Popular posts

nsikome On 15 Juni 2011

Hello the teenagers!!!..Cerpen ini spesial untuk kamu, tentang cinta, kepercayaan diri, tentang perjuangan...Inspired from a friend 'Devi Tumeno", yg cinta-nya tak berujung, dan pada akhirnya, lebih mengambang di awan hingga detik ini karena sang gadis telah memiliki hidup yg baru (hehehe).Created di tahun 2004, publicated di majalah Aneka Yess dan honorku dibayar di tahun yg sama juga^_^..Semoga cerpen ini bisa menjadi INSPIRASI..


LAGU UNTUK YULI

Oleh : N.Sikome

Untuk yang kesekian kalinya, Yuli mendengar dentingan gitar yang melagukan nada-nada indah, yang sama sekali tak dia kenal. Gadis itu memperlambat langkahnya, lalu mencoba untuk mencari wajah pemetik gitar itu. Baru seminggu Yuli dan keluarga-nya pindah, namun dia hampir sudah bisa menyenandungkan nada-nada itu. Awalnya, dia berpikir bahwa semuanya hanya kebetulan, tapi setiap kali dia lewat di depan rumah itu, selalu saja terdengar musik yang sama, keluar dari denting-denting gitar. Akhirnya, Yuli jadi berpikir bahwa si pemetik gitar sengaja memainkan musik itu untuknya.

Lagi-lagi, Yuli hanya bisa mendengus kecewa, wajah pemilik gitar itu tak bisa dia lihat. Gadis itu lalu meneruskan langkahnya.

‘’ Bagus juga kompleks rumah-mu yang baru, Yul ! ‘’ komentar Eby saat berkunjung ke rumah Yuli yang baru. Sebenarnya Yuli dan keluarganya tak pindah jauh dari rumah mereka yang lama, jarak tempat itu dari kota tempat mereka dulu bermukim hanya sekitar sejam dengan mobil. Sebenarnya, Yuli tak terlalu suka dengan kehidupan seperti itu. Dia hampir tak pernah bisa mempunyai teman tetap, atau sekolah tetap, karena pekerjaan ayahnya selalu membuat mereka berpindah tempat dalam jangka waktu tak lama. Di tempat sebelumnya, mereka bahkan hanya tinggal selama setahun. Waktu yang sangat pendek untuk menjalin persahabatan dengan anak-anak seumur-nya. Untung saja, gadis itu termasuk seorang yang supel dalam bergaul, jadi dia tak pernah mengalami kesulitan untuk bersahabat dengan anak-anak seumurnya di tempat mereka yang baru, setiap kali mereka pindah.

‘’ Aku juga suka tempat ini, By. Nggak bising, terletak di tengah lembah, tapi tak jauh dari pusat kota, kelihatan seperti sebuah desa di tengah kota ! ‘’ tutur Yuli. Dia memang benar, tempat tinggal mereka yang baru ini adalah sebuah kompleks perumahan tua, yang tertata rapi, dan mempunyai taman-taman kecil yang tersebar hampir di setiap sudut jalan. Berbeda dengan tempat-tempat lain di kota itu.

‘’ Gimana, kamu udah punya teman baru ? “ tanya Eby ingin tahu

“ Belum, lagian selama seminggu ini, aku di rumah terus, bantu Mama untuk beresin rumah. Tau sendiri kan, gimana repotnya ngeluarin barang-barang di dalam dus-dus karton. Belum lagi harus hati-hati dengan barang-barang pecah belah milik Mama...hufff...!! “ Yuli bercerita setengah mengeluh

Eby tertawa mendengar penuturan Yuli. Dia lalu menepuk pundak sahabatnya itu, dan berucap menghibur,

“ Nanti kamu pasti bakal dapat teman, Yul..”

“ Oh ya, aku punya kabar jelek nih, minggu depan aku akan berangkat ke Jakarta, aku di minta pulang sama Mama, katanya dia kesepian. Kakak-ku kan baru saja dapat beasiswa untuk meneruskan kuliah ke Melbourne, jadi Mama sendirian... “ lanjut Eby, Yuli kaget sekaligus sedih mendengar itu. Eby adalah sahabat dekatnya semenjak mereka pindah terakhir kali. Bahkan, saat Yuli sudah pindah lagi, dia bela-belain datang mengunjungi gadis itu. Dan mendengar Eby akan balik ke Jakarta, Yuli jadi sedih.

“ Yaaa....aku jadi sendirian, dong...!! ‘’ Wajah gadis itu berubah muram

‘’ Jangan sedih gitu, Yul..nanti kita kan bisa saling telpon... ‘’ hibur Eby. Sejenak kemudian, wajah Yuli mulai berseri,

“ Tapi janji kamu bakal sering telpon aku, ya ? “ pinta Yuli

“ Kamu juga, jangan aku melulu...nanti aku kena marah gara² rekening telpon pada membengkak !! “ mereka berdua lalu tertawa berurai. Tiba-tiba, perlahan namun pasti, terdengar denting-denting gitar mengalunkan sebuah lagu merdu, lagu yang biasa di dengar oleh Yuli. Tapi kali ini datang dari taman kecil di belakang rumahnya

“ By, kamu dengar itu ? “ tanya Yuli

“ Apaan...?? bunyi gitar itu ? “ Eby heran melihat ke antusias-an Yuli mendengar lagu itu

“ Iya...sudah seminggu ini, aku selalu mendengar lagu yang sama. Tapi aku belum pernah melihat wajah pemetik gitarnya... “ cerita Yuli

“ Kita ngintip, yuk ?! “ ajak gadis itu pada sahabatnya. Eby melonjak kaget mendengar ajakan Yuli

“ Gila kamu, Yul !! nanti ketahuan, kan malu.... “

“ Mungkin aja dia cakep kayak Gareth Gates ??!! “ Yuli memancing rasa ingin tahu Eby dengan penyanyi cute asal Inggris yang jadi idola gadis itu.

‘’ Ini anak asal banget, deh !! ‘’ Eby menarik rambut sebahu Yuli pelan, tapi dia lalu mengikuti langkah gadis itu, merapat ke pagar bambu yang di penuhi tanaman rambat yang juga berfungsi sebagai penghalang pandangan dari tetangga. Nampak di rumah sebelah, seorang cowok berambut ikal sebahu, tengah duduk di sebuah kursi rotan. Dia agak kurus, namun cakep. Kalau di lihat sekilas, dia agak mirip-mirip dengan Ari Wibowo, cuman kulitnya agak lebih gelap.

‘’ Wuihh...ini sih namanya anugerah, aku punya tetangga cowok cakep.. ‘’ gumam Yuli sambil geleng-geleng kepala

‘’ Hush...kamu ini, selalu saja begitu.... “ tutur Eby sambil menjitak kepala Yuli

“ Tapi dia cakep juga... “ lanjut Eby, mendengar itu Yuli langsung balas menjitak kepala gadis itu,

“eeee....dia ada maunya juga.... “ keduanya lalu tertawa pelan

“jangan cuma ngintip, dong...kalau mau kenalan, kesini aja, aku cowok baek-baek, dan nggak kanibal !! “cowok itu tiba-tiba bersuara. Eby dan Yuli langsung berdiri tegak, dengan muka merah. Ternyata cowok itu tahu mereka sedang mengintip dia.

“Ayo dong...jangan takut, aku kan udah bilang, aku ini bukan kanibal.. “ajak cowok itu lagi, ada senyum yang tersungging di bibirnya. Yuli menatap Eby, lalu mereka berdua bergegas keluar dari pagar rumah Yuli, menuju rumah tetangga.

Dari dekat, cowok itu ternyata lebih cakep. Eby dan Yuli sampai terpana.

"Hai...namaku Deff, kamu tetangga baru-ku, ya ? “cowok itu mengulurkan tangannya ke arah Yuli

‘’ Eh...iya..kami baru seminggu pindah kesini, namaku Yuli... ‘’ ujar Yuli, balas memperkenalkan dirinya

‘’ Aku Eby, “ tanpa menunggu lama-lama, Eby langsung memperkenalkan dirinya, takut di lupain 'kali!

Mereka bertiga lalu bercakap-cakap, saling bercerita tentang diri masing-masing. Sebenarnya hanya Eby yang ngomong, sedangkan Deff hanya diam mendengarkan

‘’ Eh, dari tadi kok hanya aku dan Eby yang ngomong, sekarang gantian dong, Deff...!!

‘’ protes Yuli, saat menyadari bahwa sejak tadi Deff hanya jadi penonton

‘’ Ahh...aku ?? sama sekali tak ada yang menarik dari aku. Semenjak kecelakaan motor setahun yang lalu, aku tak bisa lagi berjalan dan harus diam terus di kursi roda,

“ Deff berucap getir. Yuli dan Eby terpana. Mereka terlalu asyik mengagumi kacakepan Deff, hingga mereka berdua tak memperhatikan bahwa dari tadi Deff hanya duduk terus

“ Ehmm...maafkan aku, Deff. Bukannya aku bermaksud untuk mengorek tentang___’’

'’ Aku tahu, nggak apa-apa, kok ! “ Deff memotong ucapan serba salah Yuli.

“ Aduh ! hari sudah mulai sore, aku harus pulang ! “ Eby berseru, mereka keasyikan ngomong, hingga tak menyadari bahwa mereka sudah lama sekali berada di situ

“ Aku juga, masih harus bantu Mama beres-beres rumah... “ Yuli juga minta diri. Sebenarnya gadis itu merasa agak nggak enak, dia takut Deff jadi berpikir, bahwa mereka mau pulang karena tahu bahwa Deff cacat

“ Okey...senang kenalan dengan kalian berdua, “ Deff mengulurkan tangannya, yang langsung di sambut oleh Eby

“ Oh ya, Deff..besok boleh nggak aku main kesini ? “ Yuli tiba-tiba bertanya. Deff menatap gadis itu, kelihatan banget dia agak surpris

“ Tentu saja, mengapa nggak boleh ? “ Deff tersenyum, dia senang, dan Yuli tahu itu.

Besoknya, setelah selesai membantu Mama-nya memindah pot-pot bunga yang seabrek, Yuli langsung menuju ke rumah Deff. Nampak di dekat pagar, seorang wanita setengah baya tengah menggunting tanaman bonsai.

“ Selamat sore, tante..Deff ada ? “ Yuli memberi salam sekaligus menanyakan Deff

“ Selamat sore, kamu pasti Nak Yuli... “ tebak wanita itu, dia hendak mengulurkan tangannya, tapi niatnya di urungkan saat menyadari bahwa tangannya belepotan tanah

“ Saya Mama -nya Deff, “ ternyata itu Ibunya, Yuli tersenyum sopan

“ Deff ada di taman belakang, langsung aja kesana.. “ Yuli lalu mengangguk dan berterima kasih, setelah itu berjalan menuju ke belakang. Deff nampak lebih cakep dengan kaos merah maron-nya, dia tengah duduk di kursi rotan yang kemarin, sambil memeluk gitarnya

“ Selamat sore, Deff... “ Yuli menghampiri cowok itu. Deff tersenyum,

“ Kirain kamu nggak jadi datang... “ dia lalu menunjuk ke kursi di depannya

“ Duduk dong, kamu mau minum apa ? “ tanya Deff menawarkan

“ Kopi, ada nggak ? “ tanpa sungkan Yuli meminta, dia memang seperti itu. Dan, sepertinya itu yang membuat dia gampang mendapat teman. Gadis itu sangat luwes dalam bergaul, tapi nggak vulgar

“ Ihhh...masak cantik-cantik minum kopi...itu kan minumannya orang yang sudah berumur ??!! “ Deff merasa heran

“ Biarin ! kamu tau nggak ? kopi itu bisa menjaga keseimbangan berat badan, caffein yang terkandung di dalamnya menyerap minyak dalam lemak ! “ Yuli membela diri

“ Emang kamu punya lemak di mana ? badan kurus gitu.... “ Deff menyindir tapi sebenarnya dia bercanda. Yuli membelalakan matanya, tapi cowok itu malah balas mencibir.

“ Jahat kamu, Def !! “ Yuli memukul pundak Deff, yang berusaha mengelak, tapi malang bagi cowok itu, kursi yang dia duduki tiba-tiba kehilangan keseimbangan, karena salah satu kakinya terpelosok ke dalam tanah berumput. Dia lalu jatuh ke tanah, di iringi oleh jeritan Yuli,

“ Aduh Deff...kamu nggak apa-apa ? “ Yuli mencoba untuk membantu Deff berdiri, tapi di luar dugaan gadis itu, Deff menepis tangannya kasar

“ Aku bisa bangun sendiri, aku nggak perlu bantuan-mu !! “ tukas cowok itu bernada marah. Yuli tercengang, dia hanya bermaksud untuk menolong, tapi Deff malah jadi marah

“ Deff...aku kan hanya bermaksud untuk___ “

“ Membantuku ? aku tak perlu bantuanmu...aku kan sudah bilang !! “ Deff menyela ucapan Yuli

“ Kalau kamu nggak senang, kamu kan hanya harus bilang, nggak perlu ngomong keras kayak gitu.... “ nada suara Yuli mulai mengarah ke tangisan. Sungguh dalam sejarah hidupnya, tak pernah dia di kasari oleh cowok seperti itu.

“ Maafkan aku, Yul...aku...aku hanya nggak suka di kasihani.. “ Deff meminta maaf, dia menyesal telah bicara kasar pada Yuli

“ Sejak kecelakaan itu, dan sejak aku harus duduk di kursi roda, aku jadi pemarah, mudah tersinggung, akibatnya seperti tadi...aku sungguh menyesal, kamu mau kan memaafkan aku ?? “ pinta Deff penuh harap.

Yuli menatap mata cowok itu, ada ketulusan di sana. Dia lalu mengangguk, “ Tapi, lain kali coba untuk menahan diri, ya ? “ Yuli menatap Deff.

“ Okey, boss !! “ Yuli tersenyum mendengar ucapan Deff. Setelah itu, mereka berdua mengobrol panjang lebar. Deff bercerita tentang kecelakaan yang dia alami, dan juga tentang ucapan dokter yang merawatnya, bahwa bila dia mau melatih kedua kaki-nya, dia bisa berjalan walau itu memerlukan waktu yang lama.

“ Kenapa kamu tak melakukannya ? “ tanya Yuli heran. Deff mengangkat bahunya cuek,

“ Mereka hanya mau menghibur diriku, Yul. Aku tahu kok, itu nggak mungkin... “ tutur cowok itu datar

“ Tapi, mereka itu dokter, dan mereka tahu apa yg mereka katakan. Nggak ada salahnya kan kalau kamu mencoba ?? oh ya...gimana kalau aku yg jadi pelatih-mu ?? libur kuliah masih panjang, dan aku bosan sendirian di rumah, gimana ?? “ tawar Yuli, Deff menatap gadis itu. Nampak Yuli sangat antusias. Cowok itu menghela napas panjang, kalau saja Yuli tahu...

“ Deff.....jawab dong !! “ desak Yuli. Cowok itu menatap Yuli sekali lagi, lalu dia mengangguk pelan, namun pasti

“ Horeeeee !!! “ Yuli bersorak girang, tak urung Deff tersenyum geli melihat tingkah gadis itu

“ Kita mulai besok pagi, yaa...sekarang aku pulang dulu, sudah sore, nih !! “ tanpa menunggu jawaban Deff, Yuli langsung berlari keluar dari halaman rumah Deff.

“ Kamu akan jadi pelatih tetangga sebelah ? “ tanya Papa Yuli saat gadis itu meminta ijin pada orangtua-nya

“ Iya, Pa. Kasian dia, katanya dokter yg merawat dia pernah bilang, kalau dia bisa berjalan bila dia mau melatih kedua kakinya, tapi dia tidak punya orang untuk membantu dia. Dan yang paling penting, adalah orang yang bisa memberi semangat padanya... “ tutur Yuli panjang lebar, berusaha untuk meyakinkan orangtua-nya. Dan dia tak perlu berlama-lama berargumentasi, karena Ayahnya langsung mengijinkan.

Yuli sudah membuat program latihan Deff. Dia langsung membuat semua itu sepulang dari rumah Deff kemarin sore. Dan hari ini dia akan melaksanakannya. Program pertama, mencoba untuk melatih otot-otot kaki cowok itu.

“ Siap Deff ? “ Yuli bertanya dengan lagak pelatih sport

“ Emangnya kita mau lomba lari di mana ? “ tanya Deff bercanda, gadis itu kelihatan serius sekali

“ Kita coba dulu untuk melatih otot-otot kakimu hari ini. Anggap aja aku ini dokter ! “ tukas Yuli. Gadis itu lalu berlutut dan mulai menggulung celana panjang Deff sampai ke lutut.

“ Kita akan coba dengan kaki kanan dulu, sekarang coba kamu kejangkan otot kakimu... “ perintah Yuli. Deff mencoba untuk melakukannya, tapi tak berhasil

“ Ku bilang juga apa, nggak akan ada gunanya, Yul... “ tutur Deff pesimis

“ Namanya juga baru pertama kali, ayo kita coba sekali lagi... “ Yuli berucap optimis dan menghibur. Deff hanya tersenyum miris mendengar kata-kata gadis itu

Selama hampir tiga jam mereka Yuli melatih Deff untuk menggerakkan otot kaki-nya, namun tak ada hasil apa-apa.

“ Ayo...sekali lagi, kamu pasti bisa, Deff... “ desak Yuli

“ Yul, please...aku capek, lagian sudah ku bilang kalau semua itu hanya mimpi, aku nggak akan pernah bisa jalan... “ mendengar itu, Yuli entah mengapa langsung naik pitam

“ Kamu memang bodoh, pesimis, dan nggak pengen hidup. Walaupun aku bukan dokter, tapi aku bisa lihat, bahwa kamu memang bisa jalan, kalau kamu mau !! tapi kelihatannya kamu hanya mau hidup terus di ketiak Mama kamu, dan di layani terus sepanjang hidup kamu, karena itu kamu bilang kamu nggak mampu___ - “ PLAK !!! sebuah tamparan di pipi Yuli menghentikan gadis itu bicara. Yuli terpana, dia sama sekali tak menyangka kalau Deff akan menamparnya. Gadis itu lalu berlari keluar dari situ, dengan pipi penuh airmata.

Saat Mama-nya bertanya, mengapa dia tak lagi pergi ke rumah Deff, Yuli hanya menjawab, bahwa Deff memutuskan untuk berlatih sendiri. Sementara itu, sepeninggal Yuli, Deff menyesali dirinya habis-habisan. Hingga malam tiba, cowok itu terus terdiam di taman belakang rumahnya, memikirkan Yuli, dan apa yang baru saja dia lakukan pada gadis itu.

Sebulan setelah itu, Yuli sudah mulai masuk kuliah di kampusnya yang baru. Gadis mencoba untuk melupakan tamparan Deff, yang tak hanya membuat pipinya merah, tapi juga melukai hatinya. Sebenarnya, gadis itu juga menyalahkan dirinya sendiri, yang bicara agak keterlaluan pada Deff, tak heran kalau cowok itu jadi marah lalu menamparnya. Tapi, Yuli tetap menganggap bahwa tingkah cowok itu memang keterlaluan, dan nggak pantas untuk di maafkan. Namun biarlah, tokh skarang dia sudah mulai kuliah lagi, dan dia akan punya banyak teman, lalu melupakan Deff.

Semenjak kejadian sore itu, dia tak pernah lagi mendengar suara gitar Deff, dan jujur saja, Yuli merindukan itu. Namun dia tahu, bahwa yang bisa berbuat sesuatu untuk Deff, hanya diri cowok itu sendiri.

Yuli sedang makan siang di kantin universitas, saat Aline datang dan memanggilnya. Dia adalah sahabat pertama Yuli di kampus baru-nya.

“ Yul, ada yang cari kamu.. “ tutur Aline

“ Siapa ? “ tanya Yuli. Gadis itu merasa heran, nggak biasanya orang mencari dia di kampus.

“ Cowok, cakep ! “ jawab Aline seraya mengerlingkan matanya

“ Pacarmu 'kali !! “ Hendra teman sekelas yang duduk di hadapan Yuli menyahut, gadis itu langsung membelalakan matanya

“ Enak aja ! aku nggak punya pacar, tauk !! “ bentak gadis itu. Dia lalu memutar badannya ke arah pintu kantin, untuk melihat siapa yang mencarinya. Yuli terpana, itu Deff. Gadis itu tak percaya, Deff mencarinya hingga di kampus. Dan yang paling dia tak percaya adalah, Deff ada di sana, tengah berdiri di atas kedua kakinya.

“ Yul, maafin aku untuk yang kedua kalinya, ya ?? “ ujar Deff saat dia tiba di hadapan gadis yang tengah ternganga tak percaya itu

“ Mau kan kamu memaafkan aku ?? “ tanya Deff lagi

“ Deff...kamu...kamu... “ Yuli tak mampu meneruskan kata-katanya

“ Yes...girl...menghilang selama sebulan untuk pergi ke pusat re-edukasi. Tempat orang² cacat temporer melatih bagian tubuh mereka. Dan inilah hasilnya !! “ cerita Deff. Yuli masih terdiam. Deff lalu menyeretnya keluar dari kantin, di ikuti oleh pandangan menggoda teman²nya

“ Semua ini karena kamu, aku melakukannya untuk kamu, dan untuk diriku juga. Sebenarnya, aku nggak ingin melatih kedua kaki-ku, karena aku ingin menghukum diriku sendiri. Saat kecelakaan itu terjadi, aku tengah bersama Luna, pacarku. Dia meninggal. Aku sampai membenci diriku karena itu, hingga kamu datang... “ Deff menatap Yuli, gadis itu masih tak berkomentar. Dia lalu melanjutkan,

“ Saat kamu datang, aku hampir tak percaya. Kamu dan Luna, bagai pinang di belah dua. Tapi aku sadar sepenuhnya, bahwa kamu bukan Luna, dan dia tak akan pernah kembali lagi. Karena kamu, aku jadi mengerti, bahwa aku masih hidup, dan aku harus hidup, bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk keluarga-ku, dan untukmu... “ kata-kata terakhir Deff sangat mengejutkan Yuli. Dia tak mampu berkata-kata

“ Yul...katakan sesuatu...please...kamu masih marah padaku ?? “ tanya Deff, ada nada takut di dalam suaranya, takut kehilangan.

“ Aku....aku nggak tahu harus ngomong apa... “ Yuli bingung sekali

“ Lagu itu... “ Yuli ingin melanjutkan pertanyaannya, tapi entah mengapa dia merasa malu

“ Lagu itu, tercipta saat pertama kali aku melihat-mu...aku tak pernah bisa membuat sebuah lagu sebelumnya. Lagu itu untukmu.... “ jawab Deff pasti. Yuli mengangkat wajahnya, nampak Deff menatapnya penuh harap. Ada senyum yang perlahan mulai mengembang di bibir gadis itu, dan siang itu, terasa begitu sejuk bagi Yuli...


{ 4 komentar... read them below or Comment }

  1. :f
    thk's mamo......

    BalasHapus
  2. saya senang sekali dg cerita-2 di rmh ini....awalnya datar-datar sj kelihatannya. Tp bangunan dramanya sungguh asyik.

    Sys..ini tulisan terbaru di blog MamaFrida
    http://anakkuautis.blogspot.com/2011/10/menu-campuran.html

    BalasHapus
  3. Ma, sudah kok...sudah kesana, malah tiap hari aku rajin banget nyambangin "rumah" Wildan, liatin apa ada yg baru dari cowok kesayanganku ya? hehehehe.....

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers