Popular posts

nsikome On 06 Maret 2012

Photo : www.myemospace.com

LEARNING TO LOVE, AGAIN

            Sialan!!..kenapa wajah ayu itu tidak juga menjauh dari ingatanku!? Rutuk Ophie sambil menjambak rambutnya sendiri. Sudah 2 bulan lebih semenjak dia putus dengan Endah, setelah 5 tahun menjalin kasih. Tak peduli dengan segala perbadaan yang mereka miliki, entah mengapa, cinta itu sepertinya begitu kuat melekat di hati mereka berdua, hingga akhirnya kenyataan pahit itu harus menghantam. Lelaki yang dulunya begitu tegar, dan penuh senyuman, kini berubah 160 derajat. Tidak ada lagi Ophie yang selalu menebar kegembiraannya kemana-mana, yang tertinggal hanya sesosok lelaki getir, yang terlihat awut-awutan dan selalu memancarkan kesedihan dari matanya. Bunyi dering handphone menyentakkan Ophie dari lamunan panjang tak berkesudahannya tentang Endah, gadis yang telah meremukkan hatinya.
“Halo!” jawab Ophie begitu terkoneksi
“Selamat malam Kak..boleh menganggu sedikit?” terdengar sebuah suara merdu diseberang sana.
“Ini siapa ya?” tanya Ophie setengah ketus.
“Ini Anggraini, Kak, yang di Sanggar Gets”
“Oh...ada apa?” Ophie masih menerka-nerka wajah si pemilik suara. Ada banyak anak-anak yang tergabung di sanggar Kelurahan bimbingan Ophie, kebanyakan dari mereka adalah perempuan, dan Ophie sampai sekarang masih susah untuk menghafal nama berikut wajah mereka.
“Saya boleh minta foto-foto kegiatan kita bulan kemarin, boleh ya Kak?” suara gadis itu terdnegar penuh harap. Ophie tak sampai hati untuk menolaknya.
“Boleh, besok dilatihan kamu bawa flash disk aja, nanti Kakak copy dari laptop!”
“Aduhhh..makasih banyak ya Kak...” suara gadis itu terdengar gembira, dan sambungan telpon pun ditutup. Ophie pun kembali pada lamunannya, yang lagi-lagi, masih tentang Endah.
“Kak, laptopnya nggak lupa, kan?” Anggraini menyongsong Ophie dipintu sanggar, ketika dia baru saja turun dari motornya. Ophie langsung ingat gadis itu. Siapa yang bisa lupa pada seorang gadis manis, yang hari pertama-nya ikut latihan teater di sanggar ditandai dengan robohnya pagar depan sanggar oleh mobilnya, yang dia bawa kabur dari rumah untuk belajar mengemudi?.
“Iya...” jawab Ophie pendek, lalu dia langsung melangkah masuk ke dalam ruangan sanggar bercat biru langit itu. Gadis itu mengekorinya, lalu langsung duduk disamping Ophie yang mulai menghidupkan laptopnya.
“Kak...boleh tanya nggak?” suara Anggrainy memecah keheningan. Ophie memalingkan wajahnya menatap gadis itu heran. Sebelumnya mereka tak pernah berbicara sebanyak ini, hanya sekedar bertegur sapa sebagai basa-basi belaka setiap kali bertemu di sanggar.
“Pacar kakak yang suka datang kesini, kok nggak kelihatan lagi?” tanya Anggraini lagi, sambil menyodorkan sebuah flash disk berbentuk tokoh kartun Sponge Bob. Pertanyaan gadis itu sungguh lancang menurut Ophie. Ingin rasanya dia memarahi Anggraini, namun ketika menatap wajah polos yang dihiasi sepasang lesung pipi yang indah itu, entah mengapa dia jadi tak tega.
“Sudah putus” Ophie menjawab sekena-nya.
“Ohhh..sori kak, Riny agak cerewet ya?”
“Nggak terlalu, kok” sungguh Ophie merasa heran dengan gadis itu, padahal mereka berdua sama sekali tidak akrab, namun cara dia mengutarakan pertanyaannya, membuat Ophie merasa nyaman untuk menjawab, meskipun hanya jawaban pendek seadanya.
“Jadi, kakak sekarang nggak punya pacar dong!” suara gadis itu terdengar sedikit menggoda, tak urung membuat Ophie tersenyum. Dia hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya.
“Nih, foto-fotonya sudah kakak isi di flash disk kamu!” Ophie mengangsurkan flash disk itu kearah Anggariny.
“Makasih ya Kak...” begitu flash disk berada ditangannya, gadis itu langsung berdiri dan berjalan menuju ke arah kumpulan teman-teman se-sanggarnya yang sedang duduk menghafal naskah disudut ruangan.
Bukannya tidak ada gadis-gadis yang menyukainya. Terlalu banyak malah. Namun, sejak dia mengenal Endah sejak lima tahun yang lalu, Ophie lalu menetapkan hatinya hanya untuk gadis itu seorang, dan tak pernah terpikir olehnya, bahwa keadaan akan menjadi seperti sekarang ini. Endah, gadis mungil bermata sipit yang telah setia menemaninya selama lima tahun ini, tiba-tiba saja memutuskan tali cinta mereka secara sepihak, tanpa dia tahu apa yang menjadi penyebabnya.
Berulang kali dia mencoba untuk mencari tahu, bertanya pad Endah, namun hanya jawaban samar yang selalu dia dapatkan. Terakhir kali, ketika dia menelpon Endah, nomor handphone gadis itu sudah tidak aktif lagi. Rupanya dia sudah mengganti nomor HP nya. Dia tak ingin lagi Ophie menghubunginya.
“Ris, kamu kan sahabat dia, mana mungkin kamu tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi pada dirinya?” suara Ophie mendekati antara bicara dan berteriak. Ketika itu, dia mencoba untuk menanyai Mariska, teman sekantor Endah, dan juga merupakan sahabat baik gadis itu.
“Maafin aku Phie, meskipun aku sahabatan sama Endah, aku sama sekali tidak pernah mau ikut campur dengna urusan pribadinya” jawab Mariska diplomatis, membuat hati pemuda itu jadi lebih geram.
“Mana mungkin kamu nggak tahu apa-apa, Ris? Tolonglah...sedikit saja informasi tentang Endah, tentang mengapa dia memutuskan aku secara sepihak?”
“Dia sama sekali tidak pernah mau membicarakan tentang hal itu dengan aku, Phie. Kalau aku tahu, sudah pasti kamulah orang pertama yang akan aku berutahukan tentang semua itu!”
“Ada orang lain ya Ris? Dia punya kekasih lain, ya?” todong Ophie. Sejenak Mariska terdiam, dan seketika Ophie tersadar, dia kini mengerti mengapa Endah meninggalkannya. Dengan lunglai pemuda itu berjalan dan menaiki motornya, lalu berlalu dari hadapan Mariska secepat kilat.
            “Dia nanya sama kamu tentang aku, Ris? Terus,kamu bilang apa?” wajah Endah menampakkan kekuatiran, ketika Mariska bercerita tentang percakapannya dengan Ophie.
“Aku tidak ngomong apa-apa, Ndah. Cuman dia kelihatannya terpukul banget. Kamu sih keterlaluan, mutusin anak orang nggak ada perasaannya, ngomong kek ke dia apa alasannya, kalo perlu biar alasan yang dibikin-bikin juga nggak apa-apa. Kasihan aku ngeliat dia, Ndah!”  tukas Mariska panjang lebar. Endah tertunduk mendengar ucapan sahabatnya itu.
“Tapi dia baik-baik saja kan Ris?”
“Kamu masih khawatir tentang Ophie, Ndah? Kamu ini aneh banget deh, kalo emang masih sayang sama dia, kok kamu putusin dia sih?”
“Masalahnya tidak segampang itu, Ris, bukannya aku...” Ucapan Endah terpotong oleh sebuah suara klakson mobil yang sangat keras di depan kedua gadis itu.
“Endah, ayo!” seorang cowok berkulit putih menjulurkan kepalanya ke jendela mobil.
“Aku pulang dulu ya, Ris!” Endah langsung menaiki mobil sedan hitam itu, dan berlalu dari hadapan Mariska yang menghela nafas panjang.
            Ophie sedang sibuk membuat laporan mingguan pekerjaannya, ketika Mama melongok ke dalam kamarnya.
“Ophie, ada yang cari kamu, tuh!”. Siapa ya? Perasaaan dia tidak sedang janjian dengan Charles sahabatnya, pikir Ophie. Lagipula, jika itu memang Charles, sudah pasti dia tidak akan menunggu di depan dan langsung masuk ke kamar atau menuju ke ruangan makan dan mengobrak-abrik semua makanan yang ada disana. Dia kan salah satu sahabat Ophie yang tingkat kemaluannya lebih rendah dari sendal teplek milik Vita, adik Ophie!.
“Maaf ya Kak, tadi anak-anak sanggar kerumah bikin kolak duren, terus masih ada sisanya cukup banyak. Dari pada nggak abis dan jadinya mubazir, kata mereka di bagi aja sama kakak-kakak pengasuh” gadis itu mengangsurkan rantang makanan bercorak daun-daun hijau.
“Wahh...kalian repot-repot membawakan ini untuk kakak?” kolak duren adalah salah satu makanan favorit Ophie, yang mampu membuatnya tersenyum, segalau apapun pikirannya.
“Mana anak-anak yang lain?” tanya Ophie lagi.
“Sudah pulang kak, kebetulan saya lagi dipinjemin mobil sama Papa, jadi sekalian anterin kolaknya sama kakak!”
“Nggak nabrak pagar lagi kan dengan mobilnya?” goda Ophie. Riny, nama panggilan gadis itu hanya tersenyum. Entah mengapa, Ophie sangat menyukai senyum gadis itu.
“Aku pulang dulu ya, Kak. Sampai ketemu besok di sanggar!” Riny melambaikan tangannya, lalu pergi dengan mobilnya. Meninggalkan Ophie yang tersenyum senang. Kolak duren, Padahal tidak sedang musim durian!.
Tiga bulan berikutnya, entah bagaimana, Ophie menjadi semakin dekat dengan Riny. Gadis itu sepertinya enak juga di jadikan teman curhat. Tidak banyak bicara saat Ophie sedang bercerita sesuatu hal, membuat dia merasa sangat nyaman.
“Ihh..sudah nggak patah hati lagi, nih!” ledek Charles, sesama pengurus Sanggar merangkap sebagai sahabat baiknya meledek Ophie.
“Apaan sih?”
“Kamu dengan si Riny, lagi pedekate ya? Beneran udah lupa sama Endah?” tambah Charles dengan gaya usilnya yang biasa. Tiba-tiba, Ophie seperti ditampar wajahnya mendengar nama Endah disebut. Lagi-lagi, luka di hati itu seperti dirobek dan terbuka kembali.
“Kak, jadi nggak kita nongkrong di Karaoke?” terdengar sebuah suara lembut dari belakang. Ternyata Riny.
“Nggak!” jawab Ophie ketus, lalu meraih jaket kulitnya dan segera menuju parkiran. Motornya keluar dari situ dengan raungan keras. Meninggalkan seseorang yang mengamatinya dari balik jendela sanggar. Ada airmata yang jatuh di pipi yang berlesung indah itu.
Sebulan sudah, Ophie tak pernah lagi melihat Riny muncul di Sanggar. Entah mengapa, sepertinya ada yang hilang bersama dengan ketidak hadiran gadis itu.
“Riyo, kamu lihat si Riny nggak?” tanya Ophie pada salah seorang anak didiknya yang berpostur tubuh kerempeng.
“Dia ada dirumahnya, katanya dia tidak mau ikut latihan di Sanggar lagi!” jawab Riyo
“Kenapa?” tanya Ophie lagi. Riyo hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu. Ophie makin resah.
“Halo, Riny ya?” Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon gadis itu.
“Iya Kak Ophie, ada apa?” suara lembut itu menjawab, dan tiba-tiba saja, Ophie merasakan ada luapan kerinduan yang tiba-tiba muncul di hatinya.
“Kok kamu nggak pernah kelihatan di Sanggar lagi?”
“Takut hanya menganggu kakak” jawaban gadis itu sungguh menyentak hati Ophie. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Lalu terlintas di benaknya, apa yang dia lakukan ketika terkahir kali bertemu dengan Riny. Dia membentak gadis itu.
“Rin, maafin kakak ya. Bukan maksud kakak untuk marah sama kamu yang kemarin di Sanggar itu. Kakak sama sekali nggak marah sama kamu!”
“Kakak marah sama kak Endah, kan?”
Pertanyaan gadis itu membuatnya terdiam, dia tak mampu untuk menjawab
“Aku bukan dia, selamat malam, Kak” lalu sambungan telpon terputus. Meninggalkan Ophie yang termenung, memikirkan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Dia lalu memutuskan untuk menelpon gadis itu lagi.
“Rin, kamu mau nggak nonton sama kakak hari Sabtu nanti?” begitu tersambung, tanpa menunggu suara Riny terdengar, Ophie langsung bertanya.
“Hoiii!! Ini kakaknya, Riny lagi ke toilet!!” terdengar suara seorang cowok.
“Waduh!! Maaf ya..”
“Ihh!! Kak Randy kenapa sih? Main angkat telpon orang sembarangan, sini kembaliin hape Riny!”  terdengar suara Riny berteriak nyaring, mebuat Ophie langsung tersenyum.
“Halo?”
“Rin, ini aku, mau nggak nonton sama kakak hari Sabtu nanti? Kakak jemput jam 6 Sore dirumahmu ya?” Ophie mengulang pertanyaannya. Tidak ada suara diujung sana.
“Rin, maafin kakak ya..Please jawab pertanyaan kakak, ini udah yang kedua kalinya kakak menanyakan hal yang sama, tadi sama kakakmu yang menerima telpon, dan sama kamu” Ophie mencoba untuk mencairkan suasana. Sepertinya dia berhasil, karena terdengar suara cekikikan halus.
“Iya..jemput aku jam 7 ya!” sambungan telpon langsung dimatikan oleh gadis itu. Ophie pun bersorak di kamarnya.
“YES!!!!”
“Kak Ophieeee!! Jangan ribut dong...Vivi lagi belajar nih..besok ada ujian, tau!!” terdengar teriakan adiknya dari kamar sebelah.
“Ups!! Sorry Vi..”
Hari Sabtu tepat jam 6 sore, Ophie sudah menjemput Riny dirumahnya. Setelah sedikit berbasa-basi dengan orang tua gadis itu yang memang sudah dia kenal, jauh sebelum mengenal Riny bahkan, karena merupakan salah satu pengurus organisasi di Kelurahan bersama dengan Ophie, mereka berdua lalu menuju ke Bioskop.
“Kita nonton dulu ya Rin, nanti setelah itu baru kita makan, gimana?” tanya Ophie pada gadis itu, yang tengah duduk di boncengan motornya.
“Terserah kakak, deh. Riny sih nurut aja”
Begitu tiba diparkiran, Ophie langsung memarkir motornya. Ketika dia dan Riny hendak menuju ke pintu masuk utama, tiba-tiba di parkiran mobil, ada sesosok tubuh yang begitu dikenalnya, keluar dari sebuah sedan mewah berwarna hitam. Endah.
Gadis itu keluar, lalu diikuti oleh seorang pemuda tampan berkulit putih, yang langsung menggandeng tangan Endah dengan mesra.
“Kak..” suara Riny terdengar prihatin. Ophie memandang gadis itu, lalu tersenyum.
“Kakak baik-baik saja kok, kan ada kamu..”
Ophie berpikir, mungkin dia memang bukan yang terbaik untuk Endah. Mereka mungkin memang bukan jodoh. Untuk apa bersedih dan merusak diri karenanya?. Toh dia bisa belajar untuk mencintai seseorang lagi. Seseorang seperti Riny, yang tengah menggenggam tangannya erat sekarang ini.(NS/’12)

(Ayayayayay... to Ophie & Riny : Hope that life will treat both of you very well..Hehehehe)



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers