Popular posts

nsikome On 26 Juli 2011

Udah Rabu ya? kelupaan lagi..untung ada yg ngamuk-ngamuk ingetin aku untuk posting lanjutan The Lost City episode ke 9. Memang lupa sih, soalnya agak kurang sehat, dan Manado baru saja kena bencana gunung api yg meletus, Gunung Soputan sama Gunung Lokon, banyak debu-nya, makanya aku jadi agak sakit...tapi, nggak apa-apa kok, gunungnya udah rada kalem beberapa hari terakhir, tinggal akunya yg masih kurang sehat. Udah dulu basa-basinya ya? enjoy aja, part 9 The Lost City!!..



THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 8


“ Kita akan mencari Intipalla kemana, Kak ? “ Arya meminta pendapatku. Benar juga, kemana harus mencari Intipalla, ya ?. Jika aku dan Arya langsung masuk kedalam Piramida, belum tentu kami akan diijinkan masuk oleh para pengawal istana tanpa Intipalla. Aku punya ide bagus, dan kuyakin ide juga pasti akan disukai Arya.

“ Kita kerumah Annamaya saja, gimana ? “ tanyaku. Arya langsung senyum-senyum girang.

“ Kakak memang paling pintar, deh, Arya setuju ! “ anak itu memang paling bisa.

“ Emang Kak Aning tahu rumahnya Annamaya ? “ Arya memang tak ada saat Intipalla mengajakku berkunjung kerumah gadis itu. Aku mengangguk mengiyakan.

Tak terasa, kami berdua sudah memasuki perkampungan. Orang-orang yang melihat kami, mulai berbisik-bisik riuh rendah, tapi tak kuperdulikan. Intipalla sendiri yang bilang, bahwa kami bisa kembali lagi kesini, asal berhati-hati, jadi aku merasa aman.

Saat hendak naik menuju jalan kerumah Annamaya, aku bertemu dengan seseorang yang sangat tidak ingin aku temui, Rapalla.

“ Wah...ini baru namanya kejutan...sekarang kalian sudah menganggap kota kami seperti milik kalian, ya ? “ ujar pemuda itu dengan suara mengejek. Untung saja Arya tidak mengerti bahasa Spanyol sedikitpun.

“ Siapa itu, Kak ? dia kelihatan mirip dengan Intipalla.. “ Arya juga tidak mengenal Rapalla.

“ Dia itu adik lain ibu Intipalla, “ jelasku. Arya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“ Mau apa kembali kesini kalian ? mau merampok emas-emas kami, karena tidak sempat melakukannya terakhir kali ?! “ pemuda itu semakin menyebalkan saja kelakuannya.

“ Aku hanya ingin bertemu dengan sahabat-sahabatku, mohon jangan menghalangi niat baik kami berdua. “ Aku berusaha untuk bersopan santun dengan Rapalla, bagaimanapun juga, dia tetap anak Sapa Inca, orang yang paling berkuasa ditempat ini. Aku tak ingin mencari masalah dengannya.

“ Kalau aku ingin menghalangi, kalian mau apa ? “ tanya Rapalla angkuh. Sementara pemuda-pemuda yang mungkin adalah teman-temannya tertawa riuh rendah.

“ Kau akan berhadapan denganku, Rapalla !! “ terdengar suara membentak, dan entah darimana munculnya, Intipalla sudah berada disitu.

Aku bersyukur dalam hati. Rapalla terlihat kesal dengan kehadiran kakak lain ibunya itu. Dia lalu mengucapkan kata-kata dalam bahasa mereka, dan melenggang pergi diikuti oleh pemuda-pemuda lain di belakangnya.

“ Aning, senang sekali bisa melihatmu disini... “ Intipalla langsung merengkuh aku kedalam pelukannya, membuatku jengah, tapi entah mengapa pada saat yang sama membuat aku merasa sangat senang dan nyaman.

“ Apa kabarmu, Arya ? “ pemuda itu lalu melepaskan aku, dan menyalami Arya, dia kelihatan sangat senang melihat kami kembali. Aku menerjemahkan pertanyaan Intipalla pada adikku.

“ Baik-baik saja, meskipun sempat kehilangan ingatan selama beberapa hari, tapi aku baik-baik saja sekarang.. “ Intipalla tertawa mendengar ucapan Arya yang kuterjemahkan padanya.

“ Aku minta maaf, tapi kami terpaksa melakukannya... “ ujar Intipalla tulus.

“ Inti, ada yang hendak aku katakan padamu, “ aku hendak bilang bahwa Mama dan Om Hans ikut bersama kami.

“ Aku tahu, ada orang lain yang bersama dengan kalian kesini, kan ? “ aku lupa bahwa dia bisa membaca pikiran.

“ Maafkan aku, tapi orang itu adalah Ibuku dan Om Hans, orangnya baik sekali, dan aku juga memintanya untuk membantu kita menyembunyikan kota kalian dari orang jahat bernama Om Erold itu ! “ ceritaku. Intipalla menganggukkan kepala.

“ Lalu kapan kita akan bertemu dengan Annamaya ? “ tanya Arya penasaran. Rupanya anak itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis pujaannya.

“ Aku mendengar ribut-ribut dibawah, aku lalu turun, ternyata kalian. Aning, senang sekali bisa melihatmu lagi.... “ Annamaya nampak turun dari rumahnya. Saat melihat Annamaya, seketika pipi adikku menjadi merah padam.

Caileee....ada yang bunyi jantungnya kedengaran sampai sini... “ ujarku menggoda. Kalau biasanya dia balas menggodaku, kali ini dia hanya tersipu malu.

“ Anna, aku senang bisa bertemu kamu lagi, kamu cantik sekali hari ini, “ ucap Arya pelan, saat Annamaya mendekatinya. Arya lalu memeluk gadis bermata hitam itu, tak memperdulikan ledekanku. Annamaya menatapku, meminta terjemahan ucapan Arya.

“ Katanya, dia senang bertemu kamu, dan kamu cantik sekali hari ini.. “ kuterjemahkan ucapan Arya, membuat pipi Annamaya bersemu merah.

“ Kalau begitu, kita akan menjemput ibu kalian dibukit sebelum ada pengawal yang meronda dan menemukan mereka disana. “ Intipalla mengingatkan aku yang sejenak lupa pada Mama dan Om Hans.

Kami lalu kembali kearah bukit, menuju tempat Mama dan Om Hans bersembunyi menunggu kami kembali.

“ Aning....Mama cemas sekali, tadi ada yang kesini, tapi Mama dan Om Hans bersembunyi ! “ tergopoh-gopoh Mama keluar dari persembunyiannya, diikuti oleh Om Hans.

“ Inti, kenalkan, ini Ibuku, dan yang ini Om Hans, yang aku ceritakan padamu, “ Mama terlihat antusias sekali. Cepat-cepat dia menyalami Intipalla, yang tidak mengangsurkan tangannya.

“ Ma, mereka hanya mengangguk hormat, tidak salaman tangan seperti kita ! “ ujarku memberitahu Mama.

“ Oh... maaf, Mama tidak tahu. Halo...kamu pasti yang namanya Intipalla, “ sapa Mama sok akrab. Aku dan Arya berpandangan kaget. Mama bisa bicara dengan bahasa Spanyol, sesuatu yang tidak kami ketahui sampai detik ini.

“ Benar, nama saya Intipalla, senang sekali bisa bertemu dengan anda, “ jawab Intipalla sopan.

“ Wah....Aning sering cerita tentang kamu sama Ibu, “ Mama ini ada-ada saja, perasaan, hanya sekali aku bercerita padanya tentang Intipalla, dan tidak sesering yang dia katakan.

Intipalla hanya tersenyum. Lalu, pemuda itu berbalik pada Om Hans, dan mengangguk hormat.

“ Nama saya Hans, “ ujar Om Hans memperkenalkan dirinya memakai bahasa Spanyol juga. Kalau dia sih, aku tak kaget. Memang para arkeolog banyak yang menguasai lebih dari satu bahasa. Intipalla mengangguk hormat, dan acara perkenalan dilanjutkan pada Annamaya.

“ Jadi gadis itu yang bikin Arya linglung ? “ bisik Mama padaku, aku hanya mengangguk mengiyakan, dibawah pelototan mata adikku.

“ Sekarang, setelah semuanya sudah terkumpul, mungkin kita lebih baik masuk kedalam kediamanku, rasanya kurang sopan menerima tamu ditempat seperti ini. “ Intipalla mengajak kami.

Aku menatap Mama dan Om Hans, mereka berdua hanya mengangkat bahu. Aku lalu mengangguk pada Intipalla, yang lalu berjalan mendahului kami didepan.

Disepanjang perjalanan, aku dan Arya hampir selalu harus membelalakkan mata pada Mama, karena dia selalu menjadi histeris. Akhirnya setelah Arya mengeluarkan ancaman mautnya, yaitu akan membawa Mama pulang ke perkemahan, setelah sebelumnya diasapi daun Coca kering yang membuat Mama kehilangan ingatan selama-lamanya, baru Mama diam tapi dengan wajah cemberut.

Om Hans sendiri, dia tak henti-hentinya mengagumi bangsa Intipalla, yang katanya sangat hebat bisa menyembunyikan keberadaan mereka pada dunia luar, selama ribuan tahun. Dia juga sangat menghormati niat baik mereka, yang memnyembunyikan emas-emas mereka itu karena tidak ingin menimbulkan peperangan.

“ Intipalla, apa kalian memiliki semacam dokumentasi tentang bangsa kalian ? “ tanya Om Hans. Para arkeolog memang hanya menginginkan hal-hal seperti itu. Mereka ingin sekali tahu sejarah suatu bangsa jaman kuno.

“ Kami memang memiliki semacam perpustakaan, tetapi selain Ayahku dan juru kunci, tak ada yang boleh masuk kedalamnya. Aku bisa masuk, tetapi setelah aku menjadi Sapa Inca menggantikan ayahku nanti ! “ Intipalla menjelaskan peraturan mereka.

“ Sayang sekali, karena saya sangat ingin tahu, tentang sejarah bangsa kalian, sebab dokumentasi tentang suku Inca khususnya tentang Kota yang Hilang dan penduduknya sangat sedikit kami temukan, “ Om Hans terlihat sangat menyesal tidak bisa melihat-lihat dokumen-dokumen itu, yang bagi para ahli sejarah dan arkeolog, adalah salah satu dari sekian hal terpenting dalam pekerjaan mereka.

Saat memasuki kuil, Mama terlihat tersiksa, tak bisa mengomentari keras-keras semua yang dia lihat disana. Sesekali dia hanya berbisik padaku, tentang dekorasi-dekorasi emas yang ada dalam kuil. Setelah memasuki Piramida, Om Hans sampai menitikkan airmatanya melihat keagungan Piramida didalam perut gunung emas itu.

“ Ya Tuhan, Aning.....ini sangat luar biasa... “ ujar Om Hans terbata-bata. Sedangkan Mama, saking gembiranya, wajah Mama sampai merah keunguan saat melihat Piramida yang berada dalam perut gunung emas itu, yang juga keseluruhannya terbuat dari emas murni.

“ Intipalla, sekarang saya baru benar-benar mengerti alasan kalian menyembunyikan kota ini dari dunia luar, seluruh emas ini bisa memicu perang dunia ketiga ! “ ujar Om Hans lirih.

“ Kalau Mama bawa pulang sekilo emas dari sini, mereka pasti tak akan keberatan ya, Ning ? “ pandangan Mama menerawang, sekilas membuatku ingat pada penghuni rumah sakit jiwa, agak kosong-kosong gitu, deh !.

“ Ma...berapa kali Aning harus memperingatkan sama Mama, bahwa jangan berbuat aneh-aneh disini. Mereka tidak kenal hukum seperti kita, Ma. Gimana kalau mereka marah dan memutuskan untuk menyandera kita seperti yang mereka lakukan pada Aning terakhir kali ? “ entah apa lagi yang harus aku katakan agar bisa merasionalkan pikiran Mama ku itu.

Mama langsung menutup mulutnya dengan tangan, dan membuat gerakan seperti mengunci ritsluiting.

“ Mama juga tidak boleh berpikiran jahat, sebab mereka bisa membaca pikiran kita, khususnya Intipalla, dia bisa tahu kalau ada orang yang mau berniat jahat ! “ tambahku.

“ Memangnya benar yang kamu bilang tentang pembaca pikiran itu, Ning ? “ tanya Om Hans heran. Aku mengangguk mengiyakan. Aku baru saja berbalik untuk meminta penegasan tentang ceritaku itu pada Arya, tapi begitu melihat dia dan Annamaya yang tengah bergandengan tangan dan saling menatap seperti sepasang patung cupidon yang dihadiahkan Indra, cowok satu sekolah yang naksir aku, pada hari Valentine kemarin padaku, aku langsung mengurungkan niatku itu.

Seperti saat aku dan Arya pertama kali kesini, Intipalla mengajak Mama dan Om Hans untuk mengelilingi Piramida, dan juga masuk kedalam bagian-bagian Piramida yang diijinkan seperti ruangan anak-anak, dan juga kediaman Intipalla. Setiba kami disana, para pelayan pribadi Intipalla sudah menyiapkan meja besar di ruang makan Intipalla dengan berbagai macam hidangan, yang kali ini merupakan sebuah kejutan besar untukku.

Semua hidangan yang berada diatas meja itu adalah masakan dari berbagai belahan dunia. Ada kue lumpia lengkap dengan saos merahnya, berpiring-piring besar pizza dengan berbagai macam rasa, ada nasi putih yang baunya sangat harum, juga kalkun panggang yang kelihatan sangat lezat, dan juga bistik sapi. Tak ketinggalan, hidangan-hidangan penutup yang menggugah selera seperti kue puding moka, buah-buahan segar, dan kue-kue kering serta cake berbagai model dan warna.

“ Inti....darimana kamu mendapatkan semua ini ? “ tanyaku. Aku benar-benar terkejut dan tak menyangka akan mendapatkan semua makanan ini di meja makan Intipalla. Apalagi, jika aku mengingat terakhir kali aku makan disitu, aku hampir memuntahkan semua isi perutku, akibat masakan dari kecoak itu yang dicampur dengan semut dan tak ketinggalan perkedel ulat bulu yang sangat disukai Arya itu.

“ Aku sengaja menyuruh tukang masak untuk mempersiapkannya, “ jawab Intipalla bangga.

“ Tapi....bagaimana cara dia menyiapkan semua ini ? bukankah ini semua adalah makanan-makanan yang berasal dari dunia luar ? “ kali ini aku benar-benar tak mengerti sama sekali. Bagaimana mungkin dalam waktu yang sangat singkat, juru masak Intipalla bisa belajar cara membuat semua masakan ini, dan juga mendapatkan bahan-bahannya darimana ?.

“ Aku meminta tukang masakku untuk belajar dari Ibu Annamaya, dia pintar untuk membuat semua ini. Dia punya banyak buku-buku masak berbahasa Spanyol yang selalu dia minta dibawakan setiap kali para pengintai turun gunung, dan juga mereka selalu membawakannya bahan baku untuk membuat masakan seperti ini. “ Aku jadi mengerti sekarang.

“ Sayang, orang-orang disini lebih menyukai perkedel ulat bulu kami yang memang lezat itu ! “ tambah Intipalla, yang langsung membuat bulu kudukku seketika merinding.

“ Tapi saya ingin mencicipi masakan ulat bulu kalian yang terkenal itu, apa boleh Intipalla ? “ ucapan Om Hans benar-benar membuatku kaget. Bukan hanya aku saja yang kaget, tapi Intipalla pun terlihat surprise.

“ Kalau begitu, saya akan memerintahkan tukang masak untuk membuatkannya khusus buat anda ! “ tukas Intipalla sambil bertepuk tangan dua kali.

Seorang pelayan tergopoh-gopoh masuk, dan menghormat pada pemuda itu. Setelah berbicara dalam bahasa mereka pada si pelayan, yang sudah pasti tentang perkedel ulat bulu itu, pelayan itu segera masuk kembali dengan tergesa lewat pintu keluarnya tadi. Arya sejak tadi diam saja, dia sepertinya terlalu sibuk berkomunikasi non verbal dengan Annamaya. Sesekali terdengar cekikikan keduanya, sampai Mama sendiri merasa heran.

“ Ning, memangnya Arya belajar bahasa bangsa Inca dimana ? kok dia bisa berkomunikasi dengan gadis itu, padahal dia kan, tak bisa bahasa Spanyol ? “ ujar Mama, mengawasi Arya yang sedang bercengkerama dengan Annamaya diseberang meja.

“ Mama aneh deh, Arya tidak bisa berbicara dengan bahasa suku Inca, Ma... “

“ Lalu bagaimana cara mereka berdua berkomunikasi, dong ? sejak tadi Mama lihat mereka berdua seperti saling mengerti satu dengan yang lainnya, “ Mama tampak keheranan. Aku hanya mengangkat bahuku, tanda aku sendiri tak mengerti.

“ Mereka memakai bahasa isyarat barangkali, Ma ! “ kataku, sekaligus mengakhiri percakapan tentang keanehan Arya dan Annamaya.

“ Sebelum semuanya jadi dingin, mungkin sebaiknya kita makan sekarang, ya ? “ suara Intipalla memecah keheningan. Aku sendiri sebenarnya belum merasa lapar, karena waktu sekarang baru saja menunjukkan pukul 10 pagi lewat 15 menit. Sebelum masuk ke Kota yang Hilang, aku sempat sarapan cukup banyak di perkemahan tadi. Tetapi, demi menghormati tuan rumah, yang sudah susah-susah membuat masakan kami itu, aku menyendok sepotong bistik sapi, dan kentang goreng kedalam piringku.

Saat kami sedang sibuk dengan piring kami masing-masing, nampak dua orang pelayan masuk kedalam ruang makan, dan membawa sesuatu yang kelihatannya seperti perkedel ulat bulu dan juga sup kecoak mereka yang sangat digemari Arya. Aku jadi ingin beranjak dari tempat dudukku, dan itu sudah pasti telah kulakukan seandainya aku berada dirumah.

“ Jadi ini masakan kalian yang terkenal itu ? “ kata Om Hans terdengar antusias. Sebelum yang lain mengambilnya, dia sudah terlebih dulu menyendok sup aneh itu kedalam piringnya, dan segera mencicipinya.

“ Mmm....kamu benar, Inti. Sup kalian ini enak sekali, “ komentar Om Hans begitu lidahnya tersentuh sup kecoak itu.

“ Om Hans sepertinya harus mencoba perkedelnya, enak banget tuh, Om ! “ saran Arya, aku jadi seperti tengah berada ditengah-tengah kawanan hewan-hewan pemakan serangga. Mama menoleh kearahku, dan dengan geli dia memandangi aku yang tengah berjuang untuk menahan rasa mualku.

“ Sepertinya, ada orang yang tidak bisa menjadi anggota keluarga kerajaan bangsa Inca, seharusnya kamu belajar untuk makan makanan mereka, Ning... “ goda Mama dengan suara yang sangat meyakinkan.

“ Ma ! “ wajahku langsung mendadak terasa hangat.

“ Kamu pikir, Mama tidak tahu ? sejak tadi Mama perhatikan, satu-satunya hal yang paling sering pemuda itu lakukan adalah memandangimu tak henti-hentinya. “ Mama menunjuk Intipalla dengan lirikan matanya.

“ Mama ada-ada saja, ihh... ! “ elakku, tapi sudah terlambat karena rona merah diwajah mengungkap semuanya.

Setelah makan dan bersantai sejenak, Intipalla mengatakan bahwa mungkin kami harus keluar dari lembah rahasia, karena mereka akan mengadakan upacara menyambut bulan baru dan dia serta Annamaya akan sibuk sepanjang sore. Dia juga bilang, bahwa lusa kami boleh kembali lagi kedalam Kota yang Hilang, karena perayaan menyambut bulan baru sudah selesai, dan dia tidak lagi sibuk serta bisa menemani kami berjalan-jalan didalam lembah rahasia itu.

“ Memangnya kami tidak boleh ikut dalam upacara perayaan itu, Intipalla ? “ tanya Om Hans berharap. Sepertinya dia masih enggan untuk meninggalkan Kota yang Hilang. Intipalla menggelengkan kepalanya.

“ Orang asing tidak bisa berada disini, itu peraturan suku kami. Sebab dewa-dewa bisa marah jika melihat ada orang-orang asing dalam perayaan menyambut bulan baru, nanti kami akan tertimpa malapetaka bila tidak mengindahkan peraturan itu, “ jelasnya.

“ Kalau begitu, kami akan segera berangkat sekarang, kamu akan mengantar hingga dibukit ? “ Aku sendiri, bukan perayaan itu yang enggan untuk kutinggalkan, tapi Intipalla. Sebuah perasaan yang sangat tak kusukai. Pemuda itu mengangguk dan menatapku lembut. Mama berdehem didekatku, tapi kuabaikan.

Arya dan aku tak banyak bicara disepanjang perjalanan. Dia kelihatan sedih harus berpisah dengan Annamaya, aku juga. Tapi aku sudah berjanji pada Intipalla, bahwa lusa kami akan datang lagi ke Kota yang Hilang untuk menemuinya, dan itu cukup membuatku senang.

Sampai kami tiba diperkemahan, hanya Om Hans dan Mama yang sibuk berbicara tentang semua yang baru saja mereka lihat didalam Kota yang Hilang.

“ Kalian berempat darimana saja, sih ? “ Papa menyambut kami didekat jalan setapak. Rupanya dia sejak tadi mencari-cari kami.

“ Aku dan anak-anak hanya pergi berjalan-jalan dihutan dekat sini, dan dalam perjalanan pulang, kami bertiga bertemu dengan Hans. “ Dusta Mama tapi meyakinkan. Papa tak lagi bertanya macam-macam pada Mama. Dia lalu berbalik bertanya pada Om Hans.

“ Kamu sendiri darimana Hans ? kami mencarimu sejak tadi. Laporan kemarin kamu letakkan dimana ? “ rupanya soal pekerjaan yang membuat Papa mencari Om Hans.

“ Aku tadi hendak ke toilet, tapi ada orang didalam, jadi aku ke hutan saja untuk memenuhi panggilan alamku, dan aku jadi keasyikan jalan-jalan dihutan sampai lupa waktu, untung saja aku bertemu mereka, yang membuatku ingat untuk balik lagi ke perkemahan ! “ Om Hans terkekeh.

Hatiku mencelos, aku takut Papa tidak akan percaya dengan cerita Om Hans, tapi dia ikut tertawa mendengar cerita sahabatnya itu, membuatku seketika merasa lega. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers