Popular posts

nsikome On 31 Juli 2011

Ketemu lagi guys...kali ini, aku nggak telat kan? Maklum...Jum'at kemaren, mailbox ku ampir overload, gara2 serangan e-mail "don't forget new episode, kak.." or..."jangan lupa lagi ya"..ada juga "boleh minta nomor telpon sama foto nggak?" (enak aja!!)..Yang pasti, thank you udah suka cerita aku, dan buat yg request sebagai teman bacaan utk menemani puasa-nya, maap ya...silahkan dibaca lewat blog aja...kan puasa harus belajar buat sabar??.Anyway..buat semua umat Muslim se-Indonesia, Selamat Beribadah Puasa..semoga puasanya pooollll..Here it is, newest episode, part 10 of The Lost City...(NS)


THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 10

Rasanya waktu begitu lambat berjalan, dan aku sudah tak sabar lagi untuk bisa kembali kedalam lembah rahasia untuk bertemu dengan Intipalla. Bukan cuma aku saja, Arya bahkan kelihatan sangat gelisah. Dia seperti orang yang kehilangan arah. Semenjak kami tiba diperkemahan, yang sering dia lakukan adalah mondar-mandir kayak setrikaan, dan sesekali duduk termenung.

“ Lagi mikirin apa, Ya ? “ tanyaku, sambil duduk didekatnya. Arya tengah duduk berselonjor di tanah, sambil bermain-main dengan gumpalan-gumpalan tanah galian.

“ Tidak lagi mikirin apa-apa, kok, “ ujarnya pelan, dia lalu melemparkan sebongkah tanah kedalam semak-semak dihadapannya. Kentara sekali dia sedang gelisah.

“ Lagi mikirin Annamaya, ya ? “ aku tahu, pasti gadis itu yang sedang memenuhi kepala adikku yang tak banyak isinya itu. Herannya, dia menggeleng.

“ Aku memang lagi mikirin dia, tapi bukan dia yang paling aku pikirkan saat ini, tapi Om Hans, entah kenapa aku terus berpikir tentang dia ! “ kata-kata Arya mengejutkan aku.

Kupalingkan pandanganku kearah tempat penggalian, nampak disana semua orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Nampak Papa tengah memberikan perintah-perintah pada para penggali, sambil sesekali masuk keluar dalam tenda stock yang berfungsi sekligus sebagai tenda penelitian mereka, sedangkan Om Hans dan yang lainnya, sedang sibuk meneliti pecahan-pecahan kecil yang mereka dapatkan dari hasil penggalian, sambil mencocokkan dengan dokumen-dokumen yang dipegang mereka. Semuanya kelihatan normal dan berjalan seperti seharusnya.

“ Memangnya kenapa dengan Om Hans ? “

“ Entahlah... “ Arya kelihatan risau.

“ Aku tidak yakin, keputusan kakak untuk memberitahukan tentang Kota yang Hilang pada Om Hans adalah keputusan yang tepat. “ Lanjut Arya.

“ Aku sendiri percaya sama Om Hans, aku tahu dia baik dan akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi Kota yang Hilang, “ ujarku yakin.

Aku memang yakin kalau Om Hans tidak akan berbuat macam-macam. Dia itu adalah seorang arkeolog sejati, yang tidak perduli dengan berapa banyak emas yang dilihatnya. Dia lebih mementingkan aspek sejarah dari sebuah penemuan. Aku tahu itu, sebab sepanjang sejarah penelitian arkeologi Papa bersama dengan Om Hans, sudah banyak sekali mereka menemukan barang-barang kuno yang terbuat dari emas, seperti waktu menggali di Mesir, kelompok Papa dan Om Hans menemukan sebuah kubur putri Firaun yang penuh dengan harta peninggalannya yang terbuat dari emas dan permata. Tapi mereka sedikitpun tak pernah tertarik untuk mengambil bagi diri mereka sendiri, malah langsung diteliti dan setelah itu ditaruh di Museum di Kairo.

“ Aku tak tahu, aku hanya...entahlah... “ Arya tak menyelesaikan kalimatnya, dia langsung berdiri, dan berjalan meninggalkan aku kembali ke tenda kami berdua, lalu mengunci diri didalam sana. Sejak perkenalannya dengan Annamaya, anak itu benar-benar jadi aneh.

Akhirnya, hari yang kami tunggu-tunggu datang juga. Di perkemahan, aku, Mama dan Om Hans, tak pernah sedikitpun membicarakan tentang kunjungan kami ke Kota yang Hilang. Kami takut, ada yang secara tidak sengaja mendengar pembicaraan itu, dan mengakibatkan kota Intipalla dan Annamaya berada dalam bahaya.

Aku sendiri secara pribadi selalu mengawasi Om Erold dan gerombolannya, tetapi akhir-akhir ini mereka sepertinya sibuk dengan urusan penggalian. Mereka bahkan tak pernah meninggalkan perkemahan dalam jangka waktu yang lama, atau berada di luar jangkauan penglihatanku. Mereka selalu bekerja hingga malam dengan Papa, dan bangun pagi-pagi sekali untuk sarapan, setelah itu langsung berkutat dengan pekerjaan mereka.

Aku pernah bertanya pada Papa, memangnya mereka tidak capek bekerja terus-menerus seperti itu, tapi Papa bilang, mereka sudah sangat dekat dengan sebuah penemuan besar, karena itu mereka harus bekerja keras dan tidak boleh membuang-buang waktu.

Aku baru saja selesai membersihkan diri, saat Om Hans muncul ditenda aku dan Arya.

“ Aning, Om Hans boleh bicara denganmu sekarang ?! “ raut wajahnya kelihatan cemas bercampur takut. Aku jadi ikut-ikutan cemas.

“ Kita bicara dimana, Om ? “

“ Di depan tenda ini saja, disini jauh dari semua. “ Om Hans memang benar. Tenda aku dan Arya, agak terkucil dari semua tenda-tenda yang lain. Semua itu memang sengaja diatur, mengingat kalau terlalu dekat dengan tenda-tenda lain, akan terlalu dekat di lokasi penggalian yang sudah pasti terlalu ribut dan bikin orang susah untuk beristirahat.

“ Ada apa, Om ? kelihatannya serius sekali. “ tanyaku

“ Aning, tadi Om Hans hendak hendak membawa contoh profil kedalam tenda stock, dan tak sengaja Om mendengar Erold tengah berbicara dengan Dave, tentang sebuah pintu rahasia yang katanya sudah mereka temukan, dan akan mereka ledakkan, karena tidak tahu bagaimana cara untuk membukanya. Om khawatir, pintu yang mereka maksudkan itu adalah pintu dilorong rahasia tempat kita masuk dulu ! “ cerita Om Hans. Darahku seperti berhenti mengalir. Kalau mereka benar telah menemukan pintu batu itu, berarti kota Intipalla sekarang ini berada dalam bahaya.

“ Tapi bagaimana mungkin mereka bisa menemukan pintu itu ? “ seharusnya kemarin-kemarin itu kami lebih berhati-hati.

“ Mereka rupanya sudah melakukan pencarian sejak lama, dari yang Om dengar pada percakapan mereka, rupanya mereka sudah pernah sampai ditempat itu, tetapi tidak menemukan apa-apa ! “ kata-kata Om Hans membuatku ingat, saat aku bertemu dengan Om Erold dan gerombolannya ditepi jurang.

“ Kalau begitu, kita harus segera kembali ke Kota yang Hilang, untuk memperingatkan Intipalla dan juga Sapa Inca. Kita akan kembali kesana sekarang ! “ putusku. Om Hans kelihatan kurang setuju.

“ Aning, apa keputusan untuk kembali kedalam Kota yang Hilang tidak terlalu buru-buru ? Om takut, mereka mengawasi kita dan kemudian akan mengikuti kita masuk kedalam. “

“ Karena itulah, kita akan pergi, saat semua orang tengah sibuk makan siang, dan kita akan menghilang tanpa mereka perhatikan. Aku akan bilang sama Arya dan Mama, sementara Om Hans harus mengawasi Om Erold dan gerombolannya, gimana ? “ Om Hans tersenyum padaku.

“ Aning, kamu pasti akan jadi arkeolog yang hebat suatu saat nanti, rasa perdulimu sangat besar, dan kamu tak memikirkan hal-hal lain selain itu ! “ ujar Om Hans. Aku jadi malu mendengarnya.

Aku segera memberitahu Mama dan Arya, yang langsung naik pitam mendengar itu. Dia hampir saja pergi untuk menonjok Om Erold, kalau aku dan Mama tidak menghalanginya.

Saat semua tengah sibuk makan siang, diam-diam kami menghilang satu persatu. Pertama aku yang lebih dulu menyelinap pergi, setelah itu Mama, Om Hans, dan terakhir Arya.

Setengah berlari kami menuju tepi jurang, dan tanpa membuang banyak waktu, kami berempat langsung masuk kedalam lorong.

Perjalanan masuk kembali dalam Kota yang Hilang kali ini sangat tergesa-gesa. Tidak seperti sebelumnya, tidak ada lagi acara mengagumi relief disepanjang dinding lorong. Mama sampai berteriak meminta agar kami memperlambat larinya, karena dia sudah ketinggalan jauh dibelakang kami bertiga.

“ Makanya, Mama diet dikit, biar nggak gendut dan bisa lari lebih cepat ! “ ujar Arya ketus. Kalau dia bicara seperti itu pada Mama dalam keadaan normal, pasti dia sudah dijewer sampai kupingnya copot.

Saat hampir mendekati ujung lorong, tiba-tiba perasaanku jadi tak enak. Aku seperti mendengar sesuatu.

“ Mungkin pantulan suara kita, Kak ! “ kata Arya saat aku mengungkapkan kekhawatiranku.

Kami lalu meneruskan perjalanan, tetapi, begitu sampai diujung lorong, tiba-tiba ada yang menerjangku dari belakang hingga terjerembab ketanah. Mulanya kupikir mereka adalah pengawal istana Sapa Inca. Tapi dugaanku salah besar. Mereka adalah orang-orang yang merupakan penggali sewaan yang membantu para arkeolog melakukan penggalian. Satu yang paling membuatku terkejut adalah, ada Om Franz disitu bersama mereka. Pasti mereka sudah berkomplot dengan Om Erold, pikirku. Tapi aku tak melihat Om Erold disana. Mungkin dia bersembunyi disuatu tempat, agar bila keadaan berbalik buruk pada grup mereka, dia bisa selamat. Para kepala penjahat yang kulihat di film-film gangster, kan, selalu seperti itu.

“ Ikat mereka, dan sumpal mulutnya !! “ terdengar suara Om Franz memberi perintah. Sebelum sempat ku protes, salah satu anak buahnya sudah mengikat tanganku dibelakang.

“ Franz, mengapa kau lakukan ini semua ? “ tanya Om Hans. Dia kelihatan marah sekali.

“ Emas yang jumlahnya sangat banyak, Hans, itu yang membuatku melakukannya ! “ jawab Om Franz santai, membuatku rasanya ingin merobek mulut besarnya itu.

“ Mana Erold ? pasti dia yang memerintahkan semua kebiadaban ini, iya kan ? “ cecar Om Hans. Nampak seulas senyum tersungging dibibir Om Franz, sungguh sangat menghina !

Selesai mengikat kami berempat, dan menyumpal mulut kami dengan kain, mereka lalu keluar dari lorong tanpa banyak kesulitan, meninggalkan kami didalamnya.

Aku berusaha keras untuk membebaskan diri dari ikatan, tapi mereka mengikatku terlalu erat. Sampai keringatku keluar, aku tak kunjung bisa membebaskan diriku. Padahal, segala cara untuk membebaskan diri dari ikatan seperti yang kulihat di filem sudah kulakukan, termasuk menggosok-gosokkan tanganku di bebatuan, yang ada malahku tanganku terasa perih, luka akibat tergores batu. Aku hampir putus asa ketika kudengar suara Arya berseru girang.

“ Akhirnya terbuka juga, ternyata jitu juga cara itu !! “ dia berhasil membebaskan dirinya dari ikatan bangsat-bangsat yang dipimpin Om Franz itu.

“ Bagaimana caramu melakukannya, Ya ? “ tanyaku heran. Sebab tak biasanya anak itu jadi pintar seperti ini.

“ Tadi waktu diikat, aku meletakkan tanganku sejajar, kan kalau tanganku kuputar dengan posisi berhadapan, ikatannya jadi longgar, iya kan ? “ benar juga kata anak itu.

“ Aku belajar dari sulap di televisi, “ jelasnya. Pantasan, kalau dia belajar dari buku, itu baru aneh. Sebab Arya dengan buku, seperti air dan minyak, tak bisa disatukan.

“ Ya....bebasin Mama dong... “ keluh Mama, semenjak tadi suaranya tidak terdengar, mungkin karena dia tengah ketakutan setengah mati.

Setelah membebaskan semua orang, kami langsung keluar dari dalam lorong. Rencananya, kita akan langsung ke rumah Annamaya, sebab hanya disitu kami bisa masuk dengan leluasa, lalu mencari Intipalla sesudah bertemu dengan gadis itu, untuk menjelaskan situasinya.

“ Kita akan berpencar, aku dan Arya, sedangkan Om Hans dengan Mama akan berjalan bersama ! “ perintahku seperti seorang pemimpin pasukan.

“ Kenapa harus seperti itu, Ning ? “ tanya Om Hans heran.

“ Kalau salah satu dari kita tertangkap, masih ada yang lain yang bisa pergi mencari Intipalla ke dalam Kota yang Hilang ! “ tuturku. Mereka mengangguk-angguk setuju, hanya Mama yang kelihatannya agak ragu-ragu.

“ Kamu yakin tidak akan ada apa-apa, Ning ? Mama cemas sekali, apa kita sebaiknya tetap bersama-sama saja... “ tawar Mama.

Aku menggelengkan kepalaku. Tetap bersama-sama itu artinya bila satu tertangkap, semua akan ikut ditawan. Lalu siapa yang akan pergi untuk memberitahukan pada Intipalla dan Annamaya tentang bahaya yang mengancam kota mereka ?

Segera setelah kami berpencar, aku langsung mengajak Arya untuk pergi ke rumah Annamaya, sambil berharap, mudah-mudahan saja gadis itu ada disana, agar kami bisa masuk kedalam Piramida tanpa dihalangi oleh para pengawal istana yang seram-seram itu.

Suasana dihalaman rumah Annamaya nampak sunyi-senyap. Mereka mungkin sedang beristirahatt siang didalam. Jadi kuputuskan untuk mengetuk pintu rumah besar itu.

“ Selamat siang, Aning “ begitu pintu dibuka, nampak sosok besar Om Franz berdiri diambang pintu berukir bunga mawar itu. Seketika aku tersadar, bahwa kini Annamaya dan Ibunya sudah menjadi tawanan jahanam-jahanam itu. Cepat sekali dia sudah berada disana.

“ Selamat datang, silahkan masuk. “ Ia menepi, sambil tersenyum mengejek.

Di dalam ruang tamu, nampak Annamaya dan Ibunya sudah diikat dikursi oleh anak buah koki gadungan itu.

Seperti dikomando, aku dan Arya langsung menghambur berlari kebawah, mencoba untuk menyelamatkan diri, agar tak jadi tawanan untuk kedua kalinya.

“ Cepat kejar mereka, jangan sampai lolos !! “ teriak Om Franz.

Saat aku menoleh sejenak kebelakang, nampak dua orang penggali sedang mengejar aku dan adikku. Gerakan mereka emang cepat, tapi aku dan Arya masih muda. Aku sendiri selalu menang setiap kali mengikuti lomba lari jarak pendek disekolah, dan Arya, dia itu hobi bermain sepakbola, dan sebagian besar waktu luangnya hanya dia habiskan untuk menekuni hobi-nya yang itu. Jadi, kalau soal berlari, kami memang lumayan. Benar saja, saat kami mendekati perkampungan yang padat, kedua penggali berbadan gempal itu berhenti, terengah-engah seperti orang yang hampir kehabisan nafas.

“ Rasain kalian !! makanya diet dulu sebelum mengejar kami, perut buncit gitu, mana bisa lari cepat !! “ ejek Arya sambil meleletkan lidahnya.

“ Sudah....ayo kita ke kuil sekarang, kita akan coba masuk meskipun tanpa Annamaya, “ dalam hati aku menyesali, hanya orang-orang tertentu disini yang bisa berbicara dengan bahasa Spanyol. Coba kalau semua penduduk bisa, aku kan sudah bisa bilang sama mereka, tentang bahaya yang akan mereka hadapi sebentar lagi.

Para penduduk banyak yang sudah mengenal kami. Disepanjang jalan menuju kuil, tak sedikit yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Kasihan, mereka tidak tahu bahwa kota mereka sedang terancam bahaya, oleh orang-orang rakus yang datang untuk merampas emas-emas yang banyak itu.

“ Wah, wah, wah.....ada dua gembel yang masuk lagi ke kotaku ! “ God ! aku tak ingin bertemu dengan dia saat ini. Rapalla keluar dari pintu kuil, tepat ketika aku dan Arya hendak masuk.

“ Mau apa kalian datang lagi kesini ? apa bros emas dari Ibu tiriku belum cukup ? “ rupanya dia tahu tentang bros pemberian Ratu itu.

“ Maafkan kami masuk lagi tanpa ijin ke kotamu, tapi kali ini kami hendak memberitahu, bahwa para penjahat yang sudah pernah kuperingatkan sebelumnya, sudah masuk ke kota ini. Aku dan adikku sempat ditawan mereka, tapi kami berhasil melarikan diri ! “ kuputuskan untuk tidak menghiraukan hinaan pemuda itu.

Sejenak Rapalla seperti terkejut. Mula-mula dia memandangku dan Arya tidak percaya, tetapi melihat kesungguhan dan mungkin juga rasa putus asa yang nampak di wajah kami berdua, tiba-tiba pemuda itu sikapnya melunak.

“ Jelaskan apa yang terjadi ! “ perintahnya. Aku lalu bercerita tentang semuanya, termasuk Annamaya yang kini ditawan dirumah mereka bersama dengan Ibunya.

“ Kalau begitu, kita harus masuk untuk memberitahukan ayahku ! “ ajak Rapalla. Kami bertiga bergegas masuk kedalam kuil untuk menuju Piramida.

Sapa Inca sedang berada diruang istirahatnya, saat kami tiba disana. Tanpa banyak basa-basi, Rapalla segera membawa kami berdua menghadap Ayahnya, yang tengah berbincang-bincang dengan Intipalla di ruangan itu, juga bersama Ratu.

“ Aning, aku senang sekali melihatmu lagi, apa kabar ? “ Intipalla menyongsong kami begitu dia melihat aku dan Arya serta Rapalla masuk.

“ Maafkan kami mengganggu anda, tetapi kami ingin menyampaikan sesuatu... “ aku membungkuk menghormat, Arya juga. Rapalla rupanya tak sabar, dia mengambil alih pembicaraan.

Dengan cepat dia menceritakan pada Ayahnya tentang para penjahat-penjahat yang menawan Annamaya dan Ibunya, juga semua yang sudah kuceritakan pada Rapalla. Intipalla bahkan sampai melonjak dari tempat duduknya, mendengar bahwa sepupunya ditawan.

Sapa Inca langsung tanggap, segera dia memanggil para pengawal istana, juga pemimpin pengawal yang berbicara dengan bahasa Spanyol padaku saat aku ditawan mereka. Suasana langsung berubah. Tadinya sunyi senyap, kini mulai riuh.

“ apa yang terjadi, Rapalla ? “ tanyaku bingung

“ Ayahku memerintahkan agar sebagian pengawal keluar dari Piramida, untuk mencari tahu apa yang terjadi diluar sana, sekaligus memerintahkan mereka semua agar bersiap untuk berperang. “ pemuda itu kelihatan risau.

“ Bagaimana dengan Annamaya dan Ibunya ? “ tanya Arya, dia juga kelihatan tak kalah risau dengan Rapalla.

“ Kita akan berusaha untuk membebaskan mereka. Aning, kamu harus tinggal disini, jangan keluar sampai kami menjemputmu ! “ Intipalla sudah berada disampingku. Dia mengerti ucapan Arya.

“ Tidak, aku tidak akan pernah tinggal disini, sementara kalian mempertaruhkan hidup diluar sana, aku akan ikut, dan tak seorangpun bisa melarangku. Ingat, aku bukan bangsa kalian, jadi kamu meskipun sebagai seorang anak Sapa Inca, kau tak berhak untuk memerintahku ! “ ucapku lugas.

Intipalla sejenak kelihatan ingin protes, tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya setuju meskipun terlihat benar berat baginya. Setelah pamit pada Ratu, kami berempat langsung keluar dari Piramida.

Apa yang menyambut kami diluar, ternyata jauh dari perkiraanku sebelumnya. Entah darimana datangnya, ada begitu banyak orang-orang asing, yang rupanya anak buah Om Franz. Sepertinya mereka adalah tentara, karena mereka mengenakan seragam tentara, lengkap dengan atributnya, dan juga membawa senjata api.

Jantungku berdebar keras, mereka seperti datang untuk berperang, dan aku yang membawa mereka kesini, seharusnya aku tak pernah kembali lagi ke tempat ini.

“ Kita akan memutari kota untuk pergi kerumah Annamaya, “ Rapalla memberi petunjuk, dan kakaknya kelihatan setuju. Sikap bermusuhan antara keduanya seperti yang kulihat saat pertama kali bertemu dengan Rapalla hilang tak berbekas.

Suasana kota sangat kacau. Para tentara-tentara itu banyak berkeliaran, tetapi anehnya, tidak terlihat satupun penduduk diluar rumah mereka.

“ Setiap rumah disini, memiliki terowongan dibawahnya, yang menuju ke bagian dalam kuil. Terowongan itu hanya bisa digunakan pada saat-saat seperti ini. Perkiraanku, para penduduk sekarang sudah menuju kedalam kuil, untuk masuk ke Piramida. “ Intipalla menjawab begitu kuungkapkan keherananku.

Perjalanan memutari kota seperti yang dikatakan oleh Rapalla, ternyata adalah perjalanan masuk keluar parit-parit yang mengelilingi kota, yang sepertinya juga merupakan drainase buatan, tempat mengalir seluruh limbah buangan kota, kecuali limbah toilet.

“ Aduh ! aku malu ketemu Annamaya dalam keadaan busuk begini, “ keluh Arya.

Aku tersenyum geli. Adikku itu seperti memang benar-benar menyukai gadis bermata hitam pekat yang kini adalah calon istri Intipalla. Perjalanan terhenti tepat dibelakang sebuah tembok batu tinggi, yang memiliki pintu kecil. Saat kutanya kenapa ada pintu disitu, kata Rapalla, itu adalah pintu yang digunakan untuk keluar jika harus membersihkan parit pembuangan itu. Katanya, semua rumah disana memiliki pintu-pintu seperti itu, jika rumahnya berdempetan dengan dinding yang membatasi kota dan parit.

Kelihatannya, pintu itu seperti tidak pernah digunakan, sebab hampir setengah jam Arya, Intipalla dan Rapalla mencoba untuk mendorongnya, tak juga berhasil. Kuamati pintu itu, kelihatannya biasa-biasa saja. Aha ! aku tahu ada yang salah.

“ Sini, kalian bertiga minggir, aku yang akan membuka pintu itu ! “ ketiga pemuda itu menatapku heran.

“ Kak, kami bertiga saja tak bisa mendorong pintu itu agar terbuka, dan Kak Aning dengan modal percaya diri bisa membukanya ? “ Arya mulai mengejekku.

“ Itu karena kalian bego, terutama kamu, Ya. Pintu ini jangan didorong, tapi ditarik. “ Kutarik gagang pintu yang berbentuk mawar emas itu, dan benar saja, pintu mulai membuka. Tiba-tiba saja, Rapalla dan Intipalla tertawa terpingkal-pingkal bersamaan.

“ Pintu sialan ! “ maki Rapalla sambil tertawa.

“ Tentu saja kita takkan berhasil membuka pintu ini, karena seharusnya pintu ditarik, bukan didorong seperti tadi, untung ada Aning.. “ Timpal Intipalla, disambut derai tawa kami semua.

Kami lalu masuk kedalam. Pintu itu rupanya terletak diruangan bawah tanah, yang sepertinya adalah tempat penyimpanan barang-barang. Ada banyak kursi-kursi dan meja seperti yang kulihat diruangan Intipalla.

“ Ini adalah ruangan bawah tanah rumah Annamaya. “ tutur Intipalla.

Rupanya Ibu Annamaya menyingkirkan kursi dan meja khas suku mereka untuk menaruh sofa dan meja modern yang kulihat saat berkunjung kerumah mereka. Aku jadi mengerti, kenapa mereka mengajak kami berjalan mengikuti parit yang busuk itu, karena ada jalan untuk masuk kerumah Annamaya dari situ.

Saat tengah naik, terdengar suara bentakan-bentakan orang diatas sana. Rupanya bajingan-bajingan itu masih berada dirumah Annamaya. Rapalla dan Intipalla sejenak berhenti, lalu mereka berdua memejamkan mata. Kupikir mereka tengah berdoa untuk keselamatan kami, tapi saat mereka berdua membuka mata, keduanya tersenyum.

“ Annamaya tahu, kita sekarang berada disini. Sekarang kita bisa berkomunikasi dengan dia lewat pikiranku dan Rapalla. “ Oh..ternyata mereka bicara lewat telepati. Segera kuberitahukan pada Arya tentang itu.

“ Apa kata Annamaya ? “ tanyaku

“ Dia bilang, ada banyak sekali orang yang masuk kedalam Kota yang Hilang, mungkin sekitar 100 orang atau bisa saja lebih. Dia takut sekali, karena mereka sudah membunuh semua pengawal dan juga pembantu-pembantu yang ada dirumahnya, “ cerita Intipalla cemas. Rapalla terlihat sangat marah, kedua alisnya bertaut menjadi satu, dan kelihatan semakin mirip dengan kakaknya.

“ Aku akan membunuh mereka, berani benar mereka masuk dan merusak kotaku ! “ geram pemuda itu.

“ Sstt...Annamaya mencoba untuk mengatakan sesuatu, aku harus konsentrasi karena ada banyak orang disana. “ Intipalla menutup matanya lagi, diikuti oleh Rapalla.

“ Ada sekitar 10 orang yang berjaga disana, tapi yang bernama Franz sudah pergi kebukit, katanya untuk menjemput temannya disana, dan astaga....Aning...kelihatannya Ibu kalian juga ikut ditawan mereka. “ Intipalla terlihat sangat tegang. Mendengar Mama ikut ditawan, aku jadi cemas sekali.

“ Ya Tuhan, aku hampir lupa dengan Mama dan Om Hans, kasihan mereka berdua, “ airmataku meleleh di pipi.

“ Aku bahkan sama sekali tak memikirkan mereka berdua. “

“ Ada apa, Kak ? “ Arya heran melihatku menangis. Aku segera mengatakan pada Arya, kalau Mama ditawan para penjahat. Wajah Arya berubah-ubah, antara marah dan takut.

“ Akan kubunuh si Franz ! “ geram Arya. “ Jika dia melukai Mama, aku takkan pernah memafkannya ! “ kelihatan benar bahwa dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu.

“ Bagaimana cara kita untuk menyelamatkan Annamaya dan yang lain, Inti ? “ aku mengharapkan sebuah jalan keluar dari pemuda itu.

“ Kita harus terus berkomunikasi dengan Annamaya, sebab hanya dia yang bisa menggambarkan keadaan disana, dan bisa membuat kita menyelamatkan mereka tanpa bertemu dengan para penjahat yang menawan mereka ! “. Intipalla mengernyitkan dahinya.

“ Ya Tuhan, ada yang berkhianat, kata Annamaya, ada salah seorang dari kami yang berkhianat, dia bekerja sama dengan para penjahat.... “ tutur Intipalla, wajahnya sepucat kertas.

“ Orang itu adalah salah seorang keluarga kerajaan, tapi Annamaya masih belum tahu identitasnya. “ tambah Rapalla. Mereka berdua yang berkomunikasi dengan Annamaya lewat telepati. Dalam hati aku menebak-nebak, siapa yang bisa berkhianat seperti itu ? Mengorbankan para penduduk untuk berkomplot dengan para penjahat.

“ Para wanita di Acllahuasi juga, mereka ikut ditawan, termasuk Ibuku... “ Rappalla seperti ingin menerjang pintu dihadapannya. Kasihan pemuda itu. Meskipun dulu dia selalu sinis pada kami, tapi sekarang dia jadi baik, mungkin karena keadaan, atau memang sebenarnya dia adalah orang baik.

Kami berempat terdiam, ada langkah-langkah kaki yang sepertinya mendekat. Kulihat Intipalla dan Rapalla menggenggam erat benda tajam yang berbentuk agak mirip sabit, tapi lebih lebar, yang tergantung di pinggang mereka. Aku tiba-tiba teringat sesuatu.

“ Inti, waktu pertama kali kita bertemu, bukankah kau membuat pacul di penggalian melayang, itu artinya, para Panaca bisa sihir, kan ? Kenapa kalian tak memukul mereka dengan sihir ? “ bisa kubayangkan betapa terkejutnya para penjahat itu, bila suku Inca beraksi dengan sihir mereka.

Aku berharap, bukan pacul yang akan dibikin melayang oleh Intipalla, tapi sebuah batu besar yang dijatuhkan diatas kepala Om Franz sialan itu. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers