Popular posts

nsikome On 04 September 2011

Hi all...sekarang aku nggak bisa ngeles lagi, banyak alasan lagi..Tiap kali telat posting, aku kan selalu bilang lupa..Tapi sekarang, tiap hari aku dikirimin e-mail bejibun yg "ngingetin" buat posting episode baru The Lost City. Sampe kewalahan aku...Buat kamu2 yg suka, ya udah..langsung aja!!




THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 13

Pemuda yang dulunya penuh semangat itu, kini terbaring dengan mata terbuka, tapi pandangannya kosong dan hampa, yang membuatku tersadar kalau dia sudah pergi meninggalkan dunia ini.

“ INTI !!!!................... “ aku tak kuasa menahan rasa sedihku, aku berteriak sekuat tenaga, sampai leherku rasanya perih.

Intipalla, pemuda yang belum begitu lama kukenal, tapi aku menyayanginya, dan kini aku harus menerima kenyataan bahwa aku tak akan pernah melihatnya lagi.

Dunia ini rasanya begitu tidak adil. Orang-orang baik terlalu cepat untuk pergi, sedangkan orang-orang jahat, terus diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk hidup.

“ Maafkan aku, Inti....aku yang bersalah...aku yang menyebabkan semua ini terjadi... “ tak peduli dengan keadaan disekelilingku, aku memeluk tubuh Intipalla erat-erat dan menciumi wajahnya.

Seandainya aku bisa, aku ingin menukar diriku dengannya. Lebih baik aku saja yang mati, dan bukan Intipalla. Aku ini bukan siapa-siapa, tapi Intipalla adalah seorang calon pemimpin bangsa mereka, bangsa yang dipikir orang sudah musnah sejak berabad-abad yang lalu, bangsa yang mengagumkan, yang memilih menyembunyikan keberadaan mereka karena emas yang mereka miliki bisa menyebabkan perang antara sesama manusia.

Kini sang calon pemimpin telah meninggal, dan itu adalah akibat dari kesalahanku.

Kututup kedua mata Intipalla, dan kini dia terlihat seperti tengah tertidur. Terdengar isak tangis dibelakangku, dan tanpa perlu kulihat lagi, kutahu itu Annamaya.

“ Anna, kamu bisa mengambilkan aku air ? aku mau membersihkan wajahnya... “ bisikku dalam isak tangis. Kutatap wajah penuh airmata gadis itu. Dia lalu mengangguk dan meninggalkan aku, Arya dan Intipalla.

“ Kak....sudahlah...semuanya sudah terjadi, dan itu bukan salah Kakak... “ Arya mencoba untuk menghiburku, dan itu percuma saja. Sebab tak akan ada kata-kata yang akan mampu untuk menghiburku saat ini.

“ Aning, ini airnya.. “ Annamaya mengangsurkan sewadah penuh air bersih. Kuambil syal yang tersampir dibahuku, lalu perlahan kubersihkan wajah pemuda yang kini kusadari, kalau aku sangat menyayanginya.

Wajahnya kini bersih, dan nampak sangat tenang dan damai. Tak ada goresan sedikitpun diwajah tampannya. Kukecup dahi dan bibirnya sekilas, lalu berpaling pada Arya.

“ Ya, kamu bisa mengangkat tubuhnya ? aku ingin meletakkannya ditempat yang lebih pantas,” pintaku. Arya menganggukkan kepalanya.

“ Mungkin lebih baik kalau kita meletakkannya dulu di rumah tabib, aku akan meminta tabib untuk membersihkan seluruh badannya, “ lirih suara Annamaya menganjurkan. Aku hanya bisa mengangguk.

Saat ini satu-satunya hal yang aku inginkan adalah meletakkan jasad pemuda yang aku kasihi ditempat yang pantas, bukan tergeletak ditanah seperti bangkai hewan mati.

Rasanya seperti ada yang kosong, ada yang hilang dalam hatiku melihat jenazah Intipalla melayang perlahan diangkat oleh kekuatan telekinetik Arya.

Sulit untuk menjelaskan tentang apa yang kurasa, satu hal yang aku tahu kalau saat ini aku merasa sangat sedih dan hampa. Seperti sebagian dari diriku ikut melayang bersama dengan tubuh kaku pemuda itu. Ada rasa dingin yang membekukan hatiku.

Sang tabib tergopoh-gopoh menyambut kami di kediamannya. Saat mendengar apa yang aku inginkan, dia menunjuk sebuah tempat tidur, dan menyuruh meletakkan jasad Intipalla disana.

Sang tabib juga mengatakan bahwa keadaan Rapalla sekarang baik-baik saja, dan pemuda itu akan sembuh, tapi sekarang dia tengah dibius oleh sang tabib agar bisa beristirahat dengan baik.

“ Sebaiknya kita segera kembali ke kuil ! “ tukasku geram.

Setelah merasakan kesedihan yang sangat hebat, kini yang aku rasakan adalah kemarahan yang berapi-api. Aku ingin mencari siapa yang melakukannya. Aku ingin membunuh dengan kedua tanganku bangsat yang membunuh Intipalla. Aku ingin membuatnya menderita seperti dia melakukannya pada pemuda itu. Aku ingin melihatnya memohon-mohon minta maaf karena telah membunuh Intipalla, sebelum pada akhirnya aku membunuhnya.

Tanpa menunggu Annamaya dan Arya, aku keluar dari rumah tabib, dan langsung menuju kearah Kuil. Kali ini, tanganku menggenggam senjata berlaras panjang yang tadinya milik laki-laki berjenggot yang ditimpuk Arya dengan batu di Acllahuasi.

Annamaya dan adikku sepertinya mengerti dengan perasaanku saat ini, karena sepanjang perjalanan menuju Kuil, mereka berdua hanya diam, seakan ingin ikut berdiam diri denganku.

Saat memasuki gerbang Kuil yang besar, suasana didalam nampak sepi.

“ Mereka telah menemukan jalan masuk ke dalam gunung, “ Annamaya terdengar khawatir.

“ Kita harus segera masuk untuk melihat apa terjadi didalam ! “ Arya mempercepat langkahnya. Aku dan Annamaya tergesa mengikuti langkah-langkah cepat dan panjang Arya.

Saat tengah menuruni tangga, terdengar suara orang bercakap-cakap diujung bawah tangga. Kutatap adikku, dia hanya mengangguk, seperti ingin menenangkan aku. Dia tengah memegang dua batu berukuran sebesar buah mangga golek. Itu akan menjadi senjatanya.

Ternyata para bajingan itu menempatkan orang untuk berjaga dibawah sana. Tanpa ada perlawanan, dan bahkan sebelum mereka berdua sempat melihatnya, batu yang dipegang Arya sudah melayang turun dan menghantam kepala kedua penjaga itu, membuat mereka roboh pingsan seketika.

Ternyata tak ada orang yang menjaga di ujung tangga kedua, saat kami naik keatas dan keluar tepat didalam gunung-goa-emas.

Suasana dalam gunung terdengar hiruk-pikuk. Terdengar suara bentakan-bentakan dan teriakan disana-sini. Kami bertiga bersembunyi tepat dibelakang sebuah kedai pengrajin yang kulihat pertama kali ketika masuk ke dalam perut gunung.

“ Anna, bagaimana cara kita untuk bisa masuk kedalam pintu utama Piramida ? “ tanyaku khawatir, melihat begitu banyaknya pasukan-pasukan para penjahat yang berkeliaran disekeliling pintu itu.

“ Aku juga bingung, Aning. “ Gadis itu mengernyitkan dahinya.

“ Oh iya, bagaimana kalau aku mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka, lalu begitu mereka menjauh dari pintu, kalian berdua masuk kesana, ok ? “ lanjut Annamaya terdengar optimis.

“ Apa ?! dan seandainya kamu tertangkap lalu dibunuh bajingan-bajingan itu ? no way !! “ Arya langsung protes mendengar usul Annamaya.

“ Bukan kamu saja yang bisa beraksi, Arya. Aku juga ! “ tanpa bisa dicegah olehku maupun Arya, Annamaya segera keluar dari tempat persembunyian kami, dan menyeberang sambil berteriak-teriak. Refleks Arya bergerak untuk ikut dengan gadis itu, tapi segera kucegah adikku itu.

“ Kita harus bisa masuk kedalam Piramida, Annamaya sudah mengambil resiko agar kita bisa melakukannya, jangan sia-siakan itu ! “ kutatap wajah Arya. Sejenak kulihat dia seperti ingin membantah, tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya.

Saat melihat keributan yang diciptakan oleh Annamaya, sontak para penjahat yang berjaga dipintu utama Piramida bergerak menuju sumber keributan untuk melihat apa yang tengah terjadi disana.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku dan Arya segera bergerak perlahan mendekati pintu utama Piramida, dan begitu kami melihat para penjahat itu sudah teralih perhatian mereka sepenuhnya, kami langsung menyelusup masuk kedalam Piramida.

“ Kak, aku khawatir sama Annamaya, aku takut dia diapa-apakan oleh para penjahat diluar sana, “ kata Arya, lebih terdengar seperti keluhan.

“ Kamu tak usah takut, aku yakin Annamaya bisa menangani semua itu, “ ujarku mencoba untuk meyakinkan Arya, atau kami berdua sebenarnya. Sebab jujur saja, rasa dalam hatiku tidak seoptimis ucapanku.

Suasana dalam Piramida tidak seriuh diluar sana. Malah terbilang agak sunyi. Hanya ada sedikit suara bercakap-cakap yang sulit untuk didengar, terdengar seperti bisikan-bisikan yang datang sepertinya dari dalam ruangan tahta.

Segera aku dan Arya berendap-endap mendekati ruangan tahta yang megah itu.

“ Aku ingin tahu kabar tentang anakku, Yang Mulia... “ terdengar isak tangis seorang perempuan, lirih terdengar, hampir seperti hanya berbisik, berbicara dalam bahasa Spanyol.

“ Kak, bukankah itu suara Ibu Intipalla ?! “ aku mengangguk sedih. Entah aku harus mengatakan apa pada sang Ratu tentang anaknya itu.

Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya terjadi, ataukah aku menunggu sampai semua ini selesai ?! Semuanya begitu membingungkan.

“ Yang Mulia.....ini Aning, tolong buka pintu ruangan tahta ini !... “ kuketuk pintu berat itu, sambil berharap, semoga suaraku tak sampai terdengar oleh para penjahat.

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan itu terbuka sedikit, dan wajah seorang pelayan muncul disela pintu yang terkuak sedikit itu, yang langsung mempersilahkan aku dan Arya masuk kedalam.

“ Maaf kalau kami mengganggu. Yang Mulia... “ aku mencoba untuk menyapa sehormat mungkin.

Terlihat jelas rasa terkejut diwajah semua orang disitu, terutama sang Ratu.

“ Aning.....aduh...senang sekali melihat kalian berdua, tapi mana yang lainnya ? “ Ibu Intipalla itu langsung menyongsong aku dan Arya.

“ Bagaimana cara kalian untuk bisa masuk kemari ? Bukankah pintu masuk kedalam Piramida dijaga oleh para penjahat-penjahat itu ? “ Sapa Inca bertanya heran.

“ Ceritanya panjang, Yang Mulia, tak akan cukup waktu untuk menceritakannya. Satu hal yang pasti, sekarang ini kita harus menyusun strategi agar bisa mengalahkan para penjahat-penjahat itu ! “ Bukannya aku tidak sopan, tapi memang keadaan mengharuskan seperti itu. Sedetik Sapa Inca seperti terkejut dengan ucapanku, tapi kemudian laki-laki yang paling disegani diantara kaumnya itu mengangguk setuju.

“ Aning, bagaimana keadaan Intipalla ? Dia baik-baik saja, bukan ? “ kali pertanyaan itu terlontar tak terhindarkan. Sebenarnya aku memilih untuk bercerita tentang petualangan kami yang panjang itu.

Sejenak ada rasa perih yang entah darimana datangnya merasuki hatiku, membuat mataku langsung berair tanpa bisa dicegah olehku. Aku tak bisa berkata-kata, yang keluar malah hanya berbentuk tangis dalam diam.

“ Maafkan kami, Yang Mulia, terpaksa harus mengabarkan berita ini. Intipalla, dia...dia... “ Arya yang memutuskan untuk memberitahu Raja dan Ratu perihal anak mereka, tak sanggup untuk meneruskan kata-katanya.

“ Ada apa dengan anakku, Arya ?! Katakan padaku !!! “ Ratu mengguncang-guncang bahu adikku.

Dia ganti menatap aku yang tengah menangis. Rupanya dia mengerti dengan apa yang terjadi. Sejenak dia menatap aku seperti tak percaya, tapi begitu aku menganggukkan kepalaku, perempuan cantik itu langsung jatuh terkulai kelantai.

“ Anakku...oh anakku....Bagaimana semua itu bisa terjadi ? Kau begitu kuat, apa yang terjadi padamu, Nak... “ ratap laki-laki yang biasanya terlihat keras dan tegar itu.

Sapa Inca yang pertama kulihat begitu berkuasa, seperti luruh dengan semua topeng-topengnya. Dihadapan kami kini hanyalah seorang laki-laki tua yang bersedih karena kehilangan putranya.

Ratu yang dibaringkan diatas sebuah kursi panjang berukir yang berada disudut ruang, perlahan-lahan mulai siuman.

Setelah mengingat apa yang telah terjadi, perempuan itu mulai menangis terisak-isak.

“ Bagaimana dengan Rapalla, Aning ? “ Sapa Inca mulai menguasai dirinya kembali.

“ Dia baik-baik saja, Yang Mulia. Sedikit terluka, tapi kami sudah membawanya ke rumah tabib, dan sudah dirawat dengan baik. Tapi saat masuk kemari, Annamaya kembali tertangkap para penjahat. “ Arya yang menjawab, karena dia mungkin tahu aku takkan bisa bersuara dalam tangisku itu.

“ Annamaya....apa yang terjadi padanya ? “

“ Dia sebetulnya bersama dengan kami, tapi agar kami bisa masuk kedalam Piramida, dia terpaksa mengalihkan perhatian para penjahat, dan tertangkap... “ lirih suara Arya terdengar.

“ Yang Mulia jangan khawatir, saya pasti akan membereskan seluruh kekacauan ini ! “ suara Arya terdengar tegas.

Suatu metamorfosa yang begitu cepat, dari seorang Arya yang tidak pernah serius, menjadi seorang yang sepertinya memikul semua beban dunia di pundaknya.

Bahkan Sapa Inca terlihat geli melihat tingkah adikku itu.

“ Saya menghargai semangatmu, Arya....tapi...tunggu dulu....bagaimana kamu bisa berbicara dalam bahasa kami ? “ rasa heran tersirat jelas dalam kata-kata Sapa Inca. Rupanya dia baru sadar kalau Arya semenjak tadi berbicara dalam bahasa bangsanya.

“ Ceritanya panjang, Yang Mulia. Nanti saya pasti akan jelaskan semuanya, termasuk bagaimana saya bisa mendapatkan kemampuan sihir bangsa kalian. “

“ Kamu sekarang bisa sihir juga ? “ mata Sapa Inca menjadi bulat seperti bulan purnama saking kagetnya mendengar Arya berbicara tentang kemampuan barunya itu.

Arya hanya menganggukkan kepalanya.

“ Sekarang, apa yang akan kita lakukan, Yang Mulia ? “ akhirnya aku bisa bersuara juga.

Sang Ratu yang tadinya terbaring, kini bangkit. Sepasang mata indahnya menyala-nyala, entah amarah atau semangat yang ada dalam mata indahnya itu.

“ Kita akan pergi bertempur diluar sana ! Aku tak akan pernah rela menyerahkan rakyat dan semua yang menjadi milik kami kepada para penjahat itu tanpa perlawanan, kecuali jika aku sudah mati ! “ tukas Sang Ratu berapi-api.

“ Yang Mulia, ijinkan aku untuk ikut pergi bertempur bersama dengan yang lainnya diluar. Aku tak akan tenang sebelum kematian anakku terbalaskan ! “ lanjut perempuan cantik itu.

Sejenak kulihat Sapa Inca seperti ragu-ragu. Tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya mengiyakan.

“ Tapi kamu harus berjanji, jangan terlalu banyak menggunakan sihirmu, kamu ingat apa yang terjadi terakhir kali saat kamu memakainya ?! “ pinta Sapa Inca terdengar khawatir.

Sang Ratu menganggukkan kepalanya mengiyakan, tapi aku tahu bahwa dia tak akan mengindahkan kata-kata Sapa Inca, dendam akan kematian anaknya terlihat terlalu jelas dimatanya.

Aku kaget, ternyata Sang ratu bisa ilmu sihir juga. Aku tiba-tiba jadi iri sama Arya. Dia itu tak pernah bisa apa-apa sebelumnya, tapi kini sudah menguasai sihir dan berbagai macam bahasa tanpa perlu belajar dengan susah payah.

“ Sekarang, kita akan pergi keruang senjata, kita perlu mempersenjatai orang-orang yang tidak memiliki ilmu sihir ! “ Sapa Inca beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju pintu yang berada samping tahta, seraya memberi isyarat agar kami semua mengikutinya.

Setelah berjalan menelusuri sebuah lorong yang tak pernah kulihat sebelumnya, Sapa Inca berhenti didepan sebuah tembok, yang terlihat kosong seperti tembok biasa. Satu-satunya hiasan disitu hanyalah sebuah patung manusia berkepala kerbau, berbaju zirah dan memegang tongkat berujung runcing, yang bisa dibilang sangat jelek sekali modelnya.

Sapa Inca menarik kearah berlawanan tongkat runcing yang dipegang patung itu, dan sedetik kemudian terdengar bunyi bergemuruh, dan tembok didepan kami mundur satu meter kebelakang, lalu bergeser ke sebelah kiri, menampilkan sebuah ruangan seukuran lapangan bola voli, yang langsung terang benderang dengan cahaya obor. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

{ 3 komentar... read them below or Comment }

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers