Popular posts

nsikome On 06 Maret 2012



THE DIARY OF JANDA-JANDA KAMPUNG (6)

JANDA-JANDA HIGH CLASS

Waduh…natal sudah lewat, dan kita sudah mulai masuk di hari-hari terakhir bulan Desember. Bagi yang belum pernah ke Manado di bulan-bulan seperti ini, sekedar info ya, jangan pernah keluar belanja pada tanggal-tanggal seperti ini. Macetnya, luar biasa!. Bukan hanya macet saja, tapi entah mengapa sepertinya penduduk kota Manado menjadi berlipat ganda sampai 10 x dari biasanya.
Mungkin kalau orang-orang yang tinggal di Jakarta sudah pada nggak kaget dengan suasana seperti ini, tapi kan setidaknya, di Jakarta mall-nya banyak, jadi semua orang tinggal pilih aja mau kemana. Nah di Manado, mall-nya memang lumayan, meski tak sebanyak Jakarta, namun karena semuanya terpusat di BOB Zone (Business on Boulevard), jadi semua mahkluk hidup yang ada di Sulawesi Utara, pada datang semua ke BOB Zone. Untuk belanja.
Saya sendiri, berhubung karena saya orangnya hemat luar biasa, jadi, saya lebih memilih menghambur-hamburkan uang untuk jalan-jalan, bukan untuk belanja-belanji. Kok jadi ngomongin belanja ya?.
Hari ini, saya mau cerita tentang Eny. Yang berantem sama suaminya itu lho. Rupanya, pertengkaran mereka lebih memanas dari sebelumnya. Saya sih mendengarnya barusan. Si Eny telpon, dan mengatakan, bahwa dia saat ini sedang berada di depan rumah seorang wanita, janda juga kayak saya, dan dicurigai sebagai selir hati suaminya! (duilee..selir hati, kayak lagu aja!).
“Mbak….saya sudah nggak tahan lagi, kali ini saya akan minta cerai betulan!” isak Eny, lewat HP. Untung saja, signal hp saya hari ini lumayan bagus. Nggak kayak di iklan mereka sih, provider nomor satu di Indonesia, yg katanya signal mereka paling top. Wong kemaren, saya nelpon teman saya si Endah, kok yang ngangkat suaranya om-om? Aneh banget.
“Kenapa Eny? kamu lagi dimana?” tanya saya cemas, soalnya bunyi di belakang suaranya si Eny, ribut banget.
Lalu meluncurlah cerita Eny, lewat hp yang tumben kali ini suara dan signalnya tidak terputus-putus kayak orang lagi nge-DJ. Ternyata, si suami yang dikiranya sedang minggat disuruh ibunya, ternyata disinyalir punya wanita simpanan yang lain. Kata si Eny, mulanya dia tidak percaya, ketika salah seorang sepupunya memberitahukan pada dia, bahwa suaminya terlihat sedang makan malam di sebuah kafe di bibir pantai, yang suasananya sangat romantis, dengan seorang wanita yang tidak dikenal oleh sepupu si Eny.
Berbekal dengan informasi itu, Eny mulai melakukan penyelidikan dan investigasinya sendiri. Ternyata oh ternyata, informasi itu benar adanya. Eny melihat, pagi-pagi sekali suaminya keluar dari rumah Ibunya, lalu membawa mobilnya keluar dari sana. Eny-pun mengikuti suaminya dengan motor ojekan yang disewanya.
Mobil suaminya berhenti di depan sebuah rumah, yang tidak dikenal oleh Eny. Pintu rumahnyanya dibuka oleh seorang wanita, yang ternyata seorang janda, sesuai dengan informasi yang diterima Eny dari tetangga sebelah rumah perempuan itu. Rupanya, si janda agak mirip-mirip dengan Neni, si janda kaki lima di kampung kami, oleh para perempuan disekitar situ, dianggap sebagai ancaman bagi keharmonisan rumah tangga mereka. Maka terjadilah percekcokan, karena Eny sudah tidak tahan dan langsung meneriaki serta mencaci maki suami dan perempuan tersebut.
Cerita Eny berakhir sampai disitu, karena terdengar suara orang yang berteriak, sepertinya itu suami Eny, lalu umpatan kasar oleh Eny, dan bunyi tut..tut..tut..dibelakangnya. Hubungan telepon terputus sudah.
Saya itu heran dengan para perempuan yang berstatus janda. Sudah dipandang sebelah mata di masyarakat, bukannya mematahkan semua anggapan miring tentang para janda, malah tambah menghancurkan reputasi diri sendiri. Di kampung saya, memang terbilang cukup banyak perempuan-perempuan yang menjadi janda, bahkan usianya masih tergolong muda, seperti saya. Tapi pada akhirnya, banyak pula yang terjerumus kedalam pergaulan yang kurang baik, dan pada akhirnya malah merugikan diri mereka sendiri. Sudah di cap jelek sama masyarakat, masa depan mereka ikut-ikutan suram. Karena banyak yang merelakan dirinya menjadi wanita simpanan para lelaki-lelaki mata keranjang berkocek tebal.
Tapi kalau dipikir-pikir, mending jadi simpanan lelaki berkocek tebal, daripada hanya jadi piala bergilir para lelaki sekampung kayang si Neni?. Well, apapun itu, menjadi janda, cerai atau mati, hidup dengan terhormat adalah lebih baik dari kedua hal tersebut diatas.
Kemarin, saat saya sedang nongkrong di sebuah sebuah Kafe yang berada di  pusat perbelanjaan terbesar di kota Manado, dihadapan saya, duduk 3 orang wanita, kira-kira seumuran dengan saya. Mereka cantik, dengan kulit putih dan wajah khas perempuan Manado. Bukan tampang mereka yang menjadi perhatian saya, namun percakapan mereka.
“Kamu kapan shopping ke Singapura?” tanya si rambut panjang pada temannya yang berlesung pipit.
“Kayaknya sebelum akhir tahun deh, soalnya bapak banyak kerjaan” jawab yang ditanya
“Ngapain musti nunggu si bapak sih? kan kamu bisa jalan sendiri, atau bertiga sama kita-kita, gimana? siapa tahu, disana ketemu brondong kece, hihihi!” teman mereka yang satunya lagi, dengan gaya rambut bob berponi menyeletuk sambil tertawa kecil.
“Maunye eike sih…cuman, bapak pengen sama aku kesana, udah lama nggak ‘nyetor‘!” mereka bertiga lalu tertawa bersamaan.
“Jeng, kamu tuh ya, gak pernah mikirin hal lain selain shopping, belanja-belanji..mbok bikin rumah toh kayak aku, biar kalo ketahuan sama si Ibu, kamu udah punya bekal buat ngelanjutin hidup sebelum dapet yang baru..” si rambut panjang menasehati.
“Kamu ada benernya juga, apalagi dengan semua wartawan yang ada dimana-mana, gerak-gerik bapak suka diamati, untung saja beliau termasuk seorang menteri yang  pandai membawa diri” meskipun sudah setengah berbisik, suara si lesung pipit masih kedengaran juga sampai ke telinga saya.
Tempat duduk mereka memang sangat dekat dengan saya. Namun, mungkin karena saya kelihatan serius dengan laptop di hadapan dan tak pernah sekalipun mengangkat wajah, bisa jadi mereka mengira saya tak mencuri dengar obrolan itu.
“Trus, bagaimana kabar anak dari suami kamu yang dulu, udah pernah ketemu sejak masalah yang kemarin itu?” tanya si lesung pipit entah pada siapa, namun saat dia menjawab, ternyata si rambut bob.
“Udah pernah sekali, tapi sama neneknya aku dilarang ketemu, hanya bapaknya yang secara sembunyi-sembunyi membawa Rangga ketemu sama aku, itupun karena kujanjikan uang 10 juta untuk dia dan anak aku, dasar laki-laki mata duitan!” umpat si rambut bob.
Dan mereka bertiga pun terus bercakap-cakap tentang kehidupan mereka. Sungguh saya sangat miris mendengar kisah mereka. Memang sih, terlihat dari pakaian dan bau parfumhigh brand-nya, perempuan-perempuan itu sekilas terlihat seperti para sosialita yang sering muncul di infotainment, namun dibalik semua itu, mereka hidup dalam kepalsuan. Saya tahu, ada banyak perempuan-perempuan yang terjebak dalam kehidupan seperti mereka-mereka itu, di kampung saya juga ada.
Hal yang paling mengherankan untuk saya adalah, bukannya malu dengan apa yang tengah mereka lakukan, perempuan-perempuan tersebut terlihat bangga dan sombong dengan segala kekayaan yang didapatkan dengan jalan seperti itu.
Dikampung saya, ada seorang janda, nama-nya Rieka. Setelah berpisah dengan suaminya, dia berangkat ke Jakarta untuk bekerja disana. Hanya satu tahun berselang, Rieka kembali pulang, kali ini membawa uang yang banyak. Rumah orang tuanya di renovasi besar-besaran, tak lupa mobil mewah yang baru langsung terparkir di garasi rumah yg baru direnovasi itu. Rieka sudah jadi perempuan sukses.
Tapi, bukan orang kampung namanya kalau tidak bergosip seperti saya ini sekarang. Mula-mula, beredar cerita, bahwa Rieka berbisnis pakaian yang meraup untung besar. Lalu, ada saudara tetangganya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta, ternyata mengenal si Rieka dan tahu sepak terjangnya disana. Setelah di cek dan ricek, ternyata Rieka adalah wanita simpanan seorang pejabat di Jakarta sana. Gosipnya sih, pejabat itu adalah orang terkenal, yang sering wara-wiri di TV.
Hidup si Rieka memang berubah. Kelakuannya juga. Semenjak tingkat ekonomi mereka membaik, si Rieka dan Mama-nya jadi pongah bukan main. Mama-nya sih Rieka bahkan pernah berantem dengan tante Rosye, si biang gosip. Gara-gara tante Rosye di curigai adalah orang yang menyebarkan cerita tentang Rieka yang menjadi wanita simpanan. Tapi mama si Rieka tak berkutik ketika tante Rosye dengan lantang menyebutkan satu persatu dosa anaknya. Menghebohkan memang!.Ah…hidup seorang janda memang susah di negara ini. Salah melangkah sedikit saja, langsung jadi bahan omongan. Bila suami dicurigai selingkuh, yang berstatus janda langsung jadi tersangka utama. Kalau dipikir-pikir, lebih enak jadi janda high class kayak si Rieka itu, tapi, bagi yang sudah punya anak, ada rasa malu nggak ya mereka-mereka itu terhadap anak-anaknya? Entahlah…

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers