Mulanya aku berpikir, kalau aku akan menemukan sebuah rumah khas Kota yang Hilang, dimana didominasi oleh hiasan-hiasan terbuat dari emas, ternyata aku salah.

Hal yang paling mengejutkan aku ternyata bukanlah semua itu, diatas sebuah meja sudut, ada pesawat telpon antik disana !! ANEH

“ Inti, kupikir barang-barang modern seperti ini tak ada disini, darimana datang semuanya ? “ bisikku pada Intipalla.

Rupanya Annamaya mendengar pertanyaanku. Gadis itu malah tertawa terbahak-bahak, juga Intipalla. Aku jadi tak mengerti.

“ Tahu tidak ? Ibuku berhasil mengikuti para pengintai yang turun setiap 6 bulan untuk melihat dunia luar, hingga ke kota, hanya karena penasaran dengan buku yang dibawa oleh salah seorang pengintai, yang memberikannya pada Ibuku sebagai tanda mata ! “ Annamaya masih tertawa dalam ceritanya.

“ Iya...malah aku juga berhasil membujuk para pengintai untuk membawakan aku semua ini, tapi yang satu aku tak tahu bagaimana cara memakainya ! “ tahu-tahu Ibu Annamaya sudah menyambung cerita anaknya tentang dirinya itu. Dia datang sambil membawa sebaki minuman.

“ Maksud Ibuku, benda yang diatas meja disudut, “ tunjuk Annamaya ke pesawat telpon, membuatku tak urung tersenyum geli. Dimana-mana, untuk bisa memakai telpon, ya, harus ada sambungan jaringan kabel telpon, mana ada jaringan di atas gunung seperti ini, dan dalam lembah rahasia lagi ! ada-ada saja...

“ Kamu tak punya pelayan, Anna ? “ tanyaku, merasa heran karena di Acclahuasi dan juga Istana Sapa Inca ada begitu banyak pelayan yang selalu melayani mereka.

“ Ada, tapi Ibuku memang orangnya seperti itu, “ Annamaya mengangkat bahunya acuh tak acuh.

“ Pernah, aku sampai harus mati-matian mengarang cerita pada Ayahku, saat ada pengawal Raja yang melihat aku mengantar Ibu Annamaya keluar lorong. Aku terpaksa bilang pada Ayahku, bahwa Annamaya akan punya adik, dan Ibunya ingin jalan-jalan di hutan yang ada di dunia luar !! “ timpal Intipalla, membuatku terbelalak. Ternyata Ibu Annamaya orangnya lain daripada yang lain.

“ Lalu apa yang dikatakan Sapa Inca sesudah itu ? “ aku makin penasaran.

“ Dia hanya bilang padaku, kalau aku mengalami perasaan ‘ingin’ karena bayi dalam perutku, dan mau keluar, harus membawa pengawal-pengawal lebih banyak, jangan hanya membawa Intipalla saja !! hahaha...!! “ Ibu Annamaya menjawab sambil tertawa terbahak-bahak, membuatku ikut tertawa, hingga airmataku keluar. Perempuan itu sangat lucu, dan rupanya dia sangat suka berpetualang.

Aku mengerti, tinggal terkurung dalam lembah seperti ini, tak pernah bertemu orang lain selain di Kota mereka yang tak terlalu besar, malah untukku itu lebih bisa dibilang satu kecamatan, bukannya satu Kota.

“ Aku sangat iri dengan kehidupan kalian, yang bisa pergi kemana saja kalian inginkan, tidak seperti kami yang hanya terkurung disini, sepanjang kehidupan kami. Makanya aku sangat tertarik, saat melihat buku ini, melihat gambar-gambar bagus didalamnya, aku jadi ingin melihat sendiri, bagaimana dunia luar itu, seperti apa orang-orangnya, pokoknya semuanya. Waktu aku berhasil mengikuti para pengintai, aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat, ternyata dunia luar itu sangat indah, juga besar. Sedikit menyeramkan kalau baru melihatnya, tetapi sangat menyenangkan. Aku juga sangat kaget melihat gerobak-gerobak besar yang tak berkuda, larinya sungguh sangat cepat, aku ingin membawanya satu kesini, tapi kata para pengintai, gerobak itu harus dikemudikan, dan tak seorangpun dari kami yang tahu bagaimana caranya ! Tapi sudahlah !.. aku bisa mati dengan tenang sekarang, karena sudah pernah kesana, dan melihat gerobak tak berkuda itu. “ pandangannya mata Ibu Annamaya menerawang jauh, tangannya memegang sumber dari rasa ingin tahunya yang besar itu, sebuah majalah LifeStyle. Rupanya itu yang membuat dia mendekorasi rumahnya dengan cara yang berbeda dari orang di kampung mereka itu.

“ Gerobak itu seperti apa, Bu ? “ tanyaku penasaran.

“ Ini gerobaknya, Aning.. “ tunjuk perempuan itu dalam lembaran majalah Lifestyle-nya. Aku hampir tersedak, gerobak yang dia maksud itu ternyata adalah mobil.

“ Itu namanya mobil.. “ jelasku padanya. Ibu Annamaya mengangguk-anggukan kepalanya dengan gembira.

“ Mobil....mobil...sekarang aku tahu apa namanya. Terima kasih, Aning.. “

“ Aku juga mau kesana, satu hari nanti, ah ! “ celetuk Annamaya. Ibunya mendelik padanya, gadis itu langsung mengkerut.

“ Kamu tak boleh pergi kemana-mana, sebentar lagi kamu, kan, akan segera kawin dengan Intipalla ! “ Aku sangat terkejut. Rupanya, itu yang hal yang tak jadi dikatakan oleh Intipalla padaku, karena keburu dipotong oleh Annamaya. Tiba-tiba saja aku jadi sangat sedih.

“ Oh....wah....kalau begitu, selamat ya...aku ikut bahagia.. “ ujarku, sangat munafik. Aku benci dengan kenyataan bahwa Intipalla akan kawin dengan Annamaya.

Suasana mendadak hening, sampai Ibu Annamaya pamit pada kami bertiga, karena harus pergi ke istana para perempuan pilihan di Acclahuasi. Sampai Ibu Annamaya pergi, kami bertiga masih terdiam dalam kebisuan yang aneh, aku sendiri tak tahu kenapa.

“ Aning...maafkan aku... “ Annamaya yang memecah kebisuan tak nyaman itu.

“ Kenapa memangnya ? “ aku jadi benci dengan kepura-puraan yang kutunjukkan ini, rasanya seperti sedang bermain dalam suatu pertunjukkan drama yang buruk.

“ Aku dan Intipalla, kami berdua akan menikah, dan aku...bukan maksudku seperti itu, aku hanya tak bisa berbuat apa-apa untuk menentangnya.. “ terbata-bata gadis itu bicara, aku jadi kasihan padanya, hidup tak bisa memilih sesuai dengan kehendak hati sendiri.

“ Aku tahu, tapi kamu harus kuat, meskipun bukan itu yang kamu inginkan, tapi bersyukurlah, setidak-tidaknya sekarang kamu tak menjadi kurban untuk peneguhan calon Sapa Inca baru, tapi kamu naik pangkat, jadi istrinya calon Sapa Inca, iya kan ? “ maksudku untuk bercanda, tapi Annamaya malah menangis terisak-isak. Aku jadi bingung, kupeluk gadis itu.

“ Aku....aku tahu sejak pertama kali bertemu denganmu, kalau kamu suka sama Intipalla, dan dia juga suka padamu, karena itu aku merasa bersalah padamu karena aku yang akan kawin dengan Inti... “ tukas gadis itu dalam isaknya. Aku jadi malu. Kutatap Intipalla, tapi pemuda itu malah menunduk, seperti tak ingin bertatapan denganku.

“ Aku... “ lidahku terasa kelu, tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Sampai akhirnya Intipalla yang buka suara.

“ Begitu juga dengan Annamaya, dia suka sama Arya adikmu, Ning. “ Semuanya sekarang jadi serba membingungkan. Kelihatannya seperti semua orang menyukai orang yang salah.

“ Aku memang suka sama Arya, tapi bukan hanya itu, aku tak ingin kawin muda, aku masih ingin pergi berpetualang seperti Ibuku, keluar untuk melihat seperti apa dunia luar itu, “ Like Mother Like Daughter, pikirku.

Dulu Ibunya, sekarang Annamaya yang punya pikiran gila untuk turun gunung. Bahkan Intipalla terbelalak heran mendengar ucapan gadis bermata hitam sekelam malam itu.

“ Kamu tidak serius, kan, Annamaya ? “ tanya Intipalla hati-hati. Gadis itu malah menganggukkan kepalanya kuat-kuat,

“ Aku sangat serius, Inti. Aku mau ke dunia luar, melihat semua yang diceritakan Ibuku.. “ gadis itu sepertinya sangat yakin dengan apa yang dia katakan. Aku hampir tertawa keras melihat Intipalla yang menepuk jidatnya keras-keras seperti orang yang kehabisan akal.

“ Kupikir, buah tak akan jatuh terlalu jauh dari pohonnya, Inti “ ujarku berpepatah ria, mereka berdua malah menatapku aneh, tak mengerti dengan apa yang aku maksudkan.

“ Maksudku, kalau Ibunya seperti itu, anaknya pasti tak jauh berbeda dengan sifat Ibunya... “ jelasku. Mereka berdua mengangguk-angguk mengerti.

“ Ooooo... kupikir kamu jadi aneh, lagi bicara tentang hal lain, tiba-tiba sudah bicara buah-buahan, kan tak masuk akal ?! “ aku hampir tergelak mendengar ucapan Annamaya. Rupanya mereka tak memiliki budaya pepatah seperti tempat-tempat lain di dunia ini.

“ Well, setelah ini kita akan kemana ? “ tanyaku penuh harap. Aku ingin pulang sekarang ke perkemahan, karena sudah pasti Mama dan Papa serta orang-orang disana tengah kebingungan, karena aku sudah sejak kemarin tak pulang ke perkemahan.

“ Aku tahu kamu sudah mau kembali pada orangtuamu, Ning. Kami tidak akan menahanmu, tapi kata Ibuku, sebelum pergi, kamu harus menemuinya diruangan istirahat orangtuaku di Piramida, karena ada yang hendak dia berikan padamu ! “ Intipalla menjawab tuntas segala pertanyaan yang ada dibenakku, dan aku sudah tak terkejut sama sekali dengan kemampuan mereka yang sangat luar biasa itu.

“ Kalau begitu, ayo kita segera menemui Ibumu, agar aku bisa pulang cepat ke perkemahan, karena aku takut orangtuaku tengah mencari-cari aku, “ desakku pada kedua sahabatku itu.

Setelah mengganti pakaian adat yang kupakai saat bertemu dengan Sapa Inca di ruang tahta, kami bertiga lalu bergegas menuju ke Kuil untuk masuk kedalam Piramida. Sepanjang perjalanan, aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang diinginkan oleh sang Ratu, karena kali ini dia yang ingin bertemu denganku. Mudah-mudahan saja, mereka tak akan berubah pikiran, dan kembali menahanku disini.

Setelah memasuki Piramida yang selalu membuatku tercengang itu, meskipun sampai sekarang, aku sudah 3 kali memasukinya, Intipalla yang memimpin didepan membawa kami langsung menuju ke tempat tinggal Raja dan Ratu, tempat aku bertemu dengan keduanya untuk yang pertama kalinya.

Begitu masuk, aku hanya melihat Ibu Intipalla yang tengah duduk santai, dengan ditemani oleh lima orang dayang-dayangnya. Aku langsung memberi hormat padanya.

“ Aning, senang sekali aku melihatmu lagi, “ ujarnya tulus. Aku sangat suka dengan mata sang Ratu, seperti mata burung elang, berwarna hitam pekat tapi bersinar ramah, mata yang diwarisi Intipalla.

“ Saya juga sangat senang bisa bertemu lagi dengan Yang Mulia.. “ balasku beramah- tamah

“ Ada apa Ibu memanggil Aning ? karena dia sudah sangat ingin kembali pada kedua orangtuanya, dia takut mereka sedang cemas karena sudah sejak kemarin dia tak pulang untuk menemui mereka... “ Intipalla membuka suara, dan kedengarannya sangat formal. Tidak seperti seorang anak yang berbicara pada Ibunya.

“ Ibu hanya mau memberikan dia sesuatu, Inti, karena dia sudah mau memberikan kain ini pada Ibu sebagai tanda mata dari negaranya, “ tunjuk sang Ratu pada syal yang melingkar di lehernya. Rupanya dia memakai syal bermotif batik yang pernah kuberikan padanya.

“ Yang Mulia tak usah memberikan apa-apa, kain itu saya berikan dengan senang hati, agar Yang Mulia bisa terus mengenang saya, setiap kali melihat kain batik itu, “ ucapku. Tapi dia menggelengkan kepalanya, lalu bertepuk tangan dua kali, membuatku teringat pada Sapa Inca saat dia hendak memberikan aku sepeti penuh harta karun di ruangan tahta.

Seorang pelayan masuk lewat pintu emas, membawa sebaki perhiasan-perhiasan emas, membuatku jadi kembali merasa seperti Gober Bebek. Tamak.

“ Kamu tak perlu membawa semuanya jika kamu tak ingin, tapi kamu harus memilih salah satu dari perhiasan-perhiasan itu, sebagai tanda mata dariku, dan seperti katamu tadi, setiap kali kamu melihatnya, akan teringat pada kami disini ! “ kali ini aku tak bisa membantah, kulirik baki penuh dengan perhiasan itu, lalu kuambil sebuah bros bermata safir hitam yang sangat cantik dan kelihatan elegan, tidak terlalu banyak ukirannya, kecuali bagian tepinya, yang berukir khas Inca. Entah kenapa, itu yang paling menarik perhatianku.

“ Apakah saya boleh mengambil yang ini Yang Mulia ? “ tanyaku, minta ijinnya. Dia hanya tersenyum ramah, lalu mengangguk.

“ Hanya itu yang ingin kau ambil, Aning ? “ tanya sang Ratu lagi. Aku menganggukkan kepalaku.

“ Pilihan yang sangat tepat, aku juga sangat menyukai perhiasan yang satu itu, yang adalah pemberian dari nenekku. “ perempuan yang masih sangat cantik meskipun sudah berumur itu mengerling penuh arti pada Intipalla, yang entah kenapa langsung tertunduk. Kulirik Annamaya, gadis itu juga hanya menunduk, sambil berusaha untuk menyembunyikan senyumnya.

“ Saya sangat berterima kasih pada Yang Mulia atas pemberian ini, dan saya berjanji akan terus menyimpannya baik-baik. “

Ibu Intipalla mengangguk kearahku, lalu dia memberi isyarat pada salah seorang dayangnya untuk mengangkat jubahnya. Setelah sang Ratu masuk kedalam, Intipalla berdiri dan mengajakku keluar dari situ.

“ Anna, kenapa kamu tersenyum-senyum aneh seperti itu ketika aku mengambil bros ? “ bukannya menjawab, dia hanya melirik Intipalla, sambil mengangkat alisnya.

“ Inti....jawab, dong...kenapa kalian berdua seperti menyimpan rahasia ? kita sahabat, kan ? “ desakku, dan Annamaya kini terkikik.

“ Bros yang kau ambil itu, adalah perhiasan dari keluarga Ibuku yang sudah turun temurun menjadi milik mereka, dan jika ada seorang gadis yang memilih bros itu dari sekian banyak perhiasan indah lain, artinya dia akan menjadi anggota keluarga kami lewat perkawinan dengan salah seorang pemuda yang dimiliki oleh keluarga kami, “ akhirnya penjelasan yang kutunggu keluar juga dari mulut Intipalla.

Tapi...Hey !! bukankah itu artinya, aku yang akan menjadi anggota keluarga mereka lewat perkawinan dengan...Intipalla ?! Semuanya menjadi tak masuk akal, bagaimana mungkin kawin dengan Intipalla, sedangkan dia akan kawin dengan Annamaya ?

“ Semua hal itu benar, Aning, dan tak pernah keliru sekalipun ! “ Annamaya menambahkan, sembari mengedipkan sebelah matanya padaku. Pantas Intipalla tertunduk saat Ibunya berkata bahwa itu adalah perhiasan yang sangat dia sukai, dan juga Annamaya yang menyembunyikan senyumnya. Aku tiba-tiba jadi salah tingkah.

“ Aku mau kembali sekarang ke perkemahan kami, kalian mau mengantarku, kan ? “ tanyaku, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan yang mulai membuatku merasa tak nyaman itu. Intipalla dan Annamaya mengangguk berbarengan. Kami lalu meneruskan langkah-langkah kami yang sempat terhenti, untuk keluar dari Piramida itu.

Setelah berjalan beberapa saat lamanya, melewati perkampungan dimana semua mata terus menatapi aku, seakan aku ini adalah mahkluk yang datang dari planet lain, kami sampai juga di atas bukit, tempat dimana lorong itu berada. Setelah pintu dibuka oleh Intipalla, saat aku mau masuk, tiba-tiba pemuda itu menahan tanganku, dan tanpa kuduga dia mendaratkan sebuah kecupan di pipiku. Pipiku terasa seperti dijalari api, tapi api yang hangat. Sedangkan Annamaya cekikikan sambil mendahului masuk kedalam lorong, dan terus berjalan tanpa menghiraukan kami berdua.

“ Aning, maafkan aku, aku sudah lancang mencium kamu.. “ Intipalla menunduk, kelihatan sekali pemuda itu seperti merasa bersalah.

Aku sendiri, sama sekali tak ada perasaan marah sedikitpun dalam hatiku untuknya, yang ada malah perasaan senang tak karuan, rasa malu, dan sejuta rasa lain yang entah apa namanya, yang pasti, bukan rasa marah. Aku menggelengkan kepalaku.

“ Kamu tak marah padaku ? aku senang sekali.... “ dia lalu menggenggam tanganku, dan aku hanya pasrah saja, lalu dia menuntunku masuk kedalam lorong.

“ Aku sedih, kita sepertinya tak akan bertemu lagi, Ning. “ Intipalla menatapku, dibawah cahaya obor-obor emas.

“ Sudahlah Inti, mungkin ini takdir kita berdua yang harus kita jalani, “ aku mencoba untuk berfilsafat, sekedar menenangkan Intipalla, dan mungkin juga menenangkan rasa resah dihatiku, sebab aku juga merasa sedih, karena berpikir tak akan bertemu dengan pemuda itu lagi.

“ Tapi, aku ingin bersama denganmu, berada dekat denganmu, tapi aku bingung, kita begitu berbeda... “ dia menunduk, ada rasa putus asa dalam suaranya.

“ Aku juga sedih, Inti. Tapi aku tak bisa kembali lagi ke Kota kalian, itu hanya akan membuatku kena hukuman, dan dipenjara lagi, “ kami berdua seperti sedang terperangkap dalam sebuah kurungan yang tak kelihatan.

“ Siapa bilang kamu tak bisa kembali ? sekarang kamu bisa kembali kapan saja kau inginkan, itupun kalau kamu masih mau kembali lagi untuk mengunjungi kami disini ! “ ucapan Intipalla mengagetkan aku.

Kupikir, setelah insiden yang membuatku dijadikan tawanan oleh Sapa Inca, mereka sudah pasti tak mengijinkan aku untuk memasuki Kota yang Hilang lagi.

“ Memangnya, Sapa Inca mengijinkan aku kembali lagi ke Kota kalian ? “ tanyaku. Intipalla hanya menganggukkan kepalanya.

“ Kenapa aku diperbolehkan untuk kembali lagi kesini ? padahal, aku bisa saja menjadi ancaman bagi kalian, maksudku...jika ada orang lain yang mengikuti aku masuk kedalam lembah, dan mengetahui keberadaan kalian, bukankah itu sangat berbahaya ? “ aku heran dengan keputusan Sapa Inca yang tak lagi melarang aku masuk ke dalam Kota yang Hilang.

“ Siapapun yang keluar-masuk dari dan ke tempat ini, merupakan ancaman, bukan hanya kamu. Aku, Annamaya, para pengintai, dan siapapun yang masuk dan keluar adalah ancaman, sebab bisa saja mereka atau aku sendiri dilihat orang dunia luar, yang kemudian ikut masuk kedalam sini, karena itulah, yang akan melindungi kami adalah sikap hati-hati dari semua orang yang tahu jalan keluar-masuk Kota kami. Jadi, asal kamu berhati-hati, dan yakin tak ada yang mengikutimu, kamu boleh-boleh saja masuk lagi dan mengunjungi kami disini ! “ tutur Intipalla panjang lebar.

Tak terasa, kami sudah tiba diujung lorong, nampak Annamaya dengan santai menunggu kami, sambil duduk diatas sebuah bangku yang terbuat dari batu di samping pintu masuk. Setelah Intipalla keluar untuk memastikan bahwa tidak ada orang diluar sana, aku dan Annamaya mengikutinya.

“ Kami hanya mengantarmu sampai disini saja, ya ? “ Intipalla memegang bahuku, aku mengangguk mengiyakan. Saat aku berbalik untuk berjalan kearah perkemahan, Annamaya memegang lenganku,

“ Aning, kalau Arya sudah bisa mengingatku, maukah kau menyampaikan salamku untuk dia ? Bilang padanya, kalau takdir menentukan, aku ingin bertemu dengannya lagi ! “ bisik gadis itu. Aku mengangguk, lalu berjalan meninggalkan kedua sahabatku itu.

“ ANING !! darimana kamu ? ya Tuhan..... Mama kira kamu jatuh kedalam jurang, atau sudah dimangsa oleh binatang buas !! “ Mama langsung menghambur memelukku, begitu aku tiba di perkemahan. Semua orang sepertinya sangat shock dan juga lega melihatku kembali.

“ Aning, kamu itu sebenarnya pergi kemana ? Mama kamu sudah mau turun untuk meminta Polisi Peru mencari kamu, tahu tidak ?! “ Papa setengah membentakku, tapi kutahu dia sebenarnya lega melihatku kembali dengan utuh. Semua orang mulai mengerumuniku, dan menanyakan aku berbagai macam pertanyaan.

“ Aku....sebenarnya aku tersesat dalam hutan, saat tengah berjalan-jalan. Aku mengikuti seekor burung yang sangat indah, dan tanpa sadar aku sudah turun ke jurang, dan tak tahu lagi jalan untuk naik. Aku lalu menunggu hari kembali siang, untuk bisa mencari jalan naik dari jurang yang tadinya kulewati, akhirnya aku berhasil juga menemukan jalan naik, “ dustaku. Kuharap kebohonganku itu bisa meyakinkan mereka. Kulihat Arya menatapku, lalu mengedipkan sebelah matanya.

“ Kamu kelihatan bersih untuk orang yang naik dari dalam jurang, Ning ! “ Om Erold buka suara, dia menatapku dengan pandangan penuh kecurigaan.

“ Ada banyak pegangan, dan lagipula jalannya bebatuan, jadi tak membuatku terlalu kotor ! “ kuputuskan untuk menyudahi percakapan.

“ Ning, kamu kalau jalan-jalan, ajak Arya, ya ? Mama takut sekali saat kamu tak pulang tadi malam. Mama jadi tak bisa tidur semalaman ! “ rupanya Mama masih belum puas mengomeli aku juga.

Sebenarnya aku kasihan juga padanya, karena aku tahu betapa dia sangat mengkhawatirkan aku saat aku tak pulang tanpa dia tahu aku ada dimana.

“ Aning minta maaf ya, Ma ? Aning janji nanti kalau kemana-mana, Aning ajak Arya.. “ aku mencoba menenangkan hatinya. Akhirnya Mama menganggukkan kepalanya, lalu berlalu dari hadapanku.

“ Kak, gimana kabarnya Annamaya ? “ suara Arya mengagetkan aku.

Si otak udang itu akhirnya ingat juga.

“ Ssstt.... kamu bisa pelan-pelan ngomongnya, nggak sih ?! “ kadang aku berharap, adikku itu ada didekatku dalam keadaan tertentu, tapi ada juga hari dimana aku sangat tak suka jika dia berada dekat denganku, terutama hari disaat otak udangnya kambuh.

Kutarik tangannya, menjauh dari orang-orang banyak.

“ Kamu sekarang ingat lagi, Ya ? “ tanyaku. Arya mengangguk.

“ Kenapa kamu nggak bilang sama Mama dan Papa aku ada dimana, kalau kamu tahu aku sebenarnya ada dimana ? “ anak itu kadang suka membuatku surpris.

“ Kalau aku bilang Kakak ada dimana, ketahuan dong lembah rahasianya, ‘Kak Aning gimana, sih ?! “ Arya setengah membentakku. Otaknya itu kadang isinya bagus juga.

“ Eh, Annamaya kabarnya bagaimana ? “ Arya menatapku ingin tahu. Kumat deh, penyakit playboy anak itu.

“ Bukannya nanya’in kabar kakaknya gimana, malah nanya kabar Annamaya.. “ godaku.

“ Aku tahu Kak Aning bakal baik-baik saja, tapi Annamaya, dia akan dijadikan kurban tak lama lagi... “ pandangan adikku itu menerawang jauh. Aku jadi kasihan padanya.

“ Nggak lagi, Ya. Ada perkembangan baru ! “ Arya terlonjak mendengar ucapanku, wajahnya berubah gembira.

“ Annamaya nggak jadi untuk di korbankan pada peneguhan Sapa Inca ?! Wah...aku senang sekali, kasihan banget kalau dia harus jadi korban, apa mereka tidak tahu, kalau membunuh orang itu dilarang ? “ ujarnya antusias, mau tak mau membuatku tersenyum juga.

“ Dia tak jadi untuk dikorbankan pada peneguhan Sapa Inca nanti, karena sekarang dia adalah calon istrinya Sapa Inca ! “ kata-kataku seketika membuat Arya terdiam. Mukanya berubah dari gembira, menjadi kurang gembira, kemudian sedih.

“ Kamu nggak usah sedih, Annamaya bilang padaku, dia suka sama kamu. Kamu pilih mana, dia jadi dikorbankan atau dia menjadi istri Intipalla ? “ dua kata terakhir itu entah mengapa membuat hatiku seperti ditusuk-tusuk oleh jarum mesin jahit.

“ Aku pilih nggak dua-duanya ! heran deh, anak masih kecil gitu sudah mau dikawinin, dasar memang suku aneh, tidak tahu sopan santun !! “ suara anak itu sudah mulai meninggi, pertanda dia marah, tapi juga membuatku khawatir percakapan kami didengar.

“ Marah sih marah, tapi suaramu dikecilin dikit volumenya, Ya ! “ bentakku tertahan. Dia seperti tersadar, lalu membekap mulutnya sendiri.

“ Sorry Kak, emosi gitu lho.... “ dasar Arya !

“ Sekarang, aku mau istirahat, kamu cari kesibukan sana ! “ potongku cepat-cepat melihat Arya seperti mau bertanya lagi. Aku sebenarnya ingin bicara sama Mama. Arya seperti bunga yang kurang air, langsung loyo.

Mama rupanya sedang istirahat dalam tendanya. Segera kubangunkan Mama yang tengah asyik tertidur dalam sleeping bag-nya. Meskipun siang hari, udara memang diatas sini sangat dingin, apalagi jika badan tidak bergerak atau melakukan suatu aktifitas, udara dingin lebih terasa menusuk hingga ke tulang.

“ Ma, Aning mau ngomong sama Mama.. “ kugoyang-goyang badan Mama, sejenak dia menatapku, lalu berguling kekiri, tidur lagi.

“ Ma.....ada kecoak !! “ seruku, dan sudah kuduga, dalam hitungan ketiga, Mama meloncat keluar dari dalam sleeping bag yang tak terkunci.

“ Mana kecoaknya !!...... “ teriak Mama. Dia memang paling takut sama kecoak. Aku tertawa geli melihat muka Mama yang langsung pucat-pasi.

“ Aning !! kamu lagi kurang kerjaan, ya ? “ tanpa peringatan terlebih dahulu, Mama langsung menjewer kupingku. Sakit sekali rasanya.

“ Ma....sakit....lepasin, dong ! Aning ,kan, cuma mau ngomong sama Mama... “ pintaku, telinga kananku mulai terasa berdenyut-denyut.

“ Kalau cuma mau ngomong, kenapa pakai acara teriak ada kecoak ? “ Mama masih marah.

“ Abisnya...Aning sudah bilang mau ngomong, tapi Mama tidur lagi, “ rungutku.

“ Ya sudah ! sekarang kamu mau ngomong apa kamu ? “ ku longokkan kepalaku keluar, untuk memastikan bahwa tidak ada orang disekitar situ yang bisa mendengar percakapanku yang sangat berbahaya dengan Mama.

“ Kamu itu kenapa, sih ? seperti agen rahasia saja ! “

“ Aning cuma mau memastikan, bahwa tak ada orang yang bisa mencuri dengar percakapan kita ini, Ma. Sebab, ini adalah percakapan yang sangat berbahaya bila diketahui oleh orang-orang yang rakus dan tamak. “

“ Kamu ini sakit ya, Ning ? coba Mama cek dahimu, panas apa nggak... “ Mama jadi seperti Papa, menganggapku mulai gila. Tapi tak kuacuhkan dia. Aku lalu merogoh kantong celanaku, dan mengangsurkan benda berkilauan ke dalam tangan Mama.

“ Ini apa, Ning ? “ tanya Mama sambil mengamati benda itu.

“ Ini adalah sebuah bros bangsa Inca, yang biasa dipakai oleh Ratu mereka ! “ Mama menatapku terkejut.

“ Kamu menemukannya dimana, Ning ? Papa pasti senang melihat temuan kamu ini, kita bilang dia, yuk !! “

“ Ma....Aning ngomong sama Mama, karena Aning nggak mau Papa jadi tahu, gimana sih !? “

Mama jadi urung keluar dari dalam tenda. Dia kembali duduk diatas sleeping bag, lalu menatapku, kali dia seperti siap untuk mendengar semua yang akan aku katakan.

“ Aning mau cerita sesuatu sama Mama, tapi Mama jangan memotong cerita Aning sebelum selesai, dan janji untuk tidak mengatakan pada siapapun juga, ok ?! “ pintaku agar Mama berjanji.

“ Mama janji, sekarang kamu bisa cerita semua .. “ aku tahu Mama sungguh-sungguh dengan ucapannya itu.

Aku lalu mulai menceritakan pada Mama, mulai dari permulaan ketika aku sedang menggali di perkemahan. Lalu bertemu dengan Annamaya dan Intipalla, dan aku mengikuti mereka berdua menuju Kota yang Hilang, dan bertemu dengan Sapa Inca dan Ratu, masuk dan berkunjung kedalam Piramida dan juga Acclahuasi.

Tak lupa juga kuceritakan tentang betapa banyaknya emas yang mereka miliki dalam lembah rahasia, dan bagaimana mereka terus berupaya agar orang dari dunia luar tak ada yang bisa menemukan keberadaan mereka. Mama sampai meleleh air liur-nya ketika kuceritakan tentang perabotan-perabotan makan serta barang-barang lain yang semuanya terbuat dari emas murni dan berhiaskan batu-batu permata mahal, dan bagaimana aku menolak sepeti penuh harta yang hendak diberikan Sapa Inca padaku sebagai hadiah. Mama bergumam kurang jelas, yang kedengarannya seperti ‘aku punya anak yang bodoh luar biasa’.

Semuanya kuceritakan, mulai dari Arya yang sangat menikmati perkedel daging tipis ulat bulu yang menjadi menu favorit mereka, yang membuat Mama mual, sampai cerita tentang Ibu Intipalla yang jahat, dan juga Annamaya serta Ibunya yang eksentrik, juga Sapa Inca yang memiliki banyak istri, tentang anak-anak dalam piramida yang mereka lindungi, dan tak lupa tentang perjalananku kembali ke Kota yang Hilang, yang menyebabkan aku dijadikan tawanan, sampai akhirnya aku diijinkan untuk keluar lagi, karena semua yang aku katakan itu adalah benar adanya.

Akhirnya, kututup ceritaku tentang aku yang diijinkan untuk kembali, tetapi harus kembali menghadap sang Ratu, karena dia mau memberikanku hadiah atas syal batik yang kuberikan padanya, sebelum akhirnya aku naik kembali kepermukaan bersama dengan Annamaya dan Intipalla, yang mengantarkan aku kembali ke dunia luar, untuk kembali ke perkemahan.

“ Waw.... ceritamu ini, sungguh sangat luar biasa, Ning. Mama sampai berpikir, bahwa kamu itu sebaiknya jadi penulis novel petualangan, kalau kamu tidak membawa bros emas berbatu safir itu ! “ celetuk Mama berkomentar, setelah kuakhiri ceritaku.

“ Jadi Mama percaya padaku, kan ? “ tanyaku cemas. Aku jadi lega, karena Mama menganggukkan kepalanya.

“ Mama percaya padamu, tapi untuk lebih meyakinkan Mama, kamu harus membawa Mama untuk masuk dan melihat Kota yang Hilang itu, apalagi, Mama bosan disini terus, boleh ya, Ning ? “ pinta Mama.

Astaga ! hanya karena Mama bosan, aku harus membawanya jalan-jalan ke Kota yang Hilang ? memangnya tempat itu untuk turis apa ?! ada-ada saja Mama ini.

“ Ma, tempat itu bukan untuk dikunjungi seperti Mesir dengan piramida-piramidanya, tapi itu sebuah tempat rahasia, yang sudah tersembunyi selama berabad-abad. Sekarang, Mama mau Aning mengantar Mama masuk kedalam sana ? itu seperti memancing harimau untuk masuk kedalam rumah ! “ kucoba untuk merasionalkan pikiran Mamaku itu.

“ Aning, Mama bukannya mau meminta kamu untuk membawa Mama berjalan-jalan sambil foto-foto kayak turis di dalam lembah itu, Mama hanya mau melihat dengan mata kepala Mama sendiri, dan juga untuk memastikan bahwa anakku tidak gila, dan aku juga tidak gila karena percaya pada anakku, titik !! “ omel Mama keras kepala. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers