Popular posts

Archive for September 2011

Tentang WILDAN

28 September 2011
Posted by nsikome
Cerpen ini, meski hanya sebuah fiksi, terinspirasi dari sebuah kisah nyata sebuah keluarga, yang sangat menginspirasi aku. Ketabahan kedua orang tua Wildan, dan yg terutama, ketulusan seorang adik, Ghulam. Yang menyayangi kakaknya dengan sepenuh hati, meskipun dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh sang kakak. Salut buat Mama Frida dan keluarga..

Foto :gendenk.org

TENTANG WILDAN

Dia begitu menarik. Itulah kesan pertama yang didapat Ghulam, ketika bertemu Annisa. Pagi itu, Ghulam baru saja mengantarkan saudara lelaki satu-satunya Wildan ke sekolah, dan bertemu dengan gadis dengan rambut berkuncir ekor kuda.

“Pak Amran, siapa tuh?” tanya Ghulam pada penjaga sekolah Wildan, tak lagi mampu membendung rasa penasarannya. Mata si penjaga sekolah mengikuti arah yang ditunjuk tangan Ghulam, dan lelaki tua itu tersenyum simpul.

“Ohhh..itu namanya Mbak Annisa, dia mahasiswa yang lagi magang disini Nak Ghulam..”

“Kenapa? Dia cantik ya?” lanjut Pak Amran menggoda Ghulam, yang entah kenapa langsung memerah wajahnya di goda si penjaga sekolah.

“Ah, Bapak bisa aja..nggak kok, saya kan baru pertama kali melihatnya disini, normal kan kalau saya bertanya” elak Ghulam. Dia kemudian langsung berjalan menuju ke mobil, dan melambaikan tangan pada Pak Amran, yang terkekeh geli melihat sikap pemuda itu.

“Wildan, kamu senang disekolah hari ini?” tanya Ghulam, mereka sekeluarga tengah menikmati makan malam dirumah. Mama menatap Ghulam dengan pandangan penuh tanda tanya.

“Memangnya ada apa di sekolah Wildan, Lam?” tanya Mama. Ghulam mencoba untuk menyembunyikan reaksi kagetnya ditanya Mama seperti itu, tapi sudah terlambat.

“Nggak apa-apa kok Ma. Cuman mau nanya keadaan Wildan disekolahnya”

“Lho, bukannya kamu suka nanya langsung ke guru Wildan, Lam?” tanya Mama lagi. Ghulam mengaduk-aduk isi piringnya dengan resah. Kalau Mama sudah bertanya ini-itu, dia tak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang menurutnya sudah cukup memuaskan.

“Tadi Ghulam waktu nganterin Wildan, nggak sempet masuk ke dalam, soalnya sudah buru-buru mau ke Kampus, Ma.”

“Ada Nisa,” tiba-tiba terdengar suara Wildan yang sangat jarang berkumandang memotong percakapan Ghulam dan Mama.

“Siapa Nisa, Nak?” Mama terlihat antusias, maklum saja, Wildan adalah seorang anak yang sangat pendiam, terlalu pendiam untuk ukuran anak seumurnya. Namun Wildan tak memperdulikan pertanyaan Mama. Anak itukembali menekuni piringnya dan makan dengan lahap.

“Wil, ditanyain Mama tuh, kok nggak jawab sih?” Ghulam sedikit merasa nggak enak sama Mama. Wildan memang seperti itu, kadang kalau suasana hatinya lagi enak, dia menjawab, kalau tidak, langsung diam saja. Namun Wildan tak menggubris pertanyaan Ghulam, dia malah nampak asyik dengan potongan cumi gorengnya.

“Hai....kamu sodaranya Wildan ya?” ternyata, si cantik berambut ekor kuda yang menyapa. Ghulam tengah mengambil tas dan semua perlengkapan Wildan dari dalam mobil, dan tak menyadari, kalau ternyata mahkluk ciptaan Tuhan yang sangat cantik itu berada dibelakangnya.

“Ehm..eh..iya, maaf...saya tidak tahu ada anda dibelakang saya..” gugup Ghulam menyahut. Gadis itu tersenyum, dan demi Tuhan...Ghulam merasa senyumnya itu manis sekali. Mahkluk manis itu hanya tersenyum lagi, dan..dia mengulurkan tangannya ke arah Ghulam.

“Nama saya Anissa, kamu pasti Ghulam” katanya mengenalkan diri. Ghulam sejenak terpana, lalu menyeka tangan kanannya di celana panjang.

“Senang berkenalan dengan kamu, Nisa. Kok tahu nama saya Ghulam?”

“Wildan tuh yang ngasih tahu ke aku,” Ghulam mengangkat kening sebelah kanannya, hal yang selalu dia lakukan bila dia merasa heran.

“Wildan ngomong sama kamu?”

“Nggak banyak sih yang dia omongin, cuman kasih tahu ke aku nama kamu, saat aku bertanya padanya, siapa yang sering nganterin dia ke sekolah..” terang Annisa. Ghulam hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan gadis itu. Dia tentu saja merasa heran, karena Wildan tak pernah secepat itu langsung akrab dengan seseorang yang baru dia kenal. Apalagi langsung bicara dan memberikan informasi tentang anggota keluarganya. Ghulam tahu benar akan hal itu. Namun dalam hati dia merasa sangat senang, mungkin saat ini saudara laki-laki yang sangat dikasihinya itu, sudah mau membuka dirinya pada orang lain. Terima kasih, Tuhan, bisik Ghulam dalam hatinya.

“Aiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!” terdengar sebuah teriakan kesakitan dari teras samping rumah, tempat biasanya keluarga Ghulam berkumpul.

“Wildan lagi sama Papa ya, Ma?” tanya Ghulam sambil mencomot sepotong ubi goreng dari atas meja.

“Iya, lagi asyik tuh mereka berdua, Lam..tangan kamu dicuci dulu, kenapa sih? Main nyomot aja, banyak bakterinya, lho!” Mama yang selalu maniak pada apa yang disebut “kebersihan” langsung menyingkirkan piring itu dari atas meja dan menaruhnya kedalam tudung saji. Ghulam yang gagal mengambil potongan ubi goreng keduanya, langsung menuju ke arah teras samping.

Seperti biasanya, disana dia menjumpai Papa tengah dicabutin ubannya oleh Wildan, salah satu kegiatan yang paling disukai oleh Papa, dan juga Wildan. Kalau saudara lelakinya itu tengah mencabuti uban, tak ada yang boleh mengganggunya. Sedangkan Papa, dia selalu merasa senang, karena katanya, uban yang bikin gatal nggak pernah bisa tumbuh lama-lama dikepalanya kalau ada Wildan.

Tidak seperti biasanya, kali ini Wildan malah sedang asyik mencabuti uban Papa, sambil tersenyum-senyum gembira. Suatu hal yang sangat jarang terjadi pada saudaranya itu.

“Hai Wil, kok senyam-senyum mulu dari tadi, ada apa sih?” Ghulam duduk di samping Wildan. Sejenak senyum itu terhenti, namun kembali dia tersenyum lagi.

“Ada rahasia apa sih?” Ghulam makin penasaran melihat tingkah saudaranya itu. Namun segera dia tahu, bahwa dia tak akan pernah mendapatkan jawaban apa-apa dari Wildan. Ghulam lalu berdiri dan masuk kedalam rumah, diikuti oleh pandangan sedih Papa.

Waktu kembali berlalu, dan 3 bulan sudah Ghulam mengenal Annisa, dan tak pernah sedikitpun ada rasa berani yang muncul dihatinya untuk mengajak gadis itu, bahkan hanya sekedar jalan-jalan. Padahal, selama waktu berselang itu, mereka cukup dekat. Seringkali, mereka berdiskusi berdua tentang perkembangan Wildan.

Wildan memang entah mengapa menjadi dekat dengan Annisa, dan ini adalah yang pertama kalinya dia dekat dengan seseorang. Jika Annisa ada, Wildan tak malu-malu lagi memamerkan senyum indahnya, dan bahkan sesekali tertawa tergelak jika ada Annisa disampingnya. Ghulam makin menyukai gadis manis itu, terutama karena Annisa juga kelihatan menyukai Wildan, itu yang paling penting bagi pemuda itu. Jika ada seorang gadis yang juga menyukai Wildan saudara-nya, dan merasa nyaman dengan ke-eksentrik-an Wildan, maka dia bukanlah seorang gadis biasa.

“Hai,..Nisa, ini aku, Ghulam” sapa dia begitu Annisa menjawab ponselnya.

“Ada apa, Lam? Ada masalah dengan Wildan?” tanya Annisa, terdengar cemas.

“Nggak, Nis. Begini, Sabtu nanti aku ada acara Kampus, pesta ulang tahun Fakultas. Kamu mau nggak nemenin aku?” keringat dingin mengalir seperti air diwajah Ghulam. Untung aja percakapan itu hanya lewat telepon, Ghulam bisa membayangkan reaksi Annisa bila melihatnya basah kuyup keringatan seperti ini.

“Tentu saja mau, Lam. Eh, ngomong-ngomong, ini ajakan kencan, ya?” todong Annisa, yang makin membuat Ghulam keringetan. Sekali lagi dia bersyukur percakapan itu hanya lewat telepon.

“Ehmm...mmm....kalau kamu setuju, aku juga, sampai ketemu Sabtu ya!!” makin gugup, Ghulam langsung menutup sambungan telepon itu. Sedetik kemudian, dia baru menyadari, bahwa mereka belum punya meeting point alias akan ketemu dimana. Soalnya, Ghulam lupa memberi tahu dimana acara itu akan dilaksanakan. Waduh gawat, pikir Ghulam. Tiba-tiba, handphone-nya berdering keras, ternyata Annisa.

“Hai Nisa, ehmm..maaf ya, aku baru saja mau menelpon kamu” ujar Ghulam berbohong, sambil minta maaf sama Tuhan dalam hati. Jika Mama tahu dia bohong, pasti akan kena marah, soalnya, semenjak kecil dia dan Wildan selalu diajarin bahwa bohong itu dosa.

“Iya, habis..kamu nya langsung main nutup telpon sih,” rajuk gadis itu. Ghulam tertawa mendengar ucapan Annisa.

“Aku jemput kamu ke rumahmu ya? Alamatnya dimana?” Annisa terdengar mengucapkan suatu tempat, yang langsung dicatat oleh Ghulam dalam notes kecilnya, yang selalu memang dia bawa kemana-mana.

“Sampai ketemu Sabtu, Lam!” kali ini, Annisa yang menutup sambungan telpon.

Sabtu, pukul 6 sore

Ghulam tengah bersiap-siap untuk pergi ke acara ulang tahun Fakultas di Kampusnya, saat Wildan tiba-tiba muncul di depan pintu kamarnya. Wajahnya penuh tanda tanya.

“Aku mau ke acara ulang tahun Fakultas, Wil” Ghulam menjelaskan, selalu seperti itu. Wildan masih juga tak beranjak dari sana, dan wajahnya masih penuh tanda tanya.

“Aku pergi sama Annisa, Wil. Nanti pulangnya agak telat..” lanjut Ghulam. Sedetik dia melihat ada perubahan di wajah Wildan. Namun sedetik berikutnya, Wildan sudah berlalu dari hadapannya. Ghulam tiba-tiba merasa tidak enak, dan dia benar.

Terdengar suara teriakan dan diikuti dengan bantingan barang-barang dari kamar Wildan. Seketika hati Ghulam dirundungi perasaan sangat sedih. Dia lalu menghambur keluar kamarnya, dan menuju kamar saudara yang sangat dikasihinya.

“Wil..apa yang terjadi? Kenapa kamu marah seperti itu?” tanya Ghulam cemas, dia melihat Mama dan Papa sudah berada disana. Wildan masih mengamuk. Sia-sia usaha Papa untuk menenangkan dia. Ghulam juga melihat sudah ada memar di pipi Papa, sepertinya dia sudah kena pukul tinju Wildan yang besar.

Tiba-tiba, mata Ghulam terantuk pada sebuah foto kecil, yang dibingkai dengan kertas, disamping tempat tidur Wildan, dan seketika dia mengerti apa yang terjadi. Lukisan Wildan juga cukup jelas menggambarkan isi hatinya. Foto itu adalah foto Annisa, dan semua lukisan itu, wajah Annisa. Wildan memang sangat jago melukis, dan Ghulam sangat bangga akan keahlian saudara-nya itu. Wildan menyukai Annisa. Terlepas dengan keterbatasannya, dia tetaplah seorang pemuda berusia 20 Tahun.

“Wil, tenang.....kamu jangan marah ya,...adik tidak akan pergi ke pesta dengan Annisa. Adik hanya bercanda sama kamu. Nggak percaya? Adik mau kesana sebenarnya dengan kamu...ayo kita pergi, tapi ganti baju dulu, ya?” mendengar kata-kata Ghulam, seketika amukan Wildan terhenti, dan dia langsung menuju kamar mandi, setelah sebelumnya mengambil handuk. Di sudut, Papa terlihat meringis sambil memegangi pipinya yang memar, dan Mama, dia tengah menatap Ghulam dengan rasa kasihan.

“Ma, Pa, Ghulam pergi dulu sama kakak ya..” pamit Ghulam sambil menggenggam tangan kakak-nya Wildan.

“Pulangnya jangan lama ya Dik...kasihan kakakmu,..” Mama mencium Ghulam lalu Wildan, yang tersenyum berseri-seri, senang karena adiknya bukan mau mengajak Annisa, tapi dia untuk pergi ke pesta.

Ketika mobil yang dikendarai Ghulam berlalu dari hadapan kedua orang tua itu, ada airmata yang jatuh di pipi Papa dan Mama.

Perempuan itu teringat ucapan Ghulam beberapa tahun yang lalu, saat Ghulam kelas satu SMP....eyang Ti menyampaikan keresahannya pada Ghulam....mama di kamar dengar pembicaraan mereka,

Dek, kakak besuk bagaimana ya kalau sudah besar? Kakak kerja apa?.”. Tanya eyang Ti.

Ghulam menjawab serius, “Kakak itu besuk ikut aku, Yang....kakak menjadi tanggunganku.”.

Bukan salah siapa-siapa Wildan menjadi seorang anak autis, namun Mama kagum dengan kebesaran hati Ghulam, yang selalu mau menjadi tameng bagi kakaknya, selalu membela kakaknya, meski sering menjadi tempat sasaran pukulan Wildan ketika dia mengamuk. Bahkan kini, dia rela untuk mengesampingkan perasaan hati nya pada seorang gadis, demi Wildan, kakak autisnya.

Airmata kembali jatuh di pipinya. Terima Kasih ya Tuhan, telah memberikan Wildan seorang adik yang mau mengerti keadaan kakaknya, sertai mereka berdua terus selamanya, bisiknya dalam doa di hati.

(Untuk Mama Frida, Papa, Wildan & Ghulam, cerita ini terinspirasi dari keluarga kalian, maaf ya Ma, ada paragraf yang kuambil dari blog, kalian keluarga yang hebat, dan menjadi inspirasiku)

THE LOST CITY-Golden Mountain (Cerita Bersambung) Part 17

26 September 2011
Posted by nsikome
Makin seru ya,...bukannya sengaja belum posting episode ke 17 sejak pagi tadi, cuman sumpah,..aku sibuk banget hari ini, kalo gak percaya, tanya deh sama orang rumah (hehe).. Ya udah, go ahead, no talk action only, selamat membaca!!...

Photo:Inca Princess denverartmuseum.org


THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 17

“ Baiklah.... “ putus Sapa Inca akhirnya.

“ Begini saja, kita akan keluar bertiga ; saya, Arya, dan Ratu, kami akan berpura-pura untuk menyerah, aku sangat ingin sekali mendekati Illahuan, dan, aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri !! “ ucapan Sapa Inca itu tak urung mengagetkan aku, dan bahkan sang Ratu sendiri. Beliau bahkan kelihatan tersentak, tetapi kemudian tersenyum puas, namun sangat dingin.

Kadang aku lupa, kalau bangsa ini masih memakai adat istiadat kuno mereka, seperti ijin untuk membunuh siapa saja yang mereka nilai layak untuk dibunuh. Bisa saja orang yang sebelumnya paling dekat dengan mereka, seperti Ibu Rapalla.

“ Yang Mulia, bagaimana dengan saya dan Annamaya ? Apakah kami berdua harus tinggal dan bersembunyi disini saja ? “ tanyaku.

“ Kalian berdua tinggal disini saja, karena tak bisa ilmu sihir, saya takut kalian bisa tertangkap oleh para penjahat, dan kemudian kembali dijadikan tawanan, nanti repot lagi... “ Sapa Inca menjawab bijak. Aku dan Annamaya hanya bisa menganggukkan kepala, sebab memang hal itulah yang terbaik bagi aku dan dia. Lagipula, tanpa senjata dan tak bisa sihir, apa yang bisa kami lakukan diluar sana, dengan para penjahat yang berkeliaran lengkap dengan persenjataan mereka. Memang sih, dalam ruang senjata milik para pekerja ini, ada beberapa senjata yang masih tersisa, namun melihat bentuknya saja, aku sudah ngeri. Kelihatan terlalu seram dan rumit. Bagaimana jika malah mencelakai diriku sendiri ? Kan sudah pernah terjadi sebelumnya dengan senjata berlaras panjang yang kami rebut di Acllahuasi !.

Mereka bertiga lalu keluar dari dalam persembunyian, dan mendekati para penjahat dengan tangan terangkat keatas. Setalah keberadaan mereka terlihat oleh para penjahat, terdengar olehku dan Annamaya suara teriakan Illahuan.

“ Jadi kalian sadar kalau kalian tak bisa melawan kami ?!!... “

Penasaran, aku dan Annamaya mengintip dari balik kereta dorong milik para pekerja, yang terletak disamping pintu masuk ruang senjata.

“ Kami menyerah, tapi jangan bunuh kami, kami mohon... “ Sapa Inca berteriak nyaring.

Kata-katanya memohon, tapi bila dicermati, nada suaranya sama sekali tidak mencerminkan permohonan.

“ Jadi kalian benar-benar menyerah ?! “ terdengar lagi teriakan Illahuan.

“ Kami menyerah, asalkan kalian tak membunuh kami, dan mengijinkan kami keluar dari tempat ini !!... “ Sapa Inca berseru.

Mereka bertiga kulihat terus berjalan ke arah para penjahat yang sudah bersiaga dengan senjata mereka ditangan, dan juga Illahuan yang menyihir puluhan tombak dan anak panah, yang terhunus mengarah pada Arya, Ratu dan juga Sapa Inca.

“ Kuharap mereka tidak akan kenapa-kenapa... “ Annamaya berucap memohon. Aku juga dalam hati berharap, semoga rencana kami berjalan lancar.

“ Tunggu dulu ! Mana kedua gadis sialan itu ? Mengapa mereka berdua tidak ada ?! “ saking kerasnya berteriak, suara Illahuan sampai bergetar. Kupikir dia curiga melihat absennya aku dan Annamaya.

“ Mereka berdua tak ingin menyerah, jadi mereka pergi meninggalkan kami, “ kata Sapa Inca mencoba untuk menjawab keraguan Illahuan.

“ Kalian jangan mencoba untuk membohongiku, sebab kalau itu terjadi, aku tak akan segan-segan untuk membunuh orang-orang kalian yang sekarang kami tawan !! “ teriak perempuan bengis itu sambil menunjuk kearah sekumpulan para pekerja yang kalah perang dan kini menjadi tawanan mereka. Sejenak ada raut khawatir di wajah pemimpin itu. Aku tahu benar, kalau dia sangat mengkhawatirkan rakyatnya.

“ Sekarang kalian berjalan perlahan menuju ke arahku, sambil tangan terus diangkat, dan jangan coba-coba untuk menyihir ! “ perintah Illahuan tegas.

Arya, Ratu dan Sapa Inca terlihat mengikuti perintah perempuan itu, berjalan perlahan sambil tangan terus terangkat keatas seperti orang menyerah.

“ Illahuan, mengapa kau lakukan semua ini istriku ? “ tanya Sapa Inca sambil terus berjalan kearah perempuan itu. Illahuan hanya menatap Sapa Inca dengan pandangan mengejek.

“ Tidakkah kau merasa, bahwa para penjahat-penjahat itu hanya ingin mengambil semua emas yang kita miliki, dan kemudian akan membunuh kita semua ?! Apa kau tidak merasa kasihan dengan rakyat kita ? Mereka ikut-ikutan jadi korban atas semua ini.. kau yang menjadi penyebabnya... “ suara Sapa Inca terdengar parau. Aku tahu dia masih berharap ada kebaikan dalam diri istri pertamanya itu, sebab bagaimanapun juga, Sapa Inca mencintai perempuan itu, seperti yang terungkap dalam percakapan keras antara dia, Sapa Inca dan Ratu sebelumnya.

“ Aku tak akan menyangkalnya, “ kata Illahuan pelan, senyum mengejek tersungging dibibirnya.

“ Untuk apa mempertahankan kerajaan yang bahkan tidak diketahui oleh kerajaan-kerajaan lain di seluruh jagad raya ini ? Untuk apa memiliki semua emas itu, kalau keberadaan kita saja tidak diakui oleh orang-orang lain, karena kita bersembunyi seperti orang-orang pengecut dalam lembah ini ?!... “ teriak Illahuan. Perempuan itu terlihat sangat marah, karena wajahnya sekarang menjadi merah padam.

Sapa Inca terlihat marah mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut perempuan itu.

“ Tapi kau membunuh anakku dan melukai anakmu sendiri perempuan biadab !! “ jerit sang Ratu, yang seketika meloncat untuk menyerang Illahuan, tapi langsung di peluk oleh Sapa Inca yang mencegah tindakan cerobohnya itu.

Ratu melonjak-lonjak marah dalam pelukan Sapa Inca.

“ Dia membunuh anakku !! Dia membunuh anakku Yang Mulia !! Aku harus membunuhnya !! Aku harus membalaskan dendam anakku !! “ teriak perempuan itu sambil meronta-ronta dalam dekapan suaminya, yang kini terlihat sangat sedih sekali begitu sang Ratu mengucapkan tentang kematian anak mereka, Intipalla.

Aku juga langsung merasa seperti hatiku ditusuk-tusuk belati, perih sekali. Tanpa kusadari, airmata langsung mengalir deras dari kedua mataku. Kenyataan bahwa pemuda itu sudah mati, dan tak akan mungkin untuk bisa lagi bertemu dan berbicara dengannya membuatku merasa sangat sedih sekali.

Entah apa yang dikatakan oleh Sapa Inca pada sang Ratu, aku tak bisa mendengarnya karena kini mereka bertiga berdiri agak jauh dariku dan Annamaya, dan juga dia hanya berbicara perlahan pada sang Ratu. Tapi yang pasti, sang ratu tak lagi meronta-ronta. Perempuan itu hanya diam sambil terus menangis dalam pelukan suaminya.

‘ Sudah bagus anakmu yang pongah itu tak mati ditanganku, sebab kalau sampai aku yang harus membunuhnya, akan kubuat anak sialan itu menderita terlebih dahulu sebelum dia menjemput ajalnya !! “ bentak Illahuan tersengal-sengal. Kentara betul perempuan itu murka. Kupikir dia cemburu melihat sang Ratu terus menerus dipeluk oleh Sapa Inca.

Sang Ratu terlihat seperti akan meronta, tapi kemudian perempuan itu kembali memeluk Sapa Inca sambil menangis.

“ Sekarang saatnya untuk memberi kalian pertunjukan yang bagus... “ perempuan kejam itu berseru.

“ Keluarlah sayang.... “ teriaknya lagi.

“ Halo Arya, apa kabar ? “ Aku terpana melihat pemandangan yang terjadi kira-kira 25 meter didepanku, sungguh tak bisa dipercaya.

Itu kan, Om Jacques, teman Papa yang berkebangsaan Perancis itu ?!.

“ Kenapa lama sekali baru kau memanggilku ? Aku sudah sangat tak sabar !! “ Jacques memeluk Illahuan, lalu mencium bibir perempuan itu dengan mesra dan sangat atraktif sekali. Aku sampai terpana melihat gaya mereka berdua.

“ Sampai dimana pertunjukannya ? “ tanya Jacques acuh tak acuh sambil melepaskan dirinya dari pelukan Illahuan.

“ Tuh !! Penyerahan diri total... “ ujar perempuan itu menunjuk ketiga orang yang berdiri tepat dihadapannya dengan dagu. Sungguh terlihat sangat pongah.

“ Illahuan....teganya kau berbuat begitu pada rakyatmu sendiri... “ Sapa Inca bahkan seperti tak mampu untuk berkata-kata melihat istri pertamanya yang baru saja berciuman dengan mesra dengan orang lain didepan matanya sendiri.

“ Kau mengkhianati rakyatmu dan juga aku... “ lanjut Sapa Inca tercekat, seperti tak percaya pada penglihatannya. Illahuan menatap wajah Sapa Inca jijik.

“ Munafik, kau sendiri beristri banyak, apa yang bisa kau katakan untuk itu, HAH ?! “ tantang perempuan itu.

“ Tapi itu kan adat istiadat bangsa kita sejak dulu ?! “ tangkis Sapa Inca. Pembenaran untuk poligami yang dianutnya.

“ Sudahlah....apa gunanya memperdebatkan hal yang sudah lalu ? Iya kan, sayang ? “ potong Jacques sambil memeluk pinggang Illahuan, pemandangan yang membuatku muak.

Sapa Inca terlihat kecewa dan sangat bersedih. Aku sendiri mengerti kenapa dia seperti itu. Untuk seorang laki-laki yang sangat berkuasa dan bisa dibilang hampir memiliki segalanya, kehilangan seorang istri lewat sebuah pengkhianatan adalah sesuatu yang sudah pasti sangat menyakitkan.

“ Kau benar, Jacques. Sekarang kita tinggal mengurus sampah ini, sebelum mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak dulu, tahta kerajaan Inca !! “ tegas Illahuan, sambil memberi isyarat kepada anak buahnya agar segera meringkus ketiga orang yang berdiri dihadapannya itu.

Tepat ketika para sekutu Illahuan bergerak hendak menangkap Sapa Inca, Ratu dan Arya, mereka bertiga menggerakkan tangan yang sejak tadi diangkat, dan tiba-tiba saja batu-batuan yang berada disekitar para penjahat meledak dan menimbulkan kepulan debu yang sangat banyak, membuat pandangan terhalang.

“ Mereka dimana ?!!!....Cepat tangkap dan langsung bunuh bangsat-bangsat itu !! “ terdengar seruan marah Jacques.

Bunyi peluru yang ditembakkan dari senjata-senjata para penjahat itu mulai seru terdengar. Aku dan Annamaya yang sejak tadi merapat kebatu besar di depan gerobak dan menguping pembicaraan mereka langsung mengundurkan diri, masuk kedalam tempat penyimpanan senjata tapi terus membiarkan pintu terbuka agar kami bisa melihat apa yang terjadi diluar sana.

Kepulan debu yang banyak akibat ledakan batu-batu itu membuat aku tak bisa melihat dimana teman-teman kami berada.

“ Aning, kau bisa melihat sesuatu ? “ Annamaya bertanya khawatir. Sama sepertiku, gadis itu rupanya tak bisa melihat dengan jelas apa yang tengah terjadi.

“ Biadab kau, kubunuh KAU !! “ dua sosok berguling keluar dari dalam kepulan debu sambil bergulat. Pakaian yang dikenakan mereka berdua membuatku langsung tahu, itu adalah Ratu dan Illahuan.

“ Perempuan tidak tahu malu, perebut tahta milikku, RATU PALSU !! “ Illahuan tak mau kalah. Tiba-tiba mereka berdua berdiri berhadapan, dengan wajah membara.

Pertempuran dalam kepaulan debu masih terus berlanjut.

“ Sekarang baru tahu rasa !! Anakmu yang pongah itu sudah kubuat mampus !! “ teriak Illahuan mengejek.

Kupikir dia salah besar menyebutkan tentang kematian Intipalla pada sang Ratu, karena istri ketiga Sapa Inca itu kini menatap Illahuan dengan pandangan seekor binatang buas yang kehilangan anaknya, bukan lagi seorang perempuan lemah lembut.

“ Kau benar Illahuan, karena itu kau harus menyusul anakku di akhirat untuk bersujud minta maaf padanya !! “ seru sang Ratu sambil mengangkat kedua tangannya, dan seketika kepulan debu yang menghalangi pandangan kami seperti terangkat dan terkumpul di langit-langit atas Piramida.

Pandanganku kini bisa melihat dengan jelas. Semua yang tengah bertempur didalam kepulan debu itu seperti kaget dengan kejadian yang ajaib itu. Aku bernapas dengan lega melihat adikku masih hidup dan utuh, juga Sapa Inca.

Seperti dikomando, semua yang tengah bertempur berhenti, melihat aksi sang Ratu.

“ Marua !! Apa yang kau lakukan ?!.. “ teriak Sapa Inca begitu sadar bahwa yang melakukan hal itu adalah sang Ratu.

“ Aku akan membawa perempuan laknat ini minta maaf pada anakku !! “ balas Ratu berteriak lantang.

“ Istriku....hentikan itu...kau akan mencelakakan dirimu.... “ Sapa Inca berseru memohon.

“ Aku....sudah....siap....untuk....mati !!... “ tanpa menghiraukan seruan Sapa Inca, perempuan itu terus mengangkat tangannya, dan debu-debu yang terkumpul melayang diatas Piramida kini membentuk pusaran, seperti badai tornado yang sering kusaksikan di televisi.

“ Kau yang akan mati MARUA !! “ Illahuan yang rupanya tak mau kalah, juga melakukan hal sama, dan kali ini bukannya badai debu yang dia buat, tetapi semua anak panah dan tombak didalam perut gunung kini melayang terangkat dan berputar-putar dengan sangat cepat sehingga menimbulkan bunyi desing mengerikan.

“ Marua....Illahuan....kumohon...hentikan perbuatan kalian berdua.... “ pinta Sapa Inca, sambil mendekati kedua perempuan yang tengah murka itu, dan laki-laki yang sangat dihormati di kerajannya itu berlutut memohon pada kedua perempuan yang dicintainya.

“ Minggir Yang Mulia...ini bukan tentang anda, tetapi tentang anak kita yang dia bunuh !! “ bentak Ratu, tak lagi memperdulikan posisi Sapa Inca sebagai Raja.

“ Intipalla !!...Dia masih hidup !! “ suara Jacques terdengar nyaring, bahkan mengalahkan kebisingan disitu. Laki-laki itu menunjuk kearah pintu masuk dari arah Kuil.

Sang Ratu menoleh, dan kelengahan sepersekian detik itu berakibat fatal baginya, senjata-senjata tajam Illahuan secepat kilat mengarah padanya, dan langsung menancap ditubuh gemulai sang Ratu.

“ Kau....kau...curang... “ wajah marah sang ratu bercampur kesakitan amat sangat.

“ MARUA !! “ Sapa Inca berlari menghampiri istrinya seperti kesetanan.

“ RATU !! “ tanpa sadar, aku dan Annamaya sudah berlari keluar dari dalam ruang penyimpanan senjata, menghambur menuju Ratu yang tergeletak berdarah ditanah.

Well...well...well...disitu kalian rupanya....ringkus mereka berdua !! “ Jacques memerintahkan anak buahnya yang langsung mendekati aku dan Annamaya.

“ Jangan pernah coba-coba untuk menyentuh mereka berdua !! “ pekik Arya. Tangannya sudah terangkat ke udara, membuat para penjahat yang hendak menangkap aku dan Annamaya seperti tercekik tangan-tangan yang tak kelihatan.

“ Kak, mungkin sebaiknya kalian berdua tetap berada disana... “

Aku menggelengkan kepalaku, saran itu sama sekali tak akan berguna saat ini. Toh mereka sudah tahu bahwa aku dan Annamaya tidak melarikan diri seperti yang mereka katakan pada Illahuan sebelumnya. Lagipula, aku ingin melihat keadaan sang Ratu.

Bergegas aku dan Annamaya segera menuju Ratu yang tergeletak bersimbah darah ditanah, dilindungi oleh Arya yang menempatkan dirinya sebagai tameng antara mereka dan para penjahat.

Mungkin karena takut dan sudah melihat apa yang telah dilakukan Arya dengan kekuatan sihir yang dia miliki, para penjahat itu tak satupun mencoba untuk mendekati adikku yang kini jadi manusia super itu.

“ Yang Mulia, bagaimana dengan keadaan Ratu ? “ kutahu tak ada gunanya untuk bertanya, sebab melihat keadaan sang Ratu yang hampir setiap inci badannya tertusuk anak panah dan tombak, aku hampir yakin bahwa dia tak akan selamat, meskpiun memang takdir hidup dan mati manusia itu ada di tangan Tuhan. Sapa Inca hanya menatapku tanpa bersuara apa-apa.

“ Aning.... “ bisik sang Ratu pelan. Aku langsung mendekati perempuan yang kukenal sangat anggun dan lemah lembut itu. Tanpa terasa, airmata sudah membasahi kedua pipiku.

“ Intipalla menyukaimu, kau tahu itu ? Dia pernah bilang pada saya... “ kata sang Ratu pelan, dalam kesakitan yang terlihat jelas diwajahnya.

“ Ssstt...Yang Mulia sebaiknya istirahat dan tidak boleh terlalu banyak bergerak.... “ ucapku dalam tangis.

“ Saya...hanya.. mau tanya...apa...kau juga...menyukainya.. ? “ suara Sang Ratu semakin pelan. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“ Bagus...kalau saya bertemu...dengan...dia...nanti...akan saya katakan...kalau kau...juga..menyukai..dia.. “ terbata-bata perempuan cantik itu berusaha mengucapkan kata-katanya. Aku semakin tak tahan melihat keadaannya seperti itu.

“ Yang...Mulia....hamba...titip..kerajaan kita...berjuang...sampai titik...darah..terakhir...ya ? “ pinta Sang Ratu yang terlihat semakin melemah. Disebelahku, Annamaya terisak pelan.

“ Tanpa kau minta, saya pasti akan melakukannya, Marua...istirahat dengan tenang...saya mencintaimu... “ Sapa Inca kini terisak pelan, sambil terus menciumi wajah istrinya, dia tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata penghiburan, dan semua hal yang sangat membuat miris hati saat mendengarnya.

Aku sangat sedih dan terharu, karena dalam keadaan seperti itu, semangat keduanya tak pudar untuk mempertahankan apa yang menjadi milik dan sudah mereka lindungi sejak jaman dahulu. Rakyat dan kerajaan Inca.

Saat Sapa Inca mengangkat kepalanya dari wajah Ratu, aku tahu bahwa perempuan itu kini telah pergi untuk selama-lamanya.

“ Yang Mulia !!!... “ Annamaya menjerit menangis, lalu memeluk perempuan yang kini terbaring kaku itu.

“ Wah...wah...sangat menyedihkan sekali yang kalian pertontonkan pada kami...selamat... “ suara Illahuan memecah keheningan yang menyakitkan.(BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

MIMPI

24 September 2011
Posted by nsikome
Photo :josephinewall.co.uk


MIMPI


Terbang seorang diri,

Menjemput CINTA dari kekasihnya

Merangkul masuk ke dalam pelukan

Menyatu di batas kenangan……

Menggali sisa-sisa rindu

Membentuk indah suatu dosa

Sebab, tak seharusnya terbang seorang diri….

Biarkan angan mengembara

Menicum lembut bibir kekasih

Melumat habis nafsu birahi !!

Lepaskan segala emosi di hati !!

Terbang ke utara

Terbang ke selatan,

Terbanglah ke segala arah…

Meraih segala yang di damba…

Merobek tirai-tirai pemisah

Lepaskan rasa yang menggila

Biarkan semua ikuti takdir jiwa

Sebelum nanti terjaga,

Dari tidurnya !!!


( Meudon-France, 12-03-’99 )

BOOK YOUR BLOG

23 September 2011
Posted by nsikome




Hi guys!!..

Kenapa saya memberi judul seperti diatas? Tentu kalian semua yg setia bolak-balik mengintip blog-ku pada penasaran. Soalnya, ini kali pertama saya memposting sesuatu yang bukan "Fiksi" seperti yg selalu saya lakukan selama ini.

Book your blog, adalah sebuah iven yang diselenggarakan oleh Penerbit Leutikaprio. Sebuah Penerbit buku independent, yang mengkhususkan diri untuk menerbitkan buku-buku ataupun tulisan-tulisan bagi para penulis, tanpa kecuali! Apalagi penulis-penulis yg sering mengalami diskriminasi dari penerbit-penerbit gede,hehe.

Lewat iven ini, Leutikaprio mengajak kita semua, yang punya blog dan suka menulis, untuk mendaftarkan diri ikut iven ini. Ada hadiahnya pula, tulisan kita akan diterbitkan oleh mereka, dan juga di publikasikan oleh mereka pula, bagi 3 blog yang dianggap sebagai blog terbaik, dengan tulisan-tulisan yang bagus pula.

Inilah saatnya, untuk kita-kita para bloggers, unjuk pena/keyboard komputer (bukan gigi ya?), yang suka menulis, tapi masih malu-malu, curahkan hasil tulisan ke blogmu, yang punya tulisan bagus tapi cuma sekedar di blog saja, inilah kesempatan kita untuk membuktikan, bahwa kita memang punya "sesuatu" (ngekorin Syahrini)

Untuk lebih lengkapnya, nih, klik tautan berikut, supaya kamu, kita, para bloggers sejati (semangat amat), bisa langsung ke info selengkapnya :



Salam,

NSikome

THE LOST CITY-Golden Mountain (Cerita Bersambung) Part 16

18 September 2011
Posted by nsikome
Hi guys,.....ini adalah ketiga yg terakhir dari The Lost City, jadi, masih ada 2 Episode lagi, dan kita akan sampai di akhir kisah The Lost City untuk BOOK 1 : The Golden Mountain. Selamat menikmati!!


THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 16

“ Panggil Sapa Inca, dan suruh mereka bertiga berhenti berperang ! “ desis suara itu kejam.

Ya Tuhan, kali ini aku benar-benar tak menyangka. Suara itu, tanpa perlu melihat wajahnya, aku tahu siapa dia. Sungguh diluar dugaanku, dan mungkin bahkan semua orang yang berada di pihak kami dalam pertempuran ini.

“ Bagaimana mungkin kamu bisa berkhianat pada bangsamu sendiri ?! “ desisku marah.

“ Tak perlu banyak bicara, Aning ! Tahukah kamu, kalau semua ini adalah salahmu ?! Sekarang panggil Sapa Inca ! “ bentaknya marah, sambil menekankan belati keleherku lebih dalam. Perih mulai terasa disana, dan aku yakin kalau leherku pasti sudah tergores sedikit.

“ Yang Mulia !! “ teriakku sekencang mungkin. Berhasil ! Sapa Inca menoleh kearahku.

Raut wajah pria tua itu tidak jauh dari yang aku bayangkan sebelumnya. mulai dari tak percaya, marah, dan benci berubah-ubah tergambar jelas di raut wajah laki-laki itu.

“ Jadi kaulah pengkhianatnya ?! “ seru Sapa Inca murka. Wajahnya berubah menjadi merah padam.

“ Tentu saja...siapa lagi yang bisa membawa masuk mereka kemari ?! “ suara wanita itu, yang tak lain adalah Ibu Rapalla terdengar menghina.

Ratu yang sedang bertempur ikut berhenti melihat pemandangan yang aneh itu. Wajah cantik berdebu yang penuh amarah dan dendam itu makin murka melihat istri pertama Sapa Inca menawanku dengan belati menempel dileherku.

“ Aku tahu sejak dulu, kalau kau itu memang sebenarnya berhati busuk Ilahhuan !! “ teriak Ratu marah. Ini adalah pertama kalinya aku mengetahui nama Ibu Rapalla.

“ Bagaimana kamu bisa tega berbuat seperti ini istriku ? “ Sapa Inca bertanya perlahan, tapi aku tahu bahwa laki-laki itu sedang murka. Kemarahan tergambar jelas di wajahnya.

“ Bagaimana aku melakukannya ? Gampang saja, aku bersepakat dengan para orang asing itu. Sejak Yang Mulia memutuskan untuk menjadikan Intipalla sebagai pewaris tahta, aku marah dan benci pada kalian semua, dan aku bersumpah bahwa aku akan membalas penghinaan itu ! “

Rupanya motif perempuan itu adalah rasa iri dan balas dendam karena bukan anaknya yang diangkat untuk menjadi pengganti Sapa Inca.

“ Apakah kamu tidak sadar Ilahhuan, kalau semua yang kau lakukan ini membahayakan seluruh penduduk kerajaan ini ? “ Sapa Inca kini lebih terlihat sedih daripada marah.

“ Peduli amat dengan kerajaan ini !! Kata para orang asing itu, semua emas yang kita miliki dalam gunung ini sangat berharga di dunia luar, dan bisa membuat kita menjadi penguasa dunia luar ! Untuk apa berdiam dalam lembah kecil ini, kalau aku bisa keluar dan menguasai dunia luar yang lebih luas ?! “ jelas sudah bahwa perempuan itu memang benar-benar tamak. Ditambah dengan suntikan-suntikan ide beracun dari para penjahat, jadilah Ibu Rapalla berkhianat pada rakyatnya sendiri.

“ Sebelumnya, aku akan membunuhmu !! “ teriak Ratu histeris sambil menerjang kedepan, dan mengangkat tangannya menyerang Ibu Rapalla.

Kepulan debu berhamburan di udara, membuat pemandanganku sedikit tertutup. Ibu Rapalla yang tak menduga akan adanya serangan itu, mundur kebelakang, membuat belati yang menempel dileherku menggores leherku sedikit.

“ Yang Mulia !! Jangan menyerang, pisaunya menggores leherku !! “ teriakku ketakutan.

Sejenak serangan sang Ratu berhenti, lalu kepulan debu itu mulai memudar. Samar-samar kulihat Sapa Inca, Arya dan Ratu berdiri bersisian diseberangku, dan dibelakang mereka, para penjahat-penjahat yang tersisa mulai mendekat.

Seketika aku tersadar, bahwa kini posisi kami sudah berbalik, dari mulai memenangkan pertempuran, menjadi pihak yang kalah. Tanpa ada sedikitpun perlawanan, para bajingan-bajingan itu meringkus sang Ratu, Sapa Inca dan Arya, yang tak bisa berbuat apa-apa karena melihat belati yang menempel di leherku.

“ Ternyata kalian bijaksana juga, bravo !!.. “ Franz muncul dari balik sisa-sisa kepulan debu, sambil bertepuk tangan dengan pongah.

“ Akan kita apakan mereka, Bos ? “ tanya Franz pada Ibu Rapalla.

Bos ? kupikir Franz dan para gerombolannya, serta Erold dan juga Hans (yang tak memiliki rasa hormatku lagi, sehingga aku tak menyebutnya dengan panggilan ‘Om’ sebelum namanya) merekalah yang menjadi kepala dari semua ini.

“ Kenapa Aning ? Kaget dengan semua ini ? “ tanya Illahuan keji.

Ya Tuhan, benang-benang merah yang tadinya kocar-kacir mulai terurai satu persatu. Seperti kegelapan yang mulai diterangi oleh cahaya, semua mulai menjadi jelas bagiku.

Semua penjahat-penjahat itu bukanlah perencana dari semua gerakan Coup d’Et√Ęt ini, tapi Ibu Rapalla-lah yang berada dibalik semua ini.

“ Ternyata kau yang merencanakan semua ini, dan semua kejadian itu adalah hasil rekayasamu semata... “ tuntutku geram. Belum pernah aku merasa semarah sekarang pada seseorang.

“ Termasuk keracunan itu, aku sengaja meracuni diriku sendiri dengan racun yang dibuat oleh Ibu Annamaya, agar perhatian semua orang teralih padaku, sementara para kawan-kawanku masuk kedalam sini ! “ dengan sombong perempuan itu melengkapi penjelasanku tentang semua yang terjadi.

“ Karena itu, penawar racun yang semula kata Ibuku ada 2 botol, hanya tersisa 1 sewaktu aku dan Aning mengambilnya untuk Arya, dan juga semua kekacauan dilaboratorium Ibuku, yang semula kami kira adalah ulah kucing yang nakal, itu adalah ulahmu dan orang-orangmu !! “ tiba-tiba saja entah darimana, Annamaya muncul.

“ Benar sekali anak manis, pintar sekali kau !! “ celetuk Illahuan sambil menepuk kedua tangannya.

Kulihat bibir Annamaya berkedut, dan sedetik kemudian, tanpa terduga dia menyerang Ibu Rapalla itu dengan sebilah pedang yang disembunyikan gadis itu dibelakang punggungnya.

“ Kau memang biadab !! Kau membunuh Intipalla, kau akan kubunuh !! “ teriak Annamaya murka, sambil merangsek maju.

Tapi usahanya sia-sia, karena hanya dengan mengangkat sebelah tangannya yang tidak memegang belati, dia berhasil menahan Annamaya, membuat gadis itu tidak bisa bergerak maju, seperti tertahan oleh sebuah tembok yang tak kelihatan.

“ Saya sudah pernah mengungkapkan semua ini pada Yang Mulia, tapi tak pernah sedikitpun Yang Mulia mempercayai kata-kata saya... “ keluh sang Ratu.

Sapa Inca memandangi istri pertama dan sang Ratu bergantian, seakan-akan tak percaya bahwa semua hal ini bisa terjadi padanya.

“ Kamu benar, tapi tahukah kamu, kalau sebenarnya yang dicintai oleh Sapa Inca adalah saya, dan bukan kau ?! “ ujar Illahuan dengan nada menghina sang Ratu.

Kulihat mata sang Ratu langsung dipenuhi dengan airmata. Perempuan itu tertunduk mendengar kata-kata Ibu Rapalla, seperti tanaman yang layu tak tersiram air.

“ Yang Mulia, aku sudah sering mendengar semua bisik-bisik itu dari para pelayan, apakah itu benar adanya ? apakah benar kalau Yang Mulia terpaksa bersama dengan hamba, hanya karena hamba-lah yang melahirkan anak pertama laki-laki Yang Mulia, yang akan menjadi penerus tahta kerajaan ini ? apakah benar kalau sebenarnya Yang Mulia hanya mencintai Illahuan seorang ? “ suara sang Ratu lebih mirip permohonan dalam desisan, meski jelas terdengar.

“ Maafkan aku Marua....semua itu benar... “ lagi-lagi aku baru tahu nama sang Ratu. Sapa Inca terlihat lelah, dan seperti meminta maaf pada sang Ratu, yang langsung terisak mendengar kata-kata suaminya itu.

“ Kenapa Yang Mulia tidak pernah meminta hamba untuk pergi ? Kenapa Yang Mulia terus bersama dengan hamba, kalau ternyata bukan hamba yang dicintai ? “ Ratu menangis sesenggukan diantara perkataannya.

“ Marua....kau tahu bagaimana adat istiadat bangsa kita, kan ? saya tak bisa melakukannya...” keluh Sapa Inca.

Kami semua yang berada disitu terdiam, seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan teater yang bercerita tentang cinta, bersetting jaman Inca kuno. Hanya satu kata yang bisa melukiskannya ; Aneh.

“ Kau lihat, Marua ? Seharusnya dari dulu kau tahu diri, tapi bukannya sadar, malah bertingkah seperti seorang Ratu, padahal kau tahu bahwa akulah satu-satunya istri Sapa Inca yang pantas untuk menjadi Ratu !! “ tandas Illahuan.

“ Saya memang mencintai Illahuan, tetapi tahukah kamu Marua, kalau rasa cinta itu telah musnah sejak saya mulai mengenal kelakuannya, dan mendapati bahwa parasnya saja yang cantik, tapi hatinya lebih busuk dari bangkai burung elang ?! Saya menyayangi kamu Marua, itulah kejujuran yang sebenarnya, dan saya lebih menyayangi kamu sejak kejadian sial yang menimpa kita ini dimulai !! “ kata-kata Sapa Inca sepertinya mengejutkan Illahuan, karena perempuan itu seperti terkaget yang membuat belati ditangannya sedikit mengendur dari leherku.

Segera kuambil kesempatan itu. Memanfaatkan ilmu beladiri yang diajarkan dalam ekstra kurikuler Karate di sekolah, ku putar tangan perempuan itu dengan cepat dan kuat, membuat belati yang di ganggamnya langsung terlepas karena kesakitan, lalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menghambur ke arah Arya.

Rupanya mereka sama sekali tidak menduga kalau aku akan bisa melarikan diri, dan Arya yang melihat semua itu langsung mengangkat bebatuan disekitarnya dengan sihir, lalu melontarkannya pada para penjahat yang berhasil meringkus dia, Sapa Inca dan juga Ratu.

Suasana kembali kacau-balau. Para penjahat yang terkena batu hasil sabetan ilmu sihir Arya langsung terjungkal ketanah, diam tak bergerak, entah mati atau pingsan aku tak tahu.

“ Tangkap mereka !! Jangan biarkan mereka lolos, kalau bisa, bunuh mereka semua !! “ teriak Illahuan memberi perintah.

Aku sama sekali tidak menduga istri pertama Sapa Inca adalah otak yang berada dibalik pembantaian rakyatnya sendiri. Dalam hati aku bertanya-tanya tentang Rapalla, apakah dia tahu apa yang dilakukan oleh Ibunya ? Atau jangan-jangan, dia sendiri ikut berkomplot dengan Ibunya itu ? Tapi dia kan terluka dalam pertempuran, namun dia bisa saja terluka ketika bertarung dengan Intipalla ?!. Sejuta tanda tanya bercampur praduga muncul dibenakku tanpa bisa kucegah.

Kami berlima berlari bersama. Sapa Inca berlari sambil menarik tangan Ratu, sedangkan Arya memegang tanganku, dan aku memegang Annamaya. Kami bertiga mengikuti langkah Sapa Inca.

Setelah berlari diantara desingan peluru-peluru yang dilontarkan para penjahat, Sapa Inca masuk kedalam sebuah pintu kecil, yang terletak dibelakang salah satu kedai pengrajin, yang letaknya agak tersembunyi diantara tumpukan barang-barang didalam gunung.

“ Cepat masuk Arya, Aning !! “ seru Sapa Inca.

Ternyata itu adalah sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan senjata-senjata modern, seperti yang ada didalam Piramida, tapi bedanya didalam sana ruang senjata milik Sapa Inca terlihat rapi, tapi yang ini seperti sudah diacak-acak oleh orang.

Beberapa senjata bahkan sudah tidak lagi berada ditempatnya.

“ Rupanya Illahuan sudah memberi tahu para penjahat itu tempat penyimpanan senjata para pekerja didalam gunung ! “ rutuk Sapa Inca terlihat kesal.

“ Annamaya.....darimana saja kamu ? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu !! “ Arya merengkuh gadis itu kedalam pelukannya.

“ Aku ditawan oleh para penjahat, tapi kemudian dibebaskan oleh Rapalla, tapi sekarang aku tak tahu dia berada dimana, aku sangat mengkhawatirkan dirinya, dia kelihatan belum terlalu sehat... “

“ Yang Mulia, kenapa kita tidak keluar saja dan menghadapi para penjahat itu. Dengan sihir yang kita bertiga miliki, saya rasa kita bisa mengalahkan mereka, apalagi Kak Aning kini tidak lagi menjadi tawanan ! “ Arya terlihat bersemangat untuk melanjutkan pertarungan.

Aku jadi curiga, sepertinya anak itu sangat menikmati kekuatan sihir yang baru saja dia peroleh lewat kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya itu.

Sapa Inca seperti tengah berpikir keras, sedetik laki-laki tua itu kelihatannya ingin mengikuti saran Arya, tapi kemudian dia menggeleng perlahan.

“ Mereka terlalu banyak, Arya. Saya tak ingin mengambil resiko rakyat saya makin banyak yang terluka. “ Ucapnya tegas.

“ Tapi Yang Mulia, berdiam disini juga tak berarti banyak, diluar sana rakyat anda tetap akan dibantai, jika kita tak melakukan apa-apa !! “ sanggah Arya keras. Aku heran, anak itu jadi pemberani luar biasa sekarang.

“ Yang Mulia, anak ini benar, kita tak akan bisa menyelamatkan bangsa kita, jika hanya berdiam didalam sini. Mungkin lebih baik, kita membuat rencan, mencari jalan agar bisa menyelamatkan negeri ini ! “ Ratu berkata dengan berapi-api. Kemudian perempuan itu menatap Sapa Inca, sambil berkata memohon,

“ Yang Mulia, anak hamba meninggal karena berusaha mempertahankan bangsa ini, hamba tak akan rela jika semua pengorbanan anak kita itu sia-sia, lebih baik hamba mati... “ mata sang Ratu mulai digenangi airmata.

SENJA MERAH

Posted by nsikome



Senja merah,

Tergores luka bernanah

Kesunyian kian menyiksa......


Parau, suara merintih

Memohon, untuk mengerti

Tiada jawaban di nanti......


Terseok langkah,

Memikul duka dan luka

Yang semakin berdarah.....


Ingin berlari pergi,

Tak berdaya diri

Terpaku oleh takdir


Pasrah...........

Mimpi yang terbunuh,

Hanyut bersama angan

Terbang, di hempas keadaan,


Senja makin memerah.........

Tangisan terselimuti dendam,

Airmata geram menitik deras

Geraham mengatup, menahan amarah di jiwa


Hanya CINTA mampu meredam semua,

Mungkinkah ???

Entahlah !!!

Senja masih saja merah......


(Manado, 15 Mei ’03) / a dark Periode of my life..


THE LOST CITY-Golden Mountain (Cerita Bersambung) Part 15

11 September 2011
Posted by nsikome
Halo semua!..Sekarang kita sudah mulai masuk episode2 terakhir dari Trilogi "The Lost City" buku 1; Golden Mountain. Buat kamu-kamu yang terus setia dengan cer-ber ini, terima kasih untuk sumbangan semangatnya selama ini. Sekali lagi, Thank you so much.



THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 15


Aku dan kuyakin adikku juga terpana melihat isi ruangan itu. Didalamnya terdapat banyak macam senjata api dengan berbagai bentuk, model dan ukuran. Juga ada berbagai macam alat peledak, mulai yang berbentuk granat nenas, sampai yang canggih dengan sistem pengaturan digital, seperti yang biasa kulihat di film-film action barat.

Mereka yang kukira bertempur hanya dengan sihir dan pedang atau tombak, ternyata memiliki gudang senjata yang tak kalah komplit dengan milik agen-agen CIA atau FBI.

“ Yang Mulia, maafkan sebelumnya kalau saya terdengar sedikit lancang, saya hanya mau tahu, bagaimana Yang Mulia bisa mendapatkan semua ini ? “ rasa penasaranku tak bisa kutahan juga akhirnya.

“ Saya pikir, dengan emas kita bisa memiliki apapun yang kita inginkan, iya kan ? “ balas Sapa Inca bertanya.

Tolol benar aku, tentu saja dia benar. Dengan semua emas yang mereka miliki itu, senjata canggih milik seisi Pentagon saja aku yakin bisa mereka beli kalau mereka mau.

Aku mulai berpikir, bahwa cara hidup masyarakat disini yang terlihat masih sangat kuno hanyalah tampak luar saja. Artinya, memang masyarakat mereka hidup seperti itu, tetapi, Sapa Inca dan para pejabat kerajaan mereka pasti memiliki hal-hal yang diluar dugaan seperti gudang senjata canggih ini.

Setelah membekali diri dengan senjata secukupnya, kami keluar dari situ dan langsung menuju kearah pintu keluar ruangan tahta.

Sejenak Sapa Inca menutup kedua matanya rapat-rapat, lalu dia memberi isyarat pada kami untuk bersiap-siap dibelakangnya.

“ Didepan pintu ruangan tidak ada siapa-siapa, tapi didepan Piramida ada dua orang penjaga. “

Sapa Inca membuka kedua matanya lagi. Rupanya dia tadi tengah membaca pikiran orang, seperti yang sudah biasa kulihat dilakukan Annamaya dan Intipalla.

Kami berempat berjingkat-jingkat mendekati pintu utama Piramida. Sapa Inca benar, pintu Piramida dijaga dua orang penjahat, yang salah satunya kukenal. Dia adalah anak buah Hans yang bertugas ditenda stock.

Entah darimana datangnya, tiba-tiba dua buah patung kecil yang tadinya kulihat menghiasi sebuah lemari diruangan tahta menghantam kepala kedua penjaga itu, membuat mereka berdua langsung pingsan seketika.

“ Sekarang, kalian akan membalas semua kematian anakku ! “ sebuah suara halus mendesis marah dibelakangku. Ternyata Ratu yang melakukannya.

Kemudian, dua buah golok bergerigi yang tadinya dipegang oleh patung dewa dilorong melayang dengan cepat, dan tanpa bisa kucegah, kedua benda itu langsung menancap dalam kedada kedua penjahat itu.

Aku dan Arya terdiam ngeri. Nampak sang Ratu hanya menatap dingin dan mencemooh kearah kedua penjaga yang kini tinggal mayatnya itu.

“ Maaf Aning, Arya, aku harus melakukannya. Aku akan membunuh mereka semua, kecuali aku terbunuh lebih dulu ! “ sang Ratu menatapku, dan tak kulihat lagi tatapan lembut keibuan yang sangat kusuka darinya. Sepasang mata indah itu kini membara marah, penuh dendam atas kematian anaknya.

“ Aning, kita sekarang akan keluar dari dalam Piramida, jadi saya minta kamu dan Arya untuk berhati-hati, karena kemungkinan kita akan melakukan perang terbuka dengan para penjahat itu, dan itu akan sangat berbahaya bagi kalian berdua, terutama karena Aning tidak memiliki kemampuan sihir seperti kami ! “ nasehat Sapa Inca padaku, tahu kalau Arya sekarang sudah memiliki kemampuan sihir seperti seorang Panaca sejati. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Suasana diluar nampak ramai. Para penjahat sudah memulai kegiatan penjarahan mereka, dan kini mereka sudah mulai mengangkat peti-peti berisi emas keluar dari perut gunung. Para pengrajin yang dulunya kulihat duduk bekerja di kios-kios kecil mereka saat pertama masuk kedalam perut gunung, kini diperintahkan para penjahat untuk mengangkut emas keluar dari situ.

Nampak diseberang Piramida, Franz tengah duduk diatas gerobak yang dulunya digunakan para pengrajin untuk mengangkut emas yang hendak mereka pakai, sambil memegang selembar kertas. Entah apa yang tengah dicatat bajingan itu.

“ Aneh, para pekerja sebenarnya memiliki gudang senjata diluar sini, kenapa mereka tidak mengambilnya dan melawan para penjahat ? “ cetus Sapa Inca khawatir.

“ Mungkin mereka tidak sempat, Yang Mulia, karena para penjahat sudah keburu datang. “ Arya berbisik pelan. Kulihat Sapa Inca hanya menggeleng, seperti tidak setuju dengan kata-kata adikku itu.

“ Yang Mulia, syukurlah anda tidak apa-apa !!... “ sebuah suara tiba-tiba mengangetkan kami. Ibu Rapalla yang notabene adalah istri pertama Sapa Inca muncul tiba-tiba dari belakang.

“ Bagaimana kau bisa sampai kesini ? “ tanya Sapa Inca khawatir, tapi juga terdengar lega.

“ Mereka membawaku kesini, rupanya mereka memaksa salah seorang pengawal kerajaan kita untuk membuka pintu di Kuil, aku bisa mengelabui penjaga dan berhasil meloloskan diri ! “ wajah perempuan itu kelihatan ketakutan. Sapa Inca meraih tangan istri pertamanya itu.

“ Sekarang kamu bersama dengan saya, tak perlu takut, “ laki-laki itu berucap menenangkan istrinya. Sang Ratu juga ikut mengelus bahu perempuan itu.

“ Rapalla dimana ? anakku tidak kenapa-kenapa, kan ? “ tanya perempuan itu menuntut padaku dan Arya, seakan-akan kami menyembunyikan anaknya itu.

“ Dia baik-baik saja....sedikit terluka tapi kami sudah membawanya kerumah tabib, dan dia sudah diobati. Kata tabib, dia akan baik-baik saja... “ ujarku menjelaskan.

“ Ini semua salah kamu, Aning ! Kalau kamu tidak datang kesini, kami pasti sedang hidup tenang dan aman ! “ tuduh perempuan itu marah. Suaranya kencang terdengar.

“ Ssst.....kamu akan membuat kita ketahuan, simpan marahmu itu, lebih baik kamu lampiaskan pada para penjahat-penjahat yang mencoba untuk merampas milik kita ! “ tegur Sapa Inca berwibawa. Istri pertamanya langsung terdiam patuh, tapi matanya tetap menatap aku dan Arya, mengancam.

Peringatan Sapa Inca sia-sia, suara keras Ibu Rapalla tadi membuat kami ketahuan.

“ Itu mereka !! “ seru seseorang dengan keras. Franz si pemimpin rombongan langsung meloncat bangun dari tempat duduknya.

“ Wah....wah...satu grup komplet, lengkap dengan Kepala Sekolahnya ! “ tutur Franz bernada menghina, sambil menunjuk Sapa Inca.

Rasa marah yang menyakitkan hatiku langsung berkobar membakar dada. Aku tahu mengapa, kematian Intipalla yang menyebabkan semua rasa itu.

“ Pembunuh biadab ! kalian benar-benar seperti binatang !! “ teriakku marah, tak tertahankan lagi. Franz hanya tertawa sinis mendengarnya, membuatku bertambah murka.

“ Apa yang kau maksudkan itu, pacarmu yang berkulit coklat, anak Inca itu ? “ ledeknya lagi.

Tanpa bisa kutahan, aku langsung meraung dan menghamburkan peluru dari senjata berlaras panjang yang kupegang.

Dorongan energi yang keluar dari senjata saat kutembakkan itu tak bisa kuantisipasi, dan akibatnya bukan membunuh para penjahat, tapi hanya membuatku terjungkal jatuh ke tanah, membuat para penjahat tertawa terbahak-bahak.

“ Makanya, kalau cuma bisa pegang pulpen, jangan bermain-main dengan barang itu, berbahaya buat anak kecil seperti kamu !! “ salah seorang anak buah Franz yang berambut merah seperti rambut jagung menghina sambil menertawaiku.

“ Kakak diam saja disitu, bajingan itu milikku !! “ seru Arya dengan suara keras.

Rupanya para penjahat termasuk Franz menganggap remeh adikku itu. Mereka hanya tertawa terbahak-bahak, seakan-akan apa yang dikatakan oleh Arya barusan adalah sebuah lelaucon yang sangat lucu.

“ Memangnya apa yang akan kamu lakukan pada kami ? menggelitik kami sampai mati ?! “ celetuk salah seorang anak buah Franz yang berbaju biru, sepertinya dia orang lokal, tapi bahasa Inggrisnya sangat sempurna terdengar.

“ Mungkin itu ide yang sangat bagus, tapi saya memilih melakukan ini pada kalian !! “ balas Arya sambil mengangkat kedua tangannya.

Dibelakang para penjahat, batu-batu sebesar buah nangka terangkat ke udara dengan kecepatan yang mengagumkan. Melihat itu, wajah-wajah anak buah Franz, termasuk dia sendiri yang tadinya penuh dengan tawa langsung berubah pucat pasi.

“ Bb..b...ba..gai..mm..ana caramu m..m..melakukannya ? “ terbata-bata Franz bertanya heran sekaligus ketakutan. Raut pongah yang tadi tersirat diwajahnya kini sama sekali tidak kelihatan sedikitpun.

Arya hanya tersenyum sinis, lalu mengibaskan tangannya kearah para penjahat, yang langsung tertimpa batu-batu yang terangkat ke udara oleh Arya. Mereka jatuh pingsan tanpa sempat melakukan perlawanan apa-apa.

Tanpa di komando, Sapa Inca, Ratu dan juga Ibu Rapalla langsung bergerak bersama-sama. Pertempuran yang tak seimbang terjadi. Para penjahat yang melihat teman-temannya sudah ambruk tanpa sebab, langsung menyerang kami. Jumlah mereka yang banyak tak seimbang dengan kami yang hanya berlima, karena dayang-dayang Ratu tidak diijinkan untuk ikur bertarung oleh sang Ratu sendiri

Aku sendiri, setelah tembakan pertama yang membuatku terjungkal, senjata berlaras panjang itu kupegang erat-erat. Benar saja, begitu tembakan yang keluar selanjutnya, aku merasa seperti sudah memegang senjata seumur hidupku.

Entah bagaimana melukiskan semua ini. Aku seperti berada dalam sebuah film perang. Campuran antara ‘Rambo’ dan ‘Harry Potter’. Kenapa campuran kedua film itu ? Karena bunyi rentetan letusan senjata yang tak habis-habisnya, membuat kepulan debu dimana-mana, juga benda-benda berat yang melayang di udara di sana-sini seperti dalam film ‘Harry Potter’. Benar-benar ajaib.

Namun, pertempuran yang tak seimbang jumlahnya itu rupanya akan dimenangkan oleh kami. Hanya dengan sihir yang dimiliki oleh Arya, sang Ratu dan juga Sapa Inca ( ibu Rapalla tidak bisa sihir rupanya ), korban sudah banyak berjatuhan dari pihak lawan.

Sedangkan aku, senjataku sudah kehabisan peluru, dan melukai cukup banyak penjahat.

“ Mereka berjumlah banyak, Aning ! “ seru Ratu, sambil mengibaskan tombak-tombak yang tersusun rapi disamping kedai pengrajin emas pada para penjahat, yang langsung merubuhkan lima orang sekaligus.

“ Mereka berjumlah 350 orang !! “ teriak Ibu Rapalla.

“ Aku mendengar mereka berbicara sewaktu masih berada di Acllahuasi !! “ lanjut wanita itu sambil terus bertempur.

Ternyata aku benar. Rupanya Hans dan para sekutunya sudah mempersiapkan diri untuk masuk kedalam Kota Yang Hilang. Karena untuk mengumpulkan 100 orang hanya dalam waktu singkat itu sudah tidak mungkin, bagaimana dengan 350 orang ?.

Pikiranku mulai berjalan lagi. Karena peluru di senapan berlaras panjang yang kupegang sudah habis, kuputuskan untuk undur diri dari pertempuran, dan bersembunyi dibalik sebuah batu besar yang terletak tak jauh dari pintu masuk Piramida.

Aku yakin, bahwa ekspedisi yang dipimpin Papa hanya dijadikan selubung oleh Franz, juga Erold dan Hans agar mereka bisa menemukan sendiri Kota Yang Hilang, yang telah mereka cari dan selidiki selama ini, untuk kepentingan pribadi mereka.

Pertempuran masih berlanjut, dan Arya semakin menggila. Kemampuan sihirnya ternyata besar sekali, dan bahkan melebihi Sapa Inca. Dia bahkan menciptakan semacam pusaran debu, yang begitu menghantam para penjahat, langsung membuat mereka kocar-kacir.

Saking serunya melihat pertempuran itu, aku sama sekali tak memperhatikan bahwa ada yang tengah mengendap-endap dibelakangku. Aku baru tersadar setelah sebuah belati tajam sudah menempel dileherku. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers