10 Agustus 2011 | By: nsikome

DI BALIK SENYUM GABRIELLA

Kadang imajinasiku melanglang buana terlalu jauh, menghayalkan yang tidak ada, namun aku tahu itu bukan "tidak mungkin" dia ada..For the teenager, this one is for you..for my favorite "vampir", you're incredible!!

DI BALIK SENYUM GABRIELLA

Oleh : N.Sikome

Derry sedang sendirian di rumahnya. Hari senin, dia sudah harus masuk sekolah, dan berpikir tentang itu membuatnya senang setengah mati. Bagaimana nggak akan senang ? senin nanti, dia sudah bukan lagi anak culun yang memakai celana pendek biru tua, tapi sudah akan dengan celana panjang abu-abu. Sebenarnya tadi Mama mengajak Derry untuk ikut ke acara reuni keluarga, tapi Derry menolak. Sejak kemarin dulu malam, cowok itu sudah membuat ultimatum, bahwa mulai detik itu, dia tak akan lagi mengekori Mama dan Papanya ke reuni keluarga yang di adakan tiap bulan, itu kan kerjaan anak kecil, dan...dia bukan anak kecil lagi !!

Entah sudah ke berapa kali, Derry membongkar-bongkar tas barunya, memilih lagi buku yang akan dia bawa hari senin nanti. Dia kemudian bergumam lalu tertawa sendiri, tertawa dengan tingkahnya yang seperti orang nggak waras itu. Derry terlalu senang, senang karena sekarang dia sudah jadi anak SMU !!

Dia baru saja hendak mencoba celana panjang abu-abunya ( untuk yang ke 25 kalinya ) saat bel di pintu depan berdentang. Siapa lagi sih yang nekat bertamu di siang hari seperti ini ?? tanya Derry dalam hati, dia agak kesal karena acara mengetes celana abu²nya jadi terhenti. Derry lalu turun ke lantai bawah, menuju ke ruang tamu.

“ Selamat siang... “ sebuah suara halus menyapa Derry saat dia membuka pintu. Pemiliknya adalah seorang gadis berusia kira-kira sama dengan Derry, dan sepertinya dia berdarah campuran. Apapun campuran darahnya, dia cantik sekali

“ Selamat siang juga, cari siapa, ya ?? “ Derry bertanya, sementara matanya tak henti menatap mata gadis itu, warnanya biru. Seperti warna langit cerah.

“ Ehmm...maafkan saya...kami baru pindah, rumahku di depan rumahmu, dan__ “ gadis itu tak mampu meneruskan bicaranya, karena langsung di potong oleh suara seseorang,

- Biar saya yang ngomong, Non... - ternyata seorang wanita tua. Kelihatannya seperti pembantu gadis itu, kelihatan dari gaya bicaranya yang sopan terhadap gadis itu

- Anuu Den...Non saya mau pinjem sapu halaman, kami baru saja pindah, dan tak punya sapu untuk membersihkan halaman,.. - wanita tua itu menerangkan.

- Ooo...tentu saja boleh, tunggu sebentar, nanti saya carikan ya ?! - Derry segera berlari ke garasi dan mengambil sapu lidi. Tak sampai semenit, cowok itu sudah balik lagi ke depan.

- Ini sapunya... - Derry memberikan sapu itu pada gadis bermata biru, yang langsung mengambilnya.

- Terima kasih, nanti saya kembalikan setelah selesai membersihkan halaman.... - gadis itu berucap perlahan, seperti mengeja. Kentara benar dia masih susah untuk berbicara dalam bahasa Indonesia.

- Kami permisi dulu, ya Den..... - pamit wanita tua itu, sambil menggamit gadis di sampingnya. Mereka berdua lalu berbalik pergi, tapi Derry sempat mendengar wanita tua itu berkata,

- Non..kenapa keluar ? nanti ketahuan sama Bapak dan Ibu, Non pasti akan di hukum !! - nada bicaranya begitu cemas. Derry jadi heran, hanya keluar untuk pinjam sapu akan kena hukuman ? aneh....

Setelah gadis itu pergi, Derry merasa senang sekali, dia sekarang punya tetangga baru, cantik lagi !! dia berharap, mudah-mudahan dia akan sekolah di sekolah yang sama dengan-nya. Tapi, tentu saja itu hanya impian Derry, sebab dia tahu, anak-anak seperti itu, sekolahnya pasti di International school, tempat bersekolah anak² dari luar negeri, yang orangtuanya kerja di Indonesia.

Sayang sekali, Derry hanya sekali melihat gadis itu, saat dia datang untuk meminjam sapu. Hingga kesemutan cowok itu menunggu di teras depan, malah yang datang untuk mengembalikan sapu adalah pembantu tua itu.

Lusanya, saat Derry tengah menunggu oplet di depan rumahnya untuk ke sekolah, gadis bermata biru itu keluar bersama wanita tua itu. Kali ini, Derry bisa mengamati lebih jelas gadis itu. Kulitnya putih sekali, condong kepucat-pucatan. Mereka lalu menyeberang ke terminal tempat Derry tengah berdiri.

- Hai....!! - sapa Derry lebih dulu, wanita tua di dekat gadis itu menatap Derry dengan pandangan menyelidik, tapi dia tak berkata apa-apa

- Namaku Derry, kamu siapa ? - lanjut Derry bertanya, dia nggak mau lagi kehilangan kesempatan. Kemarin waktu dia datang untuk meminjam sapu, Derry menyesal habis-habisan karena tak sempat bertanya siapa nama gadis itu.

- Nama aku Gabriella, - jawabnya pelan

- Kamu tinggal di mana sebelum datang kesini ?? - tanya Derry lagi,

- Kami tinggal di Rumania, - dia menjawab agak takut-takut. Mungkin takut salah mengucapkan bahasa Indonesia

- Wah....di negerinya Count Dracula, ya ??!! – tukas Derry bercanda. Buku Bram Stroker yang sukses besar dengan ceritanya tentang Vampir itu memang adalah salah satu buku favorit Derry

Gabriella hanya tersenyum samar mendengar gurauanku. Derry ingin bicara lebih banyak dengan gadis manis itu, tapi oplet yang akan membawa-nya ke sekolah sudah datang. Derry lalu pamit pada Gabriella, dan masuk ke dalam oplet.

- Siapa itu, Der ? - Arnol bertanya menyelidik. Dia adalah teman sekampung Derry.

- Tetangga baru, - jawab Derry acuh tak acuh

- Boleh juga.... - komentar Arnol,

- Siapa sih namanya ? - tanya Arnol lagi. Derry menggeleng,

- Aku nggak tahu ! - dusta cowok itu. Si playboy kampungan itu pasti akan langsung memasang jeratnya jika dia tahu nama Gabriella.

Dan Derry tak harus menebak lama-lama apa yang akan di lakukan oleh Arnol berikutnya. Keesokan harinya, saat Derry baru saja keluar dari pagar rumahnya, di terminal sudah berdiri si playboy kampungan, Arnol.

- Tumben nunggu oplet-nya di sini, Ar ?? - tanya Derry berbasa-basi, karena dia tahu betul Arnol datang ke situ pasti untuk melihat Gabriella

- Sekali-kali jalan kesini kan nggak apa-apa, lagian jalan pagi itu baik untuk kesehatan badan kita ! - ucap Arnol berdiplomasi. Jalan sehat, nenekmu !! bilang aja pengen liat Gabriella...!! Derry berkata dalam hati.

- Ah...cewek yg kemarin menanyakan kamu, dia sempat ngeliat kita ngomong, lalu dia tanya siapa kamu, ku jawab aja teman sekampung, tinggalnya di ujung jalan... - cerita Derry. Mata Arnol langsung membulat,

- Bener Derr ?! - tanya Arnol antusias. Derry menganggukkan kepalanya meyakinkan.

- Iya...pagi ini dia katanya mau lari pagi di halaman GOR ! - mendengar itu, Arnol langsung meraih tasnya yang terletak di bangku terminal tunggu,

- Aku kok rasanya pengen jalan lagi,... - dia lalu berjalan menuju ke arah GOR yang terletak di dekat kantor Bupati. Derry tertawa dalam hati, umpannya kena juga. Biar si Arnol jalan sampai pegel, dia pasti nggak akan bertemu Gabriella, Derry hanya pengen ngerjain playboy kampungan itu.

Derry lagi menyiram bunga-bunga milik Mama-nya, saat Gabriella lewat. Seperti biasa, dia selalu bersama dengan pembantu tua-nya.

- Gabriella.... !! - panggil Derry. Gadis itu menoleh, dia lalu melihat kearah wanita tua yang selalu bersamanya. Perempuan itu menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Gabriella lalu masuk ke halaman rumah Derry.

- Ada apa, Derr ? - tanya dia

- Ehmm....lusa nanti, aku ulang tahun, dan akan ada pesta kecil. Aku pengen ngundang kamu, emm...tentu saja kalau kamu mau datang... - Derry berharap gadis itu akan menganggukkan kepalanya, tapi dia langsung kecewa. Gabriella menggeleng, lalu berujar pelan,

- Sebenarnya, aku ingin sekali menghadiri pesta ulangtahun-mu, tapi aku harus minta ijin sama Bapak dan Ibu sebelumnya, - Dalam hati Derry bersyukur, itu artinya masih ada harapan. Dia akan berdoa, agar Tuhan menyentuh hati kedua orangtua gadis itu, lalu mengijinkan Gabriella untuk memenuhi undangannya.

- Mudah²an kamu di kasih ijin, Gab.... - tukas Derry. Dia juga berharap Gabriella di ijinkan datang ke pestanya, karena Derry sudah bercerita pada teman-teman sekelasnya, bahwa dia punya tetangga gadis cantik sekali, dan mereka bisa melihat dia di pesta ulang tahun Derry nanti.

Hari yang di tunggu Derry tiba juga. Semua kelihatannya sudah siap, DJ yang di sewa Kak Indy sudah datang dengan peralatannya, balon-balon dan kertas warna-warni sudah tergantung indah. Derry lalu segera bergegas untuk mandi, sebab jam sudah hampir menunjukkan jam 7 malam, sebentar lagi para undangan pasti akan berdatangan.

Satu persatu, teman² Derry mulai datang, teman sekelasnya semua pada hadir. Tak lupa, si playboy kampungan Arnol yang mulai wara-wiri menebar pesona, yang sayangnya nggak begitu sukses. mungkin karena dia menyiram hampir satu botol minyak wangi ke tubuhnya, yang bikin orang pusing saat dekat dengan Arnol.

Mata Derry tak lepas dari pintu masuk, dia masih menunggu satu orang, Gabriella. Dalam hati dia mulai putus harapan, kayaknya Gabriella nggak di kasih ijin sama orangtuanya untuk datang ke pesta Derry. Cowok itu menghela napas panjang, dia lalu melangkah masuk ke ruang tengah, bergabung dengan teman-temannya.

- Der...mana Gabriella-mu itu ?? - tanya Anton

- Iya.....kayaknya kita cuman di bo'ongin Derry selama ini, si cantik Gabriella tuh cuman imajinasi-nya semata !!! - tambah Handri, mereka lalu tertawa mengejek

- Enak aja, Gabriella tuh ada dan nyata, dia nggak datang karena nggak dapet ijin dari ortu-nya tau !! - Derry mencoba untuk membela diri,

- Pesta cuma di depan rumah, dan dia nggak di kasih____ - ucapan Handri terhenti, mulutnya menganga dan matanya mengarah ke arah pintu.

- Der...ada bidadari datang ke rumahmu.... - Handri menunjuk ke arah pintu. Derry menoleh, nampak orang yang dia tunggu tengah berjalan masuk. Gabriella, dia tampak cantik dan anggun sekali dengan baju sackdress putihnya. Wajahnya yang putih hanya di poles dengan bedak tipis, dan bibirnya di beri sentuhan lipstik berwarna alami. Cantik sekali, memang bagai seorang bidadari cantik yang di lukiskan di dongeng-dongeng anak-anak.

Gabriella tersenyum pada semua orang yang menyapanya, sedang gadis-gadis lain menatapnya iri. Derry masih terpana melihat Gabriella, hingga tak sadar gadis itu sudah berada di hadapannya.

- Selamat ulang tahun, Der... - ucapnya sambil menyodorkan sebuah kado. Derry

ingin menyalaminya, tapi yang dia dapat adalah sesuatu di luar imajinasi, Gabriella mencium kedua belah pipi Derry. Cowok itu tahu, saat itu semua sedang menatap dia dan Gabriella, pipi-nya langsung terasa panas. Tapi Derry langsung menepis pikiran bahwa gadis itu suka dia, kan dalam budaya barat sana, cium pipi itu adalah hal yang biasa ?

- Makasih, Gabby...boleh kan ku panggil kamu seperti itu ? soalnya namamu terlalu panjang, sih.... - tukas Derry bercanda. Gabriella mengedipkan sebelah matanya, lalu tersenyum manis sekali.

- Terserah kamu saja...sekarang, rasanya aku ingin mencicipi kue-kue buatan Mama kamu !! - dengan santai dan penuh percaya diri, Gabriella melangkah ke arah meja tempat semua makanan di letakkan, dia lalu mulai memilih-milih kue dan minuman. Derry terperangah, gadis itu kelihatan beda 160° dari yang dia kenal semenjak dia pindah di depan rumah Derry. Tanpa pembantu tua yang selalu menguntitnya, dia kelihatan beda sekali. Dalam hati Derry bertanya, kenapa Gabriella takut sekali pada wanita itu, dan kenapa wanita itu selalu menguntitnya ? Derry langsung menepis semua pikiran itu, dia lalu turun ke dancefloor dengan Gabriella, mereka berdansa bersama.

Pesta ultah Derry berlangsung dengan sukses. Yang paling sukses di pesta itu sebenarnya adalah Gabriella. Semua cowok pada berebutan mengajaknya berdansa.

Derry membuka matanya dengan berat, hari ini dia harus kembali pada kenyataan. Dia harus membersihkan bekas pesta semalam. Tiba-tiba dia teringat, bahwa tadi malam dia berjanji pada Gabby, bahwa pagi ini dia akan membawakan kue napolitain pada gadis itu. Cepat-cepat dia bangkit dari tempat tidurnya, lalu menuju kamar mandi.

Rumah Gabriella kelihatan sepi sekali. Berkali-kali Derry memencet bel pintu depan,

tapi tak ada yang keluar, dia lalu mencoba untuk mendorong pintu pagar itu, ternyata tak terkunci. Derry lalu melangkah masuk, langsung ke pintu depan. Dia mengetuk pintu, lalu menunggu. Lima menit setelah itu, pintu masih belum juga terbuka. Mungkin Gabriella masih tidur. Tapi, masak pembantunya juga tidur, walaupun hari minggu, jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 siang. Mungkin pembantunya sedang ke pasar ? berbagai tanya memenuhi benak cowok itu. Dia lalu memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Nanti sore dia akan balik lagi, pasti dia bisa bertemu dengan Gabriella, putus Derry. Baru saja dia hendak membalikkan badannya, tiba-tiba Derry di kejutkan oleh sebuah suara mengerang, datangnya dari arah belakang rumah. Di dorong oleh rasa ingin tahu, dia lalu memutari sudut yang di tumbuhi bunga-bunga aster, menuju ke belakang rumah. Suara mengerang itu semakin mengeras. Derry mencoba untuk mencari dari mana arah datangnya suara itu, ternyata datangnya dari sebuah pintu kecil, kelihatannya sebuah ruangan di bawah tanah.

Erangan itu semakin keras, dan kini Derry bisa mendengar dengan jelas, bahwa itu adalah erangan kesakitan. Lama cowok itu terdiam di depan pintu yang berukuran kira-kira tak sampai semeter itu. Dalam pikirannya, apapun yang terjadi di dalam situ , itu bukanlah urusannya. Tapi bagaimana bila itu Gabriella ? membayangkan Gabriella dengan senyum manisnya yang begitu menawan, Derry jadi tak sampai hati. Dia lalu mendorong pintu itu, tak tekunci juga. Cahaya matahari menelusup masuk ke dalam ruangan itu lewat pintu kecil yang kini terbuka. Derry mencoba untuk membiasakan matanya. Ada sebuah lorong di balik pintu itu, Derry lalu melangkah memasuki ruangan tersebut. Tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak marah,

- Sudah berapa kali Ibu dan Bapak bilang, kamu jangan bergaul dengan manusia, Gabriella ?? - suara seorang wanita

- Tapi aku juga manusia, Bu...aku perlu teman... - rintih Gabriella, Derry bisa mengenal suaranya

- Kamu hanya setengah manusia, dan tak lama lagi, kamu akan menjadi Vampir seutuhnya !! - bentak seorang lagi, kali ini suara seorang laki-laki

- Aku tak pernah ingin jadi seperti ini, Pak.... - terdengar suara Gabriella mulai berubah menjadi tangis. Suara laki-laki itu lalu terdengar lagi, tapi kali ini dia bersuara dalam bahasa yang aneh. Lalu, terdengar suara lecutan cemeti, di barengi oleh suara erangan kesakitan. Gabriella tengah di pukuli. Derry terhenyak, mereka , bicara tentang Vampir, benarkah itu ??

Derry berbalik, dia memutuskan untuk memberitahu Mama dan papanya tentang yang dia dengar, dan kalau mereka tak percaya, dia akan menelpon polisi, dan memberitahu bahwa tengah terjadi penyiksaan di rumah Gabriella. Tapi niatnya di urungkan oleh sebuah tangan yang menariknya kasar,

- Sedang apa kamu di sini ? - ternyata wanita tua itu.

- Aku hendak membawa ini pada Gabby, dan.... - Derry tiba-tiba merasa takut, dia menyodorkan bungkusan kue napolitain yang di pegangnya. Wanita tua itu menatap Derry, lalu menariknya agar masuk ke lorong itu. Derry mencoba untuk melepaskan diri, dan dia hampir berhasil, kalau saja laki² di dalam itu tak keluar.

- Ada apa di sini ?? - Derry menatap laki-laki itu. Dia terkejut sekali, terlihat taring yang menyembul dari di sela-sela bibirnya, mata laki-laki itu berwarna merah

- Dia mengintip, tuan... - jawab wanita tua sambil melepaskan pegangannya pada tangan tangan Derry

- Oooo....ini ya sahabat Gabriella yang membuat anakku jadi pembangkang ?? - laki-laki itu menyeringai. Derry makin ketakutan. Tiba-tiba, laki² itu meniupkan nafasnya ke arah Derry, sedetik kemudian, cowok itu jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Derry terbangun, dia tengah berada di kamarnya. Uff...ternyata dia bermimpi. Untung saja itu bukan beneran, sebab pasti dia akan kehilangan senyum Gabriella. Ternyata hari sudah malam, dan sudah pasti Derry akan di omelin Mama-nya, karena dia ketiduran dan lupa membersihkan rumah.

Derry tengah sendiri di dapur. Mama-nya baru saja membeli seekor ayam yang akan di potong, sebab Papa-nya pengen makan ayam kampung yang di goreng. Mama-nya berpesan pada Derry, untuk menyembelih ayam itu, seperti biasanya, hanya Derry yang berani untuk memotong ayam di rumahnya, walaupun sebenarnya dia tak suka melakukan itu. Kata Kak Indy, Derry sadis. Tapi, kalau semua nggak bisa, gimana bisa makan ayam yang lezat itu ??

Dia lalu meraih pisau besar yang biasa di pakai untuk menyembelih ayam, lalu merenggut leher ayam. Darah mengalir dari leher binatang malang itu. Mata Derry membulat besar melihat darah berwarna merah yang mengalir, perlahan tangannya dia celupkan di baskom tempat menampung darah yang keluar, lalu mulai menjilati jari-jarinya. Cowok itu tidak bisa lagi mengendalikan dirinya, baskom itu diambilnya, lalu dengan rakus Derry mulai meminum semua darah di dalamnya. Tiba-tiba dia seperti tersadar, dan mulai gemetar. Derry merasa takut sekali, hal yang baru saja dia lakukan adalah sesuatu yang menakutkan, dan Derry tahu, bahwa yang dia alami di rumah Gabriella, itu bukanlah mimpi.

Segera dia berlari keluar, tapi tertahan di pintu, matahari tengah bersinar. Dan, menurut cerita, para Vampir akan hancur bila terkena cahaya matahari. Derry tak perduli, lebih baik mati dari pada hidup seperti itu. Dia lalu menerobos keluar, dan berlari menuju rumah Gabriella. Dia tak hancur oleh sinar matahari. Derry meneruskan langkah kakinya, dia lalu mencoba untuk membuka pintu depan rumah Gabby. Tak terkunci. Saat dia masuk, nampak Gabby tengah duduk di sofa panjang, wajah gadis nampak pucat.

- Gabby, bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi ?? - tanya Derry menahan tangis. Dia meminum darah, sungguh itu mengerikan sekali

- Maafkan aku, Der. Kamu di transformasi oleh Ayahku jadi 'setengah Vampir'... - jelas Gabby

- Kamu tak akan mati oleh sinar matahari, tapi kamu perlu darah untuk hidup, tak perduli darah manusia atau hewan... - lanjut gadis itu menjelaskan. Derry terpana, tak percaya dengan apa yang baru dia dengar.

- Mereka bukan orangtuaku yang sebenarnya, aku terpaksa ikut dengan mereka, karena hidupku sekarang bergantung pada mereka, kamu juga.... - Gabby menatap Derry kasihan.

- Kenapa aku harus ikut mereka, Gabby ?? - kali ini Derry tak bisa menahan airmatanya lagi, ide untuk meninggalkan keluarga yang dia sayangi, membuatnya sedih sekali.

- Karena kalau tidak, kita akan mati, karena setiap dua hari, mereka harus memberi darah mereka sebanyak dua tetes, itu seperti obat bagi kita. Sebenarnya, yang ada dalam darah makhluk² setengah Vampir seperti kita adalah seperti virus, kalau kita tak mendapat dua tetes darah mereka, kita akan sakit, dan mati... - terang Gabby. Derry terkulai lemah...dia menyesal sekali, kenapa harus terpikat dengan senyum Gabriella, dan mati-matian mencari cara agar bisa melihat gadis itu ??

Tapi Derry tak ingin pergi, dia tak ingin meninggalkan keluarganya, dan kalau dia harus mati, dia lebih memilih mati di dekat Papa dan Mama-nya.

Tapi tunggu dulu, bukankah mereka tetangganya ? dan Derry tak harus susah-susah tinggal dengan mereka. Kalau dia sudah perlu dua tetes darah itu, bukankah dia hanya pergi menyeberang, dan meminta ? satu hal yang pasti, Derry tahu...bahwa mulai saat ini, dia akan senang sekali bila di suruh Mama untuk menyembelih ayam !!!! (NS)

0 komentar:

Posting Komentar