Popular posts

nsikome On 07 November 2011

Hi guys, sekarang udah episode ke-empat. Thank you buat yg udah e-mail, info sekali lagi ya..Rahasia Rani untuk episode terbarunya terbit di setiap Senin, jadi, harus nunggu ya...yang sabar..orang sabar kan disayang Tuhan, hehehehe... jangan lupa komen dan kritiknya, boleh juga langsung ke nsikome@live.com


Photo: www.nightdeposits.blogspot.com



Episode 4

Sebulan sesudah itu, kekuatan Rani semakin hari semakin bertambah. Bahkan ada kali gadis itu kelihatan tak bisa lagi mengendalikan energi luar biasa itu. Saat Rani memberi tahu Andi, kakaknya langsung menjadi panik setengah mati,
“ Aduh Ran, mungkin sudah saatnya kita kasih tahu Mama dan Papa, aku takut kamu kenapa-kenapa !! “ ujar Andi cemas
“ Rani juga takut, Kak. Tapi Rani lebih takut kalau Mama dan Papa tahu, terus Rani di bawa ke dokter, trus dokternya bilang itu luar biasa dan aneh, terus dia kasih tahu pada presiden, terus presiden bilang pada FBI, terus___ “
“ Rani !! Ran !! Hoiiii......kok bicaramu sudah ngelantur begitu ? “ Andi menepuk pundak adiknya kasar. Tubuh Rani kembali gemetar, wajahnya mulai pucat. Tiba-tiba semua benda yang ada di dalam kamar Rani bergerak-gerak, seperti sedang di guncang oleh gempa bumi.
“ Rani, tenang Dik....tenang....jangan gugup begitu ..... “ cowok itu menarik tangan Rani, berusaha untuk menenangkan adiknya. Andi tahu bahwa guncangan itu terjadi karena ada energi yang di keluarkan oleh Rani sebab gadis itu mulai gugup dan tak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Rani terengah-engah seperti seorang atlet marathon yang baru saja mencapai finish. Guncangan di dalam kamar itu sudah berhenti, Andi merasa lega.
“ Ran, mungkin aku tahu jalan keluarnya, tanpa harus melibatkan orang lain selain kita berdua saja ! “ Andi menatap mata adiknya serius, terlihat jelas ada rasa takut yang membayang di bola mata coklat indah Rani.
“ Benar Kak Andi ? “ tanya Rani penuh harap, kekuatan itu kemarin-kemarin bagi Rani sangat lucu, sebab hanya dengan pikirannya dia bisa mengangkat atau memindahkan sebuah barang dari tempatnya, namun saat energi yang ada di dalam tubuh Rani itu membesar dan jadi tak terkendali, semuanya menjadi menakutkan.
“ Begini, Ran. Menurut aku, energi yang ada di dalam tubuhmu itu menjadi lebih besar, karena kamu melatihnya hampir setiap hari. Kamu suka memakainya kan ? “ Andi meraih tangan Rani.
“ Iya Kak, hampir setiap hari Rani memakai kekuatan itu, malah sampai berpuluh-puluh kali dalam satu hari saja. “ jawab gadis itu.
“ Makanya aku berpikir, bahwa kamu melatih energi itu dan juga membangunkan energi-energi lain yang masih tersembunyi di dalam tubuhmu, makanya mereka menjadi lebih besar saat ini ! “
“ Kalau teori Kak Andi itu benar, energi itu bisa menjadi berbahaya bagi kita semua__ “
“ Kecuali kalau kamu bisa mengendalikannya !! “ potong Andi cepat. Rani menatap heran Kakaknya itu, dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang Kakaknya katakan.
“ Mengendalikannya ? “
“ Ya ! mengendalikan energi itu. Seperti kamu bisa mengendalikan tenaga-mu saat memukul. Bisa kuat, bisa juga lemah, tergantung dari keinginanmu, Ran !! “ dengan bersemangat Andi menjelaskan teorinya.
“ Satu-satunya hal yang harus kamu lakukan adalah berusaha untuk tetap tenang, dan mengontrol semua energi yang ada di dalam tubuhmu.... “ lanjut Andi lagi.
“ Tapi Rani masih belum mengerti Kak Andi ! “ penjelasan Andi itu hanya membuat Rani mulai pusing saja. Andi memaklumi hal itu, dia tahu bahwa semuanya tak akan pernah mudah.
“ Kata lainnya, kamu harus latihan dalam mengontrol energi itu ! “
“ Latihan ? di sini ? bisa-bisa aku menghancurkan isi rumah kita. “ keluh Rani
“ Tentu saja bukan di sini, selain terlalu berbahaya, nanti ketahuan, dan kamu bisa di bawa sama FBI !! “ Andi mulai bercanda, tapi tidak di sambut positif oleh Rani, gadis itu malah membelalakkan matanya. Jelas Andi langsung tutup mulut cepat-cepat. Kalau dulu di belalakin kayak gitu oleh Rani, pasti Andi jadi lebih ngelunjak, tapi sekarang situasinya beda, dengan kekuatan yang Rani punya, sekali kedip aja dia bisa bikin penyot Andi tanpa harus menyentuhnya.
“ Kita bisa ke hutan di atas bukit, Ran. Di sana kan nggak ada orang.... “ lanjut Andi.

Keesokan harinya, seusai pulang sekolah, Rani dan Andi langsung pergi ke bukit yang terletak di pinggiran kota. Mulanya Ibu mereka merasa aneh saat Rani minta ijin mau ke sana, Andi hampir saja mengetok kepala adiknya itu kalau dia tak berpikir ttg kekuatan super Rani.
“ Ehmmm..anu Bu, Rani minta saya untuk menemaninya cari kadal di sana !! “ Andi yang menjawab saat Ibu mereka mengajukan pertanyaan pada Rani.
“ Kadal ? untuk apa ?? “ tanya Ibu heran.
“ Untuk pelajaran Biologi, Bu. Tentang anatomi binatang, trus Rani di tugaskan untuk membawa kadal ke sekolah ! “ masih Andi yang menjawab
“ Yah sudah, pergi sana kalau begitu... “ tukas Ibu cepat, dia merasa heran dengan tingkah kedua anaknya itu. Tak biasanya Andi mau mengantar adiknya seperti itu, apalagi untuk urusan sekolah Rani. Hal yg paling banyak mereka berdua lakukan adalah berantem. Akhir-akhir ini wanita itu merasa heran, ada yang aneh pada diri Rani dan Andi. Sudah satu minggu ini mereka kemana-mana selalu berdua. Tidak biasanya mereka begitu. Ibu Rani & Andi hanya bisa menebak, mungkin saja kedua anaknya itu sudah mulai sadar, bahwa tak baik kakak-adik bertengkar melulu setiap hari.

Saat Rani dan Andi tiba di kaki bukit, langit mulai tertutup awan, kelihatannya hujan akan turun tak lama lagi.
“ Kak Andi, kayaknya mau hujan, ya ? “ celetuk Rani sambil melihat ke langit
“ Nggak, Ran. Itu cuma awan yang lewat sebentar di bawah matahari. Kamu sudah siap ? “ Andi membuka ransel-nya.
Dari dalam ransel kecil berwarna biru-hitam itu keluar bermacam-macam barang. Mulai dari pensil ringan hingga halter seberat 3 kilo. Semua barang-barang itu akan di pakai untuk menguji kadar kekuatan yang di miliki adiknya.
“ Kamu siap, Ran ? “
Rani mengangguk. Andi lalu meraih sebuah bola biliard, dan mengacungkannya ke arah Rani.
“ Kita mulai dengan bola ini, Ran. Aku akan melemparkannya ke arah pohon besar di depanmu, dan kamu harus mencoba untuk mengontrolnya dan membawa kembali ke depan aku, ok ? “ Andi mulai bersiap-siap, sementara Rani mulai memusatkan konsentrasinya.
Dengan perasaan yang agak was-was, cowok itu mulai mengangkat tangannya, Andi sadar benar, bahwa walaupun sedetik saja Rani kehilangan konsentrasi, akibatnya bisa menjadi fatal bagi mereka berdua, sebab bola biliard yang akan di kontrol Rani itu akan melayang dengan kecepatan besar, apabila energi yg di keluarkan oleh adiknya itu terlalu besar, dan bila tak terkontrol kemudian memukul salah satu di antara mereka, Andi bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
“ Ran, ayoooo !!!!! “ Andi melemparkan bola biliard berwarna biru itu dengan sekuat tenaganya ke udara, dan secepat kilat Rani mulai mengerahkan tenaganya. Nampak bola bercat biru itu memantulkan sinar matahari sore, tiba-tiba bola itu mulai berputar-putar searah dengan jarum jam, dan mulai melesat menuju ke atas bukit.
“ Rani kontrol energi-mu !! jangan biarkan dia keluar terlalu besar, bisa berbahaya !! “ teriak Andi, energi yg di keluarkan oleh adiknya semakin membesar. Bahkan pohon-pohon di sekitar situ mulai bergoyang dan mengeluarkan bunyi berderak.
Rani berlari ke atas bukit, berusaha untuk mengikuti bola biliard, sebuah tindakan konyol, sebab tentu saja semakin dia mendekati bola itu, semakin bola itu menjauh karena tenaga yg keluar dari tubuh gadis itu.
“ Kak Andiiiii.........aku tak bisa mengontrolnya !!! “ Rani berteriak dari atas bukit. Bola biliard itu mulai menuju ke arah tengah kota. Andi mulai panik.
“ Ran, tahan dia.........!! coba kontrol tenagamu !!!! “
“ Aku tak bisa Kak Andiiiii !!!!!.......... “ suara Rani terdengar sama panik dengan kakaknya. Sementara itu, Andi mulai berlari ke atas bukit mengikuti adiknya, namun langkah Rani terlalu cepat, jauh di atas manusia normal malah. Andi jelas aja langsung ketinggalan jauh di belakang.
Dengan cepat cowok itu memutar otaknya, dia harus berbuat sesuatu. Sebab situasi mulai menjadi tak terkendali. Sementara di atas bukit Rani masih mencoba untuk mendekati bola biliard yg tetap melayang kesana kemari dengan kecepatan kira-kira di atas 200 km/jam.
Andi berteriak memanggila Rani dari kejauhan,
“ Ran, pusatkan konsentrasimuuuu.............!!! tahan bola itu......!!!!! “
Sejenak Rani menoleh ke arah kakaknya, kemudian dia menganggukan kepala dan memperlambat langkah kakinya.
Saat Rani sudah benar-benar berhenti, gadis itu mulai berkonsentrasi. Dia bahkan meletakkan kedua jari telunjuknya di dekat mata. Tak sampai semenit, bola biliard yang tengah melayang kesana-kemari mulai menjadi lambat.
“ Bagus Raaaann !! teruskan !!...... “ Andi terengah-engah. Dia tak habis berpikir tentang adiknya yang tadi berlari menaiki bukit itu secepat kilat, dan tak berkeringat biar hanya setetes-pun.
Rani kembali memusatkan pikirannya, sedangkan kedua tangannya mulai bergetar. Bola biru yang tengah melayang perlahan mendadak mulai bergerak turun, kembali Rani menggerakkan tangannya ke arah Andi yang hampir sampai di atas bukit. Bola biliard itu lalu melayang mengikuti arah yang di tunjuk Rani, dan secara mendadak berhenti tepat di depan hidung Andi yang terpana melihat kemajuan adiknya dalam mengontrol kekuatan yang di milikinya. Ketakutan cowok itu mulai berkurang. Andi tersenyum kecut, adiknya sekarang bagai seorang alien dengan kekuatan yang dia miliki.
“ Good job, Ran ! “ puji Andi dengan kekaguman yang tak di buat-buat.
“ Makasih, Kak. “ jawab Rani pendek seraya mengusap bintik-bintik keringat yang muncul di ujung hidung mancungnya. Terlihat Andi kembali mulai mengubek-ubek tas rensel-nya. Kali ini sebuah halter seberat 3 kg yang dia keluarkan.
“ Kak Andi, itu nggak kebesaran untukku ? “ Rani begitu terpana melihat halter berat yang akan di pakainya untuk melatih energinya, hingga pertanyaan itu tercetus begitu saja.
Andi tersenyum manis, lalu berkata dengan meyakinkan,
“ Kamu sudah bisa mengendalikan bola biliard yang tengah melayang dengan kecepatan tinggi tadi, Ran. Itu artinya, kamu juga bisa mengendalikan halter ini, tentu saja dengan kecepatan yang tak sama dengan bola biliard. Kamu harus mulai perlahan-lahan, dan nanti saat kamu merasa sudah mampu, baru kamu bisa menambah kapasitas energi sebanyak yang kamu inginkan, okey ? “
“ Okey Kak. “ jawab Rani setengah tak yakin, namun ada sedikit kepercayaan pada dirinya sendiri yang mulai merambah. Dia lalu mulai bersiap-siap.
Andi kembali memasang kuda-kuda seperti saat pertama yang dia lakukan,
“ Siap Ran ? “ tanya cowok itu sedikit tegang. Rani menganggukkan kepalanya. Dengan sekuat tenaga Andi melemparkan halter berat itu ke udara, yang langsung di kendalikan oleh energi Rani.
Setengah bermain, gadis itu mengerahkan energinya dan mulai memutar-mutar halter itu di udara, sambil sesekali membuat gerakan seperti sedang bermain yo-yo. Andi terbengong-bengong menatap adiknya yang mulai bisa mengendalikan tenaganya, sebuah pemandangan yang hanya bisa di temui di film-film.
Sementara Andi terpana antara kagum bercampur heran, Rani tiba-tiba mendapat ide nakal di kepalanya. Dia lalu mulai mengeluarkan energi lebih banyak, yang membuat halter itu mulai bergerak cepat. Andi mulai merasa cemas lagi, namun wajah adiknya yang kelihatan tenang dengan senyum manis di bibir membuat hilang rasa khawatir-nya. Andi lalu meneruskan observasi-nya.
Halter yang di kendalikan Rani mulai bergerak cepat ke atas bukit, sambil sesekali menbrak ranting-ranting kecil dari pohon-pohon besar di sekitar situ. Andi mengamati gerakan adiknya dengan cermat, sambil sesekali melayangkan pandangannya ke arah halter yang semakin cepat melayang di udara.
Saat halter itu mencapai puncak bukit, mendadak Rani mengibaskan tangannya, dan benda berat itu mendadak berhenti untuk kemudian berbalik ke arah Rani dan Andi dan langsung melesat turun bukit.
Andi merasa heran dengan tindakan yang di lakukan adiknya itu, mulanya dia berpikir bahwa Rani hendak membawa kembali halter kepadanya, namun gerakan halter yang melayang dengan cepat itu membuat Andi mulai merasa was-was.
“ Ran......hati-hati !!! “ tukas Andi dengan nada suara menandakan kekhawatiran. Dia menatap adiknya, nampak wajah Rani kelihatan tenang saja. Sesaat halter biru itu mengubah arah, menuju tepat di mana Andi tengah berdiri, namun sama sekali tak mengurangi kecepatannya.
“ Kak Andiiii........aku kehilangan kontrol tenagaku !!!!!! “ seru Rani tiba-tiba, Andi yang kaget dengan teriakan adiknya, ingin berlari menghindar, namun entah mengapa kakinya terasa berat untuk melangkah, dia lalu terjatuh berlutut di tanah lembab. Sementara halter itu semakin mendekat ke arahnya, muka cowok itu pucat pasi.
Andi menutup matanya, tak tahan saat membayangkan rasa sakit yang akan dia derita saat halter itu menimpa kepalanya. Namun hal yang itu tak terjadi. Ada kesunyian yang tercipta secara seketika, Andi merasa heran. Perlahan cowok itu membuka kedua matanya, dan pemandangan yang dia temui adalah halter biru yang tengah melayang dan berputar-putar di depan hidungnya, sementara adiknya Rani sedang tertawa terkekeh-kekeh melihat kakaknya ketakutan. Seketika itu juga Andi mengerti bahwa Rani tengah mempermainkan dirinya.
“ Raniiiii !!!!!!!!! “ bentak Andi Marah
Gadis itu memelototkan bola matanya menantang, membuat Andi mengalah, lagi² karena mengingat kekuatan supernatural adiknya. Rani tersenyum senang, sudah lama sekali dia mencari kesempatan untuk menjahili kakaknya yang usil banget itu, sekarang dia benar-benar merasa berada di atas angin.
“ Wah......cepat sekali kemajuanmu dalam mengontrol energi-mu itu, Ran, “ Andi tak sanggup menyembunyikan kekagumannya.
“ Thank you....thank you..hadirin yang terhormat.........!! “ Rani membungkukan badannya menghormat a la star yang menerima piala Oscar. Andi semakin sebel melihat tingkah adiknya itu. Andi melirik jam tangannya, sudah hampir pukul enam sore.
“ Ran, pulang yuk ! “ ajak Andi sambil meraih halter yang masih melayang-layang di depan hidungnya. Namun halter itu terasa berat sekali, dia tak mampu menggesernya semili-meterpun.
“ Ran............. “ Andi merasa jengkel sekali karena dia terpaksa harus memohon. Gadis itu bukannya mengikuti kata-kata kakaknya, dia malah tertawa terkekeh seraya meleletkan lidahnya ke arah Andi. Andi menjadi lebih sebal,
“ Ran........ “ intonasi suara cowok itu mulai meninggi, tapi Rani semakin ngelunjak, dia malah mulai mengangkat tangannya, dan kali ini bukan benda² di sekitar mereka yang bergerak, tetapi Andi yang mulai terangkat ke udara.
“ Rani,.....jangan gitu dong bercandanya.....turunin aku !!! “ teriak Andi, gadis itu tetap mengangkat tangan kanannya, dan Andi semakin melayang ke atas seperti balon gas ringan. Cowok itu mulai panik, sebab pohon-pohon di bawah mulai kelihatan kecil, sedangkan Rani adiknya hanya kelihatan sebesar biji langsat saja.
“ Raaaaaaannnnniiiiiiiiiiiiiiii................turunin aku...............!!!!!!! awas kamuuuu, nanti ku bilangin Mama baru sampai di rumah !! “ cowok itu mengancam dengan nada memelas ( orang ngancam kok pake nada memelas ??? )
Perlahan Andi mulai melayang turun, wajahnya seputih kapas, di bawah Rani masih senyum-senyum geli, gadis itu berucap nakal,
“ Ihhh Kak Andi, enak deh abis nakalin kamu, rasa plong dada Rani hehehe !! “
“ Sialan kamu, Ran !! “ sungut Andi kesal
“ Wah, kamu sudah hampir bisa mengontrol tenagamu secara total, Ran “ sambung Andi, terpaksa memuji lagi adiknya.
“ Pulang, Yuk !! nanti Mama khawatir... “ Rani tak menghiraukan pujian kakaknya, dia langsung berjalan di depan Andi, yang mengekor dari belakang.
“ Ran !! “ panggil Andi.
“ Hmmm.....?? “
“ Gimana rasanya ? “ tanya Andi pelan
“ Apanya ? “ Rani balas bertanya malas.
“ Punya kekuatan kayak gitu..... “ Andi ingin tahu.
“ Enak, bisa jahilin kamu !! hahahahaha !! “ Rani tertawa terbahak-bahak dengan gurauannya sendiri. Andi menyesali pertanyaan-nya.

Saat tiba di rumah, Ibu Andi & Rani tengah menyiapkan makan malam di dapur.
“ Sore, Ma..... “ Rani mengecup pipi Ibunya dari belakang
“ Kok baru pulang, Ran ? “ tanya Ibu heran
“ Ehmm....keasyikan main sih ! “ tanpa sengaja Rani keceplos menjawab, Andi menatap adiknya dengan bola mata besar.
“ Main ? katanya cari kadal ??? “
Mendengar pertanyaan Ibu yang mulai agak mengarah-arah, dan berpikir ttg Rani yang suka keceplos, Andi cepat-cepat menjawab,
“ Eh..anu Bu, si Rani nemu pohon tumbang, trus kita keasyikan main loncat-loncatan di situ, abis lucu sih !! ‘
“ Tapi kadalnya dapat enggak ? jangan-jangan kamu berdua sudah keasyikan main, dan lupa tujuan utama ke hutan. “ Ibu menggeleng²kan kepalanya, mendengar cerita Andi.
“Dapet, dong !! ‘ Rani yang menjawab.
“ Besar nggak ? mana Ibu mau lihat !! “ pinta Ibu, hati Rani mulai berdebar, untung saja di halaman melintas seekor kadal, dengan cepat Rani mengarahkan energi-nya, kadal yg tengah berlari memotong taman belakang melayang cepat ke arah Rani, yang dengan sigap langsung menangkap masuk ke tangannya, yang dia taruh di punggung.
“ Nih !! “ sodor Rani pada Ibunya.
“ Ihhhh Ran, jijik ah !! “ Ibu  ketakutan melihat binatang yang di sodorkan, dia langsung mundur, Andi tersenyum melihat reaksi Ibu.
“ Sana taruh di dalam botol atau apa, kek ! tapi jangan di biarin keliaran di dalam rumah, ya ?!! awas kalau Mama lihat, uang saku kalian berdua bakal di hapus selama dua bulan !! “ kata-kata Ibu membuat Rani mengurungkan niatnya untuk menakut-nakuti Ibunya. Bayangkan aja tak punya uang saku selama dua bulan, itu sih artinya no milk-shake di cafĂ© kesukaan Rani, no bioskop......hiiii.......lebih mengerikan dari film horor manapun juga.
“ Okey Boss........ “ gadis manis itu langsung berlari menuju ke kamarnya. (BERSAMBUNG)

{ 2 komentar... read them below or Comment }

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers