Popular posts

nsikome On 29 Desember 2011



Hiruk pikuk suara orang² yang lalu lalang di jalan terdengar ribut sekali, bahkan melebihi suara kendaraan bermotor. Myléne mengeluh perlahan, natal sudah dekat, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap kali natal tiba, pekerjaan di butik menjadi bertambah dua kali lipat. Bahkan saat baru memasuki hari pertama bulan desember, Bos Myléne sudah meminta dia untuk memulai lembur. Gadis itu sendiri maklum, saat bulan desember tiba, banyak orang sudah memulai acara perburuan kado natal, untuk keluarga atau sahabat² mereka.
Myléne baru saja menyelesaikan menghias kaca pajangan di depan toko dengan lampu² berwarna-warni dan boneka-boneka santa klaus saat lewat seorang gadis kecil kumuh dengan mantel bulu tebal kebesaran yang sama sekali tak cocok dengan tubuh kecilnya. Gadis kecil itu berhenti di depan etalase toko tempat Myléne bekerja, dan mengamati secara seksama hiasan di dalam kaca pajangan itu. Setengah jam sudah berlalu, Myléne baru saja selesai membungkus sebuah kado yang di beli oleh seorang klien saat matanya menangkap sosok tubuh kecil yang tadi di lihatnya kini masih juga berdiri di depan etalase yang penuh hiasan. Myléne merasa sangat aneh. Memang pada dasarnya anak-anak kecil suka sekali melihat kaca pajangan yang di hiasi dengan dekorasi natal, tapi berdiri selama lebih 15 menit di depan kaca pajangan yang sama itu sekali tidak biasa. Diam-diam Myléne mengamati gadis kecil itu lebih cermat, wajah kecil yang kurus itu ternyata tengah mengamati sebuah dekorasi santa klaus bertopi keemasan yang tadi baru saja di letakkan Myléne di sana. Myléne melihat ke sekelilingnya, tak ada satupun klien yang masuk ke butik, dia lalu memutuskan untuk keluar dan berbicara pada gadis kecil itu.
Saat Myléne sudah berada di hadapan tubuh kecil berbalut mantel bulu hitam, sesaat tercium bau agak tak enak. Kelihatannya gadis itu salah seorang gelandangan kota Paris. Tapi tak biasanya pemerintah kota Paris membiarkan anak apalagi yang masih berada di bawah umur seperti gadis kecil di hadapannya berkeliaran di jalanan.
‘’ Hello ! namamu siapa ? ‘’ sapa Myléne lembut. Terlihat gadis itu agak terganggu dengan kehadiran Myléne, tapi dia membalas juga pertanyaan yang di ajukan Myléne.
‘’ Angelia ‘’ ujas gadis kecil itu tanpa melepaskan pandangannya dari boneka santa klaus kecil di dalam etalase.
‘’ Well Angelia, dari tadi saya memperhatikan, kamu bardiri terus di depan kaca itu, memperhatikan boneka kayu santa klaus bertopi keemasan itu. Kamu suka, ya ?! ’’ Myléne mencoba untuk mencairkan suasana, tapi gadis kecil itu hanya diam, tanpa melepaskan pandangan matanya dari etalase pajangan.
’’ Kalau kamu mau, saya bisa kasih boneka santa klaus itu padamu. “ tawar Myléne, tapi gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, dan tiba² dia langsung berlari pergi seperti orang yang baru saja melihat hantu. Sejenak Myléne merasa heran, tapi kemudian dia mengerti mengapa gadis kumuh itu pergi, di ujung jalan terlihat mendekat dua orang polisi berseragam. Dia pasti takut di tangkap dan di bawa ke panti asuhan, pikir Myléne. Di jalanan kota Paris, sangat langka gelandangan kecil seperti Angelia berkeliaran di jalan, bahkan hampir tak ada, pemerintah kota sangat memperhatikan kondisi anak² di Perancis. Kalau ada gelandangan kecil seperti Angelia berkeliaran seperti itu, artinya dia tidak sendiri, tetapi mempunyai seseorang yg sudah dewasa bersama dia. Myléne mencoba mengenyahkan wajah pucat gadis kecil itu, dia lalu melangkah masuk ke dalam butik.
Natal tinggal beberapa hari lagi. Pekerjaan yang bertumpuk di butik membuat Myléne sama sekali tak punya waktu untuk mencari kado natal buat Ibunya. Walaupun dia tak lagi tinggal di rumah keluarganya, setiap natal Myléne selalu pulang ke sana untuk merayakan natal dengan Ibu dan adik laki² satu²nya. Pergi ke misa tengah malam tanggal 24 desember, dan sesudah itu saling bertukar kado. Dulu pada saat ayahnya masih hidup, natal lebih punya warna. Ayahnya memang seorang laki-laki sempurna di mata Myléne.
Sore ini, Myléne memutuskan untuk menghabiskan waktu luang yang dengan susah payah berhasil dia peroleh untuk mencari kado. Dia lalu memutuskan untuk mencari kado di toko² seputar Barbés, di utara kota Paris yang terkenal dengan barang² diskonnya. Gadis itu baru saja keluar dari stasiun metro saat matanya menangkap kembali sesosok tubuh yang di lihatnya beberapa waktu yang lalu, gadis kecil bernama Angelia. Gadis kecil itu tak melihat Myléne. Dengan saksama dia terus menancapkan pandangannya pada gadis kecil itu, yang terlihat sengaja berdesak² dengan orang-orang dewasa yang baru saja keluar dari metro. Myléne terperangah saat dia melihat Angelia dengan sigapnya memasukkan tangan kecilnya kedalam sebuah tas gantung seorang wanita setengah baya, dan dengan tenang melangkah menjauh dari situ setelah merogoh sesuatu yang entah apa itu dari dalam tas gantung. Dengan penasaran, Myléne mencoba untuk mengikuti Angelia yang berjarak tak jauh dari tempat dia berdiri. Gadis kecil itu berjalan cepat menyusuri trotoir sepanjang jalan utama, dan berbelok ke arah gereja Montmarte. Myléne terus mengikuti gadis kecil itu dengan diam-diam, hingga dia terhenti di sebuah lorong buntu, di mana Angelia masuk dan kemudian menghilang. Ternyata di ujung lorong buntu itu, ada sebuah pintu kayu yang sudah setengah rusak. Pelan Myléne mendorong pintu kayu itu, dan sesaat dia terdiam melihat pemandangan di hadapannya.
“ Bagaimana kamu tahu saya ada di sini ? “, Angelia bertanya heran melihat kehadiran Myléne.
“ Saya mengikutimu semenjak dari stasiun metro di Barbés, “ jawab Myléne hampir tak kedengaran. Di lantai tergeletak dua sosok tubuh tak berdaya, seorang anak laki² kecil dan seorang wanita.
“ Saya melihat kamu mencuri sesuatu dari dalam tas seseorang, karena itu saya mangikuti kamu, Angelia. “ Mata gadis kecil itu membulat marah, seperti hendak menyuruh Myléne diam. Tapi terlambat, wanita yang tergeletak di lantai sudah mendengar ucapan Myléne itu.
“ Mengapa kamu mencuri, Angelia ? bukankah sudah berulang kali Ibu melarangmu untuk melakukan hal itu ? “ suara wanita itu lebih terdengar seperti sebuah erangan menahan sakit. Udara di dalam ruangan itu terasa lembab dan dingin, angin dari luar dengan leluasa masuk ke dalam ruangan dari pintu kayu yang berlobang-lobang. Myléne bertanya² dalam hatinya, bagaimana mungkin orang bisa hidup di dalam kondisi seperti ini ?
“ Sekarang kamu kembalikan barang yang kamu curi itu ! “ wanita itu ingin menghardik, tetapi suaranya terlalu lemah, sehingga kedengaran seperti sebuah bisikan. Pelan Angelia merogoh kantongnya, mengeluarkan barang yang dia curi tadi. Myléne sangat terkejut melihat barang yang di curi gadis kecil itu. Dia tiba² merasa bersalah.
“ Tadi tanpa sengaja saya melihat perempuan itu meminum obat sakit kepala ini, saya mengambilnya untuk Ibu, sebab uang yang saya miliki ternyata tak cukup untuk membeli obat yang dia perlukan. “ gadis kecil itu berkata datar tanpa emosi. Dia menyodorkan obat sakit kepala yang tinggal beberapa biji itu ke arah Myléne yang terpaku kaku.
“ Maafkan saya Angelia, tadi saya pikir kamu mencuri uang atau apa-apa. Ibu dan adikmu perlu perawatan lebih serius, obat yang kamu curi itu tak akan bisa menyembuhkan mereka. “ Myléne tak tahu lagi harus berkata apa, dia merasa berdosa telah mengira hal yang tidak-tidak. Gadis kecil itu mencuri beberapa biji obat sakit kepala untuk Ibu dan adiknya yang terkapar sakit di lantai dingin, dan dia menyangka Angelia mencuri karena sudah biasa melakukan hal itu. Dia merasa malu terhadap dirinya sendiri.
‘’ Angelia, Ibu dan adikmu harus segera di bawa ke rumah sakit, kamu mau kan mereka sembuh ? ‘’ Myléne melihat ada dua titik airmata yang jatuh di pipi gadis kecil itu. Angelia hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Myléne lalu mengeluarkan handphone-nya dan memencet dua nomor  emergency.
Tanggal 24 siang, kerja Myléne di butik sudah selesai, dia memutuskan untuk mengunjungi Ibu dan adik Angelia di rumah-sakit, sebelum pulang ke rumah Ibunya untuk membantu menyiapkan hidangan natal. Setelah membeli satu buket bunga mawar merah dan sekotak coklat untuk Angelia, Myléne memasuki koridor rumah sakit, menuju ke arah kamar yang di tempati oleh adik dan ibu Angelia, gadis kecil yang menyentuh hatinya. Saat dia sampai di sana, Angelia tengah duduk tertunduk di kursi di depan kamar inap yang di tempati Ibu dan adiknya. Mulanya Myléne mengira mungkin Angelia mengantuk atau kelelahan. Tapi ternyata gadis kecil itu tengah menangis. Myléne baru saja hendak bertanya, saat dua perawat keluar dari kamar seraya mendorong tempat tidur yang keseluruhannya sudah di tutupi kain putih. Dia mengerti, Ibu Angelia telah meninggal. Myléne lalu duduk di dekat gadis kecil itu, dan merangkulnya ke dalam pelukan. Hidup itu terlalu kejam dengan Angelia.
“ Tadi malam, Philip yang pergi lebih dulu, sekarang Ibu. Mereka meninggalkan saya sendirian….“ tangis Angelia.
“ Kemarin waktu di depan butik kakak, saya hanya mau kado natal dari Santa Klaus yaitu Ibu dan Philip sembuh dan tak sakit lagi, karena itu saya memohon lama sekali di depan santa klaus kecil, untuk nanti dia menyampaikan permintaan saya kepada santa klaus besar yang datang pada malam natal. “ kata-kata gadis kecil itu menyentuh hati Myléne, betapa dia masih sangat polos dan bersih hatinya.
“ Angelia, tahukah kamu, kalau yang di dapat Ibu dan adikmu lebih baik dari yang kamu pikir ?! “ gadis kecil itu menatap Myléne heran.
“ Saat ini, Ibu dan adikmu sudah berada di langit, tak kedinginan lagi, dan tak sakit lagi. Mereka tak akan kelaparan atau kehausan lagi sekarang sampai kapanpun juga. Bukankah itu kado yang terindah ?! “ lanjut Myléne
“ Tetapi mereka meninggalkan saya sendirian…“ Angelia masih menangis
“ Itu tidak benar, walaupun mereka tak kelihatan, tapi mereka akan selalu mengawasimu dan berada di dekatmu. “ Myléne mencoba untuk menghibur Angelia.
“ Saya tak minta banyak pada Santa Klaus, saya hanya minta Ibu dan Philip jadi baik lagi, itu kan tak mahal ?? “ suara Angelia terdengar lebih mirip orang yang bergumam. Gadis kecil itu lalu berdiri dari tempat duduknya, dan melangkah keluar dari koridor rumah sakit. Myléne ingin mencegahnya pergi, tapi dia segera mengurungkan niatnya itu, dia tahu, saat ini Angelia pasti lebih ingin sendiri.
Tanggal 25 desember, hari natal telah tiba. Myléne terbangun oleh suara desingan pemanas air milik Ibunya yang memang ribut sekali. Dengan malas dia melangkah ke dapur, nampak Ibunya tengah menyiapkan makan pagi mereka.
“ Pagi, Ma ! “ Myléne mencium pipi Ibunya sekilas lalu meraih koran pagi yang walaupun hari² libur tak pernah absen terbit. Judul berita kecil di samping headline mengejutkan gadis itu ; ‘’ Seorang gadis kecil gelandangan tewas tertabrak mobil pada malam natal ‘’  berita berikutnya menyebutkan bahwa seorang gelandangan kecil yang di ketahui bernama Angelia tewas tertabrak saat hendak menyeberang jalan di depan rumah sakit. Myléne tak ingin membaca selanjutnya. Dia tak tahu harus berpikir apa, mungkin itu baik bagi Angelia yang kini sendirian tanpa keluarga, atau hidup itu  memang tak adil untuk beberapa orang, seperti Angelia. Namun dari semua itu, dia yakin, Angelia kini tak sendiri, tak akan kedinginan dan kelaparan lagi, tak akan menderita lagi.

( Merry Christmas to the world!! )

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers