Popular posts

nsikome On 14 Februari 2009

Hi Friends, cerpen ini adalah salah satu cerpen favoritku, yang bercerita tentang sisi-sisi yang berbeda dari manusia, yang dia bisa saja tidak hanya manusia dewasa, tetapi juga anak-anak muda yang kebetulan terlahir dengan sebuah perbedaan. Terlepas masyarakat mau menerima atau tidak orang-orang seperti mereka, sebagai orang yg ber-Tuhan, kita jangan lupa, bahwa mereka itu juga adalah ciptaanNya.....

NAMAKU BRAM, PANGGIL AKU...

By : N.Sikome


Ada murid baru dikelasku, dia pindahan dari Medan ! sampai disini semuanya kelihatan biasa-biasa saja. Tokh, di sekolah manapun juga, tiap liburan naik kelas selesai, hampir setiap kali selalu ada murid pindahan dari sekolah lain !. Tapi dengar dulu yang berikut ini, murid baru itu adalah seorang cowok !
Memang kedengarannya masih biasa saja, tapi bukan disekolahku. Sekolahku adalah sebuah sekolah kejuruan yang 99% siswanya cewek semua. Sedangkan yang 1% tersisa berada di Jurusan Pariwisata, dan itu bukan Jurusanku. Aku berada di Jurusan Kecantikan.
Kelasku sendiri siswanya berjumlah 30 orang, dan semuanya cewek. Jelas saja kedatangan siswa baru itu seperti gempa bumi bagi kami. Dalam hati, aku sudah menebak bagaimana model murid baru itu, pasti type cowok yang cara berjalannya sangat keayuan, biarpun betisnya betis kesebelasan !
Upacara bendera hari pertama tahun ajaran baru telah selesai, siswa-siswa baru yang kali ini katanya cewek semua mulai bergerombol didepan kelas masing-masing. Mereka tampak aneh sekali dengan rok putih abu-abu yang rada kepanjangan. Sesekali, mereka melemparkan pandangan takut-takut kearah kakak-kakak kelas. Aku baru saja hendak ke ruang guru untuk mengambil jadwal pelajaran yang baru, saat Annie, si jangkung dikelasku memanggil.
" Ran...!!! " nampak kapten team Basket itu berlari-lari kecil kearahku.
" Apa ? " kuhentikan langkahku, mungkin saja si jangkung itu sudah punya jadwal baru, dan aku tak perlu susah-susah untuk masuk ke 'ruangan keramat' untuk mengambilnya.
" Si murid baru sudah datang....!! " Annie terengah-engah, membuatku langsung berpikir bahwa dia pasti sudah berlari ke kelas untuk memberitahu semua orang.
" Huh ! kupikir apaan.... " sungutku sebal
" Kirain kamu mau kasih ke aku jadwal baru, An " lanjutku lagi. Annie menggamit pundakku, lalu dia menyeretku ke samping koridor,
" Nona manis, jangan kuatir, dikelas kita, sepertinya hanya kamu yang belum punya jadwal baru, sedangkan yang lain sudah... " dalam hati aku langsung bersorak girang mendengar ucapan Annie, artinya aku tak perlu lagi ke 'ruang keramat'.
" Bener, An ? yaa....aku ketinggalan, dong ? " Annie tersenyum meremehkan, biasanya memang selalu aku yang pertama-tama mendapat info, aku kan ketua kelas. Tapi ini sudah tahun ajaran yang baru, dan kami sudah dikelas baru, jadi otomatis aku sudah bukan ketua kelas lagi.
" Kamu bukan hanya ketinggalan, Ran. Tapi ketinggalan bangeeeett...apalagi untuk yang satu ini !! " tukas Annie penuh misteri.
" Apaan sih ? " tanyaku penasaran, aku kan orangnya penasaran banget.
" Murid baru itu, dia sudah ada dikelas.. " jawab Annie, yang dahinya langsung berkerut heran melihat reaksiku yang biasa-biasa saja.
" Biarin aja, emangnya dia Indra Bruggman, apa ? " cetusku
" Non Ranti....pergi lihat sana dikelas, kamu akan kaget !! " saran Annie, gadis itu lalu menepuk pundakku, lalu melangkah pergi meninggalkan aku dengan benak yang penuh tanda tanya.
Aku melangkah masuk kedalam kelas, nampak semua mahkluk hidup yang sekelas denganku dan semuanya berjenis kelamin cewek normal tengah mengerubungi si pendatang baru itu, aku sampai tak bisa melihat wajah si murid baru.
Kasihan dia, pasti dia tengah jadi bulan-bulanan teman-teman sekelasku. Aku ingat betul, dulu waktu kelas satu, pernah ada cowok kesasar yang masuk ke kelas kami. Sebenarnya dia anak Pariwisata. Sepuluh menit setelah masuk ke 'sarang' kami, Arwin (nama cowok itu) keluar dengan wajah semerah buah delima, dan hingga detik ini dia tak pernah menginjakkan kaki ataupun mencoba lewat didepan kelas kami. Bahkan, kalau jam istirahat tiba, kalau dia melihat ada anak-anak dari kelas kami dikantin sekolah, Arwin langsung membatalkan niatnya untuk masuk kantin. Sepupuku yang sekelas dengan Arwin berkali-kali bertanya kenapa Arwin kok takut sekali dengan anak-anak dikelasku, tapi aku tak bisa menjawabnya, sebab yang tahu hanyalah Annie and the gank.
segera kucari tempat strategis untukku, dan seperti biasanya, kupilih bangku ketiga dari depan, diujung sebelah kiri.
" Masih belum juga ganti tempat, Ran ? " seseorang menyapaku, ternyata Indri
" Begitulah.... " jawabku datar
" Kok kamu nggak ikut mengerubungi 'gula' baru itu ? " tanyaku pada cewek berkulit seputih ubi itu.
" Takut keinjek, Ran... " jawab Indri membuatku langsung tertawa terbahak-bahak, boleh juga sense of humor gadis penyakitan itu.
" Emang bener, kok....lihat aja jumlah fans nya " lanjut Indri, membuatku makin terbahak-bahak, entahlah karena leluconnya yang lucu, atau gaya bicaranya, tapi aku benar-benar merasa geli mendengar ocehan Indri. Tanpa sadar, suara tawaku melebihi semua bunyi yang ada dikelas. Semua mata mulai memendangi aku dan Indri yang tengah tertawa, termasuk mata si murid baru.
" Apanya sih yang lucu ? " tanya Eka heran. Cepat-cepat kuhentikan tawaku
" Si Indri, lucu banget dia... " jawabku disela-sela sisa tawa
" Si Indri lucu ? ini sih namanya kejutan ditahun ajaran baru.... " celetuk Emma, yang langsung disambut dengan tawa seisi kelas, soalnya si Indri kan anaknya paling nggak bisa diajak bercanda.
" Hai....namaku Bram, " tiba-tiba saja, si murid baru sudah berada disampingku. Dia lalu mengulurkan tangannya.
" Aku Ranti, " balasku memperkenalkan diri. Sungguh, semua imajinasiku tentang murid baru itu seketika menguap dan langsung hilang. Mahkluk yang berdiri dihadapanku ini berbeda 300° dari yang aku pikirkan. Bram lalu menyalami Indri, yang langsung memerah mukanya. Sedangkan semua anak-anak lain, termasuk Annie si tomboy tengah menatap cowok itu dengan pandangan memuja.
Bram, diapasti akan dibilang sebagai 'anugerah' yang jatuh dari langit untuk kelas kami. Aku yakin, pada hari-hari berikutnya, kelaskuku saat istirahat tiba pasti akan jadi tempat mangkal cewek-cewek dari kelas lain. Dia bertampang dan ber-body coverboy. Tapi kalau mau dibandingkan sama Indra Bruggman, si indra tuh nggak ada apa-apanya. Bram punya kharisma luar biasa, atau entahlah apa namanya. Sampai-sampai, Ibu Miryam, si 'Mrs Doubtfire' yang galak bin judes merangkap 'perawan tua' saat masuk dikelas untuk memeberi pengumuman, terpana melihat Bram. Tentu saja, Bram....mungkin dia bisa dibilang adalah ciptaan Tuhan yang pasling sempurna diantara kaum Adam.
Hari-hari berikutnya, tebakanku tentang Bram mulai jadi kenyataan, baru dua hari dia jadi murid disekolahku, semua siswi sudah mengenal Bram. Satu lagi, tebakanku ternyata menjadi kenyataan, kelaskuku jadi tempat nongkrong anak-anak kelas lain saat istirahat tiba. Bahka sepupuku si Erny yang dijurusan Pariwisata, sampai bela-belain ngasih aku 50 buah pensil, agar dia bisa punya alasan untuk mencari aku dikelas, hanya untuk bisa melihat Bram.
" Habis....Bram cakepnya selangit, sih.... " demikian alsan Erny.
Tapi, yang paling nyebelin dari semua itu, adalah si Vanda. Cewek yang tahun lalu adalah salah satu finalis pemilihan putri pantai atau apalah namanya, selalu over acting dihadapan Bram. Setiap hari, dia selalu menyempatkan diri untuk lewat didepan kelasku, atau masuk dan bicara dengan Bram.
" Huh ! si Vanda tingkahnya makin hari makin nyebelin ! " rutuk Annie, kami sedangg menikmati lezatnya bakso Mbok Inah di kantin sekolah.
" Kamu cemburu ya, An ?! " canda Emma, yang langsung tutup mulut saat Annie membelalakkan matanya.
" Bukannya aku cemburu, tapi kalian lihat sendiri kan lagaknya ? sok cakep...emangnya dia pikir, dia yang paling cantik disekolah ini ?! " lanjut Annie sambil mengunyah tetelan kesukaannya.
" Biarin aja...kok kalian yang sewot sih ? " aku ikut buka suara, abisnya, aku kan paling sebel lihat cewek-cewek pada saling sirik hanya karena cowok.
" Kita-kita sih nggak mau sewot, lagian semuanya kan terserah pada Bram, dia mau pacaran sama siapa.... " tutur Eka.
" Tapi, yang bikin kitta sewot tuh Ran, masak si Vanda bilang, kalo Bram pasti lebih
memilih dia ketimbang cewek-cewek dikelas kita yang katanya puunya model macam pemain sepakbola ! " Eka melanjutkan ocehannya, dengan nada penasaran.
" Benar dia bilang begitu ? " tanyaku ikut penasaran, masak cewek-cewek dikelasku dibilang model pemain sepakbola, termasuk aku dong artinya !. Tapi diam-diam kulirik betisku, lalu menghembuskan nafas lega. Betisku cukup cantik, dan yang penting nggak miirip betis pemain sepakbola.
" Tanya saja si Annie ! " tambah Eka, Annie menganggukkan kepalanya, ikut meyakinkan.
" Eh....kita taruhan yuk ! siapa yang akan lebih dulu pacaran dengan Bram sebelum akhir tahun ini, aku apa Vanda ? " usulku gila-gilaan.
" Kok taruhan sama kita, sih ? gimana kalau kita nantangin si Vanda sama teman-teman se-genk nya ? Emma malah lebih gila usulnya.
" Setuju !! " tanpa menunggu persetujuanku, semua langsung menyahut mengiyakan. Satu jam kemudian, saat aku sudah berada didalam kelas untuk mengikuti pelajaran Matematika, aku menyesali semua yang telah aku katakan dikantin tadi. Tetapi semua sudah terlambat, sebab taruhan sudah dimulai.
Setelah keluar dari kantin tadi, Annie langsung pergi menemui Vanda. Aku kurang tahu apa yang Annie katakan pada Vanda, yang pasti, saat aku berpapasan dengan gadis itu, dia menatapku seakan-akan aku ini musuh besarnya.
Aku dan teman-teman lalu menyusun strategi. Salah satunya adalah, sebisa mungkin membuat Bram tak terlalu sering bertemu dengan si Ratu Kecantikan nyasar itu. Satukali, Emma mendapat info bahwa Vanda hendak mentraktir Bram makan dikantin, katanya sekedar merayakan hari ulang tahunnya ( padahal itu bohong besar, sebab ultah si Vanda kan bulan April kemarin, kita-kita tahu benar karena si sombong itu bikin pesta besar yang meriah, dan semua anak-anak dikelas 2 diundang, termasuk aku dan teman-teman sekelasku ). Annie lalu membuntuti Vanda saat gadis itu hendak ke WC, lalu menguncinya didalam. Setelah itu, jalan untuk masuk ke WC perempuan ditutup dengan palang yangditaruh melintang, lalu dia menempelkan kertas bertuliskan 'RUSAK' yang berukuran besar, hingga bisa terlihat dari kejauhan.
Terang saja, semua yang hendak ke WC langsung berbalik menuju WC laki-laki yang terletak dibangunan seberang, jauh dari WC perempuan. Annie lalu berbalik kekelas, dan memberi tanda dengan acungan kedua ibu jari tangannya.
" Bram, katanya kamu akan ditraktir sama Vanda, ya ? " tanya Emma, tapi dia mengedipkan sebelah matanya kepadaku.
" Kok kamu tau, sih ? " tanya Brram heran
" Yeee....kamu tuh cowok yang paling populer disekolah ini, semua tingkah lakumu pada disorotin orang-orang, makanya kita-kita tahu kamu mau ditraktir si Vanda ! " terang Emma
" Kayak selebriti aja.... " rungut Bram bernada tak senang.
" Tapi kamu emang selebriti, Bram....selebriti disekolah ini ! " tukas Emma, Bram hanya tersenyum miris.
" Eh, dalam rangka apa sih dia mau traktir kamu ? " selidik Emma
" Katanya sih, dia ulangtahun hari ini, " cerita Bram tanpa curiga sedikipun
" Ulang tahun ? bukannya ulang tahun Vanda bulan april kemarin ? aku ingat betul kok, soalnya anak-anak kelas 2 semua pada diundang, pestanya meriah banget...wuih...rasanya nggak sabar deh nunggu tahun depan untuk diundang lagi ke pesta ulang tahunnya ! " cerita Emma antusias, dengan wajah lugu tak berdosa. Aku sampai heran, Emma memang pantas jadi pemain film atau sinetro, nggak aneh, dia kan anggota teater sekolah. Bram menatap Emma dengan pandangan antara percaya dan tidak, tapi dia lalu segera menekuni kembali bukunya.
Taktik kami berhasil, setelah kejadian itu, Bram selalu menghindar dari Vanda. Bila dia sudah tak bisa menghindar lagi, sedapat mungkin Bram memperpendek percakapannya dengan gadis itu.
Setelah itu, aku sendiri lupa bagaimana prosesnya, tau-tau aku dan Bram sudah mulai dekat satu sama lain. Kami suka diskusi bersama tentang merek-merek alat kecantikan, problem-problem jenis kulit perempuan, dll. Bram ternyata cukup ahli dibidang itu. Saat kunyatakan keherananku, Bram hanya berucap pelan,
" Ibuku yang punya salon French Beauty..." aku langsung terpana setengah tak percaya. Siapapun tahu salon kecantikan itu. Artis-artis papan atas, dan tak lupa selebriti-selebriti dinegeri ini, semua pada berebutan memakai jasa salon tersebut. Cabang-cabang salon French Beauty hanya dibuka di daerah-daerah tertentu, daerah-daerah yang bergengsi, salah satunya propinsi tempat aku bermukim sekarang. Tak sembarang orang bisa masuk kesitu, dan harus membuat janji terlebih dahulu. Orang-orang yang biasa mondar-mandir disitu adalah istri-istri pejabat, atau nyonya-nyonya berduit. Mendengar Bram adalah pemilik salon tersebut, aku merasa seperti bermimpi.
" Kamu serius Bram ? " aku masih tak percaya. Bram hanya mengangguk pelan. Aku tahu, Bram tak bohong.
Bram tak hanya ahli dibidang tersebut, tapi dia juga adalah anggota Team Basket Profesional di Medan saat masih bersekolah disana. Saat dia pindah ke sekolahku, dia langsung masuk ke Team Basket Propinsi.
Benar-benar profil cowok sempurna, dan tak ada seorangpun yang bisa mengira, bahwa Bram menimba ilmu di sekolahkuu, jurusan kecantikan lagi !
Bram terlalu macho untuk siapapun bisa menebak bahwa dia sekolah disini.
" Ran, kelihatannya kita akan menang... " Eka mencolek bahuku, Bram baru saja pergi menuju kantin, setalah habis berdiskusi denganku tentang perang Irak.
" entahlah, Ka. Aku kok mulai merasa berdosa, sudah membohongi Bram " jawabku.
" Kamu mulai jatuh cinta beneran, yaaa ?! " todong Eka, membuatku jengah
" Enak aja, kita cuman temenan, kok... " aku mengelak
" Hati-hati, Ran....taruhannya adalah, kamu harus pacaran dengan Bram " tukas Eka mengingatkan
" Kalau aku jujur sama Bram sebelum itu ? " tanyaku, sebenarnya aku mencoba untuk negosiasi
" Annie dan yang lain pasti akan marah besar sama kamu, Ran... " percakapan kami terhenti oleh bel tanda istirahat telah usai.
Tinggal dua minggu lagi sebelum waktu taruhan kami dengan Vanda cs usai. Setelah kejadian di WC itu, Vanda sepertinya tahu bahwa itu kerjaan kami. Gadis itu lalu mencoba untuk menjelek-jelekkan kami dihadapan Bram, terutama aku, tapi tak berhasil. Bram sudah terlanjur tak percaya lagi padanya.
Dua minggu lagi, tapi belum ada tanda-tanda sedikitpun Bram akan memintaku untuk menjadi pacarnya. Kami memang menjadi semakin dekat, bahkan sesekali saat kami tengah berjalan bersama, Bram meggenggam tanganku erat. Satukali malah pernah kepergok sama Annie, yang langsung mendehem sambil mengedipkan matanya padaku.
Aku tengah resah, resah karena waktu taruhan hampir usai, dan aku belum berhasil. Aku juga resah karena Kak Meidy belum juga datang. Aku memang lagi janjian dengan sepupuku yang jago komputer itu. Dia hendak membantuku untuk memilih komputer, yang akan dibelikan Ayah sebagai hadiah ulangtahun untukku, sekaligus hadiah naik kelas, natal dan juga tahun baru.
Ayahku memang orangnya pelit, dan menurut Ayah, sebuah komputer adalah hadiah yang besar, dan ulang tahun saja tak cukup sebagai alasan, jadi, aku harus menunggu ulang tahun, natal, dan hari-hari spesial tahun depan untuk kado yang lain. Sebab tahun ini, Ayah memutuskan, sebuah komputer untuk semua hari-hari 'ber-kado'.
Jam merah ditanganku sudah menunjukkan pukul 18.35, suasana mulai gelap. Dalam hati aku menyesal tak memilih tempat bertemu lain. Sebab ditempat aku berdiri saat ini, adalah tempat yang memiliki reputasi jelek dikotaku. Sementara disekelilingku sasana mulai ramai. Penjual-penjual martabak yang terkenal kelezatannya mulai mengatur gerobak-gerobak mereka, sementara disisi lain, nampak waria-waria yang biasa mangkal disitu mulai berdatangan. Sesekali mereka mengganggu laki-laki yang lewat disitu dengan sapaan mereka yang khas.
Mataku sedang mencari-cari ke kiri-kanan, sambil berharap mudah-mudahan saja Kak Meidy sudah ada lalu sedang mencari aku, saat kudengar sebuah suara, agak aneh....tapi sepertinya akrab ditelingaku.
" Namaku Brenda... " aku menoleh kearah suara itu, nampak di keremangan senja beranjak malam, sesosok tubuh berbalut gaun terusan merah menyala, tengah menyyalami dua orang waria. Aku terkejut sekali, tak mampu mempercayai penglihatanku.
" Bram !! " seruku tak tertahankan, sedetik kemudian aku langsung menyesalinya.
" Ranti !! " dia terlihat tak kalah terkejutnya dengan aku. Bram, itu memang Bram. Kelihatan cantik dengan make-up yang terpoles rapi, dan cocok dengan bentuk wajahnya, walaupun itu tetap tak bisa menutupi tubuh kekar yang dikagumi oleh semua cewek di sekolahku.
" Siapa itu, Ran ? " Kak Meidy ternyata sudah berada disampingku
" Teman...seorang teman baik.. " tuturku pelan, bernada kecewa. Aku memang kecewa, sebab sejujurnya aku mulai merasakan sesuatu tumbuh dihatiku untuk Bram.
Esoknya, saat aku bertemu Bram disekolah, ada keheningan tak wajar tercipta diantara kami berdua. Aku tahu perasaanku bagaimana, tapi aku tak bisa menebak bagaimana dengan Bram.
" Sekarang, kamu tahu siapa aku, maafkan aku Ran... " Bram memutuskan untuk membuka suara terlebih dahulu, dan kuhargai itu.
" Bram, kamu sahabatku, dan selamanya akan terus seperti itu... " tukasku, mencoba untuk menjadi bijaksana.
Sepanjang malam, setelah bertemu dengan 'Brenda', aku terus berpikir. Akhirnya, aku sampai pada kesimpulan, bahwa setiap manusia memang harus lahir dengan perbedaan masing-masing. Dalam hidup bermasyarakat dinegara kita yang masih sulit untuk menerima perbedaan semacam itu, aku tahu betapa sulit bagi Bram untuk mengkamuflase dirinya yang sebenarnya.
Mungkin saja Bram tak pernah memilih untuk jadi seperti itu, siapa yang tahu ? aku lalu memilih untuk menghormati dia, sebagai seorang sahabat, sebagai seorang manusia ciptaan Tuhan. Dia menatapku dengan pandangan sedih, lalu berucap pelan,
" Kalau saja semua orang berpikiran seperti kamu, Ran... " ada nada gamang terdengar
Sehari sesudah itu, Bram tak masuk sekolah, lusanya, seterusnya...sampai akhirnya kami mendapat kabar, bahwa Bram pindah ke Jakarta, tapi aku tahu pasti itu tak benar. Sedangkan taruhan dengan Vanda cs, batal karena Bram pergi sebelum waktu taruhan habis.
Bicara tentang perasaanku, aku sendiri sangat sedih. Sedih karena Bram pergi, dan aku tahu karena perasaan takutnya. Dia takut aku sudah tahu rahasianya, dan akan memberitahukan teman-teman yang lain. Padahal Bram bisa mengandalkan aku, sahabatnya. Seorang sahabat dalam arti sebenarnya.
Sebulan kemudian, aku mendapat surat dari Bram. Dia minta maaf, karena sudah pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Dia juga bercerita tentang resahnya. Dalam akhir surat Bram, dia menulis sebuah kalimat, yang punya arti banyak bagiku ;
" Namaku Bram, tapi panggil aku Brenda..."
Bram sudah membuat keputusan dan pilihannya, dan dia yakin dengan pilihannya itu. Sebuah langkah yang membutuhkan keberanian luar biasa. Aku sendiri ? entahlah, aku juga ingin bertanya pada kalian, bila kita berada di posisi nya Bram, mampukah kita mengambil sebuah keputusan dan pilihan ?


T A M A T

Nb: Cerpen ini adalah salah satu cerpen favorit ku.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers