Popular posts

nsikome On 12 Juli 2012



VIX. BUKU HARIAN TANTE NENI

Mungkin kalian sudah tahu, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, tentang si janda kaki lima yang memiliki buku harian berisikan tentang laki-laki yang sudah pernah menikmati indahnya surga dunia dengan Tante Neni, bahkan sampai pada calon-calon korban si janda tengik itu.

Banyak sekali para istri-istri yang penasaran, tentang isi dari buku harian itu. Saya sendiri tak bisa menyalahkan mereka. Sudah pasti mereka penasaran dengan isi buku harian tersebut, terutama pada bagian daftar para lelaki yang sudah pernah berbagi ranjang dengan si janda genit. Mereka ingin tahu, apabila suami-suami mereka juga masuk ke dalam daftar tersebut atau tidak!.

Saya heran, para istri itu mereka sudah pasti tidak ingin rumah tangga mereka yang sudah terjalin setelah sekian tahun bahkan ada yang sudah sampai belasan hingga puluhan tahun rusak. Tapi mereka masih tetap saja penasaran ingin melihat isi buku harian si Neni. Bukankah itu artinya mereka mengambil resiko untuk merusak rumah tangga mereka sendiri, jika sang suami namanya tertera dalam buku harian tersebut?. Kadang saya berpikir, ada hal-hal yang mungkin lebih baik tidak kita ketahui, dan tidak menimbulkan resiko apa-apa, daripada hal yg kita ketahui, namun beresiko menghancurkan hidup kita, atau orang-orang yang kita sayangi.

Kembali lagi pada buku harian tante Neni. Entah ini kesialan atau keberuntungan, buku yang sempat dikira hanyalah sebatas mitos belaka, jatuh ke tangan saya. Begini ceritanya, suatu hari, keponakan saya yang bernama Dinda, bersahabat dengan keponakan tante Neni yang berasal dari luar daerah, dan tinggal di rumah si janda genit karena harus bersekolah di Manado.

Mulanya sih, saya sering marah-marah sama Dinda, dan melarangnya agar jangan bersahabat dengan keponakannya si janda tengil. Namun akhirnya, saya jadi sadar, bahwa sikap itu tidak baik. Bukan berarti karena Riana (nama keponakan tante Neni) itu keponakan si janda kaki lima, lalu kelakuannya sama dengan tantenya itu. Makanya saya tidak marah-marah lagi sama Dinda, dan tidak melarang dia untuk berteman dengan Riana. Lagipula, selama ini, yang saya amati dan perhatikan dari Riana, anak itu sungguh berbeda jauh kelakuannya dengan tante Neni.

Dinda dan Riana, karena mereka sekelas di sekolah, mereka berdua selalu mengerjakan PR bersama-sama. Kadang Riana yang datang ke rumah saya untuk belajar dengan Dinda, begitu pula sebaliknya. Suatu hari, Dinda minta ijin untuk pergi ke rumah Riana, katanya temannya itu minta tolong Dinda untuk beres-beres kamarnya Riana, karena ada banyak barang-barang yang harus dipindahkan dari situ ke gudang. Maklum saja, sebelum kedatangan Riana yang belum lama ini, si janda kaki lima tante Neni hanya tinggal sendirian.

Sore hari, ketika selesai beres-beres kamar Riana, Dinda pulang membawa sekardus penuh buku-buku novel. Ketika saya menanyakan tentang hal itu, kata Dinda, ada banyak novel-novel bagus di kamar Riana, sayang katanya jika harus di taruh di gudang dan jadi makanan tikus. Makanya Dinda yang memang sangat hobi membaca meminjam sekardus penuh novel-novel milik tante Neni. Jadi si janda genit bisa membaca juga, pikir saya.

Ketika saya meneliti lebih jelas novel-novel apa saja yang ada disitu, saya jadi kagum. Ternyata selera tante Neni boleh juga. Gone With The Wind, Mistery Island, Memoirs of A Geisha, dan masih banyak lagi novel-novel yang masuk dalam kategori novel “pintar” ada disitu.

Namun bukan hanya selera membaca tante Neni yang membuat saya tertarik. Di paling bawah kardus yang dibawa Dinda, ada sebuah buku, yang bersampul kulit imitasi warna merah marun, yang sudah agak pudar. Sebuah buku harian. Lebih hebat lagi, ketika saya membukanya sekilas, tak disangka tak diduga, itu adalah Buku Harian tante Neni yang melegenda! ASTAGANAGA!!.

Dengan penuh semangat, saya lalu menyelundupkan buku keramat itu ke dalam kamar saya sembunyi-sembunyi, agar tidak ketahuan oleh Dinda. Rupanya, gadis kelas 1 SMA itu juga tidak memperhatikan bahwa tante-nya mengambil sebuah buku dari dalam kardus. Saya hanya khawatir, dia mengetahui buku-buku apa saja yang dia bawa. Tapi ternyata, bahkan sehari sesudahnya, Dinda tidak bertanya apapun kepada saya perihal buku merah marun itu.
Malam hari, sesudah makan malam, saya langsung cepat-cepat pamit pada Dinda yang sedang menonton televisi, kalau saya ingin segera tidur.

“Din, tante tidur dulu ya, capek” Dinda menatap saya dengan pandangan heran. Tentu saja gadis itu merasa heran, karena biasanya saya yang paling belakangan naik ke tempat tidur dari kami berdua. Bahkan Dinda sering menjuluki saya sebagai “Batwoman”, gara-gara kebiasaan saya yang suka tidur larut malam.

“Tante Leia sakit,ya?” tanya Dinda terdengar agak prihatin.
“Nggak kok, tadi kerjaan agak banyak dikantor, dan besok tante harus bangun pagi-pagi karena ada meeting!” dusta saya. Gadis itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Ooo..ya sudah, tante istirahat saja, selamat malam, Tan!”
Tanpa menjawab ucapan selamat malam dari Dinda, saya bergegas masuk kedalam kamar. Setelah memastikan pintu kamar saya sudah rapat terkunci, saya lalu mengeluarkan Buku Harian tante Neni dari dalam lemari pakaian, dan langsung membacanya dengan penuh semangat.

25 September 1980
Aku sungguh bingung, pernikahanku sudah berjalan selama 2 tahun, dan kini aku sudah memiliki anak lucu dan sebentar lagi akan segera memiliki bayi lagi, namun aku merasa ada yang kurang. Sepertinya, aku merasa kurang bahagia dengan bang Rustam, tapi mengapa? Tidak ada alasan untuk itu. Dia selalu memberikan aku nafkah lahir dan batin yang cukup.

Buku harian tante Neni pertama ditulis pada tahun 1980. Rupanya dia sedang hamil anak keduanya. Buku harian itu tebal dan terasa berat. Rupanya, tante Neni tidak menulis di buku hariannya itu setiap hari, karena, pada lembaran berikutnya, dua bulan sesudah dia menulis tulisan pertamanya, baru dia mengisi buku hariannya lagi.

28 November 1980
Siapa dia? Mengapa bayangannya selalu saja menganggu pikiranku, meski sudah beribu kali aku mencoba untuk mengenyahkannya dari pikiranku. Bulan depan, kata dokter aku akan melahirkan anak kedua-ku. Suamiku makin hari makin menyayangi aku, tapi aku malah selalu membayangkan wajah laki-laki lain, yang bahkan hanya kukenal di mimpiku!.

Wahhh.. Ternyata tante Neni sudah mata keranjang sejak dulu. Bayangkan saja, sudah menikah dan bahkan sedang hamil anak kedua, dia malah membayangkan pria lain?. Kasihan sekali suaminya itu. Aku lanjut membaca halaman-halaman berikutnya.

11 Januari 1981
Anakku sudah berumur sebulan lebih, dan aku sudah merasa sangat bosan hanya berdiam dirumah terus. Aku ingin bekerja lgi. Mungkin aku akan bicara pada Bang Rustam, dan meminta ijin agar dia mengijinkan aku bekerja lagi. Kebosanan ini sungguh sepertinya akan membunuhku!

8 Maret 1981
Akhirnya Bang Rustam mengijinkan aku untuk bekerja juga. Untung ibu mertuaku tinggalnya dekat, dan dia mau menjaga kedua anakku. Tentu saja dia mau, Bang Rustam adalah anak satu-satunya dan dia sangat memuja kedua anakku. Bahkan dia yang memohon-mohon agar bisa menjaga Vio dan Ria. Baguslah! Aku tak perlu untuk membayar pengasuh bagi kedua anakku.

10 Maret 1981
Hari pertama masuk kerja lagi, setelah sekian lama. Sungguh menyenangkan. Rasanya percuma saja aku susah-susah sekolah, tapi setelah menikah hanya tinggal dirumah saja. Kantor baru aku juga lokasinya bagus. Tapi sayang sekali, kelihatannya bos aku galak minta ampun. Mungkin itu hanya perasaan aku saja, entahlah. Kita lihat saja nanti.

26 Februari 1981
Ya Tuhan....laki-laki yang dulunya selalu menganggu dalam mimpiku, tadi hadir di depanku. Dia pindahan dari kantor pusat kami, dan dia duduk berdekatan dengan mejaku. Sungguh aku merasa sangat gugup sehingga menumpahkan kopi ke atas mejaku sendiri. Untung saja tidak ada dokumen yang terkena ceceran kopi. Dia sungguh tampan dan menarik.

Sungguh aneh apa yang dialami oleh tante Neni menurut saya. Lelaki yang ditulisnya hanya dia lihat di alam mimpi, ternyata benar-benar ada. Apakah kebetulan seperti itu memang benar-benar pernah terjadi?. Aku tak tahu, yang pasti, kelihatannya tante Neni merasa sangat senang dan gugup, seperti yang dia tulis dalam buku hariannya!. Satu hal yang juga saya yakin, bahwa isi Buku Harian Tante Neni di lembaran-lembaran berikutnya akan sangat amat BERWARNA!!

{ 3 komentar... read them below or Comment }

  1. kok lanjutan ceritanya ga keluar2 ya.. hahaha.

    *ijin menyimak.. :)

    BalasHapus
  2. Insomniac ; inspirasinya mentok....hehe

    BalasHapus
  3. Pengen yang lebih seru ...
    Ayo kunjungi www.asianbet77.com
    Buktikan sendiri ..

    Real Play = Real Money

    - Bonus Promo Red Card pertandingan manapun .
    - Bonus Mixparlay .
    - Bonus Tangkasnet setiap hari .
    - New Produk Sabung Ayam ( minimal bet sangat ringan ) .
    - Referal 5 + 1 % ( seumur hidup ) .
    - Cash Back up to 10 % .
    - Bonus Royalty Rewards setiap bulan .

    Untuk Informasi lebih jelasnya silahkan hubungi CS kami :
    - YM : op1_asianbet77@yahoo.com
    - EMAIL : asianbet77@yahoo.com
    - WHATSAPP : +63 905 213 7234
    - WECHAT : asianbet_77
    - SMS CENTER : +63 905 209 8162
    - PIN BB : 2B4BB06A / 28339A41

    Salam Admin ,
    asianbet77.com

    Download Disini

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers