Popular posts

nsikome On 02 Oktober 2011

Huuffftt...sabar ya...nih, 1 episode sebelum episode terakhir (Senin depan), dan untuk penggemar TLC, baiklah..demi kalian, aku bela-belain posting episode ini jam 12:10 tengah malam. Soalnya ada yg kirim e-mail, katanya : N, postingannya Senin jam 00:00 dong, kan sudah Senin..Ckckckckck..tu orang mo bikin aku abis darah apa ya?..tapi biarlah, demi para pembaca tercinta...Hehe...here we go!!!..1 episode before the final...

Photo : pirwahostelscusco.com

THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 18


Kukira, Sapa Inca akan emosi mendengar kata-kata Illahuan, tapi laki-laki tua itu hanya menatapku dan Annamaya, lalu berkata datar,

“ Kalian tolong bawa tubuh istriku kedalam ruang senjata, urus dia dengan baik, ya ?! “.

Aku dan Annamaya mengangguk mengiyakan, lalu bersama-sama mengangkat tubuh sang Ratu, dan mundur kedalam ruang senjata.

“ Aning....Illahuan kejam sekali..aku ingin membunuhnya !! “ kata Annamaya, keningnya berkerut menampakkan wajah penuh dendam.

“ Biarkan itu menjadi urusan Arya dan Sapa Inca, sekarang tugas kita adalah mengurus jasad Ratu dengan baik, dan kita akan mulai dengan mencabuti semua anak panah dan tombak yang menancap di tubuhnya ini !! “ ucapku tegas. Annamaya akhirnya mengangguk mengiyakan.

“ Kau tahu Aning, Ratu sebenarnya sangat hebat, dan kalau tadi perempuan biadab dan sekutunya itu tidak curang, kita pasti sudah menang !! “ cerita Annamaya dalam isak pelannya. Kami berdua mulai mencabuti anak-anak panah yang jumlahnya mungkin lebih dari 50 buah itu.

“ Dia jauh lebih kuat dari semua yang bisa ilmu sihir di kerajaan ini, bahkan lebih kuat dari Sapa Inca !! “ tambah gadis itu.

“ Oh ya ? “ tak urung, aku jadi tertarik mendengarnya.

“ Hanya saja, setiap kali dia mengeluarkan tenaganya, bila berlebihan, sering membuat dia sakit berat, dan mengeluarkan banyak darah dari hidung dan telinganya.... “

Aku jadi mengerti, karena itulah sebelum bertempur tadi, Sapa Inca pernah mengingatkan pada sang Ratu untuk berhati-hati dengan kekuatan sihir yang dimilikinya.

Suasana dalam ruangan senjata itu kembali hening, hanya sesekali terdengar isak bergantian antara aku dan Annamaya, di selingi suara mata tombak dan anak panah yang dicabut dari tubuh kaku sang Ratu yang kini terbaring dengan tenang.

Katakan pada Intipalla jika Yang Mulia bertemu dia disana, kalau aku tak hanya sayang dia, tapi juga mencintainya, dan juga akan terus merindukannya dimana saja aku berada, ucapku dalam hati pada Ratu.

Setelah selesai mencabuti semua anak panah dan mata tombak yang menancap ditubuh perempuan cantik itu, aku dan Annamaya mulai membersihkan tubuhnya dari darah. Beruntung dalam ruang senjata itu ada sebuah kendi berisi air, yang meskipun sudah mulai keruh, tapi kurasa cukup untuk membersihkan wajah dan lengan serta tangan Ratu.

“ Sekarang, kita sebaiknya membaringkan dia diatas bangku itu, Anna. Bagaimana menurut pendapatmu ? “ kutunjuk bangku panjang disudut ruangan. Annamaya hanya mengangguk mengiyakan.

Kami berdua lalu mengangkat tubuh Ratu, lalu membaringkannya diatas bangku yang terbuat dari emas. Setelah mengatur posisi perempuan itu agar terlihat lebih terhormat, aku dan Annamaya menutupi seluruh tubuhnya dengan Manta besar entah milik siapa yang kudapat digantungan baju dalam ruangan senjata itu.

Setelah semuanya beres, kami memutuskan untuk menyelinap keluar lagi, agar bisa melihat apa yang tengah terjadi diluar sana.

Nampak pertempuran tengah berlanjut, dan sudah sejak sepeninggal aku dan Annamaya tadi. Arya tak henti-hentinya mengangkat kedua tangannya keudara, membuat para penjahat jungkir balik. Dia nampak tak terkalahkan.

Di dekat pintu masuk Piramida, nampak sosok Sapa Inca, yang tengah bertempur seru dengan Illahuan yang dibantu dengan para kaki tangan perempuan itu.

Rasanya penjahat-penjahat itu seperti jumlahnya tak pernah habis. 2 terjungkal kalah, 5 datang menggantikan dari atas Kuil. Meskipun Sapa Inca dan Arya bertempur dengan ilmu sihir, tak urung mereka terlihat lelah. Mungkin karena konsentrasi mereka terpecah antara memukul musuh dan menghalau peluru-peluru yang berdesing menuju ke tubuh mereka dari segala arah.

“ Menurutmu kita harus membantu mereka, Ning ? “ rupanya Annamaya merasakan kecemasan yang sama denganku.

“ Entahlah Anna...Kalau saja aku punya ilmu sihir seperti Arya...” keluhku.

“ Sama...sayang aku juga tak punya kekuatan itu, dan tak tahu pula bagaimana cara menggunakan benda-benda di dalam sana ! “ tunjuk gadis itu pada senjata-senjata yang tergantung di dinding ruangan senjata.

Suasana pertempuran semakin seru, dan kami menyadari bahwa kini kekuatan mulai berimbang, dan bahkan menunjukkan arah-arah kemenangan bagi pihak Arya dan Sapa Inca.

Para penjahat yang jumlahnya seperti tak pernah berkurang karena terus mendapatkan tambahan bala bantuan dari Kuil diatas, kini seperti lalat-lalat yang kena semprot baygon, berjatuhan dipukul kalah oleh Sapa Inca dan Arya dan jumlahnya terus berkurang.

Illahuan masih terus berduel dengan suaminya, sambil sesekali melirik Jacques yang terus memuntahkan peluru dari senjata ditangannya pada Arya dan juga Sapa Inca, yang malah menghalau peluru-peluru itu dengan tangan kosong seperti menghalau nyamuk kecil.

“ Kau tahu, setelah aku membunuhmu, aku yang akan berkuasa disini, dan kawin dengan Jacques ! “ teriak Illahuan disela-sela duelnya dengan Sapa Inca.

“ Oh ya ? Sudah lama kalian memiliki hubungan ? “ Sapa Inca bicara seperti bukan sedang berperang, tapi sedang duduk santai minum kopi diteras.

“ Lumayan....sudah hampir 1 bulan... “ jawab Illahuan mengejek.

“ Kasihan...belum 1 bulan kenal dengannya dan kamu percaya begitu saja ?! “ Sapa Inca melayangkan sekumpulan batu sebesar buah mangga yang berhamburan dengan kecepatan tinggi kearah Illahuan yang langsung menepisnya.

Setidaknya, 1 bulan waktu yang kuhabiskan untuk bersama dengan Jacques, lebih lama dari 2 tahun waktu yang kuhabiskan bersama denganmu, karena harus menunggu giliranku !! “ Illahuan berteriak dalam kemarahannya, dan kelihatan sudah perempuan itu kini sedang terdesak.

Pertempuran yang terjadi sangat menegangkan. Illahuan kini berpindah medan pertempuran. Tadinya dia bertempur dengan Sapa Inca, kini dia melawan Arya, sedangkan Sapa Inca bertempur menghadapi Jacques dan cecunguk-cecunguk bawaannya.

Entah apa yang terjadi, aku dan Annamaya sedikit sulit untuk melihat dengan jelas. Terdengar suara Sapa Inca yang berteriak lantang, Jacques berada dalam penyanderaan Sapa Inca.

“ Illahuan !! Menyerahlah !....Kau lihat siapa yang berada dalam tanganku ?!.. “

Semua menoleh, nampak sebilah pedang terhunus melayang, tepat dileher laki-laki Perancis itu, dan bahkan sedikit menggores kulitnya sedikit.

“ Bangsat kau !!...jika kau menyentuhnya, aku bersumpah akan membunuhMU !!... “ pekik Illahuan kalap. Perempuan itu rupanya sudah jatuh cinta pada Jacques.

“ Rupanya kau menyukai laki-laki ini Illahuan ?! “ ejek Sapa Inca. Wajah perempuan itu memerah mendengar ucapan Sapa Inca.

“ Marua !! lepaskan aku !.... “ jerit Jacques tertahan.

“ Jangan khawatir sayang, aku pasti akan membebaskan dirimu dari tangan keparat itu !! “ Illahuan berseru, tapi kecemasan terlihat jelas di raut wajahnya. Matanya jelalatan ke segala arah, dan aku hampir yakin bahwa dia tengah mencari seseorang yang cukup berharga untuk dia jadikan sandera dan akan ditukarnya dengan Jacques.

“ Anna, kita harus berhati-hati agar jangan sampai kita tertangkap oleh Illahuan, aku cemas dia akan mencoba untuk menangkap salah satu dari kita berdua... “ bisikku memperingatkan Annamaya. Gadis itu mengangguk mengiyakan.

Suasana semakin mencekam. Arya masih terus berdiri dengan gaya mengancam para anak buah Illahuan dan Jacques yang mencoba untuk mendekatinya.

“ Bagaimana Illahuan ? Kau mau menyerah atau tidak ?! “ Sapa Inca mengangkat tangan kirinya, dan kini dua buah anak panah meluncur cepat, dan berhenti tepat di depan kedua mata Jacques.

“ Baiklah...baiklah....aku menyerah....asal kau lepaskan dia !! “ Illahuan mengangkat kedua tangannya diatas kepala. Wajah perempuan itu menunjukkan raut putus asa. Tak kusangka, ternyata Jacques pintar sekali merayu, sampai-sampai Illahuan kini rela menyerah untuk bisa membebaskan dirinya yang tertawan oleh Sapa Inca.

Setelah Illahuan berada cukup dekat dengan Sapa Inca, sang pemimpin perlahan melepaskan pedang yang menempel dileher Jacques dan menjauhkan anak-anak panah yang melayang di depan kedua mata laki-laki bule itu.

Namun rupanya, Sapa Inca tak pernah berniat untuk melepaskan laki-laki itu, karena begitu Illahuan berada dalam genggaman tangan kanannya, Sapa Inca membuat pedang yang tadinya menjauh dari leher Jacques, kembali melayang menuju laki-laki itu.

Jacques yang kelihatannya sudah menyadari apa yang akan terjadi, secepat kilat menyambar Illahuan dari tangan Sapa Inca, dan membuat perempuan itu menjadi tameng didepannya. Keji benar apa yang dia perbuat, karena pedang yang tadinya akan membunuhnya, kini tertancap dalam, di dada Illahuan.

“ Jacques....??... “ Illahuan terpana, dia masih tak percaya kalau laki-laki yang dia kira mencintainya ternyata lebih mementingkan dirinya sendiri.

“ Kau lihat Illahuan ? Emas yang jumlahnya sangat banyak bisa membuat orang menjadi pembohong yang sangat handal... “ suara Sapa Inca terdengar sangat menyesal.

Terdengar satu jeritan lagi, dan kali ini Jacques yang tadinya lolos dari maut, terbelalak ngeri dengan dada yang terbelah dihantam kapak.

“ Itu untukmu, karena menggoda Ibuku !! “ Rapalla berdiri di belakangnya dengan badan berlumuran darah. Sedetik kemudian, pemuda itu roboh ketanah.

“ Rapalla !! “ jeritku langsung berlari menuju pemuda itu. Aku menjadi lega karena ternyata dia hanya pingsan, bukan mati.

“ Cepat tolong dia !! Panggilkan tabib !!...

“ JANGAN BERGERAK !!!....KALIAN SUDAH TERKEPUNG !!!...... “ suara lantang yang sepertinya keluar dari dalam sebuah pengeras suara terdengar.

Refleks aku menoleh kearah suara itu, yang datangnya dari jalan masuk di bawah Kuil. Nampak banyak sekali orang, mungkin sekitar 100-an orang berpakaian seperti tentara lengkap dengan senjata ditangan berlarian masuk dan langsung mengambil posisi menembak.

Aku langsung mengenali laki-laki yang memegang pengeras suara. Dia adalah Om Erold, teman arkeolog Papa.

“ ANING.....ARYA.....APA KALIAN BAIK-BAIK SAJA ?!... “ Om Erold berteriak lewat pengeras suara yang dipegangnya.(BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.


{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Mantap banget kalau dibuat bukunya, Gan!!

    BalasHapus
  2. Anon : Nanti bacanya nggak gratis lagi dong, kan harus beli??..emang mau??hehe :)

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers