Popular posts

nsikome On 29 Desember 2011


Photo: www.zazzle.com

THE NEW APPRENTICE?

Hari ini, saya merasa sangat suntuk dan kesal berkepanjangan. Urusan yang seharusnya sudah saya selesaikan hari ini, tak bisa kelar, dan semua itu dikarenakan oleh sahabat saya si Eny. Pagi-pagi, saat saya sudah mau berangkat kerja, tiba-tiba dia datang, dengan mata sembab merah, dan hidung merah juga, seperti habis nangis semalaman. Bukan itu, dia memang nangis semalam suntuk. Demi menjaga tali persahabatan yang sudah terjalin sejak jaman tali puser kami masih mentah, dengan sopan kupersilahkan dia masuk.
Dan, itulah awal bencanaku hari ini. Begitu dia masuk ke ruang tamu super mini-saya, tanpa ba-bi-bu, Eny langsung meraung menangis dan memeluk saya erat-erat, yang langsung diikuti oleh umpatan tak bersuara dari mulut saya . Bukannya tak punya tenggang rasa sedikitpun terhadap teman yang lagi sedih, tapi si Eny langsung main peluk aja sambil mewek, sehingga blazer bersih super licin saya langsung full ingus dan airmatanya. Jelas saja saya jadi kesal. Kekesalan saya  juga bukan hanya sampai disitu. Hari ini saya sebenarnya ada meeting penting dengan satu grup pejabat bank terkemuka dikota saya (ceileeee…meeting penting , untung saya bukan PNS, kalo enggak, masih muda gini dan udah meeting-meetingan, penting lagi! nanti disangka korupsi, trus diminta laporin kekayaan sama KPK). Akhirnya, rencana saya untuk kerja dan meeting, harus BATOT alias Batal Total gara-gara si Eny dan persoalannya!.
“Suamiku minggat, pergi meninggalkan aku dan Christa!!…” tangis Eny sambil menggosok-gosokkan hidung melernya ke bahu saya. Sungguh, kalau tak ingat dia adalah sahabat ter-lama saya, sudah saya suruh dia balik ke rumahnya saat itu juga. Dia datang pada saat yang tidak tepat sama sekali.
“Sssshh….kamu kenapa Ny?” tanya saya pura-pura peduli. Memang saya pura-pura, karena sumpah, susah saya untuk benar-benar peduli, saat ada meeting penting yang terancam gagal, belum dihitung dengan omelan Boss saya si “Kanjeng Mami” yang kebetulan juga adalah seorang janda, yang sudah pasti akan menghiasi kuping selama seminggu penuh.
“Dia…dia minggat…disuruh sama Ibunya pergi meninggalkan saya…” tergagap-gagap Eny bercerita.
Eny itu memang adalah sahabat dekat saya. Selama ini, memang Ibu Mertuanya adalah satu-satunya “onak duri dalam daging” pada pernikahannya yang bahagia. Sedangkan Adi suaminya, adalah tipe seorang STI (Suami Takut Ibu), yang manjanya nggak ketulungan.
Seringkali Eny mengeluh pada saya tentang perilaku suaminya itu. Bagaimana Ibu mertua-nya selalu saja ikut campur dalam setiap urusan rumah tangga mereka, yang anehnya selalu saja di-iyakan oleh si Adi. Saya sendiri kurang suka sama si Adi, karena, secara ya, meskipun saya ini seorang janda, tapi saya mampu menghidupi diri sendiri, dan yang terutama adalah mampu mencari jalan keluar bagi setiap persoalan dan masalah-masalah saya. Sedangkan si Adi, masak dia, seorang lelaki yang sudah dewasa, selalu saja mengadu kepada Ibunya setiap kali ada masalah pribadi antara dia dan Eny. Saya berani bertaruh, pasti sampai urusan ranjang mereka pun diceritakannya pada sang Ibunda. Soalnya, Eny pernah cerita, dia heran, kok Ibu mertuanya bisa tahu, dia pernah punya panu di paha dalam sebelah kirinya?!.
“Kok disuruh sama Ibunya?” tanyaku lagi. Eny menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil melanjutkan tangisnya, kali ini semakin keras.
“Kamu berantem lagi sama Adi ya?” sebenarnya tak usah ditanya pun, saya sudah tahu pasti itu sumber masalahnya, lha wong, selama ini, hal itu menjadi satu-satunya penyebab Eny bercucuran airmata.
“Iya..kata Ibunya, aku ini perempuan ceriwis, berlidah tajam, dan tidak hormat sama ibu menantu..”  Eny mengungkapkan alasan yang sudah sejuta kali pernah dia ceritakan pada saya. Kalau si Eny itu perempuan ceriwis, nah menurut saya, ibu mertuanya adalah perempuan ceriwis kuadrat, berlidah pedang bermata dua, dan sama sekali tidak menghormati si Eny sebagai menantu-nya. Saya berani bilang seperti itu, karena sejak hari pertama Eny dikenalkan Adi kepada Ibunya, perempuan tua itu sudah tidak menyukai sahabatku, yang selalu dikatainya sebagai si “kulit manggis asem”. Kulit Eny memang hitam, tapi dia hitam manis, dan wajahnya juga cantik, mirip-mirip penyanyi Anggun C.Sasmi yang sudah jadi orang asing itu, lho!.
“Yahh..kalau ternyata si Adi lebih milih mendengarkan ucapan ibunya, untuk apa kamu bertahan sama dia lagi? Yang kamu butuhkan tuh ya, seorang lelaki dewasa, yang bisa jadi pemimpin dalam rumah tangga, bukannya bayi besar yang manja sama ibunya kayak si Adi itu!” akhirnya saya putuskan untuk bicara to the point saja sama si Eny.
“Kamu benar kayaknya, besok aku akan langsung cari pengacara, dan akan kuceraikan dia sekalian, biar tahu rasa!. Terima kasih ya, kamu memang sahabat terbaik aku, sekarang aku akan pulang untuk melihat Christa, dan juga menemui ibunya Adi, akan kukatakan semua yang kupikirkan tentang dia dan anaknya itu langsung didepan muka keriputnya itu!!” Eny mencium pipi saya kilat, lalu meraih tas tangannya dan keluar menuju pintu depan. Meninggalkan saya yang terbengong-bengong melihat sikapnya yang berubah drastis, hanya karena sepotong kalimat yang saya ucapkan kepadanya.
Sungguh mati, bukan maksud saya untuk membuatnya menceraikan Adi, tapi nampaknya koleksi sahabat janda saya akan bertambah satu. Mudah-mudahan saja itu tidak terjadi, doa saya dalam hati. Bagaimanapun juga saya kasihan melihat Christa, anaknya si Eny. Gadis kecil itu sangat dekat dengan papanya yang manja itu. Saya lalu melirik jam di dinding setengah berharap, namun saya sudah terlambat meeting satu jam. Dengan lesu saya langsung duduk dikursi, dan menghidupkan HP yang biasanya saya ON-kan saat sudah melangkah keluarkan dari rumah untuk menuju ke kantor. Ada 14 SMS yang masuk. Sudah pasti 10 SMS itu dari boss “Kanjeng Mami” yang galak minta ampun itu. Ternyata saya keliru, ada 12 SMS dari si boss. Saya-pun hanya menghela napas panjang, dan mulau membaca semua SMS yang masuk dengan hati ketar-ketir.
SMS dari kanjeng mami, mulai dengan “kamu dimana?” lalu “kenapa hp tidak aktif?” kemudian “kamu itu masih mau kerja apa tidak?”. SMS-SMS berikutnya sudah tak berani saya tulis disini, karena sudah mulai memakai kata-kata yang tak ada dalam perbendaharaan bahasa sopan-santun.
Boss saya itu, sebenarnya orangnya baik, dia juga tidak segan-segan memberi bonus pada anak buahnya yang dia nilai secara jujur bukan hasil menjilat, berprestasi dikantor. Seperti saya tahun lalu, ketika bisa menaikkan profit 20 % perusahaan kami. Dia memberikan bonus jalan-jalan ke Singapura dan Malaysia. Sedangkan teman-teman sekantor yang lain, hanya diberikan THR saja.
Sayangnya, si boss itu janda ditinggal kawin lari sama suaminya, yang konon menikah dengan sepupu kanjeng mami. Makanya, dia agak iri dan suka marah-marah pada teman-teman kantor, yang pacar atau suaminya sering menjemput mereka dikantor. Kalau yang punya suami, dia sering bilang;  “laki-laki itu munafik, cuman pada awal pernikahan saja suka memberi perhatian”, dan kalau yang masih pacaran, dia suka ngomong kayak gini ;“Masih pacaran suka mengantar-menjemput, coba kalau nanti sudah menikah, pasti dikatain, udah dewasa masih kayak anak TK minta diantar dan dijemput segala!!”
Kalau sama saya sih, dia baik-baik aja, ngomelnya pun sebatas soal pekerjaan saja, soalnya dia tahu, saya janda merangkap jomblo, alias belum punya pacar dan lain-lain semacamnya. Kadang, dia suka datang keruangan saya, buat ngegosipin teman sekantor, kalau ada yg lagi berantem sama pacar atau suaminya. Kata kanjeng mami “lebih baik dunia ini tanpa laki-laki!”. Lha, trus gimana kita-kita perempuan cara bikin anak kalo nggak ada laki-laki?.
Saya sempat curiga, jangan-jangan, karena bencinya pada lelaki, kanjeng mami jadi suka sama sejenisnya lagi, tapi saya merasa lega, karena usia kanjeng mami sudah tua, cucunya saja sudah ada yang menikah, dan kalau nggak dikantor, kanjeng mami lebih suka menghabiskan waktu bersama dengan cucu-cucunya dirumah.
Saya jadi mikir, bagaimana kalau Neni si janda kaki lima usianya sudah kayak kanjeng mami, apakah dia bakal masih genit kayak sekarang? Ihhh….ngeri saya, membayangkan si Neni, sudah ompong, masih mengoleksi pria diranjang-nya.
Kembali lagi pada persoalan saya. Akhirnya setelah dipikir-pikir, mending saya kekantor saja, biar hanya setengah hari, daripada duduk nongkrong diam dirumah. Baru saja saya ganti baju blazer penuh ingus si Eny dengan blouse putih, tiba-tiba terdengar sebuah salam dari pintu depan. Segera saya melongokkan kepala keluar dari pintu kamar, ternyata si janda kaki lima, Neni. Waduh!! Bakalan batal lagi acara ke kantor saya, mau apalagi si janda genit satu ini…rutuk saya kesal dalam hati.

{ 3 komentar... read them below or Comment }

  1. wah ceritanya menarik banget sob

    BalasHapus
  2. naga2nya masih panjang nih kelanjutannya...
    setia menyimak, kk ^_^

    BalasHapus
  3. Binkbenk @ Goesphin : Makasih...

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers