Popular posts

nsikome On 10 Oktober 2011

Halo semua...maaf ya, episode 19 baru bisa published..Laptop-ku kerasukan virus, hehe, dan aku masih sedang dalam proses back up semua files, yang mudah-mudahan saja bisa terselamatkan semuanya...Episode ini yg harusnya adalah episode final-pun, harus diperpanjang sampai minggu depan, gak apa-apa ya.......Enjoy!!


THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 19


Suasana nampak sangat sibuk, diseberang Piramida, terlihat Mama tengah merawat orang-orang yang terluka, dibantu oleh para anak buah Om Erold dan orang-orang CIA yang tak kukenal.

Aku ingin pergi dari semua kesibukan ini dan bertemu Rapalla. Tapi karena sekarang dia sedang dirawat di rumah Tabib, aku tak bisa kesana. Sebenarnya aku sudah meminta agar Rapalla dirawat saja oleh Mama, kan Mamaku dokter yang hebat. Tapi Sapa Inca memutuskan bahwa Rapalla harus dirawat oleh Tabib kerajaan.

“ Aning, kau dan Arya dipanggil oleh Sapa Inca, katanya ada hal penting yang harus kalian bicarakan bertiga !! “ Annamaya datang memberitahu.

“ Apa yang ingin dia bicarakan, Anna ? Bukankah sudah kuberitahu, bahwa urusan kerajaan kalian tidaklah menjadi bagian dari kami ? “ aku heran dengan sikap Sapa Inca, padahal dia sebenarnya sudah tahu dengan keputusanku itu.

“ Bukan tentang itu, ada hal lain yang katanya ingin dia bicarakan, menyangkut kau dan Intipalla ! “ ada nada mendesak dalam suara gadis itu.

Semua orang menatap Annamaya. Om Erold dan Papa memberiku tanda agar mengikuti saja keinginan gadis itu.

“ Baiklah Anna, sekarang aku harus mencari Arya untuk memberitahu dia berita ini. “

“ Tak perlu, sudah ada yang memberitahu dia. Kau tahu kan, sekarang siapapun dari bangsa kami bisa berbicara dengannya...eh..kemampuan barunya itu... “ tukas Annamaya.

“ Tuh, dia sedang menuju kemari. Kubilang juga apa.. “ lanjut gadis itu.

Nampak Arya tengah berjalan tergesa-gesa menuju kearah kami.

“ Aning, kamu tidak apa-apa pergi berdua saja dengan Arya kedalam Piramida, Nak ? “ tanya Papa, khawatir.

“ Tidak apa-apa, Pa. Aku dan Arya akan baik-baik saja, “

“ Aku salut padamu, Don. Anak-anakmu pintar-pintar. Seperti Arya yang bisa berbicara dengan bahasa Quechua dan Spanyol, luar biasa !! “ Om Erold berdecak-decak kagum memuji.

“ Arya bisa bicara bahasa Spanyol dan Quechua ? Kamu pasti sudah gila, Rold !! “ tukas Papa sambil tertawa terbahak-bahak.

“ Dia itu, pelajaran bahasa Indonesianya saja, tak pernah mendapat nilai lebih dari 7, Rold...” Papa terus terpingkal-pingkal. Mungkin dia merasa lucu dan sedikit aneh dengan kata-kata Om Erold.

“ Tapi Om Erold benar, Pa. Arya bisa ngomong Quechua, bisa bicara bahasa Spanyol juga ! “ ujarku membenarkan kata-kata Om Erold. Tapi Papa masih terus tertawa.

“ Sejak kapan, Ning..... ?! “ airmata bahkan mengucur keluar, saking serunya Papa tertawa.

No es nada nuevo?* “ suara Arya seketika menghentikan tawa Papa.

“ Aning.....bagaimana...mungkin ?! “ tunjuk Papa pada Arya tak percaya.

“ Sudah ah...ceritanya nanti saja ! Sekarang kita segera menuju kedalam Piramida karena Sapa Inca pasti sedang menunggu kita... “ Arya langsung menarik tanganku dan Annamaya, lalu berjalan menjauh dari Papa dan Om Erold.

“ Rold....tak mungkin...anak itu bego-nya setengah mati.... “ lamat-lamat terdengar suara Papa bicara pada Om Erold tentang Arya yang kini bisa berbicara dalam banyak Bahasa.

“ Tadinya kukira dia memang bisa dari dulu, soalnya aku sudah mendengar dia berbicara dalam bahasa Quechua dengan beberapa pengawal Inca ! “ jawab Om Erold. Kulihat Papa terus menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.

“ Aning, Arya...kalian duduklah disana... “ Sapa Inca menunjuk kursi yang berada di samping kanannya. Aku dan Arya langsung mematuhi kata-kata sang pemimpin Inca.

“ Ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian, dan sebelum saya selesai berbicara, kalian berdua tidak boleh menyela, bagaimana ? “ kata-kata Sapa Inca lebih merupakan permohonan ketimbang perintah. Aku hanya menganggukkan kepalaku, Arya juga.

“ Aning, Arya, begini yang ingin saya sampaikan__.................

********************

“ Aning, bagaimana pertemuan kalian berdua dengan Sapa Inca dan para pembesar kerajaan mereka ? “ Mama rupanya sudah selesai mengobati orang-orang yang luka.

1 jam lebih aku dan Arya berada dalam ruangan tahta bersama dengan Sapa Inca dan para pembesar kerajaan mereka yang tersisa. Saat kami keluar, tempat itu terlihat sudah lebih bersih.

Orang-orang yang meninggal tubuh mereka sudah disingkirkan entah kemana, sehingga pemandangan yang menakutkan melihat mayat-mayat yang berserakan disana-sini tidak ada lagi. Bau anyir darah yang tadinya sangat kuat tercium kini sudah hilang sama sekali.

“ Tidak apa-apa, Sapa Inca dan para pembesar mereka hanya mengucapkan terima kasih, karena kita sudah membantu mereka menyingkirkan para penjahat-penjahat itu !! “ jawabku.

“ Hanya itu yang kalian bicarakan selama 1 jam lebih ? “ Mama yang ulet terus mendesak tak puas.

“ Memangnya Mama mau, apa yang kami bicarakan didalam sana ?! “ aku mulai kesal dengan nada menyelidik dalam pertanyaan Mama. Dia hanya menggeleng cepat-cepat, mungkin karena melihat aku mulai kesal, Mama memutuskan untuk menyudahi pertanyaannya.

“ Nggak apa-apa, Mama kan cuma bertanya....Mama pergi dulu ya, masih ada yang harus diobati di sebelah sana !! “ cepat-cepat Mama bergegas pergi.

Rasanya capek sekali. Bukan badanku, seperti tak punya semangat sama sekali.

Setelah aku keluar tadi, Om Erold dan Papa serta beberapa pemimpin dari CIA dan Interpol yang diminta oleh Sapa Inca untuk datang kedalam Piramida.

Menurut cerita salah seorang anggota Interpol, mereka segera masuk kedalam Kota Yang Hilang, sesuai dengan petunjuk Om Erold yang rupanya memang pernah membuntuti aku dan Arya sampai ke pintu masuk di jurang, setelah mereka menangkap aktivitas para anak buah Jacques yang naik ke atas gunung dari kota Lima.

Aku sendiri, kurang ingin tahu dengan seluk beluk kejadian itu. Satu-satunya hal yang ingin kuketahui hanyalah, mengapa Sapa Inca memanggil mereka semua ?.

“ Ning, kita sudah boleh ke Acllahuasi... “ Annamaya tahu-tahu sudah berada disampingku. Gadis itu berkata lirih, seakan takut apa yang diucapkannya akan membuatku marah.

Aku tak marah, hanya merasa sakit di hati, seperti ditusuk-tusuk duri yang banyak.

“ Mereka di Acllahuasi sudah selesai ? “. Gadis itu menganggukkan kepalanya.

Tanpa bicara lebih banyak, aku langsung berdiri, dan berjalan menuju ke jalan yang menghubungkan Kuil dan perut gunung.

Sepertinya, aku hanya ingin diam, dan berada di suatu tempat dimana hanya ada aku sendiri dan tak diganggu oleh siapapun juga. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menginginkan sebuah kesunyian bukan karena aku mau konsentrasi belajar, tapi karena aku hanya ingin sendiri, itu saja.

“ Ning, kamu kok diam saja ? “ Annamaya memecah keheningan yang sebenarnya masih ingin kunikmati lebih lama.

“ Entahlah Anna. Aku hanya ingin diam, karena bicara hanya membuat hatiku sakit... “ ujarku berterus terang.

“ Karena Intipalla, ya ? “. Kugelengkan kepalaku.

“ Bukan hanya karena dia, Anna. Aku hanya merasa bersalah dengan semua kejadian ini, “

Kulihat gadis itu menggeleng cepat. Raut wajahnya berkerut menyangkal kata-kataku.

“ Tidak...itu bukan salah siapa-siapa. Kami sudah tahu bahwa semua ini akan terjadi sejak lama, kami hanya tidak tahu kapan tepatnya. Dukun kerajaan sudah meramalkan hal ini sejak dulu, bahkan pengkhianat yang adalah anggota keluarga kerajaan sudah dikatakan olehnya, juga kematian Intipalla... “ tandas Annamaya panjang lebar. Aku terkejut mendengar kata-kata gadis itu.

“ Tapi tetap saja aku___ “

“ Aning, Maya, kalian hendak ke Acllahuasi ? “ Rapalla muncul dari balik rumah salah seorang penduduk, memotong kata-kataku. Tangan pemuda itu dibebat dengan perban, dan tergantung oleh tali yang melingkar di lehernya.

“ Rapalla !!... Kamu kan masih sakit ? kenapa sudah jalan-jalan ?! “ aku langsung cemas melihat keadaannya, dia kelihatan masih lemah.

“ Bosan berada terus dirumah tabib kerajaan, baunya busuk !! “ balas pemuda itu bercanda, seulas senyum tersungging di bibirnya, hal yang sangat langka bagi seorang Rapalla.

“ Tapi kamu kan harus istirahat ?! “ tambah Annamaya ikut-ikutan cemas.

“ Sudahlah...aku baik-baik saja, meskipun tulang igaku patah, semua tulang persendianku retak, dan kata tabib, aku tak akan pernah berjalan normal tanpa bantuan kruk ini.. “ tukas Rapalla sambil mengangkat kruk yang membantunya melangkah.

“ Ya Tuhan....kasihan sekali kamu !! “ aku dan Annamaya buru-buru menghampiri pemuda itu, yang langsung tertawa lepas melihat kekhawatiran kami berdua.

Aku sadar, kami baru saja dikerjai Rapalla.

“ Sialan kamu !! Bercandanya jangan kelewatan gitu, dong !!.. “ Annamaya langsung memukul punggung Rapalla, membuat pemuda itu meringis kesakitan.

“ Anna...hentikan !!... sakit tau... “ jerit Intipalla menahan sakit. Aku hanya tersenyum melihat ulah mereka berdua.

“ Oh ya, kamu mau ikut kami berdua ke Acllahuasi ? “ tanyaku. Rapalla hanya mengangguk tanpa suara.

Keheningan kembali merajai. Aku, Annamaya dan Rapalla berjalan bersisian menuju Acllahuasi. Kami berdua harus memperlambat langkah, karena Rapalla berjalan masih terseok-seok akibat kakinya yang cidera. Meskipun aku dan Annamaya berkeras untuk membantunya, pemuda itu tetap menolak dengan teguh. Kami terpaksa mengalah.

Saat mendekati rumah induk di Acllahuasi, suasana sudah sangat ramai. Suara tangis terdengar riuh terdengar. Bahkan Annamaya, mulai berkaca-kaca matanya.

Begitu kami bertiga menginjak teras rumah, Ibu Annamaya menghambur keluar dari dalam rumah, dan langsung memeluk Annamaya sambil menangis tersedu-sedu.

Aku melanjutkan langkah kakiku kedalam rumah, diikuti oleh begitu banyak pasang mata, yang tak kupedulikan sama sekali. Aku tak tahu lagi dimana Rapalla dan Annamaya, karena fokusku hanya satu, aku ingin melihat Intipalla.

Dan dia ada disana, terbujur kaku diatas tempat tidur yang sangat indah. Berukir rumit dan sudah pasti terbuat dari emas, dengan kain-kain linen putih yang menjuntai dari atas langit-langit rumah, dan bertaburan kelopak mawar dan bunga pivoine. Dia seperti tengah tertidur, dan tak tampak seperti orang meninggal meskipun aku tahu benar kalau dia sudah pergi untuk selama-lamanya.

Perlahan namun pasti aku terus berjalan mendekati pemuda yang kukenal tak begitu lama, tapi aku sangat mengagumi semangatnya.

“ Inti...ini aku, Aning... “ bisikku pada tubuh kaku itu, meski kutahu dia tak akan pernah bisa balas berbicara padaku. Airmata tumpah tanpa bisa kucegah lagi dari kedua mataku.

“ Kenapa kamu perginya begitu cepat ? Aku belum puas mengenalmu...dan aku masih ingin mengenalmu, masih ingin berteman denganmu... “ isakku tak tertahankan lagi.

Kupegang erat tangannya yang dingin, aku ingin berteriak sekencang mungkin karena dadaku kok rasanya sesak sekali. Tapi aku hanya bisa terus menangis.

“ Istirahat dengan tenang ya, Inti. Semua disini sudah baik-baik, tak ada lagi perang, dan kita sudah menang, para penjahat sudah kita kalahkan... “ aku terus berucap tanpa henti pada tubuh dingin pemuda itu. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.




{ 4 komentar... read them below or Comment }

  1. Gila!!..makin seru saja gan! kirain si Intipalla hidup lagi, dia hidup di endingnya ya? hidupin lagi dong!!tapi kok ditambah episodenya? katanya ini yg terakhir...haha..tapi gak pa'pa sih,sori banyak maunya, soalnya penasaran gan!gw ikut ni seri sejak episode 1!

    BalasHapus
  2. Bayu : Sabar ya..minggu depan udah kelar kok..

    BalasHapus
  3. wahh ada yang ngikutin dari episod 1 ^^ padahal aku baru mau check it out :p keliatannya asik nih~

    BalasHapus
  4. Nurmayanti : silahkan si check.. :)

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers