Popular posts

nsikome On 02 Juni 2011

Cerpen ini kupersembahkan, untuk semua gadis-gadis di dunia, yang patah hati karena pangeran William sudah menikah dengan Kate Middleton..Keep dreaming girls, you'll find your own prince someday...untuk seorang sahabatku yg ngefans berat sama Prince William, don't worry say,,,,masih ada prince Harry, pelet aja dia..Hahahahahahaha...enjoy!!


KING OF MY HEART



Oleh : N.Sikome


Aku bersungut-sungut kesal saat keluar dari ruang makan hotel. Hari ini bisa saja menjadi hari tersial-ku saat liburan dua minggu di kota Cannes, Perancis. Padahal, aku sudah memimpikan tempat ini lebih dari sejuta kali, dan selalu berulang ketika ada tayangan di teve tentang Festivale de Cannes yang bertaburan dengan bintang-bintang ternama di dunia film. Sebagai seorang mahasiswi sinematografi, tentu saja semua itu menarik minatku.
Hari ini, aku sudah menjadwalkan kegiatan-ku, salah satunya adalah berjalan-jalan di sepanjang sudut rue le Blanc, yang penuh dengan toko-toko penjualan barang-barang souvenir berharga masuk akal. Tidak sama di tempat lain, kota Cannes yang notabene adalah kota-nya orang-orang berduit membuat harga-harga semua barang hingga makanan jadi berlipat-lipat bila di bandingkan dengan kota-kota lain di Perancis, itu kata tante-ku yang suaminya orang Perancis.
Namun, jadwalku itu jadi berantakan saat makan pagi tadi. Sebenarnya, aku datang ke sini bersama dengan keluargaku, dan juga keluarga Om Yos dan Tante Ika. Semuanya pasti akan jadi liburan yang normal kalau saja kedua monster cilik yang beracun nan berbisa itu nggak ikut. Tio dan Dewo adalah anak Om Yos dan Tante Ika. Dan, satu lagi yang penting, mereka berdua bukan anak biasa. Mereka berdua adalah jenis anak kanibal yang selalu bikin repot orang yang menjaga mereka dengan tingkah laku yang luar biasa ajaib. Di rumah mereka saja, para pengasuh tak pernah tahan lebih dari sebulan dengan kelakuan Tio dan Dewo. Kata Ibu, pengasuh mereka yang terakhir pergi karena ketakutan, soalnya waktu dia sedang menidurkan kedua berandal cilik itu, mereka berdua malah ngikat dia di kursi terus menari-nari seperti orang-orang Indian di film-film, pura-pura hendak menguliti kepala orang kulit putih, yang akhirnya malah membotaki hampir setengah rambut pengasuh mereka itu. Dan, akhirnya, tadi saat makan pagi, Tante Ika memohon aku agar menjaga dua iblis kecil itu hari ini, karena Om Yos dan Papa ada meeting dengan investor-investor, sedangkan dia dan Ibu-ku ada pertemuan penting dengan Ibu-Ibu di KBRI, Paris. Jarak antara Cannes dan Paris memang tidak begitu jauh bila di tempuh dengan kereta TGV atau Tres Grande Vitesse. MATI AKU !!
“ Tio..... Dewo..... di mana kalian ?! mau ke pantai nggaaakkk ?!.... “ sudah serak suaraku memanggil, kedua mahkluk ajaib itu belum juga nongol batang hidungnya.
“ Ok.... kalau dalam hitungan ke 3 dan kalian belum nongol juga, Mbak Vega akan keluar dari sini, lalu mengunci pintu kamar ini dari luar !! “ ancamku bersungguh-sungguh
“ Bialin aja....nanti Tio bilang ama polisi Pelancis, kan di sini tidak boleh ninggalin anak kecil sendilian di lumah ato hotel, ‘Ega pasti di masukin ke penjala.... “ suara Tio yang masih cadel itu kedengaran. Sialan bener !! dia dapet darimana semua itu ? dan anehnya, itu benar.
“ Ok.... kalau Tio sama Dewo masih belum mau keluar, bantal Tio sama mobil polisi Dewo Mbak Vega jatuhin ke bawah !! “ tukasku kesal
“ JANGAAAANNN..... !! “ terdengar suara kedua monster itu, mereka menghambur keluar dari dalam placard, tempat baju di samping pintu masuk kamar. Kedua barang itu memang adalah senjata bagus untuk membuat kedua monster itu patuh, namun biasanya mereka selalu menyembunyikan bantal dan mobil itu di tempat-tempat yang nggak akan terpikirkan oleh orang dewasa. Tadi aja, mereka berdua aku bo’ongin. Sebenarnya kedua benda itu tak ada di tanganku.
“ Mana bantal Tio ?! “
“ Mana mobil Dewo ?! “ kedua monster itu bertanya serentak
“ Kena kalian !!! ayo keluar sekarang.... “ segera kuseret kedua iblis kecil itu keluar kamar hotel, sebelum mereka sempat berpikir untuk mencari tempat persembunyian lain.
“ ‘Ega jahaaatttt....... “ teriak Tio
Akhirnya, kami sampai juga di pantai yang tepat berada di depan hotel tempat kami menginap. Kalau kata tante Ika benar bahwa Tio dan Dewo seneng main di pantai, aku pasti bisa agak santai di sini. Ternyata itu benar, mereka berdua nampak sangat menikmati main lempar-lemparan piringan terbang plastik, dan akupun bisa bersantai di bawah payung pantai besar sambil melanjutkan membaca Harry Potter yang terakhir, Harry Potter and The Deadly Hollow.
Semuanya pasti akan terus lancar kalau saja si penjual es nggak datang ke pantai. Mulanya Tio hendak membeli Es krim, namun karena si penjual tidak mengerti dengan bahasa-nya Tio, anak itu rupanya jadi kesal, dan menabok si penjual dengan pedang-pedangan nya. Sementara Tio mulai menangis kesal, Dewo memanggil adiknya seraya melayangkan piring terbang plastik yang bukannya terbang ke arah Tio, malah menuju ke sebuah kios souvenir, tepatnya ke arah rak kartu pos yang tersusun rapi. Secepat kilat aku langsung berlari, berusaha untuk menangkap piringan itu. Namun, malangnya nasibku, bukannya aku berhasil, malah aku dengan sukses menubruk sesosok tubuh tinggi kurus yang hendak melintas di depanku. BRUK !!! aku langsung terjungkal, sedangkan sosok itu terpelanting cukup jauh dariku.
“ Oh my God.... pardon moi, monsieur... excuse me... “ tuturku terbata-bata, seraya mengedarkan pandangan ku ke sekeliling, nampak kedua bocah dedemit itu malah sudah bersantai di bawah payung, menikmati sesuatu yang kelihatannya seperti sebatang coklat kesayangan ku.
“ Are you allright, lady..? “ terdengar suara khawatir keluar dari mulut laki-laki yang ku tabrak. Dia bicara dengan bahasa Inggris halus, yang hanya bisa di ucapkan oleh orang Inggris asli. Ku pandangi wajahnya, ternyata seorang cowok kiyut berusia kira-kira sama dengan Kak Vandy, abang tertua ku yang kini tengah menimba ilmu di Jerman sana.
“ Maaf... aku tak sengaja menabrakmu... “ tukas ku meminta maaf sekali lagi ( dlm bahasa Inggris yang sudah ku terjemahkan )
“ Tidak apa-apa, kelihatannya kamu agak di sibukkan oleh kedua anak kecil tadi, ya....? “ tanya si kiyut sambil tersenyum geli. Aku hanya mengangguk pelan, Cuma menatap kedua anak itu, kepalaku setiap kali langsung berdenyut-denyut sakit.
“ Itu adik-adik kamu ? “ tanya dia lagi
“ Bukan, mereka itu adalah sepupu-sepupu kecilku, hari ini aku di minta untuk menjaga mereka, “ jelasku pada cowok itu, ihh.... amit-amit deh, punya adik kayak mereka, bisa mati jantungan aku !!
“ Oh ya, namaku Hans, aku dari Belanda “ si kiyut mengulurkan tangan nya yang langsung ku jabat dengan agak kaku, halus banget sih tangan nya. Nggak kayak tangan cowok kebanyakan.
“ Aku Vega, dari Indonesia “ balasku memperkenalkan diri
“ Ku pikir, kamu orang Inggris, abis kamu ngomong Inggrisnya bagus banget, sih. Kayak orang Inggris beneran, “ ucapku heran
“ Oooo... itu... ehm... aku pernah lama tinggal di Inggris, waktu sekolah dulu, “ terang Hans. Sesudah itu, percakapan langsung mengalir seperti air di antara kami. Tanpa terasa, sore mulai jatuh, dan walau matahari masih bersinar terang, aku memutuskan untuk segera pulang ke hotel, membawa kembali kedua berandal cilik itu pada orangtua mereka. Anehnya, selama aku bicara dengan Hans, mereka kelihatan lebih tenang dari sebelumnya. Mereka berdua hanya duduk membuat istana pasir di samping sekelompok laki-laki yang tengah asyik bermain kartu. Setelah pamitan pada Hans, aku langsung mengajak Tio dan Dewo pulang. Dan, anehnya... mereka menuruti saja.
“ Mas Dewo, Om tadi jahat, ya.... ? “ celetuk Tio saat kami bertiga tengah berjalan ke arah hotel
“ Iya... saya sama Ade Tio di suruh main pasir aja, kalo nggak, nanti di tembak sama om-om itu, mereka bilang mereka polisi ! “ timpal Dewo. Aku hanya tersenyum geli, rasain !! ternyata ada juga yang di takuti kedua genderuwo cilik itu.
“ Ma.... Vega ke pantai dulu, ya.....!! “ teriakku seraya meraih tas berisi pakaian dan handuk. Aku punya janji siang ini untuk piknik dan berenang di pantai dengan Hans. Terdengar suara Mama menyahut dari kamar mandi,
“ Hati-hati ya.... “.
Saat aku tiba di pantai, nampak Hans sudah lebih dulu sampai di tempat kami berjanji untuk ketemu. Sebuah keranjang piknik besar berada tengah alas yang berwarna kota-kotak merah. Ada juga beberapa botol minuman bersoda di samping keranjang itu.
“ Maaf aku terlambat, Hans.. “ tuturku kahawatir, takut dia marah. Orang bule kan biasanya selalu On Time, tepat waktu kalau punya janji
“ Ngak apa-apa, aku yang kecepetan... “ Hans tersenyum, dan duileeee... senyumnya itu kok bikin jantung aku berdebar-debar aneh ??
Sudah seminggu aku kenal Hans, dan kami selalu ketemu setiap hari. Kemarin malam, Hans mengajak aku nonton opera, sebenarnya, aku agak bingung dan nggak suka dengan opera itu, bukannya apa-apa, hanya karena aku nggak mengerti aja apa yang mereka lakonkan. Abisnya, dalam bahasa Perancis sih !!
Satu yang aku tahu, tempat itu banyak orang kaya dan terkenal. Aku aja sempet liat Jhonny Deep dengan istrinya, si aktris Perancis Vanessa Paradis. Ada juga Madonna sama eks suaminya, Guy Ritchie. Dan beberapa orang kaya yang sering muncul di majalah-majalah yang mengupas tentang selebritis dunia.
“ Vega, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, “ baru saja aku duduk, Hans tiba-tiba meraih kedua tangan ku, mesra sekali. Membuat aku jengah.
“ Ehmm.... a.. apa, sih ? “ aku gelagapan, mataku menatap liar ke sekeliling, tapi semua orang-orang di situ kelihatan cuek-cuek aja. Nggak kayak di Indonesia, pikirku. Untung saja !!
“ Aku jatuh cinta sama kamu, e...em.. mau nggak kamu jadi pacar aku ? “ ternyata dia nggak kalah gugupnya dengan aku
“ Tapi.... kita... tinggalnya kan berjauhan, minggu depan aku sudah mau balik ke Indonesia... “ ucapku sedih. Hans meraih dagu-ku lembut. Dia menatapku dalam-dalam,
“ Aku pasti akan sering ke Indonesia, kalau perlu, setiap hari-pun aku akan ke sana, asal kamu menjawab pertanyaan ku ini, please... “
“ Hans .... aku... aku... “ rasanya tak ada kata-kata yang mampu keluar dari bibirku. Aku lalu menganggukkan kepala ku, rasanya bahagiaaaa banget...
Hans tersenyum manis sekali,dia lalu merengkuhku erat ke dalam pelukannya, dan untuk pertama kalinya, aku berterima kasih banget sama kedua setan cilik yang membuat aku bertabrakan sama Hans saat pertama kali aku bertemu dia itu.
Liburan kali ini bagiku terasa begitu singkat. Aku sudah kembali lagi ke Indonesia. Kata Hans, minggu depan dia akan datang ke Indonesia. Bahkan, Hans sudah membeli tiketnya saat kami masih berada di Cannes, aku sendiri yang menemani dia ke sebuah agen perjalanan.
“ Vega.... gimana liburanmu di Perancis, sayang.... dapet bule keren, nggak ?! “ sahabat akrabku si Dina sudah menyambut di gerbang kampus
“ Kamu ini ada-ada aja, oh ya... kamu udah ngedaftar ulang, Din ? “
“ Belum, kita sama-sama ke ruang administrasi, ya... ? “ ajak Dina. Kami berdua lalu berbelok ke arah kantor administrasi yang terletak di sudut kampus.
“ Din, ada yang salah dengan aku, ya ? “ tanyaku berbisik pada Dina
“ Kok semua orang pada ngeliatin aku ? “ lanjut ku sambil melirik kancing blusku, lalu ritsluiting celana jeansku, aman-aman saja.
“ Nggak tahu, tuh !! aku juga ngerasa aneh, Ga... “ Dina juga nggak kalah herannya. Abis seisi kampus kelihatannya pada menatapi aku dan sekujur tubuhku.
“ Aduuhhhh.... Vega....putri mahkota....... apa kabar.... gimana kabar pangerannya.....aduh....sombong yeeee..... “ salah satu sahabat dekatku Amran yang nggak jelas identitasnya itu, berlari-lari histeris dengan majalah di tangannya
“ Ihh.... norak kamu, Am !! “
“ Yeee.... bukannya Ike norak, situ yang sombong... mentang-mentang punya pacar pewaris tahta.... “
“ Kamu ini ngomong apa, sih ?! “ tanyaku heran
“ Nih... baca !! “ si Amran yang selalu memaksa kami utk memanggilnya Ami menyodorkan majalah di tangannya. Dan selanjutnya, mataku dan Dina terbelalak melihat isi majalah itu. Nampak sepasang cowok dan cewek tengah berjalan bergandengan mesra di pantai, gambar itu langsung ku kenali, itu kan aku dan Hans. Namun bunyi judul artikel itu yg bikin aku kaget luar biasa ;
‘ PEWARIS TAHTA BELANDA HANS WILLIAM DE GRAADJ SUDAH MENEMUKAN PASANGAN-NYA ? SIAPA GADIS MISTERIUS BERWAJAH ASIA ITU ? ‘
“ Ga.... itu kan kamu.... “ Dinna menatapku tak percaya, dan bukan Cuma dia yang tak percaya, aku juga.
“ Hans.... dia.... “ mataku menelusuri isi artikel itu :
Papparazzi berhasil mengambil photo sang Pangeran yang selama dua minggu selalu bersama gadis Asia yang misterius ini. Mereka selalu terlihat bersama di Cannes, bahkan dalam beberapa penampakan sang Pangeran di acara-acara resmi seperti yang terlihat di gedung pementasan opera di Cannes, sang gadis selalu di gandengnya. Menurut beberapa informasi, gadis itu mungkin adalah salah seorang dari keluarga bangsawan di Kamboja atau mungkin Thailand. Keluarga Istana sendiri saat di minta konfirmasinya enggan memberi komentar akan hal ini. Ibu sang pangeran yang juga putri dari kerajaan Inggris malah mengaku belum tahu menahu dengan berita-berita seputar hubungan anaknya dan si gadis Asia yg misterius itu.

Aku mungkin saja tak akan percaya dengan berita ini, kalau saja itu bukan Hans yang ku kenal, dan gadis di sampingnya bukan aku.
“ Horeeee...... Vega mau jadi ratu Belanda.... Vega pacar pewaris tahta Belanda...juga tahta Inggris....!! “ Amran berputar-putar sambil menari-nari, sementara aku sendiri terdiam seperti orang bego. Tiba-tiba HP-ku berbunyi nyaring,
“ Hallo... Vega, ya ? aku nggak jadi datang minggu depan, aku sudah di depan kampus-mu. Abis, aku kangen, sih... “ Itu suara Hans. Dengan gugup, aku menoleh ke arah gerbang kampus. Dia ada di sana, dengan seikat mawar merah di tangan-nya. Tiba-tiba saja, ada rasa rindu yang meluap tak tertahankan di hatiku. Segera aku berlari dan langsung memeluknya.
“ Aku juga kangen, Hans... “ terlepas dari statusnya sebagai seorang pewaris tahta,
Hans adalah Hans bagiku, dia mungkin saja seorang pangeran, tapi bagiku dia adalah Raja, yang bertahta dalam hatiku... dan mengenai statusnya itu, kita lihat saja nanti....

{ 5 komentar... read them below or Comment }

  1. Tasya (Jakarta)6 Juni 2011 10.09

    Gueeee bwangeeetttt...pengen juga punya pacar pangeran...jempol bwat cerpennya kak!!

    BalasHapus
  2. @Tasya : keep dreamin' and fighting for deh..Kalo perlu tongkrongin sampe depan istana Buckingham kan ada prince Harry yg masih jomblo, kalo enggak dapet, you'll find someday your "own" prince charming-nya...walau harta-nya nggak banyak kayak prince William sama Harry, hehehe...kan jadi "prince of my heart"-nya kamu aja^_^

    BalasHapus
  3. Nice story gan, cocok bwt nemenin makan siang nih..

    BalasHapus
  4. adooh andai benar - benar jadi kenyataan, mau bangeeet

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers