Popular posts

nsikome On 14 Desember 2011

Hai semua, seperti yang pernah aku janjikan sebelumnya, aku akan mempublikasikan, episode-episode terbaru, pada The Lost City di Buku Kedua (jangan lupa, buku 1-nya sudah terbit, kamu bisa pesan lho..)
Sebenarnya, buku ini masih dalam proses penulisan, namun, karena sudah didesak-desak (caileeeee) oleh penggemarnya (bukan penggemar saya ya, hehe), here it is, Episode 1, The Lost City, Buku 2 : Bloodline-Secret of The Royal Family, selamat mengikuti!!

Photo :www.abriefhistoryoftheincas.blogspot.com

THE LOST CITY (BOOK 2)
BLOODLINE, Secret of The Royal Family

Part 1

Seminggu sudah Rapalla dan Annamaya di Jakarta. Selama waktu yang berselang, aku dan Arya terpaksa mengambil “cuti” dari segala kegiatan belajar kami. Untung saja, Papa dan Mama setuju-setuju saja, dan malah ikut membantu kami untuk meminta ijin kepada pihak universitas aku dan juga sekolah Arya, dengan alasan yang hanya mereka berdua yang tahu.

Kata Mama, mereka berdua Papa setuju saja dengan “cuti” aku dan Arya tersebut, karena selama ini, aku dan adikku itu sudah menghasilkan prestasi yang cukup bagus. Memang tidak bisa dipungkiri, bila mengingat bagaimana reputasi Arya di sekolah dulu, sungguh sangat mengherankan bagi kedua orangtua kami, melihat anak bungsu mereka yang dulunya tidak bisa membedakan antara Jenghis Khan dan Shah Rukh Khan, tiba-tiba menjadi seorang jenius yang bisa menyebut segala macam bahan kimia lengkap dengan symbol-simbolnya sambil bermain PS3 kesayangannya, dan bahkan dengan lancang menguliahi Mama tentang cara pembedahan otak yang baik, agar tidak terlalu menimbulkan pendarahan dalam dengan menggunakan sebuah metode, yang bahkan namanya saja susah untuk disebutkan dengan lidahku.
“Aning, aku dan Annamaya ingin bicara sama kamu dan Arya, secara pribadi. Kalau boleh jangan sampai ada orang yang bisa mendengarnya,” Rapalla berucap serius, disuatu sore hari, ketika kami berempat sedang menikmati es krim sesudah menaiki sebuah wahana di Dufan. Selama seminggu ini, kegiatan kami memang hanya jalan-jalan terus, menikmati kota Jakarta. Annamaya dan Rapalla sendiri sangat senang melihat negara kami, yang menurutnya “sangat di depan”.

“Nanti malam, Mama sama Papa ada undangan ke acara kawinan, bagaimana kalau kita bicara dirumah saja?” tanya Arya. Rapalla dan Aning menggelengkan kepala mereka bersamaan.
“Tidak aman, kita harus pergi ke suatu tempat, yang kita bisa memastikan bahwa tidak akan ada orang yang bisa mendengar pembicaraan kita” Rapalla berucap cemas, membuatku sangat penasaran.

Sudah seminggu ini dia dan Annamaya berada di Jakarta, tapi ini adalah yang pertama kalinya aku melihat Rapalla bertampang “Sapa Inca” seperti itu. Sangat serius.
“Bagaimana kalau kita ke kafe saja, Kak?” usul Arya, yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
“Boleh juga, tapi disitu tempat duduknya berdekatan, nanti ada orang yang masuk dan pura-pura duduk di sebelah meja kita bagaimana?” tanyaku khawatir. Arya mengangguk-anggukan kepalanya.
“Begini saja, kita jalan ke Monas saja, disana kan banyak tempat duduknya, nah, kita cari tempat yang paling sepi, terus kita bisa membicarakan semua hal dengan aman, gimana?” Arya kembali mengusulkan. Kupikir, ide itu bagus juga. Akhirnya, kami semua setuju. Besok kami akan ke Monas.
*********************
“Nah, sekarang kita sudah berada disini, dan hanya kita yang ada disini, kamu bisa mengatakan pada kami tentang semua hal!” ujar Arya sambil menghempaskan pantatnya diatas rumput tebal. Kami mendapatkan tempat yang cukup sunyi, tepat di sebelah selatan Monas.

“Begini, sebenarnya kunjungan aku dan Annamaya kesini, bukan hanya sekedar mengunjungi kalian berdua saja, namun kami juga ingin mencari sesuatu disini”  aku mendengarkan dengan cermat setiap kata yang diucapkan Rapalla.
Dukun tinggi kerajaan kami, baru-baru ini meninggal secara misterius. Sebelum dia meninggal, dia sempat meramalkan bahwa kerajaan kami akan mengalami kehancuran total, apabila “Kunci Rahasia Para Dewa” yang telah hilang sejak berabad-abad yang lalu tidak dikembalikan ke tempatnya semula, yaitu di altar doa yang berada di puncak piramida emas didalam gunung suci kami, sebelum purnama ke dua belas tahun ini!” terang Rapalla panjang lebar.
Aku sungguh takjub mendengar penuturan Rapalla itu. Apalagi yang akan terjadi sekarang? Pikirku cemas.

“Tunggu Rapalla, sebelum kamu melanjutkan, aku ingin bertanya dulu. Kalau memang kamu ingin mencari kunci itu, mengapa kamu datang kesini?” Arya bertanya heran.
Aku setuju dengan adikku itu, untuk apa mereka berdua datang ke Indonesia, yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kerajaan Inca?.
“Karena satu-satunya petunjuk dari dukun tinggi kerajaan adalah ukiran sebuah pohon yang berada diatas kain yang kamu hadiahkan kepada sang Ratu, dia menunjuknya dan hanya bilang ‘negeri zamrud’  tepat sebelum sang dukun mengembuskan napas terakhirnya!” potong Annamaya cepat.

Aku terhenyak. Sungguh tak menyangka akan kembali berhadapan dengan hal ini. Tapi, satu hal yang pasti, aku yakin bahwa apapun yang terjadi nanti, pencarian itu tak akan pernah mudah. Mencari sesuatu yang telah hilang selama berabad-abad, tak ada yang tahu bagaimana bentuknya, dan satu-satunya petunjuk hanyalah ukiran pohon pada syal batik milik Aning yang diberikan pada Sang Ratu yang telah wafat, sungguh bukan petunjuk yang sangat mencerahkan. Bahkan jujur saja, aku sudah merasa pesimis duluan, kalau hal itu adalah merupakan suatu misi yang tidak mungkin.

“ Aku dan Annamaya kesini, untuk meminta bantuan kalian sekali lagi, agar kami menemukan kunci rahasia para dewa tersebut, karena satu-satunya petunjuk dari dukun tinggi hanyalah ukiran pohon di atas syal hadiahmu itu, Aning.”
Rapalla dan Annamaya memandang aku dan adikku dengan tatapan penuh permohonan. Membuat hatiku tak tega rasanya untuk menolak. Akhirnya, dengan lemah aku menganggukkan kepala, disambut dengan senyuman gembira Annamaya, dan cengiran Rapalla. Sedang Arya, dia hanya diam, seperti tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri, yang entah apa itu.

“Kamu ini ada-ada saja, Aning! Bagaimana mungkin kamu mau ambil cuti satu semester sekarang, kamu kan udah hampir ujian?” Mama berseru kaget ketika aku mengungkapkan keinginanku untuk cuti selama satu semester. Sedangkan Papa, dia terlihat sibuk dengan Koran paginya, namun aku tahu dia juga tengah menyimak.
“Kan cuma satu semester Ma, lagian selama ini Aning IP-nya kan 4 melulu..” rengekku sekuat tenaga. Aku harus bisa meluluhkan hati Mama yang oleh Arya dijuluki dengan “perempuan berhati baja”

“Lagian untuk apa kamu mau cuti segala Aning? Gara-gara mau menemani teman Peru-mu itu jalan-jalan keliling Indonesia? Mama tidak setuju, titik!”
“Baik…Kalau Mama tidak setuju, Aning akan bolos kuliah terus!!” ancamku, sebenarnya agak takut juga sih, tapi aku nekat saja, demi Rapalla dan Annamaya. Papa terlihat masih santai dengan koran ditangannya, bahkan dia sekarang tengah menghirup kopi hitamnya dengan nikmat.

“Papa! Kamu dengar apa kata anak gadismu ini? Berani-beraninya dia mengancam Mama akan berhenti kuliah kalau Mama tidak mengijinkannya mengambil cuti satu semester!” Papa hanya mendongak sedikit dari korannya, lalu kembali menekuni bahan bacaannya itu, membuat Mama makin naik pitam karena menganggap tidak dibela.
“Papa…kamu dengar kata Mama nggak sih?!” raung Mama kali ini dekat di telinga Papa, membuatnya terlonjak seketika karena kaget. Mama memang orangnya seperti itu, kalau dia lagi marah, jangan berani untuk kelihatan acuh tak acuh dihadapannya, suaranya bisa terdengar sampai ke Ancol sana dari rumah kami.

“Aning kan sudah besar Ma, biarkan saja..Lagipula, kapan lagi dia jalan keliling Indonesia gratis?” Papa berujar enteng, bukannya membuat Mama jadi tenang, malah menambah kegeraman Mama.
“Kamu itu ya, Pa, orangtua yang aneh. Masa depan anak sendiri sudah mau kacau balau, dia malah tenang saja, ya Tuhan..ampuni aku, keluargaku sudah pada sinting semua” Mama langsung ngeloyor masuk kamar. (BERSAMBUNG)


{ 3 komentar... read them below or Comment }

  1. cerita yang bagus.....q dah follow blog km lho...

    BalasHapus
  2. mana nih lanjutannya kak?? Udh ga sbar nunggu kelanjutannya...

    BalasHapus
  3. Ahmad Andry : Makasih, aku udah follow back juga
    Pin : Sabar ya..masih sedang ditulis kok..

    BalasHapus

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers