Popular posts

nsikome On 09 Agustus 2011

Telat lagi sehari...kayaknya susah banget untuk bisa on day ya? (bukan on time)...Tapi, yg penting kan episode barunya tetap di upload, iya kan?. Nah, buat yg protes2...selamat menikmati aja...


THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 11


“ Tidak semua orang bisa melakukannya. Aku dan Rapalla bisa melakukannya, tetapi kekuatan kamipun hanya sebatas mengangkat benda-benda tanpa memakai tangan, tapi juga bukan benda-benda besar, kami belum sampai pada tahap itu.. “ suara Intipalla merendah, suara-suara kaki itu semakin mendekat.

“ Sialan ni anak, kalau mau buang air besar, kira-kira dong, bikin repot orang saja ! “ kukenal suara itu, itu kan suara Diego, salah seorang pengawas para penggali di perkemahan.

“ Sssttt.....kita akan keluar untuk menyerang, tunggu aba-aba dari Annamaya, mereka akan lewat didepan pintu ini. “ Rapalla dan kakaknya mencabut senjata mereka, dan seperti dikomando, mereka langsung menerjang keluar.

Satu hal yang kutahu adalah, aku mendengar suara jeritan yang tertahan, dan kemudian kesunyian yang tak wajar. Pemandangan yang menungguku diluar membuatku langsung mual. Diego kini hanya tinggal nama, dia sudah tewas dengan leher yang hampir putus.

Kulihat senjata Intipalla yang berdarah, rupanya dia yang membunuh Diego. Aku seperti tersadar, ternyata dibalik kelembutannya, Intipalla tetaplah seorang Panaca, yang tidak takut untuk membunuh dengan sadis semua musuh-musuhnya.

“ Aning....Kamu tidak apa-apa ? “ Intipalla rupanya khawatir melihatku. Aku menggeleng, kini bukan saatnya untuk sakit.

“ Annamaya....aku senang kamu selamat ! “ aku senang sekali melihat gadis itu. Dia lalu memelukku. Lalu Arya.

“ Mereka menawan Ibuku, sekarang dia sudah dibawa ke Acllahuasi bersama dengan perempuan-perempuan yang tinggal disana. “ Annamaya menjelaskan situasi yang terjadi. Ada yang aneh pada ceritanya.

“ Kenapa mereka membawa Ibumu ke Acllahuasi, dan kamu tetap ditahan dirumahmu ? “

“ Mereka menunggu kalian semua. Rupanya orang yang berkhianat itu telah memberitahukan pada para penjahat, bahwa kita bersahabat, dan kalian pasti akan datang kesini untuk membebaskan aku. Apalagi, mereka sudah melihat kalian berdua datang kesini tadi, kan ?! “ Rupanya begitu, pantas mereka tidak membawa Annamaya kesana.

“ Inti, sekarang apa yang akan kita lakukan ? “ Annamaya sudah bebas, sekarang sepertinya saat untuk melakukan hal yang lain, dan satu-satunya hal yang paling kuinginkan adalah membebaskan Mama dari para penjahat-penjahat itu.

“ Kita harus kembali kedalam Piramida, sebab bila ternyata benar ada pengkhianat diantara keluarga kerajaan, para penjahat itu bisa masuk kesana ! “ kata Intipalla muram.

Sebenarnya aku kurang setuju dengan rencana itu, aku ingin segera membebaskan Mama.

“ Tapi bagaimana dengan yang lainnya ? bukankah kita harus membebaskan mereka ? “ aku takut Mama akan disakiti.

“ Intipalla benar, Aning. Kita harus kembali kedalam Piramida, sebab kita harus melindungi semua yang ada didalamnya. Aku berjanji, kami pasti akan menyelamatkan Ibumu, dan semua yang ditawan bangsat-bangsat itu ! “ cetus Rapalla sungguh-sungguh.

Setelah Intipalla keluar dan memastikan bahwa keadaan diluar aman, kami berlima langsung masuk kedalam parit yang tadi kami lewati, untuk kembali lagi kedalam Piramida. Diluar sana keadaan seperti semakin tak terkendali. Kami tidak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi, tapi bunyi dentingan seperti bunyi benda-benda yang terbuat dari besi beradu, cukup membuat kami sadar bahwa apapun yang terjadi diluar sana, itu bukanlah hal yang baik.

Sesekali, Rapalla dan Intipalla berbicara dalam bahasa mereka satu dengan yang lainnya. Kupikir, mungkin mereka berbicara tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Saat mendekati bagian samping Kuil, tempat kami masuk kedalam parit tadi, pemandangan yang ada di bagian depan kuil sangatlah tidak kami bayangkan sebelumnya.

Ada tentara dimana-mana, dan sepertinya mereka tengah berusaha untuk masuk kedalam kuil, tetapi dihalangi oleh para pengawal, dan sekarang, mereka terlibat pertempuran yang sangat seru. Bunyi denting pedang yang beradu, dan desiran anak panah yang terpental secepat kilat dari busurnya serta bunyi rentetan letusan senjata api bercampur baur jadi satu.

Jarak yang tidak terlalu jauh antara mereka dan tempat kami bersembunyi, membuat aku bisa melihat dengan jelas, apa yang tengah terjadi. Rasa geram seketika muncul dalam hatiku, saat kulihat Franz, berjalan menaiki tangga kuil, diikuti oleh dua orang anak buahnya.

“ Mana Rafles dan Hugo ? bukankah mereka kuperintahkan untuk mencari anak-anak sialan yang lari itu ?! “ teriak Franz, dia kelihatan sangat gusar. Aku tahu, bahwa yang dia maksudkan adalah kami. Kedua anak buahnya itu kelihatan mengkerut. Mereka hanya menunduk tanpa mengucapkan apa-apa.

“ Kalian punya mulut tidak ! Mana kedua orang bodoh itu ?! “

“ Kami tidak tahu, Pak. Mungkin bersama dengan Bos, sebab tadi kami dengar Bos memanggil mereka berdua, “ jawab salah satu anak buahnya yang berambut kribo basah takut-takut.

“ Apa kalian tidak sadar, bahwa anak-anak sialan itu bisa mengakibatkan kesulitan bagi kita ? “

Kali ini jelas terlihat Om Franz sudah marah sekali. Wajahnya yang putih, terlihat merah padam.

“ Kalian cari mereka sampai ketemu, kalau tidak, aku akan memotong kedua tangan kalian yang tak berguna itu !! “ Ihh....Sadis juga tu orang, masak tangan anak buahnya mau dipotong ? Kalau anak buahnya saja bisa dia perlakukan dengan sadis, bagaimana dengan para tawanan ?. Tak urung hatiku berdebar-debar ketakutan.

“ Darimana mereka membawa semua pasukan itu ? “ Arya keheranan, dan tak cuma dia. Seketika, seperti ada sebuah lampu yang menyala didalam otakku, semuanya tiba-tiba menjadi jelas.

“ Tuhan.....mereka sudah mempersiapkan semua ini sejak lama... “ aku hampir tak mampu berkata-kata. Aku dan Arya yang salah, selama ini mereka diam-diam mengikuti kami, dan mereka tidak langsung masuk begitu saja kedalam Kota Yang Hilang, karena mereka tengah mempersiapkan sebuah invasi besar-besaran. Aku dan adikku yang membawa mereka kedalam kota ini. Rasa menyesal mengalir seperti sebuah gelombang besar dalam hatiku.

“ Apa yang akan kita lakukan sekarang, Inti ? “ kutatap pemuda itu, dia kelihatannya seperti shock melihat apa yang tengah terjadi dihadapan kami berlima.

“ Kita harus bisa masuk kedalam Piramida, untuk melihat apa yang terjadi disana, dan kupikir sebaiknya kita berpencar, sebab lima orang yang bersama-sama itu terlalu banyak, dan bisa membuat kita kelihatan dengan mudah ! “ rupanya shock yang terlihat diwajahnya, tidak berpengaruh pada otaknya seperti kebanyakan orang. Aku semakin kagum padanya.

“ Aning, kau harus bersama dengan Rapalla, Arya dan Annamaya ! “ perintah Intipalla, yang seketika membuatku cemas.

“ Bagaimana denganmu, Inti ? “ tanyaku khawatir.

“ Aku akan mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka dari depan kuil, sementara kalian harus cepat masuk kedalam, begitu aku berhasil ! “ terlihat jelas sifat kepemimpinan yang alami pada diri Intipalla, tapi itu malah membuatku semakin takut. Kulihat, Rapalla juga terlihat cemas. Tetapi saat dia mengucapkan sesuatu dengan wajah terlihat khawatir pada kakaknya, Intipalla hanya menggeleng, lalu memeluk adik lain Ibunya itu, dan menghilang kembali ke dalam parit.

Suasana menjadi lebih tegang, karena sekarang , kami harus menunggu sesuatu yang tak pasti, dan kami tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Intipalla agar kami bisa masuk kedalam kuil. Hal yang paling menyebalkan adalah, kami harus menunggu entah berapa lama, tanpa tahu apa yang akan terjadi, dan selanjutnya harus mengandalkan feeling saja untuk masuk kedalam kuil pada waktu yang tepat.

Suasana tiba-tiba menjadi semakin hiruk-pikuk didepan kuil, refleks kami langsung melongok untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi, dan diseberang jalan, tepat didepan tembok pembatas, Intipalla tengah bertarung mati-matian dengan para prajurit sewaan Franz dan gerombolan jahatnya itu.

Dengan gagah perkasa, pemuda itu melawan para prajurit yang mengeroyoknya. Dia rupanya berhasil membuat mereka kalang kabut, sebab meskipun mereka banyak, tak satupun dari mereka yang berhasil menyentuh tubuh Intipalla. Sambil mengayunkan pedangnya, sesekali nampak batu-batu sebesar kepalan tangan bayi melayang diudara, lalu menghantam jidat para lawannya. Intipalla menggunakan ilmu sihir.

Melihat kawan-kawan mereka kewalahan, para prajurit yang lain segera bergegas membantu untuk mengeroyok Intipalla, sehingga pintu kuil sekarang kosong, tak ada seorangpun dari para penjahat yang berjaga disitu.

“ Kita masuk sekarang !! “ seruku, lalu mulai mengendap-endap menuju ke arah pintu kuil, diikuti oleh Rappalla, Arya dan Annamaya. Setelah berhasil masuk, tanpa dikomando kami berlari menuju altar, untuk masuk kedalam Piramida, tetapi, tanpa diduga, Rappalla berbalik kembali dan berlari kearah pintu kuil.

“ Kalian masuk saja kedalam, aku akan bertempur bersama Intipalla !!.... “ teriak pemuda itu. Rupanya dia tak ingin meninggalkan kakaknyamerlawan para penjahat sendirian diluar sana.

Saat kami memasuki piramida, sudah ada banyak penduduk disana, dan sebagian besar memandangi aku dan Arya seakan-akan kami berdua adalah wabah penyakit yang pantas untuk diberantas habis.

“ Kak, muka aku ada arangnya, ya ? “ tanya Arya sambil menusap-usap hidungnya.

“ Kenapa memangnya ?! “ aneh juga pertanyaan anak itu

“ Kenapa mereka menatap aku seperti itu, ya ? “

“ Itu karena, mereka menganggap kita berdua yang menyebabkan kerusuhan ini terjadi ! “

“ Mereka itu bodoh ya ? jelas-jelas kita bukan musuh, dan ada dipihak mereka, dan yang menyebabkan kerusuhan orang-orangnya Franz, kan ? “ kumat lagi penyakit bego anak itu.

Aku tak ingin berdebat kusir dengan adikku itu, jadi aku hanya mengangguk-anggukkan kepala saja, ikut-ikutan bego dengan dia.

“ Aning, kita dipanggil Sapa Inca dan Ratu ! “ Annamaya baru saja bicara dengan salah seorang pengawal.

“ Kita sudah ditunggu sejak tadi, “ tambah gadis itu berbisik, dan entah mengapa membuatku tiba-tiba jadi cemas. Jelas sekali terlihat bahwa Annamaya takut.

BAB XIV

Kami segera menyusuri lorong terang yang dipenuhi patung-patung emas besar, menuju ke ruangan tahta. Suasana didalam ruangan tahta nampak tegang. Kalau biasanya semua harus berganti pakaian adat mereka saat hendak masuk menghadap Sapa Inca, kini keadaan tersebut seperti tidak berlaku.

Bahkan Ratu tidak memakai jubah bertabur permatanya, dan hanya memakai baju seperti yang dipakai oleh Annamaya dan para perempuan di Acllahuasi sehari-hari. Dia bahkan terlihat terburu-buru saat pergi ke ruangan tahta, sebab dia bahkan lupa untuk memakai mahkota beratnya itu. Segera kami menghormat pada Sapa Inca dan Ratu. Nampak para tetua suku dan pembesar kerajaan juga sudah berada didalam situ.

“ Aning, saya senang melihat kalian sudah berada disini, dan dalam keadaan baik-baik saja ! “ suara Sapa Inca terdengar kontras dengan apa yang dia ucapkan. Aku jadi takut.

“ Terus terang saya marah, karena sekarang keberadaan kami sudah terbuka pada dunia luar, dan itu karena salah kalian berdua, yang tidak hati-hati !! “ benar juga perkiraanku, Sapa Inca marah pada aku dan Arya. Aku tidak menyalahkan dia, karena memang pada kenyataannya, aku dan adikkulah yang membuat para penjahat-penjahat itu bisa masuk kedalam Kota yang Hilang.

“ Maafkan aku dan adikku, Yang Mulia. Kami tidak bermaksud untuk menyebabkan kota ini berada dalam bahaya. Kami sendiri sudah memsatikan bahwa tak ada orang-orang yang mengikuti kami saat masuk kedalam sini... “ kucoba untuk membela diri, meskipun aku agak pesimis, namun apa salahnya dicoba ?. Mungkin sewaktu pertama kali masuk tadi, Sapa Inca masih belum tahu bahwa keadaan diluar sana benar-benar gawat, sehingga dia tidak memarahi kami.

“ Sudahlah ! Sekarang saya hanya ingin tahu, siapa yang menjadi biang kerok semua ini, dia akan mendapatkan ganjaran atas perbuatannya mengganggu ketenangan kami !! “ ketus suara ayah Intipalla terdengar.

Aku lalu menceritakan padanya tentang Franz, koki di perkemahan yang ternyata adalah penjahat, dan juga Erold, yang adalah bos besar mereka.

“ Kalian bisa keluar dari ruangan ini, dan bebas untuk melakukan apapun yang kalian inginkan, dan keselamatan kalian bukan menjadi tanggung jawab kami mulai dari sekarang, sementara kami akan berperang melawan para penjahat itu, dan semoga saja Yang Mahakuasa Inti* menyertai perjuangan kami !! “ Sapa Inca memberi isyarat dengan tangannya menyuruh kami keluar dari ruangan tahta.

“ Aku takut sekali tadi, Aning. Kupikir Sapa Inca akan marah lalu menghukum kalian... “ suara Annamaya lirih terdengar disela-sela hiruk pikuk prajurit yang lalu lalang, mempersiapkan diri untuk keluar dan bertempur bersama dengan yang lain diluar sana.

“ Aku juga, Anna. Tapi aku sekarang lebih mencemaskan keadaan Rapalla dan Intipalla diluar sana. Aku takut terjadi apa-apa pada mereka berdua, “ entah mengapa pikiranku seperti melekat pada kedua pemuda kakak beradik itu.

Mereka berdua tengah bertempur mati-matian, dengan keadaan yang tidak seimbang, dimana pasukannya Franz sangat banyak, ditambah lagi dengan peralatan moderen yang dimiliki oleh para penjahat, aku jadi makin pesimis. Semoga saja, kemampuan sihir yang mereka miliki bisa membantu mereka berdua, doaku dalam hati.

“ Kak, mungkin kita sekarang harus keluar, dan mencoba untuk menyelamatkan Mama serta Ibu Annamaya dan semua orang yang ada di Acllahuasi ! “ Arya yang sedari tadi diam tak bersuara, berkomentar membuatku kaget. Jujur, ide itu sudah sempat singgah di otakku, tapi aku masih ragu dan takut.

“ Apa kata Arya ? “ tanya Annamaya ingin tahu. Segera kukatakan apa yang Arya ucapkan, gadis itu tersentak kaget.

“ Tapi diluar ada begitu banyak pasukan musuh, bagaimana kita bisa menuju kesana ? Bisa-bisa kita terbunuh nanti !! “ seru Annamaya. Jelas sekali dia ketakutan mendengar ide Arya.

“ Andai saja ada jalan masuk yang bisa membuat kita kesana tanpa ketahuan.... “

“ Sebenarnya ada, tapi itu berbahaya, sebab mereka pasti masih berada disana ! “

“ Dimana jalan itu, Anna ? “

“ Dirumahku, “ jawab Annamaya pendek. Aku langsung menemukan caranya.

“ Kita akan masuk dari sana !! “ putusku tegas. Annamaya mengernyitkan keningnya heran.

“ Tapi bagaimana dengan para penjahat yang ada dirumahku ? “

“ Anna, sewaktu kamu ditawan disana, hanya kamu yang ditawan, kan ? “ tanyaku. Gadis itu mengangguk tak bersuara.

“ Itu artinya, ketika kamu berhasil membebaskan diri, tak ada lagi yang harus mereka lakukan disitu, iya kan ? dan itu artinya, rumah kamu sekarang kosong, sebab para penjahat itu sudah pasti pergi ke Acllahuasi, atau bertempur melawan para prajurit kalian dan juga penduduk !! “

Gadis itu mengangguk-angguk mengerti.

Arya menatap kami bingung, aku lalu menjelaskan apa yang akan kami lakukan, dan tanpa banyak bicara, dia langsung setuju. Terlihat benar tekad besar anak itu untuk menyelamatkan Mama dan semua perempuan lain yang berada di Acllahuasi.

Kesibukan luar biasa didalam Piramida, membuat orang-orang tidak begitu memperhatikan kami bertiga. Mungkin juga karena Intipalla tidak bersama dengan kami. Cepat-cepat, aku Annamaya dan Arya menyelinap diantara kesibukan itu, dan keluar dari Piramida.

Saat keluar dari bawah altar, kami bertiga dikagetkan oleh teriakan salah seorang dari gerombolan penjahat. Ternyata dia sedang berada diruangan altar, sementara menjarah barang-barang yang bisa dia ambil disitu.

“ Hoi !!! aku menemukan mereka !! “ teriak laki-laki yang tidak kukenal itu. Tapi, teriakannya langsung terhenti, karena tiba-tiba saja dia jatuh terjerembab entah pingsan atau mati. Dibelakangnya Arya berdiri dengan pemukul gong sebesar tongkat pemukul bisbol. Pasti kepala orang itu sakit sekali.

“ Ini boleh kubawa, Kak ? “ tanya Arya. Aku langsung mengangguk. Anak itu memang sukar untuk ditebak, tapi setidaknya dia yang menyelamatkan kami kali ini.

Setelah menyingkirkan tubuh laki-laki itu dengan menggulingkannya ke bawah altar, agar ditemukan oleh prajurit-prajurit Sapa Inca dalam Piramida, kami bertiga mengendap-endap keluar dari kuil, untuk masuk lagi kedalam parit.

Pertempuran diluar semakin seru, karena entah mereka mengambil darimana, para prajurit-prajurit Sapa Inca tidak lagi bertempur dengan alat-alat perang tradisional mereka, tetapi memakai senjata-senjata modern. Aku jadi heran, apalagi melihat mereka sepertinya terlatih menggunakan senjata-senjata tersebut.

Kucoba untuk mencari sosok Intipalla dan Rappalla, tapi aku tak menemukan mereka, membuatku jadi khawatir sekali.

“ Mereka berdua ada dimana, ya ? “ ternyata Annamaya merasakan hal yang sama denganku.

“ Mereka berdua pasti baik-baik saja, sekarang kita harus masuk kedalam parit ! “ aku tak ingin berpikir macam-macam tentang kedua pemuda itu, apalagi sampai berpikir bahwa mereka terluka atau lebih parah lagi, mati.

Beruntung bagi kami, jalan masuk kedalam parit tak dijaga oleh siapapun juga. Lagipula, siapa juga yang akan menjaga selokan ?. Hal itu memudahkan kami untuk masuk dengan cepat.

Begitu sampai didepan pintu yang menghubungkan antara parit dengan ruang bawah tanah rumah Annamaya, gadis itu berdiam sejenak, lalu dia berkata,

“ Kita bisa masuk, tidak ada orang didalam ! “ enak juga punya teman yang bisa membaca pikiran orang. Bergegas kami bertiga langsung masuk ke dalam ruang bawah tanah itu.

“ Anna, kamu selalu bisa membaca pikiran orang, ya ? “ tanyaku ingin tahu. Kami bertiga tengah menaiki tangga untuk masuk ke bagian dalam rumah gadis itu. Bau anyir tercium seketika, begitu kami mendekati pintu, aku hampir lupa.

Ada Diego yang malang disana, sekarang terbaring kaku. Untung saja, mukanya tertutup dengan sehelai kain, mungkin Intipalla yang melakukannya. Meski begitu, tak urung bulu kudukku jadi merinding.

“ Bisa semua, bisa juga tidak. “ Annamaya membuka pintu itu perlahan.

“ Maksud kamu apa ? “

“ Kalau kalian, kami bisa membaca pikiran dengan mudah, karena kalian tidak tahu bagaimana cara menutup pikiran kalian. Tapi bagi orang yang tahu, kami tidak bisa membaca pikirannya. “ Jelas gadis itu, makin membuat aku penasaran.

“ Memangnya pikiran kita bisa ditutup ? “

“ Ya. Pikiran manusia itu seperti pintu, bisa dibuka atau ditutup. “

“ Bagimana caranya ? “ aku jadi ingin tahu, sebab tak enak rasanya pikiran kita diketahui oleh orang lain.

“ Dengan cara berkonsentrasi memikirkan hal lain, seperti seekor anjing misalnya, maka yang akan muncul pada si pembaca pikiran adalah seekor anjing yang ada dalam pikiran itu “ Aneh juga, tapi sesuatu yang layak dicoba.

Suasana terlihat lengang di dalam rumah Annamaya. Ternyata perkiraanku benar, para penjahat sudah meninggalkan rumah gadis itu. Rumah yang tadinya teratur rapi, kini nampak porak-poranda, seperti baru saja dilewati badai. Sofa-sofa modern favorit Ibu Annamaya, terjungkir balik, dan bahkan ada yang robek tersayat. Kasihan Ibunya, pasti dia akan sangat sedih melihat barang yang susah-susah dia bawa dari dunia luar, dirusak dengan semena-mena.

“ Anna, ada ruangan apa dibalik pintu ini ? “ Arya menunjuk sebuah pintu yang bentuknya agak aneh. Ada sebuah oktagonal dari emas yang sepertinya ditempek pada bagian depan pintu tersebut.

“ Itu ruangan percobaan Ibuku, dia suka sekali melakukan hal-hal yang aneh. “ Aku tak heran mendengar kata-kata Annamaya. Ibunya memang paling berbeda jika dibandingkan dengan semua orang yang ada di tempat ini.

“ Aku boleh melihatnya ? “ rasa ingin tahuku muncul lagi. Gadis itu tersenyum.

“ Tentu saja kita semua akan masuk kedalam situ, karena pintu yang menghubungkan Acllahuasi dengan rumah ini letaknya didalam situ ! “

Bau pengap bercampur basah langsung menyengat hidung begitu pintu itu terbuka. Cahaya matahari samar-samar memancar masuk lewat jendela kecil diseberang pintu, membuatku bisa melihat isi ruangan yang kata Annamaya adalah ruangan percobaan Ibunya itu.

Ada berbagai botol dalam berbagai model dan ukuran disana, berisi cairan-cairan dengan berbagai warna.

“ Ini ruang percobaan untuk apa, sih ? “ rasanya aneh bila membayangkan Ibu Annamaya membuat percobaan kimia ditempat yang orang-orangnya bahkan tidak pernah melihat mobil itu bentuknya seperti apa.

“ Aku sendiri tidak tahu. “ gadis itu mengangkat kedua bahunya. “ Tapi, yang pasti, pernah suatu hari, ada bunyi keras dari dalam ruangan ini, dan Ibuku keluar dengan seluruh wajah berlepotan arang, aku masih sering tertawa jika mengingat kejadian itu ! “ lanjut Annamaya sambil tertawa geli.

Aku mengerti sekarang, rupanya Ibu Annamaya memang membuat penelitian, dan ruangan ini adalah laboratoriumnya. Aku berani bertaruh, pasti semua berasal dari buku-buku yang sering dia minta dibawakan pada para pengintai yang turun gunung setiap enam bulan sekali itu.

“ Kak, jus strawberry Ibu Annamaya enak sekali, coba deh ! “ Arya mengangsurkan sebuah botol transparan, yang berisi cairan merah dan sekilas memang mirip dengan sirop strawberry.

“ Ya Tuhan.... kamu ini memang keterlaluan, itu bisa saja racun, Arya !! “ lama-lama, aku jadi ingin menyingkirkan anak itu, kerjanya selalu membuat orang panik.

“ Ini memang jus strawberry, lihat saja sendiri ! “ Arya mengangsurkan botol itu, yang segera kucium isinya untuk memastikan. Memang benar, baunya seperti sirop strawberry. Aku berpaling pada Annamaya, tetapi gadis itu berdiri kaku dengan wajah pucat. Aku tak mengerti kenapa.

“ Kamu baik-baik saja, Anna ? “ tanyaku khawatir. Gadis itu menggeleng kuat-kuat.

“ Aning, cairan itu.... itu bukan jus.. “ tunjuk Annamaya pada label yang menempel di botol.

“ Memangnya ini apa ? “

“ Itu sari Curare, yang dicampur dengan buah strawberry, mungkin untuk membunuh orang, tapi agar tak curiga, dibuat mirip dengan jus Strawberry.... “ kata-kata Annamaya membuat engsel di kedua lututku seperti copot. Ya Tuhan... aku jadi ingat kata Mama. Curare, itu kan tumbuhan beracun, yang bisa membunuh manusia hanya dalam hitungan menit saja ?.

“ Arya... kamu tidak apa-apa ? “ tanyaku. Arya menatapku heran, tapi sedetik kemudian, dia memegang kepalanya, dan langsung terjatuh seperti batang pohon ke lantai.

“ Arya !!!!!......... “ aku dan Annamaya berteriak berbarengan.

“ Arya.... kamu jangan mati, nanti Kak Aning harus bilang apa sama Mama dan Papa ? “ tangisku. Adikku kini terbaring lemah dilantai.

“ Kenapa kamu selalu ceroboh seperti itu ? “ Aku menyalahkan diriku sendiri, yang tak mampu untuk menjaga adikku. Sekarang, aku menyesal pernah berpikir untuk menyingkirkan adikku itu, hanya karena dia kadang bego-nya keterlaluan.

“ Kak, ada banyak bintang-bintang.... “ suara Arya seperti orang mengeluh, dia terlihat seperti tengah menahan sakit. Aku langsung panik seketika, dan tak bisa lagi menahan airmataku.

“ Kamu jangan mati dulu, Ya. Maafkan kakak karena sering mengataimu orang goblok, tapi kamu tahu itu tak datang dari dalam hati kakak, iya kan ? “

Arya tertawa lemah. Tapi sedetik kemudian kepalanya terkulai lemas.

“ Aryaaaaaaaaa !!.... “ suara jeritan Annamaya melengking tajam tepat disampingku. Aku sendiri sukar untuk melukiskan bagaimana perasaanku sekarang, melihat Arya terbujur dihadapanku. Segera kutekan pembuluh nadi dilehernya, masih ada denyutan disana, meskipun sangat lemah, dan hampir tak terasa sama sekali. Adikku masih hidup.

“ Kita harus segera mencari bantuan, Anna !! “ ujarku tegas.

Annamaya hanya tak menjawab. Dia hanya terisak-isak sambil menggenggam erat kedua tangan Arya.

“ Anna, kita tidak bisa hanya diam disini saja, kita harus mencari orang untuk menyelamatkan adikku ! “ gadis itu tersentak. Dia lalu menatapku penuh arti.

“ Kita harus ke Acllahuasi sekarang ! “ gadis itu berdiri.

“ Kita harus kembali kedalam Piramida, untuk mencari bantuan disana, kan di Acllahuasi hanya ada para penjahat ? “ aku tak mengerti dengan maksud Annamaya.

“ Kita harus masuk kedalam Acllahuasi, karena hanya Ibuku yang bisa menyelamatkan Arya, hanya dia yang bisa memberikan obat penawar racun yang diminum Arya tadi ! “ jelas gadis itu lugas. Aku jadi mengerti sekarang, tapi masalahnya adalah, para penjahat sudah menguasai Acllahuasi, dan menawan semua perempuan bangsawan disana. Bagaimana kami bisa masuk kedalam sana ?.

“ Bagaimanapun caranya, kita harus mencari cara agar bisa masuk kedalam Acllahuasi, Aning. Aku tak ingin Arya mati “ airmata merebak di kedua mata hitam kelam gadis itu. Aku baru benar-benar sadar, kalau Arya punya arti yang sangat besar bagi Annamaya.

Kuanggukkan kepalaku, menyetujui rencana gila gadis itu.

“ Bagus, sekarang, kita harus pergi kesana, setelah membawa Arya kekamarku ! “ ucap Annamaya tegas.

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Mantap banget ceritanya Gan!!! keren abis...jadi penasaran dan pengen tau endingnya apa..

    BalasHapus
  2. Thank's Danu, silahkan di tunggu Episode-episode selanjutnya, sampai ke endingnya, tentu saja...

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers