Popular posts

nsikome On 17 Juli 2011

Hi guys...monday come so fast, dan sebelum kena protes lagi, nih the newest episode of The Lost City..dan buat Citra anda the gank, jangan protes lagi yaaa..apalagi protes tentang episode yang katanya "Kok cuma dikit banget sih Kak?" (hehehehe)..Suka2 gue dong, mau taroh banyak apa sedikit, wong penulisnya eike..^__^..Enjoy aja, dan jangan lupa komentarnya ya..(NS)

THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 8


Aku tak mampu bicara apa-apa lagi, benar-benar sulit untuk beradu pendapat dengan Mama, bahkan Papa sendiri seringkali keok kalau berdebat dengan Mama. Sepertinya, dalam otaknya itu ada sejuta alasan yang masuk akal untuk dia keluarkan setiap kali berdebat dengan seseorang.

“ Ya sudah....Aning pikir-pikir dulu, tapi Mama sudah janji tak akan ngomong sama siapa-siapa tentang Kota yang Hilang, ingat itu ! “ Mama hanya mengangguk senang, tapi sebelum aku keluar dari tenda, dia menarik bajuku,

“ Brosnya boleh untuk Mama, Ning ? “ pintanya.

“ Mama !! “ kali ini aku benar-benar kesal padanya.

“ Mama hanya bercanda, kok.... “ aku tahu dia tidak bercanda, dia memang serius ingin memiliki bros dari Ratu. Siapa sih, perempuan yang tidak menginginkan sebuah bros emas yang sangat elegan, bertahtahkan sebuah batu safir sebesar biji buah langsat ?.

Setelah melewati malam yang menyenangkan, kembali lagi bertemu Mama dan Papa, serta adikku yang menyebalkan itu, aku bangun dengan segar keesokan paginya.

“ Selamat pagi, Aning...wah..kelihatan segar sekali kamu pagi ini ! “ suara seseorang menyapaku, ketika aku keluar dari tenda. Ternyata om Hans.

“ Selamat pagi juga om Hans...hmm...baunya harum sekali, kita sarapan apa pagi ini ? “ ada bau yang sangat harum keluar dari dapur umum, sepertinya bau itu sudah sangat kukenal, dan juga membuat perutku langsung berkriuk-kriuk lapar.

“ Om juga kurang tahu, karena belum berkunjung ke dapur umum, satu-satunya yang Om ketahui adalah sejak subuh tadi, Mama kamu sudah masuk dan mengacau disana ! “ jawab Om Hans sambil tertawa geli.

Astaga ! pantasan dapur umum yang biasanya sunyi, jadi ribut seperti itu. Rupanya Mama yang jadi pengacau disana. Aku segera beranjak keluar dari dalam tenda, begitu sepatuku terpasang di kaki, dan bergegas menuju dapur umum untuk melihat kekacauan yang dibuat Mama.

“ Bilang dong, Sam, bagaimana cara untuk membuat nasi goreng kalian yang sangat terkenal itu, “ terdengar suara Om Franz, koki ekspedisi tengah membujuk Mama.

Oh iya, rupanya bau harum yang tercium sampai ditenda itu adalah bau nasi goreng. Seketika perutku makin kencang bunyi kriuk-kriuknya. Setelah dijejali dengan makanan-makanan aneh di Kota yang Hilang, serta masakan kaleng yang dimodifikasi oleh om Franz, aku memang sangat merindukan sarapan pagi kebangsaanku saat dirumah itu. Apalagi kalau Mama yang masak, pasti sangat enak, sayang sekali dia jarang masak dirumah karena kesibukannya di rumah sakit.

“ Waw....nasi goreng ya...mau dong !! “ segera kuambil piring, dan menyendok nasi goreng, lalu mengambil telur dadar serta segelas susu dan jus jeruk.

“ Aning....kamu tuh, seperti orang yang tak kenal makanan selama setahun, pelan-pelan dikit, kenapa sih ?! “ tegur Mama, melihatku sudah mirip orang rakus.

Aku tak memperdulikan Mama dan belalakan matanya, segera setelah kuambil semua yang kuperlukan, aku langsung keluar untuk makan ditempat favoritku, disamping tenda dapur umum, sambil memandang hutan.

Ternyata Arya sudah lebih dulu berada ditempat itu.

“ Selamat pagi, ‘Kak... “ sapa Arya.

“ Selamat pagi juga....kamu rupanya sudah disini, tumben bangunnya pagi-pagi benar, “ tak biasanya adikku itu bangun pagi-pagi.

Di Indonesia yang iklimnya panas saja, dia setiap pagi harus dibangunin paksa untuk ke sekolah, apalagi ditempat seperti ini, yang udaranya sangat dingin, dan membuat orang jadi malas untuk keluar dari dalam sleeping bag yang hangat dan nyaman. Biasanya Arya bangun diatas jam 9 di hari libur, dan dia merupakan satu-satunya orang dikeluargaku yang malas bangun pagi.

“ Aku nggak bisa tidur, mikirin Annamaya melulu, “ tak seperti biasanya, adikku itu akan langsung menyambutku dengan ledekan-ledekan khasnya, tapi kali ini dia seperti kehilangan semangat. Aku jadi kasihan padanya.

“ Aku tahu kamu mikirin dia, tapi kan, lebih baik dia jadi istrinya Intipalla, daripada dibunuh untuk dijadikan korban ?! “ Arya hanya menatapku sekilas, lalu kembali menekuni piringnya, yang kulihat sebenarnya belum dimakan, tapi hanya diaduk-aduk.

“ Kakak juga pasti sedih, kan ? “ tanya Arya.

“ Maksudmu apa sih, Ya ? “ aku pura-pura tak tahu dengan apa yang dia ingin katakan, pasti tentang perasaaanku pada Intipalla.

“ Ya...Sedih karena Intipalla akan kawin dengan Annamaya, soalnya Arya tau, kakak suka sama Intipalla, iya kan ? “ desaknya. Aku menganggukkan kepalaku mengiyakan.

“ Aku memang suka sama Intipalla, tapi apa mau dikata ? takdir hidup kita berbeda, dan itu harus kita terima. Lagipula, aku masih terlalu muda untuk memikirkan hal-hal seperti itu, aku lebih suka konsentrasi pada sekolahku ! “ jawabku berusaha untuk menepis rasa sakit yang muncul tiba-tiba dihati, saat kembali teringat akan Intipalla yang akan menikah dengan Annamaya.

Tanpa kuduga, kata-kataku membuat Arya marah, dan aku tak mengerti dengan reaksinya itu.

“ Dasar !! ‘Kak Aning memang robot yang tak punya perasaan, tak pernah bisa menghargai CINTA !! “ dia lalu melempar piringnya kearah semak-semak.

Untung saja, itu adalah piring makan dari kertas yang hanya sekali pakai. Setelah memelototiku, dia langsung berjalan tergesa kearah tenda kami berdua dan masuk kedalamnya. Tinggallah aku, yang bingung dengan sikap adikku itu. Biasanya, dia akan meledekku dengan segala macam sebutan, tapi Arya yang ini seperti sebuah petasan, tak bisa kena percikan api sedikit saja, langsung menyala dan meledak. Aneh.

Aku sedang berusaha kembali menikmati nasi gorengku yang mulai dingin, ketika Om Hans datang dan duduk didekatku.

“ Arya kenapa, Ning ? “ tanya Om Hans simpatik. Sepertinya dia melihat Arya pergi sambil marah-marah padaku tadi.

“ Nggak tahu, tuh. Aku juga tak mengerti dengannya. Anak itu seperti petasan saja, mudah meledak ! “ rungutku. Om Hans tertawa kecil.

“ Lho...biasanya kan, dia tak pernah marah, tapi malah meledekmu habis-habisan ?! “ Om Hans mengungkapkan kekagetannya atas sikap Arya yang tak biasanya, membuatku langsung memasang lampu kuning dikepala, tanda awas agar jangan sampai salah bicara dan akhirnya menyinggung tentang Kota yang Hilang dan semua yang berada didalamnya.

“ Mungkin teringat pacar-pacarnya di Indonesia, tuh Om ! “ ujarku memberi alasan. Om Hans mengangguk-angguk dan tersenyum geli mendengar ucapanku.

“ Memangnya Arya punya pacar berapa disana ? “

“ Kalau yang bisa kuhitung, disekolahnya ada 10, belum lagi disekolah lain. Anak itu memang playboy banget ! “ ceritaku pada om Hans, yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran mendengar jumlah pacar-pacar adikku itu.

“ Nanti Arya bisa masuk Guiness Book of Records, ya ?! “ tukas Om Hans, membuatku langsung tertawa terbahak-bahak. Om Hans memang sangat lucu dan menyenangkan. Sangat berbeda dengan Om Erold yang menakutkan itu.

“ Om...Aning mau kasih tahu sesuatu, sebenarnya, Aning tidak mau memberitahukan ini pada siapapun, tapi Aning sangat butuh orang lain agar bisa melindungi sahabat-sahabat Aning, “ entah apa yang mendorongku untuk bicara seperti itu.

Memang, setelah semalaman berpikir, aku tahu kalau aku tak bisa mengandalkan hanya diriku dan Arya untuk melindungi keberadaan Kota yang Hilang. Harus ada seseorang yang sangat peduli dengan kelangsungan tempat-tempat bersejarah yang ikut membantu kami berdua, dan siapa lagi kalau bukan para arkeolog seperti Om Hans ?.

Aku lebih memilih Om Hans, karena selain dia itu sangat baik, aku juga sedikit marah pada Papa yang menganggapku mulai gila, ketika kuberitahukan padanya tentang Kota yang Hilang dulu itu.

“ Memangnya apa yang hendak kamu beritahukan pada Om ? “ tanya Om Hans.

“ Om tahu tidak tentang Kota yang Hilang ? “ aku balas bertanya. Sejenak kedua keningnya berkerut, lalu Om Hans menghela napas panjang, dan berkata pelan,

“ Om tahu tentang Kota yang Hilang, tapi itu kan masih menjadi misteri di kalangan para arkeolog seperti kami, karena dokumentasi tentang Kota yang Hilang sangat sedikit ! “

“ Tapi Kota yang Hilang bangsa Inca itu benar-benar ada, kan ? “ selidikku. Om Hans hanya menganggukkan kepalanya, membuatku jadi tambah bersemangat, karena sampai sekarang dia tidak menyebutku mulai gila, karena bicara tentang Kota yang Hilang seperti yang dilakukan Papa padaku.

“ Begini Om, bagaimana kalau Aning bilang sama Om, Kota yang Hilang itu sudah Aning temukan ? “ Om Hans menatapku sejenak, lalu dia tersenyum.

“ Kamu telah menemukan Kota yang Hilang ? “ tanya dia, ada nada geli dalam suaranya.

Tapi aku tak menyalahkan Om Hans, lagipula, seorang arkeolog terkenal seperti dia, oleh seorang anak SMU diberitahukan bahwa anak itu telah menemukan sesuatu yang bisa jadi adalah penemuan arkeologi terbesar dalam sejarah dunia. Siapa yang bisa percaya itu ?

“ Kalau Om tidak percaya, ini buktinya ! “ kuangsurkan bros pemberian Ratu padanya. Mula-mula Om Hans masih menatapku dengan pandangan geli, tapi kemudian matanya membelalak lebar dan kalau saja tak ada kelopak yang menahan, sudah pasti bola matanya sudah menggelinding jatuh ke tanah.

“ Aning !! kamu tidak bercanda, kan ? ya Tuhan.... ini memang ukiran khas suku Inca, darimana kamu mendapatkan semua ini ?! “ kalau saja aku tidak salah lihat, kupikir ada airmata di bolamata biru om Hans itu.

“ Aku mendapatkannya dari Kota yang hilang “ jawabku santai, seperti yang kudapat itu hanyalah selembar uang seribuan. Om Hans menatapku, lalu dia menarik tanganku, dan membawaku menjauh dari perkemahan. Karena semua orang pada sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, tak ada yang memperhatikan kami.

“ Sekarang, kamu harus bilang sama Om, bahwa kamu sedang tidak bercanda dan hanya mau mempermainkan Om dengan perhiasan ini ! “ raut wajah Om Hans antara percaya dan tidak.

“ Aning tidak sedang bercanda, ataupun mau mempermainkan Om. Aning bicara sejujurnya, kok. Kota yang Hilang itu ada, dan sudah Aning temukan, lengkap dengan orang-orang didalamnya ! “ terangku.

“ Maksudmu tentang ‘orang-orang didalamnya’ itu, apa ? “ rupanya Om Hans masih belum terlalu mengerti dengan apa yang aku katakan.

“ Maksud Aning, Kota yang Hilang itu ada orang-orangnya... “ Om Hans seperti hendak kena sesak napas, aku jadi geli melihatnya seperti itu.

“ Maksudmu, Kota yang Hilang itu, yang kamu temukan, bukanlah sebuah reruntuhan ? “ tanya Om Hans, tanpa sadar dia menggenggam tanganku erat-erat. Aku mengangguk mengiyakan.

“ Kota yang Hilang itu, sengaja disembunyikan keberadaannya oleh kelompok tertentu dalam bangsa Inca yang tersisa sejak ribuan tahun yang lalu. Sebelumnya keberadaan mereka terbuka, tapi entah mengapa, mereka memutuskan untuk menutup diri dan keberadaan mereka dari dunia luar, dan itulah yang mereka lakukan hingga sekarang. “

Jawabanku yang mirip-mirip penjelasan kelas arkeologi yang pernah kuikuti dengan Papa, membuat Om Hans ternganga. Hatiku senang bisa membuat seorang arkeolog hebat seperti Om Hans ternganga seperti itu. Sengaja tak kukatakan tentang emas yang banyak milik suku Intipalla itu, karena aku harus meyakinkan diriku tentang Om Hans lebih dulu.

“ Ya Tuhan....kami melakukan penelitian bertahun-tahun lamanya untuk mengungkap keberadaan Kota yang Hilang, dengan biaya yang sudah tak terhitung jumlahnya, dan kamu, hanya jalan-jalan santai, dan PUF !! Langsung berdiri tepat didalamnya ? Aning !! ini benar-benar luar biasa ! kita harus segera memberitahukan yang lain !! “ rona gembira di wajah Om Hans sangat kentara. Segera kutarik tangannya.

“ Aduh...Om Hans gimana sih, Aning menceritakan semua itu pada Om Hans, karena Aning tak mau ada orang lain yang tahu tentang penemuan Aning itu !! “ ujarku merungut.

“ Memangnya kenapa, Ning ? Kan, bagus bila orang-orang tahu tentang keberadaan kota itu ? Setelah sekian lama kami mencari, akhirnya bisa ditemukan juga, apakah itu bukan hasil yang positif ? “ aku tak menyalahkan Om Hans atas pendapatnya itu, tapi Kota yang Hilang itu bukan untuk ditemukan untuk diekspos ke dunia luar.

Aku lalu menceritakan pada Om Hans semuanya tentang Kota yang Hilang itu, kenapa mereka harus terus bersembunyi dari dunia luar, tentang emas-emas yang bisa memicu perang karena banyaknya luar biasa, tentang sahabat-sahabat baruku dari kota itu, dan juga tentang ada orang-orang jahat dalam tim ekspedisi yang ingin menemukan Kota yang Hilang itu demi kepentingan pribadi mereka.

“ Siapa orang-orang dalam tim itu ? “ tanya Om Hans begitu aku menyelesaikan ceritaku.

“ Om Erold dan kelompoknya ! “ dia kelihatan terkejut mendengar itu.

“ Kamu yakin, Ning ? “

“ Lebih dari yakin, Om. Pernah satukali Om Erold menyuruh salah seorang anak buahnya untuk membuntuti aku, “ aku teringat saat mereka berada ditepi jurang, didekat jalan masuk ke Kota yang Hilang. Untung saja, aku muncul disaat yang tepat, jika tidak, mungkin mereka sudah menemukan jalan masuk itu.

“ Lalu, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan ? “ tanya Om Hans

“ Sebenarnya, aku sendiri belum terlalu tahu dengan apa yang akan aku lakukan, tapi yang pasti, aku membutuhkan orang-orang seperti Om Hans untuk membantu menyelamatkan Kota yang Hilang dari orang-orang seperti Om Erold dan kelompoknya ! “

“ Aning, apa kamu sadar kalau yang telah kamu temukan itu adalah penemuan arkeologi terbesar dalam sejarah ? bayangkan saja, semua arkeolog yang menemukan kota-kota kuno, berbagai kuil dan patung-patung, semuanya harus digali dari dalam tanah, dan sebagian dari itu, ketika ditemukan, hanyalah reruntuhan saja. Sedangkan kamu, sebuah kota yang diketahui oleh dunia telah lenyap sejak ribuan tahun yang lalu, kamu temukan kota itu, dan masih berpenduduk, yang sengaja menyembunyikan keberadaan mereka beribu-ribu tahun ? Itu sangat luar biasa, Ning !! “ Om Hans geleng-geleng kepala, seakan masih tak percaya dengan apa yang dia dengar dariku.

“ Aku tahu itu sangat luar biasa, tapi aku menghormati keinginan mereka untuk tak menunjukkan diri pada dunia luar, dan itu hak mereka ! “ kutegaskan keinginan suku Intipalla pada Om Hans. Laki-laki itu akhirnya mengangguk. Dia rupanya mulai mengerti.

“ Semuanya terserah pada kamu, Ning, yang menemukan Kota yang Hilang itu kan, kamu. Om Hans tinggal ikut saja. Tapi apa kamu yakin tidak mau memberitahukan tentang keberadaan Kota yang Hilang pada Papa kamu ? “ kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Aku masih sebal sama Papa yang mengataiku sudah gila saat kuberitahukan tentang Kota yang Hilang.

“ Aku marah sama Papa, dia tidak percaya saat kuberitahu, malah dia bilang aku sudah gila ! “ rutukku sebal. Om Hans tertawa kecil.

“ Aning....Aning... Kamu itu lucu, Om Hans sendiri bingung saat mendengar kamu bicara tentang Kota yang Hilang pertama kali. Siapa yang akan percaya begitu saja pada seorang anak yang baru lulus SMU, yang mengaku sudah menemukan sebuah kuno yang sudah membuat para arkeolog dan sponsor menghabiskan uang begitu banyak karena mencari kota itu baik oleh riset maupun penggalian ?! ada-ada saja... “ om Hans tersenyum geli.

“ Lalu kenapa Om Hans percaya sama aku ? “ mulai bingung, deh. Tadi dia percaya, sekarang bilang siapa yang bisa percaya seorang anak SMU yang tak punya dasar pendidikan tentang arkeologi bisa menemukan sebuah kota kuno?.

“ Karena Om tahu, kamu tidak mungkin mengarang-ngarang cerita seperti itu, dan juga bros yang kamu tunjukkan pada Om, ukiran-ukirannya seperti yang ada pada dokumen-dokumen tentang Kota yang Hilang, yang berhasil kami dapatkan ! “ jelas Om Hans.

“ Tapi Om berjanji tidak akan memberitahukan pada siapapun tentang semua yang Aning katakan, iya kan ? “ tuntutku. Om Hans menganggukkan kepalanya, lalu mengangkat tangannya sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“ Aku, Hans Fitzegrald, bersumpah tidak akan bilang siapa-siapa, tentang rahasiaku dengan Aning ! “ aku langsung tertawa melihat gaya om Hans. Lucu sekali, seperti lagi ikut acara pelantikan pejabat saja.

“ Sekarang, kamu teruskan makan pagimu, Om ke tenda stock dulu.. “ pamit Om Hans, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan aku yang kini bingung, bertanya-tanya dalam hati, tentang keputusan yang sudah kubuat, untuk memberitahukan tentang Kota yang Hilang pada Om Hans, dan semua yang kuketahui tentangnya.

Dua hari sudah berlalu. Aku maupun Arya tak pernah menyinggung-nyinggung tentang Kota yang Hilang. Hanya sesekali Mama memintaku untuk menunjukkan lagi bros pemberian sang Ratu padanya, dan membujuk aku agar memberikan bros itu padanya, yang sudah pasti kutolak dengan segenap hati.

Satu hal yang pasti, Arya semakin hari semakin sensitif dan mudah marah. Aku yang sering menjadi sasaran kemarahannya. Kemarin saja, secara tak sengaja aku menumpahkan jus orange di kakinya, dan selama setengah jam penuh dia mengomeli aku, sambil membentak-bentak dan mengatai aku ‘idiot’, sampai-sampai aku tak tahan untuk tertawa. Aku dikatainya ‘idiot’ lalu dia itu apa ?. Mama sampai tanya, Arya itu salah makan obat apa sampai-sampai jadi pemarah seperti itu.

“ Memangnya kamu tak lihat dia makan buah-buahan dari sekitar sini, Ning ? “ tanya Mama menyelidik. Aku jadi heran.

“ Memangnya kenapa dengan buah-buhan disekitar sini, Ma ? “

“ Ya ampun Aning, kamu itu tak dengar apa kata Papa ? banyak tumbuhan atau buah-buahan disini yang beracun, dan ada pula yang bisa menyebabkan halusinasi. Curare misalnya, tanaman itu sangat beracun, dan sangat mematikan. Karena itu bangsa Inca memakainya dengan mengolesi ujung tombak dan panah mereka dengan ramuan dari Curare, saat mereka hendak berperang. Sangat mematikan, cukup tersayat saja, orang bisa langsung mati ! “ mengerikan sekali kalau apa yang dikatakan Mama itu benar. Aku tak bisa membayangkan, cukup dengan tersayat oleh tombak atau panah yang telah diolesi Curare, maka orang bisa mati. Aku sampai bergidik saat membayangkan seandainya aku tersentuh tumbuhan itu.

“ Aduh, Aning jadi takut, Ma. Bagaimana kalau Aning lagi jalan-jalan dihutan dan tersentuh tumbuhan Curare itu dengan tidak sengaja ? “ dihutan ini ada tanaman yang mematikan, dan aku dengan santainya sering jalan-jalan dihutan sekitar perkemahan !

“ Kamu tak usah takut, kata Papa, ditempat ini, tidak terlihat adanya Curare. Setidaknya itu yang dia katakan pada Mama, “ ujar Mama sambil menepuk bahuku. Astaga ! bagaimana kalau Papa salah ?

Aku sedang menulis jurnalku didalam tenda, saat Arya masuk dengan wajah serius. Kedua alisnya sampai berkerut.

“ Kak, Arya mau ngomong ! “ tandasnya, tegas. Arya yang tiga hari terakhir ini adalah Arya bercampur bubuk mesiu. Mudah meledak. Tapi itu sering membuatku tersenyum sendiri, karena Arya yang sangat serius adalah Arya yang tidak pernah kusaksikan sebelumnya, langka.

“ Memangnya kamu mau ngomong apa sama aku ? “ tanyaku acuh tak acuh, sambil terus menulis tanpa menatap adikku itu.

“ Aku ingin kembali kedalam Kota yang Hilang ! “ tanpa basa-basi, dia mengungkapkan keinginannya.

“ Untuk apa ? kamu sendiri kan tahu, bahwa kita dilarang untuk masuk kembali kedalam kota itu, apa kamu mau dijadikan tawanan seperti aku kemarin ? “ dustaku. Arya memang tidak tahu bahwa sebenarnya kami bisa kembali kesana karena aku tak memberitahukan dia tentang itu.

“ Aku harus menghalangi Annamaya, agar jangan menikah dengan Intipalla, sebab aku tahu dia tidak ingin melakukannya ! “ jadi itu masalahnya ? Annamaya membuat Arya jadi mirip petasan selama beberapa hari terakhir. Arya yang playboy, yang selalu menjawab setiap kali kunasehati dia, bahwa tak baik punya banyak pacar dan selalu menyakiti gadis-gadis ;

“ Aku itu, punya koleksi banyak pacar, untuk aku seleksi mana yang paling oke untuk aku, dan cocok dengan kepribadianku... “ dan sekarang bertekuk lutut pada seorang gadis bermata hitam, yang tidak tahu tanktop itu apa, tidak mengenal pembersih wajah, lotion pelembab dan pemutih kulit, gadis yang cantik, tapi kuno.

Cieeee....ada bau cinta diudara, nih.... “ ledekku. Sekarang malah terbalik, aku yang jadi suka bercanda.

“ Kak Aning, aku tidak bercanda, nih ! “ rungut adikku itu, dia merengut sebal, membuatku makin ingin menggodanya.

“ Ya... Annamaya itu, calon istri orang, lho. Calon Ratu, lagi ! Kamu nggak takut apa, bakal dibunuh sama orang Inca ? “ godaku sambil mengedipkan sebelah mata. Muka adikku itu mendadak merah padam. Dia lalu keluar dari dalam tenda, dan berkata ketus sebelum berbalik dan pergi,

“ Kalau begitu, aku akan masuk sendiri kedalam sana !. “ Aku langsung panik.

Kalau Arya benar-benar akan masuk lagi ke dalam Kota yang Hilang, bagaimana jika Om Erold dan gerombolannya mengikuti dia ? Aku paling tahu bagaimana sifat adikku itu. Arya orangnya sangat seleboran, dan sangat tidak berhati-hati. Padahal, Intipalla sudah berpesan padaku, jika ingin kembali kedalam Kota yang Hilang, kami diijinkan, asal berhati-hati, agar tak ada orang lain yang mengikuti dan ikut masuk kedalamnya. Secepat kilat aku keluar dari dalam tenda, lalu berlari menyusul adikku itu.

“ Arya !! aku mau bicara sama kamu !.., “ teriakku setengah membentak.

Benar saja tebakanku, anak nekat itu tengah berjalan kearah jalan setapak yang menuju kesisi jurang tempat jalan masuk ke Kota yang Hilang berada. Dia berhenti mendengar teriakanku. Begitu sampai tepat dihadapannya, tanpa bisa kutahan lagi, telapak tangan kananku langsung melayang dipipi Arya. PLAK ! Bunyinya sangat keras, sampai-sampai para arkeolog dan pekerja-pekerja yang tengah menggali menatap aku dan Arya. Sejenak kulihat Arya sangat kaget ditampar olehku, tapi kemudian dia tak berkata apa-apa, hanya menunduk dalam diam.

“ Arya, ikut aku ! “ aku langsung menarik tangannya, menuju tepi hutan.

“ Kamu gila, ya ?! Apa kamu sadar, kalau tindakanmu yang sangat tidak berhati-hati itu bisa membuat seisi kota Intipalla dan Annamaya berada dalam bahaya ? “ aku ingin menelan anak itu bulat-bulat saking marahnya aku.

“ Maafkan aku, Kak. Aku hanya tak rela Annamaya dikawinkan paksa seperti itu... “ ujarnya sendu. Membuat marahku seketika menguap. Adikku itu kelihatan sangat tersiksa.

“ Sudahlah, sebenarnya kalau kamu ingin kembali lagi kesana, kamu tinggal bilang sama kakak, kita bisa kembali kesana asal berhati-hati, agar tak ada orang yang mengikuti kedalam, “ Arya kelihatan sangat senang mendengar ucapanku. Dia menatapku tak percaya.

“ Benar, Kak ? Tapi, kita kan tidak dijinkan kembali lagi kesana, bagaimana kalau kita nanti ditahan mereka dan dijadikan tawanan ? “ Arya tertunduk lesu.

“ Sebenarnya, kita dijinkan untuk kembali lagi kesana kalau kita mau, Intipalla yang bilang pada kakak, lho ! “ bisikku. Wajah adikku itu kembali bersinar-sinar.

“ Kapan kita bisa pergi kesana, Kak ? “ tanya dia antusias.

“ Besok. Kita akan masuk kesana dengan Mama, dan juga Om Hans. “ Arya menatapku tak percaya, saat kusebut bahwa Mama dan Om Hans akan ikut dengan kami berdua.

“ Kak Aning memberitahukan tentang Kota yang Hilang sama Mama dan Om Hans ? “ aku mengangguk mengiyakan.

“ Mereka percaya bahwa kota itu ada ? “

“ Mungkin mereka mulanya tak percaya saat kakak bercerita tentang kota itu, tapi begitu kakak menunjukkan bros yang Ratu berikan untuk kakak, mereka jadi percaya, deh ! “ Arya menggeleng-gelengkan kepalanya, tak tahu kenapa. Mungkin dia tak setuju dengan keputusanku memberitahu Mama dan Om Hans, tapi dia tidak mengucapkan apa-apa.

Seusai bicara dengan Arya, aku langsung mencari Mama dan Om Hans. Secara terpisah kuberitahukan pada keduanya tentang rencanaku dan Arya, untuk kembali berkunjung kedalam Kota yang Hilang, untuk menemui sahabat-sahabat kami disana.

Mama sangat gembira mendengar bahwa dia akan ikut kami untuk melihat semua hal menakjubkan yang telah kuceritakan padanya tentang Kota yang Hilang, sedangkan Om Hans, dia agak khawatir.

Katanya, dia takut mereka disana akan marah jika melihat aku dan Arya membawa orang lain masuk kedalam kota mereka. Saat kukatakan bahwa aku yang akan menjamin bahwa Om Hans adalah orang baik dan tidak akan berbuat jahat pada mereka, dia baru setuju untuk ikut kami. Tapi kemudian, dia khawatir lagi, tapi kali ini kekhawatirannya bukan tentang penduduk di kota Intipalla, tapi Om Erold dan gerombolannya. Kata Om Hans, bila memang mereka benar hendak berniat jahat, dia takut kalau Om Erold melihat kami pergi bersama-sama, dia akan menyuruh orang untuk membuntuti kami.

Akhirnya, kami sepakat untuk berjalan sendiri-sendiri besok. Aku aku pergi duluan dan menunggu mereka disemak-semak tempatku bersembunyi ditepi jalan setapak, dan Arya akan mengikuti aku, setelah itu Mama dan terakhir Om Hans. Lalu aku dan Mama yang akan masuk lebih dulu kedalam lorong, sedangkan Arya dan Om Hans akan berjaga-jaga diatas, kalau-kalau ada orang yang datang. Setelah memastikan keadaan aman, baru mereka akan mengikuti aku dan Mama masuk kedalam lorong.

Jam tanganku baru saja menunjukkan pukul 8 pagi. Setelah sarapan, aku dan Arya mulai bersiap-siap untuk pergi. Sengaja kami tidak pergi pagi-pagi sekali, agar tak menimbulkan kecurigaan. Setelah memastikan bahwa tak ada orang yang mengikuti kami, aku segera menghilang secepat mungkin dari perkemahan. Biasanya, setelah sarapan, para pekerja dan arkeolog-arkeolog seperti Papa mulai masuk pada jam tersibuk mereka, jadi bila kami menghilang, tak akan ada yang memperhatikan.

Udara terasa sangat dingin, apalagi ketika aku mulai masuk kedalam hutan, udara dingin bercampur lembab terasa sedikit menyiksa. Sesekali, tetes-tetes embun jatuh dikepalaku, dari atas pohon yang entah sudah berapa ratus atau bahkan mungkin ribu tahun usianya.

Setelah memastikan tak ada yang mengikuti, aku segera bersembunyi dibalik semak-semak ditepi jalan setapak, sambil menunggu Mama.

Akhirnya, Mama datang juga setelah hampir 15 menit berlalu, dan aku sudah mulai didekati oleh nyamuk-nyamuk Peru, yang enggan menggigitku, karena lotion anti nyamuk yang kuoleskan hampir setengah botol disekujur badanku.

“ Ma, kok lama sekali ?! “ tegurku sambil keluar dari semak-semak.

“ Ya ampun Aning...kamu bikin kaget Mama saja ! “ ujarnya sambil mengelus-elus dada.

Hehe...sorry Ma. Tapi kenapa Mama lama sekali ? “ tanyaku

“ Mama harus kasih alasan sama Papa dulu, Mama bilang saja sama dia, kalau kita janjian akan pergi melihat-lihat hutan disekitar sini, dan karena Mama tidak mau kamu pergi sendiri, jadi Mama akan temenin kamu, “ tutur Mama panjang lebar.

“ Ya sudah, sekarang kita pergi sebelum ada yang kesini. Mama yakin tak ada yang melihat Mama pergi dari perkemahan, kan ? “ Mama menggelengkan kepalanya yakin.

Aku lalu berjalan didepan Mama. Setelah beberapa saat, aku dan Mama sampai ditepi jurang.

“ Katanya mau pergi ke Kota yang Hilang, kok kita kesini, Ning ? “ Mama mengungkapkan keheranannya.

“ Ma, lihat kebawah, ada lempangan batu seperti meja dibawah sana, berani tidak Mama loncat kesitu ? “ tunjukku. Seketika wajah Mama pucat pasi.

“ Aduh Ning, kamu mau bawa Mama ke Kota yang Hilang apa ke akhirat, sih ? Mama nggak mau loncat kesitu, Mama takut !! “ Memang bagi orang yang baru pertama kali melihat, hal itu sangat menakutkan. Siapa sih yang mau loncat keatas sebuah lempengan batu, yang dibawahnya ada jurang yang dasarnya tak kelihatan karena terlalu dalam ?.

“ Kalau Mama nggak mau, Mama nggak bisa masuk kedalam Kota yang Hilang, nanti Aning bantu Mama untuk turun ke bawah. “ Aku langsung melorot turun kebawah, meninggalkan Mama yang panik melihatku turun ke lempengan batu itu.

“ Ayo Ma, nanti keburu ada yang datang kesini ! Mama melorot saja seperti Aning tadi, jangan menoleh kearah jurang, nanti Mama bisa pusing... “ ujarku, mencoba untuk memberi saran pada Mama. Akhirnya Mama turun juga, tapi begitu sampai dilempengan batu, kalau aku tidak takut akan dijewer sampai telingaku merah, sudah pasti aku akan tertawa terbahak-bahak melihat lutut Mama yang gemetaran, dan wajah Mama yang pucat pasi seperti sehelai kertas putih itu.

“ Aning, sampai berapa lama kita disini ? Mama takut nih... “ keluh Mama, kupikir dia sudah hampir menangis. Segera kutarik akar pohon yang sudah sangat kukenal itu, dan pintu batu langsung bergeser membuka. Aku dan Mama langsung masuk kedalam, dan pintu langsung kututup kembali.

“ Ma, senternya di nyalakan, dong ! “ aku memang masih belum tahu bagaimana caranya agar obor-obor emas itu bisa menyala seperti yang dilakukan oleh Intipalla.

“ Bagaimana dengan Arya dan Om Hans, Ning ? “ tanya Mama.

“ Kita tunggu mereka berdua disini saja, Arya tahu kok, bagaimana cara untuk membuka pintu batu tadi ! “ jelasku. Aku dan Mama lalu duduk di bangku batu. Tiba-tiba, Mama berteriak histeris, membuatku kaget bukan kepalang.

“ Aning !! ya Tuhan...itu emas, ya ?! “ dia menunjuk dinding penuh relief-relief di sepanjang lorong dengan senternya. Rupanya, dari tadi dia memperhatikan semua yang ada disekeliling situ dengan senternya. Aku hanya mengangguk.

“ Aning !! jadi kota itu benar-benar ada ?! “ aku mulai menyesal telah memberitahukan Mama tentang Kota yang Hilang, karena sekarang dia sangat histeris melihat emas-emas itu, dan mengguncang-guncang bahuku seperti orang kesurupan.

“ Ma...bahu Aning sakit, nih ! “ tak urung aku jadi kesal juga akhirnya. Mama melepas genggamannya dibahuku, lalu seperti orang linglung dia mulai menelusuri lorong itu. Kubiarkan saja Mama seperti itu, sebab kalau aku berkomentar sedikit saja, aku takut bahuku akan retak nanti karena diremas-remas dia.

“ Aduh....kalau bikin kalung dan gelang, pasti bisa sekarung jumlahnya dengan semua emas yang sangat banyak ini... “ gumam Mama. Aku mulanya tak menghiraukan dia, tapi ketika kulihat Mama memegang pisau, dan mulai mengorek-korek dinding emas itu, aku langsung berteriak sebal.

“ Mama......janjinya kita kesini hanya untuk melihat Kota yang Hilang dan bukan untuk merampok mereka, iya kan ?! “ sekarang aku tahu sifat urakan dan noraknya Arya datang dari siapa.

“ Ning.....cuman segram dua gram, mereka nggak bakal merasa kehilangan, ayo dong.... “ bujuk Mama, tapi langsung mengkeret melihat wajahku yang sudah mirip-mirip raksasa Rahwana yang lagi murka.Dia lalu mengisi pisau kecilnya yang berbentuk udang itu kedalam ranselnya sambil bergumam tak jelas.

Semenit kemudian, pintu terbuka lagi, Om Hans dan Arya yang datang.

“ Aning, maafkan Om Hans, ya ? “ ujar Om Hans sambil menatapku. Aku jadi bingung, tak mengerti dengan apa yang dia maksudkan.

“ Maaf untuk apa sih, Om ? “

“ Om Hans minta maaf, karena sempat tidak percaya saat kamu cerita sama Om tentang Kota yang Hilang, dan sekarang, Om benar-benar bertekuk lutut, kamu memang luar biasa, Ning.. “ puji Om Hans, membuat pipiku jadi merah.

“ Kalau begitu, kita sekarang akan masuk ke Kota yang Hilang, setelah lorong ini berakhir. “ Aku tak mau membuang waktu lebih banyak lagi. Kami berempat segera berjalan menelusuri lorong panjang itu. Dalam perjalanan, Om Hans dan Mama tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan padaku dan Arya tentang Kota yang Hilang, tentang relief-relief emas itu yang menurut mereka sudah sangat luar biasa banyaknya.

“ Tunggu sampai kalian melihat gunung emas mereka ! “ tukas Arya, membuat Mama langsung meremas lengan adikku itu. Membuat Arya berteriak kesakitan.

“ Mama.....lengan Arya sakit kena kuku Mama, nih !! “ memang sebaiknya berjalan jangan didekat Mama saat ini. Melihat emas yang banyak itu, Mama tiba-tiba jadi buas.

“ Ya...makanya kamu jangan dekat-dekat sama kucing garong, nanti kena cakar ! “ godaku ke Mama.

“ Aning !! Kalau bukan kamu yang akan membawa kita bertemu dengan orang-orang kuno itu, sudah Mama hukum kamu dari tadi, tahu nggak !! “ bentak Mama. Om Hans hanya tertawa melihat ulah kami bertiga.

“ Om nggak bawa pacul, kan ? “ tanyaku. Om Hans menatapku bingung.

“ Memangnya kamu mau buat apa dengan pacul itu, Ning ? “ Om Hans balik bertanya.

“ Mungkin Mama mau macul emas didalam piramida nanti, iya kan Ma ? “ Arya langsung tertawa terbahak-bahak dan menghindar dari Mama, yang sudah siap dengan cakar kucing garongnya untuk mencubit adikku itu.

“ Nanti, kalau kita sudah sampai dibukit, aku dan Arya akan turun dulu mencari Intipalla, untuk mengatakan padanya bahwa kami membawa kalian berdua. Aku takut, nanti para pengawal mengira kalian adalah penyusup gelap yang mau masuk kedalam kota mereka, lalu menangkap dan menjadikan kalian tawanan mereka, “ jelasku. Mama dan Om Hans hanya mengangguk-angguk setuju.

Seruan kaget, kagum dan semua hal sejenisnya keluar dari mulut Mama dan Om Hans saat kami keluar dari dalam lorong. Apalagi Mama, saat dia melihat semua atap-atap rumah yang menyilaukan karena terbuat dari emas murni itu, Arya harus menutup mulutnya, karena dia hampir berteriak histeris.

“ Mama ini gimana, sih ! Arya bawa Mama pulang ke perkemahan baru tahu rasa ! “ bahkan adikku yang biasanya sangat takut sangat Mama jadi membentak Mama.

Sekarang keadaan seperti terbalik ; Aku dan Arya yang jadi orang tua, Mama jadi anaknya.

“ Iya...Mama jangan norak gitu, ah ! nanti mereka dengar kita, lalu datang dan membunuh kita semua, gimana ? Mama tahu nggak, mereka itu punya peraturan, harus membunuh setiap orang yang tidak dikenal yang masuk tanpa ijin kedalam kota mereka, dan mereka tidak mengenal Mama sama sekali !! “ tambah Arya menakut-nakuti Mama.

Dia berhasil, Mama langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Dia benar-benar kelihatan takut sekarang.

“ Maafin Arya sudah membentak Mama, ya ? “ adikku itu tak tega melihat Mama yang jadi ketakutan. Mama hanya mengangguk, tapi tak menjawab apa-apa.

“ Mama jangan jadi bisu seperti itu, dong ! Boleh ngomong, tapi bukan teriak kayak orang gila yang kesurupan... “ Aku sendiri mengerti reaksi orang yang jadi seperti Mama saat melihat emas yang jumlahnya sangat banyak itu. Siapa yang tidak histeris melihat emas yang begitu berlimpah ?.

Setelah memastikan Mama dan Om Hans mendapatkan persembunyian yang bagus, serta mewanti-wanti keduanya agar jangan keluar sebelum kami datang menjemput balik mereka, aku dan Arya turun kebawah bukit menuju perkampungan.

Sebenarnya, aku merasa agak heran, karena tak kulihat seorang penjagapun disekitar jalan masuk itu, bahkan sampai dekat perkampungan, tak ada pengawal yang biasanya selalu nampak hilir mudik. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers