Popular posts

THE DIARY OF JANDA-JANDA KAMPUNG (EPISODE 10)

28 September 2012
Posted by nsikome

X.AGAIN, ABOUT MYSELF!



Kali ini, saya hendak bercerita tentang saya lagi. Mungkin pada penasaran ya, bagaimana kelanjutan dari ajakan si Stan untuk menghabiskan malam Tahun Baru bersama dengannya di Old & New Party yang diadakan oleh kantor dia.

Sore itu, 4 hari sebelum akhir tahun. Saya baru saja sampai dirumah dari kantor, dan sedang melaksanakan aktivitas rutin sore hari saya, yaitu mengurusi bunga-bunga Anggrek kesayangan di depan rumah, ditanah pekarangan saya yang tidak terlalu besar. Saat sedang asyik menyiram sekaligus mengagumi Anggrek Bulan berwarna putih yang sedang mekar berbunga, tiba-tiba terdengar suara dari pintu rumah, ternyata keponakan saya, si Dinda.

“Tan, ada telpon!” ujarnya sembari mengangsurkan Handphone saya yang masih sedang melantunkan ringtone panggilan telpon di tangannya.

“Dari siapa, Din?” tanya saya. Dinda hanya mengangkat bahunya, lalu menjawab cuek, namun membuat saya langsung malu bukan kepalang.

“Tauk...nama di HaPe nya Tan sih, namanya Si Kiyut!”
ALAMAK....memalukan sekali. Pasti dalam hatinya Dinda ngakak habis-habisan. Si Kiyut...ada-ada saja!. Segera saya mengambil handphone dari tangan Dinda lalu menekan tombol OK.

“Halo?” jawab saya pelan. Berusaha untuk terlihat acuh tak acuh di depan Dinda.
“Hai Tycia....Ini Stan..” terdengar suara teduh yang menenangkan di ujung sana. Tentu saja saya tahu itu kamu, geblek!. Makanya saya sedang malu setengah mati depan si Dinda gara-gara menyimpan nomor kamu dengan nama ‘Si Kiyut’, rutuk saya dalam hati setengah kesal.
“Iya..saya tahu itu kamu, kan kemaren kamu memberikan nomor telpon ke saya”
“Ohh...kupikir kamu tidak menyimpan nomor hape saya, Ty..” 
“Oh ya, aku menelpon kamu untuk menanyakan, tentang rencana malam Tahun Baru kita, jadi kan?” tanya Stan penuh percaya diri. Sialan banget ni cowok, waktu kemaren itu saya kan tidak pernah mengiyakan untuk pergi bersama dengan dia. Enak aja dia ngomong ‘Rencana Malam Tahun Baru Kita’!.

Sejenak mulut saya seperti terkunci, dan jujur saya tidak tahu harus bicara apa. Sebenarnya, saya sudah sedikit lupa dengan ajakan Stan sewaktu di Mall itu, bukannya apa-apa, saya hanya tidak pernah berpikir bahwa dia akan serius mengajak saya merayakan pesta Tahun Baru bersama dengannya.
“Hello Houston!!..Anybody there?” terdengar lagi suara sejuknya berucap penuh canda diseberang sana, dan mendadak seperti ada seribu kupu-kupu yang menari-nari didalam perut, rasanya sungguh tidak nyaman, namun menyenangkan.
“Aduh!..Maaf ya Stan, saya sudah lupa!” tukas saya gugup, untung saja dia sedang tidak berada dihadapan saya. 

“Oh gitu ya, terus menurut kamu gimana? Mau nggak ikut?!” nada suaranya itu lho, hangat namun terdengar cuek, menggemaskan!.
“Kebetulan kemarin acara kumpul keluarga aku dibatalin karena ada salah seorang Om yang sakit berat, jadi kayaknya aku bisa ikut kamu”
“Keren!.. Kalau begitu kamu mau aku jemput jam berapa? Acara puncaknya sih jam 12 malam, tapi makan malamnya sudah dimulai pukul 9, jadi, gimana kalau aku jemput kamu pukul 8?”
“Okey deh!” Saya langsung mengiyakan. 

Saat ini, saya memang tidak sedang dalam keadaan untuk menolak ajakannya itu. Entah mengapa, saya seperti terbius dengan suaranya lewat telepon tadi. Untung saja percakapan kami cuma lewat telepon, karena jika berhadapan, sudah pasti Stan akan keheranan melihat keringat deras yang mengucur di sekujur tubuh saya.

“Tan! Tante sakit ya? Kok keringetan gitu?” suara Dinda membuyarkan kabut-kabut yang sejak suara Stan terdengar, entah mengapa seperti menggantung di otak saya.
“Enggak kok, tante Cuma kepanasan saja”
“Kepanasan gara-gara “si kiyut” ya?” goda Dinda. Sialan! Anak kecil berani menggoda tante-nya.
“Jangan merah gitu dong mukanya, Tan! Kayak anak SMP lagi digodain gara-gara ketangkap basah pacaran sama teman sekelasnya, lho!” gadis mungil itu lalu langsung berlari keluar sambil tertawa terkekeh-kekeh, karena ditanganku sudah ada bantal kursi yang siap untuk dilemparkan!

Muka saya merah? Memang muka saya merah, dan itu sungguh sangat tidak bisa di toleransi. Saya bukan anak kecil lagi. Saya sudah pernah berumah tangga meskipun gagal. Seorang Stan, pemuda ingusan bisa membuat wajah saya bersemu merah? Keterlaluan!!.
Akhirnya, hari itu sudah sangat dekat. Tinggal satu hari lagi. Saya makin resah, pertama, karena saya tak yakin  apakah ini adalah keputusan yang tepat. Kedua, saya belum menemukan baju yang tepat untuk acara tersebut. Sudah 5 kali saya dan Dinda membongkar-bongkar lemari baju, memadu madan-kan semua baju-baju yang bisa saya temukan disitu, dan semuanya terlihat TIDAK SEMPURNA.

Bahkan, saking kesalnya, Dinda memutuskan untuk berhenti membantu saya, saat untuk ke 20 kalinya saya minta dia untuk menilai setelan Skinny Jeans dan semi blazer yang tepat untuk saya.
“Cukup ah! Dinda nggak mau lagi! Ngapain minta pendapat Dinda, kalau toh akhirnya semua tidak tante suka?!” ketus gadis itu judes.
“Din...tolongin tante dong..” pinta saya sudah setengah memelas.
“Telpon aja tante Vanny, pasti dia tahu apa yang harus di lakukan! Dinda menyerah”
AHA!! Benar juga. Kenapa sejak tadi hal tersebut tidak terpikirkan oleh saya, ya?. Vanny, trouble and solution maker dalam keluarga kami.

“Hello Cuz, tumben dalam sebulan kamu nelpon  aku sudah berkali-kali, biasanya aku yang suka nelpon kamu, biar malas diangkat!” goda Vanny.
“Iya..iya....sorry....bantu aku dong!” pinta saya tanpa basa-basi. 
“Hohoho..... aku nggak salah dengar, nih? Usually, eike kan yang selalu minta bantuan kamu, dalam segi spiritual maupun material? Kok jadi kebalik sih?”
“Bantuin aku beli baju buat acara tahun baru besok dong!” saya putuskan untuk langsung bicara tentang masalah yang sebenarnya, sebelum si usil mulai mengorek-ngorek cerita dibalik itu.

“Eng..ing..eeeeennnggg!! sejak kapan kamu peduli dengan penampilan? Setahu eike, kamu tuh ya Cuz, ke gereja aja pake celana jeans belel kamu merasa ok, dan sekarang pake nelpon eike, pakar fashion se kota Manado untuk membantu? Hmmmm...pasti ada udang dibalik mall...”
“Kok udang di balik mall sih??” tanya saya heran
“Batu-batu-nya udah habis buat nimbunin laut buat dibikin mall, lupa ya? Tentu saja kamu lupa Cuz, kamu kan type pasar tradisional, bukan supermarket atau mall kayak eike!”
“Terserah deh kamu mau hina aku sesuka hati, aku terima!” Dari pada tidak ditemenin milih baju? Rutuk saya dalam hati.
“Tuh kan, pasti deh ada apa-apanya!” rupanya si Fashionista Freak masih curiga juga.
“Jangan-jangan, ini berhubungan dengan si Stan, ya?” tebaknya, dan dia benar.
“Ah, enggak kok! Siapa bilang ini berhubungan dengan Stan?” dusta saya.

“YANG INI BERHUBUNGAN DENGAN ORANG BERNAMA SI KIYUT TANTE VANNY!!” Tiba-tiba saja, Dinda sudah berada di belakang saya, dan langsung berteriak kearah mikrofon HP.
“Hahahaha!! Eike bener kan? Kamu nggak bisa sembunyiin hal-hal semacam itu pada eike, darling. Mungkin kalau dari segi intelektualitas dan IQ, kamu lebih jago dari eike, minta maaf, untuk yang beginian eike pakarnya!!” Matilah saya!!.
“Ngaku aja, kalau enggak eike nggak bakal temenin kamu belanja baju!” ancam Vanny. 
“Iya..iya..besok aku ada acara sama Stan, PUAS?” 
“PUAS banget Cuz! 30 menit lagi, eike jemput ke rumah kamu, kita shopping!! Byeeee..” tanpa basa-basi, si sepupu gila fashion langsung menutup sambungan telponnya. Meninggalkan saya yang tengah terpaku dengan pipi memerah, dan juga Dinda yang sedang tertawa diseberang ruangan, atau lebih tepatnya; tengah menertawakan saya. Memalukan!.
******
Belanja baju dengan Vanny, ternyata asyik juga. Saya jadi kagum sama pengetahuan fashion sepupu yang satu itu. Luar biasa. Saya saja, sekali-kali datang ke mall, begitu pandangan terantuk pada sepotong baju atau celana jeans kesukaan saya, tanpa ba-bi-bu, langsung deh langkah saya otomatis menuju ke kasir. Saya memang adalah type orang yang tidak terlalu suka menghabiskan waktu di mall. Sedangkan sepupu saya itu, berbeda 160 derajat dengan saya yang super duper cuek. Berkeliling mall seharian, katanya itu bisa membakar kalori yang setara dengan jalan selama 1 jam di treadmill. 

“Lumayan kan, olahraga sambil cuci mata?” ujar Vanny ketika selesai menjelaskan segala macam teori fitness dan pembentukan tubuh ala selebriti Hollywood lewat jalan-jalan dan shopping di mall.
“Bakar kalori sih oke-oke saja Van, tapi ujung-ujungnya kantong aku ikutan hangus!” keluh saya. Si centil hanya tertawa cekikikan mendengar keluhan itu.
“Kamu tuh ya, L, selalu saja suka banyak pikiran, terlalu cemas dengan hari esok. Hidup ini harus dinikmati, ngapain kita susah-susah kerja banting tulang, hayo?” sanggahnya. 

Dalam hati saya mengakui kebenaran kata-kata Vanny. Mungkin dia benar, selama ini saya terlalu khawatir dengan apa yang harus saya pakai, apa yang harus saya makan, apa yang akan terjadi besok harinya, dan saya jadi tidak terlalu menikmati hidup ini.
“Bagaimana dengan yang satu ini?” Vanny mengangkat sebuah gaun terusan berwarna hitam, dengan belahan di punggung hingga sedikit diatas pantat. Sontak saya langsung menggelengkan kepala kuat-kuat.

“Bisa-bisa saya dikira gampang diajak ke tempat tidur sama dia, Van!”
“Emang kamu nggak mau?” goda Vanny, membuat saya tak urung tersipu malu. Untung saja itu luput dari penglihatan sepupu centilku, kalau tidak, sudah pasti aku akan dihujat habis-habisan oleh dia. 
“Kalau ini?” kembali dia mengangkat sebuah gaun berbahan tafeta, berwarna lila muda, yang entah kenapa, saya langsung menyukainya.
“Ayo kita coba!”.
“Gimana, pas nggak bajunya?” tanya Vanny bernada penasaran dari luar kamar ganti.
“Lumayan” jawab saya pendek. Sambil mematut diri di cermin, saya berputar didepan kaca. Baju itu sungguh cantik, pas di badan, dan membuat saya terlihat anggun. Sesuatu yang jarang bisa dilihat dalam diri saya, dikehidupan sehari-hari.

“Cuz, ayo dong keluar, saya pengen lihat juga!” rengek Vanny dari luar. Saya langsung membuka pintu, yang langsung ditarik penuh semangat oleh si centil.
“Wawwww!!.. Tycia, kamu cantik banget!” spontan Vanny langsung memuji. 
“Ihh..kamu bisa saja” tak urung saya merasa jengah dipuji seperti itu.
“Bener lho, L. Aku nggak pernah melihat kamu dalam balutan baju seperti ini, dan jujur, bentuk tubuhmu bisa membuat perempuan-perempuan bermulut tajam sekampung pada iri!” 

Saya tahu, dia berkata jujur. Dengan tinggi badan 169 cm, dan berat 59 kg, postur tubuh saya memang tergolong ideal, dan enak dipandang. Namun tetap saja, blus katun kota-kota dan celana belel, serta sepatu Converse kesayangan saya yang warnanya sudah tidak jelas lagi, adalah pakaian wajib yang menjadi seragam paten saya, selain baju kantor formal nan rapi.
Reaksi Stan dari semuanya itu adalah yang paling saya takutkan. Entah mengapa, saya ingin sekali membuatnya terkesan dengan penampilan saya malam ini. Hal yang membuat saya merasa sangat takut, karena ini adalah yang pertama kalinya dalam hidup saya, penampilan menjadi sesuatu yang teramat penting, dimana sebelumnya, itu tidak pernah menjadi prioritas dalam hidup saya.

“Tycia, kamu sangat cantik, seperti biasanya” Ucapan Stan yang seperti tidak terpana melihat penampilan saya yang lain daripada biasanya, jujur sedikit  membuat saya sedikit kecewa. Sebenarnya, saya begitu mengharap Stan akan menunjukkan reaksi yang sedikit berbeda begitu melihat saya. Namun, sedetik kemudian, saya langsung menyumpahi diri sendiri, karena berpikir seperti seorang perempuan tolol. Memangnya apa yang saya harapkan dari reaksi Stan? Dia harus melongo sambil bilang “WAW” begitu melihat saya? What a stupid thinking!.

Makanya, saya langsung mencoba untuk bersikap normal, sebagaimana adanya saya dalam keseharian hidup saya.
“Kita berangkat sekarang?” ucap saya berusaha untuk terdengar riang. Stan hanya tersenyum, yang lagi-lagi senyumnya membuat hati saya seakan-akan meleleh, seperti mentega kena panas, Hodoh!!.

Kalau pada mulanya saya khawatir tidak akan pernah bisa menikmati pesta Tahun Baru bersama Stan dan teman-teman sekantornya, ternyata saya salah besar. Stan, entah bagaimana caranya, dia mampu membuat saya, yang sebenarnya tidak terlalu suka dengan pesta dan keramaian, jadi menikmati pesta tersebut. Pesta Tahun Baru yang diadakan oleh kantor Stan dibuat di sebuah restoran yang terletak di puncak  gedung sebuah hotel ternama di Manado, yang memiliki pemandangan menakjubkan kearah teluk laut Manado.
“Bagaimana? Kamu menikmati pesta ini, Tycia?” tanya Stan sambil berbisik. Tiba-tiba saja dia sudah berada dibelakang saya. 

“Iya, terima kasih karena sudah mau mengundang saya kesini” ucap saya agak tercekat. Bagaimana tidak, sejak saya mengenalnya, tidak pernah kami berdiri sedekat dan seintim ini!. Kami berdua tidak lagi berada ditengah keramaian pesta, karena saya tadi keluar ke teras restoran yang sepi, untuk mencari angin sedikit, karena didalam pestanya sudah semakin gila-gilaan.
“Tycia, aku yang harus berterima kasih, karena sudah mau ikut aku ke pesta ini, kalau tidak, aku pasti menghabiskan waktu sendirian” ucap Stan merendah. Saya tahu benar bahwa itu bukanlah kenyataannya. Bahkan walau ada saya disampingnya yang Stan perkenalkan sebagai sahabat kepada teman-teman kantornya, tidak sedikit gadis-gadis cantik yang terus-menerus berusaha untuk menarik perhatian Stan. Pandangan-pandangan iri pun dilontarkan pada saya.

“Dan saya merasa sangat bahagia..” Ucapan itu terlontar dengan sangat lirih. Stan lalu menggamit lengan saya, memutar badan saya sehingga kami berdua berhadap-hadapan. Jantung saya langsung melompat-lompat kayak sedang fitness habis-habisan, sampai-sampai saya takut dia bisa mendengar getaran jantung saya itu. Stan menatap mata saya, dengan pandangan yang sungguh bisa meleburkan hati sekuat apapun juga. 

Dia lalu membungkuk, dan bibirnya menjadi begitu dekat dengan bibir saya, sehingga saya langsung berpikir, Oh Tuhan, jika ini memang sudah saatnya, tolong buatlah agar ini menjadi momen yang berkesan buat saya, dan bencana itu tiba-tiba datang!. Sungguh, kejadian itu merupakan kejadian yang paling memalukan dalam hidup saya, jauh lebih memalukan dari ketika saya terkencing-kencing di celana pada saat orientasi Kampus ketika masih menjadi mahasiswi baru, saat para senior menaruh seekor cecak diatas kepala saya, binatang yang paling saya takuti dari semua binatang yang ada didunia ini!.(To Be Continue)

THE LOST CITY 2 (Bloodline-Secret of the Royal Family) PART 2

12 Juli 2012
Posted by nsikome

Image: www.twotourism.com
        

THE LOST CITY (BOOK 2)
BLOODLINE, Secret of The Royal Family

Part 2


            “Kamu tenang saja, Ning. Nanti Papa yang bicara sama Mama, ya?” Papa mengedip padaku. Hatiku seketika langsung merasa tenang, Papa memang hebat. Sejak dulu, jika aku dan Arya berantem sama Mama, selalu Papa yang jadi penengahnya. Dia kan yang paling tahu bagaimana cara meluluhkan si hati baja.

“Bagaimana urusan ijinnya, Kak?” tanya Arya. Aku hanya menggeleng lemah. Kami berempat tengah bersantai di kamar tidur Arya usai makan malam. Tadi, Mama dengan alasan sakit kepala, tidak ikut makan bersama kami. Aku tahu benar, pasti dia masih marah sama aku dan Papa. Terdengar Arya mengeluh pelan.

“Bagaimana kalau Mama tahu aku juga mau ikut-ikutan minta ijin di sekolah ya, Kak..” Aku membelalakkan mata padanya. Perjanjiannya kan bukan seperti itu. Arya sudah kelas 9, sebentar lagi dia akan ikut ujian akhir untuk kelulusan SMA-nya. Mama bisa mati berdiri jika dia mendengar Arya juga ingin ikut-ikutan membangkang. Bisa-bisa kami berdua langsung di lobotomy* sama Mama.

“Kamu itu gila ya? Kakak kan sudah bilang, nanti seusai ujian, kamu boleh ikut kita. Kamu mau dibunuh Mama apa? Aku saja sewaktu minta ijin sama dia tadi hampir rusak gendang telingaku gara-gara diteriakin sama Mama, bagaimana jika dia mendengar kamu juga mau ikutan? Bisa-bisa seisi kota Jakarta bisa mendengar aumannya!” tukasku setengah mengeluh. Arya hanya diam saja.

“Kamu bicara apa, Aning?” tanya Annamaya, sedari tadi dia hanya mendengarkan sambil membolak-balik album foto Arya.
“Aku masih belum dikasih ijin sama Mama untuk cuti kuliah satu semester, biar bisa ikut kalian mencari kunci rahasia para dewa.”

“Mudah-mudahan saja, nanti Mama kamu berubah pikiran, sebab hampir pasti kami tidak bisa melakukan pencarian tanpa kamu atau Arya, Ning. Mungkin orang lain bisa menjadi penunjuk jalan kami saja, namun kami tidak bisa sembarang percaya orang!”
Aku merenungkan kata-kata Rapalla. Benar juga apa yang dia katakan. Dalam hati aku juga berharap, moga-moga Papa bisa berhasil membujuk Mama.
Keesokan harinya, setelah semalaman hampir tak bisa tidur, aku sengaja menunggu Papa dan Mama dimeja makan untuk sarapan pagi. Sungguh penasaran ingin mendengar keputusan Mama dan Papa.

“Selamat pagi Ma, Pa..” sapaku dengan suara yang dibuat seramah mungkin.
“Pagi!” Mama menjawab agak ketus, normal. Mengingat permintaan cuti satu semesterku padanya. Papa sendiri hanya senyum-senyum sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
Nih..Aning sudah masak dadar telur kesukaan Mama, lengkap dengan irisan daun bawang dan bawang Bombay nya, silahkan dimakan, Ma..” kuangkat piring berisi dadar telur dan mengangsurkannya pada Mama.

Dengan sikap dingin, Mama menyambut piring itu dan langsung menuangkan isinya kedalam piring makan dihadapannya. Pertanda bagus, ujarku dalam hati, setidaknya Mama tidak menolak sarapan pagi buatanku itu. Papa mengacungkan jempolnya sembunyi-sembunyi dari bawah meja, tak urung membuatku tersenyum geli.

“Apa kamu senyam-senyum gitu?” tanya Mama judes. Cepat-cepat kugelengkan kepalaku. Kalau Mama sampai mengambek lagi, bisa runyam deh, urusannya.
“Nggak kok Ma, emang nggak boleh senyum? Kata Oma dulu, kalau di pagi hari hati kita gembira, maka sepanjang hari itu, akan terisi dengan kegembiraan pula!”
“Sagala rupa!!”* Mama mulai mengoceh dengan bahasa Manado, bahasa daerah asalnya, hal yang selalu dia lakukan jika sedang kesal.

“Ning, kamu pernah merhatiin nggak? Mama kalau sedang marah tambah cantik ya?” bukannya menenangkan Mama, Papa malah menggodanya. Tapi Mama malah hanya tertawa mendengar godaan Papa, membuat hatiku jadi lega. Sedetik kemudian, wajah Mama berubah kembali serius dan sedikit judes, sambil menatapku tajam, dia lalu menukas,

“Aning, Papa dan Mama sudah memutuskan, bahwa kamu bisa ikut keliling Indonesia atau kalau perlu keliling dunia juga bersama Rapalla dan Annamaya, namun kamu harus menyelesaikan ujian semestermu yang sekarang. Tidak ada tawar-menawar, titik!” Ku tatap Papa dengan wajah memelas, tapi dia hanya mengangkat bahu, lalu kembali membungkuk ke piring rotinya, yang bagiku itu adalah jawaban final mereka berdua. Seperti kata Mama, tak akan ada lagi tawar-menawar.

“Ma, aku juga pengen ngomong, nih..” terdengar suara Arya, dia sudah berdiri diantara pintu ruang makan dan ruang tengah.
“Kamu juga mau minta cuti? Sekalian saja berhenti sekolah dan kalian berdua jadi penyamun!” tandas Mama galak, sebelum Arya bersuara lebih jauh.
“Ihh Mama, judes amat sih..Arya balik jadi anak bego seperti kata Mama dulu baru tahu rasa..”
“Memangnya Mama peduli? Nggak lah ya..” Dengan lagak acuh tak acuh, Mama menelan suapan nasi dan dadar  telur terakhirnya, lalu berdiri dan melenggang melewati Arya.

“Minggir! Mama mau mandi! Ada operasi pagi ini di Rumah Sakit!”
Aku, Arya dan Papa hanya terpana melihat tingkah Mama. Namun sedetik kemudian, kami bertiga langsung tertawa terbahak-bahak, karena baru kali ini kami melihat Mama berlagak seperti anak muda jaman sekarang yang sok cuek.

“Jadi, kamu harus menyelesaikan ujian sekolahmu dulu ya?” tanya Annamaya begitu kuceritakan tentang keputusan Mama dan Papa. Aku mengangguk mengiyakan
“Tapi kan sudah tidak lama lagi kakak akan ujian..lebih baik menunggu sebentar, dari pada tidak diijinkan sama sekali oleh Mama” saran Arya
“Aku sendiri, sudah pasti tidak akan diijinkan, kakak lihat sendiri apa kata Mama, pas aku mau ngomong tadi pagi? Aku disuruh jadi penyamun!” lanjutnya, sambil tergelak ketika mengingat ucapan Mama tadi pagi. Aku ikut-ikutan tertawa.

Rapalla tak bersuara, dia kelihatan sangat serius, dan tengah memikirkan sesuatu. Tiba-tiba dia melonjak bangkit dari karpet bergambar Superman-nya Arya.
“Katamu ujiannya tinggal seminggu lagi ya, Ning? “ tanya Rapalla antusias. Kuanggukkan kepalaku.

“Kita kan tidak harus pergi sekarang, bagaimana kalau selama seminggu ini, sebelum ujianmu dilaksanakan, kita melakukan riset dulu, seperti yang sering kamu lakukan untuk mencari informasi lewat apa namanya ya, layar kecil yang sering kamu bawa-bawa, yang menyimpan lukisan-lukisanmu itu?”

Aku tertawa kecil mendengar ucapan Rapalla yang bersemangat. Walaupun mereka sudah berkeliling setengah belahan dunia, dia masih sangat terisolasi dari dunia modern. Bahkan, laptop saja tak dia tahu apa namanya, dan lukisan yang dia maksudkan, adalah foto-foto koleksi dari kamera digitalku yang kusimpan disana.

“Maksudmu laptopku?” Dia menganggukkan kepalanya.
“Katamu, barang itu, bisa memberikan informasi yang sangat banyak bagi manusia, mungkin saja kita bisa mendapatkan informasi dari sana”
Astaga! Rapalla benar juga. Kenapa tidak terpikirkan olehku sejak sebelumnya, ya? Kami kan bisa memulai untuk melakukan riset lewat internet sejak Annamaya dan Rapalla mengungkapkan maksud utama mereka berkunjung ke Indonesia. Bodoh benar aku!

Seminggu kemudian, kami berempat jadi jarang keluar rumah. Rapalla dan Annamaya bahkan menjadi semacam penjaga rumah kami, sebab, setelah aku pergi kuliah dan Arya pergi ke sekolahnya, Mama dan Papa juga berangkat ke kantor mereka masing-masing, dan hanya tinggal mereka berdua dirumah, ditemani Mbok Iyem, pembantu kami.

Annamaya bahkan jadi ketagihan dengan permainan Zuma yang ada di komputerku, dia tak henti-hentinya memainkan permainan itu. Sedangkan Rapalla, semenjak kuajarkan bagaimana cara membuka internet, yang langsung dia kuasai dengan cepat, dia hanya menghabiskan waktunya didepan laptopku, mencari informasi tentang gambar pohon di lukisan kain batik, yang masih tak menghasilkan apapun juga.

Semuanya mulai menjadi sedikit terang, ketika pada hari pertama ujian semesterku dimulai. Aku baru saja menghempaskan tas punggungku yang berat di kursi, ketika terdengar teriakan Arya dari halaman depan.
“Kaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk……ada berita baguuuuuuuuuusss!!!”

(Bersambung)

THE DIARY OF JANDA-JANDA KAMPUNG (9)

Posted by nsikome


VIX. BUKU HARIAN TANTE NENI

Mungkin kalian sudah tahu, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, tentang si janda kaki lima yang memiliki buku harian berisikan tentang laki-laki yang sudah pernah menikmati indahnya surga dunia dengan Tante Neni, bahkan sampai pada calon-calon korban si janda tengik itu.

Banyak sekali para istri-istri yang penasaran, tentang isi dari buku harian itu. Saya sendiri tak bisa menyalahkan mereka. Sudah pasti mereka penasaran dengan isi buku harian tersebut, terutama pada bagian daftar para lelaki yang sudah pernah berbagi ranjang dengan si janda genit. Mereka ingin tahu, apabila suami-suami mereka juga masuk ke dalam daftar tersebut atau tidak!.

Saya heran, para istri itu mereka sudah pasti tidak ingin rumah tangga mereka yang sudah terjalin setelah sekian tahun bahkan ada yang sudah sampai belasan hingga puluhan tahun rusak. Tapi mereka masih tetap saja penasaran ingin melihat isi buku harian si Neni. Bukankah itu artinya mereka mengambil resiko untuk merusak rumah tangga mereka sendiri, jika sang suami namanya tertera dalam buku harian tersebut?. Kadang saya berpikir, ada hal-hal yang mungkin lebih baik tidak kita ketahui, dan tidak menimbulkan resiko apa-apa, daripada hal yg kita ketahui, namun beresiko menghancurkan hidup kita, atau orang-orang yang kita sayangi.

Kembali lagi pada buku harian tante Neni. Entah ini kesialan atau keberuntungan, buku yang sempat dikira hanyalah sebatas mitos belaka, jatuh ke tangan saya. Begini ceritanya, suatu hari, keponakan saya yang bernama Dinda, bersahabat dengan keponakan tante Neni yang berasal dari luar daerah, dan tinggal di rumah si janda genit karena harus bersekolah di Manado.

Mulanya sih, saya sering marah-marah sama Dinda, dan melarangnya agar jangan bersahabat dengan keponakannya si janda tengil. Namun akhirnya, saya jadi sadar, bahwa sikap itu tidak baik. Bukan berarti karena Riana (nama keponakan tante Neni) itu keponakan si janda kaki lima, lalu kelakuannya sama dengan tantenya itu. Makanya saya tidak marah-marah lagi sama Dinda, dan tidak melarang dia untuk berteman dengan Riana. Lagipula, selama ini, yang saya amati dan perhatikan dari Riana, anak itu sungguh berbeda jauh kelakuannya dengan tante Neni.

Dinda dan Riana, karena mereka sekelas di sekolah, mereka berdua selalu mengerjakan PR bersama-sama. Kadang Riana yang datang ke rumah saya untuk belajar dengan Dinda, begitu pula sebaliknya. Suatu hari, Dinda minta ijin untuk pergi ke rumah Riana, katanya temannya itu minta tolong Dinda untuk beres-beres kamarnya Riana, karena ada banyak barang-barang yang harus dipindahkan dari situ ke gudang. Maklum saja, sebelum kedatangan Riana yang belum lama ini, si janda kaki lima tante Neni hanya tinggal sendirian.

Sore hari, ketika selesai beres-beres kamar Riana, Dinda pulang membawa sekardus penuh buku-buku novel. Ketika saya menanyakan tentang hal itu, kata Dinda, ada banyak novel-novel bagus di kamar Riana, sayang katanya jika harus di taruh di gudang dan jadi makanan tikus. Makanya Dinda yang memang sangat hobi membaca meminjam sekardus penuh novel-novel milik tante Neni. Jadi si janda genit bisa membaca juga, pikir saya.

Ketika saya meneliti lebih jelas novel-novel apa saja yang ada disitu, saya jadi kagum. Ternyata selera tante Neni boleh juga. Gone With The Wind, Mistery Island, Memoirs of A Geisha, dan masih banyak lagi novel-novel yang masuk dalam kategori novel “pintar” ada disitu.

Namun bukan hanya selera membaca tante Neni yang membuat saya tertarik. Di paling bawah kardus yang dibawa Dinda, ada sebuah buku, yang bersampul kulit imitasi warna merah marun, yang sudah agak pudar. Sebuah buku harian. Lebih hebat lagi, ketika saya membukanya sekilas, tak disangka tak diduga, itu adalah Buku Harian tante Neni yang melegenda! ASTAGANAGA!!.

Dengan penuh semangat, saya lalu menyelundupkan buku keramat itu ke dalam kamar saya sembunyi-sembunyi, agar tidak ketahuan oleh Dinda. Rupanya, gadis kelas 1 SMA itu juga tidak memperhatikan bahwa tante-nya mengambil sebuah buku dari dalam kardus. Saya hanya khawatir, dia mengetahui buku-buku apa saja yang dia bawa. Tapi ternyata, bahkan sehari sesudahnya, Dinda tidak bertanya apapun kepada saya perihal buku merah marun itu.
Malam hari, sesudah makan malam, saya langsung cepat-cepat pamit pada Dinda yang sedang menonton televisi, kalau saya ingin segera tidur.

“Din, tante tidur dulu ya, capek” Dinda menatap saya dengan pandangan heran. Tentu saja gadis itu merasa heran, karena biasanya saya yang paling belakangan naik ke tempat tidur dari kami berdua. Bahkan Dinda sering menjuluki saya sebagai “Batwoman”, gara-gara kebiasaan saya yang suka tidur larut malam.

“Tante Leia sakit,ya?” tanya Dinda terdengar agak prihatin.
“Nggak kok, tadi kerjaan agak banyak dikantor, dan besok tante harus bangun pagi-pagi karena ada meeting!” dusta saya. Gadis itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Ooo..ya sudah, tante istirahat saja, selamat malam, Tan!”
Tanpa menjawab ucapan selamat malam dari Dinda, saya bergegas masuk kedalam kamar. Setelah memastikan pintu kamar saya sudah rapat terkunci, saya lalu mengeluarkan Buku Harian tante Neni dari dalam lemari pakaian, dan langsung membacanya dengan penuh semangat.

25 September 1980
Aku sungguh bingung, pernikahanku sudah berjalan selama 2 tahun, dan kini aku sudah memiliki anak lucu dan sebentar lagi akan segera memiliki bayi lagi, namun aku merasa ada yang kurang. Sepertinya, aku merasa kurang bahagia dengan bang Rustam, tapi mengapa? Tidak ada alasan untuk itu. Dia selalu memberikan aku nafkah lahir dan batin yang cukup.

Buku harian tante Neni pertama ditulis pada tahun 1980. Rupanya dia sedang hamil anak keduanya. Buku harian itu tebal dan terasa berat. Rupanya, tante Neni tidak menulis di buku hariannya itu setiap hari, karena, pada lembaran berikutnya, dua bulan sesudah dia menulis tulisan pertamanya, baru dia mengisi buku hariannya lagi.

28 November 1980
Siapa dia? Mengapa bayangannya selalu saja menganggu pikiranku, meski sudah beribu kali aku mencoba untuk mengenyahkannya dari pikiranku. Bulan depan, kata dokter aku akan melahirkan anak kedua-ku. Suamiku makin hari makin menyayangi aku, tapi aku malah selalu membayangkan wajah laki-laki lain, yang bahkan hanya kukenal di mimpiku!.

Wahhh.. Ternyata tante Neni sudah mata keranjang sejak dulu. Bayangkan saja, sudah menikah dan bahkan sedang hamil anak kedua, dia malah membayangkan pria lain?. Kasihan sekali suaminya itu. Aku lanjut membaca halaman-halaman berikutnya.

11 Januari 1981
Anakku sudah berumur sebulan lebih, dan aku sudah merasa sangat bosan hanya berdiam dirumah terus. Aku ingin bekerja lgi. Mungkin aku akan bicara pada Bang Rustam, dan meminta ijin agar dia mengijinkan aku bekerja lagi. Kebosanan ini sungguh sepertinya akan membunuhku!

8 Maret 1981
Akhirnya Bang Rustam mengijinkan aku untuk bekerja juga. Untung ibu mertuaku tinggalnya dekat, dan dia mau menjaga kedua anakku. Tentu saja dia mau, Bang Rustam adalah anak satu-satunya dan dia sangat memuja kedua anakku. Bahkan dia yang memohon-mohon agar bisa menjaga Vio dan Ria. Baguslah! Aku tak perlu untuk membayar pengasuh bagi kedua anakku.

10 Maret 1981
Hari pertama masuk kerja lagi, setelah sekian lama. Sungguh menyenangkan. Rasanya percuma saja aku susah-susah sekolah, tapi setelah menikah hanya tinggal dirumah saja. Kantor baru aku juga lokasinya bagus. Tapi sayang sekali, kelihatannya bos aku galak minta ampun. Mungkin itu hanya perasaan aku saja, entahlah. Kita lihat saja nanti.

26 Februari 1981
Ya Tuhan....laki-laki yang dulunya selalu menganggu dalam mimpiku, tadi hadir di depanku. Dia pindahan dari kantor pusat kami, dan dia duduk berdekatan dengan mejaku. Sungguh aku merasa sangat gugup sehingga menumpahkan kopi ke atas mejaku sendiri. Untung saja tidak ada dokumen yang terkena ceceran kopi. Dia sungguh tampan dan menarik.

Sungguh aneh apa yang dialami oleh tante Neni menurut saya. Lelaki yang ditulisnya hanya dia lihat di alam mimpi, ternyata benar-benar ada. Apakah kebetulan seperti itu memang benar-benar pernah terjadi?. Aku tak tahu, yang pasti, kelihatannya tante Neni merasa sangat senang dan gugup, seperti yang dia tulis dalam buku hariannya!. Satu hal yang juga saya yakin, bahwa isi Buku Harian Tante Neni di lembaran-lembaran berikutnya akan sangat amat BERWARNA!!

ENTAHLAH

19 Juni 2012
Posted by nsikome
Image: widowsvoice-sslf.blogspot.com


ENTAHLAH...




Saat rindu itu datang......
Saat sedih itu membayang.....
Ada luka kembali menggores angan
Ada sejuta harap yang ikut di belakang….

Dan......

Ketika airmata mengalir perlahan
Ketika dada terasa perih tak tertahan
Ketika jiwa mualai putus asa
Ada beribu pelangi di mimpi malam.......

Namun....

Meski harapan hanya tinggal harapan
Meski mimpi indah datang hanya ketika malam beranjak kelam
Hati terus merajut kemungkinan
Dan mimpi malam pun terus merangkai serita indah
Yang tak ingin terputuskan
Yang.....ENTAHLAH!!....
Kapan dia kan datang...


(La Garenne-Colombes, France 17 Jan 2001)







THE DIARY OF JANDA-JANDA KAMPUNG (8)

31 Maret 2012
Posted by nsikome

Image: www.chromeautoemblems.com

EPISODE 8. GETARAN HATI

“Ya ampun!!…kamu tuh, selalu saja suka mengambil kesimpulan tentang sesuatu, sebelum mendengar keseluruhan ceritanya, Cuz!” rutuk saya sebal. Bagimana tidak? Teriakannya membuat kuping saya langsung berdenging keras.
“Denger ya, my lovely Cuz…kalau kamu sampai tega merendahkan harga diri kamu yang super tinggi itu dan datang ke eike untuk meminta saran tentang cowok…Eike berani bertaruh, tak lama lagi akan ada wedding party besar-besaran!” cerocos Vanny makin menjadi.
Entah harus bagaimana supaya saya bisa menghilangkan ide dikepala perempuan itu tentang ‘melepas status janda’-nya saya. Langsung deh, saya menyesal sudah menelponnya.
“Ayooo…..mau ngomong apa kamu sekarang, L?” tantang Vanny sambil cekikikan. Dia memang sering memanggil saya hanya dengan huruf terdepan nama saya. Sungguh mati, saya memang kena batu-nya kali ini. Memang sepupu saya itu cerewetnya minta ampun, tapi tak pernah sekalipun saya kalah berdebat dengannya. Vanny rupanya mengetahui hal itu, dan dia makin menjadi-jadi.
“Leia, jika eike tidak kenal kamu, sudah pasti eike akan mikir, saat ini kamu tengah terkena serangan penyakit lepra di bibir, atau bisu temporer…Oh my gosh..who is he? Siapa lelaki yang bisa membuat my beautiful cuz speechless? He must be a good one!!” Vanny terus saja menggodaku dengan gaya bicaranya yang sangat ‘lebay’.
“Menyesal saya menelpon kamu, Van…udahan ah, kalo nggak telponnya di tutup nih!” rajuk saya, mencoba untuk menghentikan aksi sepupu genit itu.
“Orang nelpon mau minta tolong, malah digodain, ya udah…bye..” ujar saya pura-pura akan memutuskan sambungan telpon.
“Aiiii..jangan dong my dearsorry..sorry…ayo sekarang kamu boleh ngomong, janji eikenggak akan godain lagi” janji Vanny, terdengar sangat tidak sungguh-sungguh.
Kalau saja saya tidak sedang kalut setengah mati seperti sekarang, sungguh tak akan pernah saya menelpon Vanny. Meskipun orangnya cerewet setengah mati, namun dia adalah satu-satunya sepupu yang bisa diandalkan, karena saya bisa tenang, karena rahasia apapun juga, pasti akan aman bersamanya.
“Van, pendapat kamu tentang brondong?” seperti yang sudah saya prediksi sebelumnya, diseberang sana langsung terdengar suara cekakan.
Oh no…don’t tell me, sekarang kamu ikut-ikutan kayak artis, mau macarin brondong Cuz,but wait a minute, is he Stan?” selidik Vanny. Dia memang kenal dengan Stan, dan lebih parah lagi, dia tahu tentang perasaan saya pada Stan.
Saya terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan Vanny yang jawabannya hanya pendek “YES”. Kembali terdengar dia cekikikan diujung telpon.
He is Stan!, eike nggak mungkin salah!” tebaknya lagi. Saya masih diam seribu bahasa.
“L…kamu masih idup?..Hellloooooowww!!” si Vanny makin menjadi.
Untung saja saya tidak sedang bersama dengannya, jika tidak, sudah pasti dia akan melihat bagaimana wajah saya sekarang menjadi seperti kepiting rebus. Merah merona.
“Iyaaaaaaa….aku masih hidup!! Ini anak jadi orang cerewet banget, sih!!” rutukku kesal. Vanny hanya cekakakan mendengar omelan saya.
My lovely cuz…eike harus merayakan hari ini, sebab ini pertama kalinya eike menang berdebat dengan kamu!!”
“Ayo…silahkan…monggo..ledek aku sepuas hatimu!”
Of course!! Kapan lagi eike bisa menghujatmu tanpa mendapatkan balasan?”
“Van..serius nih..okey! Kamu benar, dia Stan. Puas?!” akhirnya saya memutuskan untuk mengaku juga, dari pada di ledekin terus menerus tanpa henti oleh si mahkluk ceriwis?.
He is nice, handsome, cuek, bener-bener tipe kamu!” Vanny menyeletuk pendek. Tawanya sudah terhenti, tanda dia serius sekarang.
“Itu mah aku tahu, tapi yang aku mau tahu, apa dia worth buat aku, Van?” akhirnya percakapan ini masuk ke level “serius” juga. Saya sudah takut akan di ledekin terus pada sepanjang percakapan telepon kami.
“Emang dia udah menyatakan cinta?” todong Vanny
“Belum sih…cuman…ehm..gimana ya..” terbata-bata saya mencoba untuk menerangkan bahwa signal tanda dia suka pada saya itu sangat jelas terasa. Vanny tertawa lagi.
“Ya ampun, Leia..kamu itu jatuh cinta sama Stan, akuin aja..nggak ada salahnya, kok!. Lagian, kamu kan sudah tidak terikat hubungan apa-apa sama lelaki lain. Menurut aku, sudah cukup empat tahun kamu sendiri. Kasihan kamu, nanti keburu keriput, nggak ada lagi yang akan mau sama kamu!”
Saya hanya terdiam mendengar ucapan sepupuku itu. Memang benar, sudah empat tahun kesendirian itu saya jalani. Tapi rasanya sulit untuk membuka hati pada kaum pria, jika kita pernah disakiti sampai rasanya hati itu berdarah-darah. Namun dengan Stan, ada satu hal yang sulit untuk saya jelaskan. Perasaan yang muncul ketika bertemu dia, bicara dengannya, sangat aneh, namun menyenangkan.
“L, sebagai sepupumu, aku tuh pengen banget melihat kamu menata hidupmu, pengen lihat kamu kembali ceria seperti dahulu, menurut aku, jika memang kamu harus kembali memiliki pasangan, Stan is the right person!. Go ahead!” Vanny menutup ucapan bijaknya yang sungguh sangat langka. Jarang dia bisa ngomong pintar seperti itu.
“Makasih Van, aku hanya ragu, mungkin saja perasaan aku ini salah, mungkin saja dia tidak memiliki rasa yang sama denganku, aku harus berbuat apa?” ujarku setengah mengeluh.
“Buka hatimu! Jika dia mengajakmu keluar nge-date, jalan-jalan, pergi saja!. Itu satu-satunya jalan untuk mengetahui tentang perasaan Stan padamu”
“Tapi bagaimana kalau…”
“Kalau apa, Leia? Itulah masalahmu. Kamu terlalu banyak berpikir, dan tak pernah mau ambil resiko semenjak kegagalan pernikahanmu yang dulu. Sekarang kamu harus buka pikiran, hidup itu harus berjalan, jangan diam ditempat saja…” tukas Vanny tegas.
Saya terhenyak mendengar ucapan Vanny. Dia mengatai saya sebagai seorang yang terlalu banyak berpikir. Apakah itu benar? Mungkin saja itu memang benar, karena apapun yang akan saya lakukan, selalu harus dipikirkan masak-masak terlebih dahulu.
“Leia? Are you still there?” suara Vanny membuyarkan lamunan saya.
“Iya..aku masih disini..Sepertinya kamu benar, Van. Sudah saatnya buat aku untuk move on!”
“Great!!..Itu baru sepupu aku yang pintar!. Eh cuz, jangan lupa kalau udah jadian, aku ditraktir ya?”
Saya hanya tersenyum mendengar ucapan Vanny. Apakah saya dan Stan akan jadian? Entahlah. Saya sendiri masih bingung, dan tak tahu dengan apa yang akan terjadi esok hari. Hanya saja, getaran di hati itu, sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Hanya bisa dirasakan.

REALITA (1)

16 Maret 2012
Posted by nsikome
Image: www.radovan.bloger.cz 

REALITA (1)

Melangkah diatas kepingan duka,
Telapak kaki teriris perih, hati tak peduli!
Sebab kembali atau pergi,
Adalah serupa dan akan tetap sama....

Tak ada cara untuk berhenti
Hanya berjalan dan terus melangkah,
Hingga diujung asa....

Ikuti duka, atau mungkin sengsara?
Sampai tak ada lagi nyawa diraga...

Hanya bisa terus menapak tanpa arah,
Mencari jalan sedih, atau mungkin bahagia
Bila itu, masih ada yang tersisa...

(Paris, 28 February 1998)



__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers