Popular posts

nsikome On 18 September 2011

Hi guys,.....ini adalah ketiga yg terakhir dari The Lost City, jadi, masih ada 2 Episode lagi, dan kita akan sampai di akhir kisah The Lost City untuk BOOK 1 : The Golden Mountain. Selamat menikmati!!


THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 16

“ Panggil Sapa Inca, dan suruh mereka bertiga berhenti berperang ! “ desis suara itu kejam.

Ya Tuhan, kali ini aku benar-benar tak menyangka. Suara itu, tanpa perlu melihat wajahnya, aku tahu siapa dia. Sungguh diluar dugaanku, dan mungkin bahkan semua orang yang berada di pihak kami dalam pertempuran ini.

“ Bagaimana mungkin kamu bisa berkhianat pada bangsamu sendiri ?! “ desisku marah.

“ Tak perlu banyak bicara, Aning ! Tahukah kamu, kalau semua ini adalah salahmu ?! Sekarang panggil Sapa Inca ! “ bentaknya marah, sambil menekankan belati keleherku lebih dalam. Perih mulai terasa disana, dan aku yakin kalau leherku pasti sudah tergores sedikit.

“ Yang Mulia !! “ teriakku sekencang mungkin. Berhasil ! Sapa Inca menoleh kearahku.

Raut wajah pria tua itu tidak jauh dari yang aku bayangkan sebelumnya. mulai dari tak percaya, marah, dan benci berubah-ubah tergambar jelas di raut wajah laki-laki itu.

“ Jadi kaulah pengkhianatnya ?! “ seru Sapa Inca murka. Wajahnya berubah menjadi merah padam.

“ Tentu saja...siapa lagi yang bisa membawa masuk mereka kemari ?! “ suara wanita itu, yang tak lain adalah Ibu Rapalla terdengar menghina.

Ratu yang sedang bertempur ikut berhenti melihat pemandangan yang aneh itu. Wajah cantik berdebu yang penuh amarah dan dendam itu makin murka melihat istri pertama Sapa Inca menawanku dengan belati menempel dileherku.

“ Aku tahu sejak dulu, kalau kau itu memang sebenarnya berhati busuk Ilahhuan !! “ teriak Ratu marah. Ini adalah pertama kalinya aku mengetahui nama Ibu Rapalla.

“ Bagaimana kamu bisa tega berbuat seperti ini istriku ? “ Sapa Inca bertanya perlahan, tapi aku tahu bahwa laki-laki itu sedang murka. Kemarahan tergambar jelas di wajahnya.

“ Bagaimana aku melakukannya ? Gampang saja, aku bersepakat dengan para orang asing itu. Sejak Yang Mulia memutuskan untuk menjadikan Intipalla sebagai pewaris tahta, aku marah dan benci pada kalian semua, dan aku bersumpah bahwa aku akan membalas penghinaan itu ! “

Rupanya motif perempuan itu adalah rasa iri dan balas dendam karena bukan anaknya yang diangkat untuk menjadi pengganti Sapa Inca.

“ Apakah kamu tidak sadar Ilahhuan, kalau semua yang kau lakukan ini membahayakan seluruh penduduk kerajaan ini ? “ Sapa Inca kini lebih terlihat sedih daripada marah.

“ Peduli amat dengan kerajaan ini !! Kata para orang asing itu, semua emas yang kita miliki dalam gunung ini sangat berharga di dunia luar, dan bisa membuat kita menjadi penguasa dunia luar ! Untuk apa berdiam dalam lembah kecil ini, kalau aku bisa keluar dan menguasai dunia luar yang lebih luas ?! “ jelas sudah bahwa perempuan itu memang benar-benar tamak. Ditambah dengan suntikan-suntikan ide beracun dari para penjahat, jadilah Ibu Rapalla berkhianat pada rakyatnya sendiri.

“ Sebelumnya, aku akan membunuhmu !! “ teriak Ratu histeris sambil menerjang kedepan, dan mengangkat tangannya menyerang Ibu Rapalla.

Kepulan debu berhamburan di udara, membuat pemandanganku sedikit tertutup. Ibu Rapalla yang tak menduga akan adanya serangan itu, mundur kebelakang, membuat belati yang menempel dileherku menggores leherku sedikit.

“ Yang Mulia !! Jangan menyerang, pisaunya menggores leherku !! “ teriakku ketakutan.

Sejenak serangan sang Ratu berhenti, lalu kepulan debu itu mulai memudar. Samar-samar kulihat Sapa Inca, Arya dan Ratu berdiri bersisian diseberangku, dan dibelakang mereka, para penjahat-penjahat yang tersisa mulai mendekat.

Seketika aku tersadar, bahwa kini posisi kami sudah berbalik, dari mulai memenangkan pertempuran, menjadi pihak yang kalah. Tanpa ada sedikitpun perlawanan, para bajingan-bajingan itu meringkus sang Ratu, Sapa Inca dan Arya, yang tak bisa berbuat apa-apa karena melihat belati yang menempel di leherku.

“ Ternyata kalian bijaksana juga, bravo !!.. “ Franz muncul dari balik sisa-sisa kepulan debu, sambil bertepuk tangan dengan pongah.

“ Akan kita apakan mereka, Bos ? “ tanya Franz pada Ibu Rapalla.

Bos ? kupikir Franz dan para gerombolannya, serta Erold dan juga Hans (yang tak memiliki rasa hormatku lagi, sehingga aku tak menyebutnya dengan panggilan ‘Om’ sebelum namanya) merekalah yang menjadi kepala dari semua ini.

“ Kenapa Aning ? Kaget dengan semua ini ? “ tanya Illahuan keji.

Ya Tuhan, benang-benang merah yang tadinya kocar-kacir mulai terurai satu persatu. Seperti kegelapan yang mulai diterangi oleh cahaya, semua mulai menjadi jelas bagiku.

Semua penjahat-penjahat itu bukanlah perencana dari semua gerakan Coup d’Et√Ęt ini, tapi Ibu Rapalla-lah yang berada dibalik semua ini.

“ Ternyata kau yang merencanakan semua ini, dan semua kejadian itu adalah hasil rekayasamu semata... “ tuntutku geram. Belum pernah aku merasa semarah sekarang pada seseorang.

“ Termasuk keracunan itu, aku sengaja meracuni diriku sendiri dengan racun yang dibuat oleh Ibu Annamaya, agar perhatian semua orang teralih padaku, sementara para kawan-kawanku masuk kedalam sini ! “ dengan sombong perempuan itu melengkapi penjelasanku tentang semua yang terjadi.

“ Karena itu, penawar racun yang semula kata Ibuku ada 2 botol, hanya tersisa 1 sewaktu aku dan Aning mengambilnya untuk Arya, dan juga semua kekacauan dilaboratorium Ibuku, yang semula kami kira adalah ulah kucing yang nakal, itu adalah ulahmu dan orang-orangmu !! “ tiba-tiba saja entah darimana, Annamaya muncul.

“ Benar sekali anak manis, pintar sekali kau !! “ celetuk Illahuan sambil menepuk kedua tangannya.

Kulihat bibir Annamaya berkedut, dan sedetik kemudian, tanpa terduga dia menyerang Ibu Rapalla itu dengan sebilah pedang yang disembunyikan gadis itu dibelakang punggungnya.

“ Kau memang biadab !! Kau membunuh Intipalla, kau akan kubunuh !! “ teriak Annamaya murka, sambil merangsek maju.

Tapi usahanya sia-sia, karena hanya dengan mengangkat sebelah tangannya yang tidak memegang belati, dia berhasil menahan Annamaya, membuat gadis itu tidak bisa bergerak maju, seperti tertahan oleh sebuah tembok yang tak kelihatan.

“ Saya sudah pernah mengungkapkan semua ini pada Yang Mulia, tapi tak pernah sedikitpun Yang Mulia mempercayai kata-kata saya... “ keluh sang Ratu.

Sapa Inca memandangi istri pertama dan sang Ratu bergantian, seakan-akan tak percaya bahwa semua hal ini bisa terjadi padanya.

“ Kamu benar, tapi tahukah kamu, kalau sebenarnya yang dicintai oleh Sapa Inca adalah saya, dan bukan kau ?! “ ujar Illahuan dengan nada menghina sang Ratu.

Kulihat mata sang Ratu langsung dipenuhi dengan airmata. Perempuan itu tertunduk mendengar kata-kata Ibu Rapalla, seperti tanaman yang layu tak tersiram air.

“ Yang Mulia, aku sudah sering mendengar semua bisik-bisik itu dari para pelayan, apakah itu benar adanya ? apakah benar kalau Yang Mulia terpaksa bersama dengan hamba, hanya karena hamba-lah yang melahirkan anak pertama laki-laki Yang Mulia, yang akan menjadi penerus tahta kerajaan ini ? apakah benar kalau sebenarnya Yang Mulia hanya mencintai Illahuan seorang ? “ suara sang Ratu lebih mirip permohonan dalam desisan, meski jelas terdengar.

“ Maafkan aku Marua....semua itu benar... “ lagi-lagi aku baru tahu nama sang Ratu. Sapa Inca terlihat lelah, dan seperti meminta maaf pada sang Ratu, yang langsung terisak mendengar kata-kata suaminya itu.

“ Kenapa Yang Mulia tidak pernah meminta hamba untuk pergi ? Kenapa Yang Mulia terus bersama dengan hamba, kalau ternyata bukan hamba yang dicintai ? “ Ratu menangis sesenggukan diantara perkataannya.

“ Marua....kau tahu bagaimana adat istiadat bangsa kita, kan ? saya tak bisa melakukannya...” keluh Sapa Inca.

Kami semua yang berada disitu terdiam, seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan teater yang bercerita tentang cinta, bersetting jaman Inca kuno. Hanya satu kata yang bisa melukiskannya ; Aneh.

“ Kau lihat, Marua ? Seharusnya dari dulu kau tahu diri, tapi bukannya sadar, malah bertingkah seperti seorang Ratu, padahal kau tahu bahwa akulah satu-satunya istri Sapa Inca yang pantas untuk menjadi Ratu !! “ tandas Illahuan.

“ Saya memang mencintai Illahuan, tetapi tahukah kamu Marua, kalau rasa cinta itu telah musnah sejak saya mulai mengenal kelakuannya, dan mendapati bahwa parasnya saja yang cantik, tapi hatinya lebih busuk dari bangkai burung elang ?! Saya menyayangi kamu Marua, itulah kejujuran yang sebenarnya, dan saya lebih menyayangi kamu sejak kejadian sial yang menimpa kita ini dimulai !! “ kata-kata Sapa Inca sepertinya mengejutkan Illahuan, karena perempuan itu seperti terkaget yang membuat belati ditangannya sedikit mengendur dari leherku.

Segera kuambil kesempatan itu. Memanfaatkan ilmu beladiri yang diajarkan dalam ekstra kurikuler Karate di sekolah, ku putar tangan perempuan itu dengan cepat dan kuat, membuat belati yang di ganggamnya langsung terlepas karena kesakitan, lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menghambur ke arah Arya.

Rupanya mereka sama sekali tidak menduga kalau aku akan bisa melarikan diri, dan Arya yang melihat semua itu langsung mengangkat bebatuan disekitarnya dengan sihir, lalu melontarkannya pada para penjahat yang berhasil meringkus dia, Sapa Inca dan juga Ratu.

Suasana kembali kacau-balau. Para penjahat yang terkena batu hasil sabetan ilmu sihir Arya langsung terjungkal ketanah, diam tak bergerak, entah mati atau pingsan aku tak tahu.

“ Tangkap mereka !! Jangan biarkan mereka lolos, kalau bisa, bunuh mereka semua !! “ teriak Illahuan memberi perintah.

Aku sama sekali tidak menduga istri pertama Sapa Inca adalah otak yang berada dibalik pembantaian rakyatnya sendiri. Dalam hati aku bertanya-tanya tentang Rapalla, apakah dia tahu apa yang dilakukan oleh Ibunya ? Atau jangan-jangan, dia sendiri ikut berkomplot dengan Ibunya itu ? Tapi dia kan terluka dalam pertempuran, namun dia bisa saja terluka ketika bertarung dengan Intipalla ?!. Sejuta tanda tanya bercampur praduga muncul dibenakku tanpa bisa kucegah.

Kami berlima berlari bersama. Sapa Inca berlari sambil menarik tangan Ratu, sedangkan Arya memegang tanganku, dan aku memegang Annamaya. Kami bertiga mengikuti langkah Sapa Inca.

Setelah berlari diantara desingan peluru-peluru yang dilontarkan para penjahat, Sapa Inca masuk kedalam sebuah pintu kecil, yang terletak dibelakang salah satu kedai pengrajin, yang letaknya agak tersembunyi diantara tumpukan barang-barang didalam gunung.

“ Cepat masuk Arya, Aning !! “ seru Sapa Inca.

Ternyata itu adalah sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan senjata-senjata modern, seperti yang ada didalam Piramida, tapi bedanya didalam sana ruang senjata milik Sapa Inca terlihat rapi, tapi yang ini seperti sudah diacak-acak oleh orang.

Beberapa senjata bahkan sudah tidak lagi berada ditempatnya.

“ Rupanya Illahuan sudah memberi tahu para penjahat itu tempat penyimpanan senjata para pekerja didalam gunung ! “ rutuk Sapa Inca terlihat kesal.

“ Annamaya.....darimana saja kamu ? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu !! “ Arya merengkuh gadis itu kedalam pelukannya.

“ Aku ditawan oleh para penjahat, tapi kemudian dibebaskan oleh Rapalla, tapi sekarang aku tak tahu dia berada dimana, aku sangat mengkhawatirkan dirinya, dia kelihatan belum terlalu sehat... “

“ Yang Mulia, kenapa kita tidak keluar saja dan menghadapi para penjahat itu. Dengan sihir yang kita bertiga miliki, saya rasa kita bisa mengalahkan mereka, apalagi Kak Aning kini tidak lagi menjadi tawanan ! “ Arya terlihat bersemangat untuk melanjutkan pertarungan.

Aku jadi curiga, sepertinya anak itu sangat menikmati kekuatan sihir yang baru saja dia peroleh lewat kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya itu.

Sapa Inca seperti tengah berpikir keras, sedetik laki-laki tua itu kelihatannya ingin mengikuti saran Arya, tapi kemudian dia menggeleng perlahan.

“ Mereka terlalu banyak, Arya. Saya tak ingin mengambil resiko rakyat saya makin banyak yang terluka. “ Ucapnya tegas.

“ Tapi Yang Mulia, berdiam disini juga tak berarti banyak, diluar sana rakyat anda tetap akan dibantai, jika kita tak melakukan apa-apa !! “ sanggah Arya keras. Aku heran, anak itu jadi pemberani luar biasa sekarang.

“ Yang Mulia, anak ini benar, kita tak akan bisa menyelamatkan bangsa kita, jika hanya berdiam didalam sini. Mungkin lebih baik, kita membuat rencan, mencari jalan agar bisa menyelamatkan negeri ini ! “ Ratu berkata dengan berapi-api. Kemudian perempuan itu menatap Sapa Inca, sambil berkata memohon,

“ Yang Mulia, anak hamba meninggal karena berusaha mempertahankan bangsa ini, hamba tak akan rela jika semua pengorbanan anak kita itu sia-sia, lebih baik hamba mati... “ mata sang Ratu mulai digenangi airmata.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers