Popular posts

nsikome On 28 Agustus 2011

One week passed....satu episode baru lagi. Mudah2an yg udah pada nggak sabaran nunggu, bisa ter-puaskan ketidak sabarannya, ya..hehe. Buat Mbak As di Makassar, nih....hasil harcelement-nya, pokoknya kutunggu paket Mutiara Pink-nya ya,...
Yang nanya masih lama abisnya apa enggak, aku kasih bocoran dikit, ini udah mau kelaar, tapi masih ada 2 buku lainnya, sebab cerita ini merupakan sebuah trilogi. Yang kedua udah sedang ditulis, dan yg ketiga masih dalam imajinasi liarku (senyum)..Buku kedua judulnya "Bloodline", dan settingan tempatnya di Indonesia (Jawa&Bali), sebagian Eropa Barat dan kembali lagi ke Peru. Sudah pasti tambah seru. Tapi abis "Golden Mountain", aku nggak mau release "Bloodline"nya, aku mau release Cer-Ber baru, (nggak ada hubungan sama sekali dgn The Lost City) tapi nggak kalah keren. Ada dua sih, aku masih sedang milih yg mana akan ku posting, bocoran judulnya, antara "The Key" atau "The secret of Maharani". Well, kita lihat saja nanti..Yang pasti, silahkan menikmati episode ke 13 ini, hope you'll like it, dan jgn lupa komennya...


THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 13

“ Sekarang, kita harus membebaskan para tawanan di Acllahuasi, waktu kita sudah banyak terbuang percuma ! “ dengan semangat Arya memaparkan rencananya, dan tak memberikan waktu sedikitpun bagiku dan Annamaya untuk bicara.

“ Bagaimana menurut kalian dengan rencanaku itu, bagus kan ? “ serunya berapi-api.

“ Arya, kamu itu gila atau sinting ? Masuk secara terang-terangan ke dalam Acllahuasi, lalu menyerang musuh dengan tangan kosong, memangnya kamu bisa sihir, apa ? “ ucapku berang. Aku senang adikku itu sehat kembali, tapi aku lebih suka kalau sifat urakan dan asal-asalan adikku itu hilang.

“ Aku bisa, kok. Lihat ! “ Arya mengangkat tangannya, dan pot besar berisi bunga terangkat tinggi ke udara.

Kali ini, Annamaya yang jatuh pingsan saking terkejutnya.

“ Annaaa..... !! “ seru Arya sambil membopong gadis itu.

Semenjak bangun dari pingsan karena keracunan, Arya memberikan terlalu banyak kejutan padaku dan Annamaya. Pertama dia bisa berbicara memakai bahasa Quechua, lalu bisa bicara pakai bahasa Spanyol, dan sekarang yang paling menakjubkan, dia bisa menggunakan sihir sama seperti Intipalla.

Tetapi hal yang paling luar biasa adalah, kalau Intipalla hanya bisa mengangkat batu-batu sebesar kepalan tangan, Arya malah mengangkat sebuah pot bunga besar dengan mudah, setidaknya itu yang terlihat oleh mataku.

“ Arya, aku jadi tambah tak mengerti... “ Annamaya berujar lemah. Gadis itu sudah sadar.

“ Aku sendiri jujur tak mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku ini, Anna. Tapi, karena aku sudah memiliki kemampuan ini, apa salahnya aku gunakan untuk menolong orang ? “ benar juga ucapan anak itu. Daripada berlama-lama disini, kenapa tidak segera menolong yang lain ?.

“ Arya benar, Anna. Kita harus segera menolong yang lain. Sekarang, sebaiknya kita segera bergegas, mumpung sekarang kita memiliki Arya yang bisa menggunakan sihir. Aku takut terjadi apa-apa pada Ibuku dan juga yang lainnya di Acllahuasi sana. “

Annamaya menatapku, lalu gadis itu menganggukkan kepalanya pasti. Dia lalu bangun, dan berucap pelan tapi tegas.

“ Ayo kita beri pelajaran pada cecunguk-cecunguk itu ! “.

Perjalanan kembali ke Acllahuasi kami lakukan lewat terowongan yang sama ketika aku dan Annamaya pergi untuk mencari tahu obat penawar racun yang terminum Arya. Hanya saja, kali ini ada satu yang berbeda, yaitu rasa optimis yang besar bisa menyelamatkan mereka yang berada didalam Acllahuasi, karena kemampuan sihir adikku yang baru saja didapatkannya.

Pemandangan masih sama seperti tadi. Suasana di taman yang tak terurus itu masih sunyi senyap, tak kelihatan sedikitpun gerakan disana.

“ Kita akan mendekati rumah induk lewat taman samping, dekat tempat bermain anak-anak yang kukatakan padamu, Aning, “ ujar Annamaya sambil menunjuk ke arah timur laut.

Setelah berjalan mengendap-endap, kami sampai ditaman samping rumah induk. Ada pintu besar bergagang kelopak mawar di bagian samping rumah itu. Setelah bersembunyi sejenak dibalik tanaman perdu untuk memastikan tak ada orang disekitar situ, kami bertiga mengendap-endap menuju pintu samping.

“ Bagaimana kalau pintu itu dikunci ? “ tanyaku. Annamaya menggelengkan kepalanya.

“ Pintu itu tak pernah dikunci, karena biasanya ada pengawal yang berjaga disitu. Entah ada dimana para pengawal-pengawal yang biasa berjaga disitu ! “ Annamaya memandang berkeliling.

“ Aku takut, dibalik pintu itu ada penjahat, “ bisikku lagi pada gadis itu. Lagi-lagi Annamaya menggelengkan kepalanya.

“ Tak ada orang disitu, aku sudah mencoba meraih benak seseorang, mereka semua berada diruangan utama, tempat kamu bertemu dengan istri-istri Sapa Inca. “ Kata-kata Annamaya menenangkan hatiku.

Gagang pintu diputar oleh Arya dan begitu pintu membuka, belum lagi kami bertiga melangkah masuk, tiba-tiba ada sesosok tubuh tinggi besar yang entah darimana asalnya tiba-tiba saja sudah berada dihadapan kami.

“ Ternyata kamu, Aning ! Syukurlah...kalian tidak apa-apa ? “

Aku langsung menghembuskan nafas lega begitu melihat siapa sosok bertubuh tinggi besar itu. Ternyata Om Hans.

“ Om Hans, bagaimana dengan Mama dan lainnya ? “ tanyaku cemas. Om Hans tersenyum samar, lalu dia membelai kepalaku.

“ Mama kamu masih berada dengan tawanan lain, Om Hans berhasil meloloskan diri dari mereka, dan sejak tadi hanya bersembunyi dalam bangunan ini, terputar-putar menghindari para penjahat, sambil mencoba untuk mencari jalan keluar. Rumah ini besar sekali, Om Hans susah untuk mendapat pintu keluar, sampai akhirnya menemukan pintu ini. “ Om Hans menjelaskan panjang lebar.

“ Kalian darimana saja ? Saya khawatir sekali.... “ laki-laki berkebangsaan Jerman itu menatapi kami bergantian. Raut wajah Annamaya tak tertebak. Sepertinya dia tengah sibuk menilai Om Hans.

“ Kami baru saja...sudahlah...ceritanya panjang sekali, oh ya, Om Hans, ini sahabat kami, namanya Annamaya. “

Tak ada waktu lagi untuk menjelaskan semua yang terjadi pada Om Hans. Annamaya mengulurkan tangannya, lalu bersalaman dengan Om Hans, yang menjabat tangan gadis itu dengan hangat. Annamaya sudah mulai belajar memakai budaya kami, berjabat tangan.

“ Jangan khawatir, Om, dia bisa bicara dengan bahasa Spanyol. “ Aku menjelaskan, karena kulihat Om Hans ingin bicara, tapi tak tahu harus bagaimana.

“ Halo, namaku Hans, aku dari Jerman, tak terlalu jauh dari Spanyol tempat negaraku itu berada.”

Annamaya tersenyum, lalu melepaskan tangannya.

“ Kita harus segera pergi dari tempat ini, Aning. Ada terlalu banyak penjahat disini, Om takut mereka bisa menemukan kita dan mengurung kita lagi ! “ ujar Om Hans, cemas. Laki-laki itu berkali-kali memalingkan kepalanya kedalam rumah, seperti takut seseorang akan datang ketempat kami itu.

“ Tidak boleh seperti itu, Om ! Kita kan datang kesini untuk menyelamatkan semua orang yang ditawan disini ! “ penuh percaya diri Arya bicara tegas, membuat Om Hans menatapnya heran. Sekilas dia melihat Arya dengan pandangan tak percaya, lalu tersenyum geli.

“ Arya....didalam itu ada banyak penjahat dengan senjata api mereka yang sangat modern, yang menjaga para tawanan. Om tahu maksud baik kamu untuk membebaskan mereka, tapi kita berempat yang tanpa senjata, bagaimana bisa melawan mereka semua ?! “ sambil terus tersenyum, Om Hans menatap Arya.

“ Dengan cara seperti ini, Om ! “ agak menyombong, Arya menggunakan kemampuan barunya dengan mengangkat sebuah batu sebesar melon, membuat Om Hans terbelalak kaget.

“ Kamu juga bisa melakukan itu ? Tapi bagaimana caranya ? “ ada rasa ingin tahu yang sangat besar tergambar jelas dalam suara Om Hans.

Baru saja aku hendak menjelaskan semua yang telah terjadi selama perpisahan kami dengan Om Hans, tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki tergesa, dan seorang laki-laki yang memanggil sebuah senjata berlaras panjang begitu saja muncul tepat dibelakang Om Hans.

“ Bos, perempuan itu ingin bicara dengan anda ! “

BOS ? laki-laki itu memanggil Om Hans dengan sebutan BOS ? suasana langsung berubah, dan saat aku memandang wajah Om Hans, aku langsung mengerti, dialah sang penghianat. Karena dialah semua ini terjadi.

“ Apa-apaan ini ? apa maksudnya, Hans ?! “ tuntut Arya. Hilang sudah sebutan ‘Om’.

Hans tak menjawab apa-apa. Wajahnya berubah menjadi keras dan kejam.

“ Tahan mereka bersama dengan tawanan lainnya ! “ perintah Hans tegas pada laki-laki bersenjata itu.

“ Eiit..!! kali ini semuanya tidak bisa terjadi begitu saja ! “ cetus Arya marah, dan secepat kilat, dua buah pot bunga berukuran cukup besar terangkat, kemudian memukul kepala kedua laki-laki itu. Keduanya langsung roboh ketanah, dan tergeletak diam.

“ Karena itulah, aku tak bisa membaca pikirannya, yang kulihat hanyalah gunung putih yang menyilaukan ada dalam kepalanya... “ tutur Annamaya sambil menendang bokong laki-laki bersenjata yang kini terbaring tak berdaya. Aku heran dengan ucapan gadis itu.

“ Maksudmu Hans ? “ Annamaya mengangguk mengiyakan.

“ Dia rupanya tahu bagaimana cara untuk menutup pikirannya dari orang-orang yang memiliki kemampuan seperti aku, “ terang gadis itu lagi.

“ Dan kami yang membawa bajingan ini kemari... “ sesalku.

Ku alihkan pandanganku dari Arya, untuk menghindari tatapan ‘sudah kubilang, kan ? ‘ – nya. Seharusnya aku memang tidak sembarangan mempercayai orang. Aku mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat penting kali ini.

“ Kita apakan mereka, Kak ? “ tanya Arya

“ Mungkin sebaiknya kita sembunyikan mereka disuatu tempat, agar tak ada yang tahu kita ada disini ! “ usul Annamaya sambil menunjuk sebuah kotak kayu cukup besar yang terletak dibawah jendela besar.

Setelah menjejalkan kedua laki-laki itu kedalam kotak kayu, yang tergeletak dalam posisi yang lumayan aneh, kami bertiga masuk kedalam rumah induk Acllahuasi.

“ Mereka pasti menawan semua orang diruang pembicaraan ! “ bisik Annamaya.

“ Ruang pembicaraan ? itu ruang untuk rapat, ya ? “ tanya Arya. Annamaya menatap Arya tak mengerti. Mungkin dia tak tahu kata ‘rapat’ itu artinya apa.

“ Itu adalah ruangan tempat berkumpul semua orang yang tinggal dalam Acllahuasi, kalau mereka ingin berbincang-bincang dengan lainnya. Aning sudah pernah masuk kesana, kok ! “ jelas Annamaya lagi. Rupanya ruangan yang dia maksudkan adalah ruangan tempat aku berbicara dengan para istri Sapa Inca saat pertama kali ke Acllahuasi.

“ Kalau begitu, kita tunggu apa lagi ? ayo kita segera kesana ! “ Arya mendahului aku dan Annamaya, namun beberapa langkah kemudian, dia berbalik pada Annamaya dan aku.

“ Anna, sebaiknya kamu duluan, aku kan tidak tahu jalannya, dan aku juga mau mengambil senjata anak buah Hans ! “ aku tersenyum geli, adikku itu kini kelihatan seperti seorang panglima yang hendak memimpin anak buahnya untuk berperang.

Suasana didalam ruangan yang disebut ‘Ruang Pembicaraan’ itu nampak mencekam. Saat kuintip kedalam lewat tirai pemisah ruangan yang memisahkan ruangan itu dengan ruang makan tempat kami bertiga berada, nampak para tawanan duduk bergerombol dilantai, disudut ruangan yang berada tepat diseberang kami berdiri.

Terlihat semua istri-istri Sapa Inca, kecuali istri pertama dan Mama, ada disana.

“ Mama dimana ya, Kak ? Kok tidak kelihatan ? “ Arya mengungkapkan kecemasan yang sama denganku. Aku hanya mengangkat bahu.

“ Aku masuk saja, ya ? “ usul Arya yang terdengar gila untukku.

“ Ya, kamu itu nekat apa bodoh, sih ? Biar kamu sudah bisa mengangkat benda-benda berat dengan pikiran kamu, kamu itu bukan Superman yang anti peluru, bagaimana jika para penjahat yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang itu menembak kamu ? “ ucapku setengah kesal setengah marah. Tapi sebelum sempat kucegah, adikku itu langsung maju ketengah-tengah ruangan, setelah menyodorkan senjata yang dipegangnya padaku. Aku hendak mencegahnya, tapi ditahan oleh Annamaya. Kami berdua hanya diam ditempat kami berdiri.

“ Hey !! bebaskan semua tawanan !! “ terdengar suara Arya lantang berteriak.

“ Wah....ada yang sok jadi pahlawan, nih, sendirian saja ? “ meskipun aku tak melihatnya, tapi aku kenal suara orang itu. Mr.Oyama, si ahli komputer dari Jepang. Ternyata dia juga adalah konco mereka.

“ Mana Mamaku ? “ tanya Arya, suaranya terdengar dingin.

“ Ada disuatu tempat, memangnya kenapa ? kamu mau membebaskan Ibu kamu dengan tangan kosongmu itu ? “ ejek Oyama dengan aksen English-Japanese- nya yang aneh.

“ Mungkin... “ balas Arya dengan nada suara yang tak kalah mengejek.

“ Oh ya...mana bos kalian si Hans ? “ tanya Arya lagi.

“ Jadi sekarang kalian sudah tahu kalau kalian idiot yang menyebabkan kami tahu tentang tempat ini, ya ? “ lagi-lagi suara Oyama bernada menghina, tapi juga tersirat penuh tanda tanya. Mungkin dia bertanya-tanya dimana kami bertemu dan bisa tahu kalau Om Hans adalah bagian dari persengkokolan jahat mereka itu.

“ Kami juga tahu, kalau kalian itu bodohnya luar biasa, sampai-sampai mengira kalau kalian bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Oh iya, maaf ya, aku mau bilang, kalau kalian kehilangan Bos dan salah seorang cecunguk teman kalian !!.. “ lantang suara Arya, dan tak terdengar sedikitpun rasa takut dalam suaranya itu.

“ Apa katamu ?! “ kali ini terdengar teriakan suara laki-laki yang tak kukenal.

“ Kalian ini benar-benar bego, deh. Aku mau bilang, Bos kalian yang bernama Hans itu, sekarang memiliki benjolan sebesar telur burung Maleo di kepalanya yang kotor itu, dan aku lupa mengecek dia itu masih hidup apa sudah mati, tapi kalau melihat keadaannya, kalaupun dia itu hidup, dia pasti bakal menderita hilang ingatan ! “ lagi-lagi Arya mencemooh mereka.

“ Bangsat kamu !! “ laki-laki itu menyerang Arya.

Dia merangsek maju untuk memukul adikku, yang hanya mengangkat sebelah tangannya tenang. Aku berpindah keseberang ruangan agar bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi, dan nampak laki-laki berjenggot tebal itu tertahan ditempatnya. Dia seperti hendak maju, tapi tertahan oleh tangan kuat yang tidak kelihatan. Mukanya sampai merah padam, karena usahanya untuk membebaskan dirinya dari kekuatan yang menahannya.

“ Bagaimana kamu melakukannya ? “ teriak Oyama kaget, dan terdengar bunyi letusan senjata yang memekakkan telinga.

Tanpa bisa kutahan, aku segera keluar dari persembunyianku, Annamaya juga.

Kupikir, mereka menembak kearah adikku itu, dan mereka memang melakukannya. Tapi yang kulihat adalah, sebutir peluru yang berputar-putar diudara, tepat dihadapan adikku.

“ Kalian sudah tak bisa berbuat apa-apa, sekarang kuperintahkan kalian untuk menyerah ! “ teriak Arya sambil mengibaskan tangannya, membuat peluru yang melayang sambil terputar-putar itu terpelanting ke dinding, meninggalkan lobang sebesar mangkuk sayur.

Tanpa dikomando lagi, seluruh penjahat yang berjumlah sepuluh orang itu langsung meletakkan senjata mereka dilantai. Jelas sekali terlihat bahwa mereka itu sangat ketakutan.

Siapa yang tidak takut melihat seorang anak yang bisa menahan peluru yang ditembakkan kepadanya ?. Aku sendiri takut melihat kemampuan supranatural adikku itu.

“ Kumpulkan semua senjata mereka, Kak, suruh para istri Sapa Inca untuk menjaga senjata-senjata itu, aku hendak berbicara dengan salah satu kawan lama kita ! “ Arya berjalan mendekati Oyama yang berdiri ketakutan. Saking takutnya. Terlihat jelas laki-laki berperawakan tinggi besar itu gemetar hebat.

“ Sekarang, aku harap kamu mau bekerja sama dengan kami, dan memberitahuku dimana kalian menahan Mamaku dan juga istri pertama Sapa Inca, sebab kalau tidak__ “ Arya memalingkan pandangannya kearah meja. Ada sebilah pisau disamping keranjang buah diatas meja tersebut. Tiba-tiba pisau itu meluncur cepat kearah Oyama, dan berhenti tepat didepan hidungnya.

“ Bbb...bb..baik...baiklah...Ibu kamu sudah dibawa ke Kuil, mereka berhasil mengalahkan semua pasukan Sapa Inca diluar sana, dan membawa Ibu kamu kesana ! “ terbata-bata Oyama menjawab. Kelihatannya laki-laki itu hampir menangis.

Hatiku tersentak mendengar kata-kata si Jepang. Kalau para penjahat berhasil mengalahkan para pasukan Sapa Inca, berarti mereka juga berhasil mengalahkan Intipalla dan Rapalla, kan mereka berdua juga ikut bertempur didepan Kuil.

“ Bagaimana dengan istri pertama Sapa Inca, dimana dia ? “ tanyaku. Oyama menggeleng.

“ Aku tak tahu dia ada dimana, aku tak melihatnya ada disini. “

“ Mungkin dia ada didalam Piramida, tapi kita tak melihatnya “ tukas Annamaya. Aku mengangguk setuju dengan pendapat gadis itu. Sebab, hanya ada dua tempat kemungkinan perempuan itu berada, yaitu di Piramida atau Acllahuasi.

“ Bagaimana sekarang, Kak ? “ tanya Arya meminta pendapatku.

“ Kita ikat mereka semua disini, dan bilang pada semua perempuan disini agar mengawasi mereka agar jangan ada satupun yang melarikan diri, sementara itu kita bertiga harus kembali ke Kuil, untuk melihat apa yang terjadi disana ! “ tukasku tegas.

Sebenarnya, kalau mau jujur, aku memilih untuk kembali lagi kesana, agar aku bisa tahu bagaimana kabar Intipalla juga Rapalla. Aku sungguh khawatir akan nasib kedua pemuda itu.

Suasana di sepanjang perkampungan sangat sepi. Tak terlihat seorangpun disana, bahkan rumah-rumah penduduk terlihat seperti tak berpenghuni.

Bahkan ketika aku dan Annamaya sampai didepan pelataran Kuil, suasana sangat senyap. Bekas pertempuran terlihat jelas disana-sini. Nampak mayat-mayat mereka yang tewas dari kedua belah pihak bergelimpangan diatas kubangan darah yang menjijikkan.

“ Ya Tuhan...mereka benar-benar biadab... “ keluh Annamaya. Ada airmata jatuh dikedua pipi gadis itu. Aku hanya diam dalam penyesalan yang berkepanjangan. Kalau bukan karena aku, semua ini pasti tak akan terjadi. Mereka semua pasti tengah hidup dalam kedamaian, meskipun keberadaan mereka tersembunyi dari dunia luar.

“ Aning...Annamaya..... “ sebuah suara terdengar lemah memanggil. Sontak aku dan Annamaya menoleh kearah suara itu. Nampak sesosok tubuh berlumuran darah tengah bersandar digentong air, mencoba untuk bangkit tapi terlalu lemah untuk melakukannya.

“ Rapalla !! “ seruku, dan aku langsung berlari menuju pemuda yang dulunya sempat kubenci itu.

Nampak goresan-goresan luka diwajah tampan-nya, dan sebuah luka entah luka tikaman atau peluru tengah di tekan dengan tangan kanannya dibagian perut.

“ Rapalla.....ya Tuhan....kamu terluka ?! “ aku membungkuk untuk memeriksanya. Pemuda itu hanya meringis kesakitan.

“ Cecunguk-cecunguk biadab itu berhasil melukaiku, sekarang mereka semua berada dalam Kuil, mencoba untuk masuk kedalam Piramida, dan Ibuku...... “ dia terkulai tanpa sempat menyelesaikan kata-katanya.

“ Rapalla !! “ aku memeluknya erat, mencoba untuk mendengar denyutan jantungnya, dan ternyata masih ada. Pemuda itu rupanya jatuh pingsan.

“ Kita harus membawanya kerumah tabib sekarang ! “ Annamaya mengalungkan tangan Rapalla di bahunya, aku lalu membantu gadis itu.

Perjalanan menuju rumah tabib itu sangat melelahkan. Aku, Arya dan Annamaya harus mengangkat tubuh Rapalla yang ternyata cukup berat itu dan adikku tak bisa menggunakan kekuatannya untuk mengangkat tubuh pemuda itu, karena takut akan lebih memperparah lukanya. Dalam hati aku menyesal tidak sempat menanyakan bagaimana keadaan Intipalla pada Rapalla sebelum dia pingsan.

Untunglah sang tabib berada dirumahnya. Setelah memastikan Rapalla akan diurus dengan baik olehnya, aku dan Annamaya memutuskan untuk kembali ke pelataran Kuil, sambil mencoba mencari tahu lebih lanjut keadaan didalam Kuil. Kami khawatir, jangan-jangan mereka sudah berhasil masuk kedalam Piramida.

Ketika aku, Arya dan Annamaya mendekati tangga Kuil, sesosok tubuh yang sudah kukenal dengan baik nampak tergeletak dalam posisi telungkup. Hatiku berdebar-debar kencang, segera aku bergegas menuju sosok itu.

“ Inti.....ini aku, Aning.... “ ucapku perlahan, sambil menyentuh pundak pemuda itu penuh kasih. Tak ada jawaban apa-apa.

“ Inti.....bangun... “ kubalikkan tubuhnya, tapi pemandangan selanjutnya langsung membuat hatiku teriris perih.(BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers