Popular posts

nsikome On 29 Mei 2011


Setiap Manusia dimuka bumi ini dilahirkan berbeda-beda, namun, janganlah PERBEDAAN itu dipakai sebagai alasan untuk MEMBEDA-BEDAKAN Manusianya...





SEBUAH PERBEDAAN

By : N.Sikome

Suara deras hujan bulan desember terdengar seperti sebuah nyanyian sendu, sedih dan kelabu. Sungguh sangat tak mengenakkan bagi orang-orang sendirian seperti Carla. Sudah satu jam lebih, dia terpaku di depan jendela kamarnya, menatap titik-titik hujan yang jatuh. Dia merasa dirinya seperti terasing di sebuah planet lain yang sama sekali tak di kenalnya. Saat pertama datang di kota ini, Carla merasa sangat kesepian karena dia tak kenal satu orang-pun di sini. Dan, hari-hari berikutnya pun dia terus merasa sendiri, merasa terus menjadi orang asing di kota yang sudah 5 tahun menjadi tempat tinggalnya. Carla tak mengerti mengapa dia masih merasa asing di situ, teman-teman sekantornya pun demikian. Ada Horlan cowok Batak yang baru sampai dua bulan yang lalu, tapi sudah bertingkah laku seperti orang Betawi asli. Hal itu tidak berlaku bagi Carla, dia merasa dia tercabik dari asal usulnya, merasa asing dan tersisih.
Hujan masih terus turun membasahi tanah kota Jakarta yang penat dan bising, Carla masih terus terpaku di depan jendela kamar kontrakan kecilnya, mencoba untuk menggali isi benaknya, mencari jawaban dari semua yang dia rasakan. Masa lalu, mungkin itu yang menjadi penyebabnya, pikiran gadis itu melanglang ke belakang………………..
Terlahir dari orangtua yang berasal dari benua yang berbeda, tak membuat Carla merasa beda dengan anak-anak lainnya, walau pada kenyataan, bentuk fisiknya sudah cukup untuk bisa membuat orang mengambil kesimpulan, bahwa dia sebenarnya berbeda. Kultur dan cara hidup yang sangat terbuka di kota tempat dia lahir tak membedakan warna kulit atau warna matanya membuat Carla merasa sama dengan orang lain di situ, bahkan teman-teman sepermainannya pun seperti tak melihat perbedaan itu, dia menganggap dirinya adalah bagian dari mereka, bagian dari kota itu, dia mencintai tanah, air, alam dan manusia yang bermukim di situ, tempat yang dulu dia anggap sebagai surga masa kecilnya.
Sayang sekali, kebahagiaan itu hanya berlangsung pada masa kecilnya. Semakin dia beranjak dewasa, semakin banyak orang melihat dirinya dengan pandangan yang berbeda-beda. Mulanya, dia sama sekali tak mengacuhkan semua itu, tapi saat usianya mulai beranjak remaja, pandangan-pandangan aneh yang di tujukan orang-orang terhadap dirinya mulai terasa menganggu. Carla sempat bertanya-tanya heran pada dirinya sendiri, mengapa orang lain memandangnya sedemikian rupa ? saat usianya menginjak 16 tahun, dia menyadari kenyataan bahwa dia berbeda, di hadapan cermin lemari bajunya. Saat itu, hal pertama yang di lihat Carla adalah realita bahwa dia tak punya mata seperti teman-teman sepermainannya semenjak kecil. Dia bermata biru langit. Lebih dalam lagi dia memperhatikan dirinya, Carla semakin menyadari, bahwa dia benar-benar berbeda. Kulitnya putih susu, tak sama seperti orang² di kampung yang rata-rata berkulit agak kuning - kecoklatan. Dulu waktu dia masih kecil, banyak orang suka menyebutnya dengan sebutan ’BULE’, kini dia mulai menyadari arti sebutan itu, dan dia merasa sangat terganggu. Kalau saja pandangan orang lain terhadap dirinya hanya sebatas rasa heran atau semacam itu, Carla tak akan merasa terganggu, tetapi yang menyakitkan adalah pandangan bercampur curiga terhadap dirinya. Bahkan teman-teman bermain Carla semenjak mereka masih kanak-kanakpun mulai menjauhi dirinya. Tragedi pertama berawal di pesta ulang tahun Nina, sahabat karib Carla. Saat itu adalah pertama kali bagi gadis itu menghadiri sebuah pesta khusus untuk anak-anak berusia remaja.
Carla merasa sangat bersemangat dengan pesta itu, dia tak sabar menanti hari ulang tahun Nina seperti sedang menanti hari ulang tahunnya sendiri. Saat hari itu tiba, dengan penuh rasa antusias Carla menyiapkan dirinya untuk menghadiri pesta sahabat karibnya itu. Gaun yang akan dia pakai di pesta itu sudah di persiapkan sejak sebulan yang lalu. Dengan bantuan Ibunya, Carla mendandani dirinya yang saat itu akan menginjak usia 17 tahun.
Pesta ulang tahun Nina berjalan dengan lancar dan sangat memuaskan. Musik yang di persiapkan Joe, kakak laki-laki Nina sesuai dengan selera semua orang yang hadir. Suasana riang gembira itu akan mungkin akan berlangsung lama bagi Carla kalau saja kejadian tak mengenakkan tidak datang menimpa dirinya. Berawal dari Carla yang ingin pergi ke kamar kecil. Tanpa dia sadari, ada sesosok tubuh yang mengikutinya secara sembunyi-sembunyi saat dia melangkah ke kamar kecil di rumah Nina yang sudah sangat di kenalnya. Carla baru saja memutar gagang untuk membuka pintu dan keluar dari WC, saat gagang pintu satunya di tahan oleh seseorang. Carla membuka mulutnya hendak berteriak, tapi lelaki yang sudah berdiri di hadapannya dengan sigap membekap mulut gadis itu. Bukan Carla namanya kalau dia tak melawan, dia lalu mencoba untuk melepakan diri dari laki-laki itu, tapi lelaki itu terlalu kuat bagi dia. Carla sudah hampir putus asa karena kelelahan dalam upayanya mencoba untuk memberontak, tiba-tiba pintu keluar kamar kecil di dorong secara paksa dari luar. Ternyata Anggie, kakak Nina sudah berdiri di sana. Laki-laki yang tangannya sedang merengkuh Carla dengan kuat tiba² mengendurkan pelukannya. Carla masih bingung dan tak menyadari keadaaan yang sebenarnya, menghambur melepaskan diri dari laki-laki itu, berlari ke arah kakak Nina sambil tersedu. Tanpa di sangka, begitu dia tiba di hadapan kakak Nina, sebuah tamparan keras melayang ke pipi kanannya. Anggie menampar Carla.
‘’ Kak Anggie, kenapa kakak menamparku ? laki-laki itu hendak berniat jahat
padaku, Kak !! ‘’ Carla berucap heran di sela sedu-sedannya
‘’ Dasar anak pelacur ! Ibu dan anak sama saja, pelacur !! ‘’ Anggie berkata ketus penuh kemarahan. Carla terpaku mendengar kata-kata yang di lontarkan oleh kakak sahabat karibnya. Dia benar-benar tak mengerti, dengan pikiran yang di liputi oleh berbagai tanda tanya, dia menatap laki-laki yang ada di belakangnya. Terlihat laki-laki itu menatap Anggie dengan mata memelas.
‘’ Maafkan aku, Ang. Dia yang lebih dulu…….’’ Laki-laki itu berucap penuh kemunafikan, seketika Carla menjadi berang. Tapi Anggie sudah berbicara lebih dulu, sebelum Carla sempat mengucapkan sepatah katapun.
’’ Aku sudah tau itu, bangsat ! sekarang keluar dari rumahku, Leon. Dan jangan pernah datang lagi ke sini !! ’’

Peristiwa selanjutnya sangat menyakitkan Carla. Kepada seisi keluarganya, tak terkecuali Nina, sahabat karib Carla, Anggie bercerita bahwa Carla kedapatan sedang mencoba untuk merayu Leon pacar-nya di WC rumah mereka. Sejak malam itu, Nina tak mau lagi berbicara pada Carla. Dan, yang lebih menyakitkan, cerita itu tak hanya sampai pada telinga seisi keluarga Nina, tapi tersebar ke seluruh pelosok kampung mereka. Dalam jangka waktu seminggu, hampir semua orang yang berpapasan dengan Carla menatapinya seperti dia seorang penderita kusta saja. Carla sedih sekali hingga akhirnya dia menjadi anak pemurung dan suka mengurung dirinya di dalam kamar kalau tidak sedang ke sekolah.
Puncak kesedihan Carla adalah saat Nina menyebarkan berita itu di sekolah. Teman² sekolah bahkan guru² mereka memandang Carla seperti sampah. Karena tak tahan dengan semua itu, saat Carla menyelesaikan SMA-nya, dia meminta Ibunya untuk mengijinkan dia tinggal di Jakarta, di rumah kakak tertua Ibunya.
Pelarian itu ternyata sia-sia, tetap saja perbedaan fisik antara Carla dengan orang-orang di sekelilingnya membuat gadis itu terganggu. Pernah dia mencoba untuk memanfaatkan perbedaan itu dengan bekerja sambilan menjadi model untuk iklan pakaian, tetapi buntutnya tetap sama saja, ujung-ujungnya selalu saja ada seseorang yang menawarkan bantuan atau kebaikan dengan meminta imbalan mengerikan. Carla bertahan demi prinsip dan harga dirinya, mungkin saja dia berbeda secara fisik, tapi kultur dan adat itiadat bangsa ini melekat erat di dalam sanubari dan pikirannya. Mengapa orang² hanya mau melihat kulit luar saja ?, selalu Carla bertanya dengan hati perih setiap kali ada yang memandangnya baik dengan tatapan aneh, iri, kagum ataupun curiga.
Dengan berlalunya waktu, Carla berpikir bahwa pikiran masyarakat sekitar juga akan berubah. Tapi ternyata semuanya hanya menjadi impian yang tak terwujudkan, semuanya tetap sama, tak ada satupun yang berubah. Yang berubah paling² hanya tawaran untuk bermain film buka-bukaan atau tawaran iklan yang semakin menderas. Carla kecewa. Bukan itu yang dia inginkan, cita²nya semenjak kecil adalah menjadi seorang pengacara, tetapi kandas saat hari pertama dia hendak mendaftarkan diri di fakultas hukum, seseorang yang mengaku sebagai asisten tetek bengek meminta Carla untuk menemaninya satu-dua malam kalau dia ingin masuk tanpa banyak halangan ke fakultas hukum universitas ternama itu. Sebenarnya bisa saja dia mencari universitas lain, tapi dia sudah terlalu putus asa. Baginya semuanya sama saja, kemanapun dia pergi, orang tetap akan memandangnya sebagai seorang mahkluk aneh yang berbeda. Dia benar-benar bosan. Bosan dengan perbedaan yang dia miliki itu.

Kebosanan itu mencapai batas juga akhirnya. Carla bosan mempertahankan prinsip dan harga diri yang selama ini dia jaga, dia bosan menunggu pengertian dari orang² di sekeliling bahwa dia sama seperti mereka, hanya kulit luar-nya saja yang berbeda. Dia akhirnya menyerah pada kenyataan. Tawaran pertama yang dia terima adalah ajakan makan malam seorang produser film yang bertubuh tambun dan mempunyai sembilan anak. Dia menangis, untuk yang terakhir kalinya.
Tapi semua itu berlangsung sudah begitu lama, dia tak tahu lagi entah sudah berapa lama. Usianya kini beranjak 29 tahun, semuanya itu berawal saat dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 22.
Carla masih terus menatap ke luar jendela kamar kontrakan-nya, hujan masih saja terus jatuh ke permukaan tanah. Dua bulan yang lalu, surat lamaran Carla untuk bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahan garmen di balas. Dia di terima untuk bekerja di sana. Ada sedikit rasa bahagia yang meliputi hatinya saat dia tahu, bahwa ternyata tak semua pintu tertutup untuk orang-orang seperti dirinya. Memang masih ada segelintir orang-orang di perusahan itu yang mencoba untuk menggoda dia, tapi Carla sudah memutuskan untuk menutup masa lalunya. Dia masih teringat dengan jelas, hari pertama saat dia memasuki kantor kerjanya. Ada begitu banyak pasang mata yang memandanginya dengan berbagai macam reaksi. Seperti biasa, laki-laki dengan pandangan mata kagum atau nafsu, dan perempuan dengan pandangan mata iri. Tapi Carla tak peduli, dia sudah terlalu terbiasa dengan semua itu, dia tak mengacuhkannya.
Hujan yang jatuh mulai berkurang, kini yang tertinggal hanyalah rintik-rintik kecil yang memaksakan diri untuk jatuh juga, membasahi tanah Jakarta yang kerontang. Carla masih terpaku di depan jendela itu. Mungkin saja semua akan berbeda jika aku tak berbeda dari mereka-mereka itu, mungkin saja semuanya tak akan jadi seperti ini jika Ibuku tak menikahi laki-laki asing yang aku sendiri tak sempat mengenalnya karena dia keburu meninggal saat aku masih bayi, mungkin saja semuanya akan berakhir dengan kebahagiaan jika……..Carla masih mengeluh dan berandai-andai dalam hatinya.
Semuanya mungkin akan lebih baik jika aku tak pernah lahir ke dunia ini, sesal Carla dalam hatinya. Tapi dia mencoba tersenyum juga walau pahit, toh waktunya untuk hidup tak lama lagi, dua bulan yang lalu, dia menerima hasil laboratorium, bahwa dia positif mengidap AIDS, bukan hanya virus HIV, tetapi AIDS.
Satu yang tak pernah dia mengerti, mengapa orang² di kampungnya menyebut Ibu Carla sebagai pelacur, karena dia menikah dengan orang asing ?! irikah ? cemburukah ? setahu Carla, Ibunya tak pernah sedikitpun menyusahkan orang lain. Bahkan hingga akhir hidupnya, Ibu Carla memilih untuk sendiri ketimbang menerima lamaran² laki-laki yang suka padanya. Saat Carla bertanya mengapa, dia hanya menjawab setengah bercanda, bahwa semua cintanya sudah di bawa mati ayah Carla. Gadis itu hanya tersenyum saat mendengar jawaban Ibunya, tapi dia tahu kalau semua itu benar adanya. Dia merasa berdosa terhadap Ibunya, tapi hukuman untuk dia sudah tiba, dia hanya harus menunggu.
Dia kini hanya hidup untuk menghitung waktu yang tersisa, perbedaan itu telah menghancurkan dirinya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers