Popular posts

nsikome On 05 Juni 2011

Hai semua,...hari ini sudah seminggu lewat setelah postingan part 1 CERBER The Lost City, dan seperti yang sudah aku tulis sebelumnya, setiap hari Senin, aku akan memosting part yang berikutnya. Semoga kalian semua suka dengan cerita ini, dan terus sabar mengikuti part-part yang berikutnya hingga selesai.(NS).




THE LOST CITY
(Golden Mountain) PART 2


Mereka berdua berpakaian seperti penduduk setempat, tapi agak sedikit berbeda. Menurutku, sedikit kelihatan mewah dengan begitu banyak benang berwarna emas yang tersulam indah di baju mereka, dan juga kelihatan kuno dan antik.
Dengan heran, ku dekati mereka. Aneh juga menemukan anak-anak seumur itu di sini, sebab setahuku, tak ada lagi kampung yang masih masih di diami oleh orang-orang Peru jaman sekarang disekitar tempat ini.
“ Hey !! bagaimana kalian bisa melakukan itu ? “ tanyaku dan di balas dengan tawa renyah. Aku makin penasaran.
“ Kamu tidak bisa bicara atau tidak mengerti bahasa Inggris, sih ? “ tanyaku agak bodoh, sebab mana bisa anak-anak Peru ngerti bahasa Inggris ?
Ku lihat mereka berdua saling berbisik-bisik sambil tertawa cekikikan, tanpa sengaja, aku mendengar sebuah kata yang mereka ucapkan agak keras, ternyata mereka berbicara dengan bahasa Spanyol.
“ Kamu ini jangan menghina Manta*-ku, ini ku beli di negara kamu, tau ! “ ku balas percakapan mereka dengan bahasa Spanyol.
Ternyata, ada gunanya juga punya Papa arkeolog, selain jalan-jalan ke segala penjuru planet bumi, aku juga jadi bisa bicara dalam banyak bahasa, walaupun tak sebagus asli-nya. Tapi masih kalah sama Papa dan teman-teman Arkeolognya, mereka sangat pintar bicara dalam banyak bahasa, mungkin karena kerjaan mereka yang mengharuskan mereka belajar bahasa dan kebudayaan suatu negara ? Entahlah. Tapi yang pasti, mereka semua sangat pintar-pintar.
“ Kamu bisa bicara dengan bahasa Spanyol ? “ tanya gadis yang memakai Llautu* di kepalanya.
“ Iya, “ balasku pendek.
“ Kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi ! “ sambungku cepat.
“ Pertanyaan yang mana ? “ kali ini pemuda itu yang buka suara. Dia mempunyai sepasang mata bagus sekali, dengan bola mata yang berwarna hitam kelam, membuatku jadi iri.
“ Bagaimana kamu bisa membuat pacul itu melayang balik menghantam kepalaku ? ” ku ajukan kembali pertanyaanku.
“ Gampang, aku kan seorang Panaca*, kami sejak kecil di ajar menggunakan ilmu sihir. “ jawabnya pendek.
“ Jangan bikin aku tertawa, bangsa Inca asli sudah lenyap semenjak kira-kira enam ratusan tahun yang lalu ! “ tuturku sambil tertawa mengejek.
“ Itu sih kata orang, kalau kamu mau lihat buktinya, silahkan ikut kami. “ gadis ber-Llautu* itu kembali menyahut, dan langsung melangkah ke arah jalan setapak yang di ikuti oleh sang pemuda.
Tanpa banyak komentar, rasa penasaranku yang agak-agak di luar batas membuatku langsung mengikuti langkah mereka. Aku yakin, cerita Inca milik mereka adalah lelucon belaka.
“ Namaku Aning, kamu berdua siapa ? “ tanyaku memecah kesunyian.
“ Aku Annamaya, dan ini kakak sepupuku Intipalla. “ jawab gadis ber-Llautu dengan suara ramah. Tiba-tiba aku jadi suka dengan gadis itu. Dia mungkin seumuran adikku Arya.
“ Kita akan ke mana ? “ tanyaku lagi
“ Ke kampung kami, tempat persembunyian bangsa kami, yang tak pernah di temukan oleh orang-orang, “ Intipalla menjawab bangga.
Aku masih tak mengerti dengan apa yang mereka maksudkan, dengan patuh, ku ikuti langkah² kaki mereka. Tetapi aku tertawa dalam hati mendengar jawaban pemuda berkulit kecoklatan itu. Terus terang kulitnya itu membuat dia kelihatan sangat tampan dan enak untuk dipandang.
Annamaya dan Intipalla berhenti di depan sebuah pohon besar di tepi jurang. Langit yang sudah mulai memerah membuat aku bisa melihat tanpa harus menggunakan obor yang di bawa Intipalla, yang aku sendiri tak mengerti darimana dia mendapatkannya, sebab tadi mereka sama sekali tak membawa apa-apa. Ku hiraukan semua rasa heran di hatiku, dan terus mengamati Annamaya dan Intipalla.
Annamaya tiba-tiba meloncat ke dalam jurang, membuatku langsung berteriak histeris.
“ ANNAMAYAAA…….!! “ aku berlari menuju tepi jurang itu, sementara Intipalla tertawa-tawa geli menyaksikan tingkahku. Dasar orang gila, sepupunya loncat ke jurang, dia malah hanya tertawa-tawa saja. Sesampaiku di tepi jurang, ku longokkan kepalaku ke bawah, dan nampak Annamaya sedang berdiri di atas sebuah batu besar, tepat di bawah akar pohon besar itu.
“ Kamu ini bikin aku hampir mati ketakutan, Annamaya ! “ tukasku kesal, dia hanya tersenyum geli.
“ Ngapain kamu di situ ? “
“ Itu jalan masuk ke kampung kami, “ Intipalla yang menjawab.
“ Bikin kampungnya di mana, sih ? kok susah banget jalan masuknya ? “
“ Jangan banyak tanya, deh ! sekarang coba loncat ke sini ! “ Annamaya mengulurkan sebatang tongkat kayu.
Dengan jantung yang melompat-lompat, aku segera mengambil ancang-ancang untuk turun. Jurang itu sendiri aku tak tahu berapa meter kedalamannya, sebab aku sendiri tak bisa melihat dasarnya. Tak bisa ku bayangkan akan jadi bagaimana tubuh seseorang, bila dia jatuh ke dalam jurang itu. Ku raih tongkat yang di ulurkan Annamaya, dan langsung melorot ke bawah sambil terus berpegang pada tongkat itu. Aku tak berani untuk melihat kebawah, kearah jurang.
“ Uff...!! “ dengan sukses aku ’mendarat’ di samping Annamaya, dengan celana yang sudah pasti telah berlepotan tanah di bagian pantatnya.
Aku sudah bisa membayangkan teriakan histeris Mama saat melihat kondisi celanaku, sudah pasti dia akan mengomel sampai lebaran tahun depan gara-gara nyuci celanaku yang kotornya seperti kerbau baru habis membajak sawah. Beberapa detik kemudian, Intipalla menyusul di belakangku.
Annamaya menarik salah satu akar pohon yang terurai di samping batu tempat kami berdiri. Sedetik setelah itu, terdengar bunyi benda berat yang bergeser, dan batu yang berada di depan kami terbuka lebar. Aku benar-benar tercengang menyaksikan semua itu, seperti di film-film Indiana jones saja.
“ Ayo masuk !! “ Annamaya menarik tanganku memasuki lobang yang ternyata adalah sebuah lorong panjang.
Aku masih belum sepenuhnya pulih dari kekagetan bercampur kekagumanku, dan aku masih tak habis pikir, bagaimana mungkin bangsa Inca kuno itu masih ada, dan tak terdeteksi oleh teknologi canggih satelit spionase yang dimiliki oleh negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa ?.
Intipalla dan Annamaya menarik tanganku memasuki lorong itu, dan entah apa yang disentuh oleh pemuda berkulit hitam manis itu di dinding, lorong itu langsung terang benderang, dan batu dibelakang kami yang merupakan pintu masuk lorong itu langsung bergeser menutup dengan bunyi-bunyian yang kelihatannya seperti bunyi mekanisme barang-barang yang bukan terbuat dari batu.
Kupikir, yang disentuh oleh Intipalla adalah semacam sakelar lampu, tetapi aku makin terheran-heran, saat melihat bahwa yang membuat lorong itu menjadi terang benderang adalah obor-obor seperti yang kulihat di film-film ber-setting jaman Romawi Kuno, tetapi berwarna kuning keemasan, yang jumlahnya mungkin ratusan, sebab lorong itu terlihat sangat panjang.
“ Bagaimana cara kerjanya, Inti ? “ tanyaku terheran-heran. Ratusan lampu listrik yang menyala secara serentak, aku sudah tahu apa penjelasannya, tetapi obor yang berjumlah ratusan yang menyala secara serentak seperti ini, hanya sihir penjelasan yang paling gampang dari semua itu.
“ Cara kerja apa ? “ dia balas memandangiku bingung.
“ Obor-obor yang menyala secara serentak seperti itu, “ jelasku. Intipalla hanya mengedikkan bahunya, lalu menjawab pertanyaanku dengan sikap acuh tak acuh.
“ Aku sendiri tak tahu, tempat ini sudah ada sejak aku belum lahir, dan kata ayahku juga sudah ada sejak kakek buyutku masih hidup. Kapan dan bagaimana tepatnya itu dibuat, aku tak tahu. Mungkin nanti aku akan menanyakannya pada ayahku ! “
Kami bertiga lalu meneruskan perjalanan menyusuri lorong panjang yang tak kelihatan ujungnya itu. Dinding lorong-lorong itu sendiri terbuat dari semacam batu-bata yang dicat berwarna kuning emas, dan memiliki relief-relief khas bangsa Inca, seperti yang bisa dilihat di kuil-kuil peninggalan bangsa Inca kebanyakan. Tetapi yang di lorong ini, ukirannya terlihat sangat halus dan kelihatan mengkilat, seperti sering dibersihkan dan digosok setiap hari.
Aku sendiri tak henti-hentinya menyuarakan kekagumanku atas apa yang kulihat disepanjang lorong, sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada Intipalla dan Annamaya. Mereka berdua hanya senyum-senyum geli melihat ulahku itu, dan sesekali menjawab pertanyaanku yang mereka ketahui jawabannya.
Pemandangan yang menyambutku sangat luar biasa. Lorong yang menyambung dunia luar dengan kampung Annamaya dan Intipalla itu terletak di atas sebuah bukit kecil. Kampung mereka terletak di bawah bukit itu. Terlihat ada banyak kuil-kuil berwarna keemasan dan juga rumah-rumah berwarna sama, terhampar di bawah bukit di sinari matahari sehingga memantulkan cahaya yang menyilaukan mataku.
Aku tiba-tiba seperti tersadar. Lorong itu, bukan dicat dengan warna emas, tetapi itu adalah batu yang memang terbuat dari emas. Aku seperti kehilangan suaraku, tak yakin dengan apa yang kupikirkan. Tetapi bukan Aning namaku, jika tak kuungkapkan rasa ingin tahuku.
“ Annamaya, terbuat d..a..ri a..ppa semua i..tt..tu ? “ tanyaku terbata-bata,
“ Semua itu terbuat dari emas murni, “ jawab gadis itu datar, seperti tak tahu bahwa itu sangat berharga didunia luar.
Aku jadi teringat pembicaraan Papa dengan direktur perusahaan yang mensponsori grup mereka di rumah dulu.
Waktu itu, aku hanya mendengar Papa menyebut-nyebut ‘Kota Yang Hilang’, yang memiliki harga besar, tetapi tak ternilai. Aku sendiri tak mengerti apa itu. Sekarang aku baru tahu, bahwa kampung Annamaya itulah yang mereka maksudkan. Harga besar tetapi tak ternilai yang mereka maksudkan adalah semua emas-emas yang dimiliki oleh suku Intipalla dan Annamaya, yang aku sendiri tak kuasa mempercayai keberuntunganku ini.
Kota yang Hilang, yang dicari-cari oleh para arkeolog, bahkan yang paling terkenal sekalipun, ditemukan oleh aku Aning Damayanti Baskoro, seorang anak yang baru saja lulus SMU, dari Indonesia yang kebetulan tengah mengikuti Papanya dalam sebuah ekspedisi arkeologi saat liburan. Sesaat ada rasa hangat dan bangga yang mulai merayapi hatiku. Tanpa sadar membuatku tersenyum sendiri.
“ Inti, orang-orang di kampungmu itu, mereka bicara dengan bahasa Spanyol juga ? “ aku masih belum bisa mengembalikan emosiku, aku benar-benar tak percaya dengan keberuntunganku ini. Maksud hati ingin menemukan barang tua seperti para arkeolog, dan kini aku menemukan sebuah Kota yang Hilang, yang kemarin hanya menjadi gosip di kalangan arkeolog dunia.
“ Tidak banyak, hanya orang-orang tertentu saja. Dulu, sewaktu bangsa Spanyol berperang dengan bangsa kami, ada beberapa orang yang di tawan termasuk nenek moyangku. Merekalah yang belajar bahasa Spanyol saat menjadi budak orang Spanyol, lalu meneruskan bahasa itu hingga ke generasiku, tetapi kebanyakan berbicara bahasa asli kami yaitu__ “
“ Quechua dan Aymara... “ sambungku terpesona. Intipalla terlihat surpris.
“ Kamu mengenal bahasa kami ? “ tanya dia.
“ Ya, tapi aku tak bisa berbicara dalam bahasa kalian itu. “ Sejarah adalah mata pelajaran favoritku, tapi pengetahuan tentang Inca aku dapat lewat Papa, dan sebagian besar lewat internet.
“ Kupikir, Kota yang Hilang itu adalah Machu Pichu*.... “ rasa terpesonaku masih berkepanjangan.
“ Bagaimana mungkin kalian bisa bersembunyi selama ini ? “
“ Inti, terus terang aku masih sedikit tidak percaya dengan semua ini, dan aku tak akan percaya seandainya aku tak melihat dengan mataku sendiri. Ini sangat luar biasa ! “
“ Oh ya, mengapa kamu berdua mengintipku di tempat penelitian ? “ tanyaku mengalihkan pembicaraan kami. Pertanyaan itu sudah ingin ku tanyakan semenjak saat aku mengikuti mereka masuk ke dalam hutan.
“ Aku dan Annamaya biasa jalan-jalan keluar kampung, tapi aku tak pernah melihat gadis² seumurku yang datang ke sini berwajah seperti kamu. Dan, tak tahu kenapa aku jadi ingin bersahabat denganmu. Kamu bangsa apa, Aning ? “ Intipalla balas bertanya, sambil memandangku dengan pandangan yang membuat bisa membuat pipi semua gadis seumurku bersemu merah. Mata hitam pekatnya itu, sungguh sangat indah.
“ Aku berasal dari Indonesia, sebuah negara yang terletak di Asia tenggara. “ jelasku dengan suara malu-malu. Tak sadar Intipalla mulai menarik hatiku.
“ Aku tak pernah mendengar nama negara itu, dan mukamu juga beda dengan orang-orang yang sering kami lihat di sekeliling tempat ini, “ tukas Annamaya
“ Negaraku berada jauh sekali dari tempat ini, aku kesini karena ikut ayahku. Dia bekerja sebagai seorang arkeolog. “
“ Arkeolog ? kerja apa itu ?!! “ Annamaya menatapku heran
“ Kerjanya mencari tahu segala hal tentang orang-orang seperti kamu, tentang suku Inca yang kami pikir sudah musnah berabad-abad yang lalu. “ jawabku panjang lebar.
“ Aku senang sekali bertemu denganmu Aning. Sayang sekali aku tak akan pernah bisa bertemu lagi saat kamu hendak balik ke sini untuk bekerja seperti ayahmu. “ Annamaya berujar, dia kelihatan sedih sekali.
“ Mengapa kamu berkata semua itu ? “ tanyaku
“ Dua bulan lagi, aku akan di korbankan untuk perayaan peneguhan pemimpin baru kami. Darah di jantungku akan di ambil. “ jawab Annamaya datar tak punya emosi.
Aku sangat terkejut mendengar kata-katanya. Aku jadi ingat kata-kata Papa padaku ditempat penggalian waktu mereka menemukan pot emas tentang ritual itu.
Sungguh sebuah ritual yang mengerikan. Dijaman modern seperti sekarang ini, dimana hak asasi manusia sangat dijunjung tinggi, dan para pembunuh dihukum mati, apalagi bila mereka melakukannya dengan sengaja dan terencana, di kampung Intipalla dan Annamaya masih dilakukan pengorbanan manusia hanya untuk keperluan pelantikan seorang pemimpin kampung yang baru ? benar-benar akan menjadi sebuah skandal, bila diketahui oleh dunia luar. Aku sendiri sangat tidak setuju dengan cara itu.
“ Apa tak ada jalan lain untuk menghindari hal itu, Intipalla ? “ tanyaku, mereka kan bisa mengganti korban berupa manusia itu dengan hewan, misalnya.
“ Annamaya bisa terhindar dari proses ritual itu bila dia membawakan pengganti-nya sendiri ke hadapan Sapa Inca* “ Intipalla menjawab dengan suara mengandung rasa bersalah.
Aku langsung mengerti mengapa. Mereka sengaja membawaku kesini untuk menjadi pengganti Annamaya. Tiba-tiba saja aku langsung panik.
“ A...aku tak ingin mati, Inti. Mama dan Papaku pasti akan sedih sekali. Aku sudah menganggap kalian sahabatku, bagaimana mungkin kalian tega seperti itu ? “ aku merasa ketakutan sekali.
(BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsung fly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers