Popular posts

nsikome On 19 Februari 2009

Wuihhh....nggak terasa, seminggu berlalu lagi, ya? Friends, ini adalah cerpen yang ketiga aku, semoga kalian semua pada suka. Cerpen ini sendiri, cerpen misteri, seperti yang sudah aku janjikan minggu kemarin, dan juga sudah pernah di publikasikan di majalah remaja Aneka Yess. Akhirnya, Selamat membaca...


SAAT MENTARI TENGGELAM

By : Novita Sikome

Senja merah diujung Boulevard di bibir pantai kota Manado, Angie berdiri di ujung timbunan batu yang sengaja di taruh disitu. Hari ini adalah hari keduanya kembali ke kota kelahirannya itu. Semuanya begitu berubah, gadis itu merasa asing di sana. Semuanya begitu berubah, dan entah mengapa gadis itu merasa seperti asing disana. Memandang lembayung senja merah membuat hatinya merasa teduh. Angie menarik napas dalam-dalam, menghirup bau laut yang begitu dia sukai.
" Indah, ya ? " suara seseorang dibelakang mengagetkan Angie, refleks gadis itu menoleh. Seorang cowok berpostur atlet dan bertampang mirip-mirip Tom Cruise berdiri dibelakangnya.
" Maaf, maksud anda ? " Angie tak mengerti
" Warna merah senja, saat matahari hendak terbenam, " ujar pemuda itu sambil menunjuk kearah horizon. Angie melayangkan matanya, warna-warna merah bercampur kuning dan orange itu memang sangat mempesona. Matahari yang tengah beranjak ke peraduannya itu memang sangat menakjubkan warnanya, seakan-akan ingin memamerkan keindahannya untuk meminta maaf kepada manusia atas panasnya siang tadi, yang membuat banyak orang menyumpah dan bersungut.
" Iya, bikin hati jadi tenang melihat keindahan itu.. " balas Angie tak melepaskan tatapannya pada matahari senja
" Namaku Toar, kamu sering kesini ? " cowok itu sudah berada disamping Angie, gadis itu sesaat tersipu. Angie menyahut, balas memperkenalkan dirinya,
" Namaku Angelina, panggil saja Angie. "
" Kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi..Angie, " Toar menukas pendek, Angie menatap cowok itu heran.
" Anuu...tadi saya tanya, kamu sering kesini, Angie ? " sambung cowok itu cepat
" Ooo...dulu, waktu saya masih tinggal dikota ini, saya baru balik setelah 3 tahun tinggal di Jakarta "
" Ah, kamu juga pergi... " kata-kata Toar menggantung di udara, sesaat Angie tertegun, dia sama sekali tak mengerti apa maksud ucapan Toar, namun gadis itu memutuskan untuk tak menghiraukan kata-katanya.
Sejenak ada keheningan yang tercipta diantara kedua anak manusia yang baru saja bertemu itu, masing-masing menacapkan pandangan mereka ke arah matahari yang kini tinggal separuh, terbenam seakan ditelan ai laut.
" Angie, saya boleh ketemu kamu besok ? " lagi-lagi Toar membuka suara, Angie merasa heran sekaligus senang. Heran karena mereka belum lagi 1 jam bertemu, dan senang karena gadis manan didunia ini yang tak senang ketemu dengan cowok ganteng bertampang mirip Tom Cruise ? Namun dia tak ceroboh dan langsung menerima begitu saja tawaran Toar, sebab tampang bukan jaminan bahwa hatinya juga sebagus tampangnya.
" Dimana ketemunya ? " tanya gadis itu hati-hati.
" Disini saja, saya akan menunggu kamu besok jam sama seperti sekarang, " Toar memamerkan senyum manisnya, hati Angie seakan luluh bagai lilin terbakar api. Senyumnya itu, bikin hati semua gadis loncat-loncat, tak terkecuali Angie, senyum Toar yang teduh dan menentramkan hati. Angie merasa lega, cowok itu nggak ingin bertemu ditempat yang aneh-aneh seperti prasangkanya semula, dia hanya mau bertemu ditepi pantai ini, tempat banyak orang lalu-lalang.
" Ok, saya pasti datang, Toar " jawab Angie meyakinkan cowok itu, anehnya, Toar hanya memandang gadis itu dengan tatapan sendu, sambil tersenyum samar. Pemuda itu kemudian berdiri, lalu pamit pada Angie.
" Makasih kamu mau datang, saya senang sekali ketemu denganmu disini, Ngie.. " ucapnya perlahan, ada nada sendu dalam suaranya.
" Saya harus pulang sekarang, jangan lupa janji kita besok sore, ya ? " Toar melambaikan tangannya, dan sebelum Angie sempat menyahut apa-apa, dia sudah berlalu dari situ, meninggalkan Angie yang tiba-tiba tersadar bahwa hari sudah gelap, mentari senja sudah sejak tadi tenggelam keperaduannya, dan cahaya yang menerangi mereka berrdua adalah sinar lampu jalan disepanjang Boulevard. Gadis itu melangkah pulang, dengan benak yang dipenuhi berbagai pikiran-pikiran dan pertanyaan, terutam tentang cowok kiyut bernama Toar, yang dia temui tadi.
Esoknya, dan bahkan sampai seminggu setelah itu, Angie selalu bertemu dengan Toar ditempat yang sama saat mereka bertemu untuk pertama kalinya, jam yang sama, saat matahari sore tengah bersiap-siap untuk tenggelam diufuk barat. Hari ketiga pertemuan mereka, Angie sempat menawarkan pada Toar untuk membuat janji ditempat lain, tapi pemuda itu menolak, dia bilang, lebih unik katanya bertemu ditepi pantai itu. Sejak penolakan Toar itu, Angie merasa malu untuk menawarkan sekali lagi pertemuan ditempat lain. Sebenarnya yang diharapkan gadis itu sederhana saja, dia ingin makan diwarung-warung kecil yang tersebar disepanjang Boulevard, atau pergi nonton film dibioskop dengan cowok itu. Namun Toar hanya ingin bertemu dengannya ditepi pantai itu.
" Kasihan kamu , Ngie. Lama-lama kamu bakal jatuh cinta sama si Toar, dan akan lebih kasihan lagi kalau dia hanya ingin hubungan kalian sebatas pertemuan ditepi pantai ! " tutur Stevin sahabat karib Angie semenjak masa kecilnya, saat dia bercerita tentang Toar.
" Itulah Stev, yang aku takutkan. Sekarang aja aku mulai suka dia, abisToar itu orangnya baik, kelihatan romantis dan cakep. Wah....pokoknya dia punya seribu alasan yang bisa membuat gadis-gadis jatuh cinta kepadanya, " Angie mengiaskan rambut panjangnya kebelakang. Mereka berdu tengah bercakap-ckap dalam kompleks perkebunan Teh milik keluaga Stevin.
" Kamu hanya ketemu dia disitu, Ngie ? tanya Stevin, Angie menganggukkan kepalanya.
" Iya, tapi aku sudah pernah menwarkan untuk bertemu lagi ditempat lain, dia nya yang nggak mau. "
" Mungkin dia hanya iseng saja denganmu ! " kata Stevin bernada curiga
" Kupikir enggak mungkin. Cuma dia kelihatannya menjaga jarak denganku, nggak tahu kenapa. Lagian, tempat kami selalu bertemu, kelihatannya punya arti besar baginya " tutur Angie panjang lebar, membuat Stevin jadi makin penasaran.
" Ceritamu ini agak nggak masuk akal, Nggie, aku jadi penasaran pengen ketemu sama cowok itu, siapa tahu, aku yang nanti akan ditaksirnya, hehehe..!! " Stevin tertawa terkekeh-kekeh.
Dua bulan sudah Angie kenal Toar. Namun hubungan mereka tetap saja sebatas pertemuan ditepi pantai itu. Angie sudah mulai merasa bosa, sepertinya kata Stevin benar. Toar hanya iseng, sebab sepanjang waktu itu, tak pernah sekalipun dia menawarkan diri untuk misalnya mengantar Angie pulang, atau bahkan memberikan nomor telponnya, tak pernah.
Dia hanya datang, duduk ditepi pantai bersama Angie, ngomong sedikit, dan beranjak pulang saat malam sudah jatuh. Benar-benar aneh dan bikin penasaran.
Angie juga sudah mulai tak suka, sebab beberapa kali abang-abang yang berjualan sate di pinggir-pinggir Boulevard itu suka menatapinya dengan pandangan aneh. Sebab bukan saja Toar tak pernah mengantarnya pulang, setiap kali bertemu, selalu saja dia yang bergegas pulang duluan, meninggalkan Angie dibelakang, dan anehnya, gadis itu tak pernah bisa protes sedikitpun.
Setelah berpikir selama seharian penuh kemarin, hari ini Angie memutuskan untuk 'say goodbye' pada Toar, setelah sebelumnya meminta dia untuk menegaskan kembali, sebenarnya hubungan mereka hanya akan sampai disini, ataukah bisa berlanjut. Bukan menjadi sepasang kekasih, tapi hanya sebagai teman biasa, yang bisa saling telpon, saling tahu rumahnya dimana, teman normal-lah.
Matahari seperti biasa menampakkan warna merah lembayung indahnya saat Angie memarkir mobil di tepi Boulevard yang setiap malam minggu jadi tempat nongkrong anak muda dikota Manado. Setelah yakin bahwa semua pintu mobilnya terkunci, gadis itu melangkah ke tepi pantai, menuju timbunan batu tempat dimana dia selalu menyaksikan matahari terbenam bersama Toar.
Angie merasa agak tak enak, soalnya saat dia tiba, ada seorang gadis manis yang tengah duduk diatas timbunan batu. Tapi Angie tak punya pilihan, hanya disitu dia bisa bertemu dengan Toar. Gadis itu lalu memutuskan untuk menunggu Toar diseberang timbunan batu itu, agak tak nyaman, sebab tempatnya berkarang tajam. Gadis manis berbaju merah itu berbalik saat Angie menginjak kerikil dan menimbulkan bunyi.
" Ah, ada orang rupanya. Ingin melihat matahari tenggelam juga ? " gadis itu tersenyum manis, dia cantik sekali, Angie balas tersenyum.
" Iya, sekalian nunggu teman, soalnya kita janjian disini. "
" Oh...saya juga dulu suka janjian disini dengan pacar, " gadis itu berucap malu
" Oh ya ? tapi yang saya tunggu hanya teman biasa, " ujar Angie
" Dia suka sekali dengan pemandangan disini, saat matahari hendak terbenam. " Ada airmata yang menitik dikedua pipi mulus gadis itu. Angie merasa heran, cepat dia merogoh saku celananya, lalu menyodorkan bungkusan Tissue pada gadis itu.
" Terima kasih, maaf...saya hanya terlalu sedih. Pacar saya itu meninggal dunia setahun yang lalu. Kata mereka, dia tengah berdiri menyaksikan matahari terbenam, dan tanpa sadar malam sudah jatuh. Katanya dia terseret ombak besar yang datang tiba-tiba. Dia meninggal dibulan Desember, dan mayatnya baru ditemukan satu minggu kemudian... " Gadis itu terisak-isak. Angie memegang bahu gadis itu, mencoba untuk menenangkannya. Toar belum juga datang.
Angie tahu benar, biasanya memang di bulan Desember, ombak disekita situ kadang-kadang bisa muncul setinggi leabih dari 2 meter, apalagi di musim hujan dan angin pada bulan Desember.
" Semua itu salahku, seharusnya aku tak mengatakan hal itu pada Toar, maksudku hanya ingin bercanda, tapi dia menganggapnya serius !! " ucap gadis itu terpatah-patah, masih dengan airmata yang meleleh dikedua belah pipinya. Angie merasa sedikit lucu, nama pacar gadis itu sama dengan cowok yang dia tunggu saat ini.
" Aku sebenarnya hanya mau menengok nenek di Bandung, tapi waktu aku menelponnya, kubilang bahwa aku djodohkan dengan cowok yang masih kerabat Ayahku disana, belum sempat aku mengatakan bahwa aku hanya bercanda, dia sudah menutup telponnya dan datang kesini. Tempat kami bertemu dulu untuk yang pertama kalinya, dan juga tempat dia meninggal... " suara gadis itu hampi tak terdengar.
Angie hanya menghela napas panjang, dia mengerti perasaan gadis itu. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa.
" Maafkan saya...berkeluh kesah dihadapan anda seperti ini.. " gadis itu meminta maaf. Angie hanya tersenyum bijaksana.
" Nggak apa-apa, saya mengerti kesedihan anda. Itu fotonya ? " Angie menunjuk kearah bingkai foto kecil yang digeggam gadis itu.
" Iya..... " gadis itu menyodorkan bingkai foto yang dipegangnya pada Angie.
Sesaat darah Angie terasa berhenti, cowok difoto itu adalah Toar, sedang tersenyum dan kelihatancakep sekali dengan kaos biru langitnya disana. Angie gemetar, tapi dia berusaha untuk mengendalikan dirinya.
" D..dia, Toar...m..maksudku pacar anda itu meninggalnya tahun lalu ? " Angie masih tak percaya dengan penglihatannya.
" Iya, tepatnya tanggal 17 desember, " gadis itu menghapus airmata dipipinya dengan Tissue yang diberi Angie.
" Anda baik-baik saja ? " gadis itu kembali bertanya agak cemas, melihat wajah Angie yang pucat pasi.
" Ah..enggak apa-apa, saya hanya mulai merasa dingin saja " Angie berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya.
" Oh...saya harus pergi, senang bertemu anda, dan maaf atas kecengengan saya tadi, ya ? jadi merepotkan anda saja... " gadis itu berpamitan, malam mulai jatuh.
" Saya juga harus pulang, " Angie bangkit, lalu berjalan kearah Boulevard. Kedua gadis itu berjalan bersisian. Saat Taxi yang membawa gadis itu pergi, Angie berjalan menuju ke mobilnya, melewati beberapa abang penjual sate yang tertawa terkekeh-kekeh sambil sesekali mencuri pandang pada Angie.
" Sayang yah, cakep-cakep tapi nggak waras, setiap duduk ditepi pantai selalu ngomong sendiri ! " cetus seorang abang penjual sate brewokan, yang disambut dengan derai tawa teman-temannya yang lain. Angie memasang muka cemberut.
" Namanya Toar ya ? " suara seorang wanita menghentikan langkah gadis itu. Angie menoleh, nampak seorang ibu berusia setengah baya sedang mengupas kulit jagung di tepi pantai, mungkin dia adalah salah satu penjual jagung ditepi pantai, mungkin dia adalah salah satu penjual disitu.
" Kok Ibu tahu ? " Angie mendekati wanita itu.
" Bukan hanya anda yang bertemu dengannya, ada juga beberap gadis yang mengalami hal yang sama, salah satunya anak ibu sendiri. Dia malah hampir dibawa pergi si Toar. Katanya sih mau ngajak berenang. Untung suami ibu cepat melihatnya ! " tutur Ibu itu tanpa mengalihkan pandangannya dari kegiatan yang dia tekuni.
Angie semakin ketakutan, tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia langsung bergegas masuk kedalam mobilnya, lalu memacu dengan kecepatan tinggi, pulang kerumah.
Sementara di tepi pantai, nampak bayangan seorang gadis tengah bercakap-cakap sendiri.

" Toar, sudah malam nih, aku pulang dulu, yah ? sampai ketemu besok !! "


(Untuk yang tercinta..)


THE END

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers