Popular posts

nsikome On 21 Agustus 2011

Seminggu tanpa posting episode baru.....maaf buat yg nunggu ya, yg ngirim e-mail juga maaf gak kebales satu persatu, soalnya aku lagi "tight" banget waktunya...Banyak hal yg terjadi, sepupuku ku "Oldy Pinontoan" meninggal, aku jatuh sakit, sibuk kerjaan...wuiiiihhh...pokoknya...Aku juga mau dedikasikan cerita ini buat Oldy "Ebo" Pinontoan, RIP ya Bro....God be with you, you are a good brother and friend, we all love you so much, but God loves you more...Buat yg sudah nunggu2, nih..episode ke 12 "The Lost City" Hope you'll like it!!

THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 12


Suara dari kejauhan yang terdengar hingga kerumah Annamaya masih saja sama sejak tadi. Suara rentetan peluru dan jeritan-jeritan orang-orang yang tengah berperang. Aku jadi lebih khawatir, apalagi ketika memikirkan tentang Intipalla dan Rapalla yang tengah bertempur diluar sana, dan tak tahu apa yang terjadi pada kedua pemuda itu.

Dalam hatiku, aku tak henti-hentinya menyalahkan diri, karena jika bukan karena aku, para bandit-bandit itu tak akan pernah menemukan Kota Yang Hilang. Tetapi aku tahu, tak ada yang perlu disesali, karena semua penyesalan itu tak ada gunanya. Prioritasku saat ini adalah bagaimana caraku agar bisa menyelamatkan Arya.

“ Aning, kita akan ke Acllahuasi lewat jalan yang menghubungkan rumahku dengan Acllahuasi. Pada saat rumah ini dibangun, Ibuku sengaja membuat jalan yang menghubungkan rumah kami dengan Acllahuasi, agar-dia tidak perlu memutari perkampungan untuk pergi ke Acllahuasi. “

“ Kalau begitu, sebaiknya kita pergi sekarang ! “ ajakku tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Arya. Bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya ? Apa yang harus aku katakan pada Mama dan Papa ?. Tak urung semua pemikiran itu membuat getir hatiku.

Annamaya menganggukkan kepalanya, dan tanpa bicara, dia mengisyaratkan aku untuk mengikutinya. Gadis itu masuk kedalam sebuah bangunan kecil, yang sepintas kelihatan seperti kamar kecil.

Ternyata bangunan kecil itu adalah tempat alat-alat perkebunan. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan oleh Annamaya dengan semua alat-alat itu. Sebab, jika semua itu akan kami gunakan sebagai senjata melawan musuh, sudah pasti kami kalah. Pacul melawan M15 ? Yang benar saja !.

Suara gemuruh mengagetkan aku. Entah apa yang dilakukan oleh Annamaya, tiba-tiba saja rak berisi pot-pot dan kantung-kantung plastik yang entah apa isinya bergeser kesamping, menampakkan sebuah lubang setinggi pinggang. Jalan masuk ke Acllahuasi.

Orang-orang ditempat ini memang penuh kejutan. Saat aku berpikir bahwa mereka masih hidup seperti jaman sebelum masehi, Ibu Annamaya mengagetkan aku dengan pesawat telepon dan mebel modern dirumahnya. Ketika aku berpikir mereka berperang memakai tombak, para pengawal Sapa Inca muncul dengan senapan otomatis dan terlihat jelas bahwa mereka sangat terlatih dalam memakai benda itu.

“ Ayo ! apa yang kamu tunggu, Ning ? “ ternyata gadis itu sudah masuk lebih dahulu kedalam lubang. Aku tersentak dari lamunanku, lalu mengikuti Annamaya kedalam lubang.

Setelah berjalan jongkok selama beberapa menit yang membuat paha dan betisku berdenyut sakit, kami sampai di ujung lubang. Annamaya langsung naik melalui anak-anak tangga yang ternyata berujung pada sebuah pintu atau jendela kayu, aku tak tahu apa itu tepatnya, karena tempatnya tepat diatas kepala kami.

Annamaya berhenti sejenak diujung tangga, lalu memejamkan matanya sejenak.

“ Kita bisa naik, tak ada orang disekitar sini ! “ tukasnya, sambil membuka gagang pintu berbentuk mawar emas.

Aku dan Annamaya berada disebuah taman, yang terlihat tak terurus. Ada banyak rumput liar dan ilalang yang bertumbuh disana-sini, disela-sela semak-semak mawar salvation yang kutahu pasti jenisnya sangat langka.

“ Kita sekarang berada dimana, Anna ? “ tanyaku berbisik.

“ Sekarang, kita berada di bekas taman bermain anak-anak. Jika anak-anak datang berkunjung ke Acllahuasi, dulunya mereka biasa bermain disini. Tapi, karena letaknya jauh dari rumah induk, Sapa Inca memerintahkan untuk menutup taman ini, dan memindahkan semua peralatan bermain ke taman disamping rumah induk Acllahuasi. Dia takut, saat bermain, anak-anak bisa lepas dari pengawasan Ibu-Ibu mereka. “

Terlihat benar, mereka sangat melindungi anak-anak kecil ditempat ini. Mungkin juga disebabkan oleh sedikitnya anak-anak kecil di Kota Yang Hilang.

“ Jadi tempat ini tak pernah lagi dikunjungi orang ? “ kalau tebakanku benar, berarti resiko ketahuan kalau aku dan Annamaya sudah masuk ke kompleks Acllahuasi sangat kecil.

Annamaya menganggukkan kepalanya. Aku langsung merasa lebih tenang. Hal berikutnya adalah bagaimana caranya agar kami bisa masuk kedalam. Tiba-tiba saja aku teringat, kalau hal itu kan tidak penting. Ada Annamaya yang bisa berkomunikasi dengan Ibunya lewat telepati.

“ Tidak bisa Aning, Ibuku tidak bisa melakukan hal itu ! “ tanpa menunggu aku bertanya, gadis itu langsung menjawab apa yang ingin kutanyakan padanya.

“ Lalu kita harus bagaimana ? “ rasa cemas mulai muncul lagi dalam hatiku.

Ada Ibu ke-5, adik Ratu itu bisa bertelepati. “

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Annamaya memejamkan kedua matanya, sambil menaruh ujung kedua telunjuk di samping matanya. Tak seperti sebelumnya, kali ini hampir 5 menit gadis itu melakukannya. Aku merasa heran, biasanya, cepat sekali dia ber-telepati dengan pikiran orang lain, tapi kali ini lain. Sesekali kulihat dia mengernyitkan dahinya, dan keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran di wajah gadis itu. Ketika dia akhirnya membuka kedua matanya, Annamaya terengah-engah, seperti orang yang habis lari maraton.

Sedetik kemudian, dia jatuh terkulai lemah ke rumput.

“ Anna ! Kamu baik-baik saja ? “ tanya ku cemas.

“ Aku baik-baik saja, Aning. Aku hanya sedikit lemas... “ suara gadis itu terdengar lemah, membuatku semakin khawatir.

“ Tapi, apa yang terjadi denganmu ? tak biasanya kamu begini ! “

“ Aku hanya kelelahan, kamu tak usah khawatir. Ini biasa terjadi, kalau kami berusaha menjangkau pikiran orang lain, yang pikirannya tengah terpusat pada tempat atau kejadian lain, seperti misalnya kalau orang itu tengah ketakutan, aku harus berusaha menjangkau benaknya, dan hal itu sangat sukar untuk dilakukan.. “ Annamaya menerangkan panjang lebar. Rasa khawatirku mulai berkurang.

“ Ibu ke-5 menjelaskan padaku, bahwa hanya ada 5 penjaga di Acllahuasi, dan juga salah seorang pemimpin mereka. Aku bilang padanya, bahwa dia harus mengatakan pada Ibuku, kalau Arya terkena racun yang ada di ruangan kerjanya, racun yang berasa seperti jus strawberry, aku menyuruhnya untuk menanyakan penawar racun itu, “ lanjut gadis itu.

Semoga saja, istri ke-5 Sapa Inca itu bisa memberitahukan secepatnya pada Ibu Annamaya tentang apa yang terjadi pada adikku. Aku sangat tak ingin sesuatu terjadi pada adikku itu.

“ Kamu sudah merasa labih baikkan, Anna ? “ aku menatap gadis itu cemas, bagaimana kalau dia terlalu lemah untuk bangun ?

“ Aku sudah merasa lebih baik, kamu tak usah khawatir, biasanya dalam waktu 15 menit, orang yang mengalami hal seperti aku ini sudah bisa bangun dan berjalan lagi seperti biasa. “

Gadis itu tersenyum, dan aku tahu dia berusaha untuk membuatku tenang.

“ Maafkan aku Anna, gara-gara aku, semua ini terjadi, “ tuturku penuh penyesalan. Annamaya tertawa kecil mendengar ucapanku.

“ Gadis bodoh, ini bukan murni kesalahanmu. Sudah sejak lama kami tahu, terutama Sapa Inca, kalau ada orang dari bangsa kami yang berkhianat, tapi kami sulit untuk menemukan siapa dia. Tanpa kamu-pun, para penjahat-penjahat itu pasti bisa menemukan jalan masuk kemari ! “

“ Benarkah ?! Sejak kapan Sapa Inca mengetahui kalau ada pengkhianat disini ? “ kata-kata Annamaya tak urung membuatku sangat terkejut. Pantasan, ada yang terasa janggal dari semua ini. Jika memang benar aku yang membawa Erold, Franz dan semua konco-konconya ke dalam Kota Yang Hilang, tapi agar bisa menyiapkan pasukan sebanyak itu, dan lengkap dengan persenjataan mereka, sangat tak mungkin dilakukan dalam waktu sehari dua hari.

“ Sejak beberapa bulan yang lalu, sebelum kita bertemu. Para pengawal pribadi Sapa Inca beberapa kali melihat, ada orang-orang asing yang mondar-mandir di Hutan Larangan. Mereka bukan pemburu, dan juga bukan orang-orang seperti Ayahmu. “

“ Hutan Larangan ? “ tanya ku kurang mengerti.

“ Hutan disekitar perkemahan kalian, itu namanya Hutan Larangan. “

“ Memangnya kenapa mereka mondar-mandir disitu ? “

Annamaya bangun dari rumput, lalu duduk. Wajah gadis itu nampak mulai memerah.

“ Sebenarnya, jalan masuk ke Kota Yang Hilang tidak cuma di tepi jurang yang biasa kita lewati itu. Ada juga beberapa jalan masuk yang berada dalam Hutan Larangan, tapi jalan masuk itu hanya diketahui oleh Sapa Inca dan pengawal-pengawal pribadinya. Setiap Sapa Inca yang memimpin bangsa kami, berhak untuk tahu jalan-jalan rahasia tersebut, juga pengawal-pengawal pribadinya. “ Annamaya menarik nafas sejenak, lalu melanjutkan,

“ Selain mereka, tak ada orang yang boleh tahu tentang itu, tapi anehnya, para pengawal rahasia melihat orang-orang tersebut tengah mencari-cari sesuatu, dan pencarian mereka selalu di dekat- tempat-tempat dimana jalan rahasia itu berada ! “

“ Tapi, mengapa mereka tidak masuk saja lewat jalan di tepi jurang ? “ aku merasa heran. Kalau memang para penjahat itu sudah tahu sejak lama jalan masuk ke Kota Yang Hilang yang berada ditepi jurang karena bekerja sama dengan orang dalam, kenapa mereka tidak masuk dari sana saja ?.

“ Mereka tidak mau mengambil resiko ketahuan. Pertama, jalan itu selalu diawasi setiap saat oleh para penjaga. Kedua, bila mereka masuk dari tempat itu, mereka akan berhadapan dengan pengawal-pengawal atau orang yang berkemungkinan besar menguasai sihir, yang bisa mengalahkan mereka dengan mudah, kupikir mereka takut akan hal itu. Lagipula, mungkin mereka lebih memilih jalan masuk yang lain, agar mereka bisa menyerang kami dengan tiba-tiba, sehingga kami harus melawan tanpa persiapan sebelumnya ! “.

Aku mengerti sekarang, karena itulah aku yang mereka jadikan alat untuk membantu masuk kedalam Kota Yang Hilang. Jika Annamaya benar, bahwa jalan masuk yang biasa kami lalui selalu diawasi, kenapa tak ada yang bertindak saat mereka masuk ?.

“ Saat kau datang, keadaan sedang kacau. Ibu ke-1 sakit parah, entah apa yang dia makan, tiba-tiba saja dia langsung sekarat. Sapa Inca sangat panik, para pengawal yang ada disekitar situ diperintahkan untuk menyelidiki apa yang dimakan Ibu ke-1 dan siapa yang memberikannya. Mungkin ketika mereka tengah lengah karena Ibu ke-1 hampir meninggal, saat itulah mereka masuk kedalam Kota Yang Hilang, “ lagi-lagi Annamaya menjawab keraguanku.

Keadaan yang kacau dan berujung pada disanderanya aku, Hans, Mama dan Arya, membuat aku tak tahu kalau ada kejadian mengerikan di Acllahuasi. Kasihan Ibu Rapalla.

“ Lalu apa yang terjadi pada Ibu ke-1, Anna ? “

“ Oleh tabib istana dia diberikan penawar racun, tapi tabib itu sendiri berkata, bahwa hanya Yang Maha Kuasa Inti yang bisa menyembuhkannya, sebab racun yang masuk kedalam tubuh Ibu ke-1 adalah racun yang sangat kuat dan berbahaya. Ajaibnya, Ibu ke-1 sembuh ! Untung saja, sebab kalau mendengar kata tabib, ihhh.. “ Annamaya bergidik ngeri.

“ Aku sendiri tidak sempat ke Acllahuasi, karena sibuk membantu Ibuku membersihkan ruangan kerjanya yang berantakan karena kucing menumpahkan botol-botol kaca berisi cairan-cairan percobaannya, sehingga kami berdua tidak tahu tentang kejadian itu, sampai salah seorang pembantu kami yang baru pulang dari rumah kerabatnya memberitahu. Tapi itu juga sesudah Ibu ke-1 sembuh. Aku dan Ibu baru mau berkunjung ke Acllahuasi untuk melihat keadaan Ibu ke-1, saat semua kekacauan ini terjadi, kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya... “ tutur gadis itu.

Semua hal yang mengerikan terjadi hanya dalam waktu 1 hari. Annamaya benar, Ibu ke-1 cukup beruntung bisa sembuh, tapi tidak seterusnya, karena sekarang mereka berada dalam tawanan para penjahat di rumah induk.

“ Diam Aning, Ibu ke-5 mencoba untuk berkomunikasi denganku ! “ Annamaya meletakkan telunjuknya di bibir. Aku yang baru mau melanjukan pembicaraan kami langsung menutup mulut rapat-rapat.

Gadis itu menutup matanya yang sekelam malam itu rapat-rapat. Beberapa saat kemudian, dia membuka matanya dan wajahnya berseri-seri gembira.

“ Kata Ibuku, obat penawarnya ada didalam lemari kecil diruangan kerjanya. Ada dua botol, tapi untuk Arya cukup diberikan sebanyak dua sendok makan saja ! “ Annamaya menarik tanganku, setengah menyeret aku kembali masuk kedalam lubang yang menghubungkan kompleks Acllahuasi dan gudang kecil disudut taman rumah gadis itu.

Secepat mungkin aku menyesuaikan langkahku dan langkah Annamaya. Hatiku juga merasa sangat senang, karena ada obat penawar untuk Arya. Tapi, ada satu hal yang terus mengganjal dalam pikiranku.

“ Anna, bagaimana kalau saat kita kembali, Arya sudah.... “ aku tak sanggup untuk meneruskan kata-kataku.

“ Jangan bodoh, tidak akan terjadi apa-apa padanya, kata Ibu ke-5, Ibuku bilang, racun itu memang membunuh, tapi dia mencampurnya agar efek pertama melumpuhkan musuh dulu, tapi jika tida segera diberikan obat penawarnya dalam waktu 1 jam, maka orang tersebut akan mati ! “

“ Tapi ini sudah hampir 1 jam, sejak dia meminum racun itu, Anna ! “ ucapku cemas. Annamaya tersentak tersadar.

“ Yang Maha Kuasa Inti ! kamu benar Aning, kita harus bergegas !! “ Annamaya mempercepat langkahnya. Meskipun berjalan jongkok dengan cepat sulit untuk dilakukan, tetap saja aku dan Annamaya berusaha untuk sampai diujung lorong secepat mungkin.

Wajah Arya nampak seputih kapas, ketika kami tiba dikamar tempat Arya dibaringkan.

“ Arya !!...dengarkan aku, ini Kak Aning, kami datang untuk menolongmu !! “ teriakku cemas, melihat wajah adikku yang sepucat mayat itu.

“ Kita harus segera mencari botol penawar racun itu, ayo ! “

“ Kamu saja yang pergi, Anna. Aku akan menemani Arya disini ! “ ujarku. Rasanya tak tega meninggalkan Arya seperti itu. Saat kami pergi ke tadi, dia masih bergerak sedikit meski sangat lemah, tapi sekarang dia tak bergerak sama sekali, dan itu membuatku sangat cemas.

Tanpa berkata apa-apa, Annamaya langsung keluar kamar, meninggalkan aku dan Arya didalam kamarnya. Beberapa saat kemudian, gadis itu kembali lagi dengan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru ditangannya. Wajahnya tampak bingung.

“ Ada apa, Anna ? “ tanyaku. Kalau saja aku bisa membaca pikiran seperti dia. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.

“ Sekarang kita harus segera meminumkan obat penawar ini padanya ! “ Annamaya membuka tutup botol itu, lalu menuangkannya kedalam sendok. Aku yang meminumkan obat itu pada Arya. Agak susah, karena dia sudah tak sadarkan diri, tapi akhirnya aku bisa membuatnya menelan obat itu, setelah dibantu dengan sedikit air.

“ Berapa lama obat ini akan bereaksi, Anna ? “ tanyaku cemas. Setelah meminum penawar itu, Arya masih juga tak bergerak.

“ Entahlah, aku sendiri tak tahu. Tapi kita berdoa saja pada Inti, semoga Yang Maha Kuasa Inti menganugerahkan umur yang panjang padanya. “ Annamaya terlihat lebih tenang dariku.

“ Arya....kamu harus sembuh...Kakak berjanji, tak akan pernah jahat padamu, dan juga apa yang kamu minta dariku, akan Kakak berikan sama kamu...... “ tak tahan airmataku tumpah juga akhirnya. Kupeluk adikku satu-satunya, sambil memanjatkan doa pada Tuhan, agar bermurah hati mengijinkan adikku hidup lebih lama lagi.

“ Termasuk memberikan PSP hadiah lomba matematika Kak Aning ? “ suara Arya terdengar lemah. Dia sudah bangun.

“ Terima kasih, Tuhan... “ ucapku bersyukur.

“ Kamu tidak apa-apa, Ya ? “ tanyaku cemas. Kulihat wajah Arya perlahan tapi pasti sudah mulai memerah lagi.

“ Aku mau PSP kakak, boleh ya ? “ Arya tersenyum nakal, dan aku tahu bahwa dia sekarang baik-baik saja. Kuanggukkan kepalaku.

“ Asyik....mana Annamaya ? “ gadis itu melangkah dari belakangku.

“ Halo Anna, aku baik-baik saja sekarang, kamu tak usah khawatir, “ ujar Arya sambil menatap gadis itu lembut. Ganti aku yang terkejut, Arya berbicara dalam bahasa Quechua, bahasa-nya bangsa Inca. Aku tak mengerti apa yang dia ucapkan pada Annamaya, tapi aku tahu itu bahasa Quechua.

“ Arya !? bagaimana kamu bisa ? “ aku sangat terkejut. Arya adikku yang mendapat nilai merah untuk pelajaran Bahasa Indonesia, bisa berbicara bahasa Inca !

“ Memangnya kenapa, Kak ? “ Arya menatapku heran.

“ Kamu barusan, bicara dengan bahasa-nya Annamaya ! “

“ Kakak jangan bercanda, ah ! Aku tahu aku baru sadar dari pingsan karena racun, tapi aku masih Arya seperti sebelumnya ! “ ujarnya dengan nada bercanda.

“ Kamu memang bicara dengan bahasaku, Arya ! “ Annamaya bicara pada Arya, yang kemudian menatap gadis itu dengan mulut terbuka seperti buaya yang tengah berjemur.

“ Tapi Anna...bagaimana mungkin.... “ Arya sendiri tak percaya dengan hal itu. Apalagi aku. Apa mungkin, racun yang dia minum memberinya kemampuan untuk berbicara dalam bahasa Quechua ?.

“ Kak...apa yang terjadi padaku ? “ Arya ganti menatapku bingung.

Aku hanya mengedikkan bahu tanda tak tahu. Benar-benar sukar untuk dijelaskan. Setelah terbangun dari pingsan keracunannya, adikku itu bisa berbicara dengan bahasa Inca.

Padaku dia tetap berbicara dengan bahasa Indonesia, tapi begitu dia mau berbicara pada Annamaya, otomatis yang keluar dari mulutnya adalah bahasa Quechua.

“ Sudahlah, bukankah itu hal yang bagus ? sekarang aku dan Arya bisa berkomunikasi dengan baik, iya kan Ning ? “ ujar Annamaya sambil menatapku.

“ Kita juga bisa berbicara tanpa ada yang tidak mengerti satu sama lain, bukankah itu hal yang positif ? “ tukas Arya lagi, kali ini memakai bahasa Spanyol yang sempurna. Aku dan Annamaya saling berpandangan, kebingungan.

“ Kalian berdua kenapa, sih ? “ Arya gemas melihat aku dan Annamaya hanya saling berpandangan tanpa mengucapkan apa-apa.

“ Kamu juga bisa bicara dengan bahasa Spanyol, Ya ! “ tukasku sambil menatap adikku itu tak mengerti dengan apa yang terjadi denganku.

Arya menatapku bingung, sedetik kemudian dia terjatuh pingsan.BUK !

“ Arya !! “ serentak aku dan Annamaya mengguncang-guncang tubuhnya. Beberapa detik kemudian, Arya membuka kedua matanya perlahan.

“ Aku bisa bicara bahasa Quechua, Aymara, dan Spanyol, Kak ? “ tanya dia perlahan. Kuanggukkan kepalaku mengiyakan.

“ Asyik !!!!.....Sekarang aku bisa mengerti apa yang kalian bicarakan, HORE !!... “ Arya bangun cepat, hingga aku jadi bertanya-tanya tentang acara pingsannya yang tadi itu beneran atau cuma pura-pura, lalu melompat-lompat girang, dan tanpa diduga dia langsung memeluk Annamaya dan mengecup kedua pipi gadis itu yang langsung bersemu merah.

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Mantap banget ni Cerber!!! Sayang musti nunggu tiap episode, gak sabaran sih gw!

    BalasHapus
  2. Thank's Anom..banyak yg gak sabar..tapi bukankah kita perlu melatih kesabaran tersebut? saya juga sedang melatihnya, kesabaran saya menulis...hehe

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers