Popular posts

Archive for Agustus 2011

SELAMAT DATANG, CINTA….

29 Agustus 2011
Posted by nsikome

SELAMAT DATANG, CINTA….

Walau tak datang,

Dengan sejuta bunga,

Ataupun jatuh,

Bertaburan bintang….

Dan menyapa

Bersama duka….

Biarpun tak seharum

Mawar merah…..dan…..

Singgah dan menyapa

Di tengah suka,

Lalu goreskan luka…..

Tersenyum mencibir,

Terkorek airmata

Dari lubuk terdalam

Jiwa-jiwa dahaga…..dan….

Titip derita….

Walaupun…..demikian….

Ku ingin berkata,

Hanya ingin bicara,

Walau hati perih bernanah,

‘Selamat datang, CINTA…..’

( Marseille-France, Juli ’03 )

AKHIR SEBUAH DUSTA

Posted by nsikome
Seringkali, dalam hidup ini kita tak bisa memilih, karena pilihan-pilihan yg adapun tak kita sukai. Termasuk pilihan hati. Beberapa orang memilih untuk berbohong pada hati nuraninya sendiri dan mengingkari kata hatinya, namun ada orang yg melangkah maju dan merengkuh pilihan hatinya, meski kadang itu harus melukai orang lain, melukai seseorang yg kita sayangi. Kata orang, "All are fair in love, or war"..Aku sudah pernah memilih, dan semoga itu tak akan pernah salah..(NS)


AKHIR SEBUAH DUSTA


Indri lagi uring-uringan. Sudah seminggu terakhir ini sikap Gilang agak aneh. Jarang ngomong, banyak melamun, dan malas senyum. Pokoknya kayak orang lagi sakit gigi campur sariawan aja. Yang pasti, sikap cowok Indri itu bikin dia ikut-ikutan kesal tanpa judul, deh !

” Aku marah, Yun ! marah-marah-sebel !!! ” Indri mengadu setengah teriak pada Yuyun sobat karibnya.

” Ihh...dateng-dateng..sampai...eh..ngamuk, calm down, girl !! “ Yuyun tertawa geli melihat tingkah si Indri. Soalnya Indri kalo lagi marah campur sebel, jari kelingkingnya suka di masukin ke dalam lobang idung. Emang jorok itu anak, namun itulah yang menjadi ciri khas si Indri. Walaupun dia lagi senyam-senyum, tapi kalo jari kelingkingnya sedang berada di lobang idung, Yuyun langsung tahu kalo si Indri lagi marah berat.

” Yun...menurut kamu, si Gilang itu type cowok yang setia apa enggak ? “ Indri menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur sahabatnya. Yuyun tersenyum mendengar pertanyaan Indri yang mulai berbau kecurigaan itu.

” Emangnya ada apa dengan Gilang, sih...kok kamu nanya kayak gitu ? “ Indri balas bertanya.

” Bukannya apa-apa, aku hanya mau tahu pendapat kamu sebagai sobat terdekatku, si Gilang itu pantas nggak jadi cowok aku.... “ Indri berlagak sombong

” Yeeee....kamu maunyaaa...seberapa pantas...emangnya Sheila on Seven ??? “ ledek Yuyun, membuat wajah Indri menjadi lebih cemberut.

” Bukannya gitu, Yun...aku lagi bete nih, soalnya udah seminggu ini sikap Gilang agak aneh. Jarang ngomong, dan setiap kali bicara dengan aku, pikirannya kayak lagi berada di tempat lain aja. “ Indri akhirnya mengakui objek sekaligus subjek keresahannya. Yuyun tersenyum menang,

” Oh gitcuuu...denger-denger, dia punya gacoan lain tuh, In... “

” Ah... yang bener ? di mana, Yun ? “ nada suara Indri berubah ke oktaf 8

” Yeeee, aku cuman bercanda, jangan tereak di kuping dong !! “ protes Yuyun, telinganya sampe berkedap-kedip ( kok telinga bisa berkedap-kedip ? ) akibat teriakan Indri di telinganya itu. Indri menghembuskan napas lega, kira’in si Yuyun serius, sebab kalo itu bener, Indri pasti tereak keras-keras, biar kedengaran hingga ke langit yang ketujuh.

” Serius ni, Yun...si Gilang akhir-akhir ini jadi lain. Sepertinya dia itu nggak suka aku lagi. Tiap kali ketemu, sikapnya jadi aneh, deh ! “ adu Indri pada Yuyun.

” Kamu aja yang jadi terlalu sensitif, ‘kali In... “ Yuyun mencoba untuk menenangkan hati sahabatnya itu. Namun wajah Indri menjadi lebih muram, kayak langit mendung aja.

” Mulanya sih, aku juga berpikir kalo aku-nya yang jadi agak-agak manja. Maunya di perhati’in terus. Tapi, setelah tiga minggu, aku yakin kalo si Gilang emang berubah, “ cerita Indri dengan sendu, seperti di pilem-pilem India.....

” Ya udah, sebagai sahabat elo yang baik hati, aku akan bantu kamu untuk menemukan sebab-sebab berubah-nya si Gilang itu ! “ putus Yuyun.

“ In, menurut aku, si Gilang tuh punya pacar baru, ato lagi naksir cewek, “ tutur Yuyun blak-blakan. Sudah seminggu dia memulai acara ngintip dan nguping-nya. Pokok-nya, kemanapun si Gilang pergi, nggak pernah lepas dari penglihatan Yuyun. Gadis itu bahkan bela-belain bayar satpam di rumahnya untuk jadi asisten agen spesial ( agen spesial-nya, ya si Yuyun itu.... ).

Anehnya, selama seminggu pengintaian Yuyun, nggak ada yang berubah dari Gilang. Cowok itu jalannya cuman ke kampus, ato selebihnya ya ke rumah Indri buat apel.

” Bener ya, Yun ? “ tanya Indri sedih

” Eittt....tunggu dulu, tapi ini cuman dugaan aku aja. Soalnya, si Gilang tuh nggak pernah kemana-mana selain ke rumah kamu buat cium jidatmu itu.... “ tutur Yuyun agak-agak norak.

” Yeeee....kamu ngintip juga waktu aku di cium Gilang ? awas kamu, ya !!!! “ Indri gemes dengan tingkah sobatnya yang memang agak-agak sarap itu.

” Trus, kesimpulan kamu cuman segitu setelah seminggu ? payah donk... “ tak urung Indri kecewa juga, sebab dia tak mendapatkan apa yg dia inginkan

” Gini In, si Gilang kayaknya lagi naksir cewek lain. Soalnya dia tuh kalo di rumah, suka senyum-senyum sendiri kayak orang bego. Dan, pernah satu kali satpam aku liat si Gilang lagi cium-cium foto cewek... “

” Mungkin itu foto-ku, ‘kali ?! “ tukas Indri agak-agak ge-er

” Bukannn...kata satpam aku, itu foto cewek lain. Katanya dia nggak kenal, tuh ! “

” Skarang aku musti gimana, Yun ? “ mata Indri mulai meneteskan airmata, Yuyun jadi ikut sedih melihat reaksi sahabatnya itu. Dalam hati dia menyesal telah memberitahu semua itu pada Indri.

” In, cowok tu nggak cuman satu di dunia, ada banyak..lagian kita masih muda, ntar juga dapet ganti-nya “ Yuyun mencoba untuk menghibur Indri, gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.

” Yun, aku pulang dulu, ya ? makasih udah bantu aku, besok masuk kuliah, kan ? “ Indri mencoba untuk menyembunyikan perasaannya, namun itu percuma saja, airmata yang mengalir deras di kedua belah pipi mulusnya sudah menggambarkan isi hatinya.

” Hati-hati, In..jangan ngebut, ya ? “ Yuyun merasa tak berdaya, dia ingin sekali melakukan sesuatu bagi sahabatnya itu, namun mau bagaimana lagi ? dia hanya bisa menatapi punggung sahabatnya yang melangkah ke pelataran parkir. Baru saja mobil Indri keluar dari halaman fakultas, tiba-tiba muncul si penyebab derita, Gilang.

” Yun, si Indri mau kemana ? kan dia masih punya dua mata kuliah hari ini ?! “ tanya Gilang datar. Heran, Yuyun menoleh ke arah pemuda itu, nggak ada sedikitpun nada cemas dalam suaranya. Padahal, biasanya kalo ada yg nggak ikut pelajaran seperti itu, pasti karena sakit.

” Lang, kamu kenapa sih ? “ Yuyun sewot juga dengan tingkah cowok itu.

” Kenapa apa, sih ? “ pemuda itu menatap Yuyun heran

” Jujur dong sama Indri, kalo kamu tuh udah nggak suka dia lagi, jangan bersikap kayak gitu !! “ nada suara Yuyun menjadi lebih tinggi

” Okey, karena kamu sudah tahu, aku akan jujur. Ternyata aku nggak cinta sama Indri, aku cinta KAMU !! “ tandas Gilang membuat Yuyun melongo. Gadis itu terkejut setengah mati dengan pernyataan pemuda di hadapannya itu.

Perlahan ingatan Yuyun mulai kembali ke masa lalu. Waktu SMU, dia sekelas dengan Gilang. Yuyun suka Gilang, namun terlalu malu untuk menunjukkan rasa sukanya itu.

” Kamu tuh jangan ngeledek aku, Lang ! “ Yuyun membentak pemuda itu, walau sebenarnya ada getar-getar halus yang mulai muncul di dalam hatinya

” Sumpah aku cinta-nya sama KAMU, Yun..sejak kita masih di bangku SMU, namun aku takut untuk bilang padamu, dan waktu aku akhirnya punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku padamu, kamu malah comblangin aku sama Indri sahabatmu. Tau nggak, demi kamu juga aku pacaran sama Indri. Karena kamu yang minta aku untuk jadian sama dia, Yun...please..aku tahu kamu juga suka aku, jangan bohongi hati kamu... “ setengah memelas Gilang mengungkapkan isi hatinya. Yuyun tertegun lama, dia nggak tahu harus menjawab apa pada pemuda di hadapannya itu. Satu hal yang dia tahu adalah, dia juga cinta sama Gilang. Dengan wajah setengah putus asa, dia menatap mata pemuda itu, ada cinta yang tergambar jelas di sana.

” Yun...malam minggu nanti kita ke twenty-one, ya ? “ Gilang menatap Yuyun berharap. Mata gadis itu berkaca-kaca, dia bingung sekali, namun seperti ada sebuah kekuatan besar yang memaksanya, perlahan Yuyun menganggukkan kepalanya perlahan, tanda setuju, sambil bersyukur kemarin-kemarin satpamnya nggak bilang kalo gadis dalam foto itu adalah dirinya.

Maafkan aku, Indri...hatiku tak bisa berdusta lagi, maafkan aku... Bisik Yuyun dalam hatinya. Cinta itu kuat, bahkan lebih kuat dari apapun juga, bahkan kadang lebih kuat dari persahabatan.

(In searching of the real Love....)

THE LOST CITY-Golden Mountain (Cerita Bersambung) Part 13

28 Agustus 2011
Posted by nsikome
One week passed....satu episode baru lagi. Mudah2an yg udah pada nggak sabaran nunggu, bisa ter-puaskan ketidak sabarannya, ya..hehe. Buat Mbak As di Makassar, nih....hasil harcelement-nya, pokoknya kutunggu paket Mutiara Pink-nya ya,...
Yang nanya masih lama abisnya apa enggak, aku kasih bocoran dikit, ini udah mau kelaar, tapi masih ada 2 buku lainnya, sebab cerita ini merupakan sebuah trilogi. Yang kedua udah sedang ditulis, dan yg ketiga masih dalam imajinasi liarku (senyum)..Buku kedua judulnya "Bloodline", dan settingan tempatnya di Indonesia (Jawa&Bali), sebagian Eropa Barat dan kembali lagi ke Peru. Sudah pasti tambah seru. Tapi abis "Golden Mountain", aku nggak mau release "Bloodline"nya, aku mau release Cer-Ber baru, (nggak ada hubungan sama sekali dgn The Lost City) tapi nggak kalah keren. Ada dua sih, aku masih sedang milih yg mana akan ku posting, bocoran judulnya, antara "The Key" atau "The secret of Maharani". Well, kita lihat saja nanti..Yang pasti, silahkan menikmati episode ke 13 ini, hope you'll like it, dan jgn lupa komennya...


THE LOST CITY

(Golden Mountain) PART 13

“ Sekarang, kita harus membebaskan para tawanan di Acllahuasi, waktu kita sudah banyak terbuang percuma ! “ dengan semangat Arya memaparkan rencananya, dan tak memberikan waktu sedikitpun bagiku dan Annamaya untuk bicara.

“ Bagaimana menurut kalian dengan rencanaku itu, bagus kan ? “ serunya berapi-api.

“ Arya, kamu itu gila atau sinting ? Masuk secara terang-terangan ke dalam Acllahuasi, lalu menyerang musuh dengan tangan kosong, memangnya kamu bisa sihir, apa ? “ ucapku berang. Aku senang adikku itu sehat kembali, tapi aku lebih suka kalau sifat urakan dan asal-asalan adikku itu hilang.

“ Aku bisa, kok. Lihat ! “ Arya mengangkat tangannya, dan pot besar berisi bunga terangkat tinggi ke udara.

Kali ini, Annamaya yang jatuh pingsan saking terkejutnya.

“ Annaaa..... !! “ seru Arya sambil membopong gadis itu.

Semenjak bangun dari pingsan karena keracunan, Arya memberikan terlalu banyak kejutan padaku dan Annamaya. Pertama dia bisa berbicara memakai bahasa Quechua, lalu bisa bicara pakai bahasa Spanyol, dan sekarang yang paling menakjubkan, dia bisa menggunakan sihir sama seperti Intipalla.

Tetapi hal yang paling luar biasa adalah, kalau Intipalla hanya bisa mengangkat batu-batu sebesar kepalan tangan, Arya malah mengangkat sebuah pot bunga besar dengan mudah, setidaknya itu yang terlihat oleh mataku.

“ Arya, aku jadi tambah tak mengerti... “ Annamaya berujar lemah. Gadis itu sudah sadar.

“ Aku sendiri jujur tak mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku ini, Anna. Tapi, karena aku sudah memiliki kemampuan ini, apa salahnya aku gunakan untuk menolong orang ? “ benar juga ucapan anak itu. Daripada berlama-lama disini, kenapa tidak segera menolong yang lain ?.

“ Arya benar, Anna. Kita harus segera menolong yang lain. Sekarang, sebaiknya kita segera bergegas, mumpung sekarang kita memiliki Arya yang bisa menggunakan sihir. Aku takut terjadi apa-apa pada Ibuku dan juga yang lainnya di Acllahuasi sana. “

Annamaya menatapku, lalu gadis itu menganggukkan kepalanya pasti. Dia lalu bangun, dan berucap pelan tapi tegas.

“ Ayo kita beri pelajaran pada cecunguk-cecunguk itu ! “.

Perjalanan kembali ke Acllahuasi kami lakukan lewat terowongan yang sama ketika aku dan Annamaya pergi untuk mencari tahu obat penawar racun yang terminum Arya. Hanya saja, kali ini ada satu yang berbeda, yaitu rasa optimis yang besar bisa menyelamatkan mereka yang berada didalam Acllahuasi, karena kemampuan sihir adikku yang baru saja didapatkannya.

Pemandangan masih sama seperti tadi. Suasana di taman yang tak terurus itu masih sunyi senyap, tak kelihatan sedikitpun gerakan disana.

“ Kita akan mendekati rumah induk lewat taman samping, dekat tempat bermain anak-anak yang kukatakan padamu, Aning, “ ujar Annamaya sambil menunjuk ke arah timur laut.

Setelah berjalan mengendap-endap, kami sampai ditaman samping rumah induk. Ada pintu besar bergagang kelopak mawar di bagian samping rumah itu. Setelah bersembunyi sejenak dibalik tanaman perdu untuk memastikan tak ada orang disekitar situ, kami bertiga mengendap-endap menuju pintu samping.

“ Bagaimana kalau pintu itu dikunci ? “ tanyaku. Annamaya menggelengkan kepalanya.

“ Pintu itu tak pernah dikunci, karena biasanya ada pengawal yang berjaga disitu. Entah ada dimana para pengawal-pengawal yang biasa berjaga disitu ! “ Annamaya memandang berkeliling.

“ Aku takut, dibalik pintu itu ada penjahat, “ bisikku lagi pada gadis itu. Lagi-lagi Annamaya menggelengkan kepalanya.

“ Tak ada orang disitu, aku sudah mencoba meraih benak seseorang, mereka semua berada diruangan utama, tempat kamu bertemu dengan istri-istri Sapa Inca. “ Kata-kata Annamaya menenangkan hatiku.

Gagang pintu diputar oleh Arya dan begitu pintu membuka, belum lagi kami bertiga melangkah masuk, tiba-tiba ada sesosok tubuh tinggi besar yang entah darimana asalnya tiba-tiba saja sudah berada dihadapan kami.

“ Ternyata kamu, Aning ! Syukurlah...kalian tidak apa-apa ? “

Aku langsung menghembuskan nafas lega begitu melihat siapa sosok bertubuh tinggi besar itu. Ternyata Om Hans.

“ Om Hans, bagaimana dengan Mama dan lainnya ? “ tanyaku cemas. Om Hans tersenyum samar, lalu dia membelai kepalaku.

“ Mama kamu masih berada dengan tawanan lain, Om Hans berhasil meloloskan diri dari mereka, dan sejak tadi hanya bersembunyi dalam bangunan ini, terputar-putar menghindari para penjahat, sambil mencoba untuk mencari jalan keluar. Rumah ini besar sekali, Om Hans susah untuk mendapat pintu keluar, sampai akhirnya menemukan pintu ini. “ Om Hans menjelaskan panjang lebar.

“ Kalian darimana saja ? Saya khawatir sekali.... “ laki-laki berkebangsaan Jerman itu menatapi kami bergantian. Raut wajah Annamaya tak tertebak. Sepertinya dia tengah sibuk menilai Om Hans.

“ Kami baru saja...sudahlah...ceritanya panjang sekali, oh ya, Om Hans, ini sahabat kami, namanya Annamaya. “

Tak ada waktu lagi untuk menjelaskan semua yang terjadi pada Om Hans. Annamaya mengulurkan tangannya, lalu bersalaman dengan Om Hans, yang menjabat tangan gadis itu dengan hangat. Annamaya sudah mulai belajar memakai budaya kami, berjabat tangan.

“ Jangan khawatir, Om, dia bisa bicara dengan bahasa Spanyol. “ Aku menjelaskan, karena kulihat Om Hans ingin bicara, tapi tak tahu harus bagaimana.

“ Halo, namaku Hans, aku dari Jerman, tak terlalu jauh dari Spanyol tempat negaraku itu berada.”

Annamaya tersenyum, lalu melepaskan tangannya.

“ Kita harus segera pergi dari tempat ini, Aning. Ada terlalu banyak penjahat disini, Om takut mereka bisa menemukan kita dan mengurung kita lagi ! “ ujar Om Hans, cemas. Laki-laki itu berkali-kali memalingkan kepalanya kedalam rumah, seperti takut seseorang akan datang ketempat kami itu.

“ Tidak boleh seperti itu, Om ! Kita kan datang kesini untuk menyelamatkan semua orang yang ditawan disini ! “ penuh percaya diri Arya bicara tegas, membuat Om Hans menatapnya heran. Sekilas dia melihat Arya dengan pandangan tak percaya, lalu tersenyum geli.

“ Arya....didalam itu ada banyak penjahat dengan senjata api mereka yang sangat modern, yang menjaga para tawanan. Om tahu maksud baik kamu untuk membebaskan mereka, tapi kita berempat yang tanpa senjata, bagaimana bisa melawan mereka semua ?! “ sambil terus tersenyum, Om Hans menatap Arya.

“ Dengan cara seperti ini, Om ! “ agak menyombong, Arya menggunakan kemampuan barunya dengan mengangkat sebuah batu sebesar melon, membuat Om Hans terbelalak kaget.

“ Kamu juga bisa melakukan itu ? Tapi bagaimana caranya ? “ ada rasa ingin tahu yang sangat besar tergambar jelas dalam suara Om Hans.

Baru saja aku hendak menjelaskan semua yang telah terjadi selama perpisahan kami dengan Om Hans, tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki tergesa, dan seorang laki-laki yang memanggil sebuah senjata berlaras panjang begitu saja muncul tepat dibelakang Om Hans.

“ Bos, perempuan itu ingin bicara dengan anda ! “

BOS ? laki-laki itu memanggil Om Hans dengan sebutan BOS ? suasana langsung berubah, dan saat aku memandang wajah Om Hans, aku langsung mengerti, dialah sang penghianat. Karena dialah semua ini terjadi.

“ Apa-apaan ini ? apa maksudnya, Hans ?! “ tuntut Arya. Hilang sudah sebutan ‘Om’.

Hans tak menjawab apa-apa. Wajahnya berubah menjadi keras dan kejam.

“ Tahan mereka bersama dengan tawanan lainnya ! “ perintah Hans tegas pada laki-laki bersenjata itu.

“ Eiit..!! kali ini semuanya tidak bisa terjadi begitu saja ! “ cetus Arya marah, dan secepat kilat, dua buah pot bunga berukuran cukup besar terangkat, kemudian memukul kepala kedua laki-laki itu. Keduanya langsung roboh ketanah, dan tergeletak diam.

“ Karena itulah, aku tak bisa membaca pikirannya, yang kulihat hanyalah gunung putih yang menyilaukan ada dalam kepalanya... “ tutur Annamaya sambil menendang bokong laki-laki bersenjata yang kini terbaring tak berdaya. Aku heran dengan ucapan gadis itu.

“ Maksudmu Hans ? “ Annamaya mengangguk mengiyakan.

“ Dia rupanya tahu bagaimana cara untuk menutup pikirannya dari orang-orang yang memiliki kemampuan seperti aku, “ terang gadis itu lagi.

“ Dan kami yang membawa bajingan ini kemari... “ sesalku.

Ku alihkan pandanganku dari Arya, untuk menghindari tatapan ‘sudah kubilang, kan ? ‘ – nya. Seharusnya aku memang tidak sembarangan mempercayai orang. Aku mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat penting kali ini.

“ Kita apakan mereka, Kak ? “ tanya Arya

“ Mungkin sebaiknya kita sembunyikan mereka disuatu tempat, agar tak ada yang tahu kita ada disini ! “ usul Annamaya sambil menunjuk sebuah kotak kayu cukup besar yang terletak dibawah jendela besar.

Setelah menjejalkan kedua laki-laki itu kedalam kotak kayu, yang tergeletak dalam posisi yang lumayan aneh, kami bertiga masuk kedalam rumah induk Acllahuasi.

“ Mereka pasti menawan semua orang diruang pembicaraan ! “ bisik Annamaya.

“ Ruang pembicaraan ? itu ruang untuk rapat, ya ? “ tanya Arya. Annamaya menatap Arya tak mengerti. Mungkin dia tak tahu kata ‘rapat’ itu artinya apa.

“ Itu adalah ruangan tempat berkumpul semua orang yang tinggal dalam Acllahuasi, kalau mereka ingin berbincang-bincang dengan lainnya. Aning sudah pernah masuk kesana, kok ! “ jelas Annamaya lagi. Rupanya ruangan yang dia maksudkan adalah ruangan tempat aku berbicara dengan para istri Sapa Inca saat pertama kali ke Acllahuasi.

“ Kalau begitu, kita tunggu apa lagi ? ayo kita segera kesana ! “ Arya mendahului aku dan Annamaya, namun beberapa langkah kemudian, dia berbalik pada Annamaya dan aku.

“ Anna, sebaiknya kamu duluan, aku kan tidak tahu jalannya, dan aku juga mau mengambil senjata anak buah Hans ! “ aku tersenyum geli, adikku itu kini kelihatan seperti seorang panglima yang hendak memimpin anak buahnya untuk berperang.

Suasana didalam ruangan yang disebut ‘Ruang Pembicaraan’ itu nampak mencekam. Saat kuintip kedalam lewat tirai pemisah ruangan yang memisahkan ruangan itu dengan ruang makan tempat kami bertiga berada, nampak para tawanan duduk bergerombol dilantai, disudut ruangan yang berada tepat diseberang kami berdiri.

Terlihat semua istri-istri Sapa Inca, kecuali istri pertama dan Mama, ada disana.

“ Mama dimana ya, Kak ? Kok tidak kelihatan ? “ Arya mengungkapkan kecemasan yang sama denganku. Aku hanya mengangkat bahu.

“ Aku masuk saja, ya ? “ usul Arya yang terdengar gila untukku.

“ Ya, kamu itu nekat apa bodoh, sih ? Biar kamu sudah bisa mengangkat benda-benda berat dengan pikiran kamu, kamu itu bukan Superman yang anti peluru, bagaimana jika para penjahat yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang itu menembak kamu ? “ ucapku setengah kesal setengah marah. Tapi sebelum sempat kucegah, adikku itu langsung maju ketengah-tengah ruangan, setelah menyodorkan senjata yang dipegangnya padaku. Aku hendak mencegahnya, tapi ditahan oleh Annamaya. Kami berdua hanya diam ditempat kami berdiri.

“ Hey !! bebaskan semua tawanan !! “ terdengar suara Arya lantang berteriak.

“ Wah....ada yang sok jadi pahlawan, nih, sendirian saja ? “ meskipun aku tak melihatnya, tapi aku kenal suara orang itu. Mr.Oyama, si ahli komputer dari Jepang. Ternyata dia juga adalah konco mereka.

“ Mana Mamaku ? “ tanya Arya, suaranya terdengar dingin.

“ Ada disuatu tempat, memangnya kenapa ? kamu mau membebaskan Ibu kamu dengan tangan kosongmu itu ? “ ejek Oyama dengan aksen English-Japanese- nya yang aneh.

“ Mungkin... “ balas Arya dengan nada suara yang tak kalah mengejek.

“ Oh ya...mana bos kalian si Hans ? “ tanya Arya lagi.

“ Jadi sekarang kalian sudah tahu kalau kalian idiot yang menyebabkan kami tahu tentang tempat ini, ya ? “ lagi-lagi suara Oyama bernada menghina, tapi juga tersirat penuh tanda tanya. Mungkin dia bertanya-tanya dimana kami bertemu dan bisa tahu kalau Om Hans adalah bagian dari persengkokolan jahat mereka itu.

“ Kami juga tahu, kalau kalian itu bodohnya luar biasa, sampai-sampai mengira kalau kalian bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Oh iya, maaf ya, aku mau bilang, kalau kalian kehilangan Bos dan salah seorang cecunguk teman kalian !!.. “ lantang suara Arya, dan tak terdengar sedikitpun rasa takut dalam suaranya itu.

“ Apa katamu ?! “ kali ini terdengar teriakan suara laki-laki yang tak kukenal.

“ Kalian ini benar-benar bego, deh. Aku mau bilang, Bos kalian yang bernama Hans itu, sekarang memiliki benjolan sebesar telur burung Maleo di kepalanya yang kotor itu, dan aku lupa mengecek dia itu masih hidup apa sudah mati, tapi kalau melihat keadaannya, kalaupun dia itu hidup, dia pasti bakal menderita hilang ingatan ! “ lagi-lagi Arya mencemooh mereka.

“ Bangsat kamu !! “ laki-laki itu menyerang Arya.

Dia merangsek maju untuk memukul adikku, yang hanya mengangkat sebelah tangannya tenang. Aku berpindah keseberang ruangan agar bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi, dan nampak laki-laki berjenggot tebal itu tertahan ditempatnya. Dia seperti hendak maju, tapi tertahan oleh tangan kuat yang tidak kelihatan. Mukanya sampai merah padam, karena usahanya untuk membebaskan dirinya dari kekuatan yang menahannya.

“ Bagaimana kamu melakukannya ? “ teriak Oyama kaget, dan terdengar bunyi letusan senjata yang memekakkan telinga.

Tanpa bisa kutahan, aku segera keluar dari persembunyianku, Annamaya juga.

Kupikir, mereka menembak kearah adikku itu, dan mereka memang melakukannya. Tapi yang kulihat adalah, sebutir peluru yang berputar-putar diudara, tepat dihadapan adikku.

“ Kalian sudah tak bisa berbuat apa-apa, sekarang kuperintahkan kalian untuk menyerah ! “ teriak Arya sambil mengibaskan tangannya, membuat peluru yang melayang sambil terputar-putar itu terpelanting ke dinding, meninggalkan lobang sebesar mangkuk sayur.

Tanpa dikomando lagi, seluruh penjahat yang berjumlah sepuluh orang itu langsung meletakkan senjata mereka dilantai. Jelas sekali terlihat bahwa mereka itu sangat ketakutan.

Siapa yang tidak takut melihat seorang anak yang bisa menahan peluru yang ditembakkan kepadanya ?. Aku sendiri takut melihat kemampuan supranatural adikku itu.

“ Kumpulkan semua senjata mereka, Kak, suruh para istri Sapa Inca untuk menjaga senjata-senjata itu, aku hendak berbicara dengan salah satu kawan lama kita ! “ Arya berjalan mendekati Oyama yang berdiri ketakutan. Saking takutnya. Terlihat jelas laki-laki berperawakan tinggi besar itu gemetar hebat.

“ Sekarang, aku harap kamu mau bekerja sama dengan kami, dan memberitahuku dimana kalian menahan Mamaku dan juga istri pertama Sapa Inca, sebab kalau tidak__ “ Arya memalingkan pandangannya kearah meja. Ada sebilah pisau disamping keranjang buah diatas meja tersebut. Tiba-tiba pisau itu meluncur cepat kearah Oyama, dan berhenti tepat didepan hidungnya.

“ Bbb...bb..baik...baiklah...Ibu kamu sudah dibawa ke Kuil, mereka berhasil mengalahkan semua pasukan Sapa Inca diluar sana, dan membawa Ibu kamu kesana ! “ terbata-bata Oyama menjawab. Kelihatannya laki-laki itu hampir menangis.

Hatiku tersentak mendengar kata-kata si Jepang. Kalau para penjahat berhasil mengalahkan para pasukan Sapa Inca, berarti mereka juga berhasil mengalahkan Intipalla dan Rapalla, kan mereka berdua juga ikut bertempur didepan Kuil.

“ Bagaimana dengan istri pertama Sapa Inca, dimana dia ? “ tanyaku. Oyama menggeleng.

“ Aku tak tahu dia ada dimana, aku tak melihatnya ada disini. “

“ Mungkin dia ada didalam Piramida, tapi kita tak melihatnya “ tukas Annamaya. Aku mengangguk setuju dengan pendapat gadis itu. Sebab, hanya ada dua tempat kemungkinan perempuan itu berada, yaitu di Piramida atau Acllahuasi.

“ Bagaimana sekarang, Kak ? “ tanya Arya meminta pendapatku.

“ Kita ikat mereka semua disini, dan bilang pada semua perempuan disini agar mengawasi mereka agar jangan ada satupun yang melarikan diri, sementara itu kita bertiga harus kembali ke Kuil, untuk melihat apa yang terjadi disana ! “ tukasku tegas.

Sebenarnya, kalau mau jujur, aku memilih untuk kembali lagi kesana, agar aku bisa tahu bagaimana kabar Intipalla juga Rapalla. Aku sungguh khawatir akan nasib kedua pemuda itu.

Suasana di sepanjang perkampungan sangat sepi. Tak terlihat seorangpun disana, bahkan rumah-rumah penduduk terlihat seperti tak berpenghuni.

Bahkan ketika aku dan Annamaya sampai didepan pelataran Kuil, suasana sangat senyap. Bekas pertempuran terlihat jelas disana-sini. Nampak mayat-mayat mereka yang tewas dari kedua belah pihak bergelimpangan diatas kubangan darah yang menjijikkan.

“ Ya Tuhan...mereka benar-benar biadab... “ keluh Annamaya. Ada airmata jatuh dikedua pipi gadis itu. Aku hanya diam dalam penyesalan yang berkepanjangan. Kalau bukan karena aku, semua ini pasti tak akan terjadi. Mereka semua pasti tengah hidup dalam kedamaian, meskipun keberadaan mereka tersembunyi dari dunia luar.

“ Aning...Annamaya..... “ sebuah suara terdengar lemah memanggil. Sontak aku dan Annamaya menoleh kearah suara itu. Nampak sesosok tubuh berlumuran darah tengah bersandar digentong air, mencoba untuk bangkit tapi terlalu lemah untuk melakukannya.

“ Rapalla !! “ seruku, dan aku langsung berlari menuju pemuda yang dulunya sempat kubenci itu.

Nampak goresan-goresan luka diwajah tampan-nya, dan sebuah luka entah luka tikaman atau peluru tengah di tekan dengan tangan kanannya dibagian perut.

“ Rapalla.....ya Tuhan....kamu terluka ?! “ aku membungkuk untuk memeriksanya. Pemuda itu hanya meringis kesakitan.

“ Cecunguk-cecunguk biadab itu berhasil melukaiku, sekarang mereka semua berada dalam Kuil, mencoba untuk masuk kedalam Piramida, dan Ibuku...... “ dia terkulai tanpa sempat menyelesaikan kata-katanya.

“ Rapalla !! “ aku memeluknya erat, mencoba untuk mendengar denyutan jantungnya, dan ternyata masih ada. Pemuda itu rupanya jatuh pingsan.

“ Kita harus membawanya kerumah tabib sekarang ! “ Annamaya mengalungkan tangan Rapalla di bahunya, aku lalu membantu gadis itu.

Perjalanan menuju rumah tabib itu sangat melelahkan. Aku, Arya dan Annamaya harus mengangkat tubuh Rapalla yang ternyata cukup berat itu dan adikku tak bisa menggunakan kekuatannya untuk mengangkat tubuh pemuda itu, karena takut akan lebih memperparah lukanya. Dalam hati aku menyesal tidak sempat menanyakan bagaimana keadaan Intipalla pada Rapalla sebelum dia pingsan.

Untunglah sang tabib berada dirumahnya. Setelah memastikan Rapalla akan diurus dengan baik olehnya, aku dan Annamaya memutuskan untuk kembali ke pelataran Kuil, sambil mencoba mencari tahu lebih lanjut keadaan didalam Kuil. Kami khawatir, jangan-jangan mereka sudah berhasil masuk kedalam Piramida.

Ketika aku, Arya dan Annamaya mendekati tangga Kuil, sesosok tubuh yang sudah kukenal dengan baik nampak tergeletak dalam posisi telungkup. Hatiku berdebar-debar kencang, segera aku bergegas menuju sosok itu.

“ Inti.....ini aku, Aning.... “ ucapku perlahan, sambil menyentuh pundak pemuda itu penuh kasih. Tak ada jawaban apa-apa.

“ Inti.....bangun... “ kubalikkan tubuhnya, tapi pemandangan selanjutnya langsung membuat hatiku teriris perih.(BERSAMBUNG)

Keterangan Bahasa :

Lima = Ibu kota Peru

Sleeping bag = Kantong tidur, biasa di pakai saat mendaki gunung atau berkemah

Valley of the queens = Lembah di Luxor ( Mesir ) tempat di makamkan para ratu-ratu bangsa Mesir kuno.

Acllahuasi = Tempat tinggal para wanita terpilih ( misalnya para gundik raja, dan

juga anak² perempuan, dan saudari mereka )

Inti = Dewa/Tuhan tertinggi dalam kepercayaan suku Inca

Manta = Semacam kain penutup yang di pakai untuk melindungi badan dari udara dingin.

Panaca = Keturunan suku Inca

Altittude Sick = Sakit yang datang saat seseorang tak bisa menahan tekanan atmosfer pada ketinggian, biasanya berupa kehilangan kesadaran, atau hidung yang berdarah.

Llautu = Semacam penutup kepala dari kain dengan berbagai macam warna yang di gunakan sebagai hiasan rambut.

Coca = Semacam daun ganja yang kalau di bakar dan terhisap asapnya bisa langsungfly dan bisa tak sadarkan diri bila terhirup dalam jumlah banyak.Bisa membuat seseorang terganggu otaknya bila digunakan dalam dosis tinggi

Sapa Inca = Raja / Pemimpin

No es nada nuevo? = ( Bahasa Spanyol ) Tak ada hal/berita yang baru ?

Quechua & Aymara = Dua bahasa yang dipakai oleh bangsa Inca

Machu Pichu = Reruntuhan bekas kota yang diyakini adalah pusat kekaisaran Inca, yang juga dikenal dengan Kota Yang Hilang.

Atahualpa = Nama Kaisar/Raja/Pemimpin terakhir bangsa Inca sebelum kekaisaran itu punah.

Miniseri : Kisah keluarga Om Kalo dan Tanta Onya (seri 5-CERDAS CERMAT ANTAR KAMPUNG)

Hodohh!!!...maaf for samua yg suka deng miniseri "Kisah Keluarga om Kalo deng Tanta Onya" bukan maksud so nemau taruh depe lanjutan kasiang, mar memang so lupa akang, untung ada salah satu penggemar (miniseri ini, bukang kita pe penggemar, hehe) yg sindir alus, deri kita so sengaja bekeng lupa kata....Untuk Manadoners...napa dang, silahkan nikmati kong brenti ba veto nech? :))

CERDAS CERMAT ANTAR KAMPUNG

Pagi-pagi hari minggu, seperti biasanya sebelum smokol campur pa tanta Yeni pe warong, tanta Onya salalu urus depe taman kacili di muka rumah. Pokoknya mulai dari cabu tu rumpu-rumpu alus yang rajin skali bartumbuh ganggu depe bunga-bunga, sampe sirang dengan kasih sayang tu depe bunga anggrek, bunga aster, terutama tu tanta Onya pe bunga anggrek itam, yang dia dapa pe stengah mati skali di utang Papua waktu ada pasiar ka sana pa Om Kalo pe anak basudara.

Depe perjuangan waktu ada bacari tu anggrek langka itu memang for Tanta Onya takkan terlupakan seumur hidup. Terutama waktu tu anggota separatis di utang Papua datang so deng senapan rupa om Utu jaga pake batembak babi utang. Tanta Onya kwa riki totofore sampe di ujung rambu, mar dorang langsung lapas pa dia sarta dorang dapa tau kalu tanta Onya orang Manado.

Bulum lagi deng persoalan dengan dinas kehutanan, tanta Onya sempat barmain paka-paka sambunyi deng petugas jaga di batas utang, soalnya tu spesis anggrek itang itu kan di lindungi, bukannya tanta Onya nentau itu, cuma depe gila suka skali batanang bunga, apalagi bunga anggrek, bekeng dia nekat. Makanya sampe skarang, tanta Onya bertekad untuk kase berkembang biak tu tanaman langka itu. Waktu pertama kali tanta Onya pe anggrek itang itu babunga, 1 x 24 jam tanta Onya baforo di muka anggrek, kurang om Kalo ada sirang deng aer dingin di muka, baru tanta Onya takage dari depe acara ‘mengagumi tanaman bunga’ – nya.

- Pagi Onya !! – suara orang basalam bekeng Tanta Onya takage jaha, soalnya dia sementara asyik melamun. Noh bayangkan jo kalu da sementara tahaga-haga kong orang datang bekeng kage jaha-jaha.

- Adodoh eh !! pagi Ungke, ngana ini bekeng kage orang jo !! jang bagitu kwa, bae le kita nyanda ada panyaki jantong !! – tanta Onya mulai bafeto.

- Adoh Onya jangang marah dang, kita so tiga kali da kase selamat pagi, ngana cuma acuh, makanya kita kase kuat ta pe suara. Sorry dang, - om Ungke minta maaf, dia le so gugup dapa lia tanta Onya pe muka so jadi putih rupa kapas baru pete dari pohong.

- Adoh torang dua ini, hari minggu kong masih pagi-pagi so bakufeto, apa kabar ini dang Ungke ? tumben pagi-pagi so tasopu kamari ?! – tanta Onya pe suara jadi manis ulang, maklum, tanta Onya kwa paling pantang marah-marah di hari minggu bagini.

- Kita kwa ada perlu pa ngana Onya. Bagini, ngana kan ketua seksi pemberdayaan SDM pa torang pe kampung, kita kalamaring sore ada dapa undangan lomba

cerdas cermat antar kampung tingkat kecamatan. Kita mo minta ngana pe pendapat, menurut ngana torang mo iko ato nyanda, Nya ? – om Ungke menerangkan panjang lebar.

- Kalu kita sih mo lia dulu dari depe segi positif, sebagai ketua seksi pemberdayaan SDM di kampung, menurut kita itu lomba semacam itu bagus, yah rekeng-rekeng for asah otak, lah !. Mar yang kita mo cari tau, itu for orang-orang umur brapa, Ungke ? – tanta Onya mulai berteori.

Kalu di kampung sablah, dorang pe kuntua musti sebut dengan sebutan ‘Pak Kuntua’ tiap kali bicara deng dia, mar om Ungke kan ‘low profile’, biar dia so tapilih jadi kuntua, orang musti pangge pa dia rupa dulu, cumu depe nama. Itulah depe untung dapa kuntua ‘low profile’, nyanda ada yang berubah, beda deng tu kuntua di kampung sabalah, baru abis tapilih, hele bajalang mar nemau ba tengo ka tanah.

- Dari yang kita baca di surat undangan, itu terbagi for 3 kategori, kategori anak, kategori remaja/pemuda, deng kategori dewasa. Bagimana menurut ngana pe pendapat ? – om Ungke batanya pa tanta Onya.

- Bagini Ungke, for kita, lebe bae torang tempel tu surat undangan di papan pengumuman balai desa, sekalian taruh keterangan for calon-calon yang mo mendaftar, harap ke bagian administrasi. Nanti dari samua calon² itu, torang akan seleksi ketat yang mo pigi bertanding. Masih brapa lama sebelum lomba itu, Ungke ? -

- Torang masih ada waktu 3 bulan for persiapan, Onya. Jadi bagitu jo dang ? kita mo bilang pa tanta Yulin*, supaya basadia trima calon. Menurut ngana Onya, torang ada kans mo untung ? – om Ungke ragu-ragu, soalnya kasiang dia jaga perhatikan tu depe rakyat di kampung, pe banyak IQ maruku, terutama tu depe tua-tua. Bagimana om Ungke so bekeng akang perpustakaan di balai desa, dorang cuma manyao : ‘ itu kwa cuma for anak² yang masih skolah, torang-torang ini yang so tua so balajar banyak lewat pengalaman !’. Yah, om Ungke terpaksa langsung tutu mulu, so nembole manyao banyak. Jadi tu dorang pe perpustakaan cuma anak-anak skolah tu jaga baforo di sana.

- Kalu bagitu, kita ley somo basiap kumpul tu bahan-bahan for test. Adoh kasiang mo saki ini ontak !! – tanta Onya so mengeluh baru mo bapikir tu karja yang dia musti beking.

Biar busu-busu, tanta Onya itu pernah injang bangku kuliah, sampe semester 3. Yah, maar so bagitu, rupa tu oma-oma bilang, kalu cinta so datang, butyaa tu matyaa !! so bagitu yang da jadi deng tanta Onya. Pe berkenalan deng om Kalo, tanta Onya langsung ba bacao. Depe laste, tanta Onya pe Ajus deng Sebe so pastiu, dorang langsung pi maso minta pa om Kalo, memang kwa so tabubale tu dunia, bae le om Kalo pe Ma’ deng Pa’ setuju, tu cirita jadi lancar-lancar. Skarang tanta Onya baru manyasal, bukang manyasal kaweng deng om Kalo, mar manyasal dulu berenti kuliah. Tu rasa mangiri di hati jaga datang, apalagi kalu so dapa lia

tanta Ola si ‘business woman’ so lewat deng depe oto mo pi kantor, memang tanta Onya rasa mo maleleh, dapa lia kwa pe pasung skali, mandiri, nyanda tagantong pa paitua, pokoknya tu ‘wanita ideal’ menurut tanta Onya, noh so tanta Ola itu ! skarang tanta Onya musti kumpul bahan test, tu otak so mulai jaga bakarat kasiang, so lama bukang tanta Onya meninggalkan bangku kuliah, mulai dari itu, dia cuma jaga buka-buka Keke pe buku for bahoba kalu depe Keke ada bekeng PR ato nyanda. Nyanda pernah talebeh dari itu.

Baru tanta Onya deng om Ungke tampal tu surat undangan deng pengumuman pendaftaran calon. Depe sore so satu tambung tu da datang mendaftar pa tanta Yulin. Om Ungke riki taherang-herang. Dia nyanda sangka kalu depe masyarakat pe antusias skali bagitu. Om Ungke nentau stengah mo mati, kalu tanta Onya so pi ba ober pa ‘ The Queen of Karlota’ si tanta Reni, kalu di lomba nanti, tu peserta mo maso televisi. Noh, tau sandiri kalu ada cirita sampe pa tanta Reni pe talinga, nyanda rekeng tiga depe sasadiki orang satu kampung so tau, kalah kalu Cuma SMS deng Facebook pe kecepatan bakirim.. Sapa nemau maso televisi ? tu orang-orang di kampung pe pikiran, biar sube’-sube’, kalu so tua kamari boleh mo bacirita pa cucu, Opa ato Oma pernah maso televisi dulu. Apalagi kalu untung lomba, dapa piala, dorang mo pajang di balai desa, kong boleh mo basombong akang, kita itu yang da dapa tu piala. Pokoknya so bermacam pikiran mulai dari yang biasa-biasa jo sampe yang muluk-muluk so muncul tentang persoalan maso televisi itu.

Bahkan si Angela, anaknya tanta Kalista deng Mister Opo yang pe pasung skali (maklum indo !!), dia kan bercita-cita mo jadi top model internasional, mar Mister Opo nyanda kase lantaran si Angela kata musti klaar depe skolah dokter baru boleh berlenggak-lenggok di catwalk. Angela pe nafsu dalang hati memang nya’ dua. Dari pi tunggu akang jo, nanti so kerepo tu muka baru depe dokter dia dapa, lama bukang skolah dokter, blum mo bakurekeng deng tu stress balajar. Pas dia pe dapa tau tu lomba mo dapa syuting TV, nyanda pake pikir panjang, dia langsung pi mendaftar pa tanta Yulin. Dia pikir, sapa tau ada pencari top model yang dapa lia pa dia kong pangge pi Paris ? rupa Claudia Schieffer kan dulu bagitu ?!! demikian Angela pe angan-angan.

Akhirnya, setelah seleksi yang cukup ketat deng susah, tu peserta yang mo di utus dari kampung om Kalo deng tanta Onya dorang so dapa. Di kategori anak-anak, tanta Onya nyanda dapa kesulitan yang berarti, soalnya tu anak-anak kacili ber-IQ tinggi, banya pa dorang sana, riki bingo mo pilih. Jadi yang mo pigi, tanta Ola pe anak, si Remon, om Emil pe anak, si Nadia, deng pilihan spesial, si Caloutje, anaknya tanta Kalista deng Mister Opo yang paling bungsu. Sebenarnya si Caloutje nyanda maso hitungan untuk tingkat IQ, mar gara-gara tanta Mien pe argumentasi, samua nyanda berkutik. Tanta Mien bilang, so musti kase maso pa Caloutje, dorang samua di rapat haga herang pa tanta Mien, kong depe laki om ungke tanya dari kiapa, tanta Mien manyao ; ‘ dia kan jago bahasa Inggris si Caloutje itu !! ‘ kong waktu tanta Onya tanya apa depe alasan bilang bagitu,

soalnya dari dulu si Catoutje kan nyanda pernah dapa dengar dia bicara pake bahasa Inggris, tanta Mien cuma manyao kalem ; ‘ dia kan bule pe anak, ngoni lia tu bule-bule pe jago inggris !! ‘Ya do’ do’…pa tanta Mien dang, dia pe kira samua bule stou bicara pake bahasa Inggris. Maar lantaran hormat pa om Ungke, dorang kase biar tanta Mien pe mau itu, yang paling penting ada Remon deng Nadia, dorang dua itu kan yang bertindak sebagai ‘pemikir’.

Dari kategori pemuda/remaja, yang dapa utus si Keke (tanta Reni sempat bagosip, kalu si Keke jawab banyak yang butul dari depe Mama yang susun tu soal test, kong so kase tau pa Keke, bae tanta Onya nyanda dapa dengar tu gosip, bagini kwa tanta Reni pe testa mo kanal ulang tu tanta Onya pe solop nileks !!), si Eva, anaknya tanta Reni, deng si ‘little’ Ungke, anaknya om Utu deng tanta Lena.

For kategori dewasa, so yakin dan pasti ada tanta Ola, om Ody deng om Utu. Sebenarnya om Abe yang mo duduk di kursinya om Utu, mar lagi-lagi tanta Mien sang ‘penindas laki’, bilang musti om Utu yang pigi, soalnya om Utu jago bahasa Inggris kata !! padahal waktu da test, om Utu pe jawaban cuma satu tu butul, yaitu pertanyaan tentang bahasa Inggris. Waktu dorang ada ambe keputusan itu, tanta Onya deng om Ungke lagi nyanda ada di rapat, dorang dua lagi ke kantor kecamatan for kase maso tu doi partisipasi. Nanti tanta Onya dapa tau, mar so terlambat. Memang tanta Onya pe nafsu so sampe di solop pa tanta Mien itu.

Hari ‘H’ akhirnya tiba. Nentau kiapa, samua orang satu kampung so gugup. Untuk kase semangat pa dorang pe team, samua orang kampung bakumpul di balai desa.

- Adoh kasiang coba kaluar dulu ngoni, napa ini om Utu pe dasi so basah deng suar ehhh !!!!!!! – tanta Mien bafeto-feto, soalnya so pe sesak di dalam balai desa, lantaran tu manusia so satu tambung da maso ka dalam.

- Tanta Mieeennn, mana tu semengken di sini ???? – kali ini tanta Ola pe suara yang da dape dengar pe kuat. Tanta Mien yang di tugaskan jadi ketua seksi ‘sibuk’ langsung taputar-putar kasana-kamari cari tu semengken.

- Tanta Mieeenn, napa kita pe calana panjang depe gonop so ciriii !!!!! – suara-nya si Toar bataria dari dalam kantor om Ungke.

- Tanta Mieennnn, kita pe sanggul palsu jatuuunggg !!!!!! – Eva bataria stengah manangis.

- HOIIIIIIIIIIIIIIIII !!!!!!!!!!!! KITA PE TANGAN CUMA DUAAAAA !!!!! – samua orang di balai desa langsung tadiang, memang tu suasana dari tadi pe hiruk-pikuk, langsung jadi sunyi lantaran tanta Mien bataria panik campur kalap.

Akhirnya, samua selesai. Rombongan langsung berangkat setelah berdoa singkat yang di pimpin oleh dorang pe pendeta baru, yang masih nyong-nyong, deng fasung skali.

Selama rombongan di tampa lomba, samua di kampung nyanda berenti-berenti berdoa, bahkan om Odo sampe pake acara manangis, dorang pe kira lantaran da memohon dengan sungguh-sungguh, nentau katu depe panggulu di kaki dorang dapa injang lantaran tu manusia so baku ruju di balai desa.

Dorang pe penasaran mo suka lia di TV, mar itu siaran bukang langsung, dorang rekam kong nanti minggu depan depe penayangan. Jadi samua berela-rela tunggu tu rombongan pulang.

Pas jam 11 malam, rombongan utusan kampungnya om Kalo pulang. Dari atas oto Trek yang om Odo da kase pinjam akang, turun pêserta kategori anak-anak, dorang pe muka berseri-seri, memang riki tarang tu balai desa deng tu anak tiga pe senyum lebar sampe di talinga. Dorang dapa juara pertama.

Abis itu, muncul peserta kategori pemuda remaja, samua senyum lebar mar nyanda sampe di talinga, soalnya dorang kwa cuma dapa juara kadua.

So lama tu utusan kategori remaja/pemuda da turung, tu kategori dewasa bulum dapa lia dorang pe lobang-lobang idong.

- Utuuuu !!! turung jo kamari !!!! – tanta Lena pe suara dapa dengar stengah baancam.

Om Utu lantaran okat pa tanta Lena, dia turung palang-palang dari oto trek, menyusul tanta Ola deng om Ody, maruku dapa lia malo, mar kalu jaga batengo pa om Utu, dapa lia sama deng dorang rasa-rasa mo talang malintang pa dia itu.

- Onya, kiapa kong dorang tiga pe model bagitu ? – om Kalo batanya pa depe bini penasaran. Soalnya dia kan nyanda iko, cuma boleh tu yang ‘bersangkutan’ maso di tampa lomba.

- Gara-gara Utu kong torang kalah, Kalo. – jawab tanta Onya babise.

- Hah ?!! itu kwa tu tanta Mien pe gatotel, kase iko pa Utu cuma lantaran Utu jago bahasa Inggris !! – om Kalo so taiko banafsu.

- Tantu jo itu dia jawab samua salah ?!! – sambung om Kalo.

- Torang so amper untung sebenarnya, mar pas di pertanyaan terakhir, kalu nyanda jawab, tu nilai kurang 1, kalu salah jawab, tu nilai kurang 10. Adoh kwa Kalo, pe gampang skali tu pertanyaan, Utu pi laju-laju manyao nyanda pake berunding !! – tanta Onya dapa lia manyasal skali.

- Apa so tu pertanyaan, Nya ? – om Kalo penasaran

- Tu pembawa acara kase soal ; ‘ Apa nama yang di berikan bagi orang yang tidak makan daging ? ‘ ngana tau dia pi manyao laju² :

‘ORANG MISKIN !!’

Ya dodo’ pa om Utu daaang !!!!!……………….

* Tukang ‘ketik’ di kampung alias administrasi – lht seri 3

LOUIS

Posted by nsikome
Hi All!!...cerpen ini sudah pernah di publikasikan di sebuah Majalah Remaja, dan merupakan salah satu cerpen favorit aku juga. Kebetulan lagi buka arsip lama and found it, yah sudah..ku posting aja...Selamat menikmati..


LOUIS


Sekelompok turis Jepang melintas di hadapanku dengan gaya mereka yang sangat khas ; berbaju hampir semua sama, dengan Handycam dan kamera photo yang tergantung berjubel di pundak masing-masing. Sepertinya, satu kamera saja untuk setiap orang, tak cukup untuk mengabadikan semua yang mereka lihat.

Aku lalu meneruskan langkah² kakiku yang sempat terhenti oleh sekelompok turis Jepang tadi, memasuki Château de Versaille.

Walaupun sudah hampir 2 tahun aku tinggal di negeri anggur ini, kali ini adalah yang pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di Château* yang terkenal hingga ke seluruh penjuru planet. Maklumlah, kantong mahasiswa yang hanya pas-pasan, apalagi tinggal di negeri yang harga makanannya selangit, membuatku harus berhemat-hemat. Sebenarnya, sudah lama aku ingin sekali pergi mengunjungi château de Versailles. Bagi seorang siswa yang bersekolah di Academie de Beaux Arts**, rasanya akan ada sesuatu yang kurang, jika tak mengunjungi galeri lukisan di château itu, yang memang terkenal dengan lukisan² karya pelukis-pelukis besar yang namanya menghiasi museum-museum ternama di dunia.

Setelah selesai membayar harga karcis, segera aku memulai kunjunganku di château itu. Setiap ruangan di situ, untukku adalah sebuah cerita. Aku tak henti²nya membayangkan dan mencoba berimajinasi tentang apa yang terjadi dulu, saat château itu masih di huni oleh raja-raja dan ratu-ratu Perancis dengan keluarga mereka. Berimajinasi tentang mimpi buruk yang pasti selalu menghantui ratu Marie-Antoinette akibat tidur di kamar tidurnya yang segede lapangan Volly. Aku sendiri tak akan pernah bisa membayangkan, tidur di dalam sebuah kamar yang besar seperti itu, sampai-sampai saat aku bersenandungpun, ada pantulan gema suaraku sendiri hiiiii…..

Yang paling membuat aku tercengang² karena kagum, adalah sebuah ruangan yang mempunyai lampu² kristal di sepanjang ruangan itu, yang kira-kira berukuran sekitar 25 atau 35 meter panjangnya. Entahlah, aku tak menyempatkan waktuku untuk menghitung panjang ruangan itu.

Akhirnya, tibalah aku di tempat yang sudah lama ku impi-impikan, yaitu galeri lukisan. Pemandangan yang menyambutku di sana sangatlah mencengangkan. Lukisan perang Kaisar Napoleon di depan Piramida di Kairo, Mesir. Lukisan-lukisan Renoir, benar-benar sebuah pesta bagi mata seorang pelukis yang masih amatir seperti aku.

Kelompok turis Jepang yang tadi berhambur masuk ke galeri, membuyarkan konsentrasiku. Aku mulai merasa jengkel, untung saja mereka tinggal tak terlalu lama di situ. Setelah mendengar penjelasan² singkat dari guide mereka, serta mengambil foto-foto, mereka langsung meninggalkan galeri, meninggalkan aku dengan dua atau tiga orang turis.

Aku sedang mengamati sebuah lukisan seorang wanita cantik bergaun mewah dengan seorang anak laki² di pangkuannya saat ku dengar sebuah suara menyapa hangat di sampingku,

- Lukisan itu bagus, ya ? – ujarnya dengan bahasa Inggris yang fasih, tapi beraksen Perancis (yang untuk mempermudah pembaca, sengaja ku terjemahkan)

Ku tolehkan kepalaku ke arah suara itu, ternyata seorang laki-laki muda yang tampan, tetapi berbaju sama seperti yang di pakai oleh orang-orang di lukisan di galeri itu. Aku tersenyum geli, membayangkan laki-laki ini pasti fans Renoir atau raja-raja Perancis, sampai dia berela-rela jadi tontonan orang dengan baju yang di pakainya itu.

- I..iya, aku suka sekali lukisan ini. – Jawabku dengan memakai bahasa Perancisku yang masih agak kaku terdengar. Tentu saja itu normal, orang Perancis asli sendiri memerlukan beratus-ratus tahun untuk melatih langit-langit lidah mereka untuk bisa mengucapkan bahasa mereka dengan sempurna dan indah sepeti sekarang, bagaimana dengan aku yang baru dua tahun di sini ?

- Ooo…desolé*** saya pikir kamu turis – dia seperti menyesali telah menyapaku dengan bahasa Inggris

- Nggak apa-apa. Oh ya, kenapa kamu berpakaian seperti itu ? – tanyaku ingin tahu.

- Aku guide berbahasa Inggris, untuk lebih menghayati pekerjaanku, aku sengaja berpakaian seperti ini, biar lebih seru ! – ujar laki-laki itu dengan mimik lucu, yang membuatku mengalami perasaan deja vu*

- Oh…kamu ini aneh juga, tapi orang perancis memang aneh-aneh ! – aku mulai merasa akrab dengan laki² itu

- Kamu adalah orang ke 125 yang bilang hal sama tentangku ! oh ya, namaku Louis, kamu siapa ? – dia mengulurkan tangannya, yang segera ku jabat, tangannya halus seperti tangan seorang putri. Aku menjadi agak malu, aku sendiri seorang gadis muda, tapi tanganku kasar kayak tangan milik tukang kebun, apalagi dengan jumlah cat-cat minyak yang ku sentuh tiap hari, tanganku jadi terkelupas di sana-sini.

- Namaku Shanti. Aku berasal dari Indonesia – balasku memperkenalkan diri

- Senang ketemu denganmu, Shanti. Oh ya, aku tadi tertarik untuk bicara denganmu, karena ku perhatikan dari tadi, kamu sudah hampir setengah jam berdiri di depan lukisan itu. Apa sih yang kamu sukai darinya ? – tanya Louis panjang lebar. Aku mendadak merasa sangat senang, ternyata laki-laki itu juga suka bicara tentang lukisan.

- Entahlah Louis, aku sendiri tak tahu. Sepertinya yang paling menarik untukku, adalah anak laki-laki kecil di pangkuan wanita itu. Dia seperti sengaja di lukis untuk kelihatan hidup, dan bahagia. Wajahnya memancarkan kebahagiaan anak-anak kecil dan anehnya, itu kelihatan sangat hidup – ku jabarkan pendapatku tentang lukisan itu.

- Tapi anak itu memang bahagia, dia adalah anak raja François I-er dari gundiknya yang ke 4, namanya Louis-Ferdinand. – tukas Louis menerangkan

- Dan, wanita yang memangkunya, adalah Ibunya, Barones Marie-Elizabeth. – lanjut Louis.

- Tapi bagaimana kamu bisa tahu kalau anak itu bahagia ? – tanyaku heran

- Hehehe !! aku ini guide nona manis, terang saja aku musti tahu semua sejarah dan detail tentang château ini beserta orang-orang yang tinggal di dalamnya sebelum Perancis menjadi negara Republik ! – Louis mentertawakan pertanyaanku, memarkan sederetan gigi putih bersih bagus miliknya.

- Iya-ya…bener juga kamu – aku merasa seperti seekor keledai dungu yang baru saja masuk lobang yang sama untuk kedua kalinya dengan pertanyaanku itu.

- Terus, apa yang terjadi pada anak itu ? ehm..maksudku, si Louis-Ferdinand ! – tanyaku ingin tahu. Aku mulai merasa penasaran dengan cerita anak di lukisan itu, hingga melupakan kunjunganku ke kamar raja Louis XIV yang konon memiliki lukisan yang luar biasa indahnya di langit-langit kamar.

- Louis-Ferdinand bertumbuh menjadi seorang laki² muda yang tampan, dan di gilai oleh banyak gadis-gadis bangsawan dari negera-negara tetangga. Sayang sekali dia meninggal bunuh-diri, karena dia hendak di paksa untuk menikahi putri raja Inggris. Dia hanya ingin menikahi gadis impiannya, yang sayang sekali tak pernah dia temukan sampai hari kematiannya. – ada nada sendu yang tersirat dalam suara Louis saat dia menceritakan kisah anak kecil di lukisan itu.

- Memangnya, siapa sih gadis impiannya itu ? – aku semakin menjadi ingin tahu

- Dia sendiri tidak tahu, konon, gadis impiannya adalah gadis yang selalu datang di mimpinya, dia hanya tahu bahwa gadis itu memiliki tanda _____ - Louis belum lagi menyelesaikan ceritanya, saat jam antik yang terletak di dekat pintu ruangan galeri berdentang kuat menujukkan pukul 3 sore hari.

- Maaf ya, Shanti. Aku masih ingin bicara lagi denganmu, tapi jam 3 ini ada grup turis Amerika yang harus ku pandu. Bagaimana kalau minggu depan jam 10 pagi kita bertemu di sini, aku bebas tugas hari minggu itu, ok ?! – tanpa menunggu jawabanku, Louis langsung menghilang di balik pintu yang bertuliskan ‘Personal authorized only’

Sepeninggal Louis, aku baru menyadari, bahwa aku masih harus mengunjungi kamar raja Louis XIV yang sangat terkenal itu, bergegas aku melangkahkan kaki, tapi baru saja aku beranjak kira-kira dua meter dari situ, tiba-tiba mataku terpaku pada sebuah lukisan anggun yang agak tersembunyi di dekat lukisan berjudul ‘Bataille de Bourgogne’, yaitu sebuah lukisan seorang laki-laki muda tampan, berbaju dan berwajah persis seperti….Louis !!!!!! pemuda yang sempat berbincang-bincang denganku tadi. Mendadak darahku mulai mengalir dengan cepat, dan bulu kudukku mulai berdiri. Namun, ku beranikan diriku untuk menghampiri lukisan itu, dan melihat keterangan yang tertulis di bawahnya : Louis-Ferdinand, putra raja François I-er, 1780-1798.

Sementara itu, sekelompok turis Inggris memasuki ruangan galeri, aku masih terpaku di depan lukisan itu, masih tak percaya dengan apa yang ku alami. Ku hampiri guide berwajah latin yg menemani kelompok turis itu dan bertanya perlahan padanya,

- Apakah anda tahu gadis impian pangeran Louis-Ferdinand itu memiliki tanda yang bagaimana ? -

Guide itu menatapku heran, tapi dia menjawab juga pertanyaanku,

- Gadis itu memiliki tahi lalat bulat merah di tengah-tengah kedua alisnya. -

- Terima kasih, Monsieur**** - jawabku tak bertenaga, sambil meraba tahi lalat merah bulat yang bersarang di dahiku, di antara kedua alisku, dan langsung mengambil langkah seribu, keluar dari Château de Versaille, yang sungguh mati takkan pernah ku injakkan kakiku untuk kedua kali lagi di sana, tak akan pernah !!

(Just my imajination...)

TAMAT

Keterangan :

Chateau* = Istana

Academie de beaux arts** = Akademi art terkenal, tempat belajar pelukis² modern yang terkenal, dan juga para perestorasi lukisan-lukisan tua berharga yang sudah mulai rusak.

Desolé*** = permintaan maaf seperti ‘oh, maaf ya !!’

Deja vu**** = perasaan sepêrti mengenal, atau sudah pernah lihat

Monsieur***** = Bapak

SOULMATE (???)

22 Agustus 2011
Posted by nsikome
Setiap manusia tak pernah bisa menebak jalan hidupnya, termasuk aku. Tak perduli berapa jumlah IQ yg kita miliki, CINTA adalah suatu yg tak akan bisa terukur dengan logika. Aku adalah penganut paham LOGIKA yg fanatik, tapi aku juga menyerah...CINTA, akan selalu menjadi misteri terdalam yg tak terselami oleh manusia, yg hanya bisa dirasakan, dijalani, dinikmati, dan disyukuri...(NS)

SOULMATE (???)


Sendiri,
Kucoba basuh luka hati...
Dari sisa-sisa perih masa lalu,

Dan kau,
Dengan tawa dan senyum hangat itu,
Datang dan tawarkan cinta,
Dalam kesederhanaan sebuah kasih putih,
Aku terlena..............

Entahlah,
Ini cinta atau sekedar kasih semata,
Akupun terbawa, terhanyut oleh pesonamu...
Aku bisa tertawa dalam segenap kesedihan yang kupunya,
Dan menangis dalam kegembiraan yang ada,

Aku hanya........
Bahagia................????

Begitu sukar untuk terjelaskan,
Lewat kata, ataupun goresan puisi

Aku bahkan tak bisa bicara,
Hanya rasa dalam dada,
Kadang membuatku seperti melayang keangkasa,
Atau jatuh dari langit ketujuh

Ada hari dimana aku bertanya masihkah aku dialam nyata,
Namun juga detik dimana aku tak ingin melihat mentari pagi....

Kau, dengan sejuta rasa yang kau bawa,
Membuatku merasa............sempurna
Sebagai seorang manusia,
Sebagai seorang wanita,
Sebagai seorang kekasih jiwa...............

Entah jika esok tiba,
Kita akan berpijak dimana,
Aku tak berani untuk menerka.......

Biarlah,
Hidup membawa kita kemanapun juga,
Asal denganmu,
Kuyakin aku pasti bisa !!

La maison, 30 Juin 2007

( Untuk yang membuatku bahagia, sengsara, gembira, menangis, dan juga tertawa, yang membuatku sempurna sebagai seorang manusia, sebagai seorang perempuan, SST...)


__________________________________

Hit Counter

Histats

Guestbook

Pages

Like This Theme

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers