Popular posts

nsikome On 31 Juli 2011

One of of my wildest imagination...menemukan Anggrek Hitam Pekat seperti arang..mungkin nanti dapetnya hasil silang anggrek Maron sama Arang Tempurung ya? Hehe..yg pasti, cerita ini juga based dari kebencian-ku terhadap seseorg, yg "kubunuh" dalam imajinasiku (dari pada bunuh-bunuhan beneran? Kan dosaaaa..). Hope You'll like it, as I did.

LEGENDA ANGGREK HITAM

By: N.Sikome

Suara lewat pengeras suara yang bunyi-nya benar-benar memekakkan telinga, meminta para penumpang kapal SULIFIVE untuk menyiapkan bagasi masing-masing, sebab kapal penumpang sudah mendekati pelabuhan terakhir-nya, yaitu pelabuhan SAMUDERA di kota Bitung, Sulawesi Utara.

Dengan mata yang masih setengah tertutup, ku edarkan pandangan-ku ke sekeliling ruangan “Super Ekonomi” yang di jubeli oleh penumpang-penumpang kelas terbawah. Nampak di sudut, si Eko anak Fakultas Ekonomi masih mendengkur dengan pulas-nya, seakan tak memperdulikan suara keras yang memekakkan tadi itu.

-Lara, bagasimu udah siap ? – sebuah suara menyapaku, ternyata si pendiam Sandly. Dia anak kedokteran yang jadi bagian dalam team KKN kami di propinsi yang di juluki sebagai propinsi ‘Nyiur Melambai’ ini.

-Belum tuh, aku baru saja terbangun, - jawabku datar, tanpa menoleh dari kegiatan mengemasi barang-barangku. Saat tahu bahwa kelompok KKN kami akan di kirim ke Sulawesi Utara, aku girang setengah mati. Soalnya aku kan penggemar Snorkeling, dan keindahan Taman Laut Bunaken sudah sejak lama membuat telingaku gatal, namun apa dayaku ? dengan kocek mahasiswa yang masih berharap pada orangtua, mana mampu aku kesana ?.

-Nanti kalau kamu udah siap, aku tunggu di dekat pintu keluar, bilang pada teman-teman yang lain kalau aku ada di sana untuk absen turun ! – suara Sandly yang setengah memerintah membuatku hampir mengumpat, kalau saja aku tak ingat bahwa dia adalah ketua kelompok kami. Mentang-mentang anak kedokteran, sombong banget dia itu !

-Tolong bilang sama yang lain, ya ? – ulang dia sekali lagi. Dengan dongkol aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa sudi melihat wajah bego-nya yang di hiasi dengan kaca mata tebal dan besar, mirip dengan kacamata selam punya si Donni, abangku.

Saat tiba di ruang kedatangan, nampak sesosok gadis manis tengah mengangkat karton bertuliskan nama kelompok dan Universitas kami.

-Hallo...nama saya Sandly, saya adalah ketua kelompok ini, - sialan ! si Sandly emang pendiam beneran apa pura-pura, sih ? selama perjalanan di kapal yang hampir seminggu dari Jakarta sampai Bitung, bisa di hitung berapa kali dia membuang kalimat dari bibir-nya. Aku dengan anggota kelompok yang lain sudah akrab, namun hanya dengan Sandly seperti ada jarak. Dan sekarang, baru saja turun dari kapal, begitu melihat cewek manis yang menjemput kami, dia udah gatel kayak cacing kena panas, pake acara menyapa genit, lagi !!

-Hai...nama saya Pingkan, saya yang di tugaskan untuk menyambut sekalian mengantarkan anda sekalian ke tempat akomodasi masing-masing selama KKN di Sulawesi Utara – gadis manis itu tersenyum seraya memperkenalkan dirinya. Kami lalu memperkenalkan diri kami masing-masing.

Hari pertama kedatangan kami di kota Bitung yang merupakan kota Industri Sulawesi utara ini hanya diisi dengan acara istirahat. Maklum-lah, selama hampir seminggu berada di atas kapal dan hampir-hampir tak pernah tidur lebih dari 4 jam setiap harinya karena suara ribut orang-orang yang berjubel di kelas ekonomi membuat kami capek sekali.

Namun, hari kedua kegiatan sudah di mulai, namun belum pada inti-nya sebab kami hanya pergi berkenalan dengan pemerintah kota setempat, dan berkunjung ke hutan Tangkoko, yang terkenal dengan Tarsius Spektrum-nya, species monyet yang terkecil di dunia.

Hutan Tangkoko merupakan sebuah hutan yang boleh di bilang masih perawan. Selain lingkungan tempat tinggal Tarsius yang memang memiliki pos penjaga karena hampir selalu di kunjungi oleh orang-orang, di sekitarnya merupakan hutan berpohon lebat yang kelihatannya tak pernah tersentuh oleh langkah kaki manusia.

-Mana Tarsius-nya ????!!!! – suara si centil Rini memecahkan kesunyian, dan dia langsung di bentak oleh Sandly,

-Kalo kerongkongan kamu terbuka lebar kayak gitu, jelas aja Tarsius-nya nggak bakal nongol, Non !! binatang itu suka kesunyian !! – cowok itu lalu mencibir sinis ke arah Rini

-Bego banget kamu, San ! biar sunyi, kalo siang-siang kayak gini, kamu nggak bakalan ketemu sama tu binatang, soalnya dia hanya keluar pada saat hari sudah mulai gelap !! – aku tak bisa lagi menahan rasa dongkolku saat mendengar kata-kata Sandly kepada Rini. Terlalu pongah tu cowok, emang !

Nampak Sandly menatapku ke arahku dengan pandangan terkejut. Tapi dia hanya melengos lalu memalingkan tatapannya ke arah hutan lebat, seakan ingin menghindari tatapanku.

-Sudah...sudah...!! kalian ini bawaannya mau bertengkar melulu. Pemandangan bagus gini, mestinya bikin hati orang tentram dan damai, bukannya panas..- Epi mencoba untuk menengahi.

Rasa dongkolku yang semakin menjadi-jadi terhadap Sandly membuatku tak sudi lagi berdekatan dengannya. Guide yang membawa kami mengitari lingkungan tempat tinggal Tarsius tengah sibuk berceloteh menceritakan tentang Tarsius yang entah sudah keberapa ribu kali-nya dia ucapkan dengan kata-kata dan kalimat yang sama persis. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah bayangan di balik pohon besar yang akar-akarnya segede betis Rambo. Gila !! bukankah itu Babirusa ? binatang langka yang kata mereka hanya orang yang benar-benar beruntung bisa melihatnya. Perlahan kudekati pohon itu, dan binatang itu benar-benar ada di sana. Mataku terbelalak di antara rasa heran dan terpesona melihat perpaduan Rusa di bagian kepala, sedangkan Babi di bagian badan. Rasa heran di hatiku melihat mahkluk ciptaan Tuhan yang aneh itu membuatku lupa pada kelompokku. Saat aku menyadari hal itu, tak sadar aku terpekik kecil, membuat Babirusa di hadapanku sadar akan kehadiranku, dan langsung berlari masuk ke dalam semak-semak rimbun lalu menghilang dari pandangan mataku.

Ku edarkan pandanganku ke sekeliling, teman-temanku bersama guide kami sudah tak kelihatan. Aku lalu memutuskan untuk mengikuti mereka, dengan cepat aku berlari menyusuri jalan setapak yang ada di hadapanku.

Hampir satu jam aku berlari, mereka masih belum aku temukan. Aku lalu memutuskan untuk berbalik ke jalan tadi, dan menunggu mereka di dekat pohon besar tempat Babirusa yang kulihat tadi bersembunyi. Namun rasa panik mendadak mulai merayapi hatiku, saat kulihat bahwa ada begitu banyak jalan setapak di dekat situ, dan aku tak tahu yang mana menuju tempat tadi.

Namun aku tahu, bahwa lebih baik duduk dan menunggu di situ, sebab mereka pasti akan mencariku. Sebab, berjalan bisa membuatku tersesat lebih jauh ke dalam hutan lebat itu. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10 pagi, ternyata kami sudah dua jam lebih berada di hutan Tangkoko itu. Saat aku tengah duduk-duduk sambil memikirkan langkah apa yang harus kubuat agar mereka bisa menemukan aku, tiba-tiba mataku terbentur pada batang pohon yang tak terlalu tinggi. Bukannya batang pohon itu yang menarik perhatianku, tapi sesuatu yang menempel pada permukaannya. Untuk yang kedua kali-nya aku berpikir bahwa ini adalah hari kesialan sekaligus keberuntunganku. Pertama, aku bisa melihat sesekor Babirusa, yang membuatku kehilangan jejak teman-teman sekelompokku. Kedua, aku melihat kejaiban ini. Nampak menempel di batang pohon itu, sekelompok bunga Anggrek, yang telah berbunga. Dan warna bunga-nya hitam seperti arang, yang kelihatan begitu kontras dengan daun-daun hijaunya. Seperti di dorong oleh kekuatan magis, aku segera meraih cabang demi cabang, memanjat ke atas pohon tersebut. Tanganku baru saja mau menyentuh setangkai bunga Anggrek hitam itu, saat sebuah suara lembut menegurku,

-Tolong bunga-nya jangan di petik, Nona- refleks aku menoleh ke arah suara itu. Seorang gadis cantik yang berpakaian seperti penjaga-penjaga hutan di film-film barat tengah berdiri tepat di bawah pohon yang tengah kupanjati.

-Memangnya kenapa ? – tanyaku ingin tahu, sambil meluncur turun dari pohon

-Bunga itu dilindungi, sebab keberadaannya sudah sangat langka. – jawabnya pendek. Aku mengangguk mengerti. Agak kecewa sih, sebab sudah kubayangkan senyum girang si fanatik anggrek ; Mamaku, saat melihatku pulang dengan pohon anggrek hitam pekat.

-Kalau begitu, maaf ya ?! –

-Nggak apa-apa, banyak juga yang seperti anda. Lagi ngapain di tengah-tengah hutan ? – tanya gadis itu lagi. Dengan cepat kuceritakan kejadian yang kualami, dan berharap dia akan mengantarku kembali ke pos penjaga. Namun gadis itu hanya mengangguk mendengar ceritaku. Dia lalu duduk di dekatku, dan mulai bicara,

-Tau nggak, konon bunga Anggrek hitam ini dulu adalah seorang putri – ceritanya, membuatku mulai tertarik, aku kan orangnya suka banget mendengar mitos-mitos atau legenda semacam itu.

-Oh ya ? bagaimana dia bisa jadi bunga Anggrek hitam ?-

-Putri itu adalah seorang pencinta bunga anggrek, semua warna bunga itu sudah berada di istana-nya. Namun dia masih belum puas, sebab ada satu warna yang masih belum ada, yaitu warna hitam. Putri itu lalu berkelana mencari Anggrek hitam itu, hingga suatu ketika dia bertemu seorang penyihir yang berkata bahwa dia sanggup menghadirkan bunga tersebut, tapi dia harus menyerahkan pacarnya yaitu seorang Pangeran dari negeri tetangga pada penyihir itu. Sang putri tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan permintaan sang penyihir, yang langsung menghadirkan bunga anggrek berwarna hitam. Namun sang putri begitu keinginannya tercapai, dia tak memenuhi permintaan sang penyihir yang menjadi sangat marah. Saking marahnya, dia menyihir pacar sang putri menjadi seekor Babirusa, lalu menyihir sang putri menjadi bunga Anggrek hitam. – gadis itu mengakhiri cerita-nya yang menurutku sama sekali tak begitu menarik.

-Lara !!!! – kamu sudah kita cari kemana-mana, ternyata lagi asyik duduk di sini, ya ?!! – suara bentakan ‘The Big Boss’ Sandly mengagetkanku.

-Sorry, San. Aku tersesat saat hendak menyusul kalian, - ucapku meminta maaf. Namun cowok itu seakan tak memperdulikan perkataanku,

-Ngapain kamu bengong di sini ? – tanya dia lagi, kasar.

-Aku melihat bunga anggrek hitam ini, aneh ya ?! – tunjukku ke atas pohon. Entah setan apa yang tiba-tiba bersarang di kepala Sandly, cowok itu langsung memanjat ke atas pohon dan dengan kasarnya merenggut setangkai bunga anggrek hitam yang sudah merekah,

-Jadi gara-gara bunga jelek ini kamu lupa pada teman-temanmu ?! – teriak Sandly seraya menghempaskan tangkai itu ke tanah

-Sandly !!! apa-apaan kamu ??? bunga itu di lindungi, tau !!- aku balas berteriak marah melihat tingkah cowok itu. Sepertinya bukan anggrek itu objek kemarahannya, tetapi aku.

Gadis berbaju penjaga hutan yang sedari tadi hanya diam mendadak mukanya memerah, seperti matahari sore hari yang baru mau tenggelam.

-Dia bajingan, dia menyakiti aku !! – serunya tertahan. Dengan heran ku tatap gadis itu, tak mengerti apa maksud kata-katanya. Gadis itu lalu mengacungkan tangannya, dan mendadak Sandly berubah menjadi seekor lebah. Aku terpana melihat kejadian di hadapanku.

-Kkkaaaammuu....puuu..tt.trrii iii...tttu ? – tanyakku terbata-bata, gadis itu tersenyum manis sekali, seraya menganggukkan kepalanya. Sandly yang kini telah berubah menjadi lebah nampak berputar-putar diatas kelopak bunga anggrek di atas pohon.

-Mulai sekarang, tugasnya adalah melayani aku untuk menebus salahnya, - tegas sang Putri.

-Boleh aku........-aku baru saja hendak bicara, tetapi seperti bisa membaca pikiranku, sang Putri mengulurkan tangannya, dan nampak sebuah tunas kecil anggrek melayang ke arahku.

-Kamu boleh mengambilnya, asal kamu mau menukarnya dengan pacarmu – ujar dia

-Pacar ? yang mana ? – tanyaku heran, perasaan aku udah hampir setahun nge-jomblo

-Yang ku jadikan lebah tadi, -

-Oh........- ku palingkan pandanganku ke arah lebah ‘Sandly’ yang terbang mengelilingi bunga itu, seraya tersenyum licik,

-Boleh, tapi aku juga punya satu permintaan, bawa aku hingga ke pos penjaga, ya ? –

Sang putri menganggukkan kepalanya, dan dalam sekejap mata, aku langsung sampai di dekat pos, yang langsung di sambut oleh wajah-wajah khawatir teman-temanku.

-Kamu kemana aja, Lara ? – tanya Andre khawatir, yang lain langsung mengerubungiku

-Aku nggak kemana-mana, cuma liat-liat ke sekitar sini, kok – jawabku

-Kirain kamu tersesat, oh ya, nggak ketemu sama Sandly ? – tanya Irene, aku cuma mengelengkan kepalaku, munafik.

-Pak, pernah dengar tentang Anggrek Hitam ? – tanyaku pada guide kami, saat teman-temanku mulai berebutan mencari bekal makan siang masing-masing.

-Maksud kamu Legenda Anggrek Hitam ? tentu saja pernah, itu kan legenda yang sangat terkenal di sini. Tapi tak pernah ada satupun yang pernah mendapatkannya. Dan konon, bila ada yang berhasil mendapatkan bunga itu, dia harus merawatnya dengan seksama, sebab bila bunga itu tak terawat, maka pemiliknya akan mendapat musibah besar. Tapi itu cuma legenda semata, kok. – tutur pak Guide panjang lebar, namun membuatku nyengir agak-agak takut, sambil melirik kedalam tasku, anggrek hitam itu ada di sana.

Hingga KKN kami selesai, Sandly tak di ketemukan lagi. Dia lalu di nyatakan hilang, sedangkan aku dengan egois-nya dan juga dengan bangga-nya membawa pulang tunas kecil anggrek hitam itu, lalu memberikannya pada Mamaku, di hari ulang tahunnya. Yang di terimanya dengan airmata bahagia. Dengan syarat, meskipun itu jadi milik Mama, tetap harus aku yang merawatnya, dengan rasa ngeri yang meracuni hatiku, tentu saja !!.. (FIN)

Keterangan :

Cerita ini hanya imajinasi semata, sampai saat ini belum pernah ditemukan bunga Anggrek berwarna hitam (hitam pekat) di Wilayah Sulawesi. Anggrek Hitam Pekat konon tumbuh di tanah Papua, entah benar apa tidak, aku sangat penasaran, I'm an Orchid Freak!!..Karena anggrek hitam yg kudapat informasinya, ternyata anggrek hijau dengan kelopak tengah berwarna hitam berbintik2 putih, atau merah tua yg terlihat "hampir hitam" dengan kelopak tengah berwarna merah muda berbintik2 coklat, boufff!!..

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers