Popular posts

Archive for Juli 2011

LEGENDA ANGGREK HITAM

31 Juli 2011
Posted by nsikome
One of of my wildest imagination...menemukan Anggrek Hitam Pekat seperti arang..mungkin nanti dapetnya hasil silang anggrek Maron sama Arang Tempurung ya? Hehe..yg pasti, cerita ini juga based dari kebencian-ku terhadap seseorg, yg "kubunuh" dalam imajinasiku (dari pada bunuh-bunuhan beneran? Kan dosaaaa..). Hope You'll like it, as I did.

LEGENDA ANGGREK HITAM

By: N.Sikome

Suara lewat pengeras suara yang bunyi-nya benar-benar memekakkan telinga, meminta para penumpang kapal SULIFIVE untuk menyiapkan bagasi masing-masing, sebab kapal penumpang sudah mendekati pelabuhan terakhir-nya, yaitu pelabuhan SAMUDERA di kota Bitung, Sulawesi Utara.

Dengan mata yang masih setengah tertutup, ku edarkan pandangan-ku ke sekeliling ruangan “Super Ekonomi” yang di jubeli oleh penumpang-penumpang kelas terbawah. Nampak di sudut, si Eko anak Fakultas Ekonomi masih mendengkur dengan pulas-nya, seakan tak memperdulikan suara keras yang memekakkan tadi itu.

-Lara, bagasimu udah siap ? – sebuah suara menyapaku, ternyata si pendiam Sandly. Dia anak kedokteran yang jadi bagian dalam team KKN kami di propinsi yang di juluki sebagai propinsi ‘Nyiur Melambai’ ini.

-Belum tuh, aku baru saja terbangun, - jawabku datar, tanpa menoleh dari kegiatan mengemasi barang-barangku. Saat tahu bahwa kelompok KKN kami akan di kirim ke Sulawesi Utara, aku girang setengah mati. Soalnya aku kan penggemar Snorkeling, dan keindahan Taman Laut Bunaken sudah sejak lama membuat telingaku gatal, namun apa dayaku ? dengan kocek mahasiswa yang masih berharap pada orangtua, mana mampu aku kesana ?.

-Nanti kalau kamu udah siap, aku tunggu di dekat pintu keluar, bilang pada teman-teman yang lain kalau aku ada di sana untuk absen turun ! – suara Sandly yang setengah memerintah membuatku hampir mengumpat, kalau saja aku tak ingat bahwa dia adalah ketua kelompok kami. Mentang-mentang anak kedokteran, sombong banget dia itu !

-Tolong bilang sama yang lain, ya ? – ulang dia sekali lagi. Dengan dongkol aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa sudi melihat wajah bego-nya yang di hiasi dengan kaca mata tebal dan besar, mirip dengan kacamata selam punya si Donni, abangku.

Saat tiba di ruang kedatangan, nampak sesosok gadis manis tengah mengangkat karton bertuliskan nama kelompok dan Universitas kami.

-Hallo...nama saya Sandly, saya adalah ketua kelompok ini, - sialan ! si Sandly emang pendiam beneran apa pura-pura, sih ? selama perjalanan di kapal yang hampir seminggu dari Jakarta sampai Bitung, bisa di hitung berapa kali dia membuang kalimat dari bibir-nya. Aku dengan anggota kelompok yang lain sudah akrab, namun hanya dengan Sandly seperti ada jarak. Dan sekarang, baru saja turun dari kapal, begitu melihat cewek manis yang menjemput kami, dia udah gatel kayak cacing kena panas, pake acara menyapa genit, lagi !!

-Hai...nama saya Pingkan, saya yang di tugaskan untuk menyambut sekalian mengantarkan anda sekalian ke tempat akomodasi masing-masing selama KKN di Sulawesi Utara – gadis manis itu tersenyum seraya memperkenalkan dirinya. Kami lalu memperkenalkan diri kami masing-masing.

Hari pertama kedatangan kami di kota Bitung yang merupakan kota Industri Sulawesi utara ini hanya diisi dengan acara istirahat. Maklum-lah, selama hampir seminggu berada di atas kapal dan hampir-hampir tak pernah tidur lebih dari 4 jam setiap harinya karena suara ribut orang-orang yang berjubel di kelas ekonomi membuat kami capek sekali.

Namun, hari kedua kegiatan sudah di mulai, namun belum pada inti-nya sebab kami hanya pergi berkenalan dengan pemerintah kota setempat, dan berkunjung ke hutan Tangkoko, yang terkenal dengan Tarsius Spektrum-nya, species monyet yang terkecil di dunia.

Hutan Tangkoko merupakan sebuah hutan yang boleh di bilang masih perawan. Selain lingkungan tempat tinggal Tarsius yang memang memiliki pos penjaga karena hampir selalu di kunjungi oleh orang-orang, di sekitarnya merupakan hutan berpohon lebat yang kelihatannya tak pernah tersentuh oleh langkah kaki manusia.

-Mana Tarsius-nya ????!!!! – suara si centil Rini memecahkan kesunyian, dan dia langsung di bentak oleh Sandly,

-Kalo kerongkongan kamu terbuka lebar kayak gitu, jelas aja Tarsius-nya nggak bakal nongol, Non !! binatang itu suka kesunyian !! – cowok itu lalu mencibir sinis ke arah Rini

-Bego banget kamu, San ! biar sunyi, kalo siang-siang kayak gini, kamu nggak bakalan ketemu sama tu binatang, soalnya dia hanya keluar pada saat hari sudah mulai gelap !! – aku tak bisa lagi menahan rasa dongkolku saat mendengar kata-kata Sandly kepada Rini. Terlalu pongah tu cowok, emang !

Nampak Sandly menatapku ke arahku dengan pandangan terkejut. Tapi dia hanya melengos lalu memalingkan tatapannya ke arah hutan lebat, seakan ingin menghindari tatapanku.

-Sudah...sudah...!! kalian ini bawaannya mau bertengkar melulu. Pemandangan bagus gini, mestinya bikin hati orang tentram dan damai, bukannya panas..- Epi mencoba untuk menengahi.

Rasa dongkolku yang semakin menjadi-jadi terhadap Sandly membuatku tak sudi lagi berdekatan dengannya. Guide yang membawa kami mengitari lingkungan tempat tinggal Tarsius tengah sibuk berceloteh menceritakan tentang Tarsius yang entah sudah keberapa ribu kali-nya dia ucapkan dengan kata-kata dan kalimat yang sama persis. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah bayangan di balik pohon besar yang akar-akarnya segede betis Rambo. Gila !! bukankah itu Babirusa ? binatang langka yang kata mereka hanya orang yang benar-benar beruntung bisa melihatnya. Perlahan kudekati pohon itu, dan binatang itu benar-benar ada di sana. Mataku terbelalak di antara rasa heran dan terpesona melihat perpaduan Rusa di bagian kepala, sedangkan Babi di bagian badan. Rasa heran di hatiku melihat mahkluk ciptaan Tuhan yang aneh itu membuatku lupa pada kelompokku. Saat aku menyadari hal itu, tak sadar aku terpekik kecil, membuat Babirusa di hadapanku sadar akan kehadiranku, dan langsung berlari masuk ke dalam semak-semak rimbun lalu menghilang dari pandangan mataku.

Ku edarkan pandanganku ke sekeliling, teman-temanku bersama guide kami sudah tak kelihatan. Aku lalu memutuskan untuk mengikuti mereka, dengan cepat aku berlari menyusuri jalan setapak yang ada di hadapanku.

Hampir satu jam aku berlari, mereka masih belum aku temukan. Aku lalu memutuskan untuk berbalik ke jalan tadi, dan menunggu mereka di dekat pohon besar tempat Babirusa yang kulihat tadi bersembunyi. Namun rasa panik mendadak mulai merayapi hatiku, saat kulihat bahwa ada begitu banyak jalan setapak di dekat situ, dan aku tak tahu yang mana menuju tempat tadi.

Namun aku tahu, bahwa lebih baik duduk dan menunggu di situ, sebab mereka pasti akan mencariku. Sebab, berjalan bisa membuatku tersesat lebih jauh ke dalam hutan lebat itu. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10 pagi, ternyata kami sudah dua jam lebih berada di hutan Tangkoko itu. Saat aku tengah duduk-duduk sambil memikirkan langkah apa yang harus kubuat agar mereka bisa menemukan aku, tiba-tiba mataku terbentur pada batang pohon yang tak terlalu tinggi. Bukannya batang pohon itu yang menarik perhatianku, tapi sesuatu yang menempel pada permukaannya. Untuk yang kedua kali-nya aku berpikir bahwa ini adalah hari kesialan sekaligus keberuntunganku. Pertama, aku bisa melihat sesekor Babirusa, yang membuatku kehilangan jejak teman-teman sekelompokku. Kedua, aku melihat kejaiban ini. Nampak menempel di batang pohon itu, sekelompok bunga Anggrek, yang telah berbunga. Dan warna bunga-nya hitam seperti arang, yang kelihatan begitu kontras dengan daun-daun hijaunya. Seperti di dorong oleh kekuatan magis, aku segera meraih cabang demi cabang, memanjat ke atas pohon tersebut. Tanganku baru saja mau menyentuh setangkai bunga Anggrek hitam itu, saat sebuah suara lembut menegurku,

-Tolong bunga-nya jangan di petik, Nona- refleks aku menoleh ke arah suara itu. Seorang gadis cantik yang berpakaian seperti penjaga-penjaga hutan di film-film barat tengah berdiri tepat di bawah pohon yang tengah kupanjati.

-Memangnya kenapa ? – tanyaku ingin tahu, sambil meluncur turun dari pohon

-Bunga itu dilindungi, sebab keberadaannya sudah sangat langka. – jawabnya pendek. Aku mengangguk mengerti. Agak kecewa sih, sebab sudah kubayangkan senyum girang si fanatik anggrek ; Mamaku, saat melihatku pulang dengan pohon anggrek hitam pekat.

-Kalau begitu, maaf ya ?! –

-Nggak apa-apa, banyak juga yang seperti anda. Lagi ngapain di tengah-tengah hutan ? – tanya gadis itu lagi. Dengan cepat kuceritakan kejadian yang kualami, dan berharap dia akan mengantarku kembali ke pos penjaga. Namun gadis itu hanya mengangguk mendengar ceritaku. Dia lalu duduk di dekatku, dan mulai bicara,

-Tau nggak, konon bunga Anggrek hitam ini dulu adalah seorang putri – ceritanya, membuatku mulai tertarik, aku kan orangnya suka banget mendengar mitos-mitos atau legenda semacam itu.

-Oh ya ? bagaimana dia bisa jadi bunga Anggrek hitam ?-

-Putri itu adalah seorang pencinta bunga anggrek, semua warna bunga itu sudah berada di istana-nya. Namun dia masih belum puas, sebab ada satu warna yang masih belum ada, yaitu warna hitam. Putri itu lalu berkelana mencari Anggrek hitam itu, hingga suatu ketika dia bertemu seorang penyihir yang berkata bahwa dia sanggup menghadirkan bunga tersebut, tapi dia harus menyerahkan pacarnya yaitu seorang Pangeran dari negeri tetangga pada penyihir itu. Sang putri tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan permintaan sang penyihir, yang langsung menghadirkan bunga anggrek berwarna hitam. Namun sang putri begitu keinginannya tercapai, dia tak memenuhi permintaan sang penyihir yang menjadi sangat marah. Saking marahnya, dia menyihir pacar sang putri menjadi seekor Babirusa, lalu menyihir sang putri menjadi bunga Anggrek hitam. – gadis itu mengakhiri cerita-nya yang menurutku sama sekali tak begitu menarik.

-Lara !!!! – kamu sudah kita cari kemana-mana, ternyata lagi asyik duduk di sini, ya ?!! – suara bentakan ‘The Big Boss’ Sandly mengagetkanku.

-Sorry, San. Aku tersesat saat hendak menyusul kalian, - ucapku meminta maaf. Namun cowok itu seakan tak memperdulikan perkataanku,

-Ngapain kamu bengong di sini ? – tanya dia lagi, kasar.

-Aku melihat bunga anggrek hitam ini, aneh ya ?! – tunjukku ke atas pohon. Entah setan apa yang tiba-tiba bersarang di kepala Sandly, cowok itu langsung memanjat ke atas pohon dan dengan kasarnya merenggut setangkai bunga anggrek hitam yang sudah merekah,

-Jadi gara-gara bunga jelek ini kamu lupa pada teman-temanmu ?! – teriak Sandly seraya menghempaskan tangkai itu ke tanah

-Sandly !!! apa-apaan kamu ??? bunga itu di lindungi, tau !!- aku balas berteriak marah melihat tingkah cowok itu. Sepertinya bukan anggrek itu objek kemarahannya, tetapi aku.

Gadis berbaju penjaga hutan yang sedari tadi hanya diam mendadak mukanya memerah, seperti matahari sore hari yang baru mau tenggelam.

-Dia bajingan, dia menyakiti aku !! – serunya tertahan. Dengan heran ku tatap gadis itu, tak mengerti apa maksud kata-katanya. Gadis itu lalu mengacungkan tangannya, dan mendadak Sandly berubah menjadi seekor lebah. Aku terpana melihat kejadian di hadapanku.

-Kkkaaaammuu....puuu..tt.trrii iii...tttu ? – tanyakku terbata-bata, gadis itu tersenyum manis sekali, seraya menganggukkan kepalanya. Sandly yang kini telah berubah menjadi lebah nampak berputar-putar diatas kelopak bunga anggrek di atas pohon.

-Mulai sekarang, tugasnya adalah melayani aku untuk menebus salahnya, - tegas sang Putri.

-Boleh aku........-aku baru saja hendak bicara, tetapi seperti bisa membaca pikiranku, sang Putri mengulurkan tangannya, dan nampak sebuah tunas kecil anggrek melayang ke arahku.

-Kamu boleh mengambilnya, asal kamu mau menukarnya dengan pacarmu – ujar dia

-Pacar ? yang mana ? – tanyaku heran, perasaan aku udah hampir setahun nge-jomblo

-Yang ku jadikan lebah tadi, -

-Oh........- ku palingkan pandanganku ke arah lebah ‘Sandly’ yang terbang mengelilingi bunga itu, seraya tersenyum licik,

-Boleh, tapi aku juga punya satu permintaan, bawa aku hingga ke pos penjaga, ya ? –

Sang putri menganggukkan kepalanya, dan dalam sekejap mata, aku langsung sampai di dekat pos, yang langsung di sambut oleh wajah-wajah khawatir teman-temanku.

-Kamu kemana aja, Lara ? – tanya Andre khawatir, yang lain langsung mengerubungiku

-Aku nggak kemana-mana, cuma liat-liat ke sekitar sini, kok – jawabku

-Kirain kamu tersesat, oh ya, nggak ketemu sama Sandly ? – tanya Irene, aku cuma mengelengkan kepalaku, munafik.

-Pak, pernah dengar tentang Anggrek Hitam ? – tanyaku pada guide kami, saat teman-temanku mulai berebutan mencari bekal makan siang masing-masing.

-Maksud kamu Legenda Anggrek Hitam ? tentu saja pernah, itu kan legenda yang sangat terkenal di sini. Tapi tak pernah ada satupun yang pernah mendapatkannya. Dan konon, bila ada yang berhasil mendapatkan bunga itu, dia harus merawatnya dengan seksama, sebab bila bunga itu tak terawat, maka pemiliknya akan mendapat musibah besar. Tapi itu cuma legenda semata, kok. – tutur pak Guide panjang lebar, namun membuatku nyengir agak-agak takut, sambil melirik kedalam tasku, anggrek hitam itu ada di sana.

Hingga KKN kami selesai, Sandly tak di ketemukan lagi. Dia lalu di nyatakan hilang, sedangkan aku dengan egois-nya dan juga dengan bangga-nya membawa pulang tunas kecil anggrek hitam itu, lalu memberikannya pada Mamaku, di hari ulang tahunnya. Yang di terimanya dengan airmata bahagia. Dengan syarat, meskipun itu jadi milik Mama, tetap harus aku yang merawatnya, dengan rasa ngeri yang meracuni hatiku, tentu saja !!.. (FIN)

Keterangan :

Cerita ini hanya imajinasi semata, sampai saat ini belum pernah ditemukan bunga Anggrek berwarna hitam (hitam pekat) di Wilayah Sulawesi. Anggrek Hitam Pekat konon tumbuh di tanah Papua, entah benar apa tidak, aku sangat penasaran, I'm an Orchid Freak!!..Karena anggrek hitam yg kudapat informasinya, ternyata anggrek hijau dengan kelopak tengah berwarna hitam berbintik2 putih, atau merah tua yg terlihat "hampir hitam" dengan kelopak tengah berwarna merah muda berbintik2 coklat, boufff!!..

THE LOST CITY-Golden Mountain (Cerita Bersambung) Part 10

Ketemu lagi guys...kali ini, aku nggak telat kan? Maklum...Jum'at kemaren, mailbox ku ampir overload, gara2 serangan e-mail "don't forget new episode, kak.." or..."jangan lupa lagi ya"..ada juga "boleh minta nomor telpon sama foto nggak?" (enak aja!!)..Yang pasti, thank you udah suka cerita aku, dan buat yg request sebagai teman bacaan utk menemani puasa-nya, maap ya...silahkan dibaca lewat blog aja...kan puasa harus belajar buat sabar??.Anyway..buat semua umat Muslim se-Indonesia, Selamat Beribadah Puasa..semoga puasanya pooollll..Here it is, newest episode, part 10 of The Lost City...(NS)


THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 10

Rasanya waktu begitu lambat berjalan, dan aku sudah tak sabar lagi untuk bisa kembali kedalam lembah rahasia untuk bertemu dengan Intipalla. Bukan cuma aku saja, Arya bahkan kelihatan sangat gelisah. Dia seperti orang yang kehilangan arah. Semenjak kami tiba diperkemahan, yang sering dia lakukan adalah mondar-mandir kayak setrikaan, dan sesekali duduk termenung.

“ Lagi mikirin apa, Ya ? “ tanyaku, sambil duduk didekatnya. Arya tengah duduk berselonjor di tanah, sambil bermain-main dengan gumpalan-gumpalan tanah galian.

“ Tidak lagi mikirin apa-apa, kok, “ ujarnya pelan, dia lalu melemparkan sebongkah tanah kedalam semak-semak dihadapannya. Kentara sekali dia sedang gelisah.

“ Lagi mikirin Annamaya, ya ? “ aku tahu, pasti gadis itu yang sedang memenuhi kepala adikku yang tak banyak isinya itu. Herannya, dia menggeleng.

“ Aku memang lagi mikirin dia, tapi bukan dia yang paling aku pikirkan saat ini, tapi Om Hans, entah kenapa aku terus berpikir tentang dia ! “ kata-kata Arya mengejutkan aku.

Kupalingkan pandanganku kearah tempat penggalian, nampak disana semua orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Nampak Papa tengah memberikan perintah-perintah pada para penggali, sambil sesekali masuk keluar dalam tenda stock yang berfungsi sekligus sebagai tenda penelitian mereka, sedangkan Om Hans dan yang lainnya, sedang sibuk meneliti pecahan-pecahan kecil yang mereka dapatkan dari hasil penggalian, sambil mencocokkan dengan dokumen-dokumen yang dipegang mereka. Semuanya kelihatan normal dan berjalan seperti seharusnya.

“ Memangnya kenapa dengan Om Hans ? “

“ Entahlah... “ Arya kelihatan risau.

“ Aku tidak yakin, keputusan kakak untuk memberitahukan tentang Kota yang Hilang pada Om Hans adalah keputusan yang tepat. “ Lanjut Arya.

“ Aku sendiri percaya sama Om Hans, aku tahu dia baik dan akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi Kota yang Hilang, “ ujarku yakin.

Aku memang yakin kalau Om Hans tidak akan berbuat macam-macam. Dia itu adalah seorang arkeolog sejati, yang tidak perduli dengan berapa banyak emas yang dilihatnya. Dia lebih mementingkan aspek sejarah dari sebuah penemuan. Aku tahu itu, sebab sepanjang sejarah penelitian arkeologi Papa bersama dengan Om Hans, sudah banyak sekali mereka menemukan barang-barang kuno yang terbuat dari emas, seperti waktu menggali di Mesir, kelompok Papa dan Om Hans menemukan sebuah kubur putri Firaun yang penuh dengan harta peninggalannya yang terbuat dari emas dan permata. Tapi mereka sedikitpun tak pernah tertarik untuk mengambil bagi diri mereka sendiri, malah langsung diteliti dan setelah itu ditaruh di Museum di Kairo.

“ Aku tak tahu, aku hanya...entahlah... “ Arya tak menyelesaikan kalimatnya, dia langsung berdiri, dan berjalan meninggalkan aku kembali ke tenda kami berdua, lalu mengunci diri didalam sana. Sejak perkenalannya dengan Annamaya, anak itu benar-benar jadi aneh.

Akhirnya, hari yang kami tunggu-tunggu datang juga. Di perkemahan, aku, Mama dan Om Hans, tak pernah sedikitpun membicarakan tentang kunjungan kami ke Kota yang Hilang. Kami takut, ada yang secara tidak sengaja mendengar pembicaraan itu, dan mengakibatkan kota Intipalla dan Annamaya berada dalam bahaya.

Aku sendiri secara pribadi selalu mengawasi Om Erold dan gerombolannya, tetapi akhir-akhir ini mereka sepertinya sibuk dengan urusan penggalian. Mereka bahkan tak pernah meninggalkan perkemahan dalam jangka waktu yang lama, atau berada di luar jangkauan penglihatanku. Mereka selalu bekerja hingga malam dengan Papa, dan bangun pagi-pagi sekali untuk sarapan, setelah itu langsung berkutat dengan pekerjaan mereka.

Aku pernah bertanya pada Papa, memangnya mereka tidak capek bekerja terus-menerus seperti itu, tapi Papa bilang, mereka sudah sangat dekat dengan sebuah penemuan besar, karena itu mereka harus bekerja keras dan tidak boleh membuang-buang waktu.

Aku baru saja selesai membersihkan diri, saat Om Hans muncul ditenda aku dan Arya.

“ Aning, Om Hans boleh bicara denganmu sekarang ?! “ raut wajahnya kelihatan cemas bercampur takut. Aku jadi ikut-ikutan cemas.

“ Kita bicara dimana, Om ? “

“ Di depan tenda ini saja, disini jauh dari semua. “ Om Hans memang benar. Tenda aku dan Arya, agak terkucil dari semua tenda-tenda yang lain. Semua itu memang sengaja diatur, mengingat kalau terlalu dekat dengan tenda-tenda lain, akan terlalu dekat di lokasi penggalian yang sudah pasti terlalu ribut dan bikin orang susah untuk beristirahat.

“ Ada apa, Om ? kelihatannya serius sekali. “ tanyaku

“ Aning, tadi Om Hans hendak hendak membawa contoh profil kedalam tenda stock, dan tak sengaja Om mendengar Erold tengah berbicara dengan Dave, tentang sebuah pintu rahasia yang katanya sudah mereka temukan, dan akan mereka ledakkan, karena tidak tahu bagaimana cara untuk membukanya. Om khawatir, pintu yang mereka maksudkan itu adalah pintu dilorong rahasia tempat kita masuk dulu ! “ cerita Om Hans. Darahku seperti berhenti mengalir. Kalau mereka benar telah menemukan pintu batu itu, berarti kota Intipalla sekarang ini berada dalam bahaya.

“ Tapi bagaimana mungkin mereka bisa menemukan pintu itu ? “ seharusnya kemarin-kemarin itu kami lebih berhati-hati.

“ Mereka rupanya sudah melakukan pencarian sejak lama, dari yang Om dengar pada percakapan mereka, rupanya mereka sudah pernah sampai ditempat itu, tetapi tidak menemukan apa-apa ! “ kata-kata Om Hans membuatku ingat, saat aku bertemu dengan Om Erold dan gerombolannya ditepi jurang.

“ Kalau begitu, kita harus segera kembali ke Kota yang Hilang, untuk memperingatkan Intipalla dan juga Sapa Inca. Kita akan kembali kesana sekarang ! “ putusku. Om Hans kelihatan kurang setuju.

“ Aning, apa keputusan untuk kembali kedalam Kota yang Hilang tidak terlalu buru-buru ? Om takut, mereka mengawasi kita dan kemudian akan mengikuti kita masuk kedalam. “

“ Karena itulah, kita akan pergi, saat semua orang tengah sibuk makan siang, dan kita akan menghilang tanpa mereka perhatikan. Aku akan bilang sama Arya dan Mama, sementara Om Hans harus mengawasi Om Erold dan gerombolannya, gimana ? “ Om Hans tersenyum padaku.

“ Aning, kamu pasti akan jadi arkeolog yang hebat suatu saat nanti, rasa perdulimu sangat besar, dan kamu tak memikirkan hal-hal lain selain itu ! “ ujar Om Hans. Aku jadi malu mendengarnya.

Aku segera memberitahu Mama dan Arya, yang langsung naik pitam mendengar itu. Dia hampir saja pergi untuk menonjok Om Erold, kalau aku dan Mama tidak menghalanginya.

Saat semua tengah sibuk makan siang, diam-diam kami menghilang satu persatu. Pertama aku yang lebih dulu menyelinap pergi, setelah itu Mama, Om Hans, dan terakhir Arya.

Setengah berlari kami menuju tepi jurang, dan tanpa membuang banyak waktu, kami berempat langsung masuk kedalam lorong.

Perjalanan masuk kembali dalam Kota yang Hilang kali ini sangat tergesa-gesa. Tidak seperti sebelumnya, tidak ada lagi acara mengagumi relief disepanjang dinding lorong. Mama sampai berteriak meminta agar kami memperlambat larinya, karena dia sudah ketinggalan jauh dibelakang kami bertiga.

“ Makanya, Mama diet dikit, biar nggak gendut dan bisa lari lebih cepat ! “ ujar Arya ketus. Kalau dia bicara seperti itu pada Mama dalam keadaan normal, pasti dia sudah dijewer sampai kupingnya copot.

Saat hampir mendekati ujung lorong, tiba-tiba perasaanku jadi tak enak. Aku seperti mendengar sesuatu.

“ Mungkin pantulan suara kita, Kak ! “ kata Arya saat aku mengungkapkan kekhawatiranku.

Kami lalu meneruskan perjalanan, tetapi, begitu sampai diujung lorong, tiba-tiba ada yang menerjangku dari belakang hingga terjerembab ketanah. Mulanya kupikir mereka adalah pengawal istana Sapa Inca. Tapi dugaanku salah besar. Mereka adalah orang-orang yang merupakan penggali sewaan yang membantu para arkeolog melakukan penggalian. Satu yang paling membuatku terkejut adalah, ada Om Franz disitu bersama mereka. Pasti mereka sudah berkomplot dengan Om Erold, pikirku. Tapi aku tak melihat Om Erold disana. Mungkin dia bersembunyi disuatu tempat, agar bila keadaan berbalik buruk pada grup mereka, dia bisa selamat. Para kepala penjahat yang kulihat di film-film gangster, kan, selalu seperti itu.

“ Ikat mereka, dan sumpal mulutnya !! “ terdengar suara Om Franz memberi perintah. Sebelum sempat ku protes, salah satu anak buahnya sudah mengikat tanganku dibelakang.

“ Franz, mengapa kau lakukan ini semua ? “ tanya Om Hans. Dia kelihatan marah sekali.

“ Emas yang jumlahnya sangat banyak, Hans, itu yang membuatku melakukannya ! “ jawab Om Franz santai, membuatku rasanya ingin merobek mulut besarnya itu.

“ Mana Erold ? pasti dia yang memerintahkan semua kebiadaban ini, iya kan ? “ cecar Om Hans. Nampak seulas senyum tersungging dibibir Om Franz, sungguh sangat menghina !

Selesai mengikat kami berempat, dan menyumpal mulut kami dengan kain, mereka lalu keluar dari lorong tanpa banyak kesulitan, meninggalkan kami didalamnya.

Aku berusaha keras untuk membebaskan diri dari ikatan, tapi mereka mengikatku terlalu erat. Sampai keringatku keluar, aku tak kunjung bisa membebaskan diriku. Padahal, segala cara untuk membebaskan diri dari ikatan seperti yang kulihat di filem sudah kulakukan, termasuk menggosok-gosokkan tanganku di bebatuan, yang ada malahku tanganku terasa perih, luka akibat tergores batu. Aku hampir putus asa ketika kudengar suara Arya berseru girang.

“ Akhirnya terbuka juga, ternyata jitu juga cara itu !! “ dia berhasil membebaskan dirinya dari ikatan bangsat-bangsat yang dipimpin Om Franz itu.

“ Bagaimana caramu melakukannya, Ya ? “ tanyaku heran. Sebab tak biasanya anak itu jadi pintar seperti ini.

“ Tadi waktu diikat, aku meletakkan tanganku sejajar, kan kalau tanganku kuputar dengan posisi berhadapan, ikatannya jadi longgar, iya kan ? “ benar juga kata anak itu.

“ Aku belajar dari sulap di televisi, “ jelasnya. Pantasan, kalau dia belajar dari buku, itu baru aneh. Sebab Arya dengan buku, seperti air dan minyak, tak bisa disatukan.

“ Ya....bebasin Mama dong... “ keluh Mama, semenjak tadi suaranya tidak terdengar, mungkin karena dia tengah ketakutan setengah mati.

Setelah membebaskan semua orang, kami langsung keluar dari dalam lorong. Rencananya, kita akan langsung ke rumah Annamaya, sebab hanya disitu kami bisa masuk dengan leluasa, lalu mencari Intipalla sesudah bertemu dengan gadis itu, untuk menjelaskan situasinya.

“ Kita akan berpencar, aku dan Arya, sedangkan Om Hans dengan Mama akan berjalan bersama ! “ perintahku seperti seorang pemimpin pasukan.

“ Kenapa harus seperti itu, Ning ? “ tanya Om Hans heran.

“ Kalau salah satu dari kita tertangkap, masih ada yang lain yang bisa pergi mencari Intipalla ke dalam Kota yang Hilang ! “ tuturku. Mereka mengangguk-angguk setuju, hanya Mama yang kelihatannya agak ragu-ragu.

“ Kamu yakin tidak akan ada apa-apa, Ning ? Mama cemas sekali, apa kita sebaiknya tetap bersama-sama saja... “ tawar Mama.

Aku menggelengkan kepalaku. Tetap bersama-sama itu artinya bila satu tertangkap, semua akan ikut ditawan. Lalu siapa yang akan pergi untuk memberitahukan pada Intipalla dan Annamaya tentang bahaya yang mengancam kota mereka ?

Segera setelah kami berpencar, aku langsung mengajak Arya untuk pergi ke rumah Annamaya, sambil berharap, mudah-mudahan saja gadis itu ada disana, agar kami bisa masuk kedalam Piramida tanpa dihalangi oleh para pengawal istana yang seram-seram itu.

Suasana dihalaman rumah Annamaya nampak sunyi-senyap. Mereka mungkin sedang beristirahatt siang didalam. Jadi kuputuskan untuk mengetuk pintu rumah besar itu.

“ Selamat siang, Aning “ begitu pintu dibuka, nampak sosok besar Om Franz berdiri diambang pintu berukir bunga mawar itu. Seketika aku tersadar, bahwa kini Annamaya dan Ibunya sudah menjadi tawanan jahanam-jahanam itu. Cepat sekali dia sudah berada disana.

“ Selamat datang, silahkan masuk. “ Ia menepi, sambil tersenyum mengejek.

Di dalam ruang tamu, nampak Annamaya dan Ibunya sudah diikat dikursi oleh anak buah koki gadungan itu.

Seperti dikomando, aku dan Arya langsung menghambur berlari kebawah, mencoba untuk menyelamatkan diri, agar tak jadi tawanan untuk kedua kalinya.

“ Cepat kejar mereka, jangan sampai lolos !! “ teriak Om Franz.

Saat aku menoleh sejenak kebelakang, nampak dua orang penggali sedang mengejar aku dan adikku. Gerakan mereka emang cepat, tapi aku dan Arya masih muda. Aku sendiri selalu menang setiap kali mengikuti lomba lari jarak pendek disekolah, dan Arya, dia itu hobi bermain sepakbola, dan sebagian besar waktu luangnya hanya dia habiskan untuk menekuni hobi-nya yang itu. Jadi, kalau soal berlari, kami memang lumayan. Benar saja, saat kami mendekati perkampungan yang padat, kedua penggali berbadan gempal itu berhenti, terengah-engah seperti orang yang hampir kehabisan nafas.

“ Rasain kalian !! makanya diet dulu sebelum mengejar kami, perut buncit gitu, mana bisa lari cepat !! “ ejek Arya sambil meleletkan lidahnya.

“ Sudah....ayo kita ke kuil sekarang, kita akan coba masuk meskipun tanpa Annamaya, “ dalam hati aku menyesali, hanya orang-orang tertentu disini yang bisa berbicara dengan bahasa Spanyol. Coba kalau semua penduduk bisa, aku kan sudah bisa bilang sama mereka, tentang bahaya yang akan mereka hadapi sebentar lagi.

Para penduduk banyak yang sudah mengenal kami. Disepanjang jalan menuju kuil, tak sedikit yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Kasihan, mereka tidak tahu bahwa kota mereka sedang terancam bahaya, oleh orang-orang rakus yang datang untuk merampas emas-emas yang banyak itu.

“ Wah, wah, wah.....ada dua gembel yang masuk lagi ke kotaku ! “ God ! aku tak ingin bertemu dengan dia saat ini. Rapalla keluar dari pintu kuil, tepat ketika aku dan Arya hendak masuk.

“ Mau apa kalian datang lagi kesini ? apa bros emas dari Ibu tiriku belum cukup ? “ rupanya dia tahu tentang bros pemberian Ratu itu.

“ Maafkan kami masuk lagi tanpa ijin ke kotamu, tapi kali ini kami hendak memberitahu, bahwa para penjahat yang sudah pernah kuperingatkan sebelumnya, sudah masuk ke kota ini. Aku dan adikku sempat ditawan mereka, tapi kami berhasil melarikan diri ! “ kuputuskan untuk tidak menghiraukan hinaan pemuda itu.

Sejenak Rapalla seperti terkejut. Mula-mula dia memandangku dan Arya tidak percaya, tetapi melihat kesungguhan dan mungkin juga rasa putus asa yang nampak di wajah kami berdua, tiba-tiba pemuda itu sikapnya melunak.

“ Jelaskan apa yang terjadi ! “ perintahnya. Aku lalu bercerita tentang semuanya, termasuk Annamaya yang kini ditawan dirumah mereka bersama dengan Ibunya.

“ Kalau begitu, kita harus masuk untuk memberitahukan ayahku ! “ ajak Rapalla. Kami bertiga bergegas masuk kedalam kuil untuk menuju Piramida.

Sapa Inca sedang berada diruang istirahatnya, saat kami tiba disana. Tanpa banyak basa-basi, Rapalla segera membawa kami berdua menghadap Ayahnya, yang tengah berbincang-bincang dengan Intipalla di ruangan itu, juga bersama Ratu.

“ Aning, aku senang sekali melihatmu lagi, apa kabar ? “ Intipalla menyongsong kami begitu dia melihat aku dan Arya serta Rapalla masuk.

“ Maafkan kami mengganggu anda, tetapi kami ingin menyampaikan sesuatu... “ aku membungkuk menghormat, Arya juga. Rapalla rupanya tak sabar, dia mengambil alih pembicaraan.

Dengan cepat dia menceritakan pada Ayahnya tentang para penjahat-penjahat yang menawan Annamaya dan Ibunya, juga semua yang sudah kuceritakan pada Rapalla. Intipalla bahkan sampai melonjak dari tempat duduknya, mendengar bahwa sepupunya ditawan.

Sapa Inca langsung tanggap, segera dia memanggil para pengawal istana, juga pemimpin pengawal yang berbicara dengan bahasa Spanyol padaku saat aku ditawan mereka. Suasana langsung berubah. Tadinya sunyi senyap, kini mulai riuh.

“ apa yang terjadi, Rapalla ? “ tanyaku bingung

“ Ayahku memerintahkan agar sebagian pengawal keluar dari Piramida, untuk mencari tahu apa yang terjadi diluar sana, sekaligus memerintahkan mereka semua agar bersiap untuk berperang. “ pemuda itu kelihatan risau.

“ Bagaimana dengan Annamaya dan Ibunya ? “ tanya Arya, dia juga kelihatan tak kalah risau dengan Rapalla.

“ Kita akan berusaha untuk membebaskan mereka. Aning, kamu harus tinggal disini, jangan keluar sampai kami menjemputmu ! “ Intipalla sudah berada disampingku. Dia mengerti ucapan Arya.

“ Tidak, aku tidak akan pernah tinggal disini, sementara kalian mempertaruhkan hidup diluar sana, aku akan ikut, dan tak seorangpun bisa melarangku. Ingat, aku bukan bangsa kalian, jadi kamu meskipun sebagai seorang anak Sapa Inca, kau tak berhak untuk memerintahku ! “ ucapku lugas.

Intipalla sejenak kelihatan ingin protes, tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya setuju meskipun terlihat benar berat baginya. Setelah pamit pada Ratu, kami berempat langsung keluar dari Piramida.

Apa yang menyambut kami diluar, ternyata jauh dari perkiraanku sebelumnya. Entah darimana datangnya, ada begitu banyak orang-orang asing, yang rupanya anak buah Om Franz. Sepertinya mereka adalah tentara, karena mereka mengenakan seragam tentara, lengkap dengan atributnya, dan juga membawa senjata api.

Jantungku berdebar keras, mereka seperti datang untuk berperang, dan aku yang membawa mereka kesini, seharusnya aku tak pernah kembali lagi ke tempat ini.

“ Kita akan memutari kota untuk pergi kerumah Annamaya, “ Rapalla memberi petunjuk, dan kakaknya kelihatan setuju. Sikap bermusuhan antara keduanya seperti yang kulihat saat pertama kali bertemu dengan Rapalla hilang tak berbekas.

Suasana kota sangat kacau. Para tentara-tentara itu banyak berkeliaran, tetapi anehnya, tidak terlihat satupun penduduk diluar rumah mereka.

“ Setiap rumah disini, memiliki terowongan dibawahnya, yang menuju ke bagian dalam kuil. Terowongan itu hanya bisa digunakan pada saat-saat seperti ini. Perkiraanku, para penduduk sekarang sudah menuju kedalam kuil, untuk masuk ke Piramida. “ Intipalla menjawab begitu kuungkapkan keherananku.

Perjalanan memutari kota seperti yang dikatakan oleh Rapalla, ternyata adalah perjalanan masuk keluar parit-parit yang mengelilingi kota, yang sepertinya juga merupakan drainase buatan, tempat mengalir seluruh limbah buangan kota, kecuali limbah toilet.

“ Aduh ! aku malu ketemu Annamaya dalam keadaan busuk begini, “ keluh Arya.

Aku tersenyum geli. Adikku itu seperti memang benar-benar menyukai gadis bermata hitam pekat yang kini adalah calon istri Intipalla. Perjalanan terhenti tepat dibelakang sebuah tembok batu tinggi, yang memiliki pintu kecil. Saat kutanya kenapa ada pintu disitu, kata Rapalla, itu adalah pintu yang digunakan untuk keluar jika harus membersihkan parit pembuangan itu. Katanya, semua rumah disana memiliki pintu-pintu seperti itu, jika rumahnya berdempetan dengan dinding yang membatasi kota dan parit.

Kelihatannya, pintu itu seperti tidak pernah digunakan, sebab hampir setengah jam Arya, Intipalla dan Rapalla mencoba untuk mendorongnya, tak juga berhasil. Kuamati pintu itu, kelihatannya biasa-biasa saja. Aha ! aku tahu ada yang salah.

“ Sini, kalian bertiga minggir, aku yang akan membuka pintu itu ! “ ketiga pemuda itu menatapku heran.

“ Kak, kami bertiga saja tak bisa mendorong pintu itu agar terbuka, dan Kak Aning dengan modal percaya diri bisa membukanya ? “ Arya mulai mengejekku.

“ Itu karena kalian bego, terutama kamu, Ya. Pintu ini jangan didorong, tapi ditarik. “ Kutarik gagang pintu yang berbentuk mawar emas itu, dan benar saja, pintu mulai membuka. Tiba-tiba saja, Rapalla dan Intipalla tertawa terpingkal-pingkal bersamaan.

“ Pintu sialan ! “ maki Rapalla sambil tertawa.

“ Tentu saja kita takkan berhasil membuka pintu ini, karena seharusnya pintu ditarik, bukan didorong seperti tadi, untung ada Aning.. “ Timpal Intipalla, disambut derai tawa kami semua.

Kami lalu masuk kedalam. Pintu itu rupanya terletak diruangan bawah tanah, yang sepertinya adalah tempat penyimpanan barang-barang. Ada banyak kursi-kursi dan meja seperti yang kulihat diruangan Intipalla.

“ Ini adalah ruangan bawah tanah rumah Annamaya. “ tutur Intipalla.

Rupanya Ibu Annamaya menyingkirkan kursi dan meja khas suku mereka untuk menaruh sofa dan meja modern yang kulihat saat berkunjung kerumah mereka. Aku jadi mengerti, kenapa mereka mengajak kami berjalan mengikuti parit yang busuk itu, karena ada jalan untuk masuk kerumah Annamaya dari situ.

Saat tengah naik, terdengar suara bentakan-bentakan orang diatas sana. Rupanya bajingan-bajingan itu masih berada dirumah Annamaya. Rapalla dan Intipalla sejenak berhenti, lalu mereka berdua memejamkan mata. Kupikir mereka tengah berdoa untuk keselamatan kami, tapi saat mereka berdua membuka mata, keduanya tersenyum.

“ Annamaya tahu, kita sekarang berada disini. Sekarang kita bisa berkomunikasi dengan dia lewat pikiranku dan Rapalla. “ Oh..ternyata mereka bicara lewat telepati. Segera kuberitahukan pada Arya tentang itu.

“ Apa kata Annamaya ? “ tanyaku

“ Dia bilang, ada banyak sekali orang yang masuk kedalam Kota yang Hilang, mungkin sekitar 100 orang atau bisa saja lebih. Dia takut sekali, karena mereka sudah membunuh semua pengawal dan juga pembantu-pembantu yang ada dirumahnya, “ cerita Intipalla cemas. Rapalla terlihat sangat marah, kedua alisnya bertaut menjadi satu, dan kelihatan semakin mirip dengan kakaknya.

“ Aku akan membunuh mereka, berani benar mereka masuk dan merusak kotaku ! “ geram pemuda itu.

“ Sstt...Annamaya mencoba untuk mengatakan sesuatu, aku harus konsentrasi karena ada banyak orang disana. “ Intipalla menutup matanya lagi, diikuti oleh Rapalla.

“ Ada sekitar 10 orang yang berjaga disana, tapi yang bernama Franz sudah pergi kebukit, katanya untuk menjemput temannya disana, dan astaga....Aning...kelihatannya Ibu kalian juga ikut ditawan mereka. “ Intipalla terlihat sangat tegang. Mendengar Mama ikut ditawan, aku jadi cemas sekali.

“ Ya Tuhan, aku hampir lupa dengan Mama dan Om Hans, kasihan mereka berdua, “ airmataku meleleh di pipi.

“ Aku bahkan sama sekali tak memikirkan mereka berdua. “

“ Ada apa, Kak ? “ Arya heran melihatku menangis. Aku segera mengatakan pada Arya, kalau Mama ditawan para penjahat. Wajah Arya berubah-ubah, antara marah dan takut.

“ Akan kubunuh si Franz ! “ geram Arya. “ Jika dia melukai Mama, aku takkan pernah memafkannya ! “ kelihatan benar bahwa dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu.

“ Bagaimana cara kita untuk menyelamatkan Annamaya dan yang lain, Inti ? “ aku mengharapkan sebuah jalan keluar dari pemuda itu.

“ Kita harus terus berkomunikasi dengan Annamaya, sebab hanya dia yang bisa menggambarkan keadaan disana, dan bisa membuat kita menyelamatkan mereka tanpa bertemu dengan para penjahat yang menawan mereka ! “. Intipalla mengernyitkan dahinya.

“ Ya Tuhan, ada yang berkhianat, kata Annamaya, ada salah seorang dari kami yang berkhianat, dia bekerja sama dengan para penjahat.... “ tutur Intipalla, wajahnya sepucat kertas.

“ Orang itu adalah salah seorang keluarga kerajaan, tapi Annamaya masih belum tahu identitasnya. “ tambah Rapalla. Mereka berdua yang berkomunikasi dengan Annamaya lewat telepati. Dalam hati aku menebak-nebak, siapa yang bisa berkhianat seperti itu ? Mengorbankan para penduduk untuk berkomplot dengan para penjahat.

“ Para wanita di Acllahuasi juga, mereka ikut ditawan, termasuk Ibuku... “ Rappalla seperti ingin menerjang pintu dihadapannya. Kasihan pemuda itu. Meskipun dulu dia selalu sinis pada kami, tapi sekarang dia jadi baik, mungkin karena keadaan, atau memang sebenarnya dia adalah orang baik.

Kami berempat terdiam, ada langkah-langkah kaki yang sepertinya mendekat. Kulihat Intipalla dan Rapalla menggenggam erat benda tajam yang berbentuk agak mirip sabit, tapi lebih lebar, yang tergantung di pinggang mereka. Aku tiba-tiba teringat sesuatu.

“ Inti, waktu pertama kali kita bertemu, bukankah kau membuat pacul di penggalian melayang, itu artinya, para Panaca bisa sihir, kan ? Kenapa kalian tak memukul mereka dengan sihir ? “ bisa kubayangkan betapa terkejutnya para penjahat itu, bila suku Inca beraksi dengan sihir mereka.

Aku berharap, bukan pacul yang akan dibikin melayang oleh Intipalla, tapi sebuah batu besar yang dijatuhkan diatas kepala Om Franz sialan itu. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

THE LOST CITY-Golden Mountain (Cerita Bersambung) Part 9

26 Juli 2011
Posted by nsikome
Udah Rabu ya? kelupaan lagi..untung ada yg ngamuk-ngamuk ingetin aku untuk posting lanjutan The Lost City episode ke 9. Memang lupa sih, soalnya agak kurang sehat, dan Manado baru saja kena bencana gunung api yg meletus, Gunung Soputan sama Gunung Lokon, banyak debu-nya, makanya aku jadi agak sakit...tapi, nggak apa-apa kok, gunungnya udah rada kalem beberapa hari terakhir, tinggal akunya yg masih kurang sehat. Udah dulu basa-basinya ya? enjoy aja, part 9 The Lost City!!..



THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 8


“ Kita akan mencari Intipalla kemana, Kak ? “ Arya meminta pendapatku. Benar juga, kemana harus mencari Intipalla, ya ?. Jika aku dan Arya langsung masuk kedalam Piramida, belum tentu kami akan diijinkan masuk oleh para pengawal istana tanpa Intipalla. Aku punya ide bagus, dan kuyakin ide juga pasti akan disukai Arya.

“ Kita kerumah Annamaya saja, gimana ? “ tanyaku. Arya langsung senyum-senyum girang.

“ Kakak memang paling pintar, deh, Arya setuju ! “ anak itu memang paling bisa.

“ Emang Kak Aning tahu rumahnya Annamaya ? “ Arya memang tak ada saat Intipalla mengajakku berkunjung kerumah gadis itu. Aku mengangguk mengiyakan.

Tak terasa, kami berdua sudah memasuki perkampungan. Orang-orang yang melihat kami, mulai berbisik-bisik riuh rendah, tapi tak kuperdulikan. Intipalla sendiri yang bilang, bahwa kami bisa kembali lagi kesini, asal berhati-hati, jadi aku merasa aman.

Saat hendak naik menuju jalan kerumah Annamaya, aku bertemu dengan seseorang yang sangat tidak ingin aku temui, Rapalla.

“ Wah...ini baru namanya kejutan...sekarang kalian sudah menganggap kota kami seperti milik kalian, ya ? “ ujar pemuda itu dengan suara mengejek. Untung saja Arya tidak mengerti bahasa Spanyol sedikitpun.

“ Siapa itu, Kak ? dia kelihatan mirip dengan Intipalla.. “ Arya juga tidak mengenal Rapalla.

“ Dia itu adik lain ibu Intipalla, “ jelasku. Arya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“ Mau apa kembali kesini kalian ? mau merampok emas-emas kami, karena tidak sempat melakukannya terakhir kali ?! “ pemuda itu semakin menyebalkan saja kelakuannya.

“ Aku hanya ingin bertemu dengan sahabat-sahabatku, mohon jangan menghalangi niat baik kami berdua. “ Aku berusaha untuk bersopan santun dengan Rapalla, bagaimanapun juga, dia tetap anak Sapa Inca, orang yang paling berkuasa ditempat ini. Aku tak ingin mencari masalah dengannya.

“ Kalau aku ingin menghalangi, kalian mau apa ? “ tanya Rapalla angkuh. Sementara pemuda-pemuda yang mungkin adalah teman-temannya tertawa riuh rendah.

“ Kau akan berhadapan denganku, Rapalla !! “ terdengar suara membentak, dan entah darimana munculnya, Intipalla sudah berada disitu.

Aku bersyukur dalam hati. Rapalla terlihat kesal dengan kehadiran kakak lain ibunya itu. Dia lalu mengucapkan kata-kata dalam bahasa mereka, dan melenggang pergi diikuti oleh pemuda-pemuda lain di belakangnya.

“ Aning, senang sekali bisa melihatmu disini... “ Intipalla langsung merengkuh aku kedalam pelukannya, membuatku jengah, tapi entah mengapa pada saat yang sama membuat aku merasa sangat senang dan nyaman.

“ Apa kabarmu, Arya ? “ pemuda itu lalu melepaskan aku, dan menyalami Arya, dia kelihatan sangat senang melihat kami kembali. Aku menerjemahkan pertanyaan Intipalla pada adikku.

“ Baik-baik saja, meskipun sempat kehilangan ingatan selama beberapa hari, tapi aku baik-baik saja sekarang.. “ Intipalla tertawa mendengar ucapan Arya yang kuterjemahkan padanya.

“ Aku minta maaf, tapi kami terpaksa melakukannya... “ ujar Intipalla tulus.

“ Inti, ada yang hendak aku katakan padamu, “ aku hendak bilang bahwa Mama dan Om Hans ikut bersama kami.

“ Aku tahu, ada orang lain yang bersama dengan kalian kesini, kan ? “ aku lupa bahwa dia bisa membaca pikiran.

“ Maafkan aku, tapi orang itu adalah Ibuku dan Om Hans, orangnya baik sekali, dan aku juga memintanya untuk membantu kita menyembunyikan kota kalian dari orang jahat bernama Om Erold itu ! “ ceritaku. Intipalla menganggukkan kepala.

“ Lalu kapan kita akan bertemu dengan Annamaya ? “ tanya Arya penasaran. Rupanya anak itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis pujaannya.

“ Aku mendengar ribut-ribut dibawah, aku lalu turun, ternyata kalian. Aning, senang sekali bisa melihatmu lagi.... “ Annamaya nampak turun dari rumahnya. Saat melihat Annamaya, seketika pipi adikku menjadi merah padam.

Caileee....ada yang bunyi jantungnya kedengaran sampai sini... “ ujarku menggoda. Kalau biasanya dia balas menggodaku, kali ini dia hanya tersipu malu.

“ Anna, aku senang bisa bertemu kamu lagi, kamu cantik sekali hari ini, “ ucap Arya pelan, saat Annamaya mendekatinya. Arya lalu memeluk gadis bermata hitam itu, tak memperdulikan ledekanku. Annamaya menatapku, meminta terjemahan ucapan Arya.

“ Katanya, dia senang bertemu kamu, dan kamu cantik sekali hari ini.. “ kuterjemahkan ucapan Arya, membuat pipi Annamaya bersemu merah.

“ Kalau begitu, kita akan menjemput ibu kalian dibukit sebelum ada pengawal yang meronda dan menemukan mereka disana. “ Intipalla mengingatkan aku yang sejenak lupa pada Mama dan Om Hans.

Kami lalu kembali kearah bukit, menuju tempat Mama dan Om Hans bersembunyi menunggu kami kembali.

“ Aning....Mama cemas sekali, tadi ada yang kesini, tapi Mama dan Om Hans bersembunyi ! “ tergopoh-gopoh Mama keluar dari persembunyiannya, diikuti oleh Om Hans.

“ Inti, kenalkan, ini Ibuku, dan yang ini Om Hans, yang aku ceritakan padamu, “ Mama terlihat antusias sekali. Cepat-cepat dia menyalami Intipalla, yang tidak mengangsurkan tangannya.

“ Ma, mereka hanya mengangguk hormat, tidak salaman tangan seperti kita ! “ ujarku memberitahu Mama.

“ Oh... maaf, Mama tidak tahu. Halo...kamu pasti yang namanya Intipalla, “ sapa Mama sok akrab. Aku dan Arya berpandangan kaget. Mama bisa bicara dengan bahasa Spanyol, sesuatu yang tidak kami ketahui sampai detik ini.

“ Benar, nama saya Intipalla, senang sekali bisa bertemu dengan anda, “ jawab Intipalla sopan.

“ Wah....Aning sering cerita tentang kamu sama Ibu, “ Mama ini ada-ada saja, perasaan, hanya sekali aku bercerita padanya tentang Intipalla, dan tidak sesering yang dia katakan.

Intipalla hanya tersenyum. Lalu, pemuda itu berbalik pada Om Hans, dan mengangguk hormat.

“ Nama saya Hans, “ ujar Om Hans memperkenalkan dirinya memakai bahasa Spanyol juga. Kalau dia sih, aku tak kaget. Memang para arkeolog banyak yang menguasai lebih dari satu bahasa. Intipalla mengangguk hormat, dan acara perkenalan dilanjutkan pada Annamaya.

“ Jadi gadis itu yang bikin Arya linglung ? “ bisik Mama padaku, aku hanya mengangguk mengiyakan, dibawah pelototan mata adikku.

“ Sekarang, setelah semuanya sudah terkumpul, mungkin kita lebih baik masuk kedalam kediamanku, rasanya kurang sopan menerima tamu ditempat seperti ini. “ Intipalla mengajak kami.

Aku menatap Mama dan Om Hans, mereka berdua hanya mengangkat bahu. Aku lalu mengangguk pada Intipalla, yang lalu berjalan mendahului kami didepan.

Disepanjang perjalanan, aku dan Arya hampir selalu harus membelalakkan mata pada Mama, karena dia selalu menjadi histeris. Akhirnya setelah Arya mengeluarkan ancaman mautnya, yaitu akan membawa Mama pulang ke perkemahan, setelah sebelumnya diasapi daun Coca kering yang membuat Mama kehilangan ingatan selama-lamanya, baru Mama diam tapi dengan wajah cemberut.

Om Hans sendiri, dia tak henti-hentinya mengagumi bangsa Intipalla, yang katanya sangat hebat bisa menyembunyikan keberadaan mereka pada dunia luar, selama ribuan tahun. Dia juga sangat menghormati niat baik mereka, yang memnyembunyikan emas-emas mereka itu karena tidak ingin menimbulkan peperangan.

“ Intipalla, apa kalian memiliki semacam dokumentasi tentang bangsa kalian ? “ tanya Om Hans. Para arkeolog memang hanya menginginkan hal-hal seperti itu. Mereka ingin sekali tahu sejarah suatu bangsa jaman kuno.

“ Kami memang memiliki semacam perpustakaan, tetapi selain Ayahku dan juru kunci, tak ada yang boleh masuk kedalamnya. Aku bisa masuk, tetapi setelah aku menjadi Sapa Inca menggantikan ayahku nanti ! “ Intipalla menjelaskan peraturan mereka.

“ Sayang sekali, karena saya sangat ingin tahu, tentang sejarah bangsa kalian, sebab dokumentasi tentang suku Inca khususnya tentang Kota yang Hilang dan penduduknya sangat sedikit kami temukan, “ Om Hans terlihat sangat menyesal tidak bisa melihat-lihat dokumen-dokumen itu, yang bagi para ahli sejarah dan arkeolog, adalah salah satu dari sekian hal terpenting dalam pekerjaan mereka.

Saat memasuki kuil, Mama terlihat tersiksa, tak bisa mengomentari keras-keras semua yang dia lihat disana. Sesekali dia hanya berbisik padaku, tentang dekorasi-dekorasi emas yang ada dalam kuil. Setelah memasuki Piramida, Om Hans sampai menitikkan airmatanya melihat keagungan Piramida didalam perut gunung emas itu.

“ Ya Tuhan, Aning.....ini sangat luar biasa... “ ujar Om Hans terbata-bata. Sedangkan Mama, saking gembiranya, wajah Mama sampai merah keunguan saat melihat Piramida yang berada dalam perut gunung emas itu, yang juga keseluruhannya terbuat dari emas murni.

“ Intipalla, sekarang saya baru benar-benar mengerti alasan kalian menyembunyikan kota ini dari dunia luar, seluruh emas ini bisa memicu perang dunia ketiga ! “ ujar Om Hans lirih.

“ Kalau Mama bawa pulang sekilo emas dari sini, mereka pasti tak akan keberatan ya, Ning ? “ pandangan Mama menerawang, sekilas membuatku ingat pada penghuni rumah sakit jiwa, agak kosong-kosong gitu, deh !.

“ Ma...berapa kali Aning harus memperingatkan sama Mama, bahwa jangan berbuat aneh-aneh disini. Mereka tidak kenal hukum seperti kita, Ma. Gimana kalau mereka marah dan memutuskan untuk menyandera kita seperti yang mereka lakukan pada Aning terakhir kali ? “ entah apa lagi yang harus aku katakan agar bisa merasionalkan pikiran Mama ku itu.

Mama langsung menutup mulutnya dengan tangan, dan membuat gerakan seperti mengunci ritsluiting.

“ Mama juga tidak boleh berpikiran jahat, sebab mereka bisa membaca pikiran kita, khususnya Intipalla, dia bisa tahu kalau ada orang yang mau berniat jahat ! “ tambahku.

“ Memangnya benar yang kamu bilang tentang pembaca pikiran itu, Ning ? “ tanya Om Hans heran. Aku mengangguk mengiyakan. Aku baru saja berbalik untuk meminta penegasan tentang ceritaku itu pada Arya, tapi begitu melihat dia dan Annamaya yang tengah bergandengan tangan dan saling menatap seperti sepasang patung cupidon yang dihadiahkan Indra, cowok satu sekolah yang naksir aku, pada hari Valentine kemarin padaku, aku langsung mengurungkan niatku itu.

Seperti saat aku dan Arya pertama kali kesini, Intipalla mengajak Mama dan Om Hans untuk mengelilingi Piramida, dan juga masuk kedalam bagian-bagian Piramida yang diijinkan seperti ruangan anak-anak, dan juga kediaman Intipalla. Setiba kami disana, para pelayan pribadi Intipalla sudah menyiapkan meja besar di ruang makan Intipalla dengan berbagai macam hidangan, yang kali ini merupakan sebuah kejutan besar untukku.

Semua hidangan yang berada diatas meja itu adalah masakan dari berbagai belahan dunia. Ada kue lumpia lengkap dengan saos merahnya, berpiring-piring besar pizza dengan berbagai macam rasa, ada nasi putih yang baunya sangat harum, juga kalkun panggang yang kelihatan sangat lezat, dan juga bistik sapi. Tak ketinggalan, hidangan-hidangan penutup yang menggugah selera seperti kue puding moka, buah-buahan segar, dan kue-kue kering serta cake berbagai model dan warna.

“ Inti....darimana kamu mendapatkan semua ini ? “ tanyaku. Aku benar-benar terkejut dan tak menyangka akan mendapatkan semua makanan ini di meja makan Intipalla. Apalagi, jika aku mengingat terakhir kali aku makan disitu, aku hampir memuntahkan semua isi perutku, akibat masakan dari kecoak itu yang dicampur dengan semut dan tak ketinggalan perkedel ulat bulu yang sangat disukai Arya itu.

“ Aku sengaja menyuruh tukang masak untuk mempersiapkannya, “ jawab Intipalla bangga.

“ Tapi....bagaimana cara dia menyiapkan semua ini ? bukankah ini semua adalah makanan-makanan yang berasal dari dunia luar ? “ kali ini aku benar-benar tak mengerti sama sekali. Bagaimana mungkin dalam waktu yang sangat singkat, juru masak Intipalla bisa belajar cara membuat semua masakan ini, dan juga mendapatkan bahan-bahannya darimana ?.

“ Aku meminta tukang masakku untuk belajar dari Ibu Annamaya, dia pintar untuk membuat semua ini. Dia punya banyak buku-buku masak berbahasa Spanyol yang selalu dia minta dibawakan setiap kali para pengintai turun gunung, dan juga mereka selalu membawakannya bahan baku untuk membuat masakan seperti ini. “ Aku jadi mengerti sekarang.

“ Sayang, orang-orang disini lebih menyukai perkedel ulat bulu kami yang memang lezat itu ! “ tambah Intipalla, yang langsung membuat bulu kudukku seketika merinding.

“ Tapi saya ingin mencicipi masakan ulat bulu kalian yang terkenal itu, apa boleh Intipalla ? “ ucapan Om Hans benar-benar membuatku kaget. Bukan hanya aku saja yang kaget, tapi Intipalla pun terlihat surprise.

“ Kalau begitu, saya akan memerintahkan tukang masak untuk membuatkannya khusus buat anda ! “ tukas Intipalla sambil bertepuk tangan dua kali.

Seorang pelayan tergopoh-gopoh masuk, dan menghormat pada pemuda itu. Setelah berbicara dalam bahasa mereka pada si pelayan, yang sudah pasti tentang perkedel ulat bulu itu, pelayan itu segera masuk kembali dengan tergesa lewat pintu keluarnya tadi. Arya sejak tadi diam saja, dia sepertinya terlalu sibuk berkomunikasi non verbal dengan Annamaya. Sesekali terdengar cekikikan keduanya, sampai Mama sendiri merasa heran.

“ Ning, memangnya Arya belajar bahasa bangsa Inca dimana ? kok dia bisa berkomunikasi dengan gadis itu, padahal dia kan, tak bisa bahasa Spanyol ? “ ujar Mama, mengawasi Arya yang sedang bercengkerama dengan Annamaya diseberang meja.

“ Mama aneh deh, Arya tidak bisa berbicara dengan bahasa suku Inca, Ma... “

“ Lalu bagaimana cara mereka berdua berkomunikasi, dong ? sejak tadi Mama lihat mereka berdua seperti saling mengerti satu dengan yang lainnya, “ Mama tampak keheranan. Aku hanya mengangkat bahuku, tanda aku sendiri tak mengerti.

“ Mereka memakai bahasa isyarat barangkali, Ma ! “ kataku, sekaligus mengakhiri percakapan tentang keanehan Arya dan Annamaya.

“ Sebelum semuanya jadi dingin, mungkin sebaiknya kita makan sekarang, ya ? “ suara Intipalla memecah keheningan. Aku sendiri sebenarnya belum merasa lapar, karena waktu sekarang baru saja menunjukkan pukul 10 pagi lewat 15 menit. Sebelum masuk ke Kota yang Hilang, aku sempat sarapan cukup banyak di perkemahan tadi. Tetapi, demi menghormati tuan rumah, yang sudah susah-susah membuat masakan kami itu, aku menyendok sepotong bistik sapi, dan kentang goreng kedalam piringku.

Saat kami sedang sibuk dengan piring kami masing-masing, nampak dua orang pelayan masuk kedalam ruang makan, dan membawa sesuatu yang kelihatannya seperti perkedel ulat bulu dan juga sup kecoak mereka yang sangat digemari Arya. Aku jadi ingin beranjak dari tempat dudukku, dan itu sudah pasti telah kulakukan seandainya aku berada dirumah.

“ Jadi ini masakan kalian yang terkenal itu ? “ kata Om Hans terdengar antusias. Sebelum yang lain mengambilnya, dia sudah terlebih dulu menyendok sup aneh itu kedalam piringnya, dan segera mencicipinya.

“ Mmm....kamu benar, Inti. Sup kalian ini enak sekali, “ komentar Om Hans begitu lidahnya tersentuh sup kecoak itu.

“ Om Hans sepertinya harus mencoba perkedelnya, enak banget tuh, Om ! “ saran Arya, aku jadi seperti tengah berada ditengah-tengah kawanan hewan-hewan pemakan serangga. Mama menoleh kearahku, dan dengan geli dia memandangi aku yang tengah berjuang untuk menahan rasa mualku.

“ Sepertinya, ada orang yang tidak bisa menjadi anggota keluarga kerajaan bangsa Inca, seharusnya kamu belajar untuk makan makanan mereka, Ning... “ goda Mama dengan suara yang sangat meyakinkan.

“ Ma ! “ wajahku langsung mendadak terasa hangat.

“ Kamu pikir, Mama tidak tahu ? sejak tadi Mama perhatikan, satu-satunya hal yang paling sering pemuda itu lakukan adalah memandangimu tak henti-hentinya. “ Mama menunjuk Intipalla dengan lirikan matanya.

“ Mama ada-ada saja, ihh... ! “ elakku, tapi sudah terlambat karena rona merah diwajah mengungkap semuanya.

Setelah makan dan bersantai sejenak, Intipalla mengatakan bahwa mungkin kami harus keluar dari lembah rahasia, karena mereka akan mengadakan upacara menyambut bulan baru dan dia serta Annamaya akan sibuk sepanjang sore. Dia juga bilang, bahwa lusa kami boleh kembali lagi kedalam Kota yang Hilang, karena perayaan menyambut bulan baru sudah selesai, dan dia tidak lagi sibuk serta bisa menemani kami berjalan-jalan didalam lembah rahasia itu.

“ Memangnya kami tidak boleh ikut dalam upacara perayaan itu, Intipalla ? “ tanya Om Hans berharap. Sepertinya dia masih enggan untuk meninggalkan Kota yang Hilang. Intipalla menggelengkan kepalanya.

“ Orang asing tidak bisa berada disini, itu peraturan suku kami. Sebab dewa-dewa bisa marah jika melihat ada orang-orang asing dalam perayaan menyambut bulan baru, nanti kami akan tertimpa malapetaka bila tidak mengindahkan peraturan itu, “ jelasnya.

“ Kalau begitu, kami akan segera berangkat sekarang, kamu akan mengantar hingga dibukit ? “ Aku sendiri, bukan perayaan itu yang enggan untuk kutinggalkan, tapi Intipalla. Sebuah perasaan yang sangat tak kusukai. Pemuda itu mengangguk dan menatapku lembut. Mama berdehem didekatku, tapi kuabaikan.

Arya dan aku tak banyak bicara disepanjang perjalanan. Dia kelihatan sedih harus berpisah dengan Annamaya, aku juga. Tapi aku sudah berjanji pada Intipalla, bahwa lusa kami akan datang lagi ke Kota yang Hilang untuk menemuinya, dan itu cukup membuatku senang.

Sampai kami tiba diperkemahan, hanya Om Hans dan Mama yang sibuk berbicara tentang semua yang baru saja mereka lihat didalam Kota yang Hilang.

“ Kalian berempat darimana saja, sih ? “ Papa menyambut kami didekat jalan setapak. Rupanya dia sejak tadi mencari-cari kami.

“ Aku dan anak-anak hanya pergi berjalan-jalan dihutan dekat sini, dan dalam perjalanan pulang, kami bertiga bertemu dengan Hans. “ Dusta Mama tapi meyakinkan. Papa tak lagi bertanya macam-macam pada Mama. Dia lalu berbalik bertanya pada Om Hans.

“ Kamu sendiri darimana Hans ? kami mencarimu sejak tadi. Laporan kemarin kamu letakkan dimana ? “ rupanya soal pekerjaan yang membuat Papa mencari Om Hans.

“ Aku tadi hendak ke toilet, tapi ada orang didalam, jadi aku ke hutan saja untuk memenuhi panggilan alamku, dan aku jadi keasyikan jalan-jalan dihutan sampai lupa waktu, untung saja aku bertemu mereka, yang membuatku ingat untuk balik lagi ke perkemahan ! “ Om Hans terkekeh.

Hatiku mencelos, aku takut Papa tidak akan percaya dengan cerita Om Hans, tapi dia ikut tertawa mendengar cerita sahabatnya itu, membuatku seketika merasa lega. (BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers