09 September 2011 | By: nsikome

SELAMAT TINGGAL KENANGAN

Cerpen ini, kudedikasikan untuk seluruh perempuan, seluruh Ibu, seluruh istri yang seringkali menghadapi masalah yang serupa. Mungkin kelihatan biasa, namun seorang ibu adalah seorang pejuang sejati, yang tak kenal pamrih, melahirkan dan mendidik anak sehingga dewasa. Walaupun, ada juga "ibu-ibu" yang menelantarkan anaknya. Namun demikian, keberanian dan ketangguhan seorang Ibu, tak akan bisa tergantikan oleh apapun juga. Selamat Hari Ibu (meskipun belum tiba)

SELAMAT TINGGAL KENANGAN

Oleh : N.Sikome

Suasana hiruk pikuk antara suara orang yang sedang bercakap-cakap dan bunyi musik mengisi ruangan aula sebesar setengah ukuran lapangan bolakaki yang di hiasi dengan bermacam ragam kertas hias berwarna-warni. Arini tersenyum bahagia melihat semua itu, semuanya adalah hasil kerja Alan anak sulungnya, dan juga Robert sang suami tercinta. Arini tak tahu kalau mereka tengah menyiapkan pesta surprise ini, mulanya dia hanya di titipi pesan untuk menyusul Alan ke aula Ignatius karena ada acara kampus mereka di sana, taunya baru dia sampai, semua sahabat-sahabatnya, sahabat-sahabat Robert, dan juga teman-teman anak²nya tengah menunggu dia di dalam aula, untuk merayakan pesta ulang tahunnya sekaligus syukuran karena Arini berhasil meraih titel Sarjana Hukumnya meskipun agak sedikit terlambat. Dalam hati Arini mensyukuri semua berkat yang telah Tuhan berikan kepadanya. Entah mengapa, tiba-tiba hati Arini merasa tak enak, sepertinya ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Sejenak dia melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan aula, dan feeling nya ternyata benar. Di sudut dekat pintu, ada sepasang mata milik seorang laki-laki yang memandanginya cermat. Arini tertegun, pandangan laki-laki itu langsung membawanya ke masa dua puluh tahun yang silam….\

Arini terjerembab ke lantai dapur, tubuhnya bengkak dan mukanya penuh dengan bekas-bekas pukulan. Dia menangis, sudah seribu kali dia meminta maaf pada Patrick, tetapi laki-laki itu masih saja terus memukulinya tanpa ampun. Tendangan bertubi-tubi mendarat di sekujur badan perempuan itu. Arini hanya merintih menahan sakit, dia tak ingin mengeluarkan suara lebih, bukan karena takut kedengaran tetangganya, tapi dia tak ingin Alan anak mereka terbangun dan melihat semua adegan itu. Semuanya berawal saat Patrick pulang dari kantor, laki-laki itu meminta Arini untuk membuatkan secangkir kopi. Tanpa sengaja, kopi yang hendak di berikan Arini kepada suaminya tertumpah dan mengenai ujung celana panjang Patrick. Laki-laki itu kemudian menjadi histeris dan mulai memukuli istrinya.

Saat menikah, Arini sama sekali tak tahu tabiat buruk calon suaminya. Bahkan saat mereka pacaran, tak pernah terlihat sedikitpun tanda-tanda bahwa Patrick itu adalah type seorang laki-laki yang ringan tangan dan suka memukul. Semuanya mulai jelas terlihat saat mereka baru menikah. Sedikit saja salah yang di buat Arini, itu sudah cukup untuk menjadi alasan bagi Patrick untuk memukuli istrinya. Arini tak mengeluh, dia bahkan tak pernah mengatakan hal itu kepada keluarganya. Dia tak ingin membuat mereka cemas. Dia berpikir, mungkin kalau dia hanya diam dan tak membalas semua kata-kata kasar dan perlakuan suaminya, satu saat laki-laki itu akan menyadari tingkah lakunya yang tak baik itu.

Tapi semakin hari berlalu, Arini semakin tak yakin dengan apa yang dia pikirkan, karena hingga tahun kelima pernikahan mereka, Patrick masih saja sama. Pernah satu kali Arini mencoba untuk bicara baik-baik dan menganjurkan suaminya agar pergi berkonsultasi dengan seorang psikolog, yang dia terima adalah luka-luka memar yang memanjang di sepanjang lengan dan pahanya. Arini sudah mulai putus asa. Dia sempat bertanya-tanya pada Tuhan, dosa apa yang dia perbuat hingga dia harus menerima hukuman semacam ini. Yang paling menyiksa dia, adalah bahwa ada kali dia harus berbohong kepada anaknya seperti pagi tadi.

Alan baru saja bangun, seperti biasanya anak itu mencari Arini untuk mengucapkan selamat pagi. Sambil berlari kecil, anak yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke empat berlari ke dapur untuk menemui ibunya. Di pintu dapur, Alan tertegun mendapati ibunya tengah berdiri di depan kompor dengan mata sembab berwarna kebiruan.

‘’ Selamat pagi, Mama. Mata Mama kenapa ? ‘’ tanya anak itu polos. Arini bingung harus menjawab apa, anak itu masih terlalu kecil untuk mengerti banyak hal. Dia lalu memilih untuk berbohong saja.

‘’ Mama tadi jatuh dari tangga, Alan. Tapi Mama nggak apa-apa, kok. ‘’ jawabnya berusaha untuk membuat Alan jadi tak kuatir. Tapi jawaban yang dia berikan dengan maksud untuk tidak menyakiti dan membuat anaknya cemas di balas dengan jawaban lain yang menyakitkan hati perempuan itu.

‘’ Kok Mama bohong, sih ? Alan tahu kalau tadi malam Mama di pukulin sama Papa !! Alan sendiri lihat.. ‘’ balas anak itu dengan nada meninggi. Arini terkejut, dia menyalahkan dirinya sendiri yang tak hati-hati. Alan belum seharusnya melihat hal-hal semacam itu.

“ Kok Papa jahat begitu dengan Mama ? Alan benci Papa !! sudah lama Alan tahu kalau Papa selalu tak baik dengan Mama. “ lanjut anak itu. Arini menjadi lebih terkejut, Alan tak boleh membenci ayahnya sendiri. Dia lalu mencoba untuk memberikan penjelasan yang bisa di terima oleh anak seumur Alan.

‘’ Alan, sebenarnya Papa-mu tak ingin bersikap jahat terhadap Mama, Papa-mu itu lagi sakit, makanya dia adakala jadi seperti itu ! ‘’

“ Biasanya orang kalo sakit diam di tempat tidur, di beri obat sama dokter. Kok Papa kalau sakit jadi suka mukulin Mama ? itu sih namanya jahat !! “ Arini terdiam mendengar ucapan anaknya itu, dia tak tahu harus berkata apa lagi. Terlalu sulit untuk menjelaskan sesuatu terhadap anak sekecil Alan.

“ Hush !! kamu tak boleh bicara seperti itu tentang Papa, Alan. Itu sama sekali tidak benar. Sekarang kamu makan pagi dan nanti temenin Mama memetik bunga di taman, ya ?! “ dengan lembut perempuan itu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan yang mulai berbahaya itu. Saat anaknya tengah menghadapi sarapan paginya, Arini mengamati putranya itu dengan seribu pertanyaan di benak. Akankah dia sanggup bertahan dengan hidup ini ? sampai kapan ? bagaimana nanti nasib anaknya jika dia bertahan tinggal terus dengan suaminya yang bertemperamen kasar itu ? dst..dst..dst-nya…

Akhirnya, kesabaran Arini mencapai batasnya pada tahun ke enam perkawinan mereka. Sikap suaminya yang kasar dan ringan tangan itu masih bisa di tolerir oleh Arini, jika saja sikap kasarnya itu hanya dia tujukan terhadap Arini. Tapi kali ini semuanya benar-benar sudah melampaui batas. Arini tak bisa melupakan hari itu. Suaminya baru saja pulang kantor. Arini sudah tahu bahwa ada yang tidak beres, mungkin saja ada masalah di kantor Patrick yang membuat laki-laki itu kelihatan uring-uringan. Setelah dia selesai memberi makan malam pada Alan, Arini segera membawa anak itu ke dalam kamarnya, lalu keluar untuk menyiapkan makan malam dia dan suaminya. Dia baru saja hendak mengeluarkan piring dari dalam lemari saat terdengar suara Patrick memanggilnya.

‘’ Kamu memanggil saya, Patrick ? ‘’ tanya Arini pelan. Terlihat betul suaminya mulai gusar. Dia mencoba untuk bersikap biasa.

“ Siapa yang merubah letak meja komputerku ? “ nada suara laki-laki itu mulai meninggi. Arini merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.

“ Itu si Ani yang mindah, tapi saya yang nyuruh biar ruangan jadi lebih luas. “ Arini memang menyuruh pembantu rumah tangga mereka yang hanya datang siang untuk memindah meja itu.

“ Saya tak pernah meminta kamu untuk melakukan hal itu kan, Arini ? kamu memang selalu membuatku marah !! “ kali ini suara Patrick sudah berupa teriakan. Selanjutnya sudah bisa di tebak, laki-laki itu mulai memukuli Arini. Seperti kesetanan, Patrick menginjak-injak tubuh istrinya itu. Tak puas hanya sampai di situ, dia lalu meraih lampu meja yang terletak dekatnya lalu di hantamkannya ke tubuh Arini. Tadinya perempuan itu mengerang-erang minta ampun seperti biasanya, tapi kali ini dia merasa terlalu sakit untuk bisa mengeluarkan suaranya. Hal terakhir yang di lihat oleh Arini adalah wajah polos Alan yang ketakutan di depan pintu kamar mereka.

Arini terbangun oleh bau tajam obat-obatan. Perlahan dia membuka matanya, di sekeliling perempuan itu hanya ada warna putih. Samar-samar sebuah wajah mendekati mukanya, ternyata itu Ibu Arini.

‘’ Ibu…kok ada di sini ? ’’ suara Arini terdengar pelan hampir tak terdengar .

‘’ Sssst… jangan bicara dulu, kamu masih lemah, Ning. ‘’ wanita tua itu menaruh telunjuknya di bibir.

‘’ Siapa yang kasih tahu sama Ibu ? ’’ Arini bersikeras untuk bicara juga walau sudah di larang oleh Ibunya.

“ Si Ani yang telpon, Ibu langsung terbang kemari. Kamu sudah empat hari terbaring di rumah sakit ini, Ning. Ibu jadi cemas sekali, takut kamu nggak akan bangun-bangun lagi. “ pelan Ibunya menjawab.

Arini tersentak, segawat itukah keadaannya ? apa yang di pakai suaminya untuk memukulinya kali ini hingga dia 4 hari tak sadarkan diri ? tiba-tiba Arini teringat pada Alan.

“ Alan ada di mana, Bu ? “ tanya-nya sedikit cemas. Terlihat wajah ibunya mengkerut, Arini jadi lebih cemas.

“ Bu ?!!……”

“ Ning, Alan ada di kamar sebelah, dia sedang dalam perawatan dokter. “ jawab ibunya perlahan, tapi cukup untuk membuat Arini tersentak kaget. Dia langsung ingin bangun, tapi dia tak punya tenaga cukup untuk itu.

“ Memangnya kenapa dengan Alan, Bu ? ada apa dengan dia ?!! “ Arini bertanya cemas, ada airmata yang mulai berlinang di kedua belah pipinya.

“ Kata si Ani, Alan mencoba untuk menghalangi ayahnya yang tengah memukuli kamu dengan lampu, dan laki² brengsek itu malah memukuli anaknya sendiri. Alan terluka di bagian kepala. Sampai sekarang dia masih berada dalam perawatan intensif. Kamu nggak usah kuatir, Alan pasti akan sembuh. “ Belum pernah Arini merasakan perasaan benci terhadap suaminya seperti yang dia rasakan saat ini. Kalau dia bisa, dia pasti sudah bangkit dan pergi mencari sepucuk revolver untuk membunuh Patrick. Kalau selama ini kelakuan kasarnya terhadap Arini masih bisa di tolerir, tapi apa yang dia lakukan terhadap anak mereka benar-benar tak termaafkan. Arini mulai menangis tersedu-sedu di pelukan ibunya.

Dua bulan Arini dan Alan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Menurut Ibunya, setelah apa yang Patrick lakukan terhadap istri dan anaknya, laki-laki itu di tangkap oleh polisi, dan hingga saat ini dia masih berada di dalam tahanan, menunggu untuk di proses. Tiga bulan setelah itu, Arini sudah pulih, anaknya juga. Dia lalu mengajukan permohonan cerai yang tak lama kemudian langsung di kabulkan oleh hakim. Suaminya memohon maaf berulang-ulang sampai berlutut di kaki Arini saat mereka menjalani pengadilan kasus suaminya di mana Arini menjadi saksi. Tapi bagi perempuan itu semuanya sudah terlambat. Patrick memohon ampun dan berjanji akan melakukan semua yang Arini sarankan, asalkan perempuan itu membatalkan niatnya untuk bercerai dari Patrick. Namun Arini tak bergeming, hatinya sangat sakit atas apa yang Patrick lakukan terhadap anak mereka.

Perlakuan Patrick terhadapnya selama 6 tahun membuat Arini kehilangan

kepercayaan kepada kaum laki-laki. Rasanya susah untuk bisa percaya dan menaruh harapan setelah semua hal buruk yang dia alami. Hal itu berlangsung selama 3 tahun sampai Robert muncul dalam kehidupannya. Dia adalah dokter yang merawat Alan. Selama hampir 3 tahun laki² itu mencoba untuk menumbuhkan kembali rasa percaya Arini terhadap hidup berumah tangga, dan juga terhadap kaum pria, dia akhirnya berhasil. Mereka menikah 3 tahun setelah peristiwa itu, setelah 3 tahun saling mengenal dan menyelami pribadi masing-masing.

Sekarang, melihat Patrick kembali setelah dua puluh tahun, membuatnya bertanya-tanya, sudah berubahkah laki-laki itu ? ataukah dia masih berjiwa binatang seperti dulu ?! mengapa dia ada di sini ?! mungkinkah Alan yang mengundangnya datang ?! Arini tak tahu.

‘’ Arin, kuenya sudah siap untuk di nyalakan lilinnya, sayang…’’ terdengar suara lembut Robert membangunkan Arini dari lamunannya. Perempuan itu berbalik dan dia menemui tatapan penuh kasih milik suaminya, tatapan yang masih sama seperti hari pertama mereka menikah dulu. Sekali lagi dia mengucap syukur dalam hatinya. Arini melemparkan pandangannya ke sudut tempat Patrick berdiri tadi, laki-laki itu sudah tak ada lagi di situ, dia sudah pergi. Arini menghela napas panjang, dia tahu bahwa masa lalunya sudah lama pergi ke belakang, dia tak akan mengingatnya lagi. Perempuan itu lalu menegakkan kepalanya, berjalan anggun ke tengah² semua undangan untuk menyalakan lilin di atas kue ulang tahun. Semua mata yang ada di dalam ruangan itu memandangnya, dengan di bantu oleh Robert, dia lalu menyalakan lilin² itu, terlihat kilatan blitz kamera di tangan Indri, putrinya buah pernikahannya dengan Robert. Arini menghirup udara panjang, lalu meniup semua lilin itu hingga padam, meninggalkan asap putih yang menghilang dengan cepat terbawa angin, bersama dengan kenangan² di masa lalunya.

( A woman, she can be your Mother, your wife, your daughter, and your sister, so... respect them !! )


0 komentar:

Posting Komentar