Popular posts

nsikome On 28 Februari 2009

Setiap manusia di dunia ini tidak ada yang dilahirkan sama. masing-masing memiliki perbedaan dalam hal apapun juga. Homoseksualitas dan Lesbianitas, warianitas-hehe (is it correct? masih bingung juga aku dgn penyebutan..) adalah sesuatu yang masih sangat tabu dibicarakan di negeri ini, karena dianggap sebagai orang-orang yang menyimpang. Pengalaman aku bersahabat dgn mereka-mereka itu membuat mataku terbuka, bahwa mereka adalah manusia, that's it..just like me, or YOU...Tuhan menciptakan mereka untuk sebuah alasan, dan jika menurut kepercayaan agama kita masing-masing itu salah, maka biarlah itu menjadi tanggung jawab pribadi mereka dengan TUHANnya masing-masing, kita tak punya hak untuk menghakimi, karena kita juga hanya manusia biasa yang sudah pasti tak luput dari kesalahan dan kelemahan....For note: Cerpen ini sudah pernah di publikasikan di sebuah majalah terkenal di Indonesia, tapi sayang sekali alur ceritanya di robah, atas alasan "etika"..


PUISI TAK BERTUAN

By : N.Sikome


Janganlah menantang angin
Kau takkan pernah jadi pemenang
Usahlah bertikai dengan badai
Kau hanya kan terberai
Percayalah kepada takdir
Karna kau tak bisa menolaknya
Tapi kejarlah cinta yang kau rasa,
Hingga di garis batasnya......

Jade menghela napasnya panjang-panjang. Ini adalah yang kedua kalinya dia menemukan lembaran kertas berwarna hitam yang bertuliskan puisi dengan tinta perak.
" Ri, kamu yakin nggak kenal dengan tulisan tangan ini ? " tanya Jade pada sahabat sebangkunya. Riri untuk yang kesekian kalinya meraih lembaran kertas berwarna hitam itu, dan mengamatinya secara seksama.
" Menurut aku Jade, yang punya tulisan ini bukan berasal dari kelas kita. Soalnya, aku kenal, kok, hampir semua tulisan tangan anak-anak dikelas ini " Riri memberikan pendapatnya. Jade mengeluh kesal dalam hatinya. Sudah dua minggu ini pikirannya hanya terisi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa si penulis puisi-puisi itu. Jade bahkan pernah menghabiskan satu malam dengan duduk didekat jendela kamarnya sambil menebak-nebak siapa si penulis iseng itu.
Si Danny emang suka sama Jade, bahkan seisi sekolah mereka tahu tentang hal itu. Gimana semua nggah tahu ? abisnya si Danny norak banget, sih ! pake teriak-teriak 'I Love You, Jade ' dari atas atap sekolah, terang aja semua pada heboh.
Namun, itu pasti bukan Danny. Wong si Danny setiap kali ulangan atau di kasih PR sastra bikin puisi, nilainya selalu dibawah nol.
Dalam hati gadis itu mengakui, bahwa puisi-puisi itu bagus juga, walau dia tak terlalu mengerti kemana arah dan maksud dari rangkaian kata-kata itu, dan mengapa ditujukan buat dia.
Sedangkan yang paling mengganggu adalah, sepertinya si pemilik puisi tanpa nama itu sengaja tak ingin memperkenalkan identitasnya. Tak pernah ada inisial yang bisa membuat Jade menebak siapa penulisnya, hanya ada goresan puisi, yang selalu ditulis diatas kertas warna hitam dengan tinta perak.
Sebulan sesudah itu, Jade telah menerima lebih dari dua belas buah puisi. Masih tertulis diatas lembaran-lembaran kertas hitam, dengan tinta perak. Pernah satu kali gadis itu mencoba memasang perangkap, dengan dibantu Riri sobatnya. Maksud mereka adalah ingin memergoki si pemilik puisi yang secara rutin menyelipkann lembaran hitamnya kedalam buku-buku milik Jade. Namun, sampai mereka berdua kesemutan menunggu, si pemilik puisi tak datang-datang juga. Sepertinya dia tahu bahwa mereka sedang menunggu dirinya.
" Aku yakin Jade, si penulis puisi itu adalah teman kamu ! " tutur Riri sok yakin saat Jade mengungkapkan rasa penasarannya. Gadis itu memang satu-satunya tempat curhat Jade semenjak hari pertama dia masuk sekolah ini.
" Kamu tahu darimana, Ri ? " jade tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya yang berlagak seperti seorang peramal itu.
" Yah gampang Nona manis.... kalau bukan orang yang kenal kamu dan kamu kenal, bagaimana dia bisa tahu kapan saat yang tepat untuk menaruh puisinya, agar nggak ketahuan ? " terang Riri ber-logika ria, membuat Jade manggut-manggut membenarkan.
" Kamu udah punya daftar tersangkanya, Ri ? " tanya Jade, kayak polisi saja.
" He...he...he...kamu nanyanya kayak polisi aja, Jade ! " mereka berdua alu saling pandang dan tertawa berderai.
Dua bulan begitu cepat berlalu. Jade masih tetap menerima secara ruti puisi-puisi itu. Namun dia sudah mulai belajar untuk tidak memperdulikan semuanya. Apalagi, dua minggu pertama kemunculan puisi-puisi itu, nilai-nilai ulangan Jade sempat jeblok gara-gara sibuk menebak dan mencari sang pengirim, hingga lupa belajar. Jade lalu memutuskan untuk tidak memperdulikan lagi puisi-puisi itu serta siapa pengirimnya.
Apalagi sekarang Jade baru jadian sama Joshua. Ahh....berpikir tentang cowok itu langsung membuat hati gadis itu jadi hangat ( emangnya nasi ? ). Sangat menyenangkan. Memang sudah lama Jade suka sama Joshua, namun sebagai seorang cewek, meskipun kata orang, kaum wanita tuh sudah emansipasi, tetap aja malu dong ngomongin rasa sukanya sama seorang cowok, iya kan ?
Dari kelas satu Jade sudah suka sama Joshua, namun jadiannya baru seminggu yang lalu. Biarpun kata Riri, Joshua adalah cowok playboy, Jade nggak perduli. Si Riri memang selalu begitu. Dulu sama cowok-cowok yang lain reaksinya juuga sama. Kalau ngak dibilang cowok nggak bener, ya dibilangin playboy sama si Riri. Tapi satelit si Riri oke punya, lho. Karena dia, Jade nggak jadi pacaran sama si Roy, playboy kampungan itu. Nggak tahu gimana si Riri bia dapetin semua informasi itu, namun Jade merasa sangat ersyukur sekali bisa memiliki teman seperi Riri itu.
Tetapi untuk Joshua, semuanya jadi berbeda. Nggak tahu kenapa Jade kok jadi suka banget sama dia. Kata-kata Riri yang dulunya selalu dia dengar, saat ini hanya dianggap angin lalu sama Jade. Apaagi bila Riri sudah mulai dengan khotbah hariannya tentang kejelekan Joshua, Jade lebih suka nutup telinganya. Riri malah sempet sebel bengkak waktu Jade dengan manisnyabilang, kalau dia punya feeling kalo si Joshua tuh sebenarnya cowok yang baik.
Jade tersenyum riang, hatinya tengah berbunga-bunga plastik ( kok plastik ? biar tahan lama kali yee... ), soalnya tadi pagi disekolah Joshua ngajak dia nonton sore ini. Sambil bersiul-siul, Jade memulai aktifitas mempercantik dirinya. Dengan telaten gadis itu melumuri sekujur tubuhnya dnegan lulur tauge ( hehehe...biar beda dan nggak dituduh menjiplak nama lulur... ). Biar kulit bersih dan halus.
" Jade....ada telpon tuh, dari si Riri !! " suara Ibunya yang agak mirip-mirip dengan Mbak Peggy di sinetron 'Gerhana' itu mengagetkan Jade dari acara berlulur campur ngelamunnya.
" Thank's Mom...lain kali teriknya jangan ditelinga Jade, ya ?! " sambil mengurut-ngurut kupingnya yang bunyi tuing-tuing gara-gara suara Ibunya.
" Hallo... " sapa gadis itu
" Jade, mau nggak ikut aku ke mall ? " suara Riri terdengar sangat bersemangat
" Yaaa....sorry banget, Ri, aku ada janji dengan Joshua sore ini " nada suaranya dibikin se-menyesal mungkin, takut si Riri kecewa.
" Ya udah, kalo gitu. " Walaupun dia mencoba untuk menahannya, tetap nada suara Riri terdengar kecewa. Jade merasa sedikit bersalah, dia tahu kalo akhir-akhir ini waktunya paling banyak dia habiskan dengan si Joshua.
" Gini aja, Ri, aku dan Joshua akan mampir ke rumah kamu sehabis nonton, ya ? kebetulan ada sesuatu yang hendak aku tunjukkan sama kamu "
" Terserah kamu, Jade... " suara Riri terdengar tak bersemangat, namun Jade terlalu bahagia untuk bisa memperhatikan semua itu. Yang ada dikepalanya hanyalah Joshua, Joshua, dan..... Joshua.
Sepanjang akhir petang itu dilewati Jade dengan hati yang bertaburan bintang-bintang. Ingin rasanya dia menghentikan sang waktu agar tak berjalan supaya dia masih bisa terus menikmati kebersamaannya dengan Joshua, namun janjinya pada Riri untuk mampir membuat Jade terpaksa balik lagi menginjakkan kakinya ke bumi.
" Kamu sama si Riri temenan udah lama, ya Jade ? " tanya Joshua saat gadis itu mengatakan bahwa mereka akan mampir sebentar ke rumah sahabatnya itu;
" Iya, sejak kelas satu. " Jade menjawab pendek
Saat Jade dan Joshua tiba dirumah Riri, keadaan disana nampak sunyi senyap.
" Riri....!! " panggil Jade dengan suara nyaring. Namun tak ada sahutan dari dalam, padahal pintu depan rumah Riri tak terkunci.
" Mungkin dia lagi dibelakang, " Jade mengira-ngira
" Jade, aku nggak bisa lama, nih. Soalnya aku janji akan nganter Mama ke salon sehabis nonton " tutur Joshua
" Yaa....tunggu ntar, ya ? aku akan ke kamar Riri untuk nitip pesan kalau dia nggak ada " ujar Jade cepat. Dia nggak ingin kehilangan kebersamaan mereka sedikitpun. Dasar lagi jatuh cinta
Karena Jade memang sudah sering kerumah Riri, dia langsung mau masuk kekamar Riri, tiba-tiba muncul tante Sri, mamanya Riri, dari arah dapur.
" Eh tante, kirain nggak ada orang. Dari tadi Jade panggil-panggil nggak ada yang nyahut, sih. Riri-nya kemana tante ? "
" Tante lagi dibelakang, biasa, ngurusin bunga. Si Riri lagi tante suruh ke warung beli korek api tuh, Jade. Tunggu aja dikamarnya, sebentar juga dia pasti pulang, " tante Sri memamerkan senyum keibuannya yang sangat disukai Jade.
" Yaa tante, Jade nulis pesan aja ke Riri, soalnya ada yang nunggu didepan, tuh ! "
" Ya udah, terserah kamu " jawab tante Sri. Jade lalu melangkah kekamar Riri. Pemandangan yang menyambutnya sudah dihafal Jade. Riri kan orangnya erantakan banget, buku-buku pelajarannya ada disemua tempat. Tergesa matanya terhenti pada sebuah pulpen berwarna transparan. Cepat-cepat Jade menarik ujung pulpen itu dari atas meja, namun gerakannya yang agk kasar membuat sebuah map yang ada diatas meja belajar Riri jatuh kelantai.
Jade baru hendak memberesi semua itu, saat matanya menangkap sesuatu. Hati Jade berdebar kencang. Ada lembaran-lembaran berwarna hitam pekat ikut jatuh, dan, salah satu dari lembaran itu sudah berisi, sebuah puisi.

Mencintaimu adalah hal terindah dalam hidupku
Memimpikanmu adalah sesuatu yang sangat membahagiakan
Merindukanmu tak pernah membosankan
Namun
Aku sadar, sangat menyadari
Bahwa 'tuk memiliki dirimu
Adalah hal yang paling tak mungkin
Ada sebuah dinding pemisah
Terbentang luas membuat batas
Kita serupa, namun aku yang berbeda
Maafkan aku
Telah lancang mencintaimu....


Tertulis dengan tinta berwarna perak. Jade gemetar, sang penulis puisi itu adalah Riri. Gadis itu berlari keluar rumah sahabatnya seperti kesetanan. Dia tak sanggup memikirkan kenyataan itu. Belum sanggup. Tidak sekarang, mungkin nanti, entahlah.....

(Untuk sahabatku...I don't care what peoples think about you, I just care what I'm thinking about you, and I think, that you are a good friend to me, no matter what..)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers