Popular posts

nsikome On 27 Oktober 2011

This story was inspired from a "Curhat" of a good friend; Ricardo Hongarta (nyong Ambon Manise), semoga sudah mendapatkan cinta sejatinya ya, Ric...biarpun kayaknya masih melanglang buana dalam dunia cinta-mu yg masih kurang jelas (Hehehehehe)................Miss u all guys, Law Class 2004 De La Salle University Manado.

Photo : www.jjap.deviantart.com
SETELAH LELAH MENANTI


            Ric membalikkan badannya resah di atas tempat tidur, entah untuk yang keberapa ratus kali. Mata cowok itu nyalang menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru cerah, sambil sesekali mendengus, entah kesal atau marah. Cowok itu menatap bingkai foto yang setia berdiri di meja belajarnya. Bertahun-tahun foto itu selalu ada di situ, dan gadis di dalam foto itu seakan selalu menatap Ric dengan senyum manisnya. Dan sepanjang waktu itu, tak pernah sedetikpun pikiran Ric beralih ke gadis lain, walaupun gadis di foto itu berada jauh dari matanya, entah di mana.

            Beberapa tahun yang lalu, saat itu di Ambon kerusuhan pecah. Orang-orang saling membunuh, merusak dan membakar rumah. Kekacauan ada di mana-mana. Banyak orang yang terpaksa harus mengungsi meninggalkan seluruh harta benda mereka. Salah satunya adalah keluarga Rina. Ric sendiri, dia dan keluarganya masih beruntung, rumah mereka tidak hancur hingga kerusuhan mereda. Namun kasihan Rina, dia dan keluarganya terpaksa mengungsi ke Manado, karena di kampungnya, tak ada yang tersisa. Semua bangunan bahkan rata dengan tanah, bahkan puing-puingpun bisa di bilang hampir tak ada.
Mulanya, Ric hampir gila saat mengetahui bahwa semua rumah di kampung Rina habis terbakar, dan banyak sekali orang yang meninggal di sana. Namun hatinya menjadi tenang ketika dia berjumpa dengan sepupu Rina, yang mengatakan bahwa Rina beserta seisi rumahnya terpaksa mengungsi ke Manado. Namun sepupu Rina itu juga mengatakan, bahwa dia dan keluarganya mengungsi ke Manado, dan tak akan pernah kembali lagi ke Ambon.
Sayangnya, Ric yang saking gembiranya mendengar bahwa Rina masih hidup, dia lupa meminta pada sepupu Rina itu alamat keluarga Rina di Manado.

Rick mendesah pelan, lalu berbalik lagi ke arah meja, menatapi foto Rina.

            Betapa berat perjuangan Ric untuk mencari tahu keberadaan Rina di Manado. Bahkan cowok itu tak segan-segan melakukan perjalanan panjang bolak-balik Ambon-Manado yang sangat melelahkan hanya untuk mencari di mana Rina berada. Setiap liburan sekolah, Ric langsung berangkat ke Manado, menghabiskan seluruh waktu liburannya dengan menjelajahi seluruh pelosok kota Manado, hanya untuk mencari Rina.

Hingga saat dia lulus SMU, Ric memutuskan untuk kuliah di Manado, sekaligus melanjutkan pencariannya. Semua itu, hampir dua tahun yang lalu.
Tahun ini, Ric sudah masuk ke semester 3. Tanpa di duga, dia bertemu dengan Rina. Saat itu Ric tengah mencari-cari bahan untuk pembuatan kliping di sebuah toko buku di pusat komersial Megamall. Tiba-tiba, mata cowok itu tertumbuk pada sesosok tubuh yang sudah teramat sangat di kenalnya. Betapa tidak, sosok tubuh itulah yang selalu mengisi setiap relung hatinya. Dia, Rina.

Mulanya Ric hampir tak percaya dengan matanya sendiri. Sebab dia sendiri hampir tak percaya lagi dengan kata-kata sepupu Rina dulu, bahwa gadis itu pindah ke Manado. Ric sendiri sering berpikir, bahwa mungkin sepupu Rina itu salah dengar, dan gadis itu bukan pindah ke Manado, tapi tempat lain.

“ Rina.... “ saking terkejutnya, Ric hampir tak bisa lagi bersuara. Kerongkongannya terasa di jejali biji buah kedondong. Terasa sekat dan entah apa lagi rasanya. Gadis yang di panggil Ric itu tak kalah terkejutnya dengan cowok itu.
“ Rick... apa.. kabar.. ? “ terputus-putus Rina menyapa Ric. Mata gadis itu bahkan berkaca-kaca. Ric sendiri, dia tak tahu lagi bagaimana mengungkapkan perasaannya saat itu. Tanpa di komando lagi, Ric langsung merangkuh Rina ke dalam pelukannya, dia lalu memejamkan kedua bola mata, yang telah di genangi oleh airmata. Sesaat semuanya terasa seperti berhenti, Ric merasa seperti beban yang selama ini dia pikul terangkat begitu saja. Cowok itu merasa lebih lega.
“ Ku pikir, aku takkan pernah menemukanmu lagi, Rin... “ bisik Ric lirih. Rina tak mampu bersuara. Gadis itu hanya sesenggukan di bahu Ric.
“ Rin ?!.... “ suara seseorang yang terdengar asing bagi telinga Ric tiba-tiba saja membuyarkan keharuan yang tengah tercipta di antara mereka berdua. Refleks keduanya mengangkat kepala. Sejenak Rina tampak gugup dan serba salah, sedang Ric menatapi gadis itu penuh tanda tanya. Nampak seorang cowok berkulit putih bersih tengah berdiri dengan tangan penuh tas belanjaan.
“ Oh... kamu, Dre... oh ya Ric, kenalin, ini Andre.. “ tukas Rina cepat, tapi agak salah tingkah. Ric lalu mengulurkan tangannya, cowok itu juga.
“ Aku Andre, tunangan Rina.. “ kata-kata yang di ucapkan cowok itu seketika menghantam Ric seperti sebuah palu besar. Seperti ada yang di renggut secara paksa dari hatinya, yang meninggalkan rasa nyeri seketika. Hampir tak tertahankan. Tapi, Ric cepat menguasai dirinya, bagaimanapun, dia adalah seorang laki-laki.
“ Namaku Ric. Aku teman baik Rina waktu kami masih di Ambon, “ akhirnya Rick memutuskan untuk menyelamatkan situasi. Dia lalu menoleh ke arah Rina dan berucap lirih,
“ Aku pikir, aku tak akan pernah bertemu lagi dengannya. Aku tak tahu Rina pergi kemana saat kekacauan di Ambon terjadi. Lucu sekali, aku datang untuk kuliah di Manado, dan akhirnya bertemu dengan dia di sini, “ Andre tersenyum, dia nampak lega.
“ Ooo... jadi kalian ini sama-sama dari Ambon manise, ya... “ cowok itu lalu tertawa dengan gurauannya, Ric juga, Rina juga. Namun keduanya tertawa dalam getir, dan Ric maupun Rina, tau akan hal itu. Setelah bertukar nomor HP, mereka berpisah.

Ric tersenyum pahit mengingat semua itu. Betapa hidup ini kadang terasa sangat aneh. Dan Tuhan yang mengatur kehidupan ini, juga sangat aneh. Saat dia berusaha mencari Rina, Tuhan malah tidak mempertemukan mereka berdua. Dan saat dia hampir putus asa, Tuhan mempertemukan mereka, namun dalam situasi yang telah berbeda. Rina sudah punya tunangan. Huh !!

            “ Ric, kok bengong melulu dari tadi ?! “ Indira berusaha menjejeri langkah-langkah panjang Ric. Mereka baru saja selesai mengikuti mata kuliah Pengantar Hukum dan tengah menuju ke arah kantin yang terletak di Basement universitas De la Salle.
“ Eng..nggak... “ kilah Ric. Namun gadis yang tengah berjalan di sampingnya terlalu cerdik untuk bisa di bodohi dengan senyuman paksa yang Ric berikan.
“ Belom dapet kiriman dari ortu, ya ?! “ cecar gadis itu lagi, cerewet amat. Ric menggelengkan kepalanya. Dia terus melangkah ke arah meja yang masih kosong, lalu duduk disana. Penasaran, Indira lalu menarik sebuah bangku plastik berwarna biru, dan duduk di samping Ric, sambil menatap mata cowok itu tajam.

“ Lalu apa dong ??!! “ tanya Indira. Ric akhirnya mengalah. Si Indira itu, rasa ingin tahunya melebihi para anggota FBI dan CIA sekalipun. Sebelum dia mendapat jawaban yang pasti, jangan pernah berharap dia akan menjauh atau menyerah.
“ Kamu tau Rina, kan ? “ Ric balik bertanya
“ Anak ekonomi yang jadi Putri Bahari itu ? “ tampang Indira sungguh sok tahu.
“ Bukan.... Rina pacarku waktu di Ambon, aku kan udah cerita sama kamu.. “
“ Oooo... itu.... emangnya kenapa ? kamu ketemu ama dia ? “ tebak Indira. Ric mengangguk.
“ Asyiiik dong.... cinta kamu yang tercecer kamu dapetin lagi....!! “ wajah Indira berseri-seri. Kayak dia aja yang sedang mengalami.
“ Tapi dia udah punya tunangan, “ lanjut Ric, membuat wajah berseri Indira langsung tersaput awan kelabu. Gadis itu cemberut, lalu bertukas marah,
“ Jahat banget dia... udah ampir dua tahun kamu nyari dia terus nggak brenti-brenti, eh... begitu ketemu, dia malah udah tunangan, nggak punya perasaan banget jadi orang !! “ tak urung kata-kata Indira yang di barengi dengan wajah cemberut itu membuat Ric tersenyum. Gadis itu memang biar suka campurin urusan orang, tapi peka banget perasaannya.

“ Nggak... itu bukan salah dia, mungkin dia pikir aku udah meninggal di Ambon sewaktu kerusuhan itu, iya kan ?! “
“ Tapi dia kok__ “ kalimat Indira langsung di potong oleh Ric.
“ Sudahlah.. kita lupakan saja pembicaraan ini, ya ?!.. kamu mau pesen apa ? bakso, mie goreng, nasi campur....pilih aja, aku yang traktir, “ Ric mengalihkan pembicaraan mereka. Sejenak Indira terdiam. Lalu gadis itu menyahut, kali ini nada suara kembali riang seperti semula.
“ Nyammm.... aku mau mie goreng ayam... “ keduanya lalu tertawa bersama.
“ Ric, aku boleh ngomong nggak ?! “ tanya Indira serius, keduanya tengah menyantap pesanan makanan masing-masing. Ric hanya mengangguk mengiyakan.
“ Ric, banyak orang suka terpaku sama masa lalu mereka, bukannya itu nggak boleh, tapi bagi aku, masa lalu itu nggak untuk di jadiin pegangan, tapi buat patokan, kalau-kalau nanti kita harus menoleh lagi kebelakang, untuk ngingetin kita ini dulu apa, gimana, darimana... gitu... “ tutur Indri pelan. Nada bicaranya terdengar lebih dewasa. Ric mengernyitkan dahinya, tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Indira.

“ Maksud kamu apa sih, Ra ? “
“ Maksud aku, aku nggak suka kamu bersedih terus karena Rina, dia kan masa lalu kamu... lagian, kamu masih muda, belum tentu dia adalah kebahagiaan kamu yg sebenarnya. Kita tuh, semuanya masih dalam proses pencarian. Ya mencari jati diri, ya masa depan, ya temen hidup... semuanya deh !! jadi, aku cuman minta kamu untuk jangan sedih lagi, tuh... di kampus sini kan banyak cewek cakep, ada Winny.. ada Sally.. ada Marlyn...ada Nancy...ada Peggy...ada Nivi...Natalia..semuanya sekelas ama kamu lagi, tinggal di pilih mau yang mana. Mau yang rambut panjang...rambut pendek..kulit putih...item.. “ si Indira kumat lagi ceriwisnya. Namun semua itu sebenarnya membuat Ric tersadar. Hidup ini masih panjang. Masih banyak hal yang harus di hadapi, dan persoalan CINTA, itu hanya salah satu dari sekian problematika hidup manusia.

Perlahan namun pasti, rasa nyeri di hati cowok itu mulai mereda. Mungkin memang butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu, tapi dia yakin, dia pasti bisa. Toh jodoh dan hidup manusia itu Tuhan yang  ngatur. Kalau emang Rina jodohnya, pasti akan ketemu lagi nanti. Tapi, seperti kata Indira, dia masih muda. Ric tersenyum, dalam hati dia mengiyakan kata-kata sahabatnya itu. Kan ada Sally...ada Peggy...Ada Nivi....Ada Marlyn...Ada Winny..dan juga Indira, biarpun ceriwis bin cerewet, dia juga kan cewek...

“ Ngapain senyam-senyum kayak kerbau sakit gigi, gitu ?! “ Indira bertanya curiga. Ric makin melebarkan senyumannya, kali ini, terlihat manis sekali.
“ Aku mau melanjutkan hidup aku, Ra. Thank’s buat segalanya, ya ?!... “ cowok itu lalu melenggang pergi, kembali ke kelas untuk mata kuliah berikutnya. Meninggalkan Indira yang terdiam penuh tanda tanya, lalu tersentak dan menjerit keras,
“ Riiiiiccc............makanannya belom di bayar, niiiiihhhhh !!!....... “

( Ric Hongarta...sorry banget... )

                                                T H E     E N D



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers