Tampilkan postingan dengan label CERBER-The Lost City. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERBER-The Lost City. Tampilkan semua postingan
19 Juni 2011 | By: nsikome

THE LOST CITY-Golden Mountain (Cerita Bersambung) Part 4

Hi guys!!..The Lost City is back...satu minggu lagi berlalu, dan kali ini kita sudah sampai ke Part 4 dari Sekuel 1 The Lost City (The Golden Mountain). Bagi kamu yg suka sama fiksi ini, aku masih menunggu kritik, maupun saran kalian ya..bisa ditulis di box komentar yg ada di bagian paling bawah cerita, ataupun lewat buku tamu yang terselip di sebelah kanan blog. tinggal di klik saja, trus ditulis deh, jangan lupa nama kamu dimasukkin juga..
Selamat menikmati, dan have a nice week!!...

THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 4

“ Anna, mengapa Intipalla harus pergi tergesa-gesa seperti itu ? dan untuk apa dia dipanggil oleh Sapa Inca ? “ tanyaku cepat-cepat. Kulihat Annamaya seprti salah tingkah sejenak, seperti bingung dengan apa yang harus dia katakan. Gadis itu menghela napas panjang, lalu menjawab pertanyaanku,

“ Intipalla adalah anak tertua dari Sapa Inca kami, itu artinya, pada peneguhan nanti, dialah yang akan menjadi Sapa Inca kami yang baru, “ ujarnya lirih.

Aku terkesan, tak bisa kusangkal. Ternyata sangkaan-sangkaanku dari tadi benar. Sejak kulihat banyak orang yang sepertinya sangat menghormati Intipalla, siapa dan mengapa dia seperti memiliki suatu kedudukan penting di kampung ini terus menghantui pikiranku.

Aku jadi membayangkan, apa pendapat Papa jika dia tahu, bahwa Sapa Inca terakhir ternyata bukanlah Atahualpa, seperti yang diketahui oleh dunia pada umumnya tentang bangsa Inca, tetapi masih ada Sapa Inca yang berkuasa sampai saat ini. Pasti papa akan kena serangan jantung !

Mungkin, kalau didunia luar, Intipalla bisa dibilang adalah seorang pangeran pewaris tahta kerajaan.

Tak jauh beda dengan Pangeran William dari Inggris. Perasaan bangga langsung merayap dalam relung-relung hatiku. Meskipun mereka tidak dikenal orang, tapi aku punya teman seorang pangeran pewaris tahta. Tetapi yang satu ini, jauh lebih kaya bahkan dari pangeran William dari Inggris sekalipun, dengan semua emas yang dia miliki.

Bila Intipalla adalah seorang calon Sapa Inca, artinya pada hari pengangkatan dirinya, Annamaya-lah yang akan dikorbankan.

Kenyataan itu membuatku jadi sedih. Kasihan sekali gadis itu, dari sekian banyak anak yang ada dikampung ini, mengapa harus dia yang dikorbankan ?

“ Anna, maaf aku menanyakan ini, tapi apa tidak ada orang lain yang ada dikampung ini, yang bisa menggantikan dirimu pada upacara peneguhan Sapa Inca nanti ? “ tanyaku dengan nada bercampur rasa kasihan yang amat sangat. Annamaya menggeleng lemah, lalu jawabnya,

“ Tidakkah kau lihat, dikampung ini akulah satu-satunya yang sudah menjadi seorang gadis. Anak-anak yang lain masih terlalu kecil untuk dijadikan kurban, “ gadis itu menunduk sedih, aku lalu mengusap rambutnya, mencoba untuk menghibur dia, meski itu tak akan merubah kenyataan yang ada. Annamaya benar, tadinya aku tidak terlalu memperhatikan, tetapi memang semenjak aku masuk kekampung mereka, aku tak melihat adanya gadis-gadis seusia dia atau aku. Yang ada hanyalah ibu-ibu dan anak-anak laki kecil atau yang berusia diatas 10 tahun, serta pemuda-pemuda yang seusia Intipalla, juga yang agak lebih berumur dari dia.

“ Karena kami hanya diijinkan untuk mencari pasangan orang dari dalam suku kami, sulit untuk menemukan pasangan yang tepat. Jarang ada pernikahan disini, karena itulah, aku menjadi satu-satunya anak gadis disini. Mungkin dalam beberapa tahun lagi, akan ada, saat anak-anak kecil itu sudah mulai bertumbuh, tetapi peneguhan Sapa Inca bukan dalam waktu beberapa tahun lagi, tapi dua bulan depan, “ lanjut Annamaya sendu.

Aku jadi sedih sekali. Kupeluk gadis itu erat-erat, yang langsung mencucurkan airmatanya. Aku juga.

“ Kalau saja ada yang bisa kulakukan, Anna... “ ucapku dalam tangis. Annamaya hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Keharuan itu tiba-tiba saja terputus oleh teriakan seseorang, yang suaranya sudah sangat kukenal.

“ KAK ANIIINGG.... “ Oh Tuhan ! Itu Arya, adikku. Sedang apa dia disini ? bagaimana dia bisa menemukan jalan masuk ketempat ini ? pikirku panik. Mendengar apa yang akan mereka lakukan pada orang yang menemukan pintu masuk rahasia ke kampung mereka, siapa yang tidak panik ? mereka akan membunuh adikku !

“ Ini siapa, Aning kudengar dia menyebut-nyebut namamu ? “ tanya Intipalla. Dia datang bersama dengan beberapa laki-laki yang kuduga adalah pengawal, melihat dari pakaian mereka yang sama, dan bentuknya seperti baju perang. Mereka tengah memegangi adikku, yang tak henti-hentinya meronta. Baru kali ini kulihat Arya ketakutan seperti itu. Arya memang tak bisa bicara bahasa Spanyol.

“ Itu adikku, Inti. Kenapa dia ada disini ? “ tanyaku. Kulihat wajah Intipalla sangat tegang.

“ Dia ditemukan oleh salah seorang penjaga, tengah bersembunyi di bukit, tanya padanya bagaimana dia menemukan pintu masuk rahasia itu ! “ kali ini suara Intipalla bernada memerintah. Tidak ada lagi Intipalla yang lembut seperti yang kulihat sebelumnya. Menyeramkan.

“ Arya, bagaimana kamu bisa ada ditempat ini ? “ tanyaku, berharap bahwa dia nanti tidak akan dibunuh.

“ Aku mencari Kak Aning ditempat penggalian, tapi tak ada. Lalu aku melihat kakak pergi dengan dua orang aneh ini, aku lalu mengikuti kakak dari belakang, sampai akhirnya aku tiba disini. Aku hanya berada tepat dibelakang kalian bertiga, sebelum kehilangan kalian dibukit itu, dan ditemukan oleh orang-orang gila yang memakai baju tentara romawi ini !“ jelas adikku sambil menunjuk pengawal Intipalla dan Annamaya.

Kalau saja kami tidak dalam keadaan seperti sekarang, sudah pasti aku tengah tertawa terbahak-bahak. Pengetahuan umum Arya memang sangat terbatas. Entah apa yang membuatnya berpikir, bahwa baju yang dipakai pengawal itu adalah baju tentara jaman Romawi, modelnya saja beda 160ยบ !

Aku langsung menjelaskan pada pemuda itu, kalau Arya tidak menemukan jalan masuk rahasia ke kampung mereka, tetapi dia hanya mengikuti kami.

“ Itu artinya dia tidak bersalah, kan ? dia hanya mengikuti kita, dan yang menunjukkan jalan itu adala kalian berdua ! “ akhirku dengan nada sedikit panik.

Intipalla menatapku sejenak, lalu berpaling pada orang-orangnya, dan berbicara pada mereka. Setelah Intipalla selesai bicara, kulihat mereka hanya mengangguk hormat, lalu berjalan pergi.

Sejenak ada keheningan yang tercipta, sebelum akhirnya kuputuskan untuk memperkenalkan adikku pada kedua teman baruku itu.

“ Inti, Anna, ini adikku. Namanya Arya, “ aku lalu menyikut Arya sambil menyuruhnya memperkenalkan diri. Dengan takut-takut, Arya mengulurkan tangannya pada Intipalla, yang menyambutnya sopan, lalu pada Annamaya, yang kulihat seperti malu-malu menyambut tangan adikku itu.

“ Dia cantik juga ya, Kak, “ celetuk Arya menunjuk Annamaya, sialan ! Penyakit Playboy adikku kambuh melihat gadis itu. Aku lalu mencubitnya. Dalam keadaan seperti ini, dia masih mikirin hal itu ?

“ Iya, dia memang cantik, tapi nanti dia yang akan memenggal kepalamu, karena sudah lancang masuk kedalam kampung mereka ! “ tukasku cepat, senang melihat muka Arya langsung pucat pasi seperti melihat hantu.

“ Kalian bicara apa, sih ? “ tanya Annamaya, rupanya penasaran mendengar aku dan Arya berbicara dalam bahasa Indonesia.

“ Dia bilang kamu cantik, “ jawabku. Pipi gadis itu langsung bersemburat warna merah, Intipalla sampai tertawa melihatnya.

“ Dia mulai suka adikmu, Aning.. “ tutur Intipalla. Kami lalu tertawa bersama, kecuali Arya yang memang tak mengerti apa yang kami percakapkan.

“ Kalian bicara apa ? kelihatannya seru sekali, “ tanya Arya ingin tahu. Aku hanya melotot padanya.

“ Makanya, disuruh belajar bahasa Spanyol, malah molor melulu, dasar otak udang ! “

“ Oo...yang tadi itu bahasa Spanyol, ya ? kukira kalian bicara pakai bahasa Italia, “ jawab Arya. Aduh, mati aku ! punya adik bego benar seperti yang satu ini.

Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran Annamaya dan Intipalla tentang keberadaan Arya disini. Jujur, perasaanku saat ini bercampur aduk tak karuan. Antara senang karena adikku ada disampingku, tapi takut dia, atau lebih parah, kami berdua akan dibunuh karena sudah mengetahui keberadaan Kota yang Hilang itu.

“ Hey ! sudah waktu makan siang, kalian mau kan makan bersama dengan kami ? “ ajak Intipalla penuh harap. Benar juga, perutku mulai keroncongan. Apalagi sejak makan malam terakhir tadi malam, perutku belum tersentuh apa-apa. Aku lalu menganggukkan kepalaku, dan mengikuti Intipalla dan Annamaya.

Tempat yang disebut ruang makan oleh mereka, adalah sebuah ruangan seluas kira-kira seukuran dua kali lapangan Volly, dengan sebuah meja makan panjang yang sangat indah. Berukiran emas (sudah pasti itu juga terbuat dari emas), dengan kursi yang kira-kira berjumlah 50 buah yang mengelilingi meja itu, masih berukiran serupa dengan meja, juga berwarna emas.

“ Ini meja makan untuk keluarga Sapa Inca, ya ? “ tanyaku berbisik pada Annamaya. Gadis itu tersenyum geli dan menatapku dengan pandangan seperti aku baru saja mengatakan hal aneh dan tidak masuk akal.

“ Bukan, ini adalah ruang makannya Intipalla, “ jelas gadis itu.

Wah ! meja segede ini cuma untuk Intipalla ? makan-nya sebanyak apa ya, sampai-sampai meja makannya saja sebesar ini ?

Ruangan itu sendiri merupakan salah satu ruangan yang berada dibagian bawah Piramida emas itu. Pada setiap sisi Piramida itu, terkecuali yang sisi terdepan yang ditengahnya ada tangga panjang menuju puncak Piramida, masing-masing memiliki pintu masuk di bagian tengah. Kami belum memasuki pintu-pintu yang lain, jadi aku tak tahu ada apa dibalik pintu-pintu besar itu, terkecuali disisi barat, tempat ruang makan ini berada.

Kami berempat lalu mengambil tempat duduk masing-masing. Aku baru saja hendak duduk, saat Annamaya menggelengkan kepalanya padaku. Ternyata harus menunggu Intipalla duduk terlebih dahulu, baru kami boleh dipersilahkan untuk mengikutinya.

Tak lama kemudian, entah darimana mereka datang, tiba-tiba sekitar 10 orang pelayan masuk dan masing-masing membawa baki-baki berisi berbagai jenis makanan. Dengan cekatan mereka melayani kami, ada yang menaruh piring dan cawan (aku merasa seperti putri dalam dongeng, semua peralatan makan yang kami pakai terbuat dari emas), dan jangan salah sangka, bangsa mereka tidak makan dengan tangan, terbukti dengan sendok, garpu dan pisau yang diatur rapi seperti layaknya jamuan makan modern.

Semuanya begitu sempurna, hingga saat mencicipi hidangan yang diatur sedemikian indahnya diatas meja itu. Setelah Intipalla mengambil makanan, Annamaya mengisyaratkan, sudah boleh mengambil makanan.

“ Kak, siapa sih pemuda itu ? kenapa semua harus dia yang lebih dulu ? “ tanya Arya sambil menyendok sayuran merah seperti bayam, tetapi memiliki biji-biji hijau kecil seperti kacang hijau disekelilingnya.

“ Dia itu pangeran, bego. Pewaris tahta disini, makanya dia itu sangat dihormati, “ jelasku pada anak itu. Arya hanya melongo.

“ Pantasan, tapi, mereka hobi mengecat semua rumah dan alat-alat yang mereka pakai dengan warna emas ya ? Piramida ini juga, pasti mereka memakai cat berwarna emas beribu-ribu ember banyaknya untuk mengecat semua ini, “ timpal Arya, kali ini beralih pada daging panggang, yang kelihatannya seperti ayam atau sejenisnya.

Adikku ini memang benar-benar bodoh, dia masih juga belum menyadari bahwa semua itu bukan dicat dengan emas, tapi adalah emas beneran.

“ Kamu ini bego banget, deh. Keturunan siapa sih kamu, Ya ? itu bukan dicat, tapi itu adalah emas beneran, semua yang ada disini terbuat dari emas ! “ jelasku sebal. Arya tiba-tiba terbatuk-batuk, dan menarik tanganku kasar,

“ Ini semua dari emas, Kak ? “ tanya dia tak percaya, tapi aku sempat melihat tangannya yang sedang memegang sendok masuk kedalam kantong celananya, dasar !

“ Arya, kembalikan sendok itu ! kamu bikin malu kakak saja ! “ bentakku tapi cukup pelan. Dengan bersungut-sungut Arya mengeluarkan tangannya dari kantong. Untung saja tak dilihat oleh Annamaya dan Intipalla.

Ternyata makanan mereka benar-benar lezat. Aku sangat menikmati masakan semacam sup makaroni, tapi isinya kacang-kacang dengan potongan-potongan seperti daging yang entah apa itu, tapi yang pasti rasanya gurih dan enak.

“ Ini sup yang terbuat dari apa, Inti ? “ tanyaku sambil mengunyah potongan-potongan gurih itu.

“ Oh, itu adalah sup kami yang paling terkenal, terbuat dari kacang semak liar, dan kecoak yang digoreng bersama dengan madu semut merah dan juga semut merahnya, “ Intipalla menerangkan, sambil mengangsurkan sepiring sayur, yang sepintas kelihatannya seperti getuk.

Mulutku tiba-tiba terasa susah untuk mengunyah. Ada yang bergerak-gerak dalam perutku, sepertinya mau naik ke tenggorokan. Tuhan...yang sedang kumakan ini adalah sekumpulan kecoak dan semut merah, menjijikkan.

Kupaksakan diriku untuk menelan semua yang ada dalam perutku. Aku jadi merasa seperti sedang bermain dalam acara Fear Factor, dimana ada satu sesi peserta harus memakan bagian dari binatang-binatang menjijikkan.

Dalam hati aku bertanya, dimana semua kentang dan jenis kacang-kacangan, yang menurut sejarah katanya dibudidayakan pertama kali didunia salah satunya oleh bangsa Inca ? aku mulai ragu dengan keterangan sejarah tentang bangsa Inca dan kentang mereka itu, sebab tak ada satupun dari makanan-makanan itu yang ada disini.

“ Bagaimana rasanya ? enak ? “ Annamaya bertanya, untungnya pada Arya, bukan padaku. Kujelaskan pada Arya apa yang ditanyakan Annamaya, dan Arya mengangkat 2 jempolnya, sambil menyendok sup itu lagi.

Dia kelihatannya benar-benar menikmati masakan diatas meja itu. Aku sendiri langsung kehilangan selera makanku, dan tak berani sembarangan menyendok.

Daripada harus memakan perkedel cacing tanah yang kulihat sangat dinikmati oleh adikku, atau masakan semacam sambal yang katanya terbuat dari dendeng daging tipis ulat bulu. Memangnya ulat bulu punya daging ? ada-ada saja. Kupikir, Arya itu bukan hanya bego, tapi indera perasa-nya juga sudah tak berfungsi lagi.

Setelah pura-pura bertanya tentang makanan-makanan yang ada diatas meja itu, aku memilih untuk tidak menyinggung perasaan tuan rumah, dengan hanya memakan tumis daun-daunan, yang hanya Tuhan tahu itu daun apa, juga salad buah dan sepotong daging burung Rajawali.

Setelah selesai makan, kukira Intipalla akan mengajak kami keluar Piramida, tapi dia membawa kami masuk lebih dalam lagi. Apa yang kulihat didalam jauh melebihi imajinasiku tentang apapun juga. Setelah menyusuri lorong yang berada di ruang makan, kami memasuki sebuah ruangan besar, dimana terdapat berbagai kursi berukir yang kelihatannya sangat nyaman.
Seperti memasuki sebuah goa harta karun dalam film-film bajak laut, dimana ada berbagai macam piala-piala minuman dari emas yang diatur rapi, dan juga hiasan-hiasan emas dengan permata-permata berwarna-warni disekelilingnya. Kulihat mata Arya membelalak, bercampur antara rasa heran dan rakus melihat emas dan permata yang sedemikian banyaknya.
“ Kalau kamu berani mengambil salah satu barang yang ada disini, bukan mereka yang akan membunuhmu, tetapi aku sendiri ! “ ancamku pada Arya, tetapi sambil tersenyum, supaya Intipalla dan Annamaya tak curiga. Ruangan itu sendiri kelihatannya seperti ruang duduk. Annamaya bilang, itu adalah ruang Intipalla untuk bersantai sesudah makan atau bekerja
“ Memangnya orangtua Intipalla ada dimana, Anna. ? “ tanyaku mengungkapkan keheranan yang sudah cukup lama kupendam
“ Mereka tinggal masih didalam piramida ini juga, tapi disisi yang lain. Tempat ini hanya khusus untuk Intipalla beserta dengan istri-istrinya nanti, tapi jika dia sudah menjadi Sapa Inca, hanya ada 1 yang akan menemani dia disini, yang lainnya harus tinggal di Acclahuasi. “ lanjut gadis itu.
Istri-istri ? itu artinya Intipalla bisa punya lebih dari 1 istri, dong ! Ditempat dimana hanya Annamaya anak gadis satu-satunya, akan sulit untuk beristri lebih dari 1. Itu artinya, Anna dan Inti, merekalah yang akan menjadi sepasang suami – istri. Ada sesuatu yang tak nyaman bergerak-gerak dalam perutku, menuju kedada. Sakit ? Bukan juga. Seperti tak suka ide dikepala yang muncul tentang Annamaya dan Intipalla.
Kami lalu diantar untuk melihat-lihat seluruh ruangan yang ada piramida sisi yang satu itu. Aku tak bisa berkata-kata lebih. Sebuah kolam mandi yang penuh dengan kelopak-kelopak bunga yang berbau sangat harum, berada didalam kamar Intipalla. Kamar pemuda itu sendiri sangat mewah, dengan kelambu-kelambu berwarna emas transparan (kata Annamaya itu terbuat dari benang emas yang dibuat oleh para penenun mereka), sebuah tempat tidur besar yang sangat nyaman dengan kasur yang berisi bulu angsa telaga, dengan bantal-bantal besar yang tertumpuk rapi di bagian kepala tempat tidur. Semuanya terlalu indah, terlalu mewah, terlalu luar biasa.
Aku sangat menyesal, tidak sempat membawa kamera digitalku, sebab semua ini bisa ku foto, dan kutunjukkan pada Papa setelah keluar dari Kota yang Hilang. Sudah terbayang olehku bagaimana histerisnya wajah Papa bila mengetahui semua ini. Kota yang Hilang, yang selama ini hanya jadi gosip diantara mereka, sudah ditemukan oleh aku, HAH !

Sebenarnya, kakiku sudah lelah, tapi aku merasa begitu sayang untuk melewatkan melihat-lihat seisi Piramida itu, makanya, meskipun aku yakin didalam sepatuku, sudah ada benjolan-benjolan akibat lecet, aku terus saja berkeliling. Setelah selesai melihat-lihat isi Piramida disisi bagian barat, Intipalla mengajak kami untuk memasuki sisi yang satunya.

Kata Annamaya, Piramida dibagian itu adalah rumah bagi anak-anak Sapa Inca yang lainnya, dan juga anak-anak perempuan kecil. Menurut gadis itu juga, hanya Intipalla yang memiliki rumah sendiri, sebab dalam kebiasaan suku mereka, seorang calon pengganti Sapa Inca, tidak boleh tinggal berbaur dengan anak-anak lainnya, meskipun itu adalah saudara atau saudari kandung mereka.

Sejak mereka lahir, setiap calon Sapa Inca sudah tinggal dalam tempat yang khusus untuk dia. Jadi, kalau aku tidak salah mengerti, sejak Intipalla keluar dari rahim ibunya, dia sudah harus tinggal di Piramida sisi barat yang kami kunjungi tadi.

Kasihan juga kalau dipikir-pikir, masih kecil tapi sudah hidup sendiri, karena harus belajar hidup mandiri. Aku dan Arya, meskipun sudah sebesar ini, masih banyak hal yang sering kami minta untuk dilakukan oleh Mama, dalam kata lain, kami berdua masih sering bergantung sama Mama. Tetapi, Intipalla kelihatannya menikmati dengan segala kemandirian yang harus dia lakoni itu. Mungkin karena dia sudah terbiasa.

Sisi lain dari Piramida itu tak kalah menariknya dengan rumah tinggal Intipalla. Saat kami masuk, ada sejumlah pengawal yang berjaga didepan pintu. Aku tak mengerti, Intipalla adalah seorang calon Sapa Inca, tapi ditempat kediamannya disisi barat Piramida, tak ada seorangpun pengawal yang menjaganya, tetapi kediaman anak-anak Sapa Inca yang lain, memiliki pengawal yang berjaga.

Hal itu baru kumengerti setelah aku masuk kedalam. Ada banyak sekali anak-anak kecil didalam, suasananya jadi mirip Playgroup. Tetapi semua anak-anak itu perempuan, tak ada satupun yang laki-laki.

“ Mereka semua adalah calon-calon pembawa generasi muda suku kami. Karena hanya ada sedikit perempuan yang lahir, maka mereka dijaga sangat ketat, untuk menghindari segala macam bahaya, bukan hanya penyakit, tetapi juga kecelakaan. Karena itu, semua anak-anak kecil perempuan, diharuskan tinggal didalam Piramida sampai usia mereka yang ke 10, setelah itu mereka baru dijinkan keluar untuk kembali ke orangtua mereka. “ Intipalla langsung menerangkan, saat melihat wajahku yang penuh tanda tanya. Karena itulah dikampung tadi, aku tak melihat adanya anak-anak-anak perempuan kecil.

Suasana dalam Piramida itu terasa hidup. Masing-masing anak-anak perempuan disitu dikelompokkan menurut usia masing-masing. Aku mengerti mengapa suku Inca sangat melindungi anak-anak perempuan mereka. Bila dibandingkan antara jumlah laki-laki dan perempuan, hanya ada 1 anak perempuan untuk 10 anak laki-laki. Jumlah yang sangat sedikit, apalagi untuk sebuah suku yang melarang perkawinan campuran antara anak-anak dalam suku mereka dengan orang yang berasal dari dunia luar.

Dekorasi didalam Piramida untuk anak-anak itu sungguh berbeda dengan tempat lainnya diluar. Kalau ditempat lain, biasanya dekorasi didominasi oleh warna emas, tapi yang satu ini beda. Ada banyak permainan seprti halnya anak-anak lainnya di dunia luar. Mereka juga memakai warna-warna cerah, seperti warna merah, biru, dan hijau untuk dinding dan kelambu-kelambu.

“ Kami tahu, ahli anak didunia luar mengatakan, bahwa warna-warna baik untuk perkembangan otak anak-anak, “ terang pemuda itu lagi, seperti sudah tahu apa yang aku pikirkan.

Ternyata mereka juga tak mau ketinggalan dengan dunia luar untuk urusan seperti ini. Semua orang memang menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Anak-anak itu langsung berkerumun disekeliling kami, mungkin karena rasa ingin tahu melihat orang-orang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Apalagi berwajah tipikal Asia seperti aku dan Arya. Seorang anak berceloteh pada Annamaya sambil menunjuk-nunjuk kearahku. Kulihat gadis itu tertawa geli, lalu dia berbalik padaku,

“ Aning, kata adikku, kamu mirip dengan boneka milik dia, “ benar saja, tak lama kemudian anak itu kembali lagi dengan sebuah boneka berwajah Asia. Itu benar-benar kejutan untukku. Kupikir terpisah dari dunia luar membuat mereka tak kenal dengan permainan seperti itu.

“ Memangnya kau pikir, anak-anak kami tak mengenal boneka, ya ? “ Intipalla berkedip nakal padaku. Dia benar-benar membuat aku terkejut. Entah kejutan apa lagi yang dia persiapkan untukku.

“ Setelah ini, pasti kamu akan membawa kami kesebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat pelacak, kamera-kamera pemantau dan televisi keluaran terbaru, ya ?! “ tuduhku, Intipalla hanya tersenyum, lalu mengelengkan kepalanya,

“ Tidak Aning, barang-barang seperti itu hanya akan mengungkap keberadaan kami lewat signal yang dipancarkan keluar. “ Benar juga, karena itu mereka hanya memakai alat-alat yang tidak menggunakan listrik, alias benar-benar dikendalikan secara manual.

Aku mulai curiga, ternyata orang-orang dalam lembah rahasia ini tidak se-kuno yang kupikir. Buktinya, Intipalla memiliki pengetahuan cukup mencengangkan tentang barang-barang elektronik masa kini.

Kulihat Annamaya dan Arya tengah berkeliling sambil dibuntuti oleh anak-anak kecil dalam Piramida. Aku langsung mengerti, rupanya Arya tengah mengajarkan bermain petak umpet pada mereka. Dasar memang Playboy cap Kucing, ada-ada saja usahanya untuk berusaha menarik perhatian Annamaya, tapi gadis itu kelihatan sangat menikmati waktu bersama dengan adikku itu. Sesekali senyum manis atau bahkan tawa lepas keluar dari bibir mungil gadis bermata hitam pekat itu.

Kadang dia mencubit Arya, dan sesekali kulihat mereka berdua tertawa bersama, membuatku heran. Soalnya, Arya kan tak bisa berbahasa Spanyol, bagaimana cara mereka berdua berkomunikasi, karena sepertinya mereka saling mengerti satu dengan yang lainnya. Benar-benar tak masuk akal. Aku masih juga penasaran, karena belum melihat saudara-saudara Intipalla yang lain.

“ Mana saudaramu, Inti ? “ tanyaku. “ Kata Anna, disini juga tempat tinggal anak-anak Sapa Inca yang lain ? “ aku memang memiliki rasa ingin tahu yang agak-agak diluar manusia normal.

“ Mereka ada diruangan lain, masih berada dalam Piramida sisi yang ini, tetapi terpisah dari anak-anak lain. Semua anak Sapa Inca sejak kecil hidup dengan cara yang berbeda dari anak-anak biasa, karena mereka harus dipersiapkan untuk menjadi pengganti, kalau-kalau aku meninggal sebelum menjadi Sapa Inca, “ Intipalla mengambil secuil buah pepaya dari atas meja, lalu mengunyahnya.

Seorang pelayan tergopoh-gopoh datang membawa serbet dan menaruhnya diatas meja, untuk menyeka tangan pemuda itu. Kasihan sekali mereka, tak bisa bergaul dengan anak-anak sebaya lainnya, seperti anak normal pada umumnya, pikirku. Tapi disini memangnya banyak kebiasaan yang normal ?.

“ Apa mereka tak boleh keluar ? “ lanjutku, masih ingin tahu. Dia menggeleng, tanpa menjawab, sambil terus mencomoti buah pepaya yang sudah diiris-iris dan diletakkan diatas meja.

“ Tapi mereka bisa keluar untuk mengunjungi Acllahuasi, untuk mengunjungi Ibu mereka, atau pergi ke kediaman Sapa Inca, bila dia menginginkan untuk bertemu anak-anaknya “ timpal Annamaya, tiba-tiba saja sudah berada dibelakangku dengan Arya. Intipalla mengangguk mengiyakan.

“ Mungkin kita harus melapor pada komnas HAM internasional, Kak. Mereka sudah melanggar hak asasi manusia terhadap anak-anak itu, masak anak-anak sekecil itu dikurung dalam gunung dan tak boleh bergaul dengan anak-anak lain, itu kan melanggar hak asasi mereka, “ ujar Arya sok tahu, saat kuceritakan tentang keadaan anak-anak itu padanya, dan kemudian mengikuti Intipalla, dia mencomot sepotong pepaya dimeja, yang belum lagi menyentuh buah itu, tangannya sudah ditepis oleh Annamaya, yang menggelengkan kepalanya. Kadang ingin rasanya aku memotong telinga adikku itu, saking sebalnya. Dia itu memang suka bertindak tanpa berpikir.

“ Arya, kamu itu jangan sembarangan ! “ bentakku, tak bisa lagi menahan emosiku.

“ Maaf, Kak, tapi aku jadi ingin mencicipi pepaya itu, habisnya..kelihatan enak, sih.. “ rutuk Arya pelan. Ingin rasanya kucubiti tangannya itu, kalau saja tak ada Intipalla dan Annamaya disini. Intipalla hanya tersenyum penuh pengertian.

“ Tak apa-apa, Aning. Aku tak marah, kok. Tradisi kami, hanya berlaku pada kami, kalian kan orang luar, “ Tetap saja aku ingin menguliti kepala adikku itu, bikin malu kakaknya saja, nanti dikira Intipalla, aku sebagai kakak tak pernah mengajari adikku itu sopan santun. Kupelototi Arya, yang hanya menunduk, tapi aku bisa melihat dia meleletkan lidahnya padaku, UH !

“ Sekarang, kita akan masuk ketempat saudara-saudaraku tinggal, ayo ! “ ajak pemuda itu, kami lalu mengikuti langkah-langkahnya. Intipalla menghilang dibalik sebuah pintu berukir, dan ketika kami mengikutinya, kami sampai pada sebuah ruangan yang juga luas, tetapi sangat sepi.

“ Mereka semua sedang tidur siang, ayo kita mengintip, “ Intipalla menyibak tirai berwarna emas, dan yang kulihat sungguh membuatku terpana. Ada sekitar 25 anak disana, mulai dari yang berumur kira-kira 1 tahun, sampai mungkin 9 atau 10, jika perkiraanku benar. Ada 4 perempuan, langsung bisa dilihat dari Llautu dikepala mereka.

“ Wah...banyak benar adikmu, Inti... “ seru Arya takjub. “ Sama kak Aning aja, aku sudah merasa kebanyakan dalam rumah, apalagi kalau aku punya saudara sebanyak ini, pasti Mama stres berat setiap hari... “ lanjutnya asal bicara.

Aku sering berpikir, adikku itu mungkin diadopsi. Papaku pintar sekali, dia adalah seorang ilmuwan terkenal di Indonesia. Sedangkan Mama, meskipun tidak terkenal seperti Papa, tapi dia adalah seorang dokter Ahli Bedah Syaraf.

Aku sendiri bisa dibilang mewarisi semua kelebihan Mama dan Papa, tetapi adikku itu, mukanya saja yang mirip sama aku, kalau tidak, orang pasti akan berpikir dia itu anak adopsi dalam keluarga kami. Arya mungkin adalah kesalahan genetik Mama dan Papa.

Aku pernah bilang padanya tentang itu. Mau tahu jawabnya ? dia bilang, kalau semua sudah jadi orang pandai, siapa dong orang bodohnya ?. Sialan.

“ Mereka itu tak semua memiliki Ibu yang sama dengan Intipalla, hanya 2 yang adalah saudara sekandung dengannya, yaitu yang berada ditempat tidur nomor 1 dan 2, yang lainnya adalah saudara lain Ibu ! “ Annamaya menunjuk pada dua orang anak yang berada paling ujung sebelah kiri.

“ Memangnya istri ayahmu ada berapa, Inti ? “ tanyaku ingin tahu.

“ Aku memiliki 8 orang Ibu, tapi Ibu kandungku adalah istri yang pertama melahirkan seorang anak bagi ayahku, dan yang paling terpenting adalah, seorang anak laki-laki. Jadi, ibuku yang berhak untuk menjadi Ratu, meskipun dia adalah istri ke-3 ayahku “ jawab Intipalla panjang lebar. Terdengar seruan khas Arya, saat kujelaskan padanya tentang jawaban dari Intipalla itu,

“ Waaw...mau dong aku juga tinggal ditempat ini, bisa punya pacar banyak seperti Papa kamu, Inti, pasti asyik deh, tiap hari dikerubutin sama cewek-cewek cakep, dan mereka nggak akan bertengkar seperti kalau aku ketahuan pacaran sama orang lain, “ pandangannya menerawang. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, benar-benar sudah pasti adalah hasil kesalahan genetik orangtuaku, anak yang satu ini.

“ Apa kata Arya ? “ tanya Annamaya penasaran, melihat tingkah adikku yang menutup matanya dan berdecak-decak seperti itu.

“ Dia bilang, asyik disini, bisa punya istri banyak, seperti ayah Intipalla, “ jawabku. Kulihat wajah Annamaya cemberut, dan dia melotot pada Arya.

“ Kakak ngomong apa sama Annamaya ? “ tuntut Arya, melihat raut wajah gadis itu, yang sudah ditekuk. Aku mengangkat bahuku, sambil tersenyum santai,

“ Aku cuma bilang, kamu mau tinggal disini, dan punya istri banyak kayak Sapa Inca, makanya dia marah gitu, rasain ! “. Belum lagi aku melanjutkan ucapanku, Arya tergopoh-gopoh menghampiri Annamaya dan memohon maaf dengan gerakan tangannya, membuat aku dan Intipalla tertawa.

Kami lalu keluar dari Piramida.

Sebenarnya masih ada sisi yang satu lagi yang ingin aku kunjungi, tetapi oleh Intipalla dan Annamaya, dijelaskan bahwa ruangan itu adalah tempat untuk menyimpan harta-harta mereka, dokumen-dokumen tua yang usianya sudah berabad-abad, yang merupakan peninggalan nenek moyang suku Inca sejak jaman dulu, dan juga berisi perlangkapan peribadatan dan upacara serta ritual bangsa Inca.

Sebuah tempat yang sudah pasti akan digilai oleh Papa, jika dia mengetahui keberadaannya. Tetapi, sayang sekali yang boleh masuk kedalam situ hanyalah kepala pendeta, juru kunci, dan Sapa Inca itu sendiri. Orang lain sama sekali tak diperbolehkan untuk masuk dan melihat-lihat apa isi tempat itu, termasuk Intipalla, meskipun dia adalah seorang calon Sapa Inca.

“ Sekarang, kita akan masuk ke kediaman orangtuaku, “ tutur Intipalla. Langkahku seketika terhenti,

“ Kita akan masuk kerumah orangtuamu ? “ tanyaku ketakutan. Aku tak tahu akan apa yang menungguku disana, karena itu aku takut.

“ Iya, orangtuaku ingin bertemu dengan kalian, tadi Penyampai Pesan memberitahukan aku, kalau aku sudah selesai menunjukkan Piramida pada kalian, aku harus membawa kalian ke kediaman mereka. “ Aku dan Arya saling berpandangan. Anak itu kelihatan acuh tak acuh. Mungkin karena dia tak mengerti apa yang diucapkan oleh Intipalla, dia tak tahu bahwa yang akan kami temui berikutnya adalah Raja dan Ratu bangsa Inca. Mulutku terasa kering,

“ Kk..kamu serius, Inti....?! “ “ aku terbata-bata. Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Annamaya menggandeng tanganku, dan mengangguk padaku, seakan coba untuk meyakinkan aku, bahwa tak ada apa-apa yang akan terjadi. Aku lalu memperingatkan Arya dengan cepat, sebelum nanti dihadapan Sapa Inca dia melakukan hal-hal bodoh, yang bisa membuat kami celaka. Kedengarannya memang agak berlebihan, tapi mungkin saja orangtua Intipalla tak se- cool anaknya, dan tak suka dengan kami, lalu memerintahkan pengawal mereka untuk membunuh kami, bisa saja itu terjadi, kan ?

“ Kamu jangan bicara, atau berlaku macam-macam didepan Raja nanti, ya ? “ todongku, Arya kelihatan bingung.

“ Kak, kita ini akan bertemu dengan orangtuanya Intipalla, bukan Raja, ada-ada saja Kak Aning ini, deh... “ dia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menatapku seakan-akan aku ini adalah alien dari planet lain, yang mengucapkan hal yang tak masuk akal.

Luar biasa, aku memiliki adik seekor keledai, bukan manusia. Bodohnya diluar batas yang bisa kuterima. Tuhan, apa salahku, hingga Kau memberiku adik yang dungu seperti keledai ini ? jeritku dalam hati.

“ Arya, Intipalla itu pangeran, artinya orangtuanya adalah seorang Raja dan Ratu, bego ! “ kujitak kepalanya keras-keras, aku sudah tak tahan lagi. Arya mengaduh kesakitan, dia baru saja hendak mengatakan sesuatu, tapi tak jadi karena melihat tanganku sudah memegang sebuah batu sebesar mangga.

“ Kalian berdua tak pernah akur, ya ?! “ Intipalla menatap kami geli. Coba saja, kalau kamu punya adik seperti Arya, aku mau tahu sampai dimana kesabaranmu untuk bisa menghadapinya, batinku dengan Bahasa Indonesia. Mengapa Bahasa Indonesia ? aku curiga, Intipalla itu memiliki kemampuan untuk tahu pikiran orang lain, sebab sudah beberapa kali, sebelum aku mengutarakan maksudku, atau pertanyaan yang ada dalam hati, dia sudah menjawabnya terlebih dahulu, padahal belum lagi aku tanyakan padanya. Makanya, kalau aku bicara dalam hati pakai Bahasa Indonesia, dia kan tak bisa mengerti ?!

“ Aku mengerti kok, Aning, “ cetus Intipalla, kali ini sudah ada tawa tertahan di bibirnya, aku tak mengerti apa maksud pemuda itu.

“ Maksudku, kalau kamu bicara dalam hatimu, apapun bahasa yang kamu pakai, aku bisa mengerti.. “ terangnya lagi membuatku terpana. Dia tahu apa yang aku pikirkan !

“ Aku...kamu...bagaimana hal itu bisa terjadi ? “ tanyaku gugup, berarti, sejak tadi pikiran-pikiran dan pendapat-pendapat dalam hatiku tentang Intipalla yang sexy-lah, yang cakep-lah, dia tahu tentang hal itu ! Betapa memalukannya situasi sekarang ini. Aku yakin, mukaku kini mirip dengan kepiting rebus. Merah.

“ Kak Aning, sakit ya ? atau kepanasan ? mukanya kok merah banget gitu.. “ Arya menatapku prihatin. Benar kan tebakanku ?

“ Aning, kamu nggak usah malu, aku suka kok dengan pikiran-pikiran kamu yang mengutarakan pendapatmu tentang aku, “ tau-tau Intipalla sudah berada disampingku,dan berbisik ditelinga kiriku.

Aduh Mama...keluarkan aku dari situasi seperti ini...aku malu sekali..jeritku dalam hati, tapi langsung berhenti, saat melihat Intipalla yang tak dapat lagi menahan tawanya. Dia benar-benar bisa membaca isi hati dan pikiran orang ! Luar biasa...

“ Kak, si Intipalla kenapa sih ? memangnya ada yang lucu dalam percakapan kalian berdua ? kok cuma dia doang yang ketawa ? “ selidik Arya, heran melihat Intipalla yang tertawa terbahak-bahak. Aku sendiri tak mampu untuk bersuara.

Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya kami berempat tiba didepan pintu piramida sisi yang satunya, tempat kediaman Raja dan Ratu suku itu, kedua orangtua Intipalla. Aku mulai cemas lagi. Kedua tanganku tiba-tiba berubah menjadi seperti es dan berkeringat dingin.

“ Anna, sebelum masuk, bilang dong padaku bagaimana cara dan tata krama suku Inca ketika menghadap Raja dan Ratu kalian, “ pintaku cemas. Bagaimana kalau aku atau Arya berbuat kesalahan, lalu mereka marah pada kami ? (BERSAMBUNG)


Dear reader, untuk lanjutan cerita ini, bisa dibaca di aplikasi membaca novel gratis Noveltoon, bisa di download lewat playstore maupun applestore anda. Dengan judul Misteri Kota Yang Hilang, penulis N.Sie

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

14 Juni 2011 | By: nsikome

THE LOST CITY-Golden Mountain (Cerita Bersambung) Part 3

Hai...time goes so fast!!...ternyata sudah hari SELASA!!...seharusnya aku memosting part 3 "The Lost City" kemarin ya? Maaf bagi yg nunggu, aku agak sibuk dan baru "ngeh" setelah ada yang komplain, hehe..Nggak perlu banyak basa-basi deh, selamat menikmati aja, dan semoga kamu semua pada suka..

THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 3


Airmataku mulai jatuh. Ku lihat Intipalla memandangi Annamaya dengan mata memohon. Sejenak ada kesunyian yang tak mengenakkan, aku makin gelisah. Kulihat pemuda itu juga kelihatan tidak tenang.

“ Baiklah, Aning. Aku tak akan membuatmu jadi penggantiku, maafkan aku, tapi aku terpaksa berbuat hal itu, kalau tidak nyawaku yang akan hilang ! “ tukas Annamaya dengan nada menyesal, tak ku sangka pertemuan kami yang singkat itu ternyata telah menumbuhkan rasa bersahabat yang sangat erat.

Sesaat, ada keheningan yang tercipta di antara kami.

“ Inti, apa aku boleh turun untuk melihat-lihat kampungmu ? “ pintaku sengaja memecah kesunyian yang terasa mulai tak nyaman.

“Tentu saja boleh, Aning. “ ucap Intipalla yang mengiyakan. Kami bertiga lalu mulai berjalan menuruni bukit, menuju ke kampung. Cuaca sangat cerah, matahari bersinar terik diatas kepala, tetapi udara disini terasa sangat sejuk. Bahkan sesekali kulihat ada kabut yang melayang-layang diatas atap yang berwarna keemasan itu.

Keadaan dikampung Intipalla dan Annamaya seperti kampung-kampung biasa, terlihat disana-sini ada ibu-ibu yang tengah menjemur pakaian, ada yang tengah memotong kayu bakar, ada juga yang sedang bergerombol, mungkin bergosip seperti kebiasaan para ibu-ibu pada umumnya.

Aku akan menganggap bahwa aku hanya berada disebuah perkampungan biasa di Peru, kalau saja warna-warna emas itu tidak ada, dan tempayan-tempayan air yang terbuat dari emas itu tak terlihat oleh mataku.

Sesaat seperti tidak ada dari mereka yang menyadari akan kehadiranku, tetapi kemudian ada sebuah keheningan yang tidak biasa, dan aku segera menyadari bahwa itu karena aku. Seorang laki-laki berusia setangah baya yang tengah berdiri didepan pintu rumahnya berteriak pada Intipalla dalam bahasa mereka seraya mengangguk hormat padanya, yang kulihat hanya membalas dengan anggukan kepala dan lambaian tangan.

Sementara suara-suara yang tadinya tak ada mulai muncul kembali, kali ini disertai bisik-bisik sambil sesekali mencuri pandang kearahku.

“ Anna, mereka berbicara tentang aku, ya ? “ tanyaku ingin tahu. Kulihat Annamaya berusaha untuk tersenyum, tapi dia masih kelihatan sangat sedih dalam senyumnya itu.

“ Tentu saja mereka tengah bicara tentang kamu, kau pikir setiap hari orang dikampung kami ini kedatangan seorang tamu yang sebelumnya tak pernah kami lihat, apalagi yang secantik kamu, “ Intipalla menjawab, membuat mukaku seketika memerah karena jengah.

Annamaya hanya terkikik pelan mendengar ucapan sepupunya itu, sepertinya dia tahu, aku merasa malu.

“ Kita mau kemana ? “ tanyaku lagi, tapi mataku berkeliaran kesemua tempat yang bisa dijangkau oleh penglihatanku. Kekaguman yang kurasa pada hal apapun juga, tak bisa melebihi dengan kekagumanku pada kehidupan kampung ini. Dengan segala emas yang mereka miliki, yang bisa membuat mereka sangat kaya dan hidup mewah dalam dunia yang modern, mereka memilih untuk menyembunyikan diri. Atau mungkin mereka tak pernah tahu, bahwa dunia modern yang lengkap dengan segala kecanggihan teknologinya itu ada ? pertanyaan ini juga sempat singgah dibenakku, tanpa ada jawabannya.

Jalan setapak yang kami lalui kini mulai menanjak, nampak diujung jalan ada sebuah bangunan yang besar. Kelihatannya merupakan bangunan yang paling besar bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang lain di kampung ini.

“ Itu adalah kuil kami, “ seperti membaca pikiranku, Annamaya menunjuk kearah bangunan itu.

“ Kamu boleh melihatnya, kalau kamu mau.. “ lanjut gadis itu lagi.

Aku menganggukkan kepalaku. Tentu saja aku sangat ingin melihatnya, aku sudah menemukan sebuah Kota yang Hilang, lengkap dengan orang-orang yang dianggap sudah musnah selama berabad-abad yang lalu, tentu saja bisa menyaksikan sebuah kuil bangsa Inca yang lengkap, yang masih dipakai oleh orang-orang asli, yang biasanya kulihat tinggal reruntuhannya, aku sudah pasti tak akan melewatkan kesempatan ini.

Saat kami hendak memasuki pelataran kuil, kembali aku tercengang, jalan batu bata yang terhubung dari pintu masuk pelataran kearah pintu masuk ke kuil lagi-lagi terbuat dari emas. Mengkilat dibawah sinar matahari yang terik. Dalam hati aku bertanya, darimana mereka mendapatkan semua emas-emas itu ? mereka pasti memiliki tambang sebesar Eldorado jaman dulu di Amerika, tetapi hanya khusus untuk mereka sendiri.

“ Tolong tanggalkan alas kakimu, Aning, “ pinta Intipalla, ternyata dimanapun di bumi ini, kalau hendak masuk kerumah ibadah, tradisinya banyak yang sama, harus menanggalkan alas kaki.

Aku mengikuti ucapan Intipalla. Kulihat Annamaya juga menanggalkan alas kakinya, yang sepertinya terbuat dari kulit hewan yang disamak. Aku mau langsung masuk saja kedalam, tetapi Annamaya menarik tanganku, dan menarikku kesamping kuil.

“ Kita mau kemana Anna ? “ tanyaku heran,

“ Membersihkan kaki dulu, “ jawab gadis itu pendek. Kuikuti dia, dan aku baru menyadari bahwa Intipalla tidak bersama kami.

“ Mana Intipalla ? “ tanyaku lagi, Annamaya hanya menunjuk dengan jari tangannya.

Ternyata tempat untuk mencuci kaki laki-laki dan perempuan berbeda. Kupikir, kami akan mencuci kaki dengan air, tetapi aku salah. Pertama-tama, aku harus mencuci kakiku dengan sebuah cairan berbau tajam, seperti campuran alkohol dan minyak, yang entah minyak apa itu. Setelah cukup membasuh kaki, kita harus berpindah ke tempayan yang berikutnya, yang berisi sepertinya parfum, karena berbau harum yang tajam. Sebuah kebiasaan aneh yang belum pernah kulihat ditempat lain.

“ Sebelum masuk kedalam kuil, kita harus membersihkan kaki kita, dan mengharumkannya, sebab kita akan masuk kerumah Dewa. Dewa kami akan marah, kalau kita masuk kedalam tanpa membersihkan dan mengharumkan kaki dulu, “ terang Annamaya. Dewa yang aneh, menurutku. Kenapa hanya kaki saja, dan bukannya seluruh badan yang dibersihkan dan diharumkan ?

Intipalla juga sudah selesai membersihkan dan mengharumkan kakinya. Dia sedang menunggu aku dan Annamaya disamping pintu masuk kuil yang lagi-lagi terbuat dari emas, atau berlapis emas, entahlah.

Begitu masuk kedalam kuil, langsung tercium bau seperti dupa yang sangat menyengat. Semua yang ada didalam kuil itu berwarna emas. Sampai pada tirai-tirai dan kelambu-kelambu yang tergantung didinding kuil. Tak ada jendela disana, tapi hanya lubang-lubang ventilasi kecil. Sebuah altar yang berisi penuh dengan buah-buahan dan entah makanan atau kue, lagi-lagi berwarna emas, tepat berada dibagian paling depan kuil. Kuil itu sendiri sangat besar.

“ Kuil ini tak ada pendetanya, ya ? “ kuungkapkan keherananku pada Intipalla dan Annamaya. Kelihatannya memang agak sedikit janggal, sebuah kuil pemujaan yang besar, tetapi tak ada seorangpun yang hilir-mudik didalamnya. Setahuku, dikuil-kuil manapun yang pernah kukunjungi didunia, selalu ada orang yang menjaga atau sedang berdoa didalamnya. Selain dua penjaga bertampang bosan yang berdiri menjaga di pintu masuk kuil, tak ada orang lain disitu.

“ Pendetanya ada di kuil utama, kita nanti akan kesana, “ Intipalla menjawab pendek, tapi tak cukup untuk memuaskan rasa ingin tahuku. Setelah cukup berkeliling melihat-lihat isi kuil itu, mereka berdua langsung mengajakku untuk keluar dari kuil itu, katanya untuk menuju ke kuil utama. Kupikir, kami akan keluar dari pintu tempat kami masuk tadi, tapi bukan.

Intipalla dan Annamaya menarik tanganku, menuju kearah altar besar itu. Sesampainya kami didepan altar itu, kulihat kedua teman baruku itu menunduk hormat. Aku langsung mengikuti apa yang mereka lakukan. Tetapi kemudian mereka berdua berkata-kata dalam bahasa Inca mereka, setidaknya itulah yang aku pikirkan.

Satu menit berlalu, aku hanya diam. Kupikir mungkin mereka berdua harus berdoa dulu sebelum keluar, tetapi kemudian terdengar suara barang berat bergeser, dan tiba-tiba altar itu menjauh kebelakang, dan ada lubang dengan sebuah tangga, langsung berada dihadapan kami bertiga. Aku masih tercengang-cengang, saat Intipalla menarik tanganku turun kedalam lubang itu.

Sesampainya kami didasar tangga itu, lagi-lagi kami harus menyusuri sebuah lorong sepanjang kira-kira 100 meter, sebelum akhirnya menaiki anak tangga lagi. Saat muncul kepermukaan, aku hampir tak bisa berkata-kata. Kami berada didalam sebuah goa yang besar sekali, mungkin sebesar gunung, aku tak bisa mengungkapkan sebesar apa goa itu.

Yang paling luar biasa, seluruh permukaan dinding goa itu berwarna emas, atau kelihatannya seperti itu adalah emas. Nampak ditengah-tengah goa besar itu, sebuah piramida sebesar yang ada di Kairo, Mesir, tetapi bukan terbuat dari batu, melainkan emas, setidaknya itulah yang kulihat. Semua yang ada di situ tak memiliki warna lain, hanya warna emas.

Kerongkonganku seperti dijejali biji kedondong sekarung. Aku tak mampu untuk berkata-kata. Aku hanya merasa seperti tengah bermimpi, tapi tidak. Sudah kucubit lenganku berkali-kali semenjak berada ditepi jurang, dipintu masuk rahasia menuju kampung Inca yang tersembunyi ini, dan sampai lenganku lebam biru dan sakit, aku tidak terbangun dari tidurku, itu artinya semua ini nyata.

“ Bagaimana mungkin.... “ tidak, aku tak mampu lagi berkata-kata. Annamaya hanya tersenyum geli melihat tingkahku. Aku pasti kelihatan bodoh saat ini.

“ Ini adalah kuil utama kami, gunung emas yang merupakan tempat kami mengambil semua kebutuhan emas yang hendak kami pakai, “ Annamaya memberiku penjelasan.

Aku masih saja terheran-heran dengan apa yang kulihat. Sebuah gunung, tetapi terbuat dari emas. Bagimana mungkin semua ini tidak bisa ditemukan oleh orang dari dunia luar ? dengan cara apa mereka menyembunyikan semua yang mereka miliki ? semua pertanyaan itu menggantung dibenakku. Terlalu sulit untuk dipercaya. Ini bukan Eldorado, bukan Fort Knox. Ini 10000000 kali dari keduanya.

Rupanya Intipala dan Annamaya tahu tentang isi pikiranku, dan aku mulai curiga, bahwa mereka tahu cara membaca pikiran orang. Tanpa perlu lagi kuungkapkan isi pikiranku, beberapa kali mereka langsung menjawab, tak perlu kubertanya terlebih dahulu.

“ Semua emas yang kami miliki, bisa memicu perang di bumi, itulah mengapa suku kami memilih untuk menyembunyikan diri dari dunia luar, “ Intipalla menatapku lekat.

Aku seketika jadi jengah. Tatapannya itu, benar-benar membuat jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. Sulit untuk dijelaskan mengapa.

“ Tetapi, mengapa kalian tak menggunakan emas kalian itu untuk membeli barang-barang modern, yang bisa membantu pekerjaan kalian sehari-hari ? “ rasa penasaran belum juga sirna dari dalam hatiku.

Aku masih belum bisa mengerti, ada orang-orang yang kaya dan bisa membeli apa saja yang mereka inginkan, tetapi memilih hidup dalam keterbelakangan. Seperti bangsa Inca ini.

“ Kami takut, bila membeli peralatan modern, itu artinya kami harus turun gunung dan pergi ke kota, lalu bertemu dengan orang-orang, yang kemudian bisa saja mengetahui keberadaan kampung kami ini, makanya bangsa kami memutuskan untuk menyembunyikan diri dalam benteng kami didalam lembah, “ lanjut Intipalla, membuat aku tertegun.

Sungguh aku kagum dengan pilihan hidup mereka. Pada jaman sekarang, dimana kita bisa menemukan orang-orang seperti mereka, yang memilih untuk hidup sederhana, daripada menimbulkan banyak masalah dengan semua emas yang mereka miliki.

Memang, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Annamaya dan Intipalla. Bayangkan saja bila dunia luar tahu akan keberadaan gunung emas itu, berbagai pihak pasti akan mengklaim bahwa itu adalah milik mereka, dan bisa dibayangkan kekacauan yang akan terjadi, bila semuanya tak mau mengalah.

Bukan tidak mungkin, perang bisa terjadi akibat semua itu. Emas yang dimiliki oleh bangsa Inca ini ada terlalu banyak, dan itu bisa menimbulkan keserakahan manusia, apalagi manusia-manusia di jaman modern seperti sekarang ini.

“ Kamu masih mau melihat-lihat, Aning ? “ tanya Annamaya, aku menganggukkan kepalaku dengan penuh semangat.

Sungguh mati aku tak akan rela untuk melewatkan sejengkalpun dari tempat ini tanpa melihatnya. Terlalu indah, terlalu luar biasa. Terlalu tak bisa dipercaya.

Rupanya, yang disebut oleh Intipalla dan Annamaya sebagai kuil utama dalam gunung itu adalah pusat industri mereka. Banyak yang tengah melakukan aktivitas didalam situ. Ada yang tengah sibuk dengan tungku-tungku mereka, mungkin digunakan untuk melebur dan membentuk emas-emas mereka itu.

Ada juga semacam bengkel-bengkel kerajinan, yang membuat barang-barang hiasan, dan bahkan ada juga yang membuat perhiasan, semuanya khas bangsa Inca, seperti yang sudah sering kulihat dibuku-buku maupun internet.

“ Hei ! itu kan lembaran-lembaran kertas ? “ seruku, melihat lembaran-lembaran kertas yang tergantung, sepertinya sedang dikeringkan.

“ Kata kalian tak ada barang modern ditempat ini, “ tuntutku pada keduanya, Intipalla dan sepupunya hanya tersenyum. Pemuda itu lalu menjelaskan,

“ Itu bukan barang modern, Aning. Dulu, ketika kertas mulai dipakai, orang-orang kami ada juga yang ditugaskan untuk keluar dan meneliti keadaan di dunia luar sana, agar kami tidak terlalu ketinggalan. Mereka belajar cara membuat kertas, agar bisa dipakai oleh anak-anak kami disekolah, “ terangnya panjang lebar, membuatku makin terbelalak. Ternyata mereka tidak se-kuno yang kupikir.

“ Sekolah ?! kalian memiliki sekolah ? “ keherananku makin bertambah.

“ Tentu saja kami memiliki sekolah, kamu pikir kami akan membiarkan tradisi kami, bahasa kami, kebudayaan dan adat-istiadat kami hilang begitu saja, sebelum diturunkan pada generasi berikutnya ? “ sanggah Annamaya.

“ Memang sekolah kami bukan seperti milik kalian diluar sana, kami tidak memakai sistem yang sama seperti kalian, sebab yang diajarkan pada kami adalah membaca dan menulis bahasa kami, serta cara-cara kami hidup sehari-hari, serta pengetahuan-pengetahuan yang telah diturunkan selama berabad-abad oleh nenek moyang kami, yang jelas sangat berbeda dengan kalian , “ lanjut gadis itu. Sepupunya Intipalla tak berkomentar apapun.

“ Lalu bagaimana dengan perkawinan, dan hal-hal semacam itu ? “ semakin kuat rasa ingin tahuku tentang suku ini.

“ Kami sama seperti kalian sekarang, kami bebas memilih siapapun yang kami sukai, asal saja bukan orang dari dunia luar, “ ada nada sedih dalam suara Intipalla, dan entah mengapa, apa yang dia ucapkan itu juga membuat aku merasa sangat sedih.

Setengah piramida sudah kami kelilingi, dan aku makin terkagum-kagum dengan semua yang kulihat. Piramida itu sendiri, bagian kerucutnya seperti terpotong, ciri khas piramida dibagian Amerika Selatan, seperti yang biasa-biasa kita lihat pada peninggalan-peninggalan suku Maya dan Inca.

Sedangkan sekeliling dinding piramida dipahat dengan relief-relief yang menggambarkan kehidupan dewa-dewa mereka. Salah satu sisi piramida itu memiliki anak tangga mulai dari dasarnya, hingga di puncak. Aku ingin naik keatas, tetapi kata Intipalla dan Annamaya, hanya pendeta yang diijinkan untuk naik keatas piramida itu, untuk berdoa atau untuk menjalankan ritual keagamaan mereka.

Sesekali beberapa orang yang sedang bekerja itu mengangguk hormat pada Intipalla, dan menyapa Annamaya dengan segan. Dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa mereka begitu menghormati pemuda itu ?.

Sambil mengantarkan aku melihat-lihat, keduanya secara bergantian menjelaskan segala sesuatu yang ingin ku ketahui. Ternyata mereka tak sekuno yang aku pikirkan. Kata Intipalla, setiap 6 bulan sekali, ada seseorang yang ditugaskan untuk turun gunung, dengan membawa emas seadanya, cukup untuk dia tinggal selama beberapa hari dikota.

Dia bertugas untuk meneliti keadaan sekitar, tentang apa yang terjadi dikota, sekaligus untuk melihat-lihat apa yang mereka perlukan. Setelah cukup, dia lalu harus pulang. Selama dikota, dia tidak boleh berkenalan atau bicara dengan orang lain, dia hanya harus bicara seperlunya saja. Orang-orang ini juga bukan orang biasa. Mereka dilatih khusus dikampung Inca untuk tugas itu, dan juga diajarkan bahasa yang dipakai oleh orang Peru jaman modern.

Aku jadi berpikir pada agen-agen rahasia semacam FBI atau CIA. Kalau dipikir-pikir, lucu juga kedengarannya, seorang agen rahasia yang bertugas hanya untuk mencari tahu perkembangan dunia luar, lalu menyampaikannya pada seisi kampung mereka.

Ada juga pemuda-pemuda yang katanya dilatih khusus untuk berkeliling dihutan luar. Kadang mereka berpura-pura sedang berburu, hanya untuk menjaga kalau-kalau ada orang-orang yang menemukan jalan masuk rahasia ke kampung mereka.

Aku bergidik takut saat Intipalla dan Annamaya mengatakan, bahwa jika ada orang yang menemukan jalan masuk ke kampung mereka, tak peduli dia itu siapa, maka dia harus dibunuh.

“ Jadi, aku juga harus dibunuh, dong ? kan aku sudah tahu kampung kalian, “ candaku, tapi sebenarnya aku takut. Sebab siapa yang tahu apa yang akan mereka lakukan padaku ?. Intipalla hanya tersenyum, lalu menjawabku,

“ Tidak, kan kami yang mengajakmu kesini, bukan kamu yang menemukan jalan masuk ke kampung kami, jadi kamu tidak akan kami bunuh, tapi kamu tak boleh keluar lagi dari kampung ini, dan harus tinggal selama-lamanya disini. “ Aku langsung panik, kalau aku harus tinggal untuk selama-lamanya disini, bagaimana dengan keluargaku ? mereka pasti akan sedih sekali.

“ Aku cuma bercanda, Aning, kamu kok jadi sedih seperti itu ?! “ goda pemuda itu lagi. Aku langsung berbalik kearahnya, dan saat kulihat Intipalla dengan senyum usilnya, aku baru sadar bahwa dia tengah mengerjai aku.

“ Kamu nakal, Inti !! “ seruku sambil memukul pundaknya. Intipalla dengan gesit mengelak dari pukulanku. Sedangkan Annamaya hanya tertawa melihat ulah kami.

Saat kami hendak berjalan kesisi terakhir piramida emas itu, tiba-tiba seorang laki-laki berusia kira-kira 50-an tahun berlari-lari kecil kearah kami. Dia lalu berbicara pada Intipalla dengan kepala menunduk, seperti tengah berbicara pada seseorang yang sangat penting. Kulihat pemuda itu mengangguk-anggukan kepalanya, lalu berbicara pada laki-laki itu dalam bahasa mereka. Sayang sekali aku tak bisa mengerti dengan yang mereka bicarakan itu. Intipalla lalu berbalik pada Annamaya dan berkata cepat dalam bahasa mereka. Annamaya kulihat hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab satu patah katapun juga.

“ Inti, Anna, ada apa ? “ Annamaya hanya mengangkat bahunya.

“ Maafkan aku Aning, tapi aku harus meninggalkan kamu sebentar dengan Annamaya, karena Sapa Inca memanggil aku, “ kata Intipalla segera. “ Aku akan kembali secepat yang kubisa ! “ dengan susah payah kulihat dia mencoba untuk tersenyum, tapi bisa kulihat ketakutan dimata pemuda itu. Dia lalu berbalik menuju kearah tempat dimana kami masuk tadi, meninggalkan aku dan Annamaya. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.