Popular posts

Archive for Maret 2012

THE DIARY OF JANDA-JANDA KAMPUNG (8)

31 Maret 2012
Posted by nsikome

Image: www.chromeautoemblems.com

EPISODE 8. GETARAN HATI

“Ya ampun!!…kamu tuh, selalu saja suka mengambil kesimpulan tentang sesuatu, sebelum mendengar keseluruhan ceritanya, Cuz!” rutuk saya sebal. Bagimana tidak? Teriakannya membuat kuping saya langsung berdenging keras.
“Denger ya, my lovely Cuz…kalau kamu sampai tega merendahkan harga diri kamu yang super tinggi itu dan datang ke eike untuk meminta saran tentang cowok…Eike berani bertaruh, tak lama lagi akan ada wedding party besar-besaran!” cerocos Vanny makin menjadi.
Entah harus bagaimana supaya saya bisa menghilangkan ide dikepala perempuan itu tentang ‘melepas status janda’-nya saya. Langsung deh, saya menyesal sudah menelponnya.
“Ayooo…..mau ngomong apa kamu sekarang, L?” tantang Vanny sambil cekikikan. Dia memang sering memanggil saya hanya dengan huruf terdepan nama saya. Sungguh mati, saya memang kena batu-nya kali ini. Memang sepupu saya itu cerewetnya minta ampun, tapi tak pernah sekalipun saya kalah berdebat dengannya. Vanny rupanya mengetahui hal itu, dan dia makin menjadi-jadi.
“Leia, jika eike tidak kenal kamu, sudah pasti eike akan mikir, saat ini kamu tengah terkena serangan penyakit lepra di bibir, atau bisu temporer…Oh my gosh..who is he? Siapa lelaki yang bisa membuat my beautiful cuz speechless? He must be a good one!!” Vanny terus saja menggodaku dengan gaya bicaranya yang sangat ‘lebay’.
“Menyesal saya menelpon kamu, Van…udahan ah, kalo nggak telponnya di tutup nih!” rajuk saya, mencoba untuk menghentikan aksi sepupu genit itu.
“Orang nelpon mau minta tolong, malah digodain, ya udah…bye..” ujar saya pura-pura akan memutuskan sambungan telpon.
“Aiiii..jangan dong my dearsorry..sorry…ayo sekarang kamu boleh ngomong, janji eikenggak akan godain lagi” janji Vanny, terdengar sangat tidak sungguh-sungguh.
Kalau saja saya tidak sedang kalut setengah mati seperti sekarang, sungguh tak akan pernah saya menelpon Vanny. Meskipun orangnya cerewet setengah mati, namun dia adalah satu-satunya sepupu yang bisa diandalkan, karena saya bisa tenang, karena rahasia apapun juga, pasti akan aman bersamanya.
“Van, pendapat kamu tentang brondong?” seperti yang sudah saya prediksi sebelumnya, diseberang sana langsung terdengar suara cekakan.
Oh no…don’t tell me, sekarang kamu ikut-ikutan kayak artis, mau macarin brondong Cuz,but wait a minute, is he Stan?” selidik Vanny. Dia memang kenal dengan Stan, dan lebih parah lagi, dia tahu tentang perasaan saya pada Stan.
Saya terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan Vanny yang jawabannya hanya pendek “YES”. Kembali terdengar dia cekikikan diujung telpon.
He is Stan!, eike nggak mungkin salah!” tebaknya lagi. Saya masih diam seribu bahasa.
“L…kamu masih idup?..Hellloooooowww!!” si Vanny makin menjadi.
Untung saja saya tidak sedang bersama dengannya, jika tidak, sudah pasti dia akan melihat bagaimana wajah saya sekarang menjadi seperti kepiting rebus. Merah merona.
“Iyaaaaaaa….aku masih hidup!! Ini anak jadi orang cerewet banget, sih!!” rutukku kesal. Vanny hanya cekakakan mendengar omelan saya.
My lovely cuz…eike harus merayakan hari ini, sebab ini pertama kalinya eike menang berdebat dengan kamu!!”
“Ayo…silahkan…monggo..ledek aku sepuas hatimu!”
Of course!! Kapan lagi eike bisa menghujatmu tanpa mendapatkan balasan?”
“Van..serius nih..okey! Kamu benar, dia Stan. Puas?!” akhirnya saya memutuskan untuk mengaku juga, dari pada di ledekin terus menerus tanpa henti oleh si mahkluk ceriwis?.
He is nice, handsome, cuek, bener-bener tipe kamu!” Vanny menyeletuk pendek. Tawanya sudah terhenti, tanda dia serius sekarang.
“Itu mah aku tahu, tapi yang aku mau tahu, apa dia worth buat aku, Van?” akhirnya percakapan ini masuk ke level “serius” juga. Saya sudah takut akan di ledekin terus pada sepanjang percakapan telepon kami.
“Emang dia udah menyatakan cinta?” todong Vanny
“Belum sih…cuman…ehm..gimana ya..” terbata-bata saya mencoba untuk menerangkan bahwa signal tanda dia suka pada saya itu sangat jelas terasa. Vanny tertawa lagi.
“Ya ampun, Leia..kamu itu jatuh cinta sama Stan, akuin aja..nggak ada salahnya, kok!. Lagian, kamu kan sudah tidak terikat hubungan apa-apa sama lelaki lain. Menurut aku, sudah cukup empat tahun kamu sendiri. Kasihan kamu, nanti keburu keriput, nggak ada lagi yang akan mau sama kamu!”
Saya hanya terdiam mendengar ucapan sepupuku itu. Memang benar, sudah empat tahun kesendirian itu saya jalani. Tapi rasanya sulit untuk membuka hati pada kaum pria, jika kita pernah disakiti sampai rasanya hati itu berdarah-darah. Namun dengan Stan, ada satu hal yang sulit untuk saya jelaskan. Perasaan yang muncul ketika bertemu dia, bicara dengannya, sangat aneh, namun menyenangkan.
“L, sebagai sepupumu, aku tuh pengen banget melihat kamu menata hidupmu, pengen lihat kamu kembali ceria seperti dahulu, menurut aku, jika memang kamu harus kembali memiliki pasangan, Stan is the right person!. Go ahead!” Vanny menutup ucapan bijaknya yang sungguh sangat langka. Jarang dia bisa ngomong pintar seperti itu.
“Makasih Van, aku hanya ragu, mungkin saja perasaan aku ini salah, mungkin saja dia tidak memiliki rasa yang sama denganku, aku harus berbuat apa?” ujarku setengah mengeluh.
“Buka hatimu! Jika dia mengajakmu keluar nge-date, jalan-jalan, pergi saja!. Itu satu-satunya jalan untuk mengetahui tentang perasaan Stan padamu”
“Tapi bagaimana kalau…”
“Kalau apa, Leia? Itulah masalahmu. Kamu terlalu banyak berpikir, dan tak pernah mau ambil resiko semenjak kegagalan pernikahanmu yang dulu. Sekarang kamu harus buka pikiran, hidup itu harus berjalan, jangan diam ditempat saja…” tukas Vanny tegas.
Saya terhenyak mendengar ucapan Vanny. Dia mengatai saya sebagai seorang yang terlalu banyak berpikir. Apakah itu benar? Mungkin saja itu memang benar, karena apapun yang akan saya lakukan, selalu harus dipikirkan masak-masak terlebih dahulu.
“Leia? Are you still there?” suara Vanny membuyarkan lamunan saya.
“Iya..aku masih disini..Sepertinya kamu benar, Van. Sudah saatnya buat aku untuk move on!”
“Great!!..Itu baru sepupu aku yang pintar!. Eh cuz, jangan lupa kalau udah jadian, aku ditraktir ya?”
Saya hanya tersenyum mendengar ucapan Vanny. Apakah saya dan Stan akan jadian? Entahlah. Saya sendiri masih bingung, dan tak tahu dengan apa yang akan terjadi esok hari. Hanya saja, getaran di hati itu, sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Hanya bisa dirasakan.

REALITA (1)

16 Maret 2012
Posted by nsikome
Image: www.radovan.bloger.cz 

REALITA (1)

Melangkah diatas kepingan duka,
Telapak kaki teriris perih, hati tak peduli!
Sebab kembali atau pergi,
Adalah serupa dan akan tetap sama....

Tak ada cara untuk berhenti
Hanya berjalan dan terus melangkah,
Hingga diujung asa....

Ikuti duka, atau mungkin sengsara?
Sampai tak ada lagi nyawa diraga...

Hanya bisa terus menapak tanpa arah,
Mencari jalan sedih, atau mungkin bahagia
Bila itu, masih ada yang tersisa...

(Paris, 28 February 1998)



THE DIARY OF JANDA-JANDA KAMPUNG (7)

13 Maret 2012
Posted by nsikome

Image : www.wellcomecollection.wordpress.com 

THE DIARY OF JANDA-JANDA KAMPUNG (7)

VII.SELF STORY


Natal baru saja lewat. Oh ya, untuk kalian-kalian yang masih belum tahu, natal di kota Manado, mungkin adalah natal ter-heboh di seluruh Indonesia. Itu menurut teman-teman saya yang berasal dari luar kota Manado. Memang, saya sendiri sudah pernah melewati natal di kota lain, dan tidak pernah semeriah di kota saya ini.
Natal juga, menjadi ajang ‘show time’ bagi para perempuan-perempuan yang dengan bangga-nya memamerkan baju baru yang mampu dibeli oleh mereka. Tak penting apa agama dan keyakinan yang dianut, momen akhir tahun selalu berwarna-warni disini.
Saya tengah resah (ehem!). Kemarin saya bertemu lagi dengan laki-laki itu, setelah sekian lama tak bertemu. Pesonanya, masih saja begitu kuat, seperti saat pertama saya berkenalan dengannya, ketika itu saya masih berstatus menikah.
Saya sedang memilah-milih baju-baju diskon dalam keranjang (karena saya orangnya agak super hemat) di sebuah mall terkenal di kota Manado, ketika bahu saya dicolek seseorang dari belakang.
“Hai...lama tidak bertemu ya..”
DUG!!. Jantung saya langsung berdentam-dentam kencang, sehingga saya takut dia bisa mendengarnya. Saya belum melihat wajah si pemilik suara tersebut, tapi saya kenal siapa dia. Sambil mencoba untuk mengatur napas (dan juga perasaan), saya berbalik menghadap kearahnya.
“Hai Stan, ternyata kamu..” ucapku, pura-pura terkejut. Dan mahkluk dihadapan saya itu tersenyum dengan sangat memukau. Sungguh mati, saya merasa seperti ingin mengecup keras-keras bibirnya itu. Sialan!.
“Apa kabarmu? Aku dengar, kamu sudah bercerai ya?” ternyata dia tahu tentang itu, pikir saya sedikit ge-er.
“Tahu dari mana Stan?”
“Sepupu kamu si Anita, saya kebetulan pernah bertemu dengannya sekali”
Ufftt..Dia bertemu dengan Anita sekali, lalu menanyakan kabar saya? Rasa ge-er di hati makin melambung tinggi.
“Iya...that’s life..” saya mencoba untuk berfilsafat, dan terlihat acuh tak acuh dengan status cerai itu.
“Baguslah..” ucapannya itu sungguh membuat saya terkejut setengah mati. Memang sih, sejak tadi rasa ge-er di dada sudah menggunung, tapi tak pernah sedikitpun terbersit di benak saya, dia akan berucap seperti itu. Saya langsung salah tingkah, sepertinya, dia juga tak menyangka ucapan itu akan trelontar dari mulutnya.
“Ehm...kamu sedang apa disini Ticya?”
Dia adalah satu-satunya orang yang memanggil nama saya seperti itu. Biasanya, semua kenalan dan handai taulan hanya memanggil ‘Leia’ saja. Entah mengapa, saya sangat menyukai itu.
“Belanja sedikit” jawab saya pendek. Kerongkongan saya terasa kering, sungguh menyebalkan. Berada di depan mahkluk tampan yang mempesona ini, dan tak mampu berkata-kata.
“Boleh kutemani?” tawarannya itu, sungguh saya hampir pingsan mendengarnya. Kalau saja tidak memikirkan tentang ‘apa kata orang nanti’. Sudah saya terima dengan tangan terbuka tawaran itu.
Saya memang harus memikirkan tentang pendapat orang lain. Padahal, saya bukan tipe perempuan yang terlalu peduli dengan apa kata orang tentang diri saya. Dalam hal ini, saya HARUS peduli, tidak bisa tidak. Bagaimana tidak? Dia mungkin saja bertubuh sempurna dan kelihatan sangat dewasa, dengan nilai 9,9, namun, dia masih berusia 22 tahun! Apa kata dunia?!. Belum lagi, apa kata Ibunda-nya?. Ketika bercerai, saya berusia 25 tahun dan kini, 4 tahun sudah saya resmi menyandang status janda cerai, artinya saya sekarang berusia 29 tahun. Memang masih agak dekat sih jarak usia antara kami berdua bila dibandingkan dengan penyanyi Yuni Shara dan pacarnya si Raffi Ahmad itu. Tapi tetap saja..
“Saya ada urusan Stan, harus ketemu sama teman di BC Kafe” elak saya halus. Dia hanya menganggukkan kepalanya, terlihat sedikit kecewa.
“Ya sudah...tapi saya mau minta nomor handphone kamu”
Saya, dengan kesadaran setengah penuh, namun berlimpah sukacita yang agak tidak normal kadarnya, langsung memberikan nomor handphone itu kepadanya!. Dia..terlalu mempesona.
Dan kini, saya tengah resah, karena dia baru saja menelpon, hanya untuk menanyakan, jika saya bersedia untuk ikut ke acara pesta tahun baru nanti dirumah salah seorang teman kantornya. Ya, dia sudah lulus kuliah dan bekerja (masih 22 tahun, seorang arsitek muda yang cukup sukses, tampan luar biasa, dan entah saya mampu atau tidak menolaknya?).
Stan, dia benar-benar memiliki pesona yang luar biasa. Sehingga saya masih saja tidak percaya, bahwa dia mengajak seorang janda cerai seperti saya untuk menjadi pasangannya ke pesta tahun baru. Mungkin agak sedikit ge-er, tapi, jujur saja, dia mampu untuk mendapatkan gadis mana pun juga yang bisa diajaknya ke pesta dansa akhir tahun itu, dan dia malah mengajak saya? Menurut anda, apa artinya semua itu?.
Kini, saya benar-benar sangat bingung. Ketika menutup telpon tadi, saya belum mengiyakan ajakannya itu, namun juga tidak menolaknya. Saya hanya mengatakan, bahwa masih harus mengecek agenda, karena setahu saya, pada malam yang sama saya juga diundang untuk menghadiri sebuah pesta Old & New Year kantor kami disebuah hotel, yang adalah sebuah kebohongan besar.Sebenarnya saya tidak mempunyai rencana apa-apa untuk malam tahun baru nanti. Mungkin saya hanya akan menghabiskan setoples kue kering sembari minum dua botol besar minuman soda sampai perut kembung, sambil menonton acara pergantian tahun di TV. Pada Stan, saya hanya mengatakan bahwa saya akan memberitahukan keputusan saya akan ikut ke pesta itu dengannya atau tidak pada tanggal 31 siang nanti.
Mungkin, ini saatnya untuk meminta pendapat dari pihak ketiga. Ternyata, kalau biasanya, para janda-janda fresh graduated yang meminta nasehat pada saya, kali ini, saya harus mencari pendapat bijak dari tempat lain, karena hati saya sepertinya hendak mengkhianati isi kepala saya!. Vanny, sepupu tercinta, tempat curhat sekaligus ngutang saat kocek sedang kosong isinya (hehe), dengan semangat langsung saya telpon dia.
“Hello Cuz...how are you darling?” suara centilnya terdengar menyapa diseberang. Saya tiba-tiba merasa ceria mendengar suaranya. Dia memang seorang perempuan yang penuh dengan semangat, dan selalu menularkan semangatnya itu.
“Baik sih..tapi bingung..curhat dong Maaahh..” ujar saya menirukan gaya jemaah-nya nenek penceramah kondang di TV.
“Ihhh...my cuz lagi bingung ya, what happened my dear, biasanya kamu yang sebijak dalai lama..” kelakar Vanny. Saya hanya ikutan terkekeh garing.
“Iya sih, tapi kali ini kebijaksanaan itu, kalah sama kharisma nya Lionel Messi!”
Who is that? Aktor hollywood baru ya cuz?”
WATAWWW!!..Lupa saya, sepupu tercinta itu sama sekali buta soal hal-hal lain diluar fashion. Jangan tanya soal politik padanya, atau sepakbola. Dia pernah mengira, John F.Kennedy itu adalah seorang perancang busana baru yang sedang naik daun dari Inggris, dan Tiger Wood itu adalah aktor berkulit hitam yang main di film ‘Men in Black’. Jauh bangeett..
“Kamu tuh ya, autist banget sama hal diluar fashion, heran deh!” protes saya. Capek juga setiap kali ngomong tentang seseorang padanya dan harus menjelaskan siapa mereka itu. Tapi, jangan bicara padanya soal fashion, wuiiihhh...hanya sedikit yang dia tidak tahu tentang fashion.
“Yaahh...dia marah..udah tahu eike autist sama hal-hal gituan, pake acara ngomongin ke aku lagi, it isn’t my fault dong ah!” elaknya. Benar juga dia.
“Ngomong serius nih Van, becanda ‘mulu!”
“Ya sudah, ayo ngomong..masalahmu apa?”
“Cowok!” jawab saya pendek. Terdengar pekikan kecil diujung sana
Oh my Gosh!! My lovely Cuz mau melepas status jandanya!” 

KETIKA HARUS MEMILIH

Posted by nsikome

Image : www.sharondrewmorgen.com 

KETIKA HARUS MEMILIH


Oleh :  N.Sikome

            “ Hallo.... selamat malam, bisa bicara dengan Ade ? “ sebuah suara halus menyapa diujung telepon. Sejenak Ade tersentak, suara itu begitu sangat dia kenal. Ingatan cowok itu seperti mengalami sebuah pemutaran film flashback. Kejadian-kejadian yang terekam dalam ingatannya tentang dia dan pemilik suara halus itu seperti mengambang ke permukaan memorinya dan mulai melintas cepat satu persatu.
“ Hallo... ?! “ suara itu terdengar resah. Mungkin karena tak kunjung mendengar jawaban dari lawan bicaranya. Ade tersentak dari lamunan flashback-nya.
“ Apa kabar, Ta ? “ tercetus begitu saja kalimat itu dari mulut Ade.
“ Kamu masih mengenali suaraku, De ? “ gadis di ujung telepon di seberang kedengaran heran
“ Tentu saja... bagaimana mungkin aku bisa melupakan seorang gadis yang dulu sangat aku sayangi, tapi kemudian dia pergi meninggalkan aku sendirian tanpa pesan apa-apa ? “ suara Ade terdengar getir. Terdengar desah pendek dari seberang.
“ Maafkan aku, boleh kita bertemu ? “ tanya gadis itu ragu-ragu. Tanpa pikir panjang, Ade langsung mengiyakan ajakannya.
“ Kalau begitu, besok aku akan menunggu-mu di  Sunset Café, jam 5 sore... “ dia lalu menyudahi percakapan itu. Saat meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya, Ade kelihatan seperti orang yang kehilangan arah.
“ Telepon dari siapa, Kak ? “ Stevy adiknya ternyata sudah pulang sekolah. Ade hanya menggeleng pelan, lalu  masuk ke kamarnya, diikuti oleh pandangan heran adik kecilnya.
            Mata Ade menerawang ke langit-langit kamarnya, teringat kembali peristiwa 2 tahun yang lalu. Octa. Seorang gadis yang dengan seluruh pesonanya telah mencuri hati Ade, dan membawanya pergi bersama dengan keberangkatannya ke Boston, untuk melanjutkan sekolah.
Selama hampir setahun Ade seperti orang gila, tak tahu harus berbuat apa setelah Octa pergi. Rasa benci, marah dan rindu bercampur menjadi satu dalam benak dan hati cowok itu. Yang lebih menyakitkan adalah bahwa Octa pergi tanpa memberitahukan apa-apa pada Ade. Dia sendiri baru mengetahui kepergian gadis itu keesokan harinya setelah Octa telah meninggalkan Indonesia. Perlahan cowok berlesung pipi itu memejamkan matanya, ada rasa sakit yang sukar untuk dijelaskan tiba-tiba muncul di ulu hatinya, seperti dua tahun yang lalu.
            Gadis itu tak berubah. Dia masih saja seperti dulu, dengan tubuh jangkung dan wajah tirus serta mata boneka yang dulu sangat disukai Ade. Satu-satunya yang berubah hanya warna kulitnya, jadi lebih putih. Mungkin karena cuaca di Boston. Tapi Ade harus mengakui kalau kini Octa terlihat lebih cantik, walau agak pucat sedikit.
“ Sudah lama nunggunya, Ta ?  sorry terlambat, ya...di jalanan ada kecelakaan, jadi macetnya agak lama “ Ade meminta maaf. Sore itu, Octa kelihatan sangat cantik dalam balutan kemeja lengan pendek berwarna biru cerah dan celana jeans kasual. Gaya berpakaiannya pun tak berubah, bisik Ade pada dirinya sendiri.
“ Kamu mau minum apa, De ? “ tawar Octa. Ade hanya menggeleng. Bukan apa-apa, sejak dari rumah tadi dia sudah memutuskan untuk berbicara dengan Octa, langsung pada pokok pembicaraan yang diinginkan gadis itu jika dia tiba di Café.
“ Kamu mau apa ketemu denganku, Ta ? “ tembak Ade, yang tak hanya membuat Octa kaget, namun juga membuat dirinya sendiri heran dengan nada suaranya yang agak kasar itu.
“ Kamu marah padaku, ya ? “ Octa bertanya, namun gadis itu menunduk. Seperti takut untuk menatap wajah cowok dihadapannya. Emosi Ade tiba-tiba saja langsung meledak mendengar pertanyaan Octa.
“ Kamu bertanya apa aku marah, Ta ? kamu ini punya perasaan nggak, sih ? dua tahun yang lalu kamu tinggalin aku tanpa pesan apa-apa, dan sekarang seenaknya saja kamu minta bertemu cuma untuk  bertanya apa aku marah ?!! “ mata Ade melotot ke arah Octa, yang kini semakin menunduk.
“ Aku mau ngomong jujur sama kamu, Ta. Aku memang marah sama kamu, tapi sekarang karena kita berdua sudah bertemu, aku mau tanya sama kamu, mengapa kamu pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa sama aku ? “ nada suara Ade melemah. Octa mengangkat kepalanya, dan langsung saja Ade bisa melihat ada airmata yang jatuh ke pipi gadis itu.
“ Aku hanya capek, De. Aku bosen tiap hari ngingetin kamu untuk berhenti dari kebiasaan burukmu yang tiada hari tanpa mabuk bersama dengan geng kamu itu. Aku bosen tiap kali kamu ngumpul sama mereka sepulang sekolah, aku kamu jadiin patung buat ngejagain kamu mabuk-mabukkan. Dan yang paling parah lagi, aku seperti nggak ada artinya buat kamu, sebab semua yang aku katakan seperti tak pernah kamu dengarkan !! “ terlontar keluar semua isi hati Octa juga akhirnya. Ade tertegun mendengar semuanya. Kembali kejadian-kejadian dimasa lalu mengalir dalam ingatannya, dan kali ini rasa marah yang ada dalam hatinya berubah menjadi penyesalan. Octa memang benar. Namun mengapa waktu itu Ade begitu buta dan bahkan tak bisa melihat kesalahannya sendiri tapi malah menyalahkan gadis itu ?
Diakuinya, bahwa dulu semasa SMU kelakuannya tidaklah membanggakan. Kerjanya hanya selalu mabuk-mabukkan bersama geng-nya di sekolah. Dan selalu ada Octa yang menemaninya, saat dia termuntah-muntah akibat terlalu banyak alkohol yang ditenggaknya, gadis itu tetap setia memapahnya dan bersamanya hingga pengaruh minuman keras itu menghilang dan akhirnya dia bisa pulang ke rumahnya lagi. Tiba-tiba ada rasa malu yang merambati hati cowok itu, bercampur dengan penyesalan.
“ Maafkan aku, Ta... tapi kini aku sudah berubah. Aku tak lagi seperti dulu__ “
“ Aku tahu, bahkan aku juga tahu bahwa kini kau punya gadis lagi... “ potong Octa.
“ Ta, kupikir dulu itu kamu sudah melupakan aku, hingga saat aku bertemu Vetsi kuputuskan untuk mencoba menata kembali hidupku. Tapi kini kau telah kembali, dan aku... aku ingin bersamamu lagi... “ tersendat-sendat Ade mengucapkan kalimat itu.
“ Bagaimana dengan dia ? “ tanya Octa
“ Beri aku waktu, Ta. Aku akan mencoba untuk bicara baik-baik dengannya, setelah itu, aku ingin bersamamu, selamanya... “ Ada senyum cerah tersungging di bibir Ade, dia bahagia.
 “ Si, baru pulang kerja, ya ? “ Ade menyodorkan sebotol air dingin pada Vetsi. Gadis itu kelihatan lelah.
“ Iya... ternyata kuliah sambil kerja itu susah, ya ... “ keluh Vetsi sembari menghenyakkan pantatnya di kursi teras rumah Ade.
“ Si... aku mau ngomong sama kamu...ehm...begini... aku pikir, mungkin sebaiknya kita berdua..begini... __ “
“ Kamu itu, mau ngomong kok susah amat, lagi sariawan ya ? “ canda Vetsi sambil tertawa gemas. Ade seperti tengah menelan segenggam kerikil tajam, dia tak mampu untuk bersuara. Tanpa mereka berdua sadari, dari balik rimbunan perdu di pagar rumah Ade, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan keduanya.
            Ade resah. Sudah berkali-kali dia menelpon ke HP Octa, tapi tak di aktifkan, di telpon ke rumah, tak ada yang mengangkat. Akhirnya cowok itu memutuskan untuk mengunjungi gadis itu. Setibanya disana, betapa kagetnya cowok itu setelah tetangga sebelah rumah Octa memberitahukan kalau Octa sedang di rawat di rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Ade langsung memacu motornya kesana.
Saat dia tiba disana, Octa tengah terbaring lemah di tempat tidur, dengan berbagai jenis selang tertusuk kedalam tubuhnya. Gadis itu sangat pucat.
“ Josh, Octa kenapa ? “ tanya Ade panik pada Joshte, sahabat karib Octa sejak dulu yang tengah duduk. Mata gadis itu sembab. Joshte  hanya menggeleng, lalu terisak lagi. Dari balik kaca, nampak Octa membuka matanya, Ade lalu melambaikan tangannya kearah gadis itu.
“ Siapa disini yang bernama Ade ? “ seorang suster keluar dan bertanya.
“ Memangnya ada apa, Sus ? “ tanya Mama Octa. Wanita itu sedari tadi hanya terisak sedih. Ade benar-benar terjepit ditengah-tengah suatu situasi yang sangat tak nyaman.
“ Octa ingin bicara dengannya... “ jawab suster itu. Bergegas Ade masuk kedalam ruangan ICU yang didominasi warna hijau mudah teduh.
“ Ta... kok kamu nggak bilang ke aku kalau kamu lagi sakit ? “ protes Ade pelan, dia meraih tangan gadis itu, dan mengecupnya pelan.
“ Kamu masih sayang aku, ya De.... “ tanpa menghiraukan protes Ade, Octa malah bertanya lain hal.
“ Tentu saja aku sayang kamu, bodoh.... aku hanya sayang kamu sejak dulu, dan sampai kapanpun.. “ ada air yang kini mulai mengaliri pipi Ade. Gadis yang biasanya selalu tegar itu kini terbaring tak berdaya dihadapannya.
“ Aku minta maaf karena membuatmu harus memilih salah satu dari aku dan Vetsi, sungguh bukan maksudku untuk membuatmu bingung, aku hanya ingin tahu seberapa besar cintamu padaku... “ kini Octa yang mulai menangis.
“ Ssssttt... kamu jangan nangis dong, Ta... jelek tau.... “ Ade mencoba untuk bercanda, tapi airmata malah mengalir lebih deras dari mata cowok itu. Octa meremas tangan Ade erat-erat.
“ Sini aku bisikkan sesuatu padamu... “ Ade lalu mendekatkan telinganya ke bibir Octa.
“ De... aku tak pernah berhenti mencintaimu sejak dulu dan sampai kapanpun juga. Kamu nggak usah bingung, karena sekarang kamu tak harus memilih... “ bisik Octa pelan, lalu genggaman tangannya melemah.
            Ade sendirian, terpekur di depan makam basah Octa. Gadis itu tak pernah membuatnya susah sejak dulu. Dia selalu ada dalam masa-masa sulit Ade semasa SMU. Namun Ade lupa, bahwa Octa hanyalah seorang manusia, yang mempunyai batasan-batasan dalam segala hal, termasuk kesabaran. 
Ketika gadis itu pergi ke Boston, Ade malah menuduh Octa sebagai pengkhianat yang hanya mau menang sendiri. Kini gadis itu telah pergi untuk selama-lamanya, ketika Ade harus memilih diantara Vetsi dan dirinya.
“ De... pulang, yuk... “ sebuah tangan menyentuh bahu Ade. Ternyata Vetsi.
“ Kamu udah lama disini, Si ? “ tanya Ade sembari menyeka sisa-sisa airmatanya. Dia lalu meraih tangan gadis itu, dan tak akan melepaskannya. Dia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dia lakukan pada Octa. Membiarkan orang yang dicintai pergi, dan baru menyadari cinta itu ketika mereka tak lagi berada di sisi....
( To a very special person.... )

THE DIARY OF JANDA-JANDA KAMPUNG (6)

06 Maret 2012
Posted by nsikome


THE DIARY OF JANDA-JANDA KAMPUNG (6)

JANDA-JANDA HIGH CLASS

Waduh…natal sudah lewat, dan kita sudah mulai masuk di hari-hari terakhir bulan Desember. Bagi yang belum pernah ke Manado di bulan-bulan seperti ini, sekedar info ya, jangan pernah keluar belanja pada tanggal-tanggal seperti ini. Macetnya, luar biasa!. Bukan hanya macet saja, tapi entah mengapa sepertinya penduduk kota Manado menjadi berlipat ganda sampai 10 x dari biasanya.
Mungkin kalau orang-orang yang tinggal di Jakarta sudah pada nggak kaget dengan suasana seperti ini, tapi kan setidaknya, di Jakarta mall-nya banyak, jadi semua orang tinggal pilih aja mau kemana. Nah di Manado, mall-nya memang lumayan, meski tak sebanyak Jakarta, namun karena semuanya terpusat di BOB Zone (Business on Boulevard), jadi semua mahkluk hidup yang ada di Sulawesi Utara, pada datang semua ke BOB Zone. Untuk belanja.
Saya sendiri, berhubung karena saya orangnya hemat luar biasa, jadi, saya lebih memilih menghambur-hamburkan uang untuk jalan-jalan, bukan untuk belanja-belanji. Kok jadi ngomongin belanja ya?.
Hari ini, saya mau cerita tentang Eny. Yang berantem sama suaminya itu lho. Rupanya, pertengkaran mereka lebih memanas dari sebelumnya. Saya sih mendengarnya barusan. Si Eny telpon, dan mengatakan, bahwa dia saat ini sedang berada di depan rumah seorang wanita, janda juga kayak saya, dan dicurigai sebagai selir hati suaminya! (duilee..selir hati, kayak lagu aja!).
“Mbak….saya sudah nggak tahan lagi, kali ini saya akan minta cerai betulan!” isak Eny, lewat HP. Untung saja, signal hp saya hari ini lumayan bagus. Nggak kayak di iklan mereka sih, provider nomor satu di Indonesia, yg katanya signal mereka paling top. Wong kemaren, saya nelpon teman saya si Endah, kok yang ngangkat suaranya om-om? Aneh banget.
“Kenapa Eny? kamu lagi dimana?” tanya saya cemas, soalnya bunyi di belakang suaranya si Eny, ribut banget.
Lalu meluncurlah cerita Eny, lewat hp yang tumben kali ini suara dan signalnya tidak terputus-putus kayak orang lagi nge-DJ. Ternyata, si suami yang dikiranya sedang minggat disuruh ibunya, ternyata disinyalir punya wanita simpanan yang lain. Kata si Eny, mulanya dia tidak percaya, ketika salah seorang sepupunya memberitahukan pada dia, bahwa suaminya terlihat sedang makan malam di sebuah kafe di bibir pantai, yang suasananya sangat romantis, dengan seorang wanita yang tidak dikenal oleh sepupu si Eny.
Berbekal dengan informasi itu, Eny mulai melakukan penyelidikan dan investigasinya sendiri. Ternyata oh ternyata, informasi itu benar adanya. Eny melihat, pagi-pagi sekali suaminya keluar dari rumah Ibunya, lalu membawa mobilnya keluar dari sana. Eny-pun mengikuti suaminya dengan motor ojekan yang disewanya.
Mobil suaminya berhenti di depan sebuah rumah, yang tidak dikenal oleh Eny. Pintu rumahnyanya dibuka oleh seorang wanita, yang ternyata seorang janda, sesuai dengan informasi yang diterima Eny dari tetangga sebelah rumah perempuan itu. Rupanya, si janda agak mirip-mirip dengan Neni, si janda kaki lima di kampung kami, oleh para perempuan disekitar situ, dianggap sebagai ancaman bagi keharmonisan rumah tangga mereka. Maka terjadilah percekcokan, karena Eny sudah tidak tahan dan langsung meneriaki serta mencaci maki suami dan perempuan tersebut.
Cerita Eny berakhir sampai disitu, karena terdengar suara orang yang berteriak, sepertinya itu suami Eny, lalu umpatan kasar oleh Eny, dan bunyi tut..tut..tut..dibelakangnya. Hubungan telepon terputus sudah.
Saya itu heran dengan para perempuan yang berstatus janda. Sudah dipandang sebelah mata di masyarakat, bukannya mematahkan semua anggapan miring tentang para janda, malah tambah menghancurkan reputasi diri sendiri. Di kampung saya, memang terbilang cukup banyak perempuan-perempuan yang menjadi janda, bahkan usianya masih tergolong muda, seperti saya. Tapi pada akhirnya, banyak pula yang terjerumus kedalam pergaulan yang kurang baik, dan pada akhirnya malah merugikan diri mereka sendiri. Sudah di cap jelek sama masyarakat, masa depan mereka ikut-ikutan suram. Karena banyak yang merelakan dirinya menjadi wanita simpanan para lelaki-lelaki mata keranjang berkocek tebal.
Tapi kalau dipikir-pikir, mending jadi simpanan lelaki berkocek tebal, daripada hanya jadi piala bergilir para lelaki sekampung kayang si Neni?. Well, apapun itu, menjadi janda, cerai atau mati, hidup dengan terhormat adalah lebih baik dari kedua hal tersebut diatas.
Kemarin, saat saya sedang nongkrong di sebuah sebuah Kafe yang berada di  pusat perbelanjaan terbesar di kota Manado, dihadapan saya, duduk 3 orang wanita, kira-kira seumuran dengan saya. Mereka cantik, dengan kulit putih dan wajah khas perempuan Manado. Bukan tampang mereka yang menjadi perhatian saya, namun percakapan mereka.
“Kamu kapan shopping ke Singapura?” tanya si rambut panjang pada temannya yang berlesung pipit.
“Kayaknya sebelum akhir tahun deh, soalnya bapak banyak kerjaan” jawab yang ditanya
“Ngapain musti nunggu si bapak sih? kan kamu bisa jalan sendiri, atau bertiga sama kita-kita, gimana? siapa tahu, disana ketemu brondong kece, hihihi!” teman mereka yang satunya lagi, dengan gaya rambut bob berponi menyeletuk sambil tertawa kecil.
“Maunye eike sih…cuman, bapak pengen sama aku kesana, udah lama nggak ‘nyetor‘!” mereka bertiga lalu tertawa bersamaan.
“Jeng, kamu tuh ya, gak pernah mikirin hal lain selain shopping, belanja-belanji..mbok bikin rumah toh kayak aku, biar kalo ketahuan sama si Ibu, kamu udah punya bekal buat ngelanjutin hidup sebelum dapet yang baru..” si rambut panjang menasehati.
“Kamu ada benernya juga, apalagi dengan semua wartawan yang ada dimana-mana, gerak-gerik bapak suka diamati, untung saja beliau termasuk seorang menteri yang  pandai membawa diri” meskipun sudah setengah berbisik, suara si lesung pipit masih kedengaran juga sampai ke telinga saya.
Tempat duduk mereka memang sangat dekat dengan saya. Namun, mungkin karena saya kelihatan serius dengan laptop di hadapan dan tak pernah sekalipun mengangkat wajah, bisa jadi mereka mengira saya tak mencuri dengar obrolan itu.
“Trus, bagaimana kabar anak dari suami kamu yang dulu, udah pernah ketemu sejak masalah yang kemarin itu?” tanya si lesung pipit entah pada siapa, namun saat dia menjawab, ternyata si rambut bob.
“Udah pernah sekali, tapi sama neneknya aku dilarang ketemu, hanya bapaknya yang secara sembunyi-sembunyi membawa Rangga ketemu sama aku, itupun karena kujanjikan uang 10 juta untuk dia dan anak aku, dasar laki-laki mata duitan!” umpat si rambut bob.
Dan mereka bertiga pun terus bercakap-cakap tentang kehidupan mereka. Sungguh saya sangat miris mendengar kisah mereka. Memang sih, terlihat dari pakaian dan bau parfumhigh brand-nya, perempuan-perempuan itu sekilas terlihat seperti para sosialita yang sering muncul di infotainment, namun dibalik semua itu, mereka hidup dalam kepalsuan. Saya tahu, ada banyak perempuan-perempuan yang terjebak dalam kehidupan seperti mereka-mereka itu, di kampung saya juga ada.
Hal yang paling mengherankan untuk saya adalah, bukannya malu dengan apa yang tengah mereka lakukan, perempuan-perempuan tersebut terlihat bangga dan sombong dengan segala kekayaan yang didapatkan dengan jalan seperti itu.
Dikampung saya, ada seorang janda, nama-nya Rieka. Setelah berpisah dengan suaminya, dia berangkat ke Jakarta untuk bekerja disana. Hanya satu tahun berselang, Rieka kembali pulang, kali ini membawa uang yang banyak. Rumah orang tuanya di renovasi besar-besaran, tak lupa mobil mewah yang baru langsung terparkir di garasi rumah yg baru direnovasi itu. Rieka sudah jadi perempuan sukses.
Tapi, bukan orang kampung namanya kalau tidak bergosip seperti saya ini sekarang. Mula-mula, beredar cerita, bahwa Rieka berbisnis pakaian yang meraup untung besar. Lalu, ada saudara tetangganya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta, ternyata mengenal si Rieka dan tahu sepak terjangnya disana. Setelah di cek dan ricek, ternyata Rieka adalah wanita simpanan seorang pejabat di Jakarta sana. Gosipnya sih, pejabat itu adalah orang terkenal, yang sering wara-wiri di TV.
Hidup si Rieka memang berubah. Kelakuannya juga. Semenjak tingkat ekonomi mereka membaik, si Rieka dan Mama-nya jadi pongah bukan main. Mama-nya sih Rieka bahkan pernah berantem dengan tante Rosye, si biang gosip. Gara-gara tante Rosye di curigai adalah orang yang menyebarkan cerita tentang Rieka yang menjadi wanita simpanan. Tapi mama si Rieka tak berkutik ketika tante Rosye dengan lantang menyebutkan satu persatu dosa anaknya. Menghebohkan memang!.Ah…hidup seorang janda memang susah di negara ini. Salah melangkah sedikit saja, langsung jadi bahan omongan. Bila suami dicurigai selingkuh, yang berstatus janda langsung jadi tersangka utama. Kalau dipikir-pikir, lebih enak jadi janda high class kayak si Rieka itu, tapi, bagi yang sudah punya anak, ada rasa malu nggak ya mereka-mereka itu terhadap anak-anaknya? Entahlah…

LEARNING TO LOVE, AGAIN

Posted by nsikome
Photo : www.myemospace.com

LEARNING TO LOVE, AGAIN

            Sialan!!..kenapa wajah ayu itu tidak juga menjauh dari ingatanku!? Rutuk Ophie sambil menjambak rambutnya sendiri. Sudah 2 bulan lebih semenjak dia putus dengan Endah, setelah 5 tahun menjalin kasih. Tak peduli dengan segala perbadaan yang mereka miliki, entah mengapa, cinta itu sepertinya begitu kuat melekat di hati mereka berdua, hingga akhirnya kenyataan pahit itu harus menghantam. Lelaki yang dulunya begitu tegar, dan penuh senyuman, kini berubah 160 derajat. Tidak ada lagi Ophie yang selalu menebar kegembiraannya kemana-mana, yang tertinggal hanya sesosok lelaki getir, yang terlihat awut-awutan dan selalu memancarkan kesedihan dari matanya. Bunyi dering handphone menyentakkan Ophie dari lamunan panjang tak berkesudahannya tentang Endah, gadis yang telah meremukkan hatinya.
“Halo!” jawab Ophie begitu terkoneksi
“Selamat malam Kak..boleh menganggu sedikit?” terdengar sebuah suara merdu diseberang sana.
“Ini siapa ya?” tanya Ophie setengah ketus.
“Ini Anggraini, Kak, yang di Sanggar Gets”
“Oh...ada apa?” Ophie masih menerka-nerka wajah si pemilik suara. Ada banyak anak-anak yang tergabung di sanggar Kelurahan bimbingan Ophie, kebanyakan dari mereka adalah perempuan, dan Ophie sampai sekarang masih susah untuk menghafal nama berikut wajah mereka.
“Saya boleh minta foto-foto kegiatan kita bulan kemarin, boleh ya Kak?” suara gadis itu terdnegar penuh harap. Ophie tak sampai hati untuk menolaknya.
“Boleh, besok dilatihan kamu bawa flash disk aja, nanti Kakak copy dari laptop!”
“Aduhhh..makasih banyak ya Kak...” suara gadis itu terdengar gembira, dan sambungan telpon pun ditutup. Ophie pun kembali pada lamunannya, yang lagi-lagi, masih tentang Endah.
“Kak, laptopnya nggak lupa, kan?” Anggraini menyongsong Ophie dipintu sanggar, ketika dia baru saja turun dari motornya. Ophie langsung ingat gadis itu. Siapa yang bisa lupa pada seorang gadis manis, yang hari pertama-nya ikut latihan teater di sanggar ditandai dengan robohnya pagar depan sanggar oleh mobilnya, yang dia bawa kabur dari rumah untuk belajar mengemudi?.
“Iya...” jawab Ophie pendek, lalu dia langsung melangkah masuk ke dalam ruangan sanggar bercat biru langit itu. Gadis itu mengekorinya, lalu langsung duduk disamping Ophie yang mulai menghidupkan laptopnya.
“Kak...boleh tanya nggak?” suara Anggrainy memecah keheningan. Ophie memalingkan wajahnya menatap gadis itu heran. Sebelumnya mereka tak pernah berbicara sebanyak ini, hanya sekedar bertegur sapa sebagai basa-basi belaka setiap kali bertemu di sanggar.
“Pacar kakak yang suka datang kesini, kok nggak kelihatan lagi?” tanya Anggraini lagi, sambil menyodorkan sebuah flash disk berbentuk tokoh kartun Sponge Bob. Pertanyaan gadis itu sungguh lancang menurut Ophie. Ingin rasanya dia memarahi Anggraini, namun ketika menatap wajah polos yang dihiasi sepasang lesung pipi yang indah itu, entah mengapa dia jadi tak tega.
“Sudah putus” Ophie menjawab sekena-nya.
“Ohhh..sori kak, Riny agak cerewet ya?”
“Nggak terlalu, kok” sungguh Ophie merasa heran dengan gadis itu, padahal mereka berdua sama sekali tidak akrab, namun cara dia mengutarakan pertanyaannya, membuat Ophie merasa nyaman untuk menjawab, meskipun hanya jawaban pendek seadanya.
“Jadi, kakak sekarang nggak punya pacar dong!” suara gadis itu terdengar sedikit menggoda, tak urung membuat Ophie tersenyum. Dia hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya.
“Nih, foto-fotonya sudah kakak isi di flash disk kamu!” Ophie mengangsurkan flash disk itu kearah Anggariny.
“Makasih ya Kak...” begitu flash disk berada ditangannya, gadis itu langsung berdiri dan berjalan menuju ke arah kumpulan teman-teman se-sanggarnya yang sedang duduk menghafal naskah disudut ruangan.
Bukannya tidak ada gadis-gadis yang menyukainya. Terlalu banyak malah. Namun, sejak dia mengenal Endah sejak lima tahun yang lalu, Ophie lalu menetapkan hatinya hanya untuk gadis itu seorang, dan tak pernah terpikir olehnya, bahwa keadaan akan menjadi seperti sekarang ini. Endah, gadis mungil bermata sipit yang telah setia menemaninya selama lima tahun ini, tiba-tiba saja memutuskan tali cinta mereka secara sepihak, tanpa dia tahu apa yang menjadi penyebabnya.
Berulang kali dia mencoba untuk mencari tahu, bertanya pad Endah, namun hanya jawaban samar yang selalu dia dapatkan. Terakhir kali, ketika dia menelpon Endah, nomor handphone gadis itu sudah tidak aktif lagi. Rupanya dia sudah mengganti nomor HP nya. Dia tak ingin lagi Ophie menghubunginya.
“Ris, kamu kan sahabat dia, mana mungkin kamu tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi pada dirinya?” suara Ophie mendekati antara bicara dan berteriak. Ketika itu, dia mencoba untuk menanyai Mariska, teman sekantor Endah, dan juga merupakan sahabat baik gadis itu.
“Maafin aku Phie, meskipun aku sahabatan sama Endah, aku sama sekali tidak pernah mau ikut campur dengna urusan pribadinya” jawab Mariska diplomatis, membuat hati pemuda itu jadi lebih geram.
“Mana mungkin kamu nggak tahu apa-apa, Ris? Tolonglah...sedikit saja informasi tentang Endah, tentang mengapa dia memutuskan aku secara sepihak?”
“Dia sama sekali tidak pernah mau membicarakan tentang hal itu dengan aku, Phie. Kalau aku tahu, sudah pasti kamulah orang pertama yang akan aku berutahukan tentang semua itu!”
“Ada orang lain ya Ris? Dia punya kekasih lain, ya?” todong Ophie. Sejenak Mariska terdiam, dan seketika Ophie tersadar, dia kini mengerti mengapa Endah meninggalkannya. Dengan lunglai pemuda itu berjalan dan menaiki motornya, lalu berlalu dari hadapan Mariska secepat kilat.
            “Dia nanya sama kamu tentang aku, Ris? Terus,kamu bilang apa?” wajah Endah menampakkan kekuatiran, ketika Mariska bercerita tentang percakapannya dengan Ophie.
“Aku tidak ngomong apa-apa, Ndah. Cuman dia kelihatannya terpukul banget. Kamu sih keterlaluan, mutusin anak orang nggak ada perasaannya, ngomong kek ke dia apa alasannya, kalo perlu biar alasan yang dibikin-bikin juga nggak apa-apa. Kasihan aku ngeliat dia, Ndah!”  tukas Mariska panjang lebar. Endah tertunduk mendengar ucapan sahabatnya itu.
“Tapi dia baik-baik saja kan Ris?”
“Kamu masih khawatir tentang Ophie, Ndah? Kamu ini aneh banget deh, kalo emang masih sayang sama dia, kok kamu putusin dia sih?”
“Masalahnya tidak segampang itu, Ris, bukannya aku...” Ucapan Endah terpotong oleh sebuah suara klakson mobil yang sangat keras di depan kedua gadis itu.
“Endah, ayo!” seorang cowok berkulit putih menjulurkan kepalanya ke jendela mobil.
“Aku pulang dulu ya, Ris!” Endah langsung menaiki mobil sedan hitam itu, dan berlalu dari hadapan Mariska yang menghela nafas panjang.
            Ophie sedang sibuk membuat laporan mingguan pekerjaannya, ketika Mama melongok ke dalam kamarnya.
“Ophie, ada yang cari kamu, tuh!”. Siapa ya? Perasaaan dia tidak sedang janjian dengan Charles sahabatnya, pikir Ophie. Lagipula, jika itu memang Charles, sudah pasti dia tidak akan menunggu di depan dan langsung masuk ke kamar atau menuju ke ruangan makan dan mengobrak-abrik semua makanan yang ada disana. Dia kan salah satu sahabat Ophie yang tingkat kemaluannya lebih rendah dari sendal teplek milik Vita, adik Ophie!.
“Maaf ya Kak, tadi anak-anak sanggar kerumah bikin kolak duren, terus masih ada sisanya cukup banyak. Dari pada nggak abis dan jadinya mubazir, kata mereka di bagi aja sama kakak-kakak pengasuh” gadis itu mengangsurkan rantang makanan bercorak daun-daun hijau.
“Wahh...kalian repot-repot membawakan ini untuk kakak?” kolak duren adalah salah satu makanan favorit Ophie, yang mampu membuatnya tersenyum, segalau apapun pikirannya.
“Mana anak-anak yang lain?” tanya Ophie lagi.
“Sudah pulang kak, kebetulan saya lagi dipinjemin mobil sama Papa, jadi sekalian anterin kolaknya sama kakak!”
“Nggak nabrak pagar lagi kan dengan mobilnya?” goda Ophie. Riny, nama panggilan gadis itu hanya tersenyum. Entah mengapa, Ophie sangat menyukai senyum gadis itu.
“Aku pulang dulu ya, Kak. Sampai ketemu besok di sanggar!” Riny melambaikan tangannya, lalu pergi dengan mobilnya. Meninggalkan Ophie yang tersenyum senang. Kolak duren, Padahal tidak sedang musim durian!.
Tiga bulan berikutnya, entah bagaimana, Ophie menjadi semakin dekat dengan Riny. Gadis itu sepertinya enak juga di jadikan teman curhat. Tidak banyak bicara saat Ophie sedang bercerita sesuatu hal, membuat dia merasa sangat nyaman.
“Ihh..sudah nggak patah hati lagi, nih!” ledek Charles, sesama pengurus Sanggar merangkap sebagai sahabat baiknya meledek Ophie.
“Apaan sih?”
“Kamu dengan si Riny, lagi pedekate ya? Beneran udah lupa sama Endah?” tambah Charles dengan gaya usilnya yang biasa. Tiba-tiba, Ophie seperti ditampar wajahnya mendengar nama Endah disebut. Lagi-lagi, luka di hati itu seperti dirobek dan terbuka kembali.
“Kak, jadi nggak kita nongkrong di Karaoke?” terdengar sebuah suara lembut dari belakang. Ternyata Riny.
“Nggak!” jawab Ophie ketus, lalu meraih jaket kulitnya dan segera menuju parkiran. Motornya keluar dari situ dengan raungan keras. Meninggalkan seseorang yang mengamatinya dari balik jendela sanggar. Ada airmata yang jatuh di pipi yang berlesung indah itu.
Sebulan sudah, Ophie tak pernah lagi melihat Riny muncul di Sanggar. Entah mengapa, sepertinya ada yang hilang bersama dengan ketidak hadiran gadis itu.
“Riyo, kamu lihat si Riny nggak?” tanya Ophie pada salah seorang anak didiknya yang berpostur tubuh kerempeng.
“Dia ada dirumahnya, katanya dia tidak mau ikut latihan di Sanggar lagi!” jawab Riyo
“Kenapa?” tanya Ophie lagi. Riyo hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu. Ophie makin resah.
“Halo, Riny ya?” Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon gadis itu.
“Iya Kak Ophie, ada apa?” suara lembut itu menjawab, dan tiba-tiba saja, Ophie merasakan ada luapan kerinduan yang tiba-tiba muncul di hatinya.
“Kok kamu nggak pernah kelihatan di Sanggar lagi?”
“Takut hanya menganggu kakak” jawaban gadis itu sungguh menyentak hati Ophie. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Lalu terlintas di benaknya, apa yang dia lakukan ketika terkahir kali bertemu dengan Riny. Dia membentak gadis itu.
“Rin, maafin kakak ya. Bukan maksud kakak untuk marah sama kamu yang kemarin di Sanggar itu. Kakak sama sekali nggak marah sama kamu!”
“Kakak marah sama kak Endah, kan?”
Pertanyaan gadis itu membuatnya terdiam, dia tak mampu untuk menjawab
“Aku bukan dia, selamat malam, Kak” lalu sambungan telpon terputus. Meninggalkan Ophie yang termenung, memikirkan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Dia lalu memutuskan untuk menelpon gadis itu lagi.
“Rin, kamu mau nggak nonton sama kakak hari Sabtu nanti?” begitu tersambung, tanpa menunggu suara Riny terdengar, Ophie langsung bertanya.
“Hoiii!! Ini kakaknya, Riny lagi ke toilet!!” terdengar suara seorang cowok.
“Waduh!! Maaf ya..”
“Ihh!! Kak Randy kenapa sih? Main angkat telpon orang sembarangan, sini kembaliin hape Riny!”  terdengar suara Riny berteriak nyaring, mebuat Ophie langsung tersenyum.
“Halo?”
“Rin, ini aku, mau nggak nonton sama kakak hari Sabtu nanti? Kakak jemput jam 6 Sore dirumahmu ya?” Ophie mengulang pertanyaannya. Tidak ada suara diujung sana.
“Rin, maafin kakak ya..Please jawab pertanyaan kakak, ini udah yang kedua kalinya kakak menanyakan hal yang sama, tadi sama kakakmu yang menerima telpon, dan sama kamu” Ophie mencoba untuk mencairkan suasana. Sepertinya dia berhasil, karena terdengar suara cekikikan halus.
“Iya..jemput aku jam 7 ya!” sambungan telpon langsung dimatikan oleh gadis itu. Ophie pun bersorak di kamarnya.
“YES!!!!”
“Kak Ophieeee!! Jangan ribut dong...Vivi lagi belajar nih..besok ada ujian, tau!!” terdengar teriakan adiknya dari kamar sebelah.
“Ups!! Sorry Vi..”
Hari Sabtu tepat jam 6 sore, Ophie sudah menjemput Riny dirumahnya. Setelah sedikit berbasa-basi dengan orang tua gadis itu yang memang sudah dia kenal, jauh sebelum mengenal Riny bahkan, karena merupakan salah satu pengurus organisasi di Kelurahan bersama dengan Ophie, mereka berdua lalu menuju ke Bioskop.
“Kita nonton dulu ya Rin, nanti setelah itu baru kita makan, gimana?” tanya Ophie pada gadis itu, yang tengah duduk di boncengan motornya.
“Terserah kakak, deh. Riny sih nurut aja”
Begitu tiba diparkiran, Ophie langsung memarkir motornya. Ketika dia dan Riny hendak menuju ke pintu masuk utama, tiba-tiba di parkiran mobil, ada sesosok tubuh yang begitu dikenalnya, keluar dari sebuah sedan mewah berwarna hitam. Endah.
Gadis itu keluar, lalu diikuti oleh seorang pemuda tampan berkulit putih, yang langsung menggandeng tangan Endah dengan mesra.
“Kak..” suara Riny terdengar prihatin. Ophie memandang gadis itu, lalu tersenyum.
“Kakak baik-baik saja kok, kan ada kamu..”
Ophie berpikir, mungkin dia memang bukan yang terbaik untuk Endah. Mereka mungkin memang bukan jodoh. Untuk apa bersedih dan merusak diri karenanya?. Toh dia bisa belajar untuk mencintai seseorang lagi. Seseorang seperti Riny, yang tengah menggenggam tangannya erat sekarang ini.(NS/’12)

(Ayayayayay... to Ophie & Riny : Hope that life will treat both of you very well..Hehehehe)



__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers