Popular posts

nsikome On 09 Desember 2011

Ada kalanya, dalam hidup ini, kita harus memilih pilihan-pilihan yang tersulit, yang kita sendiri tahu bahwa itu kemungkinan besar tak akan membuat kita bahagia. Namun, dalam hidup ini, yang terpenting adalah, bukan seberapa besar kebahagiaan yang kita peroleh, namun berapa banyak kebahagiaan yang bisa kita berikan pada orang-orang disekitar kita, terutama orang-orang yang kita sayangi dan cintai. Meskipun, kita harus mengorbankan kebahagiaan kita sendiri.(NS)
Photo:www.libankruptcylawinfo.com

SAAT HARUS MEMILIH

                                                                                    By : N.Sikome

“ Hallo ? selamat malam. Bisa bicara dengan Donny ? ‘’ suaraku ku rasa agak susah keluar dari tenggorokan. Ku dengar suara berat seorang laki-laki tua menyahut dari seberang, ‘’ ini dari siapa, ya ? ‘’ aku menjadi semakin gugup, dan keringat dinginku mulai jatuh bercucuran. Ku coba untuk mengatur suaraku, ‘’ ehemm..ini sepupunya, Sonia. ‘’ Ini bukan yang pertama kalinya aku berbohong kepada seseorang, namun aku merasa seperti seorang pendeta yang hendak melakukan dosa besar pertamanya. Sedetik kemudian, terdengar suara yang sudah begitu ku kenal, ‘’ Hallo ?! ‘’
Tuhanku, entah sudah berapa banyak waktu yang ku habiskan untuk berpikir tentang dia. Aku yang saat ini terpisah ribuan kilometer darinya, kini mendengar suara orang yang menghantui mimpi malamku selama seminggu terakhir.
‘’ Sorry aku bohong tadi pada ayah mertua-mu. Ini Maria. ‘’
Saat dia mengeluarkan suara, dia terdengar sama gugupnya dengan aku. Dua menit kemudian, percakapan selesai. Aku dan dia tak bicara banyak, namun itu cukup untukku. Aku tak pernah tahu kalau dia merasakan sesuatu yang bernama CINTA untukku atau tidak, aku tak perduli. Dia adalah cinta-ku. Kelihatannya agak idiot, tapi itulah kenyataannya.

Ku kenal dia semenjak aku kecil. Dia tinggal sekampung dan juga segereja denganku. Saat usiaku menginjak masa remaja, aku mulai mengenal dia lebih dekat, sebab kakaknya pacaran dengan sepupuku.
Saat itu aku adalah seorang gadis remaja yang sangat kelelaki-lakian, dan senang mengganggu orang. Dan yang selalu menjadi korban tetapku, adalah sepupuku dengan pacarnya. Suatu hari, mungkin karena bosan di ganggu terus, sepupuku meminta dia untuk membuatku jatuh cinta pada seseorang, mereka lalu taruhan.

Dia kemudian mulai memasang perangkapnya, dengan memberi aku perhatian ekstra yang kemudian berhasil membuat aku bertekuk lutut tak berdaya seperti seorang gadis bodoh. Aku jatuh cinta setengah mati kepadanya, dan bagiku, saat itu adalah merupakan saat yang terindah.Aku serasa melayang di awan, dan saat aku menerima kado ulang tahun dan sepucuk surat cinta darinya, aku merasa sangat istimewa, betapa bodohnya!.

Kemudian, dia menyakiti aku. Aku patah hati dan sedih, aku menangis sambil membakar kado yang dia berikan untukku. Cerita indah pertama di masa remaja selesai sudah, aku akhirnya melewati proses normal anak remaja, merasakan apa dan bagaimana jatuh cinta dan patah hati itu.
Tiga tahun kemudian, aku dan dia kembali menjadi sangat dekat, namun dengan situasi yang sangat berbeda. Kami sama-sama telah menjadi dewasa, berubah bersama dengan waktu. Namun, ada satu dari dalam diriku yang tak berubah, yaitu aku masih menyimpan perasaan yang sama untuknya. Namun dia tak bisa menjadi milikku. Dia memilih untuk menikahi orang lain, aku juga. Namun, hingga hari ini, aku masih selalu ingat dia. Ku pikir, aku adalah seseorang yang sangat bodoh, dan CINTA yang membuatku jadi seperti itu.

Namun, aku tak berdaya, aku tak bisa menghindari diri dari semua itu. Pernah beberapa kali ku coba dan bahkan ku paksa diriku untuk menghapus bayangannya dalam memoriku, aku tak pernah bisa.
Hari ini, setelah hampir 4 tahun aku tak pernah lagi melihat dia dan mendengar suaranya, ku putuskan untuk menelpon dia.

                                              **************************************

Terdengar suara lembut lewat pengeras suara yang memperingatkan para penumpang pesawat tujuan Manado untuk segera memasuki ruang tunggu, sebab pesawat akan berangkat dalam waktu 20 menit yang akan datang. Ku kemasi bagasi tanganku yang agak sedikit berat, dan berjalan memasuki ruang tunggu.
Saat melewati pintu pendeteksi, mataku menangkap sesosok bayangan yang sepertinya sudah ku kenal, sedang duduk di sudut ruang tunggu. Hatiku mulai berdebar tak menentu, sedetik kemudian, aku tak bisa mempercayai penglihatanku. Dia, subyek penderitaanku kini berada di hadapanku. 

Suatu kebetulan yang tak biasa, dan juga tak bisa ku sangkal kalau itu membuat hatiku berdesir indah, tepat seperti yang ku rasakan dulu, saat pertama kali jatuh cinta kepadanya. Ku lihat juga dia tak bisa menyembunyikan kekagetannya, ku coba lalu untuk bersikap normal dengan menyapanya duluan.

“ Hai Don ! apa kabar ? kok ada di Singapura ? ngapain di sini ? ‘’ Tak sadar ku hujani dia dengan pertanyaan.
‘’ Maria !! aku baik-baik saja. Kamu sendiri, ngapain di sini ? ‘’
‘’ Aku hanya transit, Don. Aku baru sampai 2 jam yang lalu dari Amsterdam. Mana istri dan anakmu ? ‘’
‘’ Mereka ada di Bitung, aku sendiri berada di Singapura untuk urusan kerja. Kamu sendiri, mana suami dan anak-anakmu ? ‘’
‘’ Mereka nggak ikut, sekarang kan masih belum musim liburan. ‘’
Sejenak, tercipta keheningan di antara kami berdua. Ku lihat dia menatap aku dengan cermat, lalu berucap lirih,
‘’ kamu masih sama seperti dulu, Maria. Hampir tak berubah sama sekali. ’’ aku hampir tersedak mendengar mendengar semua itu.

Terdengar kembali panggilan lewat pengeras suara, meminta kepada semua penumpang pesawat Silk-air tujuan Manado untuk segera memasuki pesawat. Aku beranjak bangkit, dan ku rasa ada tangan Donny yang memegang tanganku spontan,
’’ Biar ku bawa bagasimu ! ’’
Setelah hampir 4 jam terbang, kami tiba juga akhirnya di Manado. Kami tak bisa bicara lagi selama penerbangan, karena tempat duduknya terpisah jauh dariku.

Aku merasa ada yang aneh saat menuruni tangga pesawat, dan aku tahu apa itu. Setelah hampir 4 tahun tak pulang ke Manado, saat menghirup udara nyaman yang bercampur dengan wangi pepohonan seperti ini, aku jadi tak biasa lagi.
Aku sedang melangkah menuju ruang pengambilan bagasi saat terdengar suara panggilan di belakangku ’’ lagi-lagi dia ! ’’ pikirku dalam hati

’’ Maria ! kamu mau ku antar ke rumah orang tuamu ? aku punya mobil yang ku tinggalkan di pelataran parkir airport, dan kebetulan juga, aku tak langsung pulang ke rumahku. ’’
Aku menatap Donny heran, ’’ Mengapa kamu tak langsung pulang ke Bitung ? ’’
aku takut dia merencanakan sesuatu.

‘’ Aku harus singgah di rumah Ibuku, Deany dan anak-anak akan datang ke sana hari ini. Lagipula, aku terlalu capek untuk bisa bawa mobil pulang ke Bitung. ‘’
Aku menatapnya sekali lagi, mencoba untuk mencari apa yang tersembunyi di hati lewat mata bagusnya, dan ku temukan ada ketulusan di sana. 
‘’ Okey deh ! tapi….’’
‘’ Eiiitt…!! Tidak ada tapi-tapian !! sekarang biar ku bantu kamu untuk mencari bagasi-bagasi kita. ‘’ Donny memotong kata²ku sebelum aku selesai bicara. 
Saat dia mengucapkan kata ‘kita’, aku merasa ada sesuatu yang menusuk hatiku. Ku tahu, bahwa itulah yang sebenarnya ku inginkan. Ku ingin membentuk sebuah keluarga dengannya, ingin bersama dengan dia, namun dulu ada rasa egois yang terlalu besar di hati kami masing-masing. Rasa egois yang akhirnya mengalahkan semua keinginan² yang lain. Padahal, aku ingin sekali berada di sisinya, bangun setiap pagi dan berucap ‘ selamat pagi sayang..’

‘’ Maaf ? kamu bilang apa, Maria ? aku tak mendengar dengan jelas. ‘’ ternyata tak sadar aku sudah tak lagi bicara dalam hati.
‘’ Tidak apa-apa. Aku hanya menggerutu kesal lihat antrian panjang untuk check paspor ‘’ dustaku.

Akhirnya, semua urusan selesai sudah. Aku dan Donny melangkah keluar dari ruang tunggu Airport Sam Ratulangi, Manado. Di luar, langit mulai menjadi kelabu, seperti biasanya di bulan Desember. Aku tak mengerti mengapa Aline adikku memilih untuk merayakan pesta pernikahannya di bulan Desember seperti ini yang selalu basah dan hujan hampir setiap hari. Di pelataran parkir, ku lihat Donny menghampiri sebuah Toyota Corolla berwarna hitam keabu-abuan dan membukannya.

‘’ Cinderella ! kereta anda sudah siap. Silahkan masuk ke dalam, dan maafkan hamba atas ketidak nyamanan kereta ini. Harap maklum..dia sudah agak tua, Princess !! ‘’ Donny tersenyum bercanda padaku, dan aku menjadi heran, karena ku dapati diriku menjadi lebih bersemangat dan gembira mendengar dia berkata seperti itu.

Perjalanan menuju kampung kecil kami hanya memakan waktu kira-kira 15 menit dari Airport. Donny memberhentikan aku tepat di depan rumah milik orangtuaku. Tak ku sangka, ternyata ada banyak anggota keluargaku di sana. Di saat Donny membantu aku menurunkan semua bagasi² milikku, ada berpasang² mata yang menatap kami aneh. Semua orang di keluargaku kenal siapa Donny, dan mereka juga tahu bahwa aku dan dia pernah menajlin hubungan kasih dulu. Ku lihat Aline datang menghampiri,

‘’ Apa yang terjadi padamu, Kak ? ‘’ ku peluk Aline penuh rindu
‘’ Apa maksudmu, Line ? ‘’
‘’ Pssstt..itu..tu..kok si Donny yang ngantar kamu ? ‘’
‘’ Ooo..itu…’’ tak sadar aku jadi tersipu malu. ‘’ Kebetulan aku dan dia naik pesawat yang sama dari Singapura, trus dia nawarin untuk ngantar aku ke sini, emangnya salah ? ‘’
Aline tersenyum meledek, ‘’ Oooo..gitu, ya ?!..sstt…dia datang ! ‘’
‘’ Don, makasih ya sudah ngantar aku ke sini. Salam buat istri dan anakmu, juga buat Ibu dan ayahmu ! ’’
Dia hanya melemparkan senyum ramah yang sangat simpatik, ’’ aku akan sampaikan, Maria. Kalau begitu, aku pamit dulu, ya ? ’’
’’ Dan jangan lupa datang ke pesta pernikahanku, udah dapat undangannya, kan? ’’ tambah Aline. Donny mengangguk mengiyakan, lalu masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi di iringi pandangan² penuh tanda tanya semua keluargaku.
Baru saja aku memasuki pintu rumah, semua orang mulai bercanda meledek aku, dengan melontarkan pertanyaan mereka tentang kebersamaan yang mereka saksikan tadi antara aku dan Donny.

                                                **************************************

Tangan Donny terasa hangat memeluk badanku sementara kami berdansa katrili mengitari ruangan. Ku coba untuk tersenyum, dan tak menggubris debar-debar aneh yang mendadak muncul di dalam hatiku. Ku pandangi sekeliling ruangan, mengamati para pelayan restoran yang sibuk melayani, dan pemain musik yang sedang bermain di atas panggung kecil yang spesial di sediakan untuk mereka.

Aku merasa sangat puas dengan hasil kerjaku. Aline meminta aku untuk mengorganisir pesta pernikahannya, dan itu ku lakukan dengan sempurna hingga detik ini. Kesempurnaan, itu seakan menjadi sebuah obsesi bagiku. Aku memang agak perfeksionis untuk hal-hal semacam ini. Apalagi, saat ini adalah merupakan moment terpenting bagi adikku satu²nya. Suara musik terdengar mulai mengecil. Aku melepaskan diri dari Donny, walaupun ada rasa enggan di hatiku. Ku lirik istrinya yang duduk di dekat Ibu Donny, dan ku dapati wanita itu tengah menatapku dengan mata membara. Sejak dulu, Deany istri Donny itu memang selalu menganggap aku sebagai saingan potensial yang sewaktu² bisa merampas Donny dari tangannya. Tapi itu dulu, sewaktu mereka masih pacaran. Tapi tak ku sangka itu masih berlangsung sampai sekarang.

Kembali terdengar suara musik lembut mengalun melagukan instrumental ’ I understand ’-nya Herman Shermits. Aku hampir tak bisa menahan diriku untuk tidak pergi berlari memeluk Donny. Lagu itu adalah lagu kenangan di mana untuk yang pertama kalinya aku berdansa, dan itu dengan Donny. Walaupun waktu itu aku sempat beberapa kali menginjak kakinya karena aku tak pernah berdansa sebelumnya. 
Ku lihat dari seberang, Donny menatapku dengan pandangan yang aneh, dan itu membuat aku teringat 8 tahun yang silam, saat untuk yang kedua kalinya dia mengungkapkan rasa sayangnya kepadaku. Jadi, dia menyadari perasaanya. Dia tahu hal itu, dan dia mengerti bahwa antara kami masih ada sesuatu yang tak terselesaikan. Dan, saat mereka pamitan untuk pulang, Donny mendekati aku dan berbisik pelan, ‘’ aku akan menelpon-mu besok sore jam tiga. ‘’

Keesokan harinya, dia benar² menelpon aku. Dia bilang, bahwa dia ingin bertemu denganku, dan bicara secara pribadi. Aku hanya mengiyakan, dan kami memutuskan untuk bertemu di sebuah hotel kecil di kota Tomohon.
Aku menjadi tak sabar menunggu saat pertemuan itu. Aku tahu semenjak aku bertemu dengannya di Singapura, bahwa cerita di antara kami tak akan pernah selesai begitu saja. Sampai akhirnya hari yang di tentukan tiba, aku merasa seperti seorang ABG yang baru pertama kali jatuh cinta, aku sangat gugup.
Aline menghampiri aku saat aku tengah berpakaian di kamar. Dia tampak memperhatikan aku dengan cermat, dan aku kenal dia. Dia pasti sudah menangkap ada sesuatu yang aneh padaku.
’’ Kak Maria, aku.......’’
’’ Aku merasa ada sesuatu yang aneh dari dirimu, kamu pasti menyimpan rahasia dariku ! ’’ sebelum Aline selesai berkata, aku sudah melanjutkan apa yang mau dia katakan. Aline menggamit bahuku, dan berkata pelan,
’’Ada apa sebenarnya, Kak ? sejak dulu kita selalu berbagi cerita dan tak pernah menyimpan rahasia sekecil apapun. Setelah hampir 4 tahun tak bertemu, itu bukan artinya kakak harus menghindari aku dan tak mau mengutarakan beban di hati kakak ! ’’
’’ Ini tentang Donny, Line. ‘’ aku berucap pelan
‘’ Aku tahu, dan semenjak dulu aku tahu bahwa di antara kalian berdua masih ada sesuatu yang tersisa. ‘’ Adikku itu memang adalah orang yang paling mengenal diriku.
‘’ Aku ada janji dengannya hari ini, dia bilang dia ingin bicara denganku secara pribadi. Aku tak tahu kalau apa yang akan aku lakukan nanti benar atau salah, Line. ‘’
‘’ kamu harus pergi, Kak. Untuk bisa memastikan dan memutuskan semua cerita yang belum selesai di antara kalian berdua. Kakak harus pergi, untuk mencari tahu kebahagiaan kakak ada di sini, dengan Donny, atau di Belanda, dengan Klaus. ’’
’’ Terima kasih, Line. Kamu adalah satu²nya orang yang bisa memahami aku. ’’
’’ Aku tahu ! jangan lupa, aku kan adikmu !! ’’ Aline lalu memelukku erat-erat.

Saat aku tiba di hotel, Donny sudah menunggu aku di sana. Aku sedikit gemetar, tak tahu apa yang nanti bisa ku bicarakan dengannya.
’’ Maafkan aku, Don. Aku agak terlambat, kamu sudah dari tadi menunggu ? ‘’ aku mencoba untuk sedikit mencairkan suasana.
‘’ Tidak juga. Ayo kita ke atas, aku punya sesuatu yang hendak ku tunjukkan kepadamu. ‘’ dan aku tak mampu menolaknya. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi, dan siapa yang memulai. Yang ku tahu, begitu pintu kamar hotel menutup, kami berdua menghambur dalam kelaparan liar yang tak terkendalikan lagi. Aku berada dalam dekapan Donny, dia lalu memondong aku ke tempat tidur. Semua hal tiba-tiba menjadi tak penting kecuali pelukan hangat Donny dan kenyamanan yang aku rasakan. Setelah semuanya selesai, kami berdua terbaring saling memeluk erat, dan aku berpikir dengan penuh kebahagiaan, ‘ cinta-ku ada di sini’.

                                  ******************************************************

Dua hari sesudah itu, aku harus kembali ke Belanda. Aku bicara banyak hal dengan Donny, dia meminta aku untuk mengajukan permohonan cerai pada Klaus. Dia bilang, bahwa dia akan mengajukan permohonan cerai pada istrinya secepat mungkin. Aku lalu memutuskan untuk menelpon suamiku, tapi Tray anak tertuaku yang mengangkat telpon.
‘’ Hallo Mama ? pulang cepat, dong ! Tray sama Sean rindu skali sama Mama ! ‘’
Aku tersenyum mendengar rengekan manja Tray. 
’’ Iya sayang, Mama kan  lusa nanti sudah ada di rumah. Mana adik dan Papamu ? ‘’
‘’ Mereka pergi belanja di supermarket, tadi malam Papa bobok dengan foto Mama, pulang cepat ya, Ma ? kita semua sudah rindu banget, nih ! apalagi sama masakannya Mama. Tau nggak, Ma, kemarin Papa masak dan Doggie yang
bantu Tray sama Sean habisin ‘tartiflette’ Papa yang rasa permen karet !! ‘’

Aku tersentak, hatiku mendadak menjadi sedih mendengar suara manja anakku. Aku telah mengkhianati suami dan anak-anakku. Aku hanya menuruti perasaanku dan rasa ego yang berlebihan, tanpa memikirkan hal² yang lain. Tiba-tiba ada rasa berdosa yang mulai menjalari hatiku, dan aku di hadapkan pada sebuah dilema ; melanjutkan tinggal dengan suami dan anak-anak yang mencintai-ku, atau pergi dengan laki-laki yang memiliki hatiku dan harus kehilangan anak-anakku ? aku tak tahu lagi.

                                  ************************************************************

Terdengar bunyi lewat pengeras suara yang meminta para penumpang pesawat Singapore Airlines untuk mengenakan sabuk pengaman, melipat meja, dan menegakkan sandaran kursi, karena dalam waktu 7 menit, pesawat akan mendarat di airport Schipol, Amsterdam.
Di ruang tunggu, ku lihat suami dan kedua anakku sedang menunggu di sana. Klaus menatap aku rindu, sedangkan kedua anakku meloncat kegirangan saat aku melangkah keluar menemui mereka.
Aku sudah mengambil keputusan, walaupun aku sebenarnya tak yakin. Aku akan kembali ke sisi suamiku, mencoba utk memaksa agar cinta bisa muncul di hati untuknya, karena aku tak ingin kehilangan kedua anakku, terutama tak ingin merusak hidup mereka.

 Aku akan mencoba sekali lagi untuk melupakan Donny dan semua yang terjadi di antara kami saat yang lalu. Donny sebenarnya merasa berat dengan keputusan yang ku ambil, tapi ku katakan padanya, bahwa cinta itu bukan berarti harus memiliki segalanya, dan dia mengerti. Kami berdua saling berjanji untuk menyimpan rahasia tentang apa yang terjadi antara kami berdua sewaktu aku berada di Manado, dan mencoba untuk tak mengulangi kesalahan yang
sama saat kami bertemu lagi di suatu hari nanti. Satu yang ku sesalkan, aku tahu bahwa rasa bersalahku karena telah mengkhianati Klaus satu kali, akan terus menghantui sampai aku mati nanti.


{ 5 komentar... read them below or Comment }

  1. POSTING YANG SANGAT BAGUSS...TRUSKAN BROEE

    BalasHapus
  2. good night to you my friend.. have a nice sleep

    BalasHapus
  3. Memilih mana yang enak dan yang gak enak lebih mudah dibanding memilih mana yang baik dan yang gak baik, benergak? he he he
    Posting menarik, TQ

    BalasHapus
  4. Icah : Thank's..Jenny : Happy weekend to u 2.. Mikeexplorer : have a nice dream mike..Pak Harun : iya ya...tapi sayang, yg enak-enak biasanya suka gak baik ujungnya..kayak, makanan berlemak, enak tapi ujungnya ada kolesterol tinggi..hehehehe

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers