Popular posts

nsikome On 13 Maret 2012


Image : www.wellcomecollection.wordpress.com 

THE DIARY OF JANDA-JANDA KAMPUNG (7)

VII.SELF STORY


Natal baru saja lewat. Oh ya, untuk kalian-kalian yang masih belum tahu, natal di kota Manado, mungkin adalah natal ter-heboh di seluruh Indonesia. Itu menurut teman-teman saya yang berasal dari luar kota Manado. Memang, saya sendiri sudah pernah melewati natal di kota lain, dan tidak pernah semeriah di kota saya ini.
Natal juga, menjadi ajang ‘show time’ bagi para perempuan-perempuan yang dengan bangga-nya memamerkan baju baru yang mampu dibeli oleh mereka. Tak penting apa agama dan keyakinan yang dianut, momen akhir tahun selalu berwarna-warni disini.
Saya tengah resah (ehem!). Kemarin saya bertemu lagi dengan laki-laki itu, setelah sekian lama tak bertemu. Pesonanya, masih saja begitu kuat, seperti saat pertama saya berkenalan dengannya, ketika itu saya masih berstatus menikah.
Saya sedang memilah-milih baju-baju diskon dalam keranjang (karena saya orangnya agak super hemat) di sebuah mall terkenal di kota Manado, ketika bahu saya dicolek seseorang dari belakang.
“Hai...lama tidak bertemu ya..”
DUG!!. Jantung saya langsung berdentam-dentam kencang, sehingga saya takut dia bisa mendengarnya. Saya belum melihat wajah si pemilik suara tersebut, tapi saya kenal siapa dia. Sambil mencoba untuk mengatur napas (dan juga perasaan), saya berbalik menghadap kearahnya.
“Hai Stan, ternyata kamu..” ucapku, pura-pura terkejut. Dan mahkluk dihadapan saya itu tersenyum dengan sangat memukau. Sungguh mati, saya merasa seperti ingin mengecup keras-keras bibirnya itu. Sialan!.
“Apa kabarmu? Aku dengar, kamu sudah bercerai ya?” ternyata dia tahu tentang itu, pikir saya sedikit ge-er.
“Tahu dari mana Stan?”
“Sepupu kamu si Anita, saya kebetulan pernah bertemu dengannya sekali”
Ufftt..Dia bertemu dengan Anita sekali, lalu menanyakan kabar saya? Rasa ge-er di hati makin melambung tinggi.
“Iya...that’s life..” saya mencoba untuk berfilsafat, dan terlihat acuh tak acuh dengan status cerai itu.
“Baguslah..” ucapannya itu sungguh membuat saya terkejut setengah mati. Memang sih, sejak tadi rasa ge-er di dada sudah menggunung, tapi tak pernah sedikitpun terbersit di benak saya, dia akan berucap seperti itu. Saya langsung salah tingkah, sepertinya, dia juga tak menyangka ucapan itu akan trelontar dari mulutnya.
“Ehm...kamu sedang apa disini Ticya?”
Dia adalah satu-satunya orang yang memanggil nama saya seperti itu. Biasanya, semua kenalan dan handai taulan hanya memanggil ‘Leia’ saja. Entah mengapa, saya sangat menyukai itu.
“Belanja sedikit” jawab saya pendek. Kerongkongan saya terasa kering, sungguh menyebalkan. Berada di depan mahkluk tampan yang mempesona ini, dan tak mampu berkata-kata.
“Boleh kutemani?” tawarannya itu, sungguh saya hampir pingsan mendengarnya. Kalau saja tidak memikirkan tentang ‘apa kata orang nanti’. Sudah saya terima dengan tangan terbuka tawaran itu.
Saya memang harus memikirkan tentang pendapat orang lain. Padahal, saya bukan tipe perempuan yang terlalu peduli dengan apa kata orang tentang diri saya. Dalam hal ini, saya HARUS peduli, tidak bisa tidak. Bagaimana tidak? Dia mungkin saja bertubuh sempurna dan kelihatan sangat dewasa, dengan nilai 9,9, namun, dia masih berusia 22 tahun! Apa kata dunia?!. Belum lagi, apa kata Ibunda-nya?. Ketika bercerai, saya berusia 25 tahun dan kini, 4 tahun sudah saya resmi menyandang status janda cerai, artinya saya sekarang berusia 29 tahun. Memang masih agak dekat sih jarak usia antara kami berdua bila dibandingkan dengan penyanyi Yuni Shara dan pacarnya si Raffi Ahmad itu. Tapi tetap saja..
“Saya ada urusan Stan, harus ketemu sama teman di BC Kafe” elak saya halus. Dia hanya menganggukkan kepalanya, terlihat sedikit kecewa.
“Ya sudah...tapi saya mau minta nomor handphone kamu”
Saya, dengan kesadaran setengah penuh, namun berlimpah sukacita yang agak tidak normal kadarnya, langsung memberikan nomor handphone itu kepadanya!. Dia..terlalu mempesona.
Dan kini, saya tengah resah, karena dia baru saja menelpon, hanya untuk menanyakan, jika saya bersedia untuk ikut ke acara pesta tahun baru nanti dirumah salah seorang teman kantornya. Ya, dia sudah lulus kuliah dan bekerja (masih 22 tahun, seorang arsitek muda yang cukup sukses, tampan luar biasa, dan entah saya mampu atau tidak menolaknya?).
Stan, dia benar-benar memiliki pesona yang luar biasa. Sehingga saya masih saja tidak percaya, bahwa dia mengajak seorang janda cerai seperti saya untuk menjadi pasangannya ke pesta tahun baru. Mungkin agak sedikit ge-er, tapi, jujur saja, dia mampu untuk mendapatkan gadis mana pun juga yang bisa diajaknya ke pesta dansa akhir tahun itu, dan dia malah mengajak saya? Menurut anda, apa artinya semua itu?.
Kini, saya benar-benar sangat bingung. Ketika menutup telpon tadi, saya belum mengiyakan ajakannya itu, namun juga tidak menolaknya. Saya hanya mengatakan, bahwa masih harus mengecek agenda, karena setahu saya, pada malam yang sama saya juga diundang untuk menghadiri sebuah pesta Old & New Year kantor kami disebuah hotel, yang adalah sebuah kebohongan besar.Sebenarnya saya tidak mempunyai rencana apa-apa untuk malam tahun baru nanti. Mungkin saya hanya akan menghabiskan setoples kue kering sembari minum dua botol besar minuman soda sampai perut kembung, sambil menonton acara pergantian tahun di TV. Pada Stan, saya hanya mengatakan bahwa saya akan memberitahukan keputusan saya akan ikut ke pesta itu dengannya atau tidak pada tanggal 31 siang nanti.
Mungkin, ini saatnya untuk meminta pendapat dari pihak ketiga. Ternyata, kalau biasanya, para janda-janda fresh graduated yang meminta nasehat pada saya, kali ini, saya harus mencari pendapat bijak dari tempat lain, karena hati saya sepertinya hendak mengkhianati isi kepala saya!. Vanny, sepupu tercinta, tempat curhat sekaligus ngutang saat kocek sedang kosong isinya (hehe), dengan semangat langsung saya telpon dia.
“Hello Cuz...how are you darling?” suara centilnya terdengar menyapa diseberang. Saya tiba-tiba merasa ceria mendengar suaranya. Dia memang seorang perempuan yang penuh dengan semangat, dan selalu menularkan semangatnya itu.
“Baik sih..tapi bingung..curhat dong Maaahh..” ujar saya menirukan gaya jemaah-nya nenek penceramah kondang di TV.
“Ihhh...my cuz lagi bingung ya, what happened my dear, biasanya kamu yang sebijak dalai lama..” kelakar Vanny. Saya hanya ikutan terkekeh garing.
“Iya sih, tapi kali ini kebijaksanaan itu, kalah sama kharisma nya Lionel Messi!”
Who is that? Aktor hollywood baru ya cuz?”
WATAWWW!!..Lupa saya, sepupu tercinta itu sama sekali buta soal hal-hal lain diluar fashion. Jangan tanya soal politik padanya, atau sepakbola. Dia pernah mengira, John F.Kennedy itu adalah seorang perancang busana baru yang sedang naik daun dari Inggris, dan Tiger Wood itu adalah aktor berkulit hitam yang main di film ‘Men in Black’. Jauh bangeett..
“Kamu tuh ya, autist banget sama hal diluar fashion, heran deh!” protes saya. Capek juga setiap kali ngomong tentang seseorang padanya dan harus menjelaskan siapa mereka itu. Tapi, jangan bicara padanya soal fashion, wuiiihhh...hanya sedikit yang dia tidak tahu tentang fashion.
“Yaahh...dia marah..udah tahu eike autist sama hal-hal gituan, pake acara ngomongin ke aku lagi, it isn’t my fault dong ah!” elaknya. Benar juga dia.
“Ngomong serius nih Van, becanda ‘mulu!”
“Ya sudah, ayo ngomong..masalahmu apa?”
“Cowok!” jawab saya pendek. Terdengar pekikan kecil diujung sana
Oh my Gosh!! My lovely Cuz mau melepas status jandanya!” 

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers