Popular posts

nsikome On 22 Oktober 2011


Note ; Kiawa Waterfall, berada di Sulawesi Utara, tepatnya di daerah Minahasa. Tempatnya berada di sebuah lembah, dan keunikannya adalah, di Lembah tersebut terdapat 9 air terjun, dan sebuah kolam pemandian air dingin dan air panas. Sebuah obyek wisata yg hingga sekarang masih belum begitu ter-ekspose, dan hanya menjadi tempat camping anak-anak Pencinta Alam.

Photo : www.seamslikereality.com

A VALENTINE'S DAY CARD

‘’ Phie….brenti dikit dong….capek, nih…. “ terdengar rengekan Dhita dari belakang. Ophie mengangkat tangannya sambil ngomong cuek,
“ Bentar lagi kita udah sampe kok, Dhit…sabar aja… ”
“ Tapi aku kan capek banget, nih… kaki ku udah pada melepuh kiri-kanan !! ” rungut Dhita lagi.
“ Siapa yang nyuruh kamu pake sepatu gaul yang nggak cocok banget buat ke gunung kayak gitu, Dhit ? nggak heran kaki kamu pada melepuh…. ” komentar Tia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran. 
Yang bikin dia lebih heran lagi, Dhita kan bukan type cewek yang suka naik gunung. Walaupun mereka pada temenan dekat, tapi setiap kali di ajak camping ke gunung, Dhita selalu menolak. Takut kukunya patah-lah, takut  ketemu ular-lah, pokoknya ada-ada saja alasannya. Dan sekarang, melihat Dhita yang semangat banget pengen ikut camping ke air terjun Kiawa, jelas aja Tia pada nggak ngerti.
“ Abisss…. Kata Ophie, di Kiawa banyak cowok keren yang suka berkemah di sana, aku kan harus tampil modis….” Sahut Dhita yang langsung di soraki oleh ke enam sahabatnya. 
Tia langsung mengerti kenapa Dhita mau ikut. Seminggu yang lalu, mulai dari hari senin sampe sabtu, telinga Tia dan kawan-kawannya pada penuh di isi keluhan Dhita yang merengek karena nggak berhasil dapetin pacar buat Valentine’s day nanti. Pasti dia nggak mau sendirian saat hari itu tiba, sebab teman-temannya yang lain sudah berencana untuk ke Kiawa tanggal 13 sampe 15 Februari nanti.
“ Udah ngomelnya....tuh Base Camp  udah kelihatan, Dhit...“ tukas Riri menengahi. Ke tujuh cewek itu lalu bergegas menuju ke tempat yang biasa di dirikan  tenda-tenda oleh para pencinta alam yang datang ke situ. Nampak di bawah, sudah tersebar puluhan tenda-tenda yang beragam warna dan modelnya. Ophie nampak agak sebal.
“ Yaaahh…tempat favorit kita udah kepake friends, gimana nih….” Keluh gadis tomboy berambut panjang itu.
“ Di deket air panas aja, Phie. Kan tempatnya cukup enak, teduh lagi ! ” usul Jeihan si pendiam.
‘’ Itu sih udah pasti kepake, Jei…kita cari aja mana yang kosong, dan cukup enak buat diriin tenda-tenda kita !! ‘’ putus Ophie akhirnya. Mereka lalu memasuki kompleks Base Camp dan mulai melihat-lihat tempat untuk tenda-tenda mereka.
Malam mulai jatuh saat Kimmy yang bertugas jadi koki malam itu menyelesaikan nasi goreng ekspress-nya. Tanpa di komando, mereka bertujuh langsung menyantap hidangan makan malam yang bila di tempat seperti itu terasa mewah dan jauh lebih enak dari pada di rumah, kecuali Dhita yang berpendapat lain tentu saja.
‘’ Aduh….ini makanan apa siksaan sih…. “ gerutu Dhita sambil mengibas-ngibas asap yang mengepul di atas piring plastiknya.
“ Mana makannya pake tangan lagi...kuku-ku jadi kotor, nih... “ lanjut cewek itu tanpa menghentikan aksi kipas-mengipasnya. Ke enam sahabatnya hanya tersenyum mendengar rengekan Dhita, lalu meneruskan makan malam mereka masing-masing. Melihat hanya di cuekin begitu, Dhita langsung menekuk mukanya, dan mencoba untuk memakan nasi goreng tanpa daging atau ikan secuil-pun itu.
“ Selamat malam nona-nona...maaf mengganggu... “ sebuah suara terdengar dari balik tenda kubah milik Chichi. Serentak ketujuh gadis itu mengangkat kepala mereka. Dari balik tenda, nampak menyembul sesosok tubuh cowok, yang saat wajahnya di sinari api unggun, dia agak mirip sama si keren Wallace Huo yang main di At The Dolphin Bay. Dia juga menenteng sebuah gitar yang penuh tampalan sticker di mana-mana, ciri khas gitar anak gunung.
Dan, sesuai dengan tebakan Ophie, Kimmy, Chichi, Tia, Riri, dan Jeihan, Dhita yang lebih dulu menyambut cowok itu dengan semangat Valentine  (duh...semangat Valentine  itu yah...ciri-cirinya, suara jadi mesra banget, condong ke merayu bisa juga, silahkan mikir sendiri deh, pembaca !!)
“ Hai.....kamu nggak mengganggu, kok...mari silahkan... “ Dhita menjawab centil, sambil menggeserkan pantat-nya memberi tempat duduk di atas rumput pada cowok itu.
“ Mau ngapain kesini kamu ? mau ngamen ?! tempatnya di pusat kota sana !! “ cetus Chichi judes. Dia emang paling sebel kalo ada cowok yang coba-coba bikin pendekatan di tempat kayak gini. Biasanya kan, cowok-cowok seperti itu, hanya mau pacaran di situ, buat semalam dua malam. Bener-bener nyebelin !!
“ Ihh....jangan di ambil hati ucapan nenek sihir itu, ya....dia emang jutek banget ! “ Dhita buru-buru meminta pengertian, takut cowok itu pergi. Soalnya, semenjak sore tadi, sejak mereka tiba di situ, dia tak pernah di beri sedikitpun kesempatan untuk kenalan dengan cowok-cowok yang sedari tadi pada berkeliaran di sekitar tenda.
“ Aduh...jadi nggak enak nih, aku cuman mau ngasih ini sama kamu ! ” cowok itu mengangsurkan sesuatu ke arah Ophie. Gadis itu mengernyitkan dahinya heran. Siapa yang mengenalnya di sini. Sebab sedari tadi, tak ada satupun yang dia kenal di situ. Teman-temannya sesama pendaki yang dia kenal baik pada naik gunung Soputan untuk ngerayain Valentine. Ophie mencoba untuk melihat secara seksama barang yang di sodorkan cowok itu, namun cahaya api unggun yang mulai meremang tak begitu membantu penglihatan gadis itu. Ophie lalu mengulurkan tangannya, meraih barang itu, di ikuti oleh enam pasang mata sahabat-sahabatnya yang penuh tanda-tanya. Ternyata itu adalah sebuah kartu, kartu Valentine.
“ Tapi...siapa yang__” pertanyaan Ophie terhenti, sebab baru saja dia mengangkat kepalanya untuk menanyakan identitas si pengirim kartu pada cowok itu, dia sudah pergi, Ophie dan ke enam cewek lainnya hanya bisa menatapi punggung cowok itu, yang sudah menjauh ke arah kolam air panas.
“ Cepet banget dia pergi, sayang...aku belum  nanya siapa namanya... ” suara Dhita lebih mirip keluhan. Namun wajah gadis itu langsung menjadi ceria kembali, saat dia melihat ada 3 orang cowok yang mendekat ke arah tenda mereka.
Sementara itu, Ophie yang kebingungan mendapat kartu Valentine itu tak henti-hentinya menatapi kartu dengan bunga Edelweis yang di rekat satu persatu hingga membentuk buah hati.
“ Mau di buka nggak....?? ” tanya Riri dengan suara menggoda. Namun Ophie mengacuhkan godaan Riri. Pikirannya hanya di sibukkan oleh tanda tanya besar tentang si pengirim kartu. Perlahan dia membuka kartu itu, lalu membacanya.

Dari lubuk terdalam hati nuraniku...
Dari sejuta mimpi-mimpi tidurku...
Atas nama bintang-bintang di langit,
Dari malam yang paling kelam....

Di antara seribu keinginan...
Dan di dalam lautan kerinduan...
Di sela-sela angin yang meniupkan Cinta,
Atau benci, atau murka....

Ku ingin bicara,
Ku ingin meminta
Atau berharap,
Mungkin memohon....

Berlabuhlah diri-mu, di pantai hatiku,
Selamanya.........

(apapun jawaban-nya, aku menunggumu di kolam air dingin besok malam jam 9 tepat)

Ophie menghembuskan napas panjang dari mulutnya. Di dalam kartu itu, tak tercantum nama pengirimnya. Namun satu hal yang pasti, Ophie yakin bahwa kartu itu sudah di buat jauh-jauh hari sebelumnya. Siapa yang tahu aku di sini ? pertanyaan itu kembali merasuki pikiran Ophie, membuat gadis itu kehilangan selera makannya.
Besoknya, Ophie mencoba untuk mencari cowok yang memberikan kartu itu semalam padanya, dengan berpura-pura berkeliling mencari kayu bakar. Namun, hingga malam mulai tiba, wajah cowok tak bernama itu tak kelihatan secuil-pun. Padahal Ophie sudah mencari-nya kemana-mana.
Kemarin malam, saat teman-temannya bertanya tentang isi kartu itu, Ophie hanya menjawab bahwa itu adalah sebuah kartu yang di berikan oleh Enda, anak KPA Tunas Hijau yang udah lama naksir dia, kebetulan cowok itu temennya si Enda. Sahabat-sahabat gadis itu pun hanya mengangguk tanda percaya, sebab mereka semua tahu gimana perasaan Enda sama Ophie. Bahkan, Valentine tahun kemarin Ophie di bikinin ayunan buat tidur dari  tumbuhan merambat yang di kenal dengan sebutan Tali Hutan. Itu lho....yang suka di pake Tarzan  buat berayun, tapi di jalin dari tali-tali kecil, nggak segede milik Raja Rimba itu.
Ayunan itu sempat menjadi pusat perhatian di rumahnya Ophie selama sebulan, apalagi jalinan yang di buat Enda sangat rapi dan indah di pandang.
Segera setelah makan malam, Ophie mengucapkan selamat hari Kasih Sayang kepada sahabat-sahabatnya, kecuali Dhita, soalnya tadi pagi pas baru bangun Dhita udah ngucapin selamat Hari Kasih Sayang kepada semua. Alasannya sih, dia udah dapet kencan buat ngerayain malam Valentine. Jadi, kemungkinan dia nggak ada mulai malam jatuh besar sekali. Dan ternyata Dhita nggak bohong, jam enam lewat dikit ada cowok bertampang bayi yang datang menjemput dia di tenda. Ophie melirik jam sport di pergelangan tangan kanannya dengan gelisah. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lewat 45 menit. Tinggal 15 menit lagi, udah mau jam 9. Jam yang tertulis di kartu itu, si pengirim kartu akan menunggu Ophie di jam itu, dekat kolam air dingin. Namun, gadis itu sama sekali belum memutuskan apakah dia akan pergi atau tidak.
Saat Ophie tengah gelisah, Jeihan melihat ke arahnya.
“ Phie, kamu baik-baik aja, kan ? ” tanya Jeihan kuatir. Soalnya nggak biasanya si Ophie jadi kayak gitu. Pada saat makan malam aja, dia jadi males ngomong. Ophie menatap Jeihan bimbang. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan tentang isi kartu itu pada Jeihan. Setelah Ophie selesai bercerita, Jeihan mengangguk-angggukan kepalanya serius. Gadis itu lalu menatap Ophie, sambil menepuk bahu sahabatnya itu pelan,
“ Phie, kupikir lebih baik kamu pergi, tapi aku harus temenin kamu. Soalnya, kalau kamu nggak pergi, pasti kamu akan penasaran terus sepanjang sisa hidup kamu. Tapi kalau kamu pergi dan ternyata dia itu cowok gatel, kan ada aku buat bantuin kamu....” tutur Jeihan panjang lebar. Tapi sebenarnya dia nggak perlu takut  membiarkan Ophie pergi sendiri. Lima cowok jahil aja pernah di hantam gadis ber sabuk hitam Taekwondo itu di halaman parkir mall saat mereka mulai mengeluarkan kata-kata jorok, apalagi cuman satu cowok ?!. Namun entah mengapa, Jeihan kali ini tak ingin meninggalkan Ophie sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat 55 menit saat kedua gadis itu menuruni jalan setapak menuju kolam air dingin. Cahaya bulan purnama penuh membuat keduanya tak perlu memakai senter untuk kesana. Nampak di ujung kolam, sesosok bayangan tengah duduk di atas sebuah batu. Wajahnya menengadah hingga di terpa cahaya bulan, Ophie dan Jeihan langsung bisa mengenalinya, dia adalah cowok yang memberikan kartu itu.
“ Akhirnya kamu datang juga, ku pikir kamu nggak akan pernah datang menemui aku... ” cowok itu berucap lirih saat Jeihan dan Ophie sudah berada dalam jarak cukup dekat. Ophie heran mendengar kata-katanya.
“ Maaf ya....mungkin kamu salah orang, aku sama sekali nggak kenal kamu...” Ophie mencoba untuk menjelaskan, sementara Jeihan hanya diam di samping gadis itu sambil menatap waspada.
“ Mengapa kamu ngomong seperti itu ? saya hanya perlu jawaban dari kamu. Terserah itu Ya  atau Tidak,  yang penting aku tahu...kenapa kamu kejam banget sama aku ? apa aku kamu nggak kenal aku lagi ? aku Heru....kita kenal sejak usia kita baru 5 tahun, Nia.... “ tutur cowok itu. Ophie terkejut mendengar semua itu, kelihatannya cowok itu gila. Buktinya dia manggil Ophie dengan Nia.
“ Aku bukan orang yg kamu cari, maaf ya.... ” Ophie langsung mau beranjak pergi, namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Heru berikutnya.
“ Apakah itu artinya Tidak  Kania Isabella Purnomo ? ” Ophie tercengang, matanya membulat besar.
“ Itu....itu..itu kan...nama lengkap Mama aku, Jei....” gadis itu menatap Jeihan lalu meremas tangannya.
“ Bagaimana kamu kenal Mama aku ?! ” seru Ophie. Cowok yang ternyata bernama Heru itu malah balik menatap Ophie dengan pandangan tak percaya,
“ Tidak mungkin...aku...aku...menunggu sudah begitu lama...” cetusnya lirih. Dan kejadian berikutnya sungguh tak bisa di percaya, tubuh cowok itu perlahan mulai menghilang-muncul, seperti hologram. Jeihan mulai gemetaran, begitu juga halnya dengan Ophie.
“ Sampaikan pada Ibu-mu kartu itu, katakan bahwa aku masih menunggu jawabannya... aku ada di air terjun...di dalam... ” suara Heru menghilang seiring dengan hilangnya tubuh cowok itu. Tanpa menunggu aba-aba, kedua gadis itu langsung melesat secepat kilat berlari menuju ke tenda, dengan lutut gemetaran.
Dua hari kemudian, Ophie dan Mama serta Papanya datang ke air terjun. Ternyata Heru adalah sahabat semasa kecil Mama, mereka selalu bersama-sama hingga dewasa. Mama yang juga adalah seorang pencinta alam sering datang untuk berkemah di air terjun Kiawa. Satu hari sebelum hari Valentine,  Heru ingin menyusul Mama Ophie ke air terjun, untuk memberikan kartu Valentine-nya, namun dia terpeleset, lalu jatuh ke sungai dan akhirnya meninggal. Heru lalu di nyatakan hilang, sebab jasadnya tak pernah di ketemukan.
Mereka lalu mengikuti petunjuk yang di berikan Heru pada Ophie, dan setelah dua hari pencarian, sisa-sisa kerangka Heru akhirnya di ketemukan di bawah sebuah liang batu di dekat air terjun. Terjepit di antara bebatuan hingga tak bisa mengapung dan akhirnya tak bisa di temukan. Apalagi setelah hilangnya Heru, anak-anak pencinta alam pada takut ke Kiawa.
Setelah pemakaman sisa-sisa kerangka Heru, Ophie bertanya pada Mamanya,
“ Ma, kartu-nya Mama apa’in, sih ?! “
“ Ah...kamu ini, pengen tahu aja. Mama sudah membakarnya, sambil memanjatkan doa, semoga dia tenang di sisi Tuhan... ”
“Yaaaa.....Mama payah....kok di bakar, Ma ?!....” Mama Ophie menatap anaknya heran campur kesal.
“ Ophie....kamu ini apa-apaan, sih ? mau kamu apakan kartu itu ?! ”
“ Puisi di kartu itu bagus Ma...Ophie mau menyalinnya ke Buku Harian Ophie, ngomong-ngomong, om Heru kece banget ya, Ma ? kok di tolak cinta-nya sih Ma ?!..”
“ Ophie.....kamu......!!!! ”

(Kiawa Waterfall, Feb 04 )


T A M A T

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers