Popular posts

nsikome On 16 Oktober 2011

Akhirnya............the final episode of The Lost City. Setelah sempat tertunda, akhirnya sampai juga kita akhirnya di episode terakhir Novel ini. Bagi yang lagi nungguin, makasih ya udah ngikutin seri ini dengan sabar selama berapa bulan ya? Yang pasti cukup lama. Sampai ketemu di Buku 2 The Lost City ; Bloodline, Secret of The Royal Family yaaa!!!........


Photo : www.ifip.com

“ Aning, kamu akan tinggal sampai upacara pemakaman Ratu dan Intipalla, kan ? “ bisik Rapalla, rupanya dia sudah berada didekatku sejak tadi tanpa aku sadari. Aku menggeleng.

“ Tidak Rapalla. Aku ingin pergi, aku ingin pulang ke Indonesia karena aku tak tega melihat tubuhnya terbakar. Aku hanya ingin mengenangnya sebagaimana Intipalla yang utuh, bukan yang terbakar habis... “ ujarku sambil terus terisak. Rapalla membelai rambutku lembut. Dia seperti ingin menenangkan aku.

“ Sudahlah...kalau itu memang yang kau inginkan, tidak apa-apa... “ ucap Rapalla lirih.

Aku sudah memutuskan kalau kami akan pergi sebelum upacara pemakaman itu dilaksanakan. Sedangkan Om Erold dan para penyelidik Interpol dan CIA, mereka akan pergi bersama-sama dengan kami, tetapi sesudah upacara pelepasan diadakan, seperti yang sudah kami sepakati dengan Sapa Inca dan para pembesar kerajaan.

Upacara itu akan dilaksanakan esok siang, sesudah para penyelidik mengumpulkan semua bukti cukup untuk menjerat semua orang yang mereka curigai merupakan bagian dari sindikat penggelapan barang-barang purbakala, para sekutu-sekutu Jacques di berbagai belahan dunia. Termasuk nomor-nomor telepon para pejabat-pejabat di berbagai negara yang terlibat dalam sindikat itu.

Tak terasa, malam sudah mulai turun. Tapi kesibukan dalam Kota Yang Hilang tak kunjung berkurang. Aku sendiri lebih memilih untuk menyendiri dan sesering mungkin menghindar dari orang-orang. Arya sibuk dengan kegiatannya yang entah apa itu, yang pasti selalu melibatkan Annamaya disampingnya. Mama masih terus mengobati orang-orang yang terluka, sedangkan Papa terus membantu Om Erold dan para penyelidik dari CIA dan Interpol mengumpulkan bukti-bukti.

Sapa Inca tak pernah sekalipun keluar dari dalam Piramida, dan seperti kata Annamaya, selalu seperti itu setiap kali ada yang meninggal. Katanya, Sapa Inca tengah berkomunikasi dengan arwah para tetua, dan tak boleh diganggu sama sekali, karena dia tengah bernegosiasi untuk memuluskan jalan si mati ke surga.

Hingga waktu makan tiba, kami disuguhi makanan yang enak-enak, bukan jenis kecoak dan sebangsanya, tapi makanan internasional yang bisa ditemukan dimana-mana. Seperti yang mereka hidangkan pada kami sebelumnya, saat kami belum sadar bahwa Hans adalah seorang penjahat.

Rasanya seperti menelan duri. Aku tak bisa menikmati suguhan mereka itu. Pikiranku terus terbayang pada wajah Intipalla yang selalu senyum. Pada mata hitam pekatnya yang indah. Aku merindukan pemuda itu.

Bahkan malam itu kulewatkan dengan terus memikirkan Intipalla. Menangis bila aku merasa sedih karena menyadari bahwa dia sudah tiada dan tak akan pernah kembali bersama-sama dengan kami lagi, tertawa saat mengingat kebersamaan kami berempat, ketika teringat kejadian-kejadian lucu, lalu menangis lagi sampai pagi menjelang.

“ Aning....bangun Nak, kita harus segera bersiap-siap untuk keluar dari sini dan kembali ke perkemahan... “ suara Mama terdengar dipintu kamar tidur milik Annamaya. Kami sekeluarga memang dipersilahkan untuk menempati rumah Annamaya sejak tadi malam.

“ Papa mana, Ma ? “ tanyaku begitu daun pintu terbuka.

“ Ya ampun Aning...wajah kamu kok kusut banget....tidak tidur, ya ?! “ tanya Mama cemas. Dia tahu benar bagaimana tampangku kalau aku tak tidur semalaman. Dia sering melihatnya dirumah saat ujian di sekolahku sudah dekat. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“ Ini Mama sudah bikinin kamu kopi dan roti bakar. Papa semalam sempat balik lagi ke perkemahan. “ terjawab sudah pertanyaan dibenakku tentang asal kopi dan roti itu.

Rasa lapar yang tiba-tiba datang membuatku segera menyerang kopi panas dan roti yang dibawa Mama.

“ Ning, terus apa kata Sapa Inca tentang kita...ehmm...maksud Mama, apa kita bisa kembali lagi kesini ?! “ Mama mulai lagi menyelidik, meskpun dia sudah berusaha agar tak kelihatan seperti itu.

“ Ya tentu saja bisa, Ma. Semua orang sekarang sudah pasti bisa kembali lagi kesini, kan kota ini sudah diketahui oleh banyak orang ?! “ jawabku sedikit kesal. Mama mengangguk-angguk seperti burung pungguk.

“ Iya juga ya....apalagi CIA dan Interpol juga sudah tahu tentang kota ini, dan mereka mengambil foto-foto dan juga rekaman-rekaman video kota ini untuk bukti-bukti !! “

“ Foto dan video, Ma ?! “ tanyaku antusias. Mama mengiyakan dengan anggukan kepalanya.

Aku segera menghabiskan kopi dan roti bakar itu lalu bangkit dari tempat tidurku yang sangat harum dan nyaman.

“ Aning !!..kamu mau kemana ? “ teriak Mama.

“ Mau mandi dong, Ma !!..nggak lihat apa badan Aning kotor kayak baru abis bersihin selokan, ya ?! “ balasku berteriak. Mama ini memang ada-ada saja.

Selesai aku membersihkan badan, dan memakai baju Annamaya yang kupinjam darinya ( dia sempat datang untuk menengok keadaanku. Rupanya gadis itu bermalam di Acllahuasi ), aku langsung turun dari rumah Annamaya dan mencari gadis itu.

Dia ternyata sedang bersama dengan Arya ( bisa ditebak dengan gampang ), dan juga Rapalla. Mereka bertiga tengah mencabuti kelopak bunga mawar.

“ Aning...ternyata kamu sudah bangun... “ sapa Rapalla seraya mengangsurkan tempat duduk padaku.

“ Kalian sedang bikin apa, sih ? “ tanyaku ingin tahu.

“ Oh..ini...ini untuk keperluan upacara pemakaman.. “ Annamaya menjawab lirih, seperti takut membuatku sedih.

“ Oh ya, ngomong-ngomong, sekarang kita bisa mengganggu Sapa Inca ? “ kuraih setangkai mawar dari dalam keranjang dan mulai mencabuti kelopaknya.

“ Aku tak tahu, terserah kalau proses negosiasi dengan para leluhur sudah selesai atau belum. “ kata Rapalla.

“ Kita pergi lihat kedalam Piramida, yuk ! “ ajakku. Mereka bertiga menatapku berbarengan.

“ Aku serius...aku ingin ngomong dengan Sapa Inca, ayo !! “ aku segera beranjak dari tempat dudukku.

Masih kelihatan bingung bercampur ingin tahu, mereka bertiga ikutan bangkit dan berjalan bersamaku menuju kedalam Piramida.

“ Aning !!...cepet dikit kenapa, sih ? Acaranya sudah mau mulai !! “ Mama berseru panik. Aku sedang merapikan rambutku didalam kamar mandi. Hari ini, aku memakai baju yang sama seperti saat aku ditawan, dan dayang-dayang istana memakaikan aku baju adat mereka. Baju yang kata Intipalla membuatku lebih cantik dari gadis manapun yang pernah dia lihat.

“ Aning sudah siap kok, Ma ! “ aku langsung keluar dari dalam kamar mandi sebelum membuat Mama-ku jadi histeris.

Saat aku dan Mama turun dari rumah Annamaya, suasana di pelataran kuil sudah sangat ramai. Tak ada tenda-tenda yang menaungi, hanya ada jejeran kursi yang jumlahnya hanya sekitar 30-an. Masih kurang kupikir, karena orang-orang yang ada jauh lebih banyak dari itu. Para pasukan Om Erold belum lagi ditambah dengan rakyat Inca dan para pengawal kerajaan.

Aku akhirnya tahu, kursi itu hanya diperuntukkan bagi para perempuan bangsawan, dan juga ditambah aku dan Mama. Sedangkan para pria dan rakyat jelata bangsa Inca, mereka harus berdiri.

“ Aning, kamu cantik sekali... “ suara bisikan hinggap ditelingaku.

Refleks aku menoleh, ternyata Rapalla. Tapi pemuda itu sudah berjalan menjauh, menuju bagian depan Kuil dan hanya melambaikan tangannya padaku.

Semenit menunggu, dari dalam Kuil, keluar juga akhirnya Sapa Inca, ditemani oleh para pembesar kerajaan dan juga anak-anak mereka yang berada dalam Piramida. Saat kami tengah bertempur, anak-anak itu dikurung dan dijaga dengan ketat dalam Piramida. Beruntung tak ada seorang penjahatpun yang bisa masuk kesana.

Anak-anak yang dilindungi itu terlihat berdesak-desakkan. Banyak yang menutup mata mereka, karena silau terkena cahaya matahari. Kata Annamaya, ada banyak yang belum pernah sekalipun keluar dari dalam Piramida, karena tidak dijinkan.

Setelah para dayang-dayang menggiring anak-anak ke sisi berseberangan dengan kami, dan mendudukkan mereka di lantai yang beralaskan kain berwarna merah menyala, Sapa Inca maju dan berdiri didepan para pembesar mereka. Aku heran, ada Arya di sampingnya.

“ Selamat siang saudara-saudara sekalian, pemimpin bangsa ini akan bicara kepada kita sekalian, dan saya yang akan menerjemahkannya pada anda dalam bahasa Inggris !! “ lantang terdengar suara adikku itu.

“ Ning, sejak kapan dia pintar bahasa Quechua ?! “ tanya Mama terheran-heran.

“ Sejak dia keracunan, Ma. “

“ APA ?! KERACUNAN ??.. “ teriak Mama histeris, tapi langsung terdiam, karena semua orang menatapnya.

“ Ssstt... Mama malu-maluin aja !! “ rutukku kesal. Mama hanya memberi isyarat seperti mengunci ritsluiting pada bibirnya.

“ Saya, Sapa Inca, ingin berterima kasih banyak kepada anda sekalian, karena telah menyelamatkan bangsa kami, kerajaan kami dari para penjahat yang hendak memusnahkan peradaban ini !! “ suara Arya kembali terdengar setelah Sapa Inca berbicara dalam bahasa Quechua. Mama kelihatan sudah mau ngomong lagi, tapi langsung diam karena keburu ku pelototin.

“ Saya secara pribadi juga mau berterima kasih kepada Aning dan Arya, yang berjasa besar dalam menyelamatkan kehancuran kota ini !! “.

Tepuk tangan riuh terdengar dari para hadirin, tapi bukan bangsa Inca, mereka tidak tahu tepuk tangan itu apa.

“ Dan sebelum anda sekalian keluar dari kota kami ini, kami akan memberikan kenang-kenangan dan penghargaan atas pertolongan kalian kepada kami, sebagai ucapan terima kasih kami !! “ selesai Arya berbicara, Sapa Inca bertepuk tangan, dan Arya langsung memberi tanda padaku.

Secepat kilat, aku langsung merogoh masker yang ada dalam tas punggungku sejak tadi, dan memakainya. Mama terlihat bingung, tapi asap yang sangat tebal tiba-tiba saja menyelimuti seisi pelataran Kuil itu. Satu persatu orang terjatuh ketanah, kecuali para perempuan suku Inca yang duduk dengan kami, yang memiliki masker yang sama denganku. Kulihat Mama sudah tersandar pingsan dikursinya, dan aku langsung berlari menuju bagian depan Kuil.

“ Arya !!...Kamu dimana ?! “ teriakku kencang. Asap tebal itu membuatku susah untuk melihat.

“ Aku ada disini, Kak.. “ Akhirnya aku bisa melihatnya juga.

“ Bagimana ? Mereka semua sudah pingsan ? “ tanya Arya. Aku mengangguk.

“ Sekarang, kita tinggal melaksanakan pekerjaan yang selanjutnya ! “ tutur Sapa Inca yang sudah bergabung dengan kami.

“ Terima kasih Aning, Arya.... “ Laki-laki tua itu menepuk pundakku lembut.

“ Sama-sama Yang Mulia... “ ujarku pelan.

**********************************************

“ Aning....!! Sudah siang nih...dasar pemalas, ayo bangun !!... “ suara Mama akhirnya terdengar juga dari luar tenda milikku dan Arya. Kami berdua langsung keluar.

“ Kita ini liburan, bukan mau istirahat, tauk !! “ omel Mama. Aku dan Arya hanya berpandangan sambil tersenyum lebar.

Sisa liburan yang hanya 4 hari kami pergunakan untuk menjelajahi hutan yang sangat indah, dan tak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa mereka yang ada diperkemahan tahu tentang Kota Yang Hilang.

Setelah semua orang pingsan karena asap daun Coca kering yang ditiupkan lewat pipa-pipa pada saat upacara sebelumnya, para pengawal kerajaan dan juga rakyat Inca bekerja keras mengangkat semua personil Interpol dan CIA. Semalaman kami berjalan kaki membawa mereka 2 km disebelah barat perkemahan kami. Aku dan Arya membangun tenda-tenda yang kami dapat didalam tas ransel mereka, dan membuat seolah-olah mereka berkemah disana. Saat mereka bangun nanti, mereka akan mengira bahwa mereka memang sedang berkemah, dan tidak akan mengingat sedikitpun tentang apa yang mereka alami hari-hari sebelumnya, juga tentang Kota Yang Hilang.

Para penjahat yang tersisa, diikat kaki dan tangannya, lalu kami meletakkan mereka 25 meter dari perkemahan Om Erold dan kawan-kawannya sambil menyertakan 10 buah vas yang terbuat dari emas, dan juga beberapa perhiasan bangsa Inca yang diberikan oleh Ibu Annamaya, sebagai bukti kejahatan mereka. Agar Om Erold dan para agen lain tak perlu mencari bukti-bukti lagi tentang sindikat penggelap barang-barang purbakala. Kami kira semua yang kami tinggalkan sudah cukup untuk menjadi bukti.

“ Don...!!...Kami sudah mendapatkan mereka !!... “ terdengar suara teriakan dari arah hutan.

Aku dan Mama menghambur menuju arah suara tersebut. Ternyata Om Erold. Rupanya mereka sudah menemukan penjahat-penjahat itu. Dalam hati aku tertawa dengan tipuan kami yang sukses itu.

“ Ada apa, Rold ?!... “ tanya Papa.

“ Para penjahat itu, kami menemukan mereka terikat tak jauh dari perkemahan kami, dengan barang-barang yang hendak mereka curi, apa kalian yang menemukan barang-barang ini ? “ tunjuk Om Erold kedalam karung yang dibawanya. Nampak vas-vas bunga yang terbuat dari emas menyembul keluar.

“ Bukan kami yang menemukannya, Rold. Mungkin ada grup arkeolog lain disekitar tempat ini, itu bisa jadi milik mereka !! “ Papa menggelengkan kepalanya, lalu mengorek-korek isi karung itu.

“ Astaga !!...banyak sekali yang mereka curi, dan ini adalah perhiasan kerajaan bangsa Inca !! “ tambah Papa. Aku tiba-tiba jadi khawatir. Papa kok bisa tahu tentang hal itu ?.

“ Dari mana Papa tahu ? “ tanyaku memancing.

“ Dari ukirannya, dan lihat ! Ini ada lambang kerajaan bangsa Inca yang terkenal itu.. “

Oo...aku langsung merasa lega. Kupikir Papa ingat tentang kejadian itu.

Hingga hari terakhir liburan kami, aku dan Arya tak pernah lagi bertemu dengan Annamaya ataupun Rapalla. Kami juga tak pernah mencoba untuk masuk kembali kedalam Kota Yang Hilang, sesuai dengan perjanjian yang kami buat dengan Sapa Inca.

Kupikir, itu adalah yang terbaik. Sebab penyesalanku yang mendalam atas kematian Intipalla dan Ratu tetap saja tak bisa hilang, dan aku tak ingin kejadian serupa terjadi lagi.

Mama, Papa, dan semua yang lain tidak ingat, bahwa mereka pernah mengetahui keberadaan sebuah kota bangsa Inca yang menakjubkan, dan semoga semuanya tetap seperti itu. Ketika Sapa Inca memanggilku, kami memang merundingkan untuk melakukan hal itu, karena dia menginginkan keberadaan Kota yang Hilang itu agar tetap tersembunyi.

Tapi, dia menginginkan agar aku dan Arya tetap mengetahui keberadaan mereka, karena dia merasa sangat berterima kasih padaku, meski rasa terima kasihnya itu tetap saja tak mampu menutupi rasa bersalahku atas kematian anak dan istrinya.

Aku sempat memberikan alamat rumah kami di Indonesia, dan meminta Annamaya dan Rapalla sesekali mengirim surat padaku dan Arya. Mungkin mereka bisa menitipkan pada para pengawal yang ditugaskan setiap 6 bulan sekali untuk turun ke Kota. Tapi aku hanya bisa berharap, karena kemungkinannya kecil sekali.

*****************************************************

Jakarta, 8 bulan kemudian.

“ Pak...ada telpon untuk bapak... “ sang ajudan berbisik pada ketua Dewan yang sedang rapat.

“ Halo ?! Erold...mengapa baru ada kabar ? “

“ Kami masih bingung, Pak. Misi gagal, dan keadaan serba membingungkan, kami akan menjelaskan pada Bapak di Paris nanti bersama dengan yang lain, terlalu riskan berbicara ditelpon tentang kegiatan kita. “ suara laki-laki lain diseberang berbicara.

“ Hans dan lainnya tertangkap, Pak. Semoga saja mereka tidak bicara !! “ lanjut dia berbicara cepat.

“ Mereka tak akan pernah bisa bicara, saya bisa memastikan akan hal itu !! “

Laki-laki itu menutup telponnya. Lalu memutar nomor- nomor lain.

“ White House, Washington. Can I help you ? “

“ Bonjour, ici le résident de Ministre de la Défense....

“ Interpol office, good morning... “

Jakarta, waktu yang sama.

“ Aning…..ranselmu kapan mo di bongkar ? Mama kan harus kasih ke Iyem semua baju kotor !!! “ teriak Mama sambil menggedor-gedor pintu. Dengan kesal aku bangkit dari tempat tidurku, aku baru saja bisa tidur setelah kelelahan dari mendaki gunung Semeru, dan kini sudah di ganggu.

Sejak kepulangan kami dari Peru, aku keranjingan berpetualang. Ketika masuk Universitas, hal yang pertama aku lakukan adalah mencari tahu dimana sekretariat MAPALA fakultas tempat aku masuk. Hilang sudah Aning yang kutu buku, pendiam dan hobi mengurung diri dalam kamar.

Mungkin karena rasa frustrasi karena kematian Intipalla, membuatku jadi ingin lebih menikmati kehidupan ini. Arya sendiri tak lagi seperti dulu. Setelah kejadian itu, kami berdua menjadi pribadi yang jauh berbeda.

Mama dan Papa sempat heran, tapi mereka senang, karena aku tak pernah lagi bertengkar dengan adikku itu dan malah sering menghabiskan waktu bersama dengannya.

Arya sendiri tak pernah menunjukkan kemampuan sihirnya dan juga super multi-language nya pada Mama dan Papa, meskipun mereka sempat heran, karena nilai Arya disekolah banyak yang membaik dengan drastis.

Dengan malas ku raih ransel yang terletak di dekat pintu, lalu mulai membongkar semua pakaianku di situ. Saat kubuka, bau pengap yang memualkan langsung menguap dari dalam ransel.

Maklum, sejak kepulangan kami dari Semeru, aku masih belum juga membongkar isi ranselku, dan kalau nggak ketahuan Mama, sudah pasti akan jadi sebulan sebelum kubongkar, seperti biasanya.

Waktu aku ikut Papa ekspedisi ke Mesir 2 tahun yang lalu ketika liburan panjang, hampir dua minggu setelah balik ke tanah air, baru ranselku kubongkar. Ketika isinya kutumpahkan, ada banyak ulat-ulat kecil yang keluar bersama dengan tumpukan sandwich busuk.

Saat aku tengah merogoh-rogoh ke dalam, tiba-tiba ku dengar suara Mama yang berteriak lagi dari ruang tamu.

“ Aning....ada yang cariin kamu, katanya teman kamu !! “

Setengah merengut setengah kesal aku melangkah keruang tamu. Siapa lagi sih, bertamu saat orang lagi capek begini !! Rutukku kesal dalam hati.

“ Kak...kejutan !! “ Arya ternyata sudah berada dengan Mama.

Aku terpana, senter yang terbawa olehku dari dalam ransel jatuh dan pecah saking kagetnya.

Didepan pintu, berdiri Rapalla dan Annamaya. Rapalla begitu tampan dengan setelan celana jins kumal dan kaus polo hijau pucatnya, dia begitu mirip dengan...Intipalla.

Annamaya juga, dia kelihatan cantik dan modern. Mereka berdua memakai baju-baju masa kini.

“ Ya Tuhan... Rapalla !! Annamaya !!.....bagaimana kalian bisa sampai kesini ?! “ jeritku kegirangan, sambil meloncat memeluk mereka berdua bergantian. Tiba-tiba aku teringat sama Mama yang masih berdiri disitu.

“ Ma...ini..adalah___ “

“ Sahabat Facebook kalian dari Peru, kan ? Mama sudah tahu, kok. Arya yang bilang... “ potong Mama cepat. Arya mengedipkan sebelah matanya padaku.

“ Ya sudah !!...teman jauh-jauh datang nggak diajak masuk...Mama kedalam dulu, mau suruh Iyem bikinin minuman, Mama juga ada operasi di Rumah Sakit siang ini ! “ Mama melangkah masuk kedalam.

“ Ya..Kamu hebat deh ! “ aku langsung mencium adikku berterima kasih.

“ Anna...Rapalla..aku sangat merindukan kalian...Bagaimana kabar Sapa Inca ? “ aku langsung bertanya begitu yakin Mama tidak bisa lagi mendengar percakapan kami.

“ Dia baik-baik saja. Kalian berdua sendiri bagaimana kabarnya ? “ Rapalla menatapku ingin tahu.

“ Aku dan Arya juga baik. Tapi bagaimana mungkin kalian bisa sampai kesini ?! “ tanyaku penasaran.

“ Kau tahu, emas kami bernilai mahal di dunia luar, dan ketika kamu memiliki banyak emas, artinya kamu bisa memiliki banyak uang, dan semuanya menjadi mungkin. Bukan begitu yang berlaku di dunia kalian ini ?! “ Rapalla balik bertanya menggoda.

Kami tertawa berderai mendengar ucapannya. Tapi dia benar juga. Apapun bisa mereka lakukan dengan emas yang mereka miliki.

“ Oh ya Ning, Rapalla sekarang sudah diteguhkan menjadi Sapa Inca, menggantikan ayahnya, dua bulan yang lalu ! “ Annamaya memberitahu.

“ Oh ya...selamat ya !! “ ujarku ikutan senang.

“ Terus...siapa yang jadi korban pada upacara ? “ tanya Arya bernada khawatir.

“ Tidak ada, kami merubah peraturannya. Dan karena aku yang kini menjadi Sapa Inca, aku berhak merubah apapun yang ingin kurubah, termasuk calon pasanganku nanti... “ entah mengapa, saat mengucapkannya, Rapalla menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan.

“ Eh...baguslah kalau begitu...sekarang apa rencana kalian berdua ? “ kucoba untuk membelokkan pembicaraan.

“ Oh iya...karena kami sudah ada disini, bagaimana kalau kalian membawa kami untuk melihat seperti apa Indonesia itu ? “ kata Annamaya. Gadis itu menatapku dan Arya bergantian.

“ Jangan takut, untuk biaya kalian, kami yang akan tanggung itu !! “ tambah Annamaya mencoba meyakinkan, meskipun aku tahu itu tak perlu.

“ Tapi....liburan kami masih 2 minggu lagi... “ ucapku ragu.

“ Kami masih punya banyak waktu kok, dan bisa menunggu hingga liburan kalian tiba. Sementara ini, kami boleh tinggal disini dan kita bisa melihat-lihat kota kalian ini, namanya Jakarta, kan ? “ Rapalla menatapku.

Aku mengangguk pasti. Dan kami berempat tertawa berderai. Sekilas aku seperti melihat Intipalla tersenyum, meski sedetik kemudian aku sadar itu adalah Rapalla. Mereka berdua kini memang sangat mirip. Terutama sejak Rapalla belajar untuk tersenyum.

Diluar, kota Jakarta sangat cerah. Tak ada segumpal awanpun dilangit. Dan kalau biasanya langit kota Jakarta seperti berawan karena polusi, hari ini berwarna biru terang, dan cerah seperti hatiku saat ini.

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

T A M A T

{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Hmm,. Ane Kna bgian Yang Tamatnya ni,. Certanya lmyan seru, wlaupun cmn bca dbagian akhir.

    BalasHapus
  2. Remix-7 : Ihh..aneh deh..gimana kamu tahu ceritanya seru kalo baca-nya cuman di episode terakhir? hehe

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers