Popular posts

nsikome On 11 September 2011

Halo semua!..Sekarang kita sudah mulai masuk episode2 terakhir dari Trilogi "The Lost City" buku 1; Golden Mountain. Buat kamu-kamu yang terus setia dengan cer-ber ini, terima kasih untuk sumbangan semangatnya selama ini. Sekali lagi, Thank you so much.



THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 15


Aku dan kuyakin adikku juga terpana melihat isi ruangan itu. Didalamnya terdapat banyak macam senjata api dengan berbagai bentuk, model dan ukuran. Juga ada berbagai macam alat peledak, mulai yang berbentuk granat nenas, sampai yang canggih dengan sistem pengaturan digital, seperti yang biasa kulihat di film-film action barat.

Mereka yang kukira bertempur hanya dengan sihir dan pedang atau tombak, ternyata memiliki gudang senjata yang tak kalah komplit dengan milik agen-agen CIA atau FBI.

“ Yang Mulia, maafkan sebelumnya kalau saya terdengar sedikit lancang, saya hanya mau tahu, bagaimana Yang Mulia bisa mendapatkan semua ini ? “ rasa penasaranku tak bisa kutahan juga akhirnya.

“ Saya pikir, dengan emas kita bisa memiliki apapun yang kita inginkan, iya kan ? “ balas Sapa Inca bertanya.

Tolol benar aku, tentu saja dia benar. Dengan semua emas yang mereka miliki itu, senjata canggih milik seisi Pentagon saja aku yakin bisa mereka beli kalau mereka mau.

Aku mulai berpikir, bahwa cara hidup masyarakat disini yang terlihat masih sangat kuno hanyalah tampak luar saja. Artinya, memang masyarakat mereka hidup seperti itu, tetapi, Sapa Inca dan para pejabat kerajaan mereka pasti memiliki hal-hal yang diluar dugaan seperti gudang senjata canggih ini.

Setelah membekali diri dengan senjata secukupnya, kami keluar dari situ dan langsung menuju kearah pintu keluar ruangan tahta.

Sejenak Sapa Inca menutup kedua matanya rapat-rapat, lalu dia memberi isyarat pada kami untuk bersiap-siap dibelakangnya.

“ Didepan pintu ruangan tidak ada siapa-siapa, tapi didepan Piramida ada dua orang penjaga. “

Sapa Inca membuka kedua matanya lagi. Rupanya dia tadi tengah membaca pikiran orang, seperti yang sudah biasa kulihat dilakukan Annamaya dan Intipalla.

Kami berempat berjingkat-jingkat mendekati pintu utama Piramida. Sapa Inca benar, pintu Piramida dijaga dua orang penjahat, yang salah satunya kukenal. Dia adalah anak buah Hans yang bertugas ditenda stock.

Entah darimana datangnya, tiba-tiba dua buah patung kecil yang tadinya kulihat menghiasi sebuah lemari diruangan tahta menghantam kepala kedua penjaga itu, membuat mereka berdua langsung pingsan seketika.

“ Sekarang, kalian akan membalas semua kematian anakku ! “ sebuah suara halus mendesis marah dibelakangku. Ternyata Ratu yang melakukannya.

Kemudian, dua buah golok bergerigi yang tadinya dipegang oleh patung dewa dilorong melayang dengan cepat, dan tanpa bisa kucegah, kedua benda itu langsung menancap dalam kedada kedua penjahat itu.

Aku dan Arya terdiam ngeri. Nampak sang Ratu hanya menatap dingin dan mencemooh kearah kedua penjaga yang kini tinggal mayatnya itu.

“ Maaf Aning, Arya, aku harus melakukannya. Aku akan membunuh mereka semua, kecuali aku terbunuh lebih dulu ! “ sang Ratu menatapku, dan tak kulihat lagi tatapan lembut keibuan yang sangat kusuka darinya. Sepasang mata indah itu kini membara marah, penuh dendam atas kematian anaknya.

“ Aning, kita sekarang akan keluar dari dalam Piramida, jadi saya minta kamu dan Arya untuk berhati-hati, karena kemungkinan kita akan melakukan perang terbuka dengan para penjahat itu, dan itu akan sangat berbahaya bagi kalian berdua, terutama karena Aning tidak memiliki kemampuan sihir seperti kami ! “ nasehat Sapa Inca padaku, tahu kalau Arya sekarang sudah memiliki kemampuan sihir seperti seorang Panaca sejati. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Suasana diluar nampak ramai. Para penjahat sudah memulai kegiatan penjarahan mereka, dan kini mereka sudah mulai mengangkat peti-peti berisi emas keluar dari perut gunung. Para pengrajin yang dulunya kulihat duduk bekerja di kios-kios kecil mereka saat pertama masuk kedalam perut gunung, kini diperintahkan para penjahat untuk mengangkut emas keluar dari situ.

Nampak diseberang Piramida, Franz tengah duduk diatas gerobak yang dulunya digunakan para pengrajin untuk mengangkut emas yang hendak mereka pakai, sambil memegang selembar kertas. Entah apa yang tengah dicatat bajingan itu.

“ Aneh, para pekerja sebenarnya memiliki gudang senjata diluar sini, kenapa mereka tidak mengambilnya dan melawan para penjahat ? “ cetus Sapa Inca khawatir.

“ Mungkin mereka tidak sempat, Yang Mulia, karena para penjahat sudah keburu datang. “ Arya berbisik pelan. Kulihat Sapa Inca hanya menggeleng, seperti tidak setuju dengan kata-kata adikku itu.

“ Yang Mulia, syukurlah anda tidak apa-apa !!... “ sebuah suara tiba-tiba mengangetkan kami. Ibu Rapalla yang notabene adalah istri pertama Sapa Inca muncul tiba-tiba dari belakang.

“ Bagaimana kau bisa sampai kesini ? “ tanya Sapa Inca khawatir, tapi juga terdengar lega.

“ Mereka membawaku kesini, rupanya mereka memaksa salah seorang pengawal kerajaan kita untuk membuka pintu di Kuil, aku bisa mengelabui penjaga dan berhasil meloloskan diri ! “ wajah perempuan itu kelihatan ketakutan. Sapa Inca meraih tangan istri pertamanya itu.

“ Sekarang kamu bersama dengan saya, tak perlu takut, “ laki-laki itu berucap menenangkan istrinya. Sang Ratu juga ikut mengelus bahu perempuan itu.

“ Rapalla dimana ? anakku tidak kenapa-kenapa, kan ? “ tanya perempuan itu menuntut padaku dan Arya, seakan-akan kami menyembunyikan anaknya itu.

“ Dia baik-baik saja....sedikit terluka tapi kami sudah membawanya kerumah tabib, dan dia sudah diobati. Kata tabib, dia akan baik-baik saja... “ ujarku menjelaskan.

“ Ini semua salah kamu, Aning ! Kalau kamu tidak datang kesini, kami pasti sedang hidup tenang dan aman ! “ tuduh perempuan itu marah. Suaranya kencang terdengar.

“ Ssst.....kamu akan membuat kita ketahuan, simpan marahmu itu, lebih baik kamu lampiaskan pada para penjahat-penjahat yang mencoba untuk merampas milik kita ! “ tegur Sapa Inca berwibawa. Istri pertamanya langsung terdiam patuh, tapi matanya tetap menatap aku dan Arya, mengancam.

Peringatan Sapa Inca sia-sia, suara keras Ibu Rapalla tadi membuat kami ketahuan.

“ Itu mereka !! “ seru seseorang dengan keras. Franz si pemimpin rombongan langsung meloncat bangun dari tempat duduknya.

“ Wah....wah...satu grup komplet, lengkap dengan Kepala Sekolahnya ! “ tutur Franz bernada menghina, sambil menunjuk Sapa Inca.

Rasa marah yang menyakitkan hatiku langsung berkobar membakar dada. Aku tahu mengapa, kematian Intipalla yang menyebabkan semua rasa itu.

“ Pembunuh biadab ! kalian benar-benar seperti binatang !! “ teriakku marah, tak tertahankan lagi. Franz hanya tertawa sinis mendengarnya, membuatku bertambah murka.

“ Apa yang kau maksudkan itu, pacarmu yang berkulit coklat, anak Inca itu ? “ ledeknya lagi.

Tanpa bisa kutahan, aku langsung meraung dan menghamburkan peluru dari senjata berlaras panjang yang kupegang.

Dorongan energi yang keluar dari senjata saat kutembakkan itu tak bisa kuantisipasi, dan akibatnya bukan membunuh para penjahat, tapi hanya membuatku terjungkal jatuh ke tanah, membuat para penjahat tertawa terbahak-bahak.

“ Makanya, kalau cuma bisa pegang pulpen, jangan bermain-main dengan barang itu, berbahaya buat anak kecil seperti kamu !! “ salah seorang anak buah Franz yang berambut merah seperti rambut jagung menghina sambil menertawaiku.

“ Kakak diam saja disitu, bajingan itu milikku !! “ seru Arya dengan suara keras.

Rupanya para penjahat termasuk Franz menganggap remeh adikku itu. Mereka hanya tertawa terbahak-bahak, seakan-akan apa yang dikatakan oleh Arya barusan adalah sebuah lelaucon yang sangat lucu.

“ Memangnya apa yang akan kamu lakukan pada kami ? menggelitik kami sampai mati ?! “ celetuk salah seorang anak buah Franz yang berbaju biru, sepertinya dia orang lokal, tapi bahasa Inggrisnya sangat sempurna terdengar.

“ Mungkin itu ide yang sangat bagus, tapi saya memilih melakukan ini pada kalian !! “ balas Arya sambil mengangkat kedua tangannya.

Dibelakang para penjahat, batu-batu sebesar buah nangka terangkat ke udara dengan kecepatan yang mengagumkan. Melihat itu, wajah-wajah anak buah Franz, termasuk dia sendiri yang tadinya penuh dengan tawa langsung berubah pucat pasi.

“ Bb..b...ba..gai..mm..ana caramu m..m..melakukannya ? “ terbata-bata Franz bertanya heran sekaligus ketakutan. Raut pongah yang tadi tersirat diwajahnya kini sama sekali tidak kelihatan sedikitpun.

Arya hanya tersenyum sinis, lalu mengibaskan tangannya kearah para penjahat, yang langsung tertimpa batu-batu yang terangkat ke udara oleh Arya. Mereka jatuh pingsan tanpa sempat melakukan perlawanan apa-apa.

Tanpa di komando, Sapa Inca, Ratu dan juga Ibu Rapalla langsung bergerak bersama-sama. Pertempuran yang tak seimbang terjadi. Para penjahat yang melihat teman-temannya sudah ambruk tanpa sebab, langsung menyerang kami. Jumlah mereka yang banyak tak seimbang dengan kami yang hanya berlima, karena dayang-dayang Ratu tidak diijinkan untuk ikur bertarung oleh sang Ratu sendiri

Aku sendiri, setelah tembakan pertama yang membuatku terjungkal, senjata berlaras panjang itu kupegang erat-erat. Benar saja, begitu tembakan yang keluar selanjutnya, aku merasa seperti sudah memegang senjata seumur hidupku.

Entah bagaimana melukiskan semua ini. Aku seperti berada dalam sebuah film perang. Campuran antara ‘Rambo’ dan ‘Harry Potter’. Kenapa campuran kedua film itu ? Karena bunyi rentetan letusan senjata yang tak habis-habisnya, membuat kepulan debu dimana-mana, juga benda-benda berat yang melayang di udara di sana-sini seperti dalam film ‘Harry Potter’. Benar-benar ajaib.

Namun, pertempuran yang tak seimbang jumlahnya itu rupanya akan dimenangkan oleh kami. Hanya dengan sihir yang dimiliki oleh Arya, sang Ratu dan juga Sapa Inca ( ibu Rapalla tidak bisa sihir rupanya ), korban sudah banyak berjatuhan dari pihak lawan.

Sedangkan aku, senjataku sudah kehabisan peluru, dan melukai cukup banyak penjahat.

“ Mereka berjumlah banyak, Aning ! “ seru Ratu, sambil mengibaskan tombak-tombak yang tersusun rapi disamping kedai pengrajin emas pada para penjahat, yang langsung merubuhkan lima orang sekaligus.

“ Mereka berjumlah 350 orang !! “ teriak Ibu Rapalla.

“ Aku mendengar mereka berbicara sewaktu masih berada di Acllahuasi !! “ lanjut wanita itu sambil terus bertempur.

Ternyata aku benar. Rupanya Hans dan para sekutunya sudah mempersiapkan diri untuk masuk kedalam Kota Yang Hilang. Karena untuk mengumpulkan 100 orang hanya dalam waktu singkat itu sudah tidak mungkin, bagaimana dengan 350 orang ?.

Pikiranku mulai berjalan lagi. Karena peluru di senapan berlaras panjang yang kupegang sudah habis, kuputuskan untuk undur diri dari pertempuran, dan bersembunyi dibalik sebuah batu besar yang terletak tak jauh dari pintu masuk Piramida.

Aku yakin, bahwa ekspedisi yang dipimpin Papa hanya dijadikan selubung oleh Franz, juga Erold dan Hans agar mereka bisa menemukan sendiri Kota Yang Hilang, yang telah mereka cari dan selidiki selama ini, untuk kepentingan pribadi mereka.

Pertempuran masih berlanjut, dan Arya semakin menggila. Kemampuan sihirnya ternyata besar sekali, dan bahkan melebihi Sapa Inca. Dia bahkan menciptakan semacam pusaran debu, yang begitu menghantam para penjahat, langsung membuat mereka kocar-kacir.

Saking serunya melihat pertempuran itu, aku sama sekali tak memperhatikan bahwa ada yang tengah mengendap-endap dibelakangku. Aku baru tersadar setelah sebuah belati tajam sudah menempel dileherku. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers